PERMOHONAN PENGUJIAN PASAL 6 AYAT (1), PASAL 9 AYAT (1) HURUF B, PASAL 10 AYAT (1) DAN AYAT (3) HURUF B, DAN PASAL 11
D.2 PASAL 6 AYAT (1), PASAL 9 AYAT (1) HURUF B, PASAL 10 AYAT (1) DAN AYAT (3) HURUF B, DAN PASAL 11 HURUF A UU BPK
3. Kartika B. Khaeroni
• Saksi adalah selaku Direktur Utama BUMN PT (Persero) Asuransi Ekspor Indonesia atau PT ASEI tahun 2002 sampai tahun 2005. PT ASEI adalah BUMN yang didirikan tahun 1985, bergerak di bidang asuransi dan penjaminan kredit, serta asuransi dan penjaminan lainnya yang bertujuan untuk menunjang peningkatan ekspor nonmigas khususnya, serta pembangunan ekonomi pada umumnya;
• PT ASEI yang sudah berusia hampir 30 tahun, termasuk di masa pengabdian saya tidak pernah mengalami kerugian, selalu memperoleh laba dalam operasional perusahaan setiap tahunnya bahkan telah beberapa kali menjadi salah satu perusahaan asuransi terbaik dari aspek laba terhadap modal perusahaan. Bahkan selama kurun waktu tersebut PT ASEI telah menyumbangkan deviden serta pajak-pajak kepada negara dalam nilai saat ini atau present value berjumlah puluhan triliyun rupiah. Penyertaan modal negara yang benar-benar disetor dari kas negara hanyalah pada awal pendirian ASEI tahun 1985 sebesar Rp 3,5 miliar. PMN selanjutnya diakumulasikan dari laba perusahaan dalam bentuk laba yang ditahan atau retained earning serta cadangan (reserves). Selama kurun waktu hampir 30 tahun tersebut juga PT ASEI selalu memperoleh penilaian audit wajar tanpa pengecualian;
• Setelah sekitar 8 tahun saya mengunduran diri dari PT ASEI, di tahun 2012, saya dikejutkan dengan surat panggilan dari Kejaksaan Agung RI tertanggal 21 September, perihal permintaan keterangan untuk diminta keterangan sehubungan dengan penyelidikan tindak pidana korupsi dalam penerbitan transaksi surat kredit berdokumen dalam negeri, berdasarkan surat perintah penyelidikan Direktur Penyelidikan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus;
• Hal yang mengejutkan dan memprihatinkan saya adalah kata atau ungkapan “tindak pidana korupsi” serta “menimbulkan kerugian keuangan negara”. Saya dilahirkan dalam keluarga yang selalu menjunjung tinggi
dan menjaga kejujuran, integritas, komitmen, serta amanah dengan sebaik-baiknya. Ayah saya, yang memperoleh berbagai bintang jasa untuk perjuangannya selama revolusi kemerdekaan, sebagai seorang pejuang kemerdekaan, berhak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, tetapi beliau memilih melalui pesan sebelum wafat untuk dimakamkan di tempat pemakaman umum, agar suatu saat bisa dimakamkan dengan istrinya tercinta, yaitu ibunda saya, dan sekarang beliau berdua telah beristirahat dengan damai di tempat yang sama. Dilahirkan dalam keluarga yang sedemikian, saya sebagai anak, senantiasa berusaha untuk menjaga cita-cita perjuangan orang tua saya, dan untuk tidak mengkhianatinya dengan melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan hakikat perjuangan orang tua saya bagi bangsa ini. Terlebih tindak pidana korupsi yang harus kita perangi bersama, dimulai dari diri kita sendiri dan keluarga untuk mencapai Indonesia yang jaya, bermartabat, berbudaya bersih, adil, dan makmur sebagaimana cita-cita kemerdekaan bangsa;
• Penjaminan kredit, sebagaimana transaksi yang diperiksa Kejaksaan Agung tersebut di atas, adalah salah satu bisnis inti PT ASEI sejak tahun 1985. Kasus yang disebutkan dalam surat dari Kejaksaan Agung RI tersebut, di mana saya selaku Direktur Utama PT ASEI saat itu, ada di dalam proses bisnis untuk keputusan penutupan (coverage) penjaminan kredit. Sekitar setengah tahun sesudah saya mengundurkan diri dari PT ASEI, terjadi klaim. Klaim terjadi oleh karena debitur gagal membayar pengembalian kredit kepada bank yang bersangkutan pada saat jatuh tempo kredit sehingga PT ASEI harus membayarkan klaim kepada bank yang telah menyalurkan kredit kepada debitur bank tersebut sebesar Rp 3,9 miliar. Saya dan PT ASEI berkeyakinan, pembayaran klaim terkait kasus tersebut di atas adalah murni risiko bisnis yang biasa dihadapi dalam usaha asuransi dan penjaminan kredit;
• Pada bulan Oktober 2012 kasus tersebut dinaikkan statusnya menjadi penyidikan perkara dugaan tindak pidana korupsi dan menetapkan dua orang tersangka mantan pejabat PT ASEI, yaitu Saudara Marthin Simarmata yang menjabat sebagai pejabat sementara direktur utama pada saat itu dan Saudara Haryono yang pada saat kejadian menjabat sebagai Kepala Cabang Jakarta. Sebenarnya, proses subrogasi untuk pemulihan
kerugian (recoveries) atas klaim yang telah dibayarkan PT ASEI saat itu masih terus dilakukan sesuai prosedur, serta tidak ada hapus buku atau hapus tagih untuk transaksi bisnis tersebut. Bahkan saat ini pengembalian dari pihak debitur kepada PT ASEI (recoveries) melalui hak subrogasi yang ada pada PT ASEI telah mencapai 100%, atau dengan kata lain tidak ada kerugian yang dialami oleh PT ASEI atas transaksi ini.
• Selain kasus tersebut di atas, PT ASEI juga menghadapi kasus hukum yang terkait dengan penjaminan (suretyship) PT Pelopor Lestari Jaya yang terjadi tahun 2008. PT ASEI Cabang Tangerang yang menolak pembayaran klaim transaksi tersebut karena dianggap klaim tidak layak bayar, sehingga belum ada uang keluar sama sekali dari PT ASEI, akan tetapi pimpinan cabang PT ASEI diproses hukum dan disangkakan bahkan didakwa melakukan tindak pidana korupsi karena berpotensi merugikan keuangan negara. Tanggal 18 Juni 2009, kasus ini masuk ke Kejaksaan Tinggi Banten, atas adanya dugaan potensi kerugian keuangan negara. Kemudian tanggal 25 Agustus 2010, Kejaksaan Negeri Tangerang telah melimpahkan perkara ke Pengadilan Negeri Tangerang dengan terdakwa Saudara Henny Indra Narendra yang pada saat kejadian sebagai Kepala Cabang PT ASEI Tangerang. Di dalam proses hukum, Pimpinan Cabang PT ASEI tersebut sempat dimasukkan rumah tahanan, namun dibebaskan setelah adanya permintaan penangguhan penahanan. Saya sungguh merasa sedih dan prihatin membayangkan Saudara Henny Indra Narendra juga istri dan anak-anak, serta keluarga besarnya, serta Saudara Martin Simarmata, dan Haryono dari PT ASEI, juga banyak direksi serta staf BUMN lain beserta keluarga besarnya yang harus menghadapi musibah yang amat berat terhadap harkat dan martabatnya sebagai manusia, yaitu sangkaan dan bahkan dakwaan melakukan tindak pidana korupsi karena kasusnya berpotensi merugikan keuangan negara. Bahkan beberapa sempat merasakan dimasukkan penjara, padahal pada kasus PT ASEI khususnya, yaitu kasus yang dihadapi Saudara Martin Simarmata dan Haryono selaku tersangka, recoveries atau pemulihan kerugian sudah diperoleh sepenuhnya dan pada kasus yang dihadapi Saudara Henny Indra Narendra justru sedang berupaya menghindarkan uang keluar dari perusahaan untuk klaim dari nasabah yang tidak layak bayar sebagaimana
ketentuan perjanjian penjaminan. Dan musibah ini masih belum diketahui kapan berakhir dan bagaimana akan berakhir;
• Selanjutnya, di hadapan hakim pengadilan negeri, Saudara Henny Indra Narendra dibebaskan, namun pihak kejaksaan naik banding. Pembebasan ini sebagaimana putusan perkara pada tanggal 13 Juni 2011 oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tangerang. Pertama, menyatakan perbuatan terdakwa yang didakwakan oleh JPU terbukti ada, akan tetapi perbuatan tersebut bukan merupakan perbuatan pidana, melainkan perbuatan perdata. Kedua, melepaskan terdakwa oleh karenanya dari segala tuntutan hukuman atau onslaag. Ketiga, mengembalikan harkat dan martabat terdakwa sebagaimana kondisi semula. Pada tanggal 13 Juli 2011 Kejaksaan Negeri Tangerang mengajukan memori kasasi;
• Prinsip operasional Badan Usaha Milik Negara sebenarnya tidak berbeda dengan badan usaha swasta. Akan tetapi, badan usaha swasta berbentuk perseroan terbatas, hanya tunduk pada Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Sedangkan BUMN tunduk tidak hanya pada Undang-Undang PT, tapi juga tunduk pada Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Dari aspek audit Badan Pengawas Keuangan karena tunduk pada Undang-Undang Keuangan Negara, setiap tahun BUMN diaudit oleh 3 pihak, tidak oleh 1 pihak. Tidak hanya oleh auditor independen, melainkan juga oleh BPKP serta oleh BPK. Dalam hal ini BPK memandang kerugian berbeda dengan pandangan bisnis pada umumnya. Menurut pandangan bisnis, kerugian akan dihitung setiap tahun buku yang dimulai sejak tanggal 1 Januari sampai dengan tanggal 31 Desember berdasarkan keseluruhan transaksi tahunan perusahaan;
• BPK melihat kerugian untuk setiap transaksi dan pada setiap auditnya akan dicatat dalam laporan hasil pemeriksaan keuangan BPK sebagai potensi kerugian keuangan negara. Dalam bisnis, hal ini mengandung
unfairness bagi pelaku bisnis. Tidak adil bagi direksi maupun karyawan
BUMN bahwa dari seluruh transaksi bisnis yang dikelola perusahaan setiap tahun, yang secara kumulatif menghasilkan laba secara riil pada tahun bersangkutan bagi BUMN tersebut. Akan tetapi, dapat kami sampaikan sebagai contoh untuk ASEI, sejak didirikan tahun 1985 sampai
tahun 2013 ini asuransi dan penjaminan kredit tidak pernah mengalami kerugian, senantiasa memperoleh laba tahunan secara baik. Namun, apabila ASEI yang sudah menerima premi terlebih dahulu dari seluruh transaksi untuk produk asuransi dan penjaminan, pada akhirnya menghadapi risiko pembayaran klaim untuk beberapa transaksi apabila menghadapi audit BPK, pembayaran klaim satu atau beberapa transaksi ini akan dicatat dalam laporan audit BPK sebagai potensi potensi kerugian keuangan negara;
• PT ASEI memandang pembayaran klaim sebagai risiko bisnis, oleh karena usaha ASEI adalah usaha asuransi dan penjaminan yang antara lain memberikan proteksi atas risiko kredit yang dihadapi perbankan. Dan biasanya proyeksi pembayaran klaim tahun berjalan sudah dihitung secara cermat berdasarkan perhitungan aktuaria dan proyeksi empiris di ASEI dan dimasukkan di dalam proyeksi laba rugi tahunan. Sebagai perusahaan asuransi, kredibilitas penting dijaga. Perusahaan tidak hanya mau menerima premi dari nasabah, tetapi tidak mau membayar klaim yang memang telah memenuhi persyaratan pembayaran klaim. Dan di sini poin pentingnya adalah apabila setiap klaim yang harus dibayarkan ASEI sebagai perusahaan asuransi dan penjaminan kredit dipandang sebagai potensi kerugian keuangan negara, maka PT ASEI seharusnya menghentikan semua operasinya;
• Suatu hal yang juga perlu kami kemukakan, meskipun sangat sulit untuk menghadirkan bukti kebenaran, serta siapa oknum pelakunya atau sulit untuk menghadirkan hard evidence, namun hal ini secara nyata dihadapi BUMN bahwa modus operandi di dalam kasus hukum yang dihadapi BUMN hampir sama, yaitu adanya ancaman dan tindak pemerasan. Biasanya didahului dengan ancaman dari oknum LSM yang akan
mem-blow up kasus ke media. Selanjutnya, oknum tersebut akan membuka
jalan transaksi agar perkara tersebut tidak di-blow up media. Apabila hal ini diabaikan oleh pihak BUMN, maka kasusnya akan muncul ke media. Selanjutnya, apabila masih diabaikan juga, maka akan muncul ancaman lain dari oknum yang mengaku dari pihak penegak hukum bahwa kasus yang terkait akan dibawa ke proses hukum, namun dapat ditutup melalui suatu transaksi. Bahkan seringkali dibarengi dengan ancaman bahwa
kasus ini sedemikian strategisnya, sehingga sudah diketahui sebelumnya yang akan menjadi tersangka, akan sampai tingkat jabatan tertentu, misalnya setingkat di bawah direksi atau bahkan direksi. Semakin tinggi sasaran jabatan tersangka, maka semakin tinggi pula nilai transaksi yang dibuka.
• Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, jelas memperlihatkan tidak ada jaminan perlindungan dan kepastian hukum yang adil, serta perlakuan yang sama di hadapan hukum sebagaimana dimaksud pada Pasal 28D ayat (1) Undang-Undang Dasar Tahun 1945, khususnya bagi direksi serta seluruh karyawan PT ASEI, serta direksi BUMN beserta seluruh jajaran karyawan BUMN pada umumnya bila dibandingkan dengan direksi dan seluruh karyawan usaha swasta berbentuk perseroan terbatas.