GAMBARAN UMUM DESA CIJEUNJING KABUPATEN CIAMIS DAN DESA BLAWONG KABUPATEN BANTUL
NO. URAIAN CIAMIS BANTUL
1 Gambaran Umum Jawa Barat Luas : 2.740,76 km2 Jumlah penduduk : 1.531.729 Kepadatan Penduduk : 558,74 jiwa/km2
Sub Urban Area
Jawa Tengah Luas : 508,85 km2 Jumlah Penduduk : 910.572 Kepadatan Penduduk : 1.910 jiwa/km2 Rural Area
Lahan Pertanian : 677.745Ha
Mayoritas petani dan buruh tani
Bahasa Sunda
Dipengaruhi NU ditandai banyak pesantren
Lahan Pertanian : 506,85 Ha
Petani, buruh tani dan penggali sumur
Bahasa Jawa
Dipengaruhi Muhamadiyah
2 Desa Jumlah penduduk: 50.206
jiwa
Luas wilayah: 59,9 km2
Jumlah Penduduk: 9.466 Jiwa
Luas wilayah: 615.680 Ha 3 Profil BMT Berdiri 14 Juli 1997
Anggota : 1707 orang
Mendapat penghargaan ketahanan Pangan Jawa Barat tahun 2009
Pemasaran lewat Offline dan Online
Berdiri 1 Oktober 2001
Anggota : 450 orang
Menjadi rujukan PINBUK sebagai BMT fokus pada petani
Pemasaran masih dijual perorangan oleh petani
Ikhtisar
Secara umum desa Cijeunjing Ciamis dan Desa Blawong Bantul. Desa Cijeunjing didiami kelompok komunitas yang termasuk etnik Sunda-Priangan yang memiliki karakteristik khas di propinsi Jawa Barat. Sementara Desa Blawong didiami kelompok komunitas yang termasuk etnis Jawa. Masing-masing memiliki budaya dan tata cara hidup yang berbeda. Namun keduanya memiliki penduduk yang mempunyai mata pencaharian dominan sebagai petani.
Baik di Ciamis dan Bantul memiliki BMT yang memberikan pembiayaan kepada petani. Berdasarkan rekomendasi dari Direktorat bagian pembiayaan syariah merujuk pada PINBUK di kabupaten Ciamis dan Bantul. Selanjutnya PINBUK mengarahkan kepada BMT yang memberikan pembiayaan syariah kepada petani dan masih tetap berjalan dan maju dimulai sejak 2005 hingga saat ini. Kabupaten Ciamis diwakili oleh BMT Miftahussalam dan Kabupaten Bantul diwakili oleh BMT Al Barokah.
BMT Miftahussalam sejak pendiriannya sudah berada dan berbasis pesantren, bukan hanya memajukan pendidikan tetapi juga para orang tua siswa yang notabene mata pencahariannya mayoritas petani. Masyarakat desa Cijeunjing dimana BMT Miftahussalam berdiri, mayoritas mata pencahariannya adalah bertani. BMT Miftahussalam didirikan dengan tujuan memajukan masyarakat petani desa Cijeunjing yang juga mayoritas adalah orang tua dari siswa di pesantren Miftahussalam. BMT Al Barokah berdiri berawal dari koperasi petani yang menfasilitasi segala keperluan petani. Namun pada kenyataannya secara operasional koperasi petani mengalami penyusutan asset dan keperluan petani menjadi terbengkalai dan tidak terpenuhi. Solusi dari permasalahan tersebut didirikan BMT yang operasionalnya berdasarkan syariah. SDM yang menangani BMT juga dilatih agar tidak mengalami penyusutan asset seperti pengalaman koperasi.
Kedua BMT ini memiliki nasabah para petani yang dihimpun dalam kelompok tani-nya masing-masing. Para petani sebagai anggota kelompok tani dan yang mendapatkan pembiayaan syariah dijadikan informan dengan tujuan melihat bagaimana BMT dapat memberikan perubahan kepada petani kearah kesejahteraan. Apabila individu petani mengalami perubahan kearah peningkatan taraf kehidupannya setelah mendapatkan pembiayaan syariah maka kelompok tani-nya juga maju.
BAB V
ETOS KERJA WARGA DESA CIJEUNJING DAN DESA BLAWONG
Etos kerja atau kultur normatif dalam masyarakat sunda khususnya di Ciamis digambarkan dalam dua pola pandangan hidup pribadi baik antar anggota kelompok maupun dengan pemimpin dalam tataran empiris. Masyarakat Jawa digambarkan dalam pola pandangan hidup sebagai manusia pribadi yang akan berkomunikasi dengan anggota kelompoknya. Etos tergambar sebagai upaya mendapatkan pemahaman mendasar mengenai moral yang melandasi kehidupan warga desa Cijeunjing Ciamis dan Desa Blawong Bantul.
Etos Kerja orang Sunda pada Warga Desa Cijeunjing Ciamis
Konsep etos kerja masyarakat Ciamis ditandai dengan konsep yang timbul dari diri petani di Ciamis, yaitu: nilai-nilai sebagai pekerja keras, pantang menyerah, otoritas, senang membantu & perduli pada orang lain, dan menghargai alam. Etos kerja ini terlihat pada petani yang merupakan pekerja keras dalam mengelola lahan pertaniannya. Sifat pekerja keras ini dilihat dari mulainya mereka bekerja keras dari jam 6 pagi sampai maghrib untuk memproduksi pangan demi terwujudnya ketersediaan pangan dan keberlajutan kehidupannya. Pada siang hari mereka beristirahat, terkadang hanya di sawah, di lain hari mereka pulang ke rumah sebelum kembali lagi ke sawah. Pola bekerja petani dimulai dengan mencangkul atau membajak tanah, mengairi, memberikan pupuk, menanam bibit, menyemprotkan pestisida agar tidak ada hama dan penyakit. Setiap hari di rawat apakah ada rumput atau tanaman dan binatang yang merusak. Selanjutnya memanennya dengan memotong padi, merontokan padinya, menggiling, dan menjemurnya sampai menjadi gabah kering.
Karakteristik yang kedua adalah pantang menyerah. Walaupun petani memiliki modal yang terbatas, mereka juga bersemangat untuk meminimalkan biaya produksi. Caranya dengan menggunakan pupuk kandang untuk mengurangi penggunaan pupuk urea yang semakin mahal. Selain itu, mencari penghasilan lainnya selain menanam, juga memelihara ternak, baik kambing, sapi, ataupun ikan. Seringkali pula di kacaukan dengan iklim atau cuaca yang tidak menentu, belum lagi adanya hama dan penyakit. Semuanya dihadapi petani dengan semangat. Petani mengatasinya dengan cara merawat tanah dan usaha taninya dengan hati-hati.
Karakteristik yang ketiga adalah otoritas. Petani merasa berhak untuk mengolah lahan pertaniannya dengan caranya sendiri. Kalau petani mengikuti anjuran dalam mengolah lahan pertanian yang diberikan lewat penyuluhan oleh Penyuluh Pertanian ataupun pelatihan yang dilakukan BMT karena merasa mendapatkan keuntungan dan manfaatnya. Implikasinya ada beberapa informan yang sudah lama menyadari bahwa dengan keadaan iklim global warming ini sudah tidak cocok hanya mengandalkan menanam padi. Petani US dengan sengaja mengolah tanah persawahannya dengan caranya sendiri. Pertama, petani US sengaja menanam jagung di musim kemarau dan baru menanam padi di musim penghujan. Kedua, petani US sudah lama meninggalkan penggunaan pupuk urea, maka untuk memenuhi kebutuhan pupuk di atas dengan menggunakan pupuk kandang ataupun kompos. Akhirnya diikuti oleh para tetangganya yang juga anggota kelompok tani-nya, karena melihat kesuksesan dan perubahan hidupnya yang meningkat, bahwa dengan menanam jagung maka taraf kehidupan menjadi meningkat. Setelah mendapatkan pembiayaan dari BMT untuk kelompok tani Jagung, maka para anggota kelompok tani tersebut didampingi oleh pihak BMT dengan mengadakan pelatihan-pelatihan agar pembiayaan tersebut menjadi bermanfaat. Pelatiha tersebut bukan hanya pada cara menanam jagung saja, tetapi juga manajemen keuangan keluarga, pelatihan mental, dan sebagainya.
Karakteristik yang keempat adalah senang membantu dan perduli. Petani merasa perlu membantu petani lainnya terutama sesama anggota kelompok tani untuk mengakses segala fasilitas dalam usaha pertaniannya. Selain itu informan petani juga merasakan kepedulian kepada yang lemah, perduli pada orang lain, terutama terhadap masalah dan kendala yang dihadapi oleh petani sesama anggota kelompok tani. Misalnya : akses pada saprotan, modal, bibit, pupuk, bahkan informasi.
Karekteristik yang kelima adalah menghargai alam. Kesadaran akan kekayaan dan sumber daya alam, serta kesadaran bahwa sumber daya alam yang diberikan Tuhan dan keseimbangan alam sewaktu-waktu akan dapat musnah karena kecerobohan manusia itu sendiri. Ada kepercayaan dalam masyarakat, harus peduli menjaga kelestarian alam, karena alam akan murka terhadap manusia. Setidaknya petani mengetahui bahwa jika menggunakan pestisida akan dapat menyebabkan tanah menjadi kering. Penggunaan zat kimia yang berlebihan akan merusak lahan pertanian. Petani merasa perlu mengolah lahan pertanian dengan baik agar tanah tidak rusak. Misalnya tanah menjadi tidak subur, mudah terserang hama. Implikasi dengan menjaga
kelestarian tanah dan alam maka kualitas hidup menjadi lebih baik (pertanian menjadi subur, tersedianya sumber air yang bersih bahkan tidak terjadi polusi).
Etos kerja yang dilakukan oleh petani Ciamis memiliki etos kerja yang tinggi. Hal ini dapat dilihat dari pandangannya yang positif terhadap hasil panen yang didapat. Misalnya: Bila hasil pertaniannya tidak maksimal karena curah hujan yang tinggi atau kemarau yang panjang maka mereka mengganti pola tanam dengan silang antara padi dan jagung. Petani Ciamis menganggap kerja keras sebagai aktivitas yang bermakna bagi kehidupan manusia.
Etos kerja ini juga dipengaruhi oleh ajaran Islam yang berisi nilai-nilai Nahdhatul Ulama (NU). Pada NU ini terdapat nilai-nilai aswaja, yaitu: menggunakan manhaj tawasuth, yaitu wacara berfikir bahwa ulama selalu menjembatani antara wahyu (nash) dan rasio (al ra’yu). Segala persoalan yang terjadi dalam peristiwa sehari-hari akan bisa diatasi dengan meminta pendapat para ulama yang memahami nash dan akan menjelaskannya dengan rasio para ulama tersebut. Dilihat dari segi pergaulan NU lebih terkesan tradisional. Komunikasi non verbal yang diperlihatkan masyarakat NU adalah penampilan dari pakaiannya dengan baju koko, bersarung dan peci hitam. Para ulama menyebarkan ajaran NU ini dengan mendirikan pesantren-pesantren dan yang terbanyak di pulau Jawa. Ciamis juga sebagai salah satu daerah yang memiliki banyak pesantren. Desa Cijeunjing merupakan desa yang memiliki banyak pesantren, diantaranya: Pesantren Darussalam, Miftahussalam, Cijantung, Arrisalah, Al Falah, Al Istihakhariyyah, dan lain-lain. Salah satu pesantren, yaitu Miftahussalam mendirikan Kopontren yang selanjutnya membentuk BMT yang mayoritas nasabahnya adalah petani.
Masyarakat Ciamis melakukan komunikasi dengan menggunakan bahasa Sunda. Bahasa sunda yang digunakan masyarakat Ciamis adalah bahasa lemes, yang berarti penghormatan kepada orang lain. Bahasa sunda lemes yang dilakukan masyarakat Ciamis ini mencerminkan stratifikasi social sekaligus mengatur adab pergaulan termasuk perilaku baik dengan orang yang lebih tua maupun muda.
Gambar 5.1. Pandangan hidup Orang Sunda di Ciamis
Pandangan hidup orang sunda didasari oleh hal yang paling utama, yaitu keyakinan yang kuat pada kekuasaan Tuhan pada nasib. Tujuan hidup orang Sunda adalah menuju kemuliaan sebagai manusia atau mahluk ciptaan Tuhan dan hidup sejahtera. Seorang dianggap hidup sejahtera apabila cukup sandang, pangan dan memiliki rumah beserta perabotnya yang terawatt dan terpelihara dengan baik, serta memiliki sumber pencarian yang mantap. Hidup dalam kemuliaan ditandai dengan kepatuhannya kepada Tuhan. Orang sunda beranggapan untuk mencapai kemuliaan dan kesejahteraan harus didasari dengan konsep diri yang kuat, serta konsep diri yang sesuai dengan ajaran Tuhan. Kepatuhannya pada Tuhan juga mendasarinya patuh pada pimpinannya. Ciri khas pemimpin sunda adalah harus memiliki nilai Nyantri (paham ilmu agama), Nyunda (menyatu dengan masyarakat dan budaya sunda), dan Nyakola (berpendidikan tinggi).
Etos Hidup Orang Jawa pada Warga Desa Blawong Bantul
Filosofi yang mendasari pembangunan daerah Provinsi DIY adalah Hamemayu Hayuning Bawana, sebagai cita-cita luhur untuk mewujudkan tata nilai kehidupan masyarakat Yogyakarta yang berkelanjutan berdasarkan nilai budaya. Hakekat budaya adalah hasil cipta, karsa dan rasa, yang diyakini masyarakat sebagai sesuatu yang benar dan bermanfaat. Demikian pula budaya Jawa, yang diyakini oleh masyarakat DIY sebagai salah satu acuan dalam hidup bermasyarakat,
Yakin Kekuasaan Tuhan
Konsep Diri Petani
Konsep Diri Petani Syariah
Kemuliaan dan Kesejahteraan Ciri Pemimpin: Nyantri Nyunda Nyakola
baik ke dalam maupun ke luar. Ini berarti bahwa budaya tersebut bertujuan untuk mewujudkan masyarakat gemah ripah loh jinawi, ayom, ayem, tata, titi tentre, kerta raharja, dengan perkataan lain, budaya tersebut akan bermuara pada kehidupan masyarakat yang penuh dengan kedamaian, baik ke dalam maupun ke luar. Hamemayu Hayuning Bawana mengandung makna sebagai kewajiban melindung, memelihara, serta membina keselamatan dunia dan lebih mementingkan berkarya untuk masyarakat dari pada memenuhi ambisi pribadi. Dunia yang dimaksud mencakup seluruh peri kehidupan baik dalam skala kecil (keluarga), ataupun masyarakat dan lingkungan hidupnya, dengan mengutamakan darma bakti untuk kehidupan orang banyak, tidak mementingkan diri sendiri.
Etos kerja masyarakat Jawa dapat kita lihat dari relief cerita tentang kerbau dan kera mengandung ajaran moral, simbolisme agraris dan etos kerja. Kebermaknaan kerbau tampil sebagai representasi dunia nilai dan pandangan hidup kaum petani di Jawa. Kerja di sawah, merawat kerbau, merayakan hidup dalam kemakmuran adalah idealitas peradaban agraris. Kerbau jadi simbol etos kerja, tanda gerak pertanian dan nasib petani. Kerbau dalam kepercayaan Jawa merupakan patron bagi pertanian. Kerbau mencerminkan kekuasaan dan kebudayaan agraris. Kerbau juga jadi simbol dari mentalitas rakyat di hadapan penguasa dan alam. Kebermaknaan kerbau mengandung proses transformasi sosial, ekonomi, politik dan kultural. Makna politis kerbau dalam kekuasaan dapat dilihat melalui uraian Raffles dalam
History of Java. Orang Sunda menyebut kerbau dengan nama munding, orang Jawa menyebut dengan maesa atau kebo. Sebutan munding dijadikan penghormatan untuk jasa pangeran, sosok pemula dalam memperkenalkan cara bertani. Konon, para pangeran dan bangsawan di Sunda mendapati gelar mengacu pada sebutan maesa lalean dan mundingsari . Hal ini seperti yang telah diuraikan oleh Mawardi (2011) di bab II sebelumnya.
Karakter petani Jawa di desa Blawong patuh pada pimpinan seprti kepatuhan mereka pada raja atau kesultanan Yogyakarta. Kepercayaan petani terhadap Dewi padi terlihat dari petani memperlakukan padi dengan sangat hati-hati dan kasih sayang. Setelah agama Islam masuk ke Jawa maka kepercayaan bergeser digantikan kepada Tuhan. Kepercayaan kepada Tuhan inilah yang akhirnya memunculkan aliran baru yang mayoritas diikuti masyarakat Yogyakarta, yaitu Muhamadiyah. Nilai-nilai muhamadiyah tidak menonjolkan pembicaraan mengenai masalah teologi, tetapi lebih menekankan pada masalah fungsi agama dalam konteks
social dan budaya. Masalah ketuhanan yang tidak berakibat langsung dan praktis pada amaliyah dan kesejahteraan umat tidak dibicarakan ataupun dibahas. Pada pergaulan sehari-hari masyarakat muhamadiyah lebih terkesan modern dan organisatoris.
Masyarakat Bantul melakukan komunikasi dengan bahasa Jawa. Bahasa Jawa yang digunakan mayoritas masyarakat Bantul dengan bahasa kromo inggil. Bahasa kromo inggil ini adalah bahasa halus seperti dalam bahasa Sunda lemes. Bahasa ini kebanyak berbentuk bahasa tidak langsung (indirect) berupa sasmita (isyarat). Seperti: ungkapan ngono yo ngono ning ojo ngono (berbuat apapun boleh asal tidak kelewatan) sebagai kriteria agar menghindari konflik terbuka dan hidup rukun damai.
Pandangan hidup sebagai manusia pribadi masyarakat Jawa di Bantul, dapat terlihat pada Gambar 5.2.
Gambar 5.2. Pandangan Hidup orang Jawa di Bantul
Analisis Perbedaan
Selanjutnya analisis perbedaan etos dan norma kehidupan pada masyarakat Ciamis dan Bantul yang dapat dijelaskan pada Tabel 5.1.
Yakin Kawula Gusti
Konsep Diri Petani
Konsep Diri Petani Syariah
Manunggaling Kawula Gusti, Rukun dan Damai,
Kesejahteraan
Ciri Kepemimpinan: Ingarso Sung Tulogo Ing Madyo Mangun Karso Tut Wuri Handayani
Tabel 5.1. Etos dan norma kehidupan masyarakat Ciamis dan Bantul
NO. URAIAN CIAMIS BANTUL ANALISIS
1 Etos Kerja sebagai Dasar Moral
Istilah “sunda” : kelompok manusia dikenal sebagai urang sunda. Dipesisir Cirebon, Orang Sunda biasa disebut urang gunung, wong gunung, dan tiyang gunung,
artinya orang gunung.
Tujuan mewujudkan masyarakat gemah ripah loh jinawi, ayom, ayem, tata, titi tentre, kerta raharja
Masyarakat Ciamis
dibedakan urang sunda & gunung. Masyarakat Jawa tidak semua bertujuan gemah ripah loh jinawi
2 Bahasa sebagai Alat Komunikasi
Adanya tingkatan bahasa : bahasa kasar,
sedeng, lemes dan
ilahar (umum atau biasa). Mencerminkan stratifikasi sosial sekaligus mengatur adab pergaulan termasuk berperilaku. Berbicara dengan para orang tua
menggunakan bahasa Sunda lemes yang menunjukkan penghormatan.
Ungkapan ngono yo ngono ning ojo nono
(berbuat apapun boleh asal tidak kelewatan)
menghindari konflik terbuka /rukun terwujud.
Sasmita atau guyon parikena : bentuk komunikasi tidak langsung. Agar sifat
tanggap ing sasmita, ngerti ing semu : dijadikan kriteria kecerdasan orang Sama-sama memiliki tingkatan dalam menggunakan bahasa penuturnya
3 Budaya Pengaruh agama
Islam. Misal someah
(ramah), tawadhu
(rendah hati), nyaah ka sererea
(mengasihi sesama).
Menciptakan ajaran sendiri yang disebut
Sunda Wiwitan dan Jati Sunda. tidak jauh berbeda dengan falsafah budaya Sunda, silih asih, silih asah, silih asuh.
Pola pertanian Jawa Tengah, peredaran 4 musim setiap tahun, yaitu: rendheng
(musim hujan),
lemareng (hujan mulai jarang), katiga
(musim kemarau) dan
labuh (musim banyak angin dan hujan sekali-kali).
Rendheng (musim
hujan) terjadi Januari, Februari, dan Maret.
Sama-sama dipengaruhi oleh agama Islam.
Lanjutan
NO. URAIAN CIAMIS BANTUL ANALISIS
4 Pandangan Hidup tentang Manusia sebagai Pribadi
Keyakinan yang kuat pada kekuasaan Tuhan pada nasib. Terkait alam dapat digolong-golongkan ke dalam tiga golongan besar, yaitu masyarakat dan wujud supra natural. Alam memiliki hukum alam, masyarakat memiliki nilai-nilai dan norma-norma
masyarakat, serta wujud super natural memiliki kekuasaan untuk mengadakan dan meniadakan.
Mencerminkan kesederhanaan, punya tanggung jawab, hati-hati, rendah hati, njaga praja, setia kawan, dll. Ada ungkapan
luwih becik alon-alon waton kelakon, tinimbang kebat kliwat maksudnya salah satu sikap hidup orang Jawa yang tidak ingin gagal dalam meraih cita-cita. Sama-sama berkeyakinan pada Tuhan. (Pada masyarakat Sunda pada kekuatan Supra natural, masyarakat Jawa pada kawula gusti) Memiliki pegangan hidup yang diwujudkan dalam ungkapan sebagai pedoman perilaku sehari-hari.
Hukum alam, nilai dan norma masyarakat serta kekuasaan super
natural selalu melancarkan
pengaruhnya kepada tingkah laku manusia. Tujuan hidup yang dianggap baik adalah hidup sejahtera, hati tentram dan tenang, mendapat kemuliaan, damai, merdeka untuk selamanya, dan mencapai kesempurnaan di akhirat. Kata alon-alon di dalamnya sebenarnya tersirat makna “cara”. Cara bagaimana seseorang mencapai tujuan, karena yang penting adalah “kriteria”, yaitu waton kelakon (harus terlaksana), dari pada
kebat keliwat (tergesa-gesa tapi gagal). Selalu bersikap prasaja (sederhana) dan sakmadya (seperlunya) Ikhtisar
Etos sosial yang hidup dalam komunitas di pedesaan, menunjukan ciri naturalistik. Maksudnya, baik buruk tingkah laku orang sangat ditentukan oleh ukuran kelompok yang pada gilirannya etos sosial yang demikian ini sangat mengutamakan kepentingan kolektif yang prosesnya bersifat resiprokal antar kepentingan anggota kelompoknya.
Etos kerja atau kultur normatif dalam masyarakat sunda khususnya di Ciamis dalam dua pola pandangan hidup pribadi baik antar anggota kelompok maupun dengan pemimpin dalam tataran empiris. Sementara pada masyarakat Jawa digambarkan dalam pola pandangan hidup sebagai manusia pribadi yang akan berkomunikasi dengan anggota kelompoknya. Etos kerja yang berciri resiprokal ini masih memerankan dasar moral penting bagi komunitas setempat baik di Ciamis maupun di Bantul dalam menanggapi dan menerangkan keperluan dan masalah hidup di alam dunia ini.
BAB VI
KONSTRUKSI REALITAS SOSIAL PETANI DI KABUPATEN CIAMIS DAN BANTUL
Bagaimana petani mengkonstruksikan realitas sosialnya baik di kabupaten Ciamis dan Bantul? Petani memiliki motif untuk mendapatkan modal yang berasal dari pembiayaan syariah BMT. Realitas sosial petani dikonstruksikannya berdasarkan pada konsep diri dan pengalamannya dari perspektif diri petani itu sendiri.
Proses mendapatkan Pembiayaan di BMT (Motif) di Kabupaten Ciamis
Konstruksi realitas sosial petani dimulai dari motif yang melatar belakangi petani mendapatkan pembiayaan syariah dari BMT, kesadaran subjektifnya dan konsep diri dari petani. Pada penelitian ini diperoleh pemahaman bahwa mengapa banyak orang memilih untuk mencari dan mendapatkan pembiayaan di BMT, dari pengamatan terhadap bagaimana seorang petani mengalami “proses menjadi”. Menurut pandangan humanistik bahwa hakekat kemanusiaan adalah bukan sekedar human being tetapi human becoming. Manusia menjadi bermakna jika dirinya dipandang sebagai “menjadi manusia” (human becoming) bukan hanya atas dasar “kemanusiaannya” saja. “Sebuah proses yang menjadi” itulah bagian dari hakikat diri manusia. Sejalan dengan pandangan humanistik, melalui penelitian ini dapat diungkapkan bagaimana hakikat diri para petani ketika mendapatkan pembiayaan syariah apabila “proses yang menjadi” petani syariah yang sejahtera dapat ditelusuri. Bagaimana sebuah proses terjadi yang dialami petani sehingga mendapatkan pembiayaan syariah, akan mengantarkan pada penjelasan tentang latar belakang atau alasan dan motif petani mendapatkan pembiayaan syariah sehingga kehidupan menjadi meningkat.
Aspek Pendorong
Aspek pendorong yang dimaksud di sini adalah suatu keadaan yang memicu para petani sehingga seolah memiliki daya atau tenaga tambahan untuk mendapatkan pembiayaan syariah. Aspek ini memberikan kesempatan kepada mereka untuk mendapatkan pembiayaan syariah agar dapat mengejar mimpi-mimpi atau harapan yang diangan-angankannya.
Aspek-aspek pendorong untuk mendapatkan pembiayaan syariah adalah kebutuhan modal (integritas, kompetensi, empati, terbuka, akuntabilitas), faktor alam (tanah, pupuk, cuaca, luas lahan), faktor sosial (kelompok tani). Pada diri setiap informan, aspek-aspek tersebut saling berkaitan. Ada informan yang memiliki ketiga aspek tersebut tapi ada pula yang hanya satu aspek saja.
Secara umum petani mengalami keterbatasan modal dan kesulitan dalam hal pemasaran. Peminjaman modal ini dapat di lakukan ke BMT, sedangkan pemasaran hasil pertanian bisa dilakukan kepada bandar, tengkulak atau pengepul. Sebenarnya petani terbantu dengan adanya bandar ataupun tengkulak, namun para petani perlu mendapatkan pendampingan agar posisi tawarnya sejajar. Pemenuhan aspek kebutuhan modal merupakan aspek pendorong yang utama. Sebagian besar informan melihat kebutuhan modal merupakan faktor yang mengharuskan mereka untuk melakukan sesuatu agar mata pencaharian mereka tidak hilang, yaitu mencari modal usaha pertanian.
Informan petani S mengatakan bahwa persyaratan untuk mendapatkan kredit di KUT agak berat, yaitu:
Bantuan untuk petani kalau bunganya agak berat agak susah juga, sebabnya petani polanya tidak seperti orang dagang. Penghasilannya mungkin paling cepat 3 bulan