c. ARuS KAS KONSOLIDASIAN
Periode 6 (enam) bulan yang berakhir pada
tanggal 30 Juni
Tahun yang berakhir pada 31 Desember
2015 2014 2014 2013 2012
Kretek Buatan Mesin (SKM)
SKM LTLN 20,6 19,9 20,3 19,5 18,1 SKM FF 2,4 1,4 1,7 1,1 0,6 Jumlah 23,0 21,4 22,0 20,5 18,7 SKT 7,2 8,0 7,8 10,4 12,1 SPM 5,1 5,2 5,1 5,2 4,8 Jumlah 35,3 34,6 34,9 36,2 35,6
Tabel berikut menunjukkan volume penjualan SKM, SKT dan SPM Perseroan sebagai persentase dari total penjualan rokok di masing-masing segmen untuk periode yang disajikan, menurut perkiraan Perseroan.
(dalam persentase) Keterangan
Periode 6 (enam) bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni
Tahun yang berakhir pada 31 Desember
2015 2014 2014 2013 2012
Kretek Buatan Mesin (SKM)
SKM LTLN 49,8 48,1 48,7 48,7 47,7
SKM FF 7,3 4,6 5,3 3,5 2,1
Total SKM 30,8 29,3 29,9 29,5 28,1
SKT 37,9 39,3 39,0 44,0 45,4
SPM 81,1 79,8 79,8 77,7 71,7
Sumber: Perkiraan Perseroan
Perseroan menjual hampir seluruh rokoknya di Indonesia, meskipun Perseroan mengekspor sebagian kecil rokok kretek, cerutu kecil dan/atau rokok-linting-sendiri ke sebelas negara, terutama di Asia Tenggara. Pada tahun 2014, SKM memberikan kontribusi sebesar 62,9% terhadap total penjualan domestik Perseroan berdasarkan volume, dibandingkan dengan 56,8% pada tahun 2013, sementara SKT memberikan kontribusi sebesar 22,4% pada tahun 2014, dibandingkan dengan 28,7% pada tahun 2013, dan SPM memberikan kontribusi sebesar 14,7% pada tahun 2014 dan 14,5% pada tahun 2013. Peningkatan yang proporsional dari penjualan rokok buatan mesin yang seiring dengan penurunan yang proporsional dari penjualan rokok kretek lintingan tangan mencerminkan tren pasar Indonesia yang selama sepuluh tahun terakhir telah mengalami perubahan permintaan perokok dewasa dari rokok kretek lintingan tangan ke rokok buatan mesin, serta perkembangan preferensi
perokok dewasa untuk rokok dengan tar dan nikotin yang rendah. Selama periode tersebut, preferensi perokok
dewasa Indonesia juga perlahan mengalami perubahan ke segmen harga menengah dan premium di pasar, dimana hal tersebut sesuai dengan portofolio Perseroan. Perseroan secara aktif melakukan investasi pada pasar rokok buatan mesin dan segmen harga menengah dan premium untuk menangkap pertumbuhan ini.
Berikut adalah kelompok merek terkemuka Perseroan:
Sampoerna A, merupakan SKM dengan pangsa pasar terbesar di pasar rokok Indonesia. Salah satu produk unggulan dari merek ini adalah A Mild;
Dji Sam Soe, secara historis merupakan rokok SKT andalan Perseroan dengan pangsa pasar terdepan di segmen SKT, yang mencakup rokok kretek lintingan tangan tradisional Dji Sam Soe;
Sampoerna U, merupakan kelompok SKM dan termasuk U Mild, adalah produk terkemuka dalam kelompok merek ini;
Sampoerna Kretek, merupakan merek lokal SKT; dan
Marlboro, merupakan merek rokok internasional terlaris di dunia dan pemimpin dalam segmen SPM, yang didistribusikan oleh Perseroan di Indonesia.
e) n 20,6 19,9 20,3 19,5 18,1 2,4 1,4 1,7 1,1 0,6 23,0 21,4 22,0 20,5 18,7 7,2 8,0 7,8 10,4 12,1 5,1 5,2 5,1 5,2 4,8 35,3 34,6 34,9 36,2 35,6 e) n 49,8 48,1 48,7 48,7 47,7 7,3 4,6 5,3 3,5 ,1 30,8 29,3 29,9 29,5 28,1 37,9 39,3 39,0 44,0 45,4 81,1 79,8 79,8 77,7 71,7
Tabel berikut menunjukkan rincian volume penjualan Perseroan berdasaran tipe produk dan kelompok merek untuk periode yang disajikan (termasuk merek yang diluncurkan dan yang dihentikan selama periode tersebut).
(dalam juta batang)
Keterangan 30 Juni 31 Desember
2015 2014 2014 2013 2012 Penjualan Domestik SKM Sampoerna A 23.482 22.202 45.366 44.378 41.869 Sampoerna U 7.871 8.430 16.858 13.467 9.933
Dji Sam Soe Magnum(1) 4.790 2.726 6.724 3.235 1.788
Lainnya – SKM - 20 21 2.188 2.998
Jumlah 36.143 33.378 68.969 63.268 56.588
SKT
Dji Sam Soe 6.211 6.544 13.142 17.614 21.906
Sampoerna Kretek 4.710 5.576 10.653 13.274 13.665
Panamas Kuning 343 448 824 1.038 1.040
Jumlah 11.264 12.568 24.619 31.926 36.611
Jumlah rokok kretek terjual 47.407 45.946 93.588 95.194 93.199
SPM
Marlboro 7.936 8.188 16.106 16.138 14.519
Peter Jackson 0,0 0,0 0,0 0,0 –
Jumlah rokok yang terjual domestik
55.343 54.134 109.694 111.332 107.718 Ekspor 868 530 1.193 933 1.164 Jumlah 56.211 54.664 110.887 112.265 108.882 Notes:
(1) Dji Sam Soe Magnum merupakan perpanjangan dari kelompok merek Dji Sam Soe ke sub-segmen SKM FF dan SKM LTLN.
Secara historis, fokus awal Perseroan adalah rokok kretek (di mana rokok lintingan tangan merupakan mayoritas produksi Perseroan). Sebagai hasil dari perubahan preferensi perokok dewasa terhadap rokok buatan mesin, Perseroan telah memproduksi rokok buatan mesin lebih banyak daripada rokok lintingan tangan sejak tahun 2009. Hal ini menyebabkan turunnya penjualan jumlah rokok lintingan tangan. Perseroan mengelola tren ini dengan mendukung produk SKT melalui penguatan kualitas dan loyalitas merek, sementara investasi di produk SKM untuk menangkap pangsa pasar yang lebih besar. Dengan berubahnya preferensi perokok dewasa ke arah rokok buatan mesin, Perseroan berkeyakinan bahwa pangsa pasar yang relatif kecil dalam sub-segmen SKM FF memberikan kesempatan untuk mengembangkan bisnisnya dengan memanfaatkan pengakuan merek yang ada dan pada kemampuan distribusinya untuk memperluas jangkauan pasarnya di segmen SKM FF.
Rokok Kretek
Perseroan memproduksi rokok kretek, dan percaya bahwa kelompok merek andalannya, Dji Sam Soe, Sampoerna A, Sampoerna U dan Sampoerna Kretek adalah merek rokok kretek terkemuka di Indonesia. Di Indonesia, Pemerintah mengatur ukuran kemasan rokok. Rokok kretek hanya dapat dijual dalam kemasan 10, 12, 16, 20 dan 50 batang per bungkus (tergantung pada tipe rokok).
Perseroan pada saat ini memproduksi dan mendistribusikan 18 SKU berbeda untuk rokok kretek yang dikelompokkan ke dalam lima kelompok merek. SKU dan kelompok merek tersebut adalah sebagai berikut:
Kategori Produk Kelompok Merek SKu
SKT Dji Sam Soe Dji Sam Soe 12
Dji Sam Soe 16
Dji Sam Soe Super Premium 12 Snapbox
Sampoerna Kretek Sampoerna A Hijau 12
Sampoerna Hijau PAS 12
Kategori Produk Kelompok Merek SKu
SKM Sampoerna A Sampoerna A Mild 16
Sampoerna A Mild Menthol 16 Sampoerna A Mild 12
Avolution 16
Avolution Menthol 16 Sampoerna A Motion 16 Sampoerna A Mild Blue 16
Sampoerna U U Mild 16
U Mild Cool 16 Sampoerna U Bold 12
Dji Sam Soe Dji Sam Soe Magnum Filter 12
Dji Sam Soe Magnum Blue 16 Perseroan memperkirakan SKT memberikan kontribusi masing-masing sebesar 45,4%, 44,0% dan 39,0% dari total volume penjualan rokok SKT di Indonesia pada tahun 2012, 2013 dan 2014. Penurunan volume penjualan di segmen SKT dikarenakan rokok Dji Sam Soe telah melewati batasan harga psikologis Rp1.000 per batang. Kelompok Sampoerna A
Kelompok merek Perseroan unggulan berdasarkan volume penjualan adalah Sampoerna A, kretek buatan mesin atau SKM, yang memberikan kontribusi sebesar 43,3% dari pendapatan bersih Perseroan pada tahun 2014. Sampoerna A telah menjadi kelompok merek terdepan di pasar rokok Indonesia sejak tahun 2010, dengan pangsa pasar keseluruhan sebesar 14,4% berdasarkan volume penjualan, dan pangsa pasar sebesar 34,7% di
dalam segmen kretek buatan mesin. Pendapatan bersih Perseroan dari penjualan produk Sampoerna A
meningkat dari Rp31,4 miliyar pada tahun 2013 menjadi Rp34,9 miliar pada tahun 2014, meningkat sebesar 11,3%.
Dengan perubahan preferensi konsumen di Indonesia terhadap rokok buatan mesin dan menuju segmen harga menengah dan premium, Perseroan telah merealisasikan kenaikan harga yang kuat yang telah melampaui kenaikan cukai yang berlaku, memungkinkan untuk peningkatan marjin baik secara absolut dan persentase. Produk unggulan di kelompok Sampoerna A adalah A Mild, yang diluncurkan pada tahun 1989 dan merupakan
SKM LTLN yang pertama di pasar Indonesia. A Mild dijual dalam kemasan isi 12 dan 16 batang per bungkus.
Perseroan juga menawarkan A Mild Menthol, yang merupakan variasi dari A Mild dengan penambahan mentol. Produk unggulan lainnya dalam kelompok merek Sampoerna A adalah Sampoerna Avolution, SKM LTLN "super slim", merupakan yang pertama dalam jenisnya di Indonesia dan Perseroan meyakini bahwa unsur penting dari citra Perseroan adalah sebagai penggerak inovasi dalam industri. Perseroan juga memproduksi produk tersebut dalam varian mentol.
Perseroan terus berusaha untuk menjadi pelopor di pasar rokok Indonesia dengan memperkenalkan produk-produk strategis yang baru, meskipun distribusinya sangat terbatas. Sebagai contoh, pada April 2015, Perseroan memperkenalkan A Motion dalam kelompok merek Sampoerna A. A Motion merupakan produk SKM LTLN yang dibedakan terutama dari kemasannya yang ditawarkan dalam empat warna kejutan yang terungkap hanya
setelah plastik di luar bungkus dilepas. Demikian juga, pada April 2015, Perseroan meluncurkan A Mild Blue,
yang merupakan SKM LTLN dengan tingkat tar kurang dari 10 miligram. Kelompok Sampoerna U
Perseroan memposisikan produk Sampoerna U, yang memberikan kontribusi sebesar 10,9% dari pendapatan
bersih pada tahun 2014, sebagai produk harga menengah di segmen SKM LTLN. Produk terkemuka dalam kelompok merek tersebut adalah U Mild, yang diperkenalkan pada tahun 2005. Perseroan juga menawarkan U Mild Cool, varian mentol dari U Mild.
Merek U Mild telah menjadi salah satu merek terkuat Perseroan dalam sepuluh tahun terakhir dengan volume
penjualan yang bertumbuh dari 1,0 miliar batang pada tahun 2005 menjadi 16,9 miliar batang pada tahun 2014
(CAGR sebesar 37,4%). Dengan meningkatnya volume penjualan U Mild, U Mild telah mengalami perubahan
dari tingkat cukai yang lebih rendah ke tingkat cukai tertinggi hingga kuartal pertama tahun 2015, yang
mengakibatkan turunnya marjin Perseroan pada merek U Mild. Namun, karena saat ini U Mild berada pada
tingkat cukai tertinggi, setiap kenaikan harga lebih lanjut (di atas kenaikan sesuai tarif cukai) akan menghasilkan peningkatan marjin.
Pada tahun 2015, Perseroan memperkenalkan U Bold, yang merupakan SKM FF, untuk menguasai perubahan preferensi perokok dewasa terhadap rokok buatan mesin dan meningkatkan pangsa pasar segmen SKM FF. Kelompok Dji Sam Soe
Kelompok merek Dji Sam Soe, yang secara historis difokuskan terutama pada rokok kretek lintingan tangan,
merupakan salah satu kelompok merek unggulan Perseroan. Sejak tahun 2005, Perseroan telah mengembangkan portofolio Dji Sam Soe di segmen rokok buatan mesin, seperti memperkenalkan rokok di sub-segmen SKM FF di bawah kelompok merek Dji Sam Soe Magnum pada tahun 2005 dan rokok di sub-sub-segmen SKM LTLN di bawah merek Dji Sam Soe Magnum Blue pada tahun 2014.
Salah satu produk utama Perseroan adalah SKT Dji Sam Soe, yang merupakan unggulan SKT premium di pasar
Indonesia. Pada tahun 2014, SKT Dji Sam Soe memberikan kontribusi sebesar 14,7% dari penjualan bersih
Perseroan. Dji Sam Soe dijual dalam kemasan 12 dan 16 batang dan versi snapbox dengan harga premium
yang berisi 12 batang. Meskipun volume penjualan dan pangsa pasar Perseroan dalam segmen SKT telah mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir, SKT Dji Sam Soe terus mempertahankan posisi terdepan baik dari segi pangsa pasar dan harga dalam segmen SKT. Namun, mengingat terjadinya penurunan keseluruhan volume penjualan dalam segmen SKT, Perseroan telah mengadopsi strategi harga yang lebih
konservatif untuk SKT Dji Sam Soe, yaitu dengan menaikkan harga lebih lambat dari kenaikan cukai yang
berlaku, yang telah menyebabkan presentase marjin yang lebih rendah, meskipun lebih tinggi secara absolut, sejak tahun 2010.
Pada tahun 2005, Perseroan memperkenalkan Dji Sam Soe Magnum, yang merupakan SKM, sebagai
perpanjangan garis kelompok merek Dji Sam Soe yang masuk kedalam segmen SKM FF. Dijual dalam 12
batang per bungkus, Dji Sam Soe Magnum diperkenalkan untuk memperluas portofolio Perseroan yang ada
dengan mengembangkan jangkauan merek Dji Sam Soe ke segmen SKM FF, dimana dalam segmen ini
Perseroan secara historis masih kurang terwakili, untuk menangkap perubahan preferensi perokok dewasa terhadap SKM. Sejak diluncurkan, volume penjualan Dji Sam Soe Magnum telah bertumbuh dari 70 juta batang pada tahun 2005 menjadi 5,3 miliar batang pada tahun 2014 (CAGR sebesar 61,9%)
Pada bulan April 2014, Perseroan meluncurkan Dji Sam Soe Magnum Blue, SKM pertama yang memiliki
kandungan tar dan nikotin yang rendah dalam kelompok merek Dji Sam Soe, untuk memperkuat keberadaan
Perseroan dalam segmen harga menegah di sub-segmen SKM LTLN. Dji Sam Soe Magnum Blue dijual dalam
16 batang per bungkus. Rokok Kretek Lainnya
Selain kelompok merek Dji Sam Soe, Sampoerna A dan Sampoerna U, Perseroan memproduksi dua rokok SKT
lainnya yaitu Sampoerna Kretek dan Panamas Kuning. Merek ini memberikan perokok dewasa dengan
preferensi merek lokal di bagian-bagian tertentu di Indonesia. Sampoerna Kretek sebagian besar dijual di Jawa, sementara Panamas Kuning merupakan merek regional di Sumatera. Pada tahun 2014, kedua merek ini secara gabungan memberikan kontribusi sekitar 10,5% dari volume penjualan Perseroan dan sekitar 8,5% dari pendapatan bersih.
Rokok Putih
Perseroan merupakan distributor eksklusif rokok Marlboro di Indonesia sejak tahun 2005. Perseroan
mendistribusikan Marlboro sesuai dengan perjanjian distribusi jangka panjang antara PMID dengan Perseroan.
Merek yang didistribusikan oleh Perseroan di Indonesia terdiri dari Marlboro Red, Marlboro Lights, Marlboro
Black Menthol, Marlboro Menthol Lights dan Marlboro Ice Blast, yang semuanya merupakan SPM. Produk-produk ini diProduk-produksi oleh PMID di fasilitas Produk-produksi buatan mesin di Karawang, Indonesia. Fasilitas Produk-produksi PMID yang terdapat di Karawang terpisah dan dikelola secara independen dari fasilitas produksi Perseroan di Karawang.
Pemerintah Indonesia mengharuskan rokok putih dijual dalam kemasan 20 batang.
Perseroan memperkirakan pangsa pasar Marlboro di segmen rokok putih yang dijual di Indonesia pada tahun 2012, 2013 dan 2014, berdasarkan volume penjualan masing-masing sekitar 71,7%, 77,7% dan 79,8%.
Selain Marlboro, Perseroan juga mendistribusikan rokok Peter Jackson Rich Gold di Bali, yang merupakan
Peluncuran dan Penghentian Merek
Perseroan meluncurkan merek baru atau menghentikan produksi merek yang ada berdasarkan permintaan perokok dewasa, peluang pasar, kinerja merek (untuk merek yang ada) dan peluang strategis . Sebagai contoh,
Perseroan menghentikan merek Vegas Mild dan Trend Mild di tahun 2014 karena alasan strategis, dan
meluncurkan merek baru rokok buatan mesin Dji Sam Soe Magnum Blue pada tahun 2014 untuk membangun
waralaba SKT Dji Sam Soe yang ada serta memperluas ke sub-segmen SKM LTLN.
Usaha Lainnya
Perseroan memiliki TD, sebuah perusahaan pengembangan properti, yang melakukan kerjasama operasi dengan PT Ciputra Surya Tbk. Perseroan secara tidak langsung juga memiliki GTD, yang merupakan resor golf, dan Sampoerna Printpack, yang merupakan perusahaan kemasan logam. Total pendapatan dari usaha lain tersebut memberikan kontribusi sebesar Rp158,0 miliar, atau sekitar 0,2%, dari penjualan bersih konsolidasian pada tahun 2014.
E. PROSES PRODuKSI
Proses produksi rokok kretek dapat dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama terdiri dari persiapan dan pencapuran tembakau dengan cengkeh, dimana campuran yang dihasilkan disebut "cut filler". Tahap kedua
mencakup pemindahan cut filler ke batang rokok melalui pengemasan rokok jadi. Selanjutnya, apabila terdapat
produk reject atau tidak lolos kendali mutu, maka sebagian dari bahan baku utama yang dapat digunakan kembali dari produk reject atau tidak lolos kendali mutu tersebut akan digunakan kembali dalam proses produksi. Diagram di bawah ini menggambarkan proses produksi rokok kretek.
Fasilitas Produksi
Perseroan memiliki dua fasilitas produksi SKM, satu di Karawang dan satu di Sukorejo, dan lima fasilitas produksi SKT, tiga di Surabaya dan satu fasilitas masing-masing di Malang dan Kraksaan. Semua proses produksi primer Perseroan berlangsung di pabrik Karawang dan Sukorejo.
Fasilitas produksi Karawang dan Sukorejo memiliki operasi yang terintegrasi baik dari kemampuan produksi primer maupun produksi sekunder, termasuk di fasilitas pencetakan utama Perseroan. Mesin utama yang digunakan dalam fasilitas produksi diimpor dari Jerman dan Italia. Fasilitas produksi Karawang dan Sukorejo masing-masing memiliki 11 dan 34 lini pengolahan. Mesin terbaru Perseroan mampu menghasilkan 600 bungkus rokok per menit. Perseroan mengoperasikan fasilitas produksi 24 jam sehari, tujuh hari seminggu.
Perseroan telah menutup dua fasilitas produksi rokok lintingan tangan pada tahun 2014 sebagai akibat dari penurunan penjualan SKT yang timbul dari preferensi perokok dewasa yang beralih ke SKM.
Kapasitas Produksi
Tabel di bawah ini menyajikan informasi mengenai kapasitas produksi dan volume Perseroan, termasuk melalui MPS dalam periode yang disajikan.
(dalam miliar unit, kecuali dalam presentase )
Keterangan 31 Desember 2012 2013 2014 SKM Kapasitas 66.343 82.955 83.951 Volume produksi 58.950 63.156 70.618 Tingkat utilisasi(1) 88,9% 76,1% 84,1% SKT(2) Kapasitas 28.399 30.322 24.500 Volume produksi 36.730 31.744 24.722 Tingkat utilisasi 129,3% 104,7% 100,9% (1)
Tingkat utilisasi adalah rasio total output aktual dari total kapasitas produksi standar. (2)
Angka SKT termasuk kapasitas dan volume produksi dimana Perseroan memiliki akses melalui 38 MPS-nya. Kapasitas produksi rokok SKT untuk tahun tersebut dihitung sebagai produk dari (i) output standar per jam, (ii) jumlah rol tangan-, (iii) 40 jam kerja per minggu dan (iv) 52 minggu per tahun.
Mesin yang dimiliki Perseroan saat ini cukup untuk mengakomodir kebutuhan produksi, sehingga Perseroan saat ini tidak membutuhkan investasi mesin/lainnya atau sistem jaringan pelayanan dalam rangka pengembangan/penyempurnaan produk.
Proses Produksi Primer
Proses produksi rokok primer terdiri dari penggabungan dan pencampuran tembakau dan cengkeh (dalam hal rokok kretek) ke cut filler jadi.
Pengolahan Primer
Perseroan memiliki dua fasilitas otomatis pengolahan utama, satu di Karawang dan satu di Sukorejo, dimana masing-masing fasilitas memiliki kemampuan untuk memproses 15 ton tembakau per jam. Fasilitas tersebut dilengkapi dengan teknologi pengeringan terkini yang lebih efisien dan dapat memberikan rasa yang lebih baik dibandingkan dengan proses konvensional.
Fasilitas pengolahan primer yang digunakan untuk memproses tembakau mejadi potongan tembakau dengan selubung tambahan yang siap untuk dicampur dengan bahan-bahan lain (pengembangan tembakau dan cengkeh) dalam proses pencampuran.
Pengolahan Cengkeh
Dalam proses produksi rokok kretek, cengkeh digunakan untuk memberikan aroma khas dan rasa yang diberikan oleh minyak esensial yang terkandung dalam cengkeh. Perseroan memiliki dua fasilitas jalur pengolahan cengkeh yang berasal dari Italia, satu di Karawang dan satu di Sukorejo, yang masing-masing mempunyai kemampuan untuk melakukan pengolahan enam ton cengkeh per jam. Dalam tahap produksi ini, cengkeh diolah menjadi potongan cengkeh kering agar cengkeh tersebut sesuai dalam ukuran dan bentuk dengan bahan tembakau untuk pelaksanaan proses pencampuran rokok. Fasilitas pengolahan cengkeh yang canggih yang dimiliki Perseroan memastikan kehilangan eugenol yang minimal selama proses tersebut berlangsung.
Proses Pencampuran
Proses pencampuran adalah bagian terakhir dari proses produksi primer. Dalam tahap ini, tembakau, perasa (flavor) dan potongan cengkeh menjalani proses pencampuran yang menghasilkan cut filler sejenis. Perseroan menggunakan peralatan otomatis untuk memastikan campuran bahan dengan proporsi yang sesuai dan mempunyai tingkat kesatuan yang konsisten agar bisa menghasilkan rasa dan aroma yang terbaik. Stasiun kontrol kualitas yang terlokasi dalam fasilitas produksi utama mempunyai fungsi unuk memantau setiap tahap pencampuran untuk memastikan kualitas produk Perseroan.
Proses Produksi Sekunder
Proses produksi sekunder terdiri dari pembuatan rokok dari cut filler dan kemasan rokok untuk didistribusikan. Rokok Buatan Mesin
Perseroan memiliki fasilitas produksi otomastis di Karawang dan Sukorejo. Fasilitas-fasilitas tersebut dilengkapi dengan mesin-mesin yang memiliki fungsi pembuatan dan pengemasan rokok. Mesin yang dipakai untuk membuat rokok menggabungkan cut filler dengan bahan-bahan lain seperti filter dan kertas tip. Batang-batang rokok kemudian ditempatkan ke dalam paket tersendiri, dibanderol dengan pita cukai Pemerintah, dan kemudian dibungkus dalam lapisan film untuk mempertahankan rasa dan aroma. Sepuluh bungkus rokok kemudian digabungkan dengan penggunaan plastik lalu dikemas ke dalam kotak. Perseroan menggunakan pemeriksaan kualitas online untuk menjaga kontrol kualitas.
Perseroan mencetak karton dan kotak yang digunakan untuk kemasan di lokasi fasilitas pencetakannya sendiri. Perseroan memiliki dua fasilitas pencetakan, masing-masing di Karawang dan Sukorejo. Perseroan mempekerjakan Rotogravure dan mesin Offset dalam fasilitas pencetakannya yang memiliki kemampuan untuk menghasilkan pencetakan dalam berbagai warna, termasuk gambar peringatan kesehatan yang diwajibkan oleh Pemerintah. Mesin-mesin ini juga mampu melakukan embossing dan micro debossing, yang dapat terlihat dalam kemasan produk Sampoerna A Mild Menthol dan Dji Sam Soe Super Premium.
Rokok kretek lintingan tangan
Rokok yang diklasifikasikan sebagai lintingan tangan oleh Pemerintah, yang tunduk pada cukai yang lebih rendah dibandingkan dengan rokok buatan mesin, harus dilinting, dipotong dan dikemas dengan tangan. Pada akhir tahun 2014, Perseroan memiliki sekitar 18.000 pekerja dalam fasilitas lintingan tangan Perseroan. Perseroan memiliki fasilitas lintingan tangan di Surabaya (Taman Sampoerna, Rungkut I dan Rungkut II), Malang dan Kraksaan. Pelinting memulai pekerjaan dari proses linting rokok dan proses pemotongan. Setiap pelinting sanggup memproduksi sekitar 325 sampai dengan 410 batang rokok kretek per jam. Setelah pelinting membuat rokok, pemotong lalu menggunting sisa tembakau yang kelebihan dari ujung setiap batang rokok dan kemudian membuat bundel rokok berjumlah 50 bungkus. Rokok kemudian dimasukkan ke dalam kemasan dan dibenderol dengan pita cukai Pemerintah pada setiap kemasan. Kemasan rokok kemudian dikemas dengan tangan ke dalam karton dan kotak.
Perseroan juga memiliki perjanjian kerjasama dengan 38 MPS yang berlokasi di seluruh daerah Jawa yang memproduksi rokok kretek lintingan tangan untuk Perseroan. Sesuai dengan peraturan ini, Perseroan menyediakan bahan baku dan perlengkapan seperti cut filler, kertas tip, kemasan dan bahan lainnya, serta mesin dan alat-alat linting, keahlian dan bantuan administratif, dimana MPS menyediakan fasilitas produksi, karyawan, dan gudang penyimpanan dengan biaya yang ditentukan. Perseroan menerapkan standar kontrol kualitas yang ketat untuk rokok kretek lintingan tangan yang dihasilkan oleh MPS. Sesuai dengan kesepakatan kontraktual dengan MPS, MPS dibayar berdasarkan jumlah batang dan jenis produk yang dihasilkan.
F. PEMASARAN DAN PROMOSI
Perseroan telah mengembangkan strategi promosi yang didasarkan kepada riset pasar terhadap perokok
dewasa. Strategi utama Perseoran adalah pengembangan dan peningkatan brand equity produknya. Televisi,
billboard, iklan cetak, sarana promosi yang digunakan pada titik penjualan, promosi dan keterlibatan perokok dewasa serta iklan berbasis web, merupakan bagian integral dari pemasaran dan promosi kampanye Perseroan di Indonesia. Pada tahun 2014 dan untuk enam bulan yang berakhir di 30 Juni 2015, Perseroan mengeluarkan biaya masing-masing sebesar Rp2.532,7 miliar dan Rp1.179,7 miliar untuk iklan dan promosi.
Pemerintah telah menetapkan batasan untuk iklan tembakau, sponsor ataupun promosi. Iklan merek dagang yang terkait dengan merek rokok diizinkan dalam siaran televisi di Indonesia, dengan keterbatasan yang ketat pada pemilihan waktu tayang. Namun, visualisasi berupa orang merokok ataupun sebuah kotak rokok utuh tidak diperbolehkan untuk tampil di iklan atau bahan promosi, meskipun logo merek dagang boleh ditampilkan. Sejak Desember 2013, Perseroan telah diminta untuk menempelkan label peringatan kesehatan berupa gambar pada semua bungkus rokok yang dijual di Indonesia serta pada semua bahan promosi, termasuk di televisi, billboard, iklan di dalam toko dan iklan berbasis web. Selain itu, beberapa peraturan baru yang akan diterapkan pada tahun