• Tidak ada hasil yang ditemukan

Program Pendidikan dan Intervensi Pengajaran dalam

B. PENERAPAN METODE MEMBACA LANTANG OLEH ORANG TUA DI RUMAH

Kontribusi keluarga dalam perkembangan literasi anak usia dini dinilai memengaruhi kualitas pendidikan, prestasi siswa, dan pening-katan literasi. Hal ini didukung oleh pernyataan Yildirim (2009) meng gunakan data PISA 2006 dan menemukan bahwa faktor yang menentukan kualitas pendidikan di Turki adalah faktor keluarga (52%). Dari beberapa data yang telah disebutkan, ternyata peran keluarga sangat mendominasi dalam membantu mengembangkan ke mampuan literasi. Bukti yang mengelilingi hubungan positif antara keterlibatan orang tua dalam pembelajaran literasi anak-anak dan kesuksesan berbasis sekolah juga telah terbukti. Steiner (2014) menyatakan bahwa pengalaman khusus seputar membaca, terutama membacakan buku cerita untuk anak-anak dan mendiskusikan buku-buku ini, adalah peristiwa penting yang mempersiapkan anak-anak kecil untuk pembelajaran literasi berbasis sekolah.

Memang ada hubungan yang kuat antara intervensi untuk keter-libatan orang tua dan keberhasilan anak-anak di sekolah, terutama ketika program ini menargetkan seni membaca dan bahasa. Penelitian telah menunjukkan bahwa intervensi yang menawarkan pengajaran kepada orang tua tentang bagaimana mengintegrasikan kegiatan literasi berbasis sekolah telah terbukti memiliki manfaat untuk pencapaian literasi anak-anak, terutama di bidang pengembangan bahasa (Jeynes, 2012). Jeynes menemukan bahwa intervensi dalam

Buku ini tidak diperjualbelikan.

literasi keluarga membantu orang tua tetap aktif dalam belajar literasi untuk anak-anak mereka dan meningkatkan dorongan anak untuk membaca.

Fokus studi A Family Literacy Intervention to Support Parents in Children’s Early Literacy Learning yang diteliti oleh Steiner (2014) adalah intervensi literasi keluarga di mana orang tua belajar tentang cara memasukkan praktik literasi sekolah ke dalam praktik literasi rumah. Studi ini membantu untuk mendorong partisipasi orang tua yang berkelanjutan dalam pengembangan literasi anak-anak mereka dan meningkatkan efikasi diri orang tua seputar peran mereka dalam mendukung pembelajaran literasi anak-anak. Dalam studi ini, inter-vensi orang tua difokuskan pada dua peristiwa literasi: (a) membaca buku cerita karena praktik literasi awal ini berkorelasi tinggi dengan pencapaian literasi awal (Teale & Sulzby, 1986), dan (b) percakapan seputar buku cerita karena mereka telah terbukti mempromosikan perkembangan bahasa anak-anak (Jordan, Snow, & Porche, 2000).

Selama setiap sesi pelatihan, orang tua diberi: (a) petunjuk dalam menggunakan strategi membaca lantang yang efektif dan cara untuk melibatkan anak-anak mereka dalam menanggapi buku dan (b) pilihan buku anak-anak. Sesi pelatihan orang tua diadakan di sekolah agar orang tua dapat mengenal budaya sekolah. Orang tua juga secara kolaboratif memilih waktu dan hari yang sesuai dengan jadwal mereka. Untuk menciptakan lingkungan tempat orang tua da-pat berbagi pengalaman seputar pembelajaran literasi anak di rumah, semua orang tua bertemu pada waktu yang sama. Orang tua dan wali anak juga diundang oleh peneliti untuk terlibat dalam percobaan di mana mereka akan belajar bagaimana mengintegrasikan membaca buku cerita dan diskusi buku ke dalam rutinitas sehari-hari mereka.

Pada awal penelitian, orang tua di kedua kelompok diminta untuk berpartisipasi dalam membaca buku bersama anak-anak mereka yang direkam dengan audio, dan buku yang digunakan adalah buku yang sama di dua kelompok. Orang tua diberi tahu bahwa sesi membaca termasuk membaca buku cerita dan diskusi yang dilakukan orang tua dan anak setelah membaca tentang buku tersebut. 

Buku ini tidak diperjualbelikan.

Program Pendidikan dan ... 109

Buku yang dipilih untuk digunakan dalam intervensi adalah buku yang berhubungan dengan topik dan unit pembelajaran yang dipelajari siswa di sekolah. Buku-buku tersebut merepresentasikan jenis buku fiksi dan nonfiksi yang biasa ditemukan di dalam kelas, baik dengan membaca bersama, saat sesi membaca lantang, maupun di perpustakaan kelas. Buku cerita utama dan pelatihan berkelanjutan dalam teknik membaca lantang yang produktif dan cara menanggapi buku anak-anak diberikan kepada orang tua setiap minggu. Strategi yang diajarkan dapat dimasukkan ke kerangka buku cerita tertentu dan mencerminkan strategi yang digunakan dan diajarkan guru.

Berikut ini adalah daftar strategi yang ditekankan selama intervensi:

(a) membuat prediksi, (b) bertanya dan menjawab pertanyaan, (c) membuat koneksi, (d) menggunakan ilustrasi, (e) menceritakan kembali, serta (f) kembali ke teks setelah membaca.

Pada pertemuan mingguan, orang tua didorong untuk berbagi peristiwa yang diperincikan dalam format tanggapan pembaca, seperti cerita dan gambar anak-anak mereka, mendiskusikan pertemuan lite-rasi yang mereka alami dengan anak-anak mereka, dan mengomentari pentingnya peristiwa literasi tersebut dalam kehidupan anak-anak mereka. Berbagi dan diskusi dimaksudkan untuk memungkinkan orang tua mempelajari bagaimana orang tua lain memasukkan diskusi seputar buku cerita dan menggunakan strategi dasar. 

Kolaborasi sekolah dan orang tua siswa bisa menjadi metode yang efektif dalam membantu perkembangan literasi anak. Orang tua memiliki peran penting dalam keberhasilan anak dalam keterampilan literasinya. Intervensi membaca lantang tidak mustahil untuk diim-plementasikan di Indonesia, dan bisa dicoba untuk diterapkan sebagai pendukung pembelajaran literasi anak di Indonesia.

1. Penerapan Metode Membaca Lantang di Sekolah

Metode membaca lantang juga diterapkan di sekolah untuk membantu meningkatkan kemampuan literasi murid pada tingkat pendidikan dasar. Finlandia sebagai salah satu negara dengan sistem pendidikan yang maju juga menerapkan metode membaca lantang tersebut di

Buku ini tidak diperjualbelikan.

sekolah-sekolahnya. Finlandia yang kerap dijadikan percontohan sistem pendidikan, berada di peringkat ketujuh dengan skor rata-rata 520. Pada pembahasan berikut, kami akan membahas faktor-faktor yang mendukung Finlandia dalam kesuksesannya membangun sistem pendidikan literasi pada tingkat pendidikan dasar.

Pada penelitian terhadap kurikulum Finlandia (Early Literacy Practices and the Finnish National Core Curriculum, oleh Korkeamäki

& Dreher, 2011), terdapat anjuran konsep pembelajaran dengan siswa menjadi peserta aktif dalam pembelajaran mereka sendiri, baik secara individu maupun sosial. Siswa harus menjadi pemecah masalah, dan dengan bimbingan guru, membangun pengetahuan baru berdasarkan pada pengetahuan mereka sebelumnya dalam interaksi dengan teman sebayanya. Pembelajaran harus mempunyai tujuan dan berorientasi pada tujuan. Dalam membangun pengetahuan, lingkungan belajar memainkan peran sentral, hal itu harus mendorong keingintahuan, minat, dan motivasi siswa. Dengan metode seperti ini, siswa mampu memahami konsep secara menyeluruh dan mengembangkan ke-terampilan menyimaknya. Lalu, lingkungan fisik juga diperlukan, seperti bahan, alat kerja, bahan ajaran, dan layanan perpustakaan, yang semuanya harus digunakan untuk memberikan pendekatan studi yang beragam dan mendorong keterlibatan aktif siswa. 

Untuk tiap tujuan ini, tujuan yang lebih spesifik ditentukan, seperti keterampilan interaksi siswa harus berkembang sehingga mereka “belajar untuk bertanya dan menjawab pertanyaan”; siswa

“mempelajari keterampilan dasar membaca dan menulis” dan “kon-vensi teks tertulis” serta bagaimana memantau membaca dan menulis mereka; dan siswa “menjadi akrab dengan bentuk bahasa tertulis melalui mendengarkan dan membaca” sehingga meningkatkan kosa kata, ekspresi, dan imajinasi mereka, serta belajar untuk memilih buku yang menarik pada tingkat membaca yang sesuai.

Metode yang digunakan untuk mendukung pembelajaran ini adalah membaca lantang. Namun, berbeda dengan metode mem-baca lantang yang diimplementasikan di Indonesia, siswa juga diberi kesempatan untuk membaca dengan suara keras bersama seluruh

Buku ini tidak diperjualbelikan.

Program Pendidikan dan ... 111

kelompok. Dalam situasi membaca seluruh kelompok, siswa ber-giliran membaca beberapa kalimat sekaligus dan lebih sering siswa membaca secara berpasangan. Mereka juga diperbolehkan memilih tempat untuk membaca, bahkan di aula yang terdapat meja, kursi, dan sofa kecil. Kegiatan ini diamati sangat sukses dan berorientasi pada tujuan, meskipun guru tidak dapat memantau setiap pasangan membaca seketat di kelas selama membaca. Para siswa juga dapat me-negosiasikan giliran mereka untuk membaca lebih dari satu kalimat sekaligus seperti fenomena yang dilampirkan oleh Korkeamäki dan Dreher (2011) di bawah ini;

Siswa 1: Mari membaca bersama.

Siswa 2: Tidak, jangan dibaca berbarengan. Saya akan membaca keseluruhan halamannya sendiri, lalu Anda membacanya sendiri (siswa 1 setuju dan mereka membacanya).

Siswa 1: Sekarang mari bergiliran, saya akan membaca baris ini dulu, lalu Anda yang satu dan saya yang ini.

Siswa 2: Ya, ayo lakukan itu.

Persetujuan siswa tidak diterima begitu saja. Mereka bernegosiasi dan menemukan cara yang memuaskan kedua siswa. Pengamatan menunjukkan bahwa siswa tetap pada tugas dan tidak menyalahguna-kan waktu dalam membaca berpasangan, menunjukmenyalahguna-kan bahwa mem-baca berpasangan adalah cara yang efektif untuk melatih kefasihan karena memberi setiap siswa lebih banyak waktu. Pada saat yang sama, membaca berpasangan juga memberikan peluang untuk interaksi dan negosiasi teman tanpa masukan dari guru. Setelah itu, guru biasanya juga mengajukan pertanyaan pemahaman terkait cerita setelah siswa menyelesaikan bacaannya secara berpasangan. Penggunaan kegiatan drama, teater boneka, dan improvisasi juga digunakan dalam satu bagian pelajaran. 

Kurikulum Finlandia ini sudah banyak dibahas sebelumnya.

Beberapa aspek dari kurikulum Finlandia dapat dicontoh dan disesuaikan dengan kondisi di Indonesia. Guru mendorong siswa untuk lebih interaktif dalam lingkungan sosialnya dan dapat me-

Buku ini tidak diperjualbelikan.

nun taskan keterampilan menyimaknya. Hal tersebut terjadi karena pembelajaran di Finlandia berfokus agar siswa menjadi peserta aktif dalam pembelajaran mereka sendiri, baik secara individu maupun sosial.

C. PENGGUNAAN MODEL MENTAL PADA TEKS