• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERMOHONAN PENGUJIAN PASAL 6 AYAT (1), PASAL 9 AYAT (1) HURUF B, PASAL 10 AYAT (1) DAN AYAT (3) HURUF B, DAN PASAL 11

D.2 PASAL 6 AYAT (1), PASAL 9 AYAT (1) HURUF B, PASAL 10 AYAT (1) DAN AYAT (3) HURUF B, DAN PASAL 11 HURUF A UU BPK

2. Heriyanto Agung Putra

• Saksi adalah selaku Direktur SDM dan Umum PT Garuda Indonesia Persero Tbk. Sebelumnya Saksi juga pernah menjabat sebagai VP Human Capital Management, VP Business Support, GM General Strategic Sourcing, GM Corporate Services, GM Cost Controlling di Garuda Indonesia;

• Sebagai orang yang telah lama bekerja di Garuda Indonesia sejak tahun 1993, Saksi pernah mengalami sendiri dipanggil oleh penegak hukum untuk dimintai keterangan sebagai saksi dalam beberapa kasus dugaan

korupsi. Keterangan yang telah saya berikan dalam kapasitas saya sebagai saksi fakta dalam beberapa kasus dimaksud adalah semata-mata karena selama ini keuangan Garuda Indonesia sebagai BUMN juga dianggap sama dengan keuangan negara. Dalam kesempatan ini saya ingin menegaskan bahwa pemanggilan saya sebagai saksi fakta dalam perkara-perkara dimaksud adalah bukan adanya persoalan korupsi itu sendiri dalam BUMN tempat saya bekerja, melainkan karena adanya ketidakjelasan dan ketidakpastian mengenai pengertian keuangan negara; • Garuda Indonesia sebagai sebuah perusahaan penerbangan milik

pemerintah atau BUMN, Garuda Indonesia tentunya mempunyai tanggung jawab yang besar untuk menjaga nama baik, serta mengharumkan Negara Indonesia baik di tingkat nasional maupun internasional. Garuda Indonesia sebagai salah satu korporasi dalam hal ini telah menunjukkan komitmennya antara lain adalah dengan menandatangani nota kesepahaman bersama dengan Kementerian Pariwisata untuk meningkatkan kunjungan wisata mancanegara ke Indonesia dalam upaya mendukung Pemerintah dalam program Pemerintah yang bernama

Wonderful Indonesia. Oleh karena itu, terlepas dari statusnya sebagai

badan hukum atau korporasi berbentuk perseroan terbatas, Garuda Indonesia dipandang sebagai duta Indonesia di dunia penerbangan internasional. Dalam hal ini merupakan beban sekaligus tantangan bagi Garuda Indonesia dalam menjalankan kegiatan usahanya sebagai sebuah BUMN;

• Pada tahun 2012 lalu Garuda Indonesia dinobatkan sebagai The

Worlds Best Regional Airline dari SkyTrax lembaga pemeringkat maskapai

independen yang berkantor di London. Garuda Indonesia juga dinobatkan sebagai Best Regional Airline in Asia. Kedua penghargaan ini diberikan kepada Garuda Indonesia sebagai survei kepuasan pelanggan lobal yang diadakan SkyTrax dengan melibatkan 18 juta penumpang dari 100 negara yang berbeda dalam kurun waktu Juli 2011 hingga Juni 2012. Kedua, penghargaan ini merupakan pengakuan terhadap pelayanan dan kinerja yang diberikan kepada Garuda Indonesia terhadap para pelanggannya; • Keberhasilan Garuda Indonesia memperlihatkan berjalannya dengan baik

Merupakan hasil kerja keras seluruh insan Garuda Indonesia dan juga merupakan dukungan pihak-pihak lain. Namun demikian dari segi keuangan pada semester pertama tahun 2011 Garuda Indonesia sebenarnya masih mengalami kerugian karena beban usaha mengalami kenaikan yang cukup signifikan sebagai akibat adanya peningkatan biaya operasional berkaitan dengan harga avtur yang sangat tinggi, menyusul melambungnya harga minyak dunia. Biaya bahan bakar yang meningkat 29 sen dollar per liter pada saat itu memberi beban 40% dari seluruh biaya operasional, namun demikian Garuda Indonesia masih dapat menunjukan eksistensinya baik di tingkat nasional maupun internasional sebagaimana kami jelaskan di atas;

• Namun demikian di era globalisasi ini tantangan ke depan tentunya akan semakin berat. Kompetisi semakin terbuka, termasuk di dunia maskapai penerbangan. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah dan tindakan korporasi yang kreatif, berani, dan cepat dalam memanfaatkan setiap peluang bisnis yang ada. Tanpa adanya keberanian dan kecepatan reaksi dalam mengambil keputusan bisnis, maka setiap peluang bisnis yang ada tentunya bisa hilang begitu saja hal ini tentunya akan menciptakan suatu

opportunity lost buat Garuda;

• Selain itu, dalam dunia usaha masalah untung-rugi merupakan hal yang wajar sehingga kadang kami untung dan kami juga mengalami kerugian yang mungkin saja disebabkan faktor eksternal yang tidak dapat kami hindari atau kami ramalkan sebelumnya. Namun demikian, keberanian untuk mengambil keputusan korporasi secara cepat mutlak diperlukan karena bisnis selalu berkaitan dengan persoalan bagaimana kita memanfaatkan setiap peluang yang ada untuk mempertahankan atau meningkatkan kegiatan usaha. Persoalannya adalah manakala Garuda harus menanggung akibat keputusan bisnisnya sehingga menderita kerugian, maka kerugian bisnis yang diderita itu bisa dianggap sebagai kerugian keuangan negara. Sebagai akibat dari adanya penafsiran bahwa keuangan Garuda Indonesia adalah keuangan negara, kami selaku pengurus BUMN hampir selalu diliputi rasa khawatir pada saat hendak mengambil keputusan bisnis atau pun tindakan korporasi karena mungkin saja hal tersebut dapat berujung pada proses hukum dugaan tindak pidana

korupsi yang justru dapat merugikan pribadi, keluarga, dan perusahaan kami sendiri. Rasa khawatir dimaksud merupakan konsekuensi logis dari adanya kejadian-kejadian di mana suatu perusahaan bisnis dari suatu BUMN dianggap ada kaitannya dengan kerugian negara. Oleh karena sering diliputi rasa kekhawatiran dalam mengambil keputusan bisnis, akibatnya kami seringkali tidak dapat mengambil keputusan bisnis secara cepat bahkan kadang tidak berani dalam mengambil keputusan apapun terhadap setiap peluang bisnis yang ada atau bersifat pasif sehingga hal ini dapat mengakibatkan berbagai peluang bisnis menjadi sirna. Hal dimaksud tentunya merupakan opportunity lost yang tidak dapat kami hindari. Dengan demikian terdapat hubungan sebab-akibat antara sikap diliputi rasa kekhawatiran dan opportunity lost yang terjadi, di mana hal ini bermuara pada hal yang sama yaitu disebabkan karena anggapan keuangan BUMN sama dengan keuangan negara berdasarkan ketentuan yang ada dalam Undang-Undang Keuangan Negara dan Undang-Undang BPK. Hal ini tentu saja sangat merugikan kami selaku korporasi di mana untuk suatu keputusan yang sesungguhnya murni untuk semata-mata kepentingan bisnis perseroan dan semata-mata didasarkan pada

business judgment rule namun keputusan yang demikian dapat dipandang

keliru yang pada akhirnya justru menimbulkan ketidakpastian hukum;

• Ketidakpastian hukum akibat adanya Undang-Undang Keuangan Negara dan Undang-Undang BPK di atas yang menurut kami undang-undang tersebut tidak relevan bagi kami sebagai BUMN menimbulkan kendala-kendala yang tentunya menempatkan Garuda Indonesia pada posisi yang sulit karena pada saat yang bersamaan Garuda Indonesia harus bersaing dengan maskapai penerbangan swasta lokal maupun internasional yang notabene bisa lebih cepat, tanggap, dan lebih berani dalam mengambil setiap putusan atau tindakan. Satu dan lain hal mereka tidak mempunyai potensi dan risiko yang sama dengan Garuda Indonesia sebagai BUMN. Sebagai contoh, adanya proses pengadaan pesawat di Garuda Indonesia tidak semudah proses pengadaan pesawat di perusahaan swasta. Proses pengadaan pesawat di Garuda Indonesia lebih kompleks dan tidak dapat begitu saja dilakukan apabila pesawatnya secara fisik belum ada. Oleh karena itu berbeda dengan keputusan penerbangan swasta, Garuda

Indonesia tidak dapat menerima tawaran pemesanan pembelian pesawat Boeing 737 yang disampaikan oleh Boeing karena rencana pembuatan pesawat tersebut baru selesai di tahun 2017. Sekalipun negara Indonesia mengetahui bahwa penawaran tersebut dari segi harga dan efisiensi sesungguhnya sangat strategis dan menguntungkan, akan tetapi Garuda Indonesia tidak dapat mengambil keputusan untuk memesan. Namun demikian, berbeda dengan negara Indonesia, perusahaan penerbangan swasta berani mengambil keputusan untuk memesan pesawat tersebut karena mereka mengetahui bahwa pembelian tersebut nantinya akan sangat menguntungkan, baik dari segi harga maupun efisiensi pengelolaan dan perawatan;

• Contoh di atas merupakan salah satu dari berbagai situasi yang dihadapi di Garuda Indonesia, di satu sisi Garuda Indonesia sebagai BUMN senantiasa dituntut untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya, namun demikian di sisi lain kami sering kesulitan untuk mengejar keuntungan secara maksimal karena kurang agresif dan kurang berani dalam mengambil setiap keputusan atas peluang yang ada. Adanya kontradiksi tersebut sering membuat kami dilema karena di satu sisi benar-benar ingin melakukan yang terbaik untuk semata-mata kepentingan perusahaan, namun di sisi lain tetap dihantui oleh kekhawatiran di mana hal tersebut bisa menimbulkan persoalan hukum di kemudian hari karena tidak adanya perlindungan hukum dan kepastian hukum atas tindakan korporasi yang dilakukan;

• Ketidakpastian hukum inilah yang seringkali menempatkan kami selaku direksi dalam posisi yang sulit dan dilematis dalam mengambil setiap keputusan bisnis. Kondisi yang demikian ini tentunya sangat tidak sehat untuk kepentingan pengembangan usaha Garuda Indonesia sebagai BUMN ke depannya. Sebagai badan usaha yang tunduk pada prinsip hukum Perseroan Terbatas, Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007, good

corporate governance maupun code of conduct manajemen Garuda

Indonesia seharusnya lebih berani dalam mengambil setiap keputusan yang dilakukan dengan penuh itikad baik serta sesuai dengan prosedur yang berlaku;

• Hal-hal di atas merupakan kendala yang saya alami selama ini di Garuda Indonesia. Saya yakin dan percaya sepenuhnya di era globalisasi ini Garuda Indonesia akan semakin berkembang apabila tidak ada kendala-kendala yang seperti saya uraikan di atas.