• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERMOHONAN PENGUJIAN PASAL 6 AYAT (1), PASAL 9 AYAT (1) HURUF B, PASAL 10 AYAT (1) DAN AYAT (3) HURUF B, DAN PASAL 11

D.2 PASAL 6 AYAT (1), PASAL 9 AYAT (1) HURUF B, PASAL 10 AYAT (1) DAN AYAT (3) HURUF B, DAN PASAL 11 HURUF A UU BPK

4. Erwin Nasution

• Saksi adalah selaku Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara IV;

• Dalam dunia usaha adalah menjadi suatu yang jamak agar perusahaan dapat meningkatkan kinerjanya dan memberikan keuntungan yang maksimal kepada pemegang saham. Maka perusahaan harus dikelola secara profesional, efisien, dan selalu menciptakan inovasi, serta terobosan-terobosan baru, sehingga perusahaan mampu bersaing;

• Namun dengan melekatnya status keuangan negara pada BUMN, Manajemen PTPN IV sering mengalami keraguan dan ketakutan dalam mengambil keputusan bisnis (business judgement). Misalnya, keputusan kapan waktu yang tepat menjual produknya atau membeli produk-produk lainnya karena apabila setelah dilakukan misalnya penjualan CPO, tiba-tiba harga CPO itu naik dan ini mungkin dianggap merupakan kerugian. Atau sebaliknya, setelah dilakukan pembelian TBS. Tiba-tiba harga tandan buah segar tersebut turun drastis yang mungkin ini mengalami kerugian. Maka keputusan manajemen PTPN dalam menjual CPO atau membeli TBS tersebut akan dipersalahkan karena telah merugikan PTPN IV yang pada akhirnya merugikan keuangan negara; • Demikian juga dalam hal pengambilan bisnis (business judgement).

Berkaitan dengan rencana ekspansi pengembangan usaha, serta dalam hal pengembangan proyek baru. Selalu dibayangi ketakutan kalau keputusan tersebut akan merugikan perusahaan yang pada akhirnya justru

dapat dikategorikan merugikan keuangan negara sehingga dituduh melakukan korupsi sebagaimana diketahui bahwa setiap kegiatan bisnis pasti akan memiliki risiko yang besar;

• Atas ketakutan dan keraguan-keraguan dalam pengambilan keputusan bisnis (business judgement), maka semua keputusan bisnis akan selalu kami konsultasikan dan meminta pendapat dari berbagai pihak. Baik pihak kejaksaan, BPKP, konsultan keuangan, dan konsultan hukum. Terkadang kami meminta pendapat lebih dari satu konsultan sebagai second opinion. Dengan sistem pengambilan keputusan seperti ini, maka sudah dipastikan dalam pengambilan keputusan bisnis (business judgement) membutuhkan waktu yang relatif lama serta menimbulkan biaya yang cukup tinggi (high

cost), sedangkan dalam dunia usaha, agar tidak kehilangan momentum

bisnis, Direksi diminta untuk mengambil keputusan bisnis (business

judgement) yang cepat dan tepat;

• Kementerian BUMN telah menerbitkan peraturan Menteri BUMN Nomor /01/MBU/2011 tentang Penetapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik pada Badan Usaha Milik Negara. Ketentuan ini menjadi pagar bagi Direksi dalam pengelolaan BUMN haruslah memenuhi prinsip-prinsip transparansi, akuntabilitas, responsibility, independensi, dan fairness;.

• Saat ini sebagai gambaran prosentase luas lahan milik BUMN Perkebunan terus mengalami penurunan sesuai dengan tabel yang ada. Kita melihat bahwa perkebunan rakyat sejak tahun 1990 sampai dengan tahun 2009 terus meningkat menjadi dari 26% menjadi 44%. Sedangkan BUMN Perkebunan, sejak tahun 1990 yang luasnya 33% turun tahun 2009 sampai dengan sekarang hanya 8%. Swasta 41% meningkat menjadi 48%. Menurunnya prosentase penguasaan lahan oleh BUMN Perkebunan ini, dikarenakan Direksi BUMN Perkebunan dalam mengambil keputusan pengembangan lahan tidak secepat dan seagresif direksi perusahaan swasta lainnya. Salah satu penyebabnya adalah ketakutan dan keragu-raguan apabila keputusan pengembangan lahan tersebut dapat menimbulkan kerugian keuangan negara dan pada akhirnya bermuara pada tuduhan-tuduhan lainnya;

• Ketentuan Pasal 2 huruf i Undang-Undang Keuangan Negara menyatakan “Keuangan negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 meliputi,

kekayaan pihak lain yang diperoleh dengan cara menggunakan presentasi dan pendidikan oleh pemerintah.” Ketentuan Pasal 2 huruf i Undang-Undang Keuangan Negara telah memberikan kepastian dan dapat merugikan perusahaan sebagai perusahaan mitra perusahaan inti dalam pembangunan kebun plasma. Sebagaimana diketahui bahwa Kementerian Pertanian melalui Peraturan Menteri Pertanian Nomor 26 Permentan, OT 140/2/207 tentang Pedoman Perizinan Usaha Perkebunan mewajibkan kepada seluruh perusahaan perkebunan Indonesia untuk membangun kebun plasma. Selanjutnya, sesuai Peraturan Menteri Pertanian Nomor 33/Permentan/OT140/7/2006 tentang Pengembangan Perkebunan Melalui Program Revitalisasi Perkebunan, pola pembangunan kebun plasma melalui program revitalisasi pembiayaannya melalui kredit perbankan dan subsidi bunga dari pemerintah. Untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, saat ini PTPN IV sedang dan akan membangun kebun plasma di Kabupaten Madina, Kabupaten Padang Lawas dan beberapa kabupaten di Provinsi Aceh. Berdasarkan ketentuan Pasal 2 huruf i Undang-Undang Keuangan Negara, maka status kebun plasma yang dibiayai melalui program revitalisasi merupakan keuangan negara karena adanya subsidi bunga dari pemerintah;

• Melekatnya keuangan negara pada kebun plasma, jelas akan merugikan PTPN IV sebagai penjamin kredit karena apabila terjadi kredit macet, kebun plasma tidak dapat diserahkan kepada kreditur untuk membayar utang sehingga risiko pembangunan kebun plasma sebagai akibat tidak mampu membayar kredit menjadi tanggung jawab dan kerugian PTPN IV. Selain itu, kerja sama pembentukan perusahaan patungan industri hilir untuk mengurangi ketergantungan PTPN IV atas harga CPO, maka direksi mengambil kebijakan dalam pengembangan industri hilir berbahan baku CPO. Mengingat keterbatasan SDM dan pengalaman dalam bidang pelaksanaan produk, maka untuk pengembangan industri hilir, PTPN IV mengundang perusahaan swasta untuk melakukan kerja sama (joint

venture). Perusahaan swasta bersedia bekerja sama dengan PTPN IV

dengan syarat PTPN IV harus menjadi pemegang saham minoritas. Mereka takut kalau PTPN IV menjadi pemegang saham mayoritas, maka neraca keuangan anak perusahaan terkonsolidasi ke PTPN IV, sehingga

mungkin para pemeriksa berhak melakukan pemeriksaan audit pada anak perusahaan tersebut. Nah, ini merupakan suatu kendala yang kadang-kadang kita untuk joint venture selalu mengalami hambatan-hambatan kita sebagai pemegang saham mayoritas;

• Selanjutnya, penyelesaian sengketa lahan. Permasalahan utama saat ini yang dialami oleh perusahaan perkebunan banyak perusahaan swasta maupun BUMN adalah permasalahan sengketa lahan. Status lahan HGU yang dimiliki tidak memberikan jaminan hukum, lahan dapat dikelola dan dikuasai sebagaimana mestinya tanpa ada tuntutan. Pola penyelesaian permasalahan lahan antara perusahaan swasta dengan perusahaan BUMN berbeda. Bagi perusahaan swasta, mereka akan melakukan hitungan bisnis apabila proses penyelesaian dengan pemberian kompensasi masih lebih menguntungkan daripada melalui proses pengadilan. Maka mereka akan memilih untuk penyelesaian melalui pemberian kompensasi, sehingga kebun segera dapat dikuasai dan dipanen kembali. Namun berbeda bagi Direksi Perusahaan Perkebunan BUMN, bentuk penyelesaian dengan pemberian kompensasi tidak mempunyai dasar hukum yang kuat dan berpotensi dapat menimbulkan kerugian keuangan perusahaan dan pada akhirnya dianggap merugikan keuangan negara sehingga direksi perusahaan atau PTPN dalam menyelesaikan permasalahan lahan tersebut selalu mengutamakan bentuk penyelesaian melalui proses pengadilan, sehingga dapat dipastikan penyelesaiaannya membutuhkan waktu yang cukup lama dan berpotensi menimbulkan kerugian bagi PTPN atau perusahaan BUMN, karena selama proses pengadilan, kebun tetap diduduki oleh masyarakat, sehingga PTPN tidak dapat melakukan pemanenan dan tanaman akan rusak karena tidak melakukan perawatan sebagaimana mestinya;

• Selanjutnya, contoh tanaman ulang seperti tanaman kepala sawit atau karet yang mempunyai umur ekonomis, kita ketahui sampai dengan 25 tahun. Namun dalam kondisi tertentu, misalnya karena kondisi lahan, atau bibit, atau alam, tanaman kelapa sawit atau karet yang belum sampai usia 25 tahun sudah tidak ideal lagi dan tidak memberikan produktivitas secara maksimal dari sisi manajemen penggantian tanaman dengan tanaman baru akan lebih menguntungkan bagi perusahaan daripada

mempertahankannya. Akan tetapi karena tanaman kelapa sawit atau karet tersebut masih mempunyai nilai buku yang tinggi, maka selalu direksi tidak berani mengganti tanaman kelapa sawit atau karet tersebut dengan tanaman baru karena ini merupakan kerugian daripada perusahaan dan mungkin bisa disebutkan menjadi kerugian negara;

• Oleh karena itu, berdasarkan uraian tersebut di atas, besar harapan saya kepada Yang Mulia Ketua dan Anggota Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi untuk mewujudkan harapan saya sekaligus mewakili insan BUMN, yaitu:

1. Putusan Mahkamah Konstitusi memberikan kepastian hukum bagi BUMN;

2. BUMN memiliki kesetaraan (equal level of playing field) yang sama dengan perusahaan swasta lainnya;

3. Adanya pemahaman yang sama antara pengurus BUMN dengan pemerintah, BPK, dan penegak hukum;

4. Perlu harmonisasi atas peraturan perundang-undangan lain yang belum sejalan, sehingga tidak ada lagi multitafsir, khususnya Undang-Undang Keuangan Negara lembaga yang melalukan pengawasan audit terhadap BUMN, sehingga adanya kepastian hukum;

5. Terakhir kami mohonkan agar Yang Mulia Ketua dan Anggota Majelis Hakim Konstitusi mengabulkan permohonan para Pemohon untuk seluruhnya.

• Sebenarnya, tidak ada istilah diperas seperti itu. Kita menjalankan fungsi-fungsi organisasi korporasi, saya pikir, kita jalankan sebagaimana aturan-aturan yang ada. Namun, mungkin ketakutan-ketakutan yang saya sebutkan tadi dan saya contohkan, adalah merupakan fakta dan realita yang ada di lapangan bahwa banyak kendala-kendala yang membuat kita tidak fleksibel di dalam membuat keputusan-keputusan karena tadi, setiap ada keputusan-keputusan yang mungkin secara bisnis itu bisa merugikan atau rugi yang kita tahu bahwa bisnis itu selalu fungsinya risiko kerugian, itu menjadi kerugian negara. Itu yang mungkin kadang-kadang menjadi kekhawatiran yang kadang-kadang ini dimanfaatkan oleh masyarakat ataupun teman-teman yang ada di sekitar kita.

• Ini menjadi bahan bahwa setiap aktivitas kita yang mereka anggap ini merugikan, atau rugi mungkin, ini menjadi bahan yang mungkin dia taruh atau dia buang ke mana-mana yang menjadi beban kepada kita. Ini mungkin yang kami rasakan. Contohnya tadi saya sampaikan seperti kita menebang pohon atau mengganti pohon yang sudah tidak potensial lagi, yang secara ekonomis juga tidak juga bisa menguntungkan, namun, secara nilai buku masih ada dan nilai buku yang kita punya itu, apabila kita buang, itu menjadi kerugian kalau di dalam istilah kerugian berupa kerugian perusahaan, ini dianggap merugikan keuangan negara. Ini selalu dioper oleh teman-teman yang ada di lapangan, ke mana-mana menjadi lebih repot.