• Tidak ada hasil yang ditemukan

Industri

Nur Musyafak

Pendidikan adalah sektor yang memiliki peran sangat penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pemberdayaan sumber daya manusia di suatu negara dapat dilakukan melalui pendidikan agar rakyatnya mau dan mampu memanfaatkan potensi diri sehingga bisa memiliki keterampilan dan pekerjaan yang sesuai dengan bidang yang diminati. Pada kenyataannya, tidak sedikit di antara mereka yang telah mengenyam pendidikan, tetapi tidak mampu masuk ke dunia kerja, apalagi menciptakan lapangan kerja. Hal ini terjadi, salah satunya, karena produk pendidikan yang tidak selaras dengan dunia kerja atau pasar tenaga kerja.

Program pendidikan vokasi (kejuruan) sebagai salah satu jenis pendidikan memiliki peran yang cukup penting dalam membangun sumber daya manusia (SDM) yang kreatif, inovatif, dan produktif. Hal ini bisa diwujudkan dengan melihat peluang apa saja yang dibutuhkan dunia industri sehingga para pemangku kebijakan pendidikan vokasi bisa membuat sebuah kurikulum yang relevan dengan kebutuhan dan perkembangan dunia industri, baik di dalam negeri maupun di

Buku ini tidak diperjualbelikan.

luar negeri. Hal ini didukung oleh pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim, sebagaimana dikutip oleh Banu (2020) pada laman harian JawaPos.com. Beliau mengatakan bahwa kurikulum pendidikan vokasi akan berfokus pada keselarasan industri. Hal ini karena industri memiliki peran pada pendidikan vokasi yaitu menciptakan kompetensi lulusan sesuai dengan kebutuhan yang mereka (industri) miliki. Menurut Supriadi (2002), pendidikan kejuruan bertujuan menghasilkan manusia yang produktif, yaitu manusia pekerja, bukan beban manusia untuk kelu-arga, masyarakat, dan bangsa.

Pemerintah melalui Peraturan No. 19 Tahun 2005, Pasal 26 ayat 3 telah mengatur Standar Pendidikan Nasional mengenai tujuan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Adapun lulusan SMK diharapkan dapat dididik untuk:

a) memasuki pekerjaan dan mengembangkan sikap profesional dalam lingkup keahlian bisnis dan manajemen;

b) mampu memilih karier serta siap bersaing dan mampu mengem-bangkan diri dalam lingkup bisnis dan manajemen;

c) menjadi tenaga kerja tingkat menengah untuk mengisi kebutuhan bisnis dan industri saat ini dan masa depan dalam bidang bisnis dan manajemen; serta

d) menjadi warga negara yang produktif, adaptif dan kreatif.

Berdasarkan pada peraturan pemerintah tersebut, pendidikan vokasi memiliki peran yang cukup strategis dalam ikut serta memberdayakan sumber daya manusia di Indonesia untuk menjadi seorang warga Indonesia yang kreatif, inovatif, produktif, dan siap memasuki dunia kerja. 

Realita yang terjadi adalah sebaliknya; masih banyak permasa-lahan yang ada pada lulusan sekolah kejuruan ataupun politeknik yang akan memasuki dunia kerja. Kualitas lulusan dari pendidikan vokasi tidak selalu memenuhi kualifikasi penyedia kerja sehingga mereka yang tidak terserap dunia kerja menambah angka jumlah pengangguran. Hal ini disampaikan oleh Kepala Badan Perencanaan

Buku ini tidak diperjualbelikan.

Program Pendidikan Vokasi ... 175

Pembangunan Bambang Brodjonegoro sebagaimana dikemukakan oleh Ambarinie (2019) pada laman Kompas.com. Beliau memaparkan bahwa tingkat pengangguran lulusan SMK lebih tinggi daripada lulusan sekolah menengah atas (SMA). Seperti halnya lulusan SMK jurusan mekanik yang melamar pekerjaan bidang mekanik juga meskipun bidang yang diambil sama dengan jurusan yang dipelajari, kenyataannya kemampuan yang dimilikinya dianggap kurang oleh pemberi kerja.

Permasalahan selanjutnya adalah lulusan pendidikan kejuruan kebanyakan mengambil jurusan yang tidak terlalu sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Seperti halnya jurusan perangkat lunak, multi-media, teknik komputer, dan sebagainya, banyak sekali lulusan sekolah kejuruan dengan jurusan tersebut, tetapi tidak ada pengembangan berkelanjutan sehingga mereka tidak mampu bersaing memasuki dunia kerja dengan berbekal jurusan yang dipelajari. 

Pendidikan kejuruan antara kota besar dan daerah masih terdapat ketimpangan. Salah satu contoh acara bursa kerja di Istora Senayan yang setiap tahun dipadati ribuan pencari kerja yang tidak hanya berasal dari Jakarta, tetapi juga dari beberapa daerah lain. Kebanyakan lulusan sekolah kejuruan di daerah akan lari ke kota besar untuk men-dapatkan pekerjaan karena ilmu yang dipelajari tidak bisa digunakan di daerah sendiri dan lapangan pekerjaan di daerah terlalu sedikit. 

Permasalahan yang terjadi pada lulusan sekolah vokasi ini bisa diselesaikan dengan kemauan dan komitmen yang kuat untuk mengu-bah pola pikir dalam menyelaraskan kurikulum, mengembangkan sistem pendidikan, dan melakukan pelatihan kejuruan. Masa sekarang ini adalah saat yang tepat untuk menyelaraskan dan mengembangkan kurikulum pendidikan kejuruan serta memperbaiki bidang-bidang yang dirasa kurang agar bisa mendidik lulusan yang memiliki kete-rampilan dan kemampuan yang dibutuhkan dunia kerja. Seperti yang dilansir oleh Muhammad (2019) pada halaman Republika, Presiden Joko Widodo menyampaikan bahwa target Indonesia emas 2045 harus disiapkan mulai sekarang dengan berfokus pada dua hal, yakni infrastruktur dan sumber daya manusia. Salah satu upaya dalam

Buku ini tidak diperjualbelikan.

membangun SDM yang andal dan unggul ialah memajukan sektor pendidikan. Apalagi, penduduk Indonesia akan mengalami bonus demografi, yaitu penduduk Indonesia akan didominasi oleh penduduk usia produktif atau usia kerja. Menyambut bonus demografi tersebut, sektor pendidikan memiliki peran yang cukup vital dalam menuju Indonesia emas tahun 2045. SDM yang unggul dan berkualitas men-jadi target dari pembangunan jangka panjang tersebut.

A. PENDIDIKAN VOKASI DAN DUNIA KERJA

Globalisasi saat ini telah mengubah kebutuhan akan pengetahuan tentang lingkungan pendidikan. Oleh karena itu, lingkungan pen-didikan dituntut untuk selalu melakukan perubahan dan beradaptasi agar dapat memenangkan persaingan. Globalisasi juga menuntut ketersediaan pekerja yang terampil, inovatif, kreatif, dan produktif untuk bisa bersaing di dunia kerja yang sebenarnya, baik secara regional, nasional, maupun internasional. 

Lembaga pendidikan seperti pendidikan kejuruan dituntut untuk menghasilkan lulusan yang siap bekerja, memiliki sikap yang baik, memiliki jiwa wirausaha, serta mempunyai kemampuan untuk bekerja di berbagai bidang yang diminatinya dan yang dibutuhkan dunia usaha dan industri (DUDI) di era sekarang ini. Lembaga-lembaga pendidikan, agar mampu berjalan secara bersamaan, harus memiliki komunikasi yang baik dengan orang-orang yang sudah terjun di dunia usaha dan industri. Lebih baik lagi jika antara keduanya bekerja sama berkomitmen mengembangkan dan membangun sumber daya manusia demi kemajuan bersama.

Lembaga pendidikan vokasi antarjenjang sebaiknya memper-timbangkan potensi serapan dunia kerja terhadap lulusan mereka.

Membuka jurusan teknik berciri keunggulan lokal dapat menjadi salah satu pendekatan yang baik. Menyerap tenaga kerja lokal dan mengembangkan kebutuhan industri lokal dapat menjadi penopang peningkatan perekonomian daerah tersebut. Kebudayaan lokal se-harusnya menjadi kekuatan dalam pembangunan yang berkelanjutan.

Sebagai contoh, pemerintah atau masyarakat dapat membuka

pen-Buku ini tidak diperjualbelikan.

Program Pendidikan Vokasi ... 177

didikan vokasi perikanan di daerah pesisir dengan potensi limpahan hasil laut. Dengan begitu, pendidikan vokasi bisa membuka peluang kerja yang lebih luas untuk lulusannya.

Menyelaraskan pendidikan vokasi dan DUDI berbasis lokal dapat menjadi salah satu solusi untuk mewujudkan mimpi dalam mene-kan angka pengangguran lulusan SMK. Para pelaku industri dapat dilibatkan dalam pengembangan kurikulum pendidikan vokasi agar siswa belajar pengetahuan dan keterampilan yang memang langsung dibutuhkan di lapangan industri. Pun terkait pengajar, para praktisi industri yang sudah berpengalaman di bidangnya dapat menjadi instruktur atau pengajar di lembaga-lembaga pendidikan vokasi, termasuk SMK. Tabel 12.1 merupakan rangkuman permasalahan yang penulis angkat dan solusi berbasis DUDI.

Tabel 12.1 Permasalahan dan Solusi Pendidikan Vokasi Permasalahan dan Solusi Pendidikan Vokasi

Permasalahan Solusi

Kemampuan siswa tidak sesuai

dengan permintaan DUDI. Pengelola lembaga bekerja sama dengan DUDI membuat kurikulum yang bisa menunjang kemampuan siswa.

Jurusan yang dipelajari tidak

sesuai dengan kebutuhan DUDI. Sebaiknya melihat kebutuhan pasar untuk membuka jurusan yang banyak dibutuhkan.

Ketimpangan pendidikan vokasi

antara kota besar dan daerah. membuka jurusan teknik berciri keunggulan lokal.

B. PENDIDIKAN VOKASI DI ERA TEKNOLOGI 

Menghadapi revolusi industri 4.0, pendidikan vokasi perlu memper-hatikan ketangkasan dan kemampuan peserta didik dalam meng-gunakan dan memanfaatkan teknologi. Paduan kemampuan manusia (human skill) dan kemampuan teknologi (technology skill) menjadi hal yang sangat diperlukan. Di samping memiliki keahlian spesifik, para lulusan juga dituntut untuk menguasai kemampuan teknologi.

Kemampuan teknologi cukup penting bagi para peserta didik yang akan memasuki dunia industri yang tidak terlepas dari pemanfaatan kerja alat berbasis teknologi seperti sekarang ini.

Buku ini tidak diperjualbelikan.

Perkembangan teknologi ini membuat pekerjaan manusia men-jadi serba digital. Sistem konvensional sudah mulai ditinggalkan oleh banyak orang. Hal inilah yang perlu diperhatikan oleh pemerintah, lembaga, pengajar, dan praktisi agar bisa membentuk para pelajar menjadi SDM yang multikompetensi dan berpengetahuan luas.

Gambar 12.1 menunjukkan korelasi penyusunan kurikulum dan kompetensi teknologi sebagaimana yang dijelaskan penulis.

Gambar 12.1 Membentuk Kemampuan Peserta Didik

Seperti halnya toko virtual yang sudah sangat populer di Indonesia tidak bisa diabaikan begitu saja. Sistem teknologi yang digunakan di beberapa bidang industri membuat pelaku dunia kerja merasa lebih mudah dan praktis sehingga ketika mereka akan mencari karyawan mungkin akan menjadikan kemampuan teknologi sebagai nilai tambah lembaga pendidikan vokasi sehingga juga harus mema-sukkan perkembangan teknologi pada kurikulumnya. Jika tidak, para peserta didik hanya terpaku menggunakan sistem konvensional dan sulit bersaing ketika akan memasuki dunia kerja. Tenaga pendidik, pengelola lembaga, dan unsur terkait pendidikan vokasi ketika sudah memasukkan kemampuan teknologi pada kurikulum harus mampu mengikuti pesatnya perkembangan teknologi di era sekarang ini.

Menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan teknologi bisa dilakukan dengan bekerja sama antarpihak seperti lembaga vokasi lainnya, pemerintah, pelaku industri, dan lembaga terkait di luar Indonesia. Penyesuaian kurikulum dengan melibatkan beberapa pihak sudah dilakukan oleh universitas di China yang setiap tahun mengadakan diskusi pada Forum on Development of China-Indonesia

Buku ini tidak diperjualbelikan.

Program Pendidikan Vokasi ... 179

People-To-People. Diskusi ini bertujuan mengembangkan hubungan kerja sama Indonesia dan Tiongkok, khususnya di bidang pendidikan dan budaya. Diskusi pada 2020 dalam forum tersebut membahas pendidikan vokasi di Indonesia dan Tiongkok yang diadakan secara daring. Kegiatan seperti ini perlu dilakukan oleh lembaga pendidikan vokasi di Indonesia agar terus memperbarui kurikulum pembelajaran, terutama kaitannya dengan pengembangan kemampuan teknologi peserta didik.

Tantangan bagi pengelola lembaga pendidikan dan para guru di sisi lain adalah melatih kemampuan teknologi peserta didik. Implikasi era industri 4.0 bagi pendidikan vokasi dengan demikian tidak hanya mencetak SDM unggul yang dapat bersaing dengan perkembangan teknologi, tetapi juga membuka peluang besar bagi lulusan sekolah vokasi untuk dapat bersaing di era industrial tersebut.

C. RELEVANSI DAN IMPLEMENTASI KURIKULUM Billett (2011) mengemukakan bahwa kurikulum adalah dokumen yang dikembangkan dalam bentuk tertulis serta digunakan untuk merencanakan dan mengatur pengalaman yang akan dikelola untuk pembelajaran peserta didik. Oleh karena itu, kurikulum pendidikan vokasi harus lebih menonjolkan karakteristik pendidikan kejuruan yang terpampang dalam beberapa aspek yang memiliki hubungan erat dengan kurikulum. Secara keseluruhan, kurikulum yang digunakan dalam pendidikan kejuruan telah menampakkan keberhasilannya dengan berorientasi pada proses pembelajaran dan hasil lulusannya.

Terkait keberhasilan kurikulum, Oemar (2007) mengemuka-kan bahwa pendidimengemuka-kan vokasi tidak hanya diukur dengan keber-hasilan pendidikan peserta didik di sekolah, tetapi juga dilihat dari pengembangan kurikulum. Kurikulum dianggap berhasil apabila secara berkala disesuaikan dengan kebutuhan industri yang terus berkembang. Pengembangan kurikulum dalam pendidikan vokasi dilaksanakan untuk menjadikan pendidikan selalu selaras dengan perkembangan DUDI.

Buku ini tidak diperjualbelikan.