Anak bungsu saya telah lulus dari universitas, dan bait dari buku nyayian yang terus saya ingat dikepala saya:‖Laboratorium dan kelas, merebus tabung tes yang keras, menyanyikan Tuhan dengan lagu baru!‖ Akankah anak saya mendengarkan musik itu? Apakah ia siap pada tantangan yang serius terhadap keyakinan masa kanak-kanaknya tentang Tuhan>
Saya tidak dapat mengatakan padanya bahwa bagaimanapun juga ia harus tetap percaya pada Tuhan; ia akan memutuskan hal itu sendiri. Tetapi Aku memberikan padanya beberapa garis pedoman.
Berbeda dengan cerita yang terkenal, fakultas-fakultas sains di universitastidaklah semuanya terlena pada ateisme. Tentu saj anda akan menemukan ilmuan ateis, akan tetapi banyak sauintis percaya pada Tuhan dan banyak yang lainnya adalah agnostik. Mengapa ilmuan saintis percaya bahwa tidak ada Tuhan? Jawabannya mungkin bersifat sangat personal dari ada berkaitan dengan sains. Jika mereka mengatakan sains adalah akar dari pertimbangan, ini karena kadang-kadang mereka berkembang secara sempit, menegcilkan gambaran Tuhan—satu hal sedrhana yang memberikan jalan ketika sains menawarkan pandangan yang kaya mengenai realitas. Akan tetapi beberapa mengakui bahwa jika bukti ilmiah rasanya untuk menunjukkan keberdaan Tuhan, mereka mungkin tidak akan merubah pikiran mereka.
152 Sains bukanlah senjata super ateis yang generasi terdahulu telah memikirkannya. Itu bukanlah aturan yang keluar dari kepercayaan—meski kepercayaan ortodok. Namun demikian, kekerasan kepala selanjutnya mengacungkan senjata lama, yang sering menyerang bebrapa karikatur agama bahwa sains (dan pemeluknya itu sendiri) mengaturnya. Mungkin mereka melakukan hal ini sangat ramai, dan dengan sarkasme (ejekan) dan cemoohan, bahwa sangat susah untuk mengingat bahwa senjata tidaklaha berisi.
Akan tetapi terdapat argumen yang bijaksana. Daripada sekedar menyatakan ―kita tidak bisa mempercayai lagi hal ini di masa modern‖, bahkan perkataan, ―Kita tidak lagi membutuhkan keyakinan seperti ini.‖ Ini adalah argumen dari agnotisme dari pada ateisme. Ahli fisika Stephen Hawking dan Jim Hartle, dan ahli biologi Ricard Dawkins misalnya mencoba memperlihatkan bahwa terdapat kemungkinan penjelasan bagi asal-usul alam semesta dan kemunculan kehidupan manusia yang tidak membutuhkan Sang Pencipta. Jika alasan utama anda adalah untuk mempercayai Tuhanadalah bahwa anda berfikir alam semesta ini tidak dapat ada jika ada satu hal, yang lantas sains jenis ini dapat secara serius dapat m,eruntuhkan keyakinan. Saya harap iman anda lebih berdasar dari pada menjadikan Tuhan kebutuhan untuk penjelasan. Dua pertanyaan ―apakah Tuhan membutuhkan penjelasan?‖ dan ―Apakah Tuhan adalah penjelasan?‖ yang benar-benar berbeda.
Bukan bahwa sains telah menemukan penjelasan bagi jalan alam semesta muncul menjadi nyayian yang luar bisa bagus untuk memproduksi kehidupan. Nyaina yang gus ini diambil oleh beberapa orang untuk menjadi bukti dari Tjuan Kreatif pada pekerjaan. Mungkin mereka benar. Akan tetapi akankah menghentikan kasus anda disana? Jangan. Membuat ilmu anda sebaga jalan utama untuk memeutuskan pertanyaan agma adalah sperti berjalan diatas kecondongan pasir. Sains memepertimbangkan ―sesuatu yang tidak dapat dijelaskan‖-dan memang derngan ―pengetahuan‖ sebelumnya—permainan yang fair; keduanya biasanya saling menjatuhkan. Selalu mengingat: menurut laporan telah berfirman, ―Carilah aku,‖ bukan ―carilah bukti tentang aku.‖
153 Jika anda beralasan untuk keyakinan pada Tuhan dalam diskusi intelekttual ilmiah, jangan lah terkejut jika anda tersesat. Beberapa sarjanan S-1 memeiliki pengetahuan dan keahlian—atau pengalaman hidup dengan kehadiran Tuhan—untuk memasukkan apa yang mereka miliki dalam sebuah perdebatan. Jangan kawatir. Apakah terdapat Tuhan dan apakah Tuhan seperti apa adalah bukan persolan untuk memutuskan dengan brbagai perdebatan dan argumentasi, bagaimanapun juga tentang bagaimana pemberitahuan yang baik dan mengeluarkan pikiran yang mendalam. Baik terdapat Tuhan ataupun tidak. Tuhan adalah seperti Tuhan apa adanya. Kelancaran pidato anda atau tindakan yang bodoh tidak ingin membuat seseorang mencatat perbedaan untk jawaban. Anda dapat memenangkan tujuan perdebatan dan tetap benar-benar salah; anda dapat menghancurkan dan tetap menjadi benar.
Sains mengajarkan pada anda untuk hidup dengan pertanyaan tanpa jawaban dan kontradiksi, kadang-kadang memasukkan dalam pikiran dua ―kebenaran‖ bahwa, dalam menghadapi hal itu, keduanya tidak dapat menjadi benar. Menaruh kontradiksi yang nampak ―diatas lubang‖ bukanlah pikiran yang ganda ketika anda melakukan hal itu dengan menegtahuinya. Ini adalah kebenaran dalam agama sebagaimana juga dalam sains. Ini adalah tanda tentang kedewasaan dan ketinggian kapasitas intelektua.
Sains membangun diatas pengetahuan lebih dahulu. Terdapat pikiran yang besar yang pandangan anda harus percaya paling tidak sampai anda benar-benar yakin dengan apa yang anda miliki. Agama meiliki penganut seperti itu, juga ; mereka bergumul dengan pertanyaan yang sama yang menggannggu anda. Jikanda mempersiapkan untuk mempercayai Einstein sampai anda mampu untuk memahami relativitas untuk diri anda sendiri, mengapa tidak mempercayai pemimopin spiritual besar?
Sains mengundang pendekatan kekanak-kanakan. Demikian juga agama. Kekanak-kanakan artinya tidak menaruh batsan dalam ―kemungkinan‖, penuh dengan kekaguman, mempertanyakan apakah yang tain menerimanya begitu saja.
Boleh saja bagia anda berusaha untuk kematangan pengalaman intrlrktual duniawi. Akan tetapi anda harus mengerti bahwa filusuf besar aban 13 Thomas
154 Aquinas menghabiskan waktu hidupnya dalam pencarian intelektual, memperdebatkan dengan kuat tentang keberadaan Tuhan; dia memenangkanperdebatan dan anda kalah. Akan tetapi kemudian ia memeiliki pengal;aman tentang kehadiran Tuhan, debandingkan dengan semua usaha yang sebelumnya menurutnya kelihatan ―hanya sekedar tumpukan jerami‖. Masyarakat masih mempunyai pengalaman seperti itu dalam era sains modern.
Mencari masyarakat-mempunyai intelegent sangat dalam, terdidik, masayarakat yang mempunyai pengetahuan yang baik yang percaya pada Tuhan. Habiskanlah waktu bersama mereka. Seranglah mereka dengan pertanyaan. Mereka tidak lah mudah untuk percaya ataupun menipu diri sendiri. Mereka tidaklah naif; mereka mungkin bahkan kadang-kadang skeptis dengan alam. Akan tetapi mereka tahu apa yang mereka tahu.
Kitty Ferguson belajar pada Juilliard School. Setelah bekerja sebagai musisi profesional, ia menjadi penulis penuh tentang sains. Diantara bukunya adalah best-seller Stephen Hawking: Quest for a Theory of Everything dan The Fire in the Equations: Science, Religion, and the Search for God.
TUHAN ATAU SAINS: HARUSKAH SAYA HARUS MEMILIH?