• Tidak ada hasil yang ditemukan

c. ARuS KAS KONSOLIDASIAN

Periode 6 (enam) bulan yang berakhir pada tangggal 30 Juni

V. RISIKO uSAhA

Dalam menjalankan kegiatan usahanya, Perseroan menyadari bahwa risiko merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam setiap kegiatan usahanya dan memiliki dampak terhadap kegiatan usaha, kinerja keuangan, hasil dan prospek usaha dari Perseroan. Jika risiko-risiko tersebut terjadi, hal ini juga dapat mempengaruhi nilai kapitalisasi Perseroan.

Risiko yang akan diungkapkan di bawah ini merupakan risiko yang dapat berpengaruh terhadap kegiatan usaha, kinerja keuangan, hasil dan prospek usaha Perseroan.

RISIKO YANG BERKAITAN DENGAN uSAhA DAN INDuSTRI PERSEROAN

1. Perseroan bergantung pada produksi dan penjualan rokok, dan tiap penurunan signifikan terhadap kondisi pasar rokok dapat mempengaruhi kegiatan usaha dan profitabilitas Perseroan.

Sebagian besar pendapatan Perseroan berasal dari penjualan rokok, terutama di pasar Indonesia. Pasar rokok di Indonesia dapat mengalami pelemahan yang diakibatkan oleh beberapa faktor, antara lain penurunan permintaan untuk produk rokok, kekurangan atau ketidakstabilan harga bahan baku seperti tembakau dan cengkeh, dan perubahan signifikan terhadap aturan cukai di industri rokok. Permintaan produk rokok dapat mengalami penurunan yang diakibatkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah perubahan demografi, peningkatan kesadaraan masyarakat akan kesehatan, kenaikan harga rokok, larangan merokok di tempat umum atau pembatasan pemasaran rokok, atau gabungan dari faktor-faktor tersebut. Setiap penurunan kinerja pasar rokok akan berdampak material dan dapat merugikan kegiatan usaha, kondisi finansial, dan hasil operasional serta prospek usaha Perseroan.

2. Tren dan preferensi konsumen dewasa saat ini maupun di masa mendatang dapat mengurangi permintaan terhadap rokok atau jenis rokok tertentu, dimana hal ini dapat memberikan dampak negatif terhadap harga dan permintaan atas rokok yang dijual oleh Perseroan, dan Perseroan mungkin tidak dapat mengantisipasi atau merespon secara tepat terhadap perubahan preferensi atau permintaan perokok dewasa.

Kegiatan usaha utama Perseroan bergantung pada perubahan preferensi perokok dewasa, yang didorong oleh sejumlah faktor, dimana sebagian besar berada di luar kendali Perseroan. Perubahan preferensi perokok dewasa dapat mengakibatkan penurunan permintaan untuk produk rokok tertentu atau produk-produk rokok lainnya yang diproduksi oleh Perseroan. Hal ini dapat berdampak negatif dan material terhadap penjualan dan kegiatan usaha Perseroan. Sebagai contoh, penurunan permintaan perokok dewasa terhadap SKT dalam beberapa tahun terakhir mengakibatkan jumlah penjualan SKT menurun, dimana penurunan tersebut berdampak negatif dan material terhadap penghasilan operasional serta memaksa Perseroan untuk melaksanakan berbagai macam pengurangan volume produksi SKT, termasuk penutupan beberapa pabrik SKT dan pelaksanaan program pensiun dini sukarela. Penurunan permintaan yang berkelanjutan oleh perokok dewasa terhadap rokok SKT dapat berdampak negatif secara material terhadap kegiatan usaha, profitabilitas, kondisi finansial dan hasil usaha Perseroan.

Meskipun permintaan produk rokok di Indonesia sebagai fokus utama Perseroan masih relatif kuat dibandingkan dengan penurunan tren konsumsi di pasar global lainnya seperti di pasar Amerika Serikat dan Eropa, permintaan konsumen dapat menurun dikarenakan perubahan demografis populasi orang dewasa, peningkatan kepedulian sosial terhadap dampak buruk rokok bagi kesehatan, perubahan peraturan dan administrasi di industri tembakau, dan kenaikan cukai dan pajak lainnya yang menyebabkan peningkatan harga eceran untuk rokok. Dalam masa ketidakpastian kondisi ekonomi, perokok dewasa dapat memilih untuk membeli produk rokok milik kompetitor dengan harga yang lebih rendah dari produk Perseroan yang sebagian besar adalah rokok harga menengah dan premium. Oleh sebab itu, terdapat kemungkinan terjadinya perubahan volume penjualan dan komposisi produk Perseroan, dimana hal ini dapat berdampak negatif terhadap profitabilitas Perseroan. Setiap tren penurunan dapat berdampak negatif dan material terhadap kinerja usaha, kondisi finansial, hasil, dan prospek usaha Perseroan.

Selain itu, profitabilitas Perseroan dapat mengalami penurunan yang signifikan dan material jika Perseroan tidak dapat meluncurkan produk baru atau memasuki pasar baru, meningkatkan harga atau mempertahankan proporsi yang sesuai dalam penjualan rokok dengan marjin yang tinggi, atau menanggapi perubahan preferensi perokok dewasa. Keberhasilan kegiatan usaha Perseroan bergantung pada kemampuan Perseroan dalam mengantisipasi perubahan pada tren pasar, memasarkan produk-produk yang ada dan produk-produk barunya dan untuk secara cepat merespon perubahan pada tren pasar, demografis, dan preferensi perokok dewasa, terhadap ketersediaan produk baru dan kecepatan perubahan preferensi pasar. Karena industri tembakau sangat berorientasi terhadap pengakuan merek, terdapat kemungkinan perokok dewasa belum siap untuk menerima produk baru di pasar dan potensi kegagalan oleh Perseroan dalam peluncuran produk baru dalam jangka panjang maupun jangka pendek yang dapat mempengaruhi kegiatan usaha, kondisi finansial, serta

prospek usaha Perseroan. Kegagalan Perseroan untuk mengidentifikasi, mengantisipasi dan menyesuaikan perubahan permintaan secara cepat dan akurat dapat mengakibatkan produk Perseroan dapat tergantikan oleh produk lain yang lebih unggul. Demikian pula, hal tersebut memungkinkan Perseroan gagal dalam mempertahankan kualitas dan komposisi produk yang optimal sesuai dengan preferensi konsumen, atau dalam rangka menjaga profitabilitas Perseroan. Kegagalan tersebut dapat menurunkan kepercayaan kosumen dengan mengesampingkan permintaan konsumen yang tidak dapat menemukan produk atau merek yang diinginkan pada titik penjualan. Jika salah satu dari risiko-risiko ini terjadi, hal tersebut dapat berdampak negatif dan material terhadap kegiatan usaha, arus kas, profitabilitas, hasil usaha, kondisi finansial, dan prospek usaha Perseroan.

3. Kegiatan usaha Perseroan dapat terkena dampak negatif akibat perubahan aturan cukai yang dikenakan terhadap produk rokok, dan peningkatan pajak-pajak terkait rokok yang telah diusulkan atau disahkan di Indonesia yang dapat secara tidak seimbang mempengaruhi profitabilitas Perseroan.

Industri rokok di Indonesia dikenakan pajak yang substansial. Produsen rokok diwajibkan untuk membayar cukai, pajak daerah dan PPN atas rokok kretek dan rokok putih yang dijual di Indonesia, dan importir juga diwajibkan untuk membayar bea masuk atas rokok impor di Indonesia. Produsen tunduk pada perubahan peraturan pajak tersebut. Sebagai contoh, pada tahun 2014 Pemerintah Indonesia menerapkan pajak daerah atas rokok sebesar 10% dari cukai yang dibayarkan kepada Pemerintah. Perubahan pada aturan pajak, termasuk cukai, pajak penjualan, dan bea masuk dapat mengakibatkan perubahan harga jual eceran rokok dan profitablitas untuk berbagai macam rokok, dimana sering kali terjadinya jeda waktu antara implementasi pajak baru dengan tercerminnya pajak tersebut dalam harga eceran rokok. Oleh sebab itu, perubahan tersebut dapat mengakibatkan perubahan harga jual eceran SKM dan SKT Perseroan secara tidak proporsional.

Perseroan merupakan salah satu produsen terbesar di Indonesia berdasarkan volume dan merupakan salah satu kontributor terbesar di Indonesia terhadap pendapatan cukai. Pada umumnya, Pemerintah meningkatkan tarif cukai untuk rokok setiap tahun. Tidak ada jaminan dimana tarif cukai saat ini dan pajak lainnya tidak akan meningkat, dan peraturan pajak umum di Indonesia dapat berubah di masa yang akan datang. Pada bulan Agustus 2015, presiden Indonesia, Joko Widodo, menyampaikan Rancangan Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Indonesia 2016 (“RAPBN”) kepada Dewan Perwakilan Rakyat, dan dalam RAPBN 2016 tersebut memproyeksikan pendapatan dari pajak cukai hasil tembakau adalah sekitar sebesar Rp148,9 triliun, yang adalah lebih tinggi dibandingkan dengan yang terdapat dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun 2015 (“APBN 2015”) yakni Rp139,1 triliun. RAPBN 2016 tersebut menyatakan bahwa APBN untuk tahun 2016 memiliki potensi untuk mencapai target pendapatan cukai hasil tembakau untuk tahun 2016 antara lain dengan cara meningkatkan tarif cukai. Meskipun ini merupakan kenaikan 7,5% dibanding APBN 2015, APBN 2015 juga mencakup manfaat satu kali sebesar Rp18,5 triliun dari perubahan ketentuan pembayaran untuk dua bulan terakhir pada tahun 2015. Sementara RAPBN 2016 tidak memberikan rincian perubahan cukai tembakau khusus, angka ini berpotensi untuk mengakibatkan tarif cukai yang lebih tinggi untuk rokok Perseroan di tahun 2016.

Perseroan tidak dapat menjamin bahwa Perseroan dapat menyerap kenaikan pajak apapun pada produk rokok melalui peningkatan efisiensi operasional atau mengalihkan kenaikan biaya dari pajak tersebut kepada pembeli. Kenaikan pajak yang mengakibatkan kenaikan harga penjualan eceran rokok dapat menurunkan konsumsi atau menyebabkan permintaan perokok dewasa menjadi beralih ke produk dengan harga yang lebih rendah, produk dalam kategori yang berbeda ataupun produk-produk ilegal. Sementara penyerapan peningkatan pajak tanpa peningkatan harga jual dapat menurunkan profitabilitas Perseroan. Dalam mempertimbangkan peningkatan harga, Perseroan harus mempertimbangkan kondisi pasar dan toleransi perokok dewasa terhadap perubahan harga, termasuk dampak terhadap jumlah penjualan rokok dan reaksi dari para kompetitor berdasarkan pola historis. Kemampuan Perseroan untuk menyesuaikan harga dengan peningkatan pajak rokok akan menjadi terbatas jika Perseroan tidak dapat menentukan dan merencanakan waktu, frekuensi dan tingkat kenaikan tersebut. Perubahan aturan cukai produk rokok yang tidak menguntungkan dapat berdampak negatif terhadap kegiatan usaha Perseroan, kinerja finansial, dan prospek usaha Perseroan.

4. Perseroan mengalami persaingan yang ketat dan ketidakmampuan untuk bersaing secara efektif dapat membawa dampak negatif yang material terhadap profitabilitas dan hasil usaha Perseroan.

Kompetitor terbesar Perseroan adalah tiga produsen rokok besar Indonesia lainnya, yaitu PT Gudang Garam

Tbk. ("Gudang Garam"), PT Djarum ("Djarum"), dan PT Bentoel Internasional Investama Tbk. (anak perusahaan

dari British American Tobacco plc) ("BAT"). Perseroan bersaing terutama dalam segi kualitas produk, pengakuan

merek, loyalitas merek, inovasi, rasa, kemasan, layanan, distribusi, pemasaran, iklan, dan harga, serta berbagai faktor lainnya dan berada pada kondisi persaingan yang ketat dalam semua segi usahanya. Lingkungan dan posisi Perseroan yang kompetitif di pasar dapat secara signifikan dipengaruhi oleh kondisi perekonomian yang lemah, penurunan kepercayaan perokok dewasa terhadap Perseroan, munculnya produk kompetitor baru dengan harga yang lebih rendah atau produk yang lebih inovatif, pajak tembakau yang lebih tinggi, harga mutlak yang lebih tinggi dan kesenjangan harga eceran yang lebih besar, serta regulasi produk yang dapat menurunkan kemampuan untuk membedakan produk tembakau. Beberapa kompetitor Perseroan juga memiliki potensi untuk

memiliki loyalitas merek yang kuat di beberapa wilayah di Indonesia atau segmen tertentu di pasar, yang dapat memberikan tantangan bagi Perseroan untuk menembus atau menguasai pasar tersebut. Beberapa kompetitor juga telah memiliki pelanggan yang setia untuk merek mereka di beberapa wilayah di Indonesia atau di beberapa segmen pasar, yang menghalangi Perseroan untuk dapat dengan mudah memasuki pasar tersebut dimana portofolio merek Perseroan kurang diakui.

Selain kompetisi pasar dimana Perseroan telah beroperasi dengan menjual produknya, atau mempertimbangkan untuk beroperasi dan menjual produknya di masa yang akan datang, Perseroan dapat menghadapi persaingan yang signifikan dari pemain-pemain baru yang berusaha untuk menembus segmen pasar yang ada. Konsolidasi yang terjadi di industri, pada umumnya, dapat menyebabkan peningkatan tekanan kompetisi secara keseluruhan. Faktor-faktor tersebut dapat menurunkan kegiatan usaha Perseroan, kondisi finansial, hasil usaha dan arus kas.

5. Perseroan bergantung pada kekuatan merek dagang dan nama brandnya dan jika Perseroan tidak mampu melindungi dan mempromosikan merek dagang serta nama brandnya, maka reputasi dan posisi persaingannya dapat terkena dampak yang negatif.

Posisi signifikan yang dimiliki oleh merek Sampoerna A, Dji Sam Soe, dan merek Perseroan lainnya berasal dari reputasi dimana Perseroan mampu menyediakan produk rokok yang diinginkan perokok dewasa serta berkualitas tinggi. Profitabilitas sangat bergantung pada kelanjutan dari kesuksesan merek utama Perseroan

yaitu Sampoerna A dan Dji Sam Soe. Untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2014, kontributor terbesar

untuk portofolio SKM, Sampoerna A, memberikan kontribusi sebesar 40,9% dari total penjualan domestik dan

43,3% dari laba bersih. Kontributor terbesar untuk portofolio SKT, Dji Sam Soe, memberikan kontribusi sebesar 11,9% dari total penjualan domestik dan 14,7% dari laba bersih. Kelanjutan kesuksesan dan pertumbuhan Perseroan sangat bergantung pada kemampuan Perseroan dalam melindungi dan mempromosikan merek-mereknya melalui upaya pemasaran dan promosi. Apabila pemasaran dan promosi gagal, merek dan reputasi Perseroan dapat terkena dampak negatif. Ketidakmampuan tersebut dapat memberikan dampak negatif terhadap persepsi pasar untuk produk Perseroan, dan juga bagi bisnis, arus kas, hasil usaha, kondisi finansial, dan prospek usaha Perseroan.

Selain itu, Perseroan sangat bergantung pada merek dagang dan nama brandnya untuk membedakan produk

Perseroan dari produk pesaing lainnya. Meskipun Perseroan berusaha mendayagunakan sumber dayanya untuk melindungi merek dagangnya, tindakan perlindungan tersebut kemungkinan tidak cukup untuk mencegah penyalahgunaan atau peniruan merek Perseroan yang dapat merusak citra, merek atau posisi persaingan Perseroan. Selain itu, Perseroan kemungkinan tidak mengetahui seluruh pelanggaran yang terjadi terhadap merek dagangnya dan/atau dapat memutuskan, berdasarkan pertimbangan biaya dan manfaatnya untuk tidak menuntut kasus pelanggaran tersebut, hal mana dapat memberikan dampak buruk bagi kegiatan usaha dan kemampuan bersaing Perseroan.

6. Perseroan kemungkinan tidak mendapatkan pasokan bahan baku yang cukup atau stabil untuk proses produksinya, yang diakibatkan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi produksi tembakau dan cengkeh dan panen atau untuk alasan lainnya. Keterlambatan atau kekurangan pasokan bahan baku, terutama cengkeh, dapat berdampak negatif terhadap kegiatan usaha, hasil dan prospek usaha Perseroan.

Tembakau dan cengkeh merupakan bahan baku utama produksi rokok Perseroan, dan kesuksesan usaha bergantung pada kemampuan Perseroan dalam mendapatkan jumlah bahan baku yang cukup. Perseroan bergantung pada pemasok pihak ketiga domestik dalam penyediaan tembakau dan cengkeh yang tepat waktu dan memadai. Pada tahun 2014 dan untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015, Perseroan membeli tembakau dimana salah satu pemasok tembakau utama memasok sebesar 90% dari jumlah pasokan tembakau dari lima pemasok tembakau utama. Pada tahun 2014 dan enam bulan yang berakhir 30 Juni 2015, Perseroan juga membeli hampir seluruh pasokan cengkeh dari lima pemasok utamanya.

Jika Perseroan tidak memiliki pasokan tembakau dan cengkeh yang dibutuhkan pada waktunya dan dalam jumlah yang mencukupi karena alasan apapun, termasuk kekurangan atau ketidakstabilan kualitas tembakau atau cengkeh yang dikarenakan oleh musim panen yang buruk, masalah logistik, atau kesulitan finansial pemasok pihak ketiga; hal tersebut dapat menyebabkan gangguan pada operasional bisnis Perseroan. Karena sebagian besar bahan baku Perseroan adalah bahan baku alami, maka kondisi cuaca, penyakit, hama tanaman dan fenomena alam lainnya yang dapat mempengaruhi panen tanaman secara langsung dapat berdampak kepada ketersediaan bahan baku. Perseroan sangat rentan terhadap kondisi cuaca buruk, bencana alam, penyakit, hama tanaman dan faktor-faktor lain, yang dapat mempengaruhi produksi dan panen tembakau dan cengkeh di luar kendali Perseroan. Kondisi cuaca, khususnya, memiliki dampak yang signifikan terhadap kinerja Perseroan dimana kondisi cuaca yang ekstrim dapat menyebabkan penurunan pada penghasilan tunas cengkeh, yang mengakitbatkan berkurangnya jumlah cengkeh yang dipanen. Sebagai contoh, pada tahun 2010, curah hujan yang berlebihan di Indonesia, dimana semua kebutuhan cengkeh Perseroan bersumber, menyebabkan penurunan yang tajam terhadap hasil dan pasokan cengkeh serta menyebabkan lonjakan harga pada tahun 2011. Tembakau juga sangat sensitif terhadap kondisi cuaca, dimana kualitas dan hasil dari tanaman tembakau dapat mengalami penurunan secara substansial ketika terkena kondisi ekstrim, termasuk kekeringan dan banjir. Misalnya, banjir di Indonesia pada tahun 2010 memiliki dampak yang signifikan terhadap produksi tembakau.

Tidak ada jaminan bahwa kondisi tersebut tidak akan terjadi lagi di masa mendatang. Perseroan memiliki rencana mitigasi dalam memastikan ketersediaan pasokan tembakau yang berkelanjutan dengan memiliki berbagai pilihan tembakau dengan karakteristik serupa sebagai alternatif dan dengan memiliki skema durasi persediaan yang terencana. Kekurangan sumber daya alam telah menjadi risiko global dalam beberapa tahun terakhir dikarenakan pertumbuhan populasi dunia yang pesat dan perkembangan ekonomi di negara-negara berkembang yang meningkatkan permintaan sumber daya alam. Kekurangan tersebut dapat secara langsung dan tidak langsung mempengaruhi persediaan bahan baku yang dibutuhkan untuk kegiatan usaha Perseroan. Pohon cengkeh dan tanaman tembakau rentan terhadap hama dan penyakit. Penyebaran wabah serangga atau penyakit lebih cenderung terjadi di perkebunan tembakau dimana hanya satu jenis tanaman yang ditanam. Pohon cengkeh juga menghadapi permasalahan yang serupa. Penyebaran hama dapat mengurangi hasil panen secara substansial akibat hama yang memakan akar tanaman atau pohon, atau merusakan bagian tanaman atau pohon lainnya yang akan digunakan oleh Perseroan. Wabah serangan hama dan penyakit dapat mengakibatkan penurunan pasokan tembakau atau cengkeh yang pada akhirnya dapat berdampak negatif terhadap kegiatan usaha Perseroan dan kinerja finansialnya.

Pemasok tembakau atau cengkeh Perseroan dapat meminta perubahan harga, syarat pembayaran, atau syarat- syarat lain yang dapat mengakibatkan biaya tambahan yang substansial yang harus dikeluarkan oleh Perseroan. Selain itu, pembatalan, sengketa yang timbul, atau ketidakmampuan untuk mempertahankan hubungan bisnis dengan pemasok tembakau dan/atau cengkeh dapat mempengaruhi operasional Perseroan dan ada kemungkinan Perseroan tidak dapat mengamankan pasokan alternatif tembakau dan/atau cengkeh yang berkualitas dari pemasok lain.

Kesulitan yang dialami Perseroan dalam pengadaan bahan baku yang diperlukan untuk memproduksi produk-produknya, serta setiap kenaikan biaya bahan baku tersebut yang disebabkan oleh kondisi cuaca, fenomena alam, kondisi pasar komoditas, keterbatasan regulasi pemerintah atau alasan lainnya, dapat berdampak negatif terhadap hasil usaha.

7. Perseroan juga terekspos pada fluktuasi dan inflasi harga tembakau dan cengkeh dan marjin Perseroan dapat dipengaruhi oleh harga bahan baku yang meningkat.

Tembakau dan cengkeh merupakan bahan baku utama yang dibutuhkan Perseroan untuk melakukan usahanya. Perseroan pada umumnya memperoleh pasokan tembakau dan seluruh pasokan cengkeh secara domestik di Indonesia, dimana harga tembakau dan cengkeh dapat berfluktuasi secara dramatis. Pada tahun 2012, 2013 dan 2014 dan enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015, biaya bahan baku merupakan sekitar 65,8%, 68,4%, 68,2% dan 63,8% dari total biaya produksi Perseroan untuk segmen SKM dan SKT, dimana sebagian besar terdiri dari biaya untuk tembakau dan cengkeh.

Seperti komoditas pertanian lainnya, harga tembakau dan cengkeh dipengaruhi oleh pasokan dan permintaan (termasuk biaya produksi dan permintaan untuk komoditas pertanian lainnya seperti pangan atau tanaman bio-energi) penanaman tembakau dan cengkeh di negara-negara dimana tanaman tersebut tumbuh. Berbagai daerah dapat mengalami variasi pada pola cuaca yang dapat mempengaruhi kualitas tanaman atau pasokan yang menyebabkan perubahan harga. Harga tembakau dan cengkeh dalam negeri terutama didorong oleh pasokan dan permintaan domestik, yang dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti kondisi cuaca. Karena faktor-faktor tersebut, harga tembakau telah berfluktuasi selama beberapa tahun terakhir. Perseroan mungkin tidak dapat mengalihkan seluruh atau sebagian dari kenaikan harga tersebut kepada perokok dewasa, dan setiap peningkatan substansial pada harga atau penurunan pada pasokan bahan baku, terutama tembakau dan cengkeh, dapat secara negatif mempengaruhi kegiatan usaha, kondisi finansial, hasil usaha dan prospek serta marjin Perseroan.

8. Kinerja keuangan Perseroan dipengaruhi oleh keadaan ekonomi Indonesia.

Usaha Perseroan dan kemampuannya untuk menjual rokok dengan harga yang kompetitif sangat dipengaruhi oleh pasar umum dan lokal, dan kondisi ekonomi yang berada diluar kendali Perseroan. Produk Perseroan ditujukan untuk menguasai segmen harga menengah dan premium. Dengan demikian, permintaan perokok dewasa terhadap produk-produk tersebut dapat mengalami penurunan pada saat dimana kepercayaan atau daya beli perokok dewasa menurun, misalnya pada masa resesi. Berikut adalah faktor-faktor yang dapat memberikan dampak negatif terhadap kondisi makroekonomi Indonesia:

Perubahan ekonomi domestik, regional atau global;

Melambatnya pertumbuhan PDB Indonesia dan perubahan dalam tingkat pendapatan dari segmen menengah Indonesia;

Perubahan biaya dan peraturan yang mempengaruhi biaya tenaga kerja; Perubahan inflasi Indonesia;

Depresiasi Rupiah;

Perubahan harga komoditas lokal dan global;

Peraturan pemerintah yang tidak menguntungkan; dan Ketidakstabilan politik.

Jika industri rokok Indonesia dipengaruhi oleh salah satu faktor tersebut, Perseroan dapat mengalami penurunan penjualan, peningkatan biaya, dan penurunan marjin yang dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap kegiatan usaha, arus kas, hasil usaha, kondisi keuangan dan prospek usaha Perseroan.

9. Perseroan dapat dipengaruhi oleh perubahan kebijakan Pemerintah sehubungan dengan industri rokok dan tindakan pemerintah yang memperketat regulasi rokok dengan tujuan untuk mengurangi atau mencegah konsumsi produk rokok.

Industri rokok di Indonesia sangat diatur oleh Pemerintah. Tidak terdapat kepastian dimana Pemerintah tidak akan mengeluarkan peraturan baru yang lebih ketat, atau mengubah kebijakan rokok yang telah ada saat ini. Di negara lain, tindakan Pemerintahnya telah menyebabkan penurunan tingkat konsumsi dan volume penjualan

industri. The World Health Organization’s Framework Convention on Tobacco Control, ("FCTC"), yang mulai

berlaku pada tahun 2005, terus mendorong perkembangan regulasi rokok di pasar global selama beberapa tahun terakhir. FCTC merupakan perjanjian kesehatan masyarakat internasional yang pertama tentang tembakau, dengan tujuan untuk membentuk agenda global dalam regulasi tembakau. FCTC meningkatkan