• Tidak ada hasil yang ditemukan

EVALUASI KOMPETENSI DIGITAL GURU DALAM MENDORONG KETERAMPILAN BERBASIS TIK

Evaluasi Digitalisasi Pendidikan dan Kesiapannya dalam

A. EVALUASI KOMPETENSI DIGITAL GURU DALAM MENDORONG KETERAMPILAN BERBASIS TIK

Permintaan akan pendidikan diprediksi makin meningkat seiring pertambahan jumlah populasi. Kondisi ini tidak dapat dipenuhi dengan hanya memperbanyak jumlah sekolah dan guru, tetapi juga diperlukan solusi yang lebih inovatif untuk mendukung proses pem-belajaran aktif dan berkelanjutan. Didukung dengan pertumbuhan penetrasi pengguna internet, penggunaan teknologi digital adalah salah satu sarana yang efektif untuk meningkatkan partisipasi aktif

Buku ini tidak diperjualbelikan.

Evaluasi Digitalisasi Pendidikan ... 143

masyarakat dalam dunia pendidikan. Selain mendorong pembaruan dalam berbagai aspek, teknologi memudahkan guru dalam proses pembelajaran yang berkualitas. Namun, hal ini memerlukan rencana strategis yang lebih terarah untuk mendukung penggunaan teknologi digital yang efektif. Tujuannya agar teknologi tidak hanya dipandang sebatas infrastruktur pendukung administrasi, tetapi secara masif dapat mengintegrasikan proses pembelajaran yang lebih modern di kelas. Secara lebih spesifik, integrasi tersebut juga harus mendorong guru dan peserta didik untuk makin mengembangkan kompetensinya secara digital.

Di Indonesia, penggunaan teknologi untuk mendukung proses pembelajaran telah dimulai beberapa tahun setelah Indonesia menya-takan diri sebagai negara merdeka. Hal ini berawal dari program pelatihan guru korespondensi yang dilaksanakan secara jarak jauh pada 1950 di Bandung hingga pendirian perusahaan pendidikan jarak jauh di Jawa Barat pada 1951, yang menyediakan layanan radio pendidikan untuk guru-guru (Suparman dkk., 2004). Perkembangan ini terus berlanjut hingga pendirian Universitas Terbuka pada 1984, yang berfokus pada penyediaan program pendidikan jarak jauh.

Pemerintah Indonesia juga mendirikan Jaringan Pendidikan Nasional (Jardiknas) pada 2007 sebagai infrastruktur jaringan pendidikan terin-tegrasi skala nasional yang menghubungkan semua institusi/lembaga pendidikan dari pusat hingga tingkat daerah, perguruan tinggi, dan sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. 

Pada tahun yang sama, Indonesia melalui Jardiknas juga berhasil menyelenggarakan program Hylite (Hybrid Learning for Indonesian Teachers) sebagai sebuah pelatihan guru berbasis TIK dengan melibat-kan 23 universitas dari seluruh Indonesia. Program yang dilaksanamelibat-kan dengan pendekatan hybrid atau blended learning tersebut melibatkan 30–79% proporsi penyampaian konten secara daring (Pannen dkk., 2007). Hal ini mengindikasikan keseriusan pemerintah untuk dukung literasi teknologi bagi guru. Program ini juga berhasil men-dirikan banyak ICT centers sebagai pusat pelatihan guru diberbagai sekolah menengah kejuruan (SMK) di 12 provinsi. Selanjutnya, pada

Buku ini tidak diperjualbelikan.

2014, massive open online courses (MOOCs) platform pertama didi-rikan di Indonesia didukung dengan Peraturan Menteri Pendidikan (Permendikbud) No. 109 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Jarak Jauh pada Pendidikan Tinggi yang diterbitkan satu tahun sebelumnya.

Meski rencana strategis pemerintah telah dimulai bertahun-tahun dengan memodernisasi pendidikan, implementasi TIK dalam dunia pendidikan belum optimal untuk meningkatkan daya serap peserta didik Indonesia akan akses terhadap konten edukasi atau peningkat-an keterampilpeningkat-an berbasis TIK. Berdasarkpeningkat-an pada data Badpeningkat-an Pusat Statistik tahun 2018 tentang Penggunaan dan Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (P2TIK), sektor pendidikan menunjukkan bahwa lebih dari 20% sekolah di Indonesia belum memiliki akses ter-hadap internet dan hanya 7,64% guru yang mengajarkan keterampilan komputer (BPS, 2018). Hal ini mengindikasikan bahwa pekerjaan rumah pemerintah untuk mempercepat pembangunan bidang pen-didikan melalui peran teknologi memerlukan perhatian serius.

Sumber: BPS (2018)

Gambar 10.1 Persentase Penggunaan dan Pemanfaatan TIK di Sekolah Berdasarkan Klasifikasi Wilayah

Gambar 10.1 menunjukkan tingginya kesenjangan penggunaan dan pemanfaatan TIK antara sekolah di perkotaan dan pedesaan yang

Buku ini tidak diperjualbelikan.

Evaluasi Digitalisasi Pendidikan ... 145

mengindikasikan sekolah perkotaan memiliki fasilitas internet yang lebih memadai dibandingkan sekolah negeri. Data di atas juga menun-jukkan bahwa pengadaan internet dan komputer di sekolah tidak menjamin peningkatan kompetensi guru bidang TIK dan pengajaran keterampilan komputer. Terlihat jelas juga bahwa hampir 90% guru di Indonesia tidak memiliki kemampuan yang cukup di bidang TIK lantaran masih minimnya guru yang mengikuti pelatihan bidang TIK.

Meskipun ada peluang meningkatkan keterampilan dengan cara lain, pelatihan terpusat dan terfokus adalah sebuah sarana penguasaan keterampilan TIK secara lebih komprehensif untuk tujuan pendidikan.

Data lain dari sumber yang sama juga menunjukkan bahwa hanya 14,43% guru SMA negeri yang telah mengikuti pelatihan pendidikan bidang TIK (BPS, 2018). Hal ini jauh tertinggal dibandingkan negara lainnya. Malaysia, contohnya, lebih dari 61% guru SMA negeri telah mengikuti pelatihan di bidang TIK (Ebrahimi & Jiar, 2018). Hal ini menunjukkan ketertinggalan yang signifikan dari guru-guru SMA negeri di Indonesia terhadap literasi TIK. Kondisi ini bertolak be-lakang dengan program pemerintah yang menjadikan guru sebagai fokus utama integrasi teknologi di kelas. Program pemerintah yang lebih baru, seperti program pelatihan pembelajaran berbasis TIK (Pembatik), juga belum memenuhi pemerataan kompetensi guru bidang TIK. Dari total 2.654.945 guru layak mengajar per 2019/2020 (BPS, 2020), hanya 1.020 dari 70.312 guru yang mengikuti pelatihan peningkatan pembelajaran berbasis TIK telah mencapai level 4 atau tahap berbagi (Kemendikbud, 2020).

Melihat kondisi ini, guru dinilai belum memiliki kemampuan optimal untuk membantu meningkatkan kemampuan digital dan literasi informasi para peserta didik. Hal ini dilatarbelakangi oleh lemahnya minat guru untuk meningkatkan keterampilan komputer dan belum meratanya pelatihan berbasis komputer yang diberikan oleh Pemerintah. Selain itu, meski pelatihan yang diberikan oleh pemerintah telah menjadi acuan dalam beberapa dekade terakhir melalui berbagai program-program yang inovatif serta menggunakan media digital, konten pelatihan tampaknya masih tidak relevan dan belum menyesuaikan dengan perkembangan zaman. 

Buku ini tidak diperjualbelikan.

Selain itu, tantangan penggunaan teknologi untuk pembelajaran daring masih sangat tinggi, di antaranya adalah lemahnya manaje-men dalam implemanaje-mentasi, kesiapan infrastruktur, serta minimnya penggunaan fasilitas-fasilitas yang tersedia di Learning Management System (LMS) untuk proses pembelajaran (Putra, 2018). Hal ini mem-buat Indonesia cenderung kurang responsif terhadap peningkatan literasi siswa di sekolah, padahal sekolah adalah pijakan awal untuk meningkatkan keterampilan berbasis TIK siswa.

Fakta di lapangan juga cukup mencengangkan dengan adanya deretan panjang problematika digitalisasi pendidikan di Indonesia, seperti disparitas literasi digital perkotaan dan pedesaan, kesenjangan kompetensi TIK sekolah swasta dan negeri, serta kesenjangan akses internet siswa dan guru. Permasalahan ini makin terlihat ketika pan-demi Covid-19 yang mengharuskan sebagian besar daerah melakukan proses pembelajaran jarak jauh (PJJ). Segudang problematika terkait digitalisasi pendidikan muncul dan menunjukkan bahwa pembelajar-an online ypembelajar-ang dilakukpembelajar-an tidak memiliki sistem ypembelajar-ang jelas. Pengamat pendidikan menilai Indonesia tidak siap menghadapi abad ke-21 (CNN, 2020). Hal ini dilatarbelakangi oleh fakta bahwa bukan hanya siswa yang belum kompeten dalam keterampilan dalam literasi dan kompetensi berbasis TIK, tetapi juga guru yang “kebingungan” dalam menghadirkan pendekatan pembelajaran yang inovatif dan efektif untuk digunakan selama pembelajaran daring.

Budaya peserta didik dalam berinteraksi dengan teknologi juga masih sebatas pendukung aktivitas dasar sehari-hari, seperti akses konten hiburan dan komunikasi. Teknologi jarang sekali digunakan untuk mengakses konten pendidikan. Hal ini juga sejalan dengan hasil survei Status Literasi Digital Indonesia yang diterbitkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) dan Katadata Insight Center yang menyatakan bahwa 39% masyarakat Indonesia tidak pernah mengakses layanan pendidikan di internet. Sebanyak 33,7% di antaranya berada pada level intensitas jarang dan sangat jarang mengakses layanan pendidikan (Kominfo, 2020).

Buku ini tidak diperjualbelikan.

Evaluasi Digitalisasi Pendidikan ... 147

B. KETIDAKMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DI DUNIA