PERMOHONAN PENGUJIAN PASAL 6 AYAT (1), PASAL 9 AYAT (1) HURUF B, PASAL 10 AYAT (1) DAN AYAT (3) HURUF B, DAN PASAL 11
D.2 PASAL 6 AYAT (1), PASAL 9 AYAT (1) HURUF B, PASAL 10 AYAT (1) DAN AYAT (3) HURUF B, DAN PASAL 11 HURUF A UU BPK
5. Gathot Harsono
• Saksi menjabat sebagai Vice President Research Management PT Pertamina;
• Pertamina memiliki aset-aset perseroan yang terdiri dari beberapa benda bergerak maupun benda tidak bergerak. Aset-aset tersebut tercatat di pembukuan perusahaan. Sebagai badan usaha Pertamina dituntut untuk melakukan pengelolaan aset dengan prinsip-prinsip pengelolaan perusahaan yang baik sebagaimana diatur dalam Undang-Undang BUMN dan Undang-Undang Perseroan Terbatas. Pengelolaan aset-aset diharapkan dapat menjadi nilai tambah bagi perusahaan, namun upaya ini dapat dituduh melakukan tindak pidana korupsi yang merugikan keuangan negara;
• Sebagai contoh PT Patra Jasa, anak perusahaan Pertamina, memiliki aset di Cirebon seluas 5 hektare. PT Patra Jasa berniat untuk mengoptimalkan lahan tersebut seluas kurang lebih 2 hektare di pinggir jalan utama. Sisa lahan seluas 3 hektare belum dioptimalkan dan tidak berada pada tepi jalan utama. Dengan alasan efisiensi biaya operasinal direksi Patra Jasa mengajukan permohonan penyesuaian NJOP di sisa lahan kosong seluas 3 hektare dengan terlebih dahulu mengajukan pemecahan nomor objek pajak ke kantor Pajak Pratama Cirebon sehingga NJOP lebih rendah dari pada NJOP semula;
• Setelah bertahun-tahun tidak dapat dioptimalkan karena tidak ada peminatnya, direksi Patra Jasa melakukan penjualan atas lahan kosong
seluas 3 hektare tersebut. Penjualan tersebut dilakukan dengan harga penjualan di atas NJOP yang baru, namun aparat penegak hukum setempat kemudian melakukan penyelidikan atas proses penjualan tersebut dengan dugaan telah terjadi korupsi yang merugikan keuangan negara karena nilai penjualan di bawah NJOP yang lama meskipun sudah di atas NJOP yang baru. Padahal antara penyesuaian NJOP dan penjualan memiliki tenggang waktu yang cukup lama serta direksi yang melakukan penyesuaian NJOP dengan direksi yang melakukan penjualan adalah direksi yang berbeda, namun hal ini tidak menjadi bahan pertimbangan dari aparat penegak hukum;
• Ketua dan Anggota Majelis Hakim Konstitusi yang kami muliakan, serta hadirin yang terhormat. Merujuk pada pengalaman kami yang lain, dalam melakukan penjualan divestasi aset melalui balai lelang, Pertamina dihadapkan pada kendala tidak adanya penawaran di atas harga NJOP. Sebagai contoh, Pertamina akan melakukan penjualan aset tanah kosong yang berlokasi di Pangkalan Brandan, Sumatera Utara. Sebelum melakukan pelelangan, tim penaksir harga telah menentukan limit harga jual berdasarkan NJOP karena nilai NJOP lebih tinggi dibandingkan dengan nilai appraisal dan harga pasar. Namun ternyata, pada pelaksanaan pelelangannya, tidak ada penawaran di atas limit harga jual yang telah ditentukan. Pelelangan tersebut pun telah dilakukan lebih dari satu kali, namun belum juga mendapatkan penawaran yang melebihi limit harga yang ditentukan. Pertamina tidak berani menjual tanah tersebut di bawah harga NJOP, khawatir perbuatan ini dapat ditafsirkan merugikan keuangan negara. Dan pada akhirnya, tanah tersebut cenderung hanya menjadi beban operasional bagi Pertamina;
• Dalam mengoptimalkan aset Plumpang, Pertamina juga mengalami keragu-raguan dalam pengambilan keputusan bisnis karena khawatir dapat dituduh melakukan korupsi yang merugikan negara, dengan penjelasan sebagai berikut. Lahan aset Plumpang kurang-lebih 156,9 hektare dan dipergunakan sebagai depot seluas kurang-lebih 72 hektare. Sisa lahan seluas 90 hektare dengan kondisi dikuasai oleh penghuni tanpa hak, sekitar 8.500 KK, berpotensi menimbulkan kebakaran dan kerusuhan sosial. Kondisi depot tidak ada pengamanan berupa buffer zone. Penghuni
tanpa hak bersedia meninggalkan tempat buffer zone dengan menuntut ganti rugi dengan nilai yang tinggi. Padahal atas lokasi tersebut, pernah dilakukan pembayaran ganti rugi. Pertamina bermaksud melakukan penataan area 90 hektare tersebut dengan menggandeng mitra. Calon mitra akan memperoleh hak kepemilikan tanah seluas 68 hektare dan
Pertamina memperoleh kompensasi berupa uang tunai kurang-lebih Rp 975 miliar. Pembangungan buffer zone sebagai pengamanan depot
dan catchment area untuk pengendali banjir, pengosongan lahan, dan penataan penghuni tanpa hak, penyelesaian permasalahan hukum untuk keseluruhan lahan menjadi tanggungan mitra, dan bantuan proses sertifikasi seluruh lahan depot Plumpang. Namun demikian, rencana Pertamina ini belum dapat dilaksanakan, meskipun perhitungan secara fisik saat ini, sudah menguntungkan. Namun, perhitungan tersebut dikhawatirkan di kemudian hari, dianggap belum maksimal, sehingga menimbulkan kerugian negara yang berujung pada tindak pidana korupsi. • Selain permasalahan tanah Plumpang di atas, Pertamina juga mengalami
ketidakpastian hukum pada saat Pertamina akan melakukan optimalisasi aset-aset Pertamina yang tidak optimal pemanfaatannya. Sebagai contoh, Pertamina memiliki aset di Pasar Minggu seluas 4,4 hektare. Namun, sampai saat ini, tanah tersebut belum teroptimalkan. Berdasarkan hasil penilaian dari kantor jasa penilaian publik (KJPB) yang ditunjuk oleh Pertamina, harga pasar aset tersebut adalah sebesar Rp 229,52 miliar. Pertamina pernah menerima penawaran kerja sama dari pihak lain dengan kompensasi sebesar net present value Rp 359 miliar, kurang-lebih. Namun demikian, rencana kerja sama tersebut tidak dapat tidak ditindaklanjuti oleh Pertamina karena penataan nilai aset tersebut berdasarkan NJOP adalah sebesar Rp 437,74 miliar;
• Sebagai BUMN yang mempunyai fokus dalam memperoleh profit dan pengurangan biaya operasional, Pertamina mengalami ketidakpastian hukum pada saat melakukan optimalisasi atau divestasi aset. Adanya undang-undang keuangan negara yang memperlakukan aset Pertamina sebagai bagian keuangan negara, menjadikan Pertamina tidak dapat melepas atau mengoptimalkan aset apabila nilai komoditasnya di bawah NJOP.
• Padahal jika mengacu pada Undang-Undang Perseroan Terbatas dan Undang-Undang BUMN, Pertamina dapat melakukan penyesuaian harga sesuai dengan skema bisnis perusahaan pada umumnya, serta kondisi pasar pada khususnya. Apabila Pertamina melakukan penjualan optimalisasi aset dengan nilai kompensasi di bawah harga NJOP, maka Pertamina berpotensi dituduh korupsi yang merugikan negara. Pengalaman-pengalaman di atas, kami yakini juga dialami oleh BUMN-BUMN lain.
6. R. J. Lino
• Saksi di PT Pelabuhan Indonesia II sampai tahun 1990 dan Saksi berhenti dan 3 tahun Saksi di China, kemudian setelah berhenti lebih dari 19 tahun, 11 Mei 2009, Saksi diminta pemerintah balik untuk jadi Managing Director di Pelabuhan Indonesia II. Waktu itu secara finansial saksi tidak perlu jabatan itu, tapi saksi bilang kepada Bapak Sopyan Djalil waktu itu, “Saya kembali karena saya ingin berbuat sesuatu yang baik untuk bangsa ini karena kita tahu bahwa logistics cost di Indonesia begitu tinggi 24% dari GDP”;
• Kita tahu bahwa bisnis itu uncertain. Uncertain itu menjadi new norma orang berbisnis sehingga resiko itu selalu ada, jika kita tidak bisa inovatif dan out of the box thinking, bisnis tidak pernah maju dan itu penuh risiko dan itu merupakan aksi dari korporasi. Kita semua tahu bahwa BUMN itu didirikan untuk mencari profit, tapi tidak berarti bahwa BUMN itu tidak bisa melaksanakan tugas-tugas negara karena BUMN itu milik rakyat Indonesia. Saya ingin juga sampaikan bahwa sejak saya balik 2009 sampai dengan 2015, IPC atau Pelabuhan Indonesia II itu tumbuh dengan aset yang dua kali daripada sebelum saya masuk, revenue lebih dari dua kali, dan profit lebih dari dua kali, gaji karyawan saya pun lebih dua kali dari saya masuk;
• Yang saya khawatirkan, walaupun angkanya triliyunan yang saya tambahkan di perusahaan itu, kalau dengan Undang-Undang yang ada sekarang, itu bisa ada kesalahan kecil saya bisa dipidanakan karena merugikan negara;
• Kemudian, hal ini sudah kita lihat dari ada beberapa pekerjaan yang berkali-kali staf saya itu dipanggil, baik di Kejaksaan Negeri, Kejaksaan
Tinggi, di Kejaksaan Agung, yang khusus maupun yang intel, itu berkali-kali dengan hal-hal yang sama. Dijelaskan clear, tapi itu tidak berarti bahwa masalah itu selesai. Tidak ada jaminan hukum bagi kita bahwa itu akan selesai. Akibatnya apa? Semua orang-orang di BUMN di level tengah, itu menjadi ragu membuat keputusan itu. Nah, ini akan berdampak besar sekali untuk kerugian bagi negeri ini sendiri karena orang-orang itu enggak berani buat keputusan.
• Kemudian, pekerjaan yang sangat besar yang sedang saya kerjakan hari ini adalah pembangunan Kalibaru. Proyek itu nilainya Rp 50 triliun, proyek itu proyek yang sangat istimewa, sejak saya sampaikan ide itu di kantor Wapres Juni 2010 dan Desember tahun kemarin sudah kita kerjakan. Tidak ada di seluruh dunia proyek sebesar itu dikerjakan dalam waktu yang begitu pendek, di mana dalam proyek itu kami juga menggunakan
oversight committee, di mana oversight committee, itu ketuanya Pak Eri
Riyana, kemudian ada Faisal Basri, kemudian ada Lie Cing Wei, ada Nita Subagio. Maksudnya oversight committee itu melihat bahwa proses kita ini transparan dan fair dan umum kepada publik setiap 3 bulan mengenai proses itu semua. Tapi kembali, ini semua bukan merupakan jaminan. Kemudian, kalau proyek ini nanti selesai di tahun 2015, perusahaan yang tahun lalu asetnya Rp 12 triliun, itu akan menjadi perusahaan Rp 50 triliun dan proyek itu akan sangat berguna bagi negeri ini. Tapi jaminan hukum untuk kita yang bekerja di situ, tidak ada. Setelah saya mengerjakan proyek ini dari awal sampai sekarang, saya tidak yakin di negeri ini ada orang yang bisa mengerjakan proyek seperti itu. Jika kita tidak berani bertabrakan dengan orang lain, tidak akan bisa. Negeri ini sulit untuk membangun proyek-proyek yang besar kalau cara berbisnisnya masih seperti sekarang ini.