• Tidak ada hasil yang ditemukan

V CUxCC

Keterangan:

EOQ = Economic Order Quantity (kuantitas pesanan yang ekonomis) RU = Annual Required Units (unit Kebutuhan Setahun)

CO = Cost per Order (Biaya per pesanan)

CU = Carrying Cost Percentage (persentase biaya pemilikan)

Akan tetapi rumus ini biasanya diterapkan hanya pada barang-barang

bemilai tinggi atau bervolume tinggi.

Untuk membatasi pembahasan, penulis hanya membahas pembeiian persediaan bahan baku Grey, hal ini dikarenakan saat ini dalam menjalankan proses produksi, pemsahaan lebih cenderung untuk membeli Grey dibandingkan dengan penggunaan bahan baku benang

polyester. Selain alasan tersebut hal ini disebabkan terbatasnya jumlah dan kapasitas produksi mesin pada Proses Twisting dan Weaving.

Bahan baku Grey yang digunakan FT. Tritama Texindoraya bermacam-macam jumlah dan jenisnya, oleh karena itu penulis hanya mengambil salah satu contoh bahan baku Grey tersebut. Bahan baku Grey yang dijelaskan adalah Grey untuk Kain Thick and Thin yang paling sering

dipesan oleh para pelanggan setiap tahunnya.

Dari ramalan penjualan selama lima tahun terakhir diketahui

bahwa penjualan untuk Kain Thick and Thin adalah 4.552.500 yards, maka dengan memperhitungkan susut kain pada saat proses produksi maka perusahaan mengestimasi bahwa untuk menghasilkan satu yard kain raembutuhkan 1,1 meter Grey. Jadi banyaknya Grey yang

dibutuhkan adalah 5.007.750 meter.

Berikut ini penulis menyajikan perhitungan persediaan dengan

menggunakan metode EOQ:

1) Kebutuhan bahan baku selama satu tahim adalah 5.007.750 meter

2) Harga per unit bahan baku adalah Rp 2.500,00

3) Biaya pemesanan bahan baku setiap kali pesan Rp 7.511.625,00 4) Biaya penyimpanan sebesar 12%

Eo 2XRUXC0

V CUxCC

12x5.007.750x7.511.625.00

2.500,00x12%

= 500.775

Dari perhitungan tersebut diketahui bahwa jumlah pesanan yang paling ekonomis adalah sebesar 500.775 meter Grey, dari jumlah tersebut dapat dicari berapa kali pemesanan atau pembelian daiam satu tahun yang hams dilakukan oleh perusahaan, yaitu :

5.007.750

kebutuhan bahan baku per tahun

jumlah pesanan yang paling ekonomis 500.775

= 10 kali

Untuk mencari total cost minimal, dapat diketahui masing-masing biaya pemesanan dan biaya penyimpanannya sebagai berikut:

Biaya pemesanan = Total pemesanan dalam 1 tahun x CO

= 10 X Rp 7.511.625

= Rp 75.116.250,00

Biaya penyimpanan = Harga/unit x CO x

2

= Rp 2.500,00 X 12% X 500.775

= Rp 75.116.250,00

Jadi Total costnya adalah sebesar Rp 150.232.500,00.

Untuk membuktikan bahwa jumlah pemesanan sebanyak 500.775 meter merapakan pesanan yang paling ekonomis, maka penulis sajikan tabel perincian jumlah pesanan yang ekonomis sebagai berikut:

JUMLAH

PERTAHUN (METER) (RP) (RP) 12% (RP) (RP)

(1) (2) (3) (4) = (3)/2 (5) = (4) X 12% (6) (7) = (5)+ (6)

1 5.007.750 12.519.375.000 6.259.687.500 751.162.500 7.511.625 758.674.125 2 2.503.875 6.259.687.500 3.129.843.750 375.581.250 15.023.250 390.604.500 3 1.669.250 4.173.125.000 2.086.562.500 250.387.500 22.534.875 272.922.375 4 1.251.938 3.129.845.000 1.564.922.500 187.790.700 30.046.500 217.837.200 5 1.001.550 2.503.875.000 1.251.937.500 150.232.500 37.558.125 187.790.625 6 834.625 2.086.562.500 1.043.281.250 125.193.750 45.069.750 170.263.500 7 715.393 1.788.482.500 894.241.250 107.308.950 52.581.375 159.890.325 8 625.969 1.564.922.500 782.461.250 93.895.350 60.093.000 153.890.325 9 556.417 1.391.042.500 695.521.250 83.462.550 67.604.625 151.067.175 10 500.775 1.251.937.500 625.968.750 75.116.250 75.116.250 150.232.500 11 455.250 1.138.125.000 569.062.500 68.287.500 82.627.875 150.915.375 12 417.313 1.043.282.500 521.641.250 62.596.950 90.139.500 152.736.450

Sumber : PT Tritama Texindoraya dan Hasii Anaiisis

Temyata pada tahun 1999, kain jadi yang diproduksi lebih besar dari produksi yang direncanakan, sehingga pemakaian bahan baku Grey sebanyak 5.027.823 meter. Hal ini dikarenakan adanya permintaan kain dari pelanggan baru. Pada saat itu perusahaan belum menetapkan safety stock yaitu persediaan tambahan yang diadakan untuk menjaga kemungkinan teqadinya kekurangan bahan {stock out), karena apabila perusahaaan mengalami kekurangan bahan baku dalam menjalankan proses produksi, maka dapat mengakibatkan kemacetan proses produksi yang berarti kelancaran siklus konversi produk terhambat. Jadi pemenuhan kebutuhan saat itu dapat dipenuhi dari stock tahun lalu yang masih ada di gudang atau biasanya menunggu pesanan bahan baku berikutnya datang apabila Buyer tidak merasa keberatan. Dari permasalahan diatas maka penulis menyarankan safety stock yang harus ada dalam gudang saat itu adalah sebanyak 68.865 meter Grey untuk Kain Thick and Thin, jumlah ini didapat dari perhitungan dengan menggunakan metode statistik. Adapun penulis menggunakan metode

statistik, karena metode ini memberikan cara-cara teknik statistik untuk

menentukan besamya persediaan Grey agar biaya-biaya dapat ditekan serendah mungkin.

Tabel IV

PT. Tritama Texindoraya Perhitungan Safety Stock 1999

BULAN TAKSIRAN PEMAKAIAN DEVIASI DEVIASI.

PEMAKAIAN SESUNGGUHNYA KUADRAT

1 417.312 423.985 (6.673) 44.528.929

2 425.330 411.275 14.055 197.543.025

3 "420.820 412.888 7.932 62.916.624

4 370.725 427.180 (56.455) 3.187.167.025

5 380.730 410.100 (29.370) 862.596.900

6 412.225 422.280 (10.055) 101.103.025

7 430.325 427.825 2.500 6.250.000

8 431.430 415.775 15.655 245.079.025

9 430.250 422.711 7.539 56.936.521

10 435.225 420.612 14.613 213.539.769

11 430.689 420.660 10.029 100.580.841

12 422.689 412.532 10.157 103.164.649

Total 5.007.750 5.027.823 (20.073) 5.181.306.333

Sumber: PT. Tritama Texindoraya dan basil analisis

Adapun langkah-langkah pertimbangan safety stock adalah sebagai

berikut:

Langkah 1 : Menghitung selisih antara deviasi kuadrat dikurangi dengan

total deviasi dikuadratkan dan dibagi dengan n.

= 5.181.306.333

-12

= 5.181.306.333 -33.577.111

= 5.147.729.222

Langkah 2 : Hasil perhitungan pada langkah satu tersebut dibagi dengan

n-1 dan hasilnya diakar kuadrat.

■J

5.147.729.222 12-1

= 21.633

Langkah 3 : Menghitung rata deviasi per bulan

^ -20.073

12

= -1.673

Langkah 4 : Menghitung besamya persediaan Grey. Jika besamya derajat significant yang digunakan sebesar 99,5% dengan ukuran sampel 12, maka tingkat kebebasan (degree of freedom) 12-1 = 11 sebesar 3,106 dengan jangka waktu

dasamya 1 bulan, maka persediaan pengaman adalah

sebesar;

= (3,106 X 21.633 xf\-(- 1.673 x 1 )

= 67.192 + 1.673

= 68.865 meter

Jadi persediaan Grey dengan menggunakan derajat signifikansi 99,5%

dan jangka waktu dasar selama 1 bulan, besamya persediaan pengaman

untuk Grey adalah sebanyak 68.865 meter.

Kemudian untuk mengetahui titik dimana perusahaan harus melakukan pemesanan lagi sehingga kedatangan atau penerimaan material yang dipesan tepat pada waktunya dapat digunakan Metode Reorder Point

(ROP). Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam penentuan ROP adalah sebagai berikut:

I

1) Penggunaan material selama tenggang waktu untuk mendapatkan barang (procurement leadtime).

2) Bssamya safety stock.

Dari sampel tersebut maka titik pemesanan dilakukan jika persediaan sudah mencapai 488.865 meter. Perhitungarmya didapat sebagai berikut dengan asiunsi bahwa perkiraan permintaan setiap bulannya sebesar

420.000 meter dan tenggang waktu I buian adalah : ROP = Perkiraan Permintaan + Safety stock

= 420.000 + 68.865

= 488.865 meter

4.1.2. Perencanaan Penggunaan Tenaga Kerja

Untuk terus hidup dan berhasil dengan baik, suatu perusahaan memerlukan karyawan yang cakap dan termotivasi. Untuk memperoleh karyawan yang demikian tentunya diperlukan perencanaan yang cermat terlebih dahulu yaitu perencanaan tenaga keijanya, dengan mengintegrasikan beraneka ragam bagian dari sistem tenaga keija yang menyeluruh dari perusahaan. Memang dapat kita katakan bahwa setiap proses usaha manusia dimulai dengan perencanaan.

Tenaga kega merupakan manusia yang bekerja dalam menjalankan mesin-mesin. Agar proses produksi dapat beijalan dengan lancar

diperlukan tenaga keija yang terampil, hal ini dapat ditingkatkan dengan melakukan pelatihan khusus secara berkala mengenai pengoperasian mesin-mesin yang aman dan pengenalan teknologi baru.

Karena mesin-mesin yang digunakan kurang otomatis, maka pengenalan individual operator terhadap produk yang dihasilkan sangat besar, sfihingga operatomya perlu mempunyai keahlian atau skill yang tinggi dalam pengeijaan produk tersebut.

Perencanaan tenaga keija memungkinkan perusahaan untuk:

1) Memperbaiki penggunaan sumber daya manusia

2) Memadukan kegiatan-kegiatan personalia dan tujuan-tujuan organisasi di waktu yang akan datang secara efisien.

3) Melakukan pengadaan karyawan baru secara ekonomis

4) Mengembangkan informasi dasar manajemen personalia untuk kegiatan-kegiatan personalia dan unit-unti organisasi laiimya.

5) Membantu program penarikan dari pasar tenaga keija secara sukses.

6) Mengkoordinasikan program-program manajemen personalia yang berbeda-beda seperti rencana-rencana penarikan dan seleksi.

Sumber daya manusia yang dimiliki yaitu terdiri dari lima orang tenaga kerja asing yang berpengalaman dan kurang lebih 25 orang staff kantor serta didukung kurang lebih sekitar 1250 orang karyawan lainnya yang terampil, terlatih dan terdidik sesuai dengan bidangnya masing-masing, sehingga menjamin kualitas produk yang dihasilkan.

r

Dengan penempatan tenaga keija yang sesuai dengan keahlian serta kemampuan tersebut maka dapat memperlancar proses produksi.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa tenaga kerja pada PT. Tritama Texindoraya hanya sebagai operator dari mesin-mesin yang dijalankan secara otomatis, tenaga keija yang paling banyak digunakan adalah pada Bagian Weaving (penenunan) yaitu kurang lebih 300 orang setiap shiftnya. Berikut ini penulis sajikan tabel penggunaan tenaga kerja yang bertugas sebagai operator pada PT. Tritama Texindoraya

sebagai berikut:

Tabel V

PT. Tritama Texindoraya Penggunaan Tenaga Kerja per Hari

NAMA JUMLAH JUMLAH TK TOTAL TK

MESIN MESIN PER MESIN 1 HARI

Tenun 300 300 900

Jahit (obras) 10 10 30

Sofcer 3 2 18

Rotary Washer 2 5 30

Jet Dyeing 9 4 108

Scutcher 2 4 24

Stenter Monforts 3 4 36

Boil off Tank 2 2 12

Scuoring 1 2 6

Winch 1 4 12

Rotary Print 1 4 12

Plate Print 2 4 24

Steamer 1 2 6

Winch continous 1 4 12

Haspel 1 4 12

Visual Inspection 2 2 12

Calender 1 2 6

r 0 T A L 1260

S umber: PT. Tritama Texindoraya

Perencanaan tenaga keija ini hanya mengenai jumlah dan ketepatan penempatan karyawan yang disesuaikan dengan kebutuhan mesin yang ada. Perencanaan tenaga keija ini tidak dilakukan secara rutin, perencanaan tenaga keija ini hanya dilakukan jika ada perluasan pabrik yang tentunya diikuti dengan penambahan mesin.

4.1.3. Perencanaan Penggunaan Mesin dan Peralatan

Mesin adalah suatu peralatan yang digerakan oleh suatu kekuatan atau tenaga yang dipergunakan untuk membantu manusia dalam

mengeijakan produk atau bagian-bagian produk tertentu. Mesin merupakan alat bantu manusia yang digunakan untuk mempermudah produksi. Perusahaan hams merencanakan penggunaan mesin dengan sebaik-baiknya dengan cara melakukan pemeliharaan maupun penggantian mesin apabila diperlukan, tetapi dengan melakukan penggantian mesin perusahaan hams pula mempertimbangkan berbagai kondisi sehingga penggantian mesin tersebut memang benar-benar diperlukan dan berdaya guna. Salah satu kondisi yang dapat menjadi alasan perusahaan mengganti mesin yang telah ada yaitu mesin yang selama ini dipergunakan telah kuno atau ketinggalan jaman, karena meskipun mesin tersebut masih dapat berfungsi tetapi tidak dapat

memenuhi kebutuhan produk dalam jumlah yang besar dan mendadak.

Penulis berikut ini menyajikan berbagai macam mesin yang digunakan oleh FT. Tritama Texindoraya sebagai alat bantu untuk mempermudah proses produksi sebagai berikut :

1) Mesin Tenun

Mesin ini digunakan untuk menenun benang polyester menjadi baralig setengah jadi yang disebut sebagai Grey. Grey ini merupakan bahan baku untuk membuat tekstil. Mesin tenun pada FT. Tritama

Texindoraya ini kurang lebih beijumlah 300 buah.

2) Mesin Obras dan Mesin Jahit

Mesin ini digunakan pada Bagian Sewing, dimana Grey disambung-sambung atau dijahit sesuai dengan kombinasi jumlah pesanan atau order. Mesin bequmlah masing-masing 10 buah.

3) Mesin S'o/cer

Mesin ini digunakan dalam Proses Desizing, yang bertujuan untuk menghilangkan kanji-kanji bekas Proses Weaving, dalam hal ini khusus untuk benang yang mendapat perlakukan sizing. Mesin ini

beijumlah tiga buah.

4) Mesin Rotary washer dan Jet dyeing

Mesin Rotary washer digunakan dalam Proses Creaping. Mesin ini bertumuan untuk mensusutkan kain baik ke arah lebar ataupun panjang kain, sedangkan Mesin Jet dyeing digunakan dalam Proses Creaping dan Dyeing untuk membersihkan bekas Proses Weaving

seperti kanji, oii, nep dan lain sebagainya. Mesin Rotary Washer ini beijumlah dua buah dan Mesin Jet dyeing beijumlah sembilan buah.

5) Mesin Scutcher

Mesin ini digunakan untuk membeber Grey dari bentuk rope ke bentuk terbuka. Mesin Scutcher ini dipakai untuk Proses Open Width

dan berjumlah 2 buah.

6) Mesin Stenter Monforts Mesin ini ada 3 jenis yaitu:

Dalam dokumen (STUD! KASUS PADA PT. TRITAMA TEXINDORAYA) (Halaman 159-183)