PENGEMBANGAN SISTEM
C. Pengumpulan Data SIPD
2. Evaluasi terpadu data SIPD
Evaluasi ini dilakukan secara bersama-sama oleh Tim Pengelola SIPD Provinsi, kabupaten/kota diwilayah Provinsi terkait. Adapun fokus utama evaluasi terpadu terdiri dari :
a. Sinkronisasi Data
Fokus utama dalam telaah sinkronisasi data adalah untuk melihat sejauh mana data antarkabupaten/kota tidak saling bertentangan. Selain itu fokus sinkronisasi data juga untuk mengevaluasi sejauh mana data kabupaten/kota sesuai dengan data di tingkat provinsi. Jika terjadi perbedaan data, forum evaluasi terpadu menyepakati data mana yang akan digunakan dengan memperhatikan definisi
48
operasional data, validitas data dan instansi yang berwenang mengeluarkan data terkait.
b. Validitas data
Fokus ini untuk mengevalasi sejauh mana data yang sudah diisi kedalam aplikasi SIPD adalah data yang valid. Pengujian validitas data adalah antara lain dilakukan antara lain dengan cara :
1) Melihat metode pengumpulan data
Perbedaan data sering terjadi karena perbedaan metode pengumpulan data. Secara umum, untuk data dasar metode pengumpulan data yang dianggap paling sahih adalah sensus, karena metode pengumpulan data ini tidak mengenal tingkat deviasi.
2) Memperhatikan definisi operasional data
Perbedaan definisi juga sering menimbulkan perbedaan data. Sebagai contoh, perbedaan definisi tentang penduduk, yang mengakibatkan perbedaan data jumlah penduduk di beberapa intansi.
3) Kewenangan mengeluarkan data
Aspek lain yang perlu diperhatikan dalam melinai vaiditas data adalah kewenangan terkait data dimaksud. Contoh, untuk ata pendidikan instansi yang berwenang
49
mengeluarkan data tersebut biasanya adalah SKPD yang menangani urusan dibidang pendidikan.
Setelah dilakukan evaluasi terpadu data SIPD, Tim Pengelola SIPD Provinsi, Kbupaten/Kota melakukan perubahan dan pemukhtahiran data dalam aplikasi SIPD, sesuai kesepakatan dalam rapat evaluasi terpadu. Data dalam aplikasi ini selanjutnya dicetak dan ditandatangani oleh kepala daerah provinsi maupun kabupaten/kota sebagai data yang sahih dan dikirim ke Tim Pengelola SIPD Nasional.
DATA DITANDATANGANI OLEH KEPALA DAERAH ATAU YANG MEWAKILI DAN
DIKIRIM E TIM PENGELOLA SIPD NASIONAL
EVALUASI PENGUMPULAN DATA (masing-masing Tim Pengelola SIPD)
EVALUASI TERPADU (bersama-sama oleh tim pengelola SIPD)
PERUBAHAN DAN PEMUKHTAHIRAN DATA (masing-masing Tim Pengelola SIPD)
50 2.2 Penelitian Terdahulu
Sebagai bahan pertimbangan dalam penelitian ini, dicantumkan hasil penelitian terdahulu yang pernah peneliti baca sebelumnya hampir sejenis dengan penelitian ini. Penelitian terdahulu bermanfaat dalam mengolah atau memecahkan masalah yang timbul dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 Tahun 2014 Tentang Sistem Informasi Pembangunan Daerah (SIPD) Studi Kasus di Bappeda Kota Serang. Walaupun lokusnya dan masalahnya tidak sama persis tapi sangat membantu peneliti menemukan sumber-sumber pemecahan masalah penelitian ini. Berikut hasil penelitian yang peneliti baca.
Pertama, Penelitian yang dilakukan oleh Rizki Ilhami(2013) Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa dalam
Skripsinya yang berjudul “Implementasi Sistem Informasi Data Perencanaan
Pembangunan (SIDARENBANG) di Bappeda Kota Tangerang”. Dalam penelitian
ini masalah yang ditemukan dalam implementasi sidarenbang yaitu terdapat kendala-kendala dalam perkembangan dan pelaksanaannya. Salah satunya Ketepatan waktu dalam pelaksanaan sidarenbang yang tidak berjalan sesuai mekanisme yang telah di jadwalkan sehingga menghambat dalam proses entrying data untuk pembangunan kota tangerang. Sehingga ketersediaan data dan informasi kurang up to date. Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teori George C. Edward III yaitu komunikasi, sumber daya, disposisi, strukutur birokrasi. Adapun dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode penelitian kuantitatif. Kesimpulan dari penelitian yang berjudul “Implementasi Sistem
51
Informasi Data Perencanaan Pembangunan (SIDARENBANG) di Bappeda Kota
Tangerang” belum berjalan baik seperti yang di harapkan.
Kedua, Penelitian yang dilakukan oleh Rosmalasari(2016) Mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa dalam Skripsinya yang berjudul “Implementasi Sistem Informasi Perencanaan
Pembangunan Daerah (SIPPD) di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
(BAPPEDA) Kota Tangerang” dalam penelitian ini masalah yang ditemukan
dalam penelitian Implementasi SIPPD yaitu terdapat kendala-kendala dalam pelaksanaannya seperti tingkat pemanfaatan dokumen output yang belum maksimal, kurangnya kompetensi aparatur perencana, sarana dan prasarana aparatur belum memadai, koordinasi antara pihak pengelola dengan pengguna yang belum maksimal, minimnya kepatuhan SKPD terhadap prosedur dan fitur yang terbatas terhadap masyarakat luas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kualitatif deskriptif yang dianalisis dengan menggunakan teori Implemetasi menurut Van Metter Varn Horn. Adapun hasil penelitian menunjukan belum optimalnya Implementasi SIPPD di BAPPEDA Kota Tangerang karena keenam indikator teori belum diterapkan secara maksimal, diantaranya ukuran dan tujuan kebijakan, sumberdaya, karakteristik agen pelaksana, kecenderungan agen pelaksana, komunikasi antar organisasi dan lingkungan ekonomi, sosial serta lingkungan politik.
52 2.3 Kerangka Pemikiran Penelitian
Menurut Sugiyono (2008:60), kerangka berfikir adalah sintesa tentang hubungan antar variabel yang disusun dari berbagai teori yang telah di deskripsikan. Dan berdasarkan teori-teori yang telah di deskripsikan, selanjutnya dianalisis secara kritis dan sistematis sehingga menghasilkan sintesa tentang hubungan antar variabel yang diteliti. Sementara, Uma Sekaran (dalam Sugiyono, 2008:65) mengemukakan bahwa: “Kerangka berfikir merupakan model
konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang
telah diidentifikasikan sebagai masalah yang penting.”
Selama peneliti melakukan penelitian, peneliti memperoleh data dan informasi melalui pengamatan dan observasi langsung ke lapangan serta melakukan wawancara kepada pihak yang bersangkutan dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Tahun 2014 tentang Sistem Informasi Pembangunan Daerah (SIPD) di Bappeda Kota Serang. Dalam hal ini, berdasarkan identifikasi masalah dan teori-teori yang ada terkait dengan Implementasi Pelaksanaan Peraturan Menteri Dalam Negeri Tahun 2014 tentang Sistem Informasi Pembangunan Daerah (SIPD) di Bappeda Kota Serang, maka peneliti membuat kerangka berpikir sebagai berikut:
53
Gambar 2.3 Kerangka Berfikir
(Sumber: Peneliti, 2016) PROSES
Model Implementasi kebijakan George C. Edward III dalam Agustino (2006:149), yaitu : 1. Komunikasi
2. Sumberdaya 3. Disposisi
4. Struktur Birokrasi
Hasil (Output)
Untuk mengetahui bagaimana Implemenentasi Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 Tahun 2014 Tentang Sistem Informasi Pembangunan (SIPD) di Bappeda Kota Serang. Implementasi Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 Tahun 2014
Tentang Sistem Informasi Pembangunan Daerah (SIPD) di Bappeda Kota Serang.
INPUT Masalah :
1. Kurang lengkapnya data-data pembangunan didaerah dan OPD/Instansi yang terkait serta jarangnya data-data diperbaharui
2. Belum optimalnya dalam pendistribusian data di OPD/Instansi yang tersebar, sehingga kurang validnya data
3. Kurangnya koordinasi antara Bappeda dengan OPD/Instansi yang terlibat serta kurangnya Fasilitas yang memadai
4. Rendahnya dari segi keterisian data sehingga data sering dianggap kurang real time/akurat
5. Penyediaan data dan informasi pembangunan (dalam hal ini aplikasi SIPD) belum menjadi prioritas utama dalam anggaran.
54 2.4 Hipotesis Penelitian
Perumusan hipotesis penelitian merupakan langkah ketiga dalam penelitian, setelah peneliti mengemukakan landasan teori dan kerangka berpikir. Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan.Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta yang empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data (Sugiyono, 2008:64).
Pada penelitian ini hipotesis yang digunakan peneliti adalah hipotesis deskriptif. Hipotesis deskriptif merupakan pernyataan berkenaan dengan keadaan atau status dari suatu variabel atau lebih tanpa membandingkan dan membuat hubungan diantara variabel tersebut. Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari hipotesis dua arah yaitu Hipotesis alternatif dan Hipotesis nol. Dengan demikian, hipotesis didalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Hipotesis Alternatif (Ha), yaitu hipotesis yang dinyatakan dalam kalimat positif
Ha = > 70%
Ha = “Pelaksanaan Implementasi Peraturan Menteri Dalam Negeri Tahun 2014 tentang Sistem Informasi Pembangunan Daerah (SIPD) Studi Kasus di Bappeda Kota Serang paling rendah 70%”
Hipotesis Nol (Ho), yaitu hipotesis yang dinyatakan dalam kalimat negatif
55
Ho = “Pelaksanaan Implementasi Peraturan Menteri Dalam Negeri Tahun 2014 tentang Sistem Informasi Pembangunan Daerah (SIPD) di Bappeda Kota Serang paling tinggi atau sama dengan 70%”
Melihat dari dua hipotesis tersebut, maka peneliti mengambil salah satu hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini yaitu:
Ho = ≤ 70%
Ho = “Pelaksanaan Implementasi Peraturan Menteri Dalam Negeri Tahun 2014 tentang Sistem Informasi Pembangunan Daerah (SIPD) di Bappeda Kota Serang paling tinggi atau sama dengan 70%”
56 BAB III