• Tidak ada hasil yang ditemukan

Program Pendidikan dan Intervensi Pengajaran dalam

D. QUESTION-ANSWER RELATIONSHIP (QAR) UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN

4. Tahap 4: QAR dengan contoh pertanyaan teks

Untuk tahap akhir dari intervensi, QAR digunakan untuk mengklasi-fikasikan pertanyaan pada tes membaca standar. Hal ini dilakukan dengan memberikan formulir tes akhir yang dirilis untuk dilakukan oleh siswa serta memberikan klasifikasi pertanyaan dan konsep QAR terkait yang digunakannya dengan memberi label pada pertanyaan dengan singkatan konsep (misalnya DS untuk “Di Sana”, P&C untuk

“Pikirkan dan Cari”, P&A untuk “Penulis dan Anda”) dan memung-kinkan mereka menjawab pertanyaan dengan benar sesuai dengan konsep yang diajarkan sebelumnya.

Metode QAR ini sangat menarik untuk meningkatkan pemaham-an membaca siswa. Namun, metode ini terbilpemaham-ang kompleks untuk dipahami siswa dasar. Oleh karena itu, guru wajib memahami konsep QAR secara menyeluruh agar tahap 1 dalam metode QAR dapat di-jalani dengan baik. Dalam penjelasan metode QAR (Tahap 1), guru dapat menggunakan grafik atau peta pikiran (mind-mapping) untuk memudahkan siswa dalam memahami metode. Guru juga harus menyesuaikan tingkat kesulitan teks dan pertanyaan sesuai dengan kemampuan atau tingkat pendidikan siswa. Contohnya; untuk siswa SD, guru harus memilih teks sederhana dan didukung oleh gambar yang relevan agar membantu siswa dalam memahami. Jika pendekatan ini digunakan di sekolah menengah, guru dapat memilih teks yang biasa diterapkan pada kehidupan siswa sehari-hari. Hal tersebut akan menarik perhatian mereka dan memungkinkan mereka dengan mudah menautkan konten bacaan ke pengalaman mereka sendiri.

Proses “Di Dalam Kepala” menstimulasi siswa untuk mengeksplor

Buku ini tidak diperjualbelikan.

konten bacaan lebih jauh dalam keadaan minat yang tinggi karena siswa memiliki pengalaman yang relevan dengan teks terkait. Teks yang bisa digunakan adalah teks yang relevan dengan pelajaran terkait yang sedang dipelajari. Melalui cara tersebut, siswa dapat menambah pemahaman tentang topik pembelajaran terkait.

E. REKOMENDASI

Untuk menyimpulkan, menjadi mahir dalam memahami bacaan merupakan tujuan penting dari pendidikan dasar. Pemahaman membaca, bagaimanapun, adalah proses yang kompleks dan mem-butuhkan beberapa keterampilan kognitif yang lebih tinggi (Nouwens dkk., 2021). Intervensi pengajaran yang telah dibahas di atas dapat dijadikan salah satu usaha dalam peningkatan kemampuan literasi anak di Indonesia demi memajukan Indonesia menjadi lebih baik karena anak yang sudah menguasai kemampuan literasi sejak dini akan menjadi seorang pembelajar sepanjang hidupnya, juga memberi dampak kemajuan literasi dalam menyongsong generasi emas 2045.

REFERENSI

Green, S. (2016). Two for one: Using QAR to increase reading comprehension and improve test scores. The Reading Teacher, 70(1), 103–109. https://

www.jstor.org/stable/44001410.

Jeynes, W. (2012). A meta-analysis of the efficacy of different types of parental involvement programs for urban students. Urban Education, 47, 706–742. https://doi.org/10.1177/0042085912445643.

Jordan, G. E., Snow, C. E., & Porche, M. V. (2000). Project EASE: The effect of a family literacy project on kindergarten students’ early literacy skills. Reading Research Quarterly, 35(4), 524–546. https://www.jstor.

org/stable/748097.

Korkeamäki, R. L., & Dreher, M. J. (2011). Early literacy practices and the Finnish national core curriculum. Journal of Curriculum Studies, 43(1), 109–137. https://doi.org/10.1080/00220271003801959

Nouwens, S., Groen, M. A., Kleemans, T., & Verhoeven, L. (2021). How executive functions contribute to reading comprehension. British Journal of Educational Psychology, 91, 169–192. https://doi.org/10.1111/

bjep.12355.

Buku ini tidak diperjualbelikan.

Program Pendidikan dan ... 119 Oakhill, J., Cain, K., & Elbro, C. (2014). Understanding and teaching reading

comprehension: A handbook. Routledge.

OECD. (2018). PISA 2018 results in focus. Programme For International Student Assessment. https://www.oecd.org/pisa/publications/pisa-2018-results.htm.

Rousselle, J. (2011). Baltic rescue. Tucson, AZ: Learning A-Z.

Steiner, L. M. (2014). A family literacy intervention to support parents in children’s early literacy learning. Reading Psychology, 35(8), 703–735. 

Teale, W. H., & Sulzby, E. (1986). Emergent literacy: Writing and reading.

Ablex. 

UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization).

(2003). UN decade of education for sustainable development 2004–2005.

Yildirim, M. K. (2009). PİSA 2006 verilerine gore Turkiye de egitimin kalitesini belirleven temel faktorler. Türk Eğitim Bilimleri Dergisi Bahar 2012, 10(2), 229–255.

Buku ini tidak diperjualbelikan.

Buku ini tidak diperjualbelikan.

121

BAB IX

Program Pendidikan dan Intervensi Pengajaran dalam Usaha Meningkatkan Kemampuan Numerasi Antarjenjang di Indonesia

Sary Matualesy

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menetapkan target-target untuk memajukan kesejahteraan dan kemakmuran bangsa-bangsa di dunia yang dituangkan dalam Agenda 2030 Pembangunan yang Berkelanjutan (United Nations, t.t.). Dalam Agenda 2030 Pembangun-an BerkelPembangun-anjutPembangun-an tersebut, terdapat 17 TujuPembangun-an PembPembangun-angunPembangun-an Berkelanjutan (TPB) yang menjadi kerangka acuan pemerintah dari negara-negara anggota PBB dalam melakukan pembangunan di negara masing-masing. 

Salah satu tujuan TPB yaitu tujuan ke-4, menyatakan untuk me wujudkan kualitas pendidikan yang setara dan inklusif serta men-dukung kesempatan memperoleh pendidikan yang berkelanjutan bagi individu (United Nations, t.t.). Tujuan TPB yang ke-4 tersebut kemu-dian lebih dipertajam pada bagian 4.6, yaitu mewujudkan proporsi yang seimbang pada generasi muda dalam kemampuan literasi dan numerasi, baik laki-laki maupun perempuan. Di masa mendatang, pencapaian tujuan 4.6 tersebut dapat dilihat melalui indikator TPB 4.6.1, yang berupa persentase populasi laki-laki dan perempuan

Buku ini tidak diperjualbelikan.

dalam kelompok umur tertentu yang dapat mencapai tingkat standar kecakapan dalam kemampuan (a) literasi dan (b) numerasi.

Kemampuan berhitung, atau disebut juga dengan kemampuan numerasi, adalah kemampuan individu untuk menggunakan prinsip matematika dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan numerasi mencakup kemampuan dalam menginterpretasikan data, grafik dan diagram, memproses informasi, menyelesaikan persoalan, memeriksa jawaban, memahami dan menjelaskan suatu solusi, serta membuat keputusan berdasarkan pada penalaran dan pemikiran yang logis (National Numeracy, 2018).

Kita menggunakan kemampuan numerasi hampir di setiap situasi dalam kehidupan kita. Sebagai gambaran, kita menggunakan kemam-puan numerasi di pekerjaan (mengukur, menimbang, menggunakan lembar data, dan memahami data), kehidupan sehari-hari di dalam ataupun di luar rumah (memperkirakan berapa lama perjalanan yang akan kita tempuh, membayar tiket, dan menakar bahan resep), sebagai konsumen (memperkirakan berapa banyak kita berhemat dengan diskon 20%, menghitung uang kembalian, dan memperkirakan berapa memberi tip pada ojek online), pengelolaan keuangan (menyusun ang-garan bulanan keluarga, memahami bunga kartu kredit, memahami implikasi finansial ketika meminjam uang ke bank, dan memperkira-kan berapa uang asuransi yang harus dibayar untuk dana pensiun), sebagai orang tua (membantu anak menyelesaikan pekerjaan rumah dari sekolah, bermain board-games dengan anak), sebagai pasien ke-tika mengelola informasi kesehatan (mengelola pengaturan makanan dan nutrisi, membuat janji temu dengan dokter, mengukur dosis obat yang dikonsumsi), serta sebagai penduduk ketika memahami dunia sekitar kita (memahami informasi data statistik kependudukan dan grafik yang disiarkan berita, memahami informasi mengenai anggaran pemerintah).

Ketika kita melihat betapa besar dampak kemampuan numerasi dalam kehidupan keseharian kita, tidaklah mengherankan jika PBB menjadikan kemampuan numerasi sebagai salah satu dari target pembangunan yang berkesinambungan di setiap negara di dunia.

Buku ini tidak diperjualbelikan.

123 Program Pendidikan dan ...

PBB sebagai organisasi dunia sangat peduli terhadap pengembangan kesejahteraan dan kemakmuran manusia di dunia. Pertanyaannya sekarang adalah apakah Indonesia memiliki program pendidikan yang secara khusus membangun kemampuan numerasi yang langsung ber-sentuhan dengan aspek-aspek kehidupan sehari-hari penduduknya?

Indonesia merupakan negara yang berada pada urutan ke-4 pada 2020 dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia, yaitu 267 juta jiwa. Berdasarkan pada jumlah tersebut, dapat kita bayangkan betapa besarnya sumber daya manusia Indonesia. Kemampuan numerasi bukan hanya melibatkan pengetahuan terhadap angka atau pelajaran matematika yang perhitungannya rumit. Kemampuan numerasi ada-lah keterampilan praktis yang bisa dipelajari, dibuatkan standardisasi, dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Keterampilan numerasi pada individu bisa dibangun melalui program pendidikan yang tepat sasaran sesuai dengan kebutuhan rakyat Indonesia.

A. PENYUSUNAN PROGRAM PENDIDIKAN UNTUK