• Tidak ada hasil yang ditemukan

Apakah kita diciptakan dalam gambaran Tuhan sebagaimana Bibel menjelaskan hal itu? Atau apakah ini seputar jalan lain, sebagaimana perkataan orang ateis? Pertanyaan ini muncul atas kajian mengenai evolusi manusia, dan hal itu tidak pernah lupa untuk memutuskan pembicaran singkat yang baik mengenai agama. Jawablah teka-teki mengenai ayam atau telur dan semua orang tertawa-tawa. Bagaimanapun juga, agama bukanlah persoalan yang ditertawakan. Sekedar jawaban apakah Tuhan atau manusia yang datan pertama kali, dan orang-orang akan menjawab sampai muka mereka merah. Ini jelas bahwa itu adalah persolaan pertanyaan, dan banyak persolan.

Toh bagaimanapun juga dunia kita terjadi seperti ini kan? Bibel memberikan satu versi. Biologi modern mengatakan yang lain. Persetujuan antara dua hal tersebut pertama sekilas kelihatan tidak mungkin. Akan tetapi pandangan

47 yang dalam memperlihatkan bahwa sains dapat mendorong pemikiran yang segar mengenai Tuhan dan penciptaan.

Dalam pembukaan kejadian Bibel, Tuhan bermain peran utama mengenai Pencipta ―dalam permulaan‖. Menuruit para ahli tulisan dalam kejadian keenam, sesuatu mulai muncul dalam tingkatan perintah Tuhan. Yang pertama cahaya, kemudian hujan dan sungai, lautan daratan dan tumbuhan, matahari dan bulan, burung dan ikan. Binatang buas dan manusia menjadi tertinggi yang tidak punya pekerjaan, lantas Tuhan mengistirahatkan mengambil Sabbath Day. Itulah sejarah agama, bagi Yahudi dan Kristen.

Akan tetapi hari ini terdapat sejarah penciptaan yang berbeda. Sejarah evolusi menyatakan pada kita bahwa hal itu tejadi dengan cara yang berbeda. Tidak ada sesuatu yang muncul tiba-tiba pada perintah sang Pencipta. Malahan, sesuatu itu terbentuk lebih dari jutaan generasi, berkembang secara perlahan-lahan dari benetuk yang kuno yang tidak ada mengelililinginya. Tumbuhan dan binatang hanya sekedar berevolusi-termasuk manusia.

Beberapa orang lantas mencoba untuk menambahkan itu, yang pada akhirnya semua, diatas panggung datanglah Tuhan--penemuan manusia diatas persamaan yang sama dengan roda, bajak dan babi domestik. Semua penemuan memenuhi kebutuhan, dan salah satu telah memenuhi kebutuhan bagi para sekutu untuk mengkontrol kekuatan alam--badai, gempa bumi, dan kelaparan.

Pada jalan ini, muncullah dikotomi kita: Apakah Tuhan itu terdapat ―dalam permulaan,‖ atau pada akhir dari proses? Saya yakin ada jalan tengah.

Evolusi adalah gagasan ilmuan Alfred Russel dan Charles Darwin pada abad 19. Pada suatu saat gambaran sederhana mengenai perjuangan untuk‖keberlangsungan hidup yang cocok‖ adalah pikiran yang terbaik untuk memahami evolusi. Akan tetapi sekarang, ilmuan mengetahui sesuatu itu bekerja jauh lebih tajam. Mereka melihat aturan kerjasama, bukanlah kompetisi sendiri, sebagaiaman kunci dari cara kerja evolusi.

Istilah lama kerjasama—memang istilah lama, mengatakan ribuan tahun, memunculkan sesuatu yang disebut ―co-evolusi‖. Ini terjadi ketika dua spesies--angrek dan lebah misalnya--tinggal bersama-sama melampui banyak generasi

48 yang masing-masing menolong membentuk jalan untuk melihat yang lain. Ini sangat menakjubkan untuk melihat bagaimana didalamnya anugerah bunga anggrek yang sekitarnya sempit hanya lebah saja yang dapat menyerbukinya. Tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Seandainya di pola, dua spesies ini secara sempurna cocok satu sama lain, seperti tangan dan sarung tangan. Sisi luar Lebah adalah ‗gambaran‘ gambaran sisi dalam dari angrek, meski hal ini bukanlah bagaimana sesuatu itu terlihat beribu-ribu tahun yang lalu.

Jadi yang mana hadir pertama kali, angrek atau lebah? Jawabannya adalah dua-duanya! Mereka ―tumbuh‖ bersama, berevolusi bersama-sama. Seperti ini: lebah adalah ―pencipta‖ dari anggrek favoritnya. Dan sebaliknya sama-sama benar: bunga ―diciptakan oleh lebah favoritnya. Ini adalah contoh ―sistem pemikiran‖ baru dalam biologi.

Pemikiran baru ini menganjurkan pemecahan dengan menghindari Tuhan dan manusia, dan siapa yang menciptakan siapa, dan dalam gambaran siapa. Dapatkan hal itu menjadikan Tuhan dan manusia berco-evolusi? Dapatkah hal itu menjadi bahwa hubungan dekat mereka adalah buah dari istilah yang lama--benar-benar istilah lama—yaitu kerjasama? Semacam pertanyaan yang dapat membuka perbincangan yang segar dan menarik antara orang-orang beriman dalam penciptaan dan orang-orang yang percaya pada evolusi.

Penemuan baru dalam sains seringnya dapat melicinkan tonggak ujung pemahaman kita tentang Tuhan. Co-evolusi dari anggrek dan lebah menjelaskan bahwa Tuhan dan manusia mungkin menjadi pencipta satu sama lain. Tidak ada yang memeiliki monopoli dalam kekuatan kreatif. Tidak ada yang mempunyai klaim eksklusif untuk menjadi ―makhluk‖.

Ini juga menjelaskan bahwa Tuhan dan Manusia membutuhkan satu sama lainnya. Lebah membutuhkan minuman segar angrek sebagai makanan tetapi apa yang dilunasi dari hubungan pertemanan bagi angrek? Baik jika bagian bunga diatur menjadi demikian, lebah harus mnyeberangi melalui serbuk sari untuk mendapatkan minuman segar. Lebah yang berdebu selanjutnya menyikat serbuk sari pada bagian bunga betina pada pemberhentian minuman segar selanjutnya. Dan bingo! Terjadilah penyerbukan.

49 Jadi hal itu mungkin bahwa Tuhan membutuhkan tangan dan suara manusia untuk membawa harapan ilahi bagi dunia. Hal ini mungkin bahwa manusia membutuhkan ―pandangan luas‖ Tuhan dan kebijaksanaan yang memperhatikan keadilan dan kedamaian, keseimbangan dan keindahan, kehidupan dan kematian.

Lebah dan anggrek terlihat berbeda pada masa lalu, sebelum pernikahan mereka ―jutaan tahun‖. Hal yang sama yang mungkin dikatakan untuk Tuhan dan manusia. Mungkin ―Tuhan yang awal‖ tidak diperhatikan dalam urusan manusia yang kembali kepada masa dulu. Mungkin nenek moyang kita pada masa kabut sebelum manusia hanyalah sekedar kesadaran yang suram dari Tuhan secara keseluruhan.

Melihat pada masa depan hanya sekedar membangkitkan minat. Lama memperlihatkan bahwa banyak spesies terus berco-evolusi untuk menjadi lebih baik cocok satu dengan yang lainnya. Beberapa patner menjadi benar-benar tergantung pada satu dengan yang lainnya untuk tetap hidup. Kita hanya dapat berspekulasi pada bagaimana Tuhan dan manusia mungkin bekerja bersama-sama dalam hubungan evolusi mereka dimasa depan.

Barbara Smith-Moran direktur utama pada Center for Faith and Science Exchange pada Boston Teological Institut di Boston, Massachusetts; pelatihannya adalah pada kimia dan biologi, dan ia mendapoatkan MA pada bidang astronomi. Smith-Moran ditasbihkan menjadi pendeta keuskupan dan ia adalah ketua bersama pada Episcopal Curch Working Group on Science, Technology,and Faith.

Dokumen terkait