Fraser Watts Apakah anda pernah mendapatkan pengalaman keagamaan?, jika benar demikian, apa yang anda fikirkan dalam benak/otak anda pada saat itu? Jika para ilmuan mampu memberitahukan pada kita bagaimana proses otak dapat terkait dengan pengalaman keagamaan, akankah berarti bahwa pengalaman tersebut adalah tidak syah?. Banyak orang seakan berfikir bahwa pengetahuan tentang bagaimana proses otak terkait dengan hal tersebut akan menunjukkan bahwa pengalaman keagamaan adalah gerakan sederhana dari sel syaraf dalam otak. Akan tetapi hal itu tidak akan menunjukkan segala-galanya.
Otak terkait dan terlibat dalam setiap pengalaman yang kita miliki, sebagai contoh, ketika para ilmuan membuat beberapa penemuan. Akan tetapi penemuan-penemuan ilmiah tidaklah kurang tepat untuk mengetahui apa yang telah terjadi
108 didalam otak para ilmuan tersebut, orang yang membuatnya. Tapi anda mungkin mengatakan, bukankah agama itu berbeda? Kita biasanya menganggap bahwasanya pengalaman keagamaan datang dari luar diri kita, yaitu dari Tuhan. Bisakah ia digantikan hanya dengan gerakan dalam otak? Ya, ia bisa-akan tetapi itu tidak terlalu penting. Mengetahui bagaimana otak terkait dengan pengalaman keagamaan tidaklah menyelesaikan sesuatu dengan satu jalan atau yang lain.
Akan tetapi akankah kita selalu berangkat menuju keterangan yang sangat sederhana ketika kita bisa? Jika kamu bisa menjelaskan tentang pengalaman keagamaan hanya dengan menggunakan istilah dari proses otak, apakah hal itu lebih baik daripada memohon dengan khusyu‘ kepada Tuhan? Sekali lagi hal ini tidaklah penting. Didalam ilmu alam, bagusnya, teori sederhana seringkali menjadi benar. Tidak dengan manusia. Kita memang sangat komplek sehingga teori sederhana tentang kita biasanya menjadi salah. Ketika suatu kebenaran adalah komplek/bermacam-macam, kamu membutuhkan bermacam-macam teori.
Apakah disana ada banyak alasan untuk berfikir bahwa Tuhan berada dibelakang pengalaman keagamaan? Daya tarik akal didalam kepercayaan kepada Tuhan adalah bahwa ia membuat pengertian yang masuk akal dari jajaran luas dari sesuatu yang berbeda. Ia menawarkan satu kesatuan penjelasan untuk, mengatakan, kesuburan alam yang mengherankan, pengakuan dari pemimpin keagamaan seperti Jesus, dan untuk kekuatan pengalaman keagamaan. Hal itu bukan alasan akhir yang mematikan, tapi ia adalah paling tidak sebagai cara logis untuk melihat kepada sesuatu.
Teori tertentu yang digemari terhadap peranan akal didalam pengalaman keagamaan yang menghubungkannya dengan penyakit ayan (epilepsy). Beberapa orang telah mengakui bahwa bagian dari ―Temporal lobes‖ yang bertanggung jawab terhadap epilepsy juga ― God spot‖ . hal ini adalah teori yang sudah usang, tapi bukti tentang itu adalah lemah.
Satu pengakuan adalah bahwa pengalaman-pengalaman keagamaan adalah cukup seperti pengalaman pada serangan epilepsy. Ya, disana ada beberapa persamaan, seperti pendapat bahwa dunia dalam kesehariannya adalah tidak benar-benar ―nyata‖. Meskipun disana juga ada perbedaan-perbedaan yang besar.
109 Seperti contohnya, pengalaman epilepsy biasanya sedikit menghawatirkan, mengingat pengalaman keagamaan membawa rasa ketenangan dan cita-cita yang seringkali menemani manusia dalam kehidupan. Patokan yang lain dari teori tentang epilepsy ini adalah bahwa orang yang menderita epilepsy dianggap mengalami kejadian mistis yang tidak semestinya. Pada awalnya hal ini memang benar, tapi penelitian yang lebih berhati-hati telah tidak mendukungnya.
Walaupun kelemahan dari bukti tentang hal itu, teori tentang epilepsy ini perlahan mati. Ia datang kembali didalam buku baru, Phantoms of the Brain, yang dikarang oleh ilmuan Amerika, V.S. Ramachandran. Tertulis pad headline, tapi bukti barunya hanya bahwa dua orang pasien yang mempunyai keduanya antara epilepsy dan kegemaran keagamaan telah menunjukkan respon kejiwaan yang kuat terhadap kata-kata keagamaan. Bahwa penemuannya tidak membuktikan apapun.
Teori epilepsy terhadap pengalaman keagamaan terlihat seperti jejak yang salah. Yang paling benar, ia akan hanya bagian dari teori yang lebih besar. Meskipun, masalah-masalah dari teori khusus yang satu ini tidak berarti bahwa kita tidak akan mendapatkan yang lebih baik.
Teori yang lain telah dikembangkan oleh ilmuan cerdas di Pennsylvania, Eugene D‘Aguili, yang meninggal baru-baru ini. Dia tidak mencari tempat Tuhan yang tunggal di dalam otak. Dia berfikir bahwa bagian-bagian yang berbeda dari otak adalah menyangkut aspek-aspek yang berbeda dari agama. Seperti contohnya, satu bagian dari otak adalah terkait didalam rasa dari ―persatuan‖ yang umum dalam pengalaman keagamaan. Perbedaan yang satu adalah menyangkut penglihatan Tuhan dalam berkerja di dunia.
Pengalaman keagamaan adalah sangat berbeda antara satu dengan yang lain. Beberapa diantaranya sangat menyolok, pengalaman yang membekas dalam ingatan yang menemani manusia dalam hidup. Penelitian survei terbaru menunjukkan bahwa kira-kira ketiga dari jumlah penduduk mempunyai bentuk dari pengalaman keagamaan tersebut. Meskipun, kebanyakan pengalaman ―keagamaan‖ adalah sangat biasa. Pada kenyataannya, kita bisa mengalami segala sesuatu dalam jalan keagamaan. Dengan pengertian itu, semua pengalaman dari
110 orang yang serius beragama akan menjadi pengalaman keagamaan. Kenyataan bahwa pengalaman keagamaan adalah sangat berbeda antara satu dengan yang lainnya berarti bahwa proses otak akan terkait dengan sangat berbeda. Tidak ada teori yang sederhana dari kedudukan Tuhan di dalam otak yang bisa didapatkan.
Teori D‘Aquili berbeda dengan teori epilepsy dalam segala cara. Dia berfikir bahwa bagian-bagian dari otak yang terkait dengan agama jugga terkait dengan proses normal. Seperti contohnya, dia menganjurkan bahwa melihat sesuatu itu disebabkan oleh yang lainnya tergantung pada bagian yang sama dari otak sebagimana melihat Tuhan dalam bekerja di dunia. Hal ini sangat berbeda dari mengatakan bahwa agama diangkat dari bagian yang sama dari kegagalan penggunaan dari otak sebagimana epilepsy.
Bagaimana otak terkait dalam agama adalah sebuah topik dalam batasan ilmu pengetahuan. Ia terhubung dengan masalah dari bagaimana otak memberikan reaksi kepada segala bentuk kesadaran, yang mungkin satu dari misteri besar dari ilmu pengetahuan untuk diungkap. Perkembangan dengan masalah umum itu menolong kita untuk memahami bagaimana otak terkait dengan pengalaman keagamaan.
Fraser Watts dosen Starbridge dalam ilmu ketuhanan dan ilmu alam di University of Cambridge; dia adalah bekas president dari British Psychological Society dan bekas peneliti kejiwaan di Medical research Council’s yang mengaplikasikan Phsycology unit. Watts adalah pendeta yang ditahbiskan oleh the Church of England.