• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN

5. Evaluasi Kinerja Kebijakan

Evaluasi Kinerja Kebijakan merupakan langkah terakhir dalam pola analisis kebijakan menurut Dunn. Tujuan evaluasi kinerja kebijakan adalah untuk mengetahui menilai yang mendasari tujuan, sasaran, dan kinerja dalam kebijakan tersebut. Adapun evaluasi dalam penelitian mengenai Analisis Kebijakan Transformasi PT. Jamsostek (Persero) Menjadi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan di Kantor Wilayah Banten, menurut hasil wawancara peneliti dengan I1-1 bahwa:

“Suatu kebijakan tidak akan berjalan dengan sesuai tujuan, bila tidak dilakukannya evaluasi terhadap hasil dari pelaksanaan kebijakan tersebut. Dari hasil pencapaian yang sudah dijalankan pihak BPJS Ketenagakerjaan, masih terasa kurang karena pencapaian kepesertaan dari tenaga kerja-tenaga kerja dan perusahaan-perusahaan yang ada di wilayah Banten, belum semua masuk menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan, untuk itu harus lebih giat dan gencar lagi dalam memperkenalkan eksistensi BPJS Ketenagakerjaan ini. Kepada masyarakat yang awam sekalipun harus diperkenalkan dan disosialisasikan. Karena kembali lagi pada tujuan kita adalah, memberikan perlindungan dan kesejahteraan kepada tenaga kerja-tenaga kerja, baik kerja-tenaga kerja formal maupun kerja-tenaga kerja informal. Adapun harus adanya target pencapain yang maksimal yaitu seluruh tenaga kerja wilayah Banten harus menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan.” (Wawancara di BPJS Ketenagakerjaan Kanwil Banten, 05 Januari 2016 pukul 14.00 WIB)

Berdasarkan hasil wawancara diatas, dapat peneliti ketahui bahwa evaluasi kebijakan dalam analisis kebijakan publik bertujuan melihat sejauh mana kebijakan tersebut dapat dilaksanakan sesuai dengan nilai, tujuan, dan target dalam kebijakan tersebut. Dalam evaluasi kebijakan diperlukannya perbaikan pada perluasan

sosialisasi kepada masyarakat. Mengupayakan masyarakat bisa ikut berpartisipasi terhadap sosialisasi yang dilakukan BPJS Ketenagakerjaan. Dengan mengenalkan BPJS Ketenagakerjaan dengan orang yang awam sekalipun. Karena perlindungan dan kesejahteraan, bukan hanya milik orang yang mengerti atau paham mengenai BPJS Ketenagakerjaan, akan tetapi orang yang masih awam atau tidak mengerti sekalipun perlu juga diberikan pemahaman yang baik, dengan begitu perlahan menanam mindset kepada masyarakat akan manfaat yang akan diterima masyarakat dengan menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan. Dalam melakukan sosialisasi sangat penting melibatkan pihak-pihak yang terlibat atau stakeholders. Perlunya koordinasi dan kerjasama antara beberapa pihak yang terlibat tersebut sangat berpengaruh pada pelaksanaan kebijakan BPJS Ketenagakerjaan. Seperti yang diungkapkan oleh I1-2, bahwa:

“Proses evaluasi harus melibatkan para stakeholders yaitu Pemerintah Provinsi dan Kota hal ini sesuai dari amanah Undang-undang Sistem Jaminan Sosial Nasional dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan adapun target BPJS Ketenagakerjaan adalah ditahun 2018, seluruh masyarakat Banten bisa menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan.” (Wawancara di BPJS Ketenagakerjaan Kanwil Banten,05 Januari 2016 pukul 14.30 WIB)

Berdasarkan hasil wawancara diatas, dapat peneliti ketahui bahwa evaluasi pelaksanaan kebijakan BPJS Ketenagakerjaan sangatlah penting pengaruh akan keterlibatan pihak-pihak yang memang bisa bekerja sama dalam pelaksanaan kebijakan BPJS Ketenagakerjaan. Pemerintah Provinsi dan Kota sangat besar

pengaruhnya bila ikut terlibat di dalamnya. Karena Pemerintah Provinsi dan Kota ini sendiri bisa menjadi stakeholder yang bisa mengawasi atau memonitoring bilamana pelaksanaan kebijakan BPJS Ketenagakerjaan mengalami permasalahan. Dalam Evaluasi perlunya kita membangun pencapaian Good Governance dan tertib adiminstrasi secara transparan karena hal itu merupakan pokok penting yang dapat juga membangun eksistensi BPJS Ketenagakerjaan menjadi lebih baik. Pembahasan hal ini diungkapkan oleh I1-3, bahwa:

“Evaluasi terhadap pelaksanaan kebijakan BPJS Ketenagakerjaan, BPJS Ketenagakerjaan memperbanyak RSTC (Rumah Sakit Trauma Centre) rumah sakit yang ditunjuk oleh pihak BPJS Ketenagakerjaan dengan tujuan membuat tenaga kerja yang mengalami kecelakaan bisa sembuh secara total, dilakukannya tertib administrasi, dan kebijakan secara transparansi dengan membangun Good Governance dengan mengubah sistem pengadaan barang dan jasa berbasis E-Procurement yaitu berbasis teknologi.” (Wawancara di BPJS Ketenagakerjaan Kanwil Banten, 05 Januari 2016 pukul 15.00 WIB)

Berdasarkan hasil wawancara tersebut, dapat peneliti ketahui bahwa untuk membangun eksistensi BPJS Ketenagakerjaan menjadi lebih baik dimata masyarakat, perlu adanya pendalaman pemahaman mengenai kepuasan akan masyarakat itu sendiri. Dengan mengubah beberapa hal yang perlu diubah sistemnya adalah langkah dalam transformasi. BPJS Ketenagakerjaan mengubah sistem pengadaan barang dan jasa berbasis e-Procurement dengan membangun atau terciptanya Good Governance. proses pelaksanaan tertib administrasi harus dilakukan dengan mengedepankan peningkatan pelayanan kepada masyarakat yang

bisa berkualitas. Dan dalam evaluasi kebijakan perlunya memperbanyak lagi RSTC (Rumah Sakit Trauma Center) Rumah Sakit yang ditunjuk BPJS Ketenagakerjaan untuk memfasilitasi tenaga kerja yang sakit atau kecelakaan. Hal itu merupakan sebagai wujud dari perlindungan BPJS Ketenagakerjaan kepada tenaga kerja.

4.3. Pembahasan

Pembahasan hasil penelitian merupakan isi dari hasil analisis data dan fakta yang peneliti dapatkan dilapangan serta disesuaikan dengan teori yang digunakan. Berdasarkan pemaparan diatas mengenai gambaran kebijakan transformasi PT. Jamsostek (Persero) menjadi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan di Kantor Wilayah Banten, sebenarnya tidak terlepas dari segala macam permasalahan yang terkait pada pelaksanaannya. Dalam hal ini, keberadaan masyarakat yang menjadi tenaga kerja dalam sektor formal maupun informal harus diberikan program dan jaminan sebagai keberlangsungan di dalam pekerjaannya. Untuk itu sebagai kewajiban tenaga kerja dan perusahaan sebagai peserta dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan, adanya kerjasama untuk membayar iuran tiap bulannya. Seperti yang dilihat pada tabel 4.6.

Tabel 4.6

Pembagian Iuran BPJS Ketenagakerjaan antara Pekerja dan Perusahaan

No Nama Program BPJS Ketenagakerjaan Persentase Iuran (%)

Pekerja Perusahaan Total

1 Jaminan Hari Tua 2% 3,7% 5,7%

2 Jaminan Kecelakaan Kerja - 0,24% 0,24%

3 Jaminan Kematian - 0,30% 0,30%

4 Jaminan Pensiun 1% 2% 3%

Total 3% 6,24% 9,24%

(Sumber: BPJS Ketenagakerjaan Kantor Wilayah Banten)

Berdasarkan tabel tersebut adalah bahwa pada program Jaminan Hari Tua, pekerja wajin membayar iuran sebesar 2% dari upah atau gajinya perbulan, dan perusahaan harus membayar sebesar 3,7%, artinya, perusahaan wajib membayar iuran Jaminan Hari Tua lebih besar daripada pekerjanya, sehingga total yang wajib dibayarkan kepada BPJS Ketenagakerjaan pada program Jaminan Hari Tua sebesar 5,7%. Pada program Jaminan Kecelakaan Kerja, dari upah atau gajinya perbulan, pekerja wajib membayar iuran sebesar 0,24% kepada BPJS Ketenagakerjaan. Namun 0,24% ini merupakan iuran yang tingkat resiko lingkungan kerjanya sangat rendah, bila tingkat resikonya lebih tinggi, maka iuran yang dibayarkan lebih tinggi dari yang ditetapkan sebesar 0,24%. Pada program Jaminan Kematian pekerja membayar iuran kepada BPJS Ketenagakerjaan sebesar 0.30% dari gaji atau upahnya perbulan. Pada program Jaminan Pensiun, pekerja wajib membayar iuran

kepada BPJS Ketenagakerjaan sebesar 1% dari upah atau gajinya perbulan, sedangkan perusahaan wajib membayarkan Program Jaminan Pensiun sebesar 2%. Sehingga total yang harus dibayarkan kepada BPJS Ketenagakerjaan adalah sebesar 3%.

Sebagai badan hukum publik, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan memiliki kewajiban kepada warga negara untuk bisa menjamin perlindungan sosial agar setiap orang atau warga negara berhak atas jaminan sosial untuk dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup yang layak dan meningkatkan martabat nya menuju terwujudnya masyarakat Indonesia yang sejahtera. Untuk mewujudkan itu, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan memfokuskan pada kepuasan masyarakat dengan menerapkan prinsip Good Governance, dengan menciptakan prinsip Good Governance, diharapkan mampu dalam perbaikan dan perngembangan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan untuk dapat melaksanakan tugas kebijakannya dalam menyelenggarakan program atau jaminan yang telah ditetapkan. Adapun Infrastruktur Hirarki Peraturan, Kebijakan, dan Pedoman Good Governance dapat dilihat pada gambar 4.1.

Gambar 4.1

Infrastruktur Hirarki Peraturan, Kebijakan dan Pedoman Good Governance BPJS

Ketenagakerjaan

(Sumber:www.bpjsketenagakerjaan.go.id)

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teori menurut Dunn, dimana analisis kebijakan merupakan aktivitas intelektual dan praktis yang ditujukan untuk menciptakan, secara kritis menilai, dan mengomunikasikan pengetahuan tentang dan dalam proses kebijakan. Analisis kebijakan dapat dilakukan sebelum atau sesudah kebijakan itu dibuat. Dalam analisis kebijakan memiliki lima tahapan yaitu: Merumuskan Masalah, Peramalan Masa Depan Kebijakan, Rekomendasi

Kebijakan, Pemantauan Hasil Kebijakan, dan Evaluasi Kinerja Kebijakan. Adapun pembahasan yang dapat peneliti paparkan adalah sebagai berikut ini:

1. Merumuskan Masalah

Pada tahapan pertama yaitu merumuskan masalah. Dalam Analisis kebijakan, masalah adalah nilai, kebutuhan, atau kesempatan yang belum terpenuhi, yang dapat diidentifikasi untuk kemudian diperbaiki melalui tindakan publik.

Pada tahapan ini, peneliti mendapatkan situasi atau kondisi yang mengalami perubahan dan permasalahan yang tengah dihadapi oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan. Pada perumusan masalah ini, peneliti angkat untuk dibahas dalam skripsi mengenai transformasi PT. Jamsostek (Persero) menjadi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan Kantor Wilayah Banten.

Adapun temuan lapangan yang peneliti angkat dan bahas disini adalah pertama, adanya perubahan struktur organisasi dari PT. Jamsostek menjadi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan. Perubahan struktur ini bisa dilihat dari adanya pertambahan kepegawaian di BPJS Ketenagakerjaan Kantor Wilayah Banten. Faktor pertambahan kepegawaian dipengaruhi dari pembentukan Kantor Cabang Pembantu (KCP) Kantor Wilayah Banten. Hal ini membutuhkan tenaga kerja-tenaga kerja baru dalam membantu tugas dan tanggung jawab di Kantor Wilayah Banten. Sehingga merekrut kepegawaian lebih banyak dari tahun-tahun

sebelumnya. Adapun Kantor Cabang Pembantu Kantor Wilayah Banten ada 8 (delapan) Kantor Cabang Pembantu, yaitu: empat dibawah Kantor Cabang Serang, 2 dibawah Kantor Cabang BSD, dan 2 dibawah Kantor Cabang Batu Ceper. Kedua, yaitu masalah kurangnya perluasan sosialisasi yang mengakibatkan belum semua tenaga kerja dan perusahaan di wilayah Banten menjadi pendaftar kepesertaan dalam Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan. Ketiga, yaitu perubahan badan hukum organisasi, yang semula PT. Jamsostek (Persero) berbadan hukum persero/privat, berubah menjadi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan berbadan hukum publik. Keempat yaitu, perubahan sistem kerja Umum dan SDM dalam pengadaan barang dan jasa atau belanja modal. Semula PT. Jamsostek (Persero) masih menggunakan sistem secara manual, menjadi BPJS Ketenagakerjaan sudah menggunakan teknologi dalam pengadaan barang dan jasa. Kelima, yaitu perubahan program dan manfaat. Program PT. Jamsostek yaitu Jaminan Pemeliharaan Kesehatan, sedangkan program BPJS Ketenagakerjaan yaitu Jaminan Pensiun. Keenam, yaitu perubahan tata kelola PT. Jamsostek berfokus pada pro laba, dan BPJS Ketenagakerjaan berfokuskan pada pemenuhan hak konstitusional warga negara. Ketujuh, yaitu kurangnya penanganan dan Ketidaksigapan karyawan mengenai pencairan iuran Jaminan Hari Tua kepada tenaga kerja, hal ini mengakibatkan tenaga kerja mengalami kesulitan dalam pengajuan klaim. Lamanya prosedur pemberian berkas formulir Jaminan Hari Tua kepada pihak BPJS Ketenagakerjaan. Tenaga kerja yang sudah tidak bekerja lagi

pada perusahaan yang lama, kesulitan mengklaim Jaminan Hari Tua mereka, karena terdaftar BPJS Ketenagakerjaan di perusahaan yang baru.

2. Peramalan Masa Depan Kebijakan

Pada tahapan kedua yaitu peramalan masa depan kebijakan. Yang merupakan suatu prosedur untuk membuat informasi faktual tentang situasi sosial dimasa depan atas dasar informasi yang telah ada dimasa sekarang. Pada tahap peramalan dimasa depan, apabila Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan masih minim dalam melakukan pergerakan sosialisasi, maka akan berdampak bagi kesejahteraan tenaga kerja itu sendiri, karena akibat dari tidak tercovernya jaminan kehidupan tenaga kerja. ketidaksejahteran masyarakat ini akan semakin membuat beban kepada pemerintah, karena pada dasarnya pemerintah memiliki tanggungjawab penuh kepada masyarakat. Tanggungjawab yang sudah diamanahkan di dalam Undang-undang Dasar 1945. Selanjutnya hal yang dihawatirkan lagi dimasa depan adalah akan terjadinya kasus hukum antara perusahaan dan pihak-pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan BPJS Ketenagakerjaan, salah satu pihak yang terlibat yang bertugas menangani kasus hukum adalah lembaga pengadilan tinggi. Bila pengusaha-pengusaha masih tidak mendaftarkan tempat usahanya sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan, maka bisa dipastikan akan terjadinya kasus hukum karena ketidakpatuhan perusahaan akan peraturan Undang-undang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.

Pada peramalan masa depan mengenai tenaga kerja asing, BPJS Ketenagakerjaan akan menghapus daftar kepesertaan tenaga kerja asing dari persyaratan sasaran BPJS Ketenagakerjaan. Terkait dengan penghapusan tenaga kerja asing merupakan kebijakan dalam upaya pihak BPJS Ketenagakerjaan dalam fokus pada pengoptimalan kinerja dari BPJS Ketenagakerjaan itu sendiri terhadap para tenaga-tenaga kerja Indonesia. Memberikan luang sebesarnya kepada tenaga kerja Indonesia agar masuk sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan.

Kemudian permasalahan mengenai pelayanan yang kurang maksimal. Sehingga BPJS Ketenagakerjaan harus memaksimalkan pelayanan yang akan diberikan kepada masyarakat. Menerapkan perbaikan-perbaikan akan sistem yang kurang maksimal, dan sumberdaya manusia yang berkualitas.

3. Rekomendasi Kebijakan

Pada tahapan ketiga yaitu rekomendasi kebijakan. Yakni menghasilkan informasi tentang kemungkinan aksi atau tindakan dimasa akan datang. Dari hasil observasi penelitian di lapangan dalam kebijakan transformasi PT. Jamsostek (Persero) menjadi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan di Kantor Wilayah Banten. Dari pihak Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan Kantor wilayah Banten, mereka tidak memberikan rekomendasi kebijakan terkait dengan pelaksanaan kebijakan BPJS Ketenagakerjaan di Kantor wilayah Banten. Adapun kebijakan yang sudah ditetapkan atau dibuat oleh Pemerintah merupakan

kebijakan yang sudah tepat terhadap pelaksanaan transformasi PT. Jamsostek (Persero) menjadi BPJS Ketenagakerjaan ini. Sehingga bila peraturan sudah ditetapkan oleh pemerintah, maka tugas dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan adalah melaksanakannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Alasan tidak adanya rekomendasi kebijakan dari pihak Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan adalah karena pihak Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan hanya berperan sebagai operator yaitu yang menjalankan kebijakan, bukan berperan sebagai regulator, atau sebagai pembuat peraturan perundang-undangan. Sehingga sudah menjadi tugas pihak BPJS Ketenagakerjaan menjalankan kebijakan demi tercapainya perlindungan dan kesejahteraan para tenaga kerja sesuai dengan amanah Undang-undang Dasar 1945.

Beda halnya dengan pihak BPJS Ketenagakerjaan yang telah mempercayai tanggungjawab penuh dari pemerintah sebagai regulator, pembuat peraturan mengenai kebijakan dan perencanaan dari BPJS Ketenagakerjaan, Pihak Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi di Provinsi Banten memberikan rekomendasi terkait dengan pelaksanaan kebijakan program dan jaminan BPJS Ketenagakerjaan. Adapun rekomendasi kebijakan yang diberikan adalah dengan menyebarluaskan atau penyaluran surat himbauan kepada perusahaan-perusahaan yang masih belum terdaftar menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan. Penyaluran surat himbauan ini

sebagai salah satu upaya sosialisasi BPJS Ketenagakerjaan dalam pertambahan kepesertaan di BPJS Ketenagakerjaan di wilayah Banten.

4. Pemantauan Hasil Kebijakan

Pada tahapan keempat yaitu pemantauan hasil kebijakan. Pemantauan sering disebut monitoring yang merupakan prosedur yang digunakan untuk memberikan informasi sebab akibat saat kebijakan dilaksanakan. Pada pemantauan hasil kebijakan mengenai Kebijakan Transformasi PT. Jamsostek (Persero) menjadi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan itu dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya yang pertama, pemantauan hasil kebijakan harus dilakukan oleh pemerintah daerah. Melalui pemantauan dari pemerintah daerah diharapkan pelaksanaan kebijakan BPJS Ketenagakerjaan dapat berjalan denagn efektif, sehingga sesuai dengan rencana yang telah dibuat atau dirancang sebelumnya. Pemantauan dari pemerintah daerah juga bertujuan agar target dan sasaran dari kebijakan BPJS Ketenagakerjaan bisa lebih tepat. Selain pemantauan dari pemerintah daerah, pemantauan hasil kebijakan juga dilakukan oleh masyarakat dan tenaga kerja dengan tujuan agar masyarakat bisa menilai akan kinerja, mengkritik, dan masukan kepada BPJS Ketenagakerjaan. Melalui pemantauan dari masyarakat dan tenaga kerja ini, BPJS Ketenagakerjaan bisa melakukan perbaikan demi tercapainya keinginan dari masyarakat dan tenaga kerja.

Selain pemantauan dari pemerintah daerah dan masyarakat pemantauan hasil kebijakan juga dapat pula dilakukan oleh Lembaga Kepolisian. Tujuan adanya pemantauan dari Lembaga Kepolisian adalah agar proses pelaksanaan kebijakan BPJS Ketenagakerjaan dapat berlangsung dengan baik, karena adanya pengawasan dari tim khusus Lembaga Kepolisian dalam kerjasama terhadap pelaksanaan program dan jaminan BPJS Ketenagakerjaan.

Dari pemantauan hasil kebijakan yang dilakukan oleh salah satu tenaga kerja penerima upah, menginginkan adanya pelaksanaan sosialisasi bukan hanya kepada perusahaan. Namun juga kepada masyarakat yang merupakan pekerja mandiri. Karena masyarakat pekerja mandiri juga sama-sam menginginkan adanya perlindungan bagi dirinya. Peran BPJS Ketenagakerjaan disini adalah melakukan upaya memberi pengertian secara luas kepada masyarakat, agar bisa membuka mindsetnya terhadap BPJS Ketenagakerjaan. Tugas dan tanggungjawab BPJS Ketenagakerjaan memberikan solusi tepatnya untuk tenaga kerja mandiri tersebut.

Kemudian dari pemantauan hasil kebijakan yang dilakukan oleh salah satu tenaga kerja jasa konstruksi, menginginkan adanya sosialisasi terhadap pengajuan klaim Jaminan Hari Tua. Sosialisasi pengajuan klaim Jaminan Hari Tua ini agar memberikan arahan, dan prosedur yang jelas kepada para tenaga kerja jikalau nanti ada tenaga kerja yang ingin mengajukan pencairan atau klaim Jaminan Hari Tua, mereka bisa mengerti dan memahami petunjuk dan prosedurnya. BPJS Ketenagakerjaan memfasilitasi pendaftaran klaim secara online, namun tidak

semua tenaga kerja bisa memahami internet, mengikuti perkembangan internet. Untuk itu adanya sosialisasi pengajuan klaim untuk mempermudah pemahaman tenaga kerja. pendaftaran secara online pengajuan klaim dapat dilihat di gambar 4.2 sebagai berikut:

Gambar 4.2

Pendaftaran Online Pengajuan Klaim

(Sumber: www.bpjsketenagakerjaan.go.id , diakses tanggal 05 Januari 2016)

Pemantauan hasil kebijakan yang dilakukan oleh perusahaan, menginginkan adanya strategi pelaksanaan yang baik yang dijalankan oleh BPJS Ketenagakerjaan. Adapun strategi tersebut bertujuan, agar jaminan BPJS Ketenagakerjaan itu sendiri bisa lebih unggul daripada asuransi lainnya.

5. Evaluasi Kinerja Kebijakan

Pada tahapan yang kelima yaitu evaluasi kinerja kebijakan. Yaitu menyediakan informasi yang valid mengenai kinerja kebijakan, kemudian

memberikan kritik yang mendasari tujuan, nilai-nilai, dan sasaran kebijakan. Evaluasi adalah kegiatan pengukuran terhadap tingkat pencapaian pelaksanaan kebijakan BPJS Ketenagakerjaan. Evaluasi menjadi tugas dan tanggungjawab dari BPJS Ketenagakerjaan dan para stakeholders lainnya. Seperti Pemerintah Daerah, dan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Dalam evaluasi pelaksanaan kebijakan BPJS Ketenagakerjaan, diharapkan adanya perbaikan pada perluasan sosialisasi kepada masyarakat. Mengupayakan masyarakat juga bisa ikut berpartisipasi terhadap sosialisasi BPJS Ketenagakerjaan. Dengan mengenalkan BPJS Ketenagakerjaan bukan dengan tenaga kerja dan perusahaan saja, namun kepada orang yang awam sekalipun. Agar seluruh masyarakat yang perlu dijaminkan perlindungan kehidupannya bisa dirasakan secara keseluruhan masyarakatnya.

Dalam evaluasi diharapkan BPJS Ketenagakerjaan bisa bekerjasama dan berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi dan Kota. Karena keterlibatan dengan bekerjasama dan berkoordinasi dengan pemerintah provinsi dan Kota, dapat terselenggaranya proses pelaksanaan kebijakan yang lebih baik. Pemerintah Provinsi dan Kota bisa mengawasi dan memonitoring bilamana pelaksanaan kebijakan BPJS Ketenagakerjaan mengalami kendala atau permasalahan.

Dalam evaluasi juga perlunya membangun pencapaian Good Governance dan tertib administrasi yang transparan. Proses pelaksanaan tertib administrasi

harus dilakukan dengan mengedepankan peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Membentuk kerjasama lebih banyak lagi dengan Rumah Sakit Trauma Center (RSTC) atau Rumah Sakit yang ditunjuk oleh BPJS Ketenagakerjaan untuk berupaya menyembuhkan tenaga kerja yang mengalami kecelakaan di tempat kerjanya. Adapun alur pelayanan kepada tenaga kerja yang mengalami kecelakaan dapat dilihat digambar 4.3 sebagai berikut:

Gambar 4.3

Alur Pelayanan Tenaga Kerja yang Mengalami Kecelakaan Kerja

(Sumber: www.bpjsketenagakerjaan.go.id, diakses tanggal 05 Januari 2016) Keterangan:

Berdasarkan gambar 4.3 diatas, dapat dijelaskan bahwa terdapat beberapa alur pelayanan Return To Work dimulai saat tenaga kerja mengalami kecelakaan kerja, lalu mendapatkan kuratif di Rumah Sakit Trauma Center melalui Manajer Kasus Kecelakaan Kerja dan Penyakit Akibat Kerja (KK PAK). Selanjutnya apabila tenaga kerja dinyatakan cacat fisik terdapat proses rehabilitasi dimana pihak

Dokumen terkait