PERMOHONAN PENGUJIAN PASAL 6 AYAT (1), PASAL 9 AYAT (1) HURUF B, PASAL 10 AYAT (1) DAN AYAT (3) HURUF B, DAN PASAL 11
D.2 PASAL 6 AYAT (1), PASAL 9 AYAT (1) HURUF B, PASAL 10 AYAT (1) DAN AYAT (3) HURUF B, DAN PASAL 11 HURUF A UU BPK
1. Gatot M. Suwondo
• Saksi adalah selaku Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (BNI) (Persero) Tbk sebagai salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang perbankan dan sudah go public sejak tahun 1996, dan sekaligus selaku Ketua Himpunan Bank Milik Negara atau dikenal dengan nama Himbara yang merupakan badan hukum perkumpulan dari empat bank milik negara, yaitu PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.;
• Setelah melalui perjalanan panjang pada akhirnya status piutang BUMN yang sebelumnya masuk dalam rezim piutang negara, maka dengan adanya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 77/PUU-IX/2011, dinyatakan bahwa piutang BUMN setelah berlakunya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Pembendaharaan Negara, Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN, serta Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas adalah bukan lagi piutang negara yang harus dilimpahkan penyelesaiannya ke Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN);
• Pertimbangan hukum dalam putusan Mahkamah tersebut secara terang dan jelas menyatakan bahwa BUMN adalah badan usaha yang memiliki kekayaan terpisah dari kekayaan negara, sehingga kewenangan pengurusan kekayaan, usaha, termasuk penyelesaian utang-utang BUMN tunduk pada hukum Perseroan Terbatas berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas;
• Bahwa judicial review terkait dengan status piutang BUMN yang diajukan dalam Perkara Nomor 77/PUU-IX/2011 adalah murni merupakan inisiasi dari salah satu debitur bank BUMN yang mengalami kesulitan dalam penyelesaian kewajibannya kepada bank BUMN karena terkendala oleh ketentuan-ketentuan yang membatasi kekuasaan bank BUMN dalam melakukan proses penyelamatan maupun penyelesaian kredit tersebut.
Namun demikian, meskipun hal tersebut merupakan inisiasi sepenuhnya dari salah satu debitur bank BUMN, namun pada hakikatnya dapat saya sampaikan bahwa bank-bank BUMN sesungguhnya telah lama merasakan adanya un-equal level of playing field dibandingkan dengan bank swasta nasional lainnya;
• Un-equal level of playing field antara bank BUMN dengan bank swasta nasional tersebut adalah dengan membandingkan pertanggungjawaban secara kelembagaan dan membandingkan regulasi yang mengatur kegiatan usaha antara bank-bank BUMN dengan bank-bank swasta nasional. Bank-bank BUMN sepanjang apa yang saya rasakan dan alami sebagai praktisi maupun pengurus perbankan pada bank BUMN tidak memiliki fleksibilitas karena terkait dengan pertanggungjawaban kelembagaan terhadap berbagai lembaga seperti halnya Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Dewan Komisaris, Pemerintah, Dewan Perwakilan Rakyat, dan Badan Pemeriksaan Keuangan atau BPK. Hal tersebut tentu dapat dibayangkan, betapa tidak fleksibelnya bank BUMN karena tiap lembaga mempunyai aturan dan mekanisme prosedur tanggung jawabnya masing-masing. Jika dibandingkan, bank swasta nasional hanya memiliki pertanggungjawaban kelembagaan kepada RUPS dan Dewan Komisaris, sehingga sangat fleksibel dibandingkan dengan bank BUMN. Dengan demikian, bank swasta nasional lebih cepat memanfaatkan peluang bisnis yang ada di depan mata dan memanfaatkan waktu yang sangat cepat. Tidak hanya pertanggungjawaban kelembagaan yang begitu kompleks seperti tersebut di atas, terhadap bank BUMN juga diharuskan untuk tunduk pada berbagai regulasi mulai dari Undang-Undang PT, Undang-Undang-Undang-Undang Pasar Modal, Undang-Undang-Undang-Undang BUMN, Undang-Undang Keuangan Negara, Undang-Undang Perbendaharaan Negara, Undang-Undang BPK, di samping undang-undang yang terkait yang bersifat sektoral, dalam hal ini Undang-Undang Perbankan serta peraturan Bank Indonesia;
• Bahwa sampai dengan saat ini, bank BUMN masih terkendala dalam menyelesaikan piutang macet atau non performing loan dikarenakan masih belum adanya payung hukum yang dapat memberikan suatu kepastian bagi bank BUMN dalam melakukan upaya restrukturisasi
maupun penyelesaian yang tuntas terhadap piutang macet tersebut, meskipun Mahkamah Konstitusi melalui Putusan Nomor 77/PUU-X/2011 tanggal 25 September 2012 telah menyatakan bahwa bank BUMN sebagai Perseroan Terbatas telah dipisahkan kekayaannya dari kekayaan negara yang dalam menjalankan segala tindakan bisnisnya termasuk manajemen dan pengurusan piutang masing-masing bank bersangkutan dilakukan oleh manajemen bank yang bersangkutan dan tidak dilimpahkan ke PUPN; • Seharusnya, setelah putusan MK tersebut di atas, maka pengelolaan
piutang yang macet yang ada pada bank BUMN memiliki dasar hukum yang kuat untuk dikelola berdasarkan Undang-Undang Perbankan, Undang-Undang PT, dan peraturan lainnya sebagaimana dilakukan oleh bank-bank swasta nasional di Indonesia, atau dengan kata lain bank BUMN kini memiliki landasan hukum untuk mendapatkan level of playing
field yang sama dengan bank-bank swasta nasional di Indonesia;
• Namun demikian, dalam praktiknya putusan Mahkamah Konstitusi belum berlaku efektif karena masih terkendala dengan adanya penafsiran yang berbeda dari para pemangku kepentingan. Sehubungan dengan ketentuan dalam Pasal 2 huruf g Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara yang menyatakan bahwa lingkup keuangan negara termasuk kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan negara/perusahaan daerah, sehingga sampai saat ini, putusan MK tersebut tidak bisa dilaksanakan dalam praktik. Hal tersebut sangat menodai sistem ketetanegaraan yang dibangun oleh Undang-Undang Dasar 1945 dan dijaga oleh Mahkamah Konstitusi yang sangat mulia ini;
• Sebagai insan yang taat hukum, bukankan kewibawaan suatu putusan yang dikeluarkan institusi peradilan terletak pada kekuatan mengikatnya? Oleh sebab itu, sampai saat ini saya dan setiap insan Bank BUMN berkeyakinan bahwa setiap putusan yang dijatuhkan MK bersifat erga
omnes yaitu putusan MK tidak hanya mengikat pada para pihak yang
berperkara yang dirugikan hak konstitusionalnya, dalam hal ini pihak Permohon, namun juga mengikat dan harus ditaati oleh setiap warga negara di wilayah Indonesia;
• Tidak bisa dijalankannya putusan MK tersebut menimbulkan ketidakpastian hukum dan mengakibatkan kerugian bagi bank selaku
kreditur maupun debitur karena perlu disadari bahwa, pertama, penanganan dan penyelesaian piutang macet yang cepat dan tuntas akan memberikan present value yang tinggi bagi bank BUMN yang pada akhirnya akan mendorong performance bank ke arah yang lebih baik, yang tentunya bank BUMN akan mampu menggulirkan kembali dananya untuk
pembiayaan guna peningkatan pembangunan ekonomi. Kedua,
penyelesaian piutang yang macet yang tuntas yang didasarkan pada kemampuan debitur akan memberikan peluang kepada debitur untuk menyelesaikan seluruh kewajibannya kepada bank. Dengan demikian, debitur dapat segera memulai usahanya kembali, yang pada akhirnya akan menghidupkan kembali dunia usaha dan dunia perekonomian rakyat; • Perjalanan panjang terhadap permasalahan piutang bank BUMN telah
dilalui kurang lebih 53 tahun sejak pemberlakuannya Undang-Undang Nomor 49 PRP Tahun 1960, hingga dikeluarkannya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 77/PUU-IX/2011 yang dalam penjelasan ini akan saya sampaikan dengan membagi dalam tiga periode waktu. Pertama, periode pengelolaan piutang bank BUMN sebelum berlakunya Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN. Kedua, periode pengelolaan piutang bank BUMN pasca berlakunya Undang BUMN, Undang-Undang Perbendaharaan Negara, dan Undang-Undang-Undang-Undang Keuangan Negara. Ketiga, periode pasca adanya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 77/PUU-IX/2011;
• Pada periode pertama, yakni sebelum lahirnya Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013 dan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 77/PUU-IX/2011, pengertian piutang negara mengacu pada definisi sebagaimana tersebut dalam Undang-Undang Nomor 49 PRP Tahun 1960. Pasal 8, berikut penjelasan Undang-Undang Nomor 49 PRP Tahun 1960 tentang Panitia Urusan Piutang Negara dengan tegas menyebutkan bahwa piutang negara ialah jumlah uang yang wajib dibayarkan kepada negara atau badan-badan yang baik secara langsung atau tidak langsung dikuasai oleh negara berdasarkan suatu peraturan, perjanjian, atau sebab apapun. Selanjutnya dalam penjelasan pasal dimaksud disebutkan bahwa piutang negara meliputi badan-badan yang umumnya kekayaan dan modalnya
sebagian atau seluruhnya milik negara. Misalnya, bank-bank negara, PT-PT negara, dan seterusnya;
• Dengan adanya putusan MK yang Ketua dan Anggota Hakim Mahkamah Konstitusi putuskan dengan keyakinan yang bulat, maka sudah jelas bahwa piutang maupun kekayaan BUMN bukan merupakan piutang negara. Oleh sebab itu, putusan Mahkamah Konstitusi yang Ketua dan Anggota Hakim Mahkamah Konstitusi hasilkan merupakan penemuan hukum yang menciptakan norma kepastian hukum untuk melindungi segenap pelaku bisnis BUMN. Dengan demikian, maka undang-undang yang tidak sejalan dengan ketentuan Putusan Mahkamah Konstitusi tersebut dinyatakan tidak mengikat lagi, sehingga hanya ada satu pengertian hukum terkait dengan piutang maupun kekayaan BUMN, yaitu pengertian sebagaimana dimaksud di dalam putusan Mahkamah Konstitusi tersebut;
• Dengan dikeluarkannya kekayaan perusahaan negara/perusahaan daerah dari keuangan negara, seyogyanya tidak mengurangi kontrol pemerintah terhadap perusahaan negara itu sendiri karena kontrol pemerintah kepada bank-bank BUMN hakikatnya dapat dilakukan dengan tetap mempertahankan kepemilikan negara melalui kepemilikan saham Dwi Warna. Saham Dwi Warna merupakan hak istimewa kepada negara, antara lain menunjuk, mengangkat, dan memberhentikan pengurus perusahaan karena performa perusahaan sangat ditentukan oleh kualitas manajemen yang ditentukan oleh pemegang saham. Adapun terkait kekhawatiran para pihak atas Moral Hazard pada bank-bank BUMN, seyogyanya tidak menjadi kendala karena perusahaan negara, perusahaan daerah, sangat concern terhadap good corporate governance; • Mengingat kapasitas saya dalam hal ini selaku direktur utama PT Bank
Negara Indonesia Persero Tbk., dan sebagai Ketua Himbara, maka perlu saya sampaikan hal-hal yang spesifik terkait dengan BUMN yang bergerak disektor perbankan sebagai berikut. Pertama, BUMN khususnya perbankan selain tunduk pada Undang BUMN dan Undang-Undang PT juga wajib memenuhi semua ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Perbankan dan Undang-Undang Pasar Modal sehingga pengelolaan bersifat transparan dalam bentuk laporan keuangan yang
terpublikasikan. Kedua, Bank BUMN selain diawasi atau diaudit oleh Bank Indonesia atau Otoritas Jasa Keuangan juga diaudit oleh akuntan publik.
Ketiga, peran negara dalam mengontrol bank BUMN tetap dalam
dilaksanakan oleh eksekutif yang ditunjuk oleh pemerintah atas dasar kepemilikan saham Dwi Warna dalam batasan sebagai pemegang saham sebagaimana layaknya pemegang saham pada perusahaan swasta yang tunduk pada undang-undang tentang perseroan terbatas;
• Besar harapan saya kepada Ketua dan Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi yang saya sangat muliakan, untuk mewujudkan harapan saya sekaligus mewakili insan BUMN, yaitu, pertama, Putusan MK memberikan kepastian hukum bagi pengelola aset piutang bank-bank BUMN. Kedua, Bank-bank BUMN memiliki kesetaraan yang sama atau equal level of
playing field dengan bank-bank swasta nasional lainnya. Ketiga, adanya
sudut pandang yang sama antara pelaku bisnis, khususnya BUMN, dengan pemerintah, BPK, BI, dan penegak hukum. Keempat, perlu harmonisasi atas peraturan perundang-undangan lain yang belum sejalan sehingga tidak ada lagi multitafsir khususnya undang-undang keuangan negara dan lembaga yang melakukan pengawasan atau audit terhadap BUMN;
• Saya dan setiap insan bank BUMN meyakini dan mempunyai harapan yang besar terhadap Mahkamah Konstitusi yang sangat mulia dan terhormat, bukan hanya lembaga pengawal konstitusi atau the guardian of
constitution, tetapi juga merupakan lembaga penafsir akhir konstitusi (the last interpreter of constitution) dan lembaga pelindung hak konstitusional
warga negara atau the protector of constitutional right of citizens;