• Tidak ada hasil yang ditemukan

f. Hubungan Positif dengan Orang Lain (Positive Relations With Others)

ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

C. Deskripsi Data III

IV. f. Hubungan Positif dengan Orang Lain (Positive Relations With Others)

Tidak ada perbedaan-perbedaan antara suku maupun agama yang satu dengan yang lain. Semua sama di mata Edo. Yang berbeda hanya tempat ibadah dan makanan jenis tertentu. Temannya sendiri kebanyakan berasal dari suku muslim.

“Ooh.. nggak.. kalau sini rata dia.. campur..”

(W2. R3/ b. 141/ h. 3)

“Kalau bedanya gak ada ya kan.. paling kalau lagi makan la.. orang tu kan makan apa ya kan.. makan apa itu.. makan.. yang kecil tu.. B2 ya kan.. itu lah.. makan orang tu pisah la.. gak mungkin ikut makan awak sama orang tu ya kan..”

(W2. R3/ b. 150-155/ h. 3)

“Kalau disini.. suku.. muslim lah..”

(W2. R3/ b. 147/ h. 3)

“Istilahnya kan.. kompak lah.. contohnya kan, kalau misalnya ada kerjaan atau gotong royong kan, semuanya la kerjakan itu.. gak ada istilah boss.. semua lah kerjakan.. rata lah.. mantap lah.. kompak. Misalnya kan, kalau ada razia.. tiap bulan kan ada razia.. di kamar-kamar kan mau ada hape kan.. cepat dia dikasi tau, “Mau ada razia oi, sembunyikan dulu..””

(W2. R3/ b. 364-371/ h. 7)

Edo memiliki hubungan yang baik dengan narapidana dan sesama petugas. Di tempatnya bekerja, para petugas telah dianggap sebagai orangtuanya sendiri. Ia memanggil mereka dengan sebutan “Ayah”. Menurutnya, hal ini juga dipengaruhi

oleh latar belakang keluarga, dimana Ayahnya mengenal beberapa petugas yang ada di sana.

“Baik lah.. istilahnya, bisa lah bergaul..” (W2. R3/ b. 268/ h. 6)

“Ada la sikit.. karna rata-rata kan, petugasnya kan kenal sama bos cowok.. yang satu lagi kan.. bos cowok aku mantan dari sini juga..”

(W2. R3/ b. 302-304/ h. 6)

Salah seorang petugas jaga adalah teman Edo semasa sekolah dulu. Ia dapat meminjam handphone tanpa perlu memberikan bayaran. Hal ini cukup menguntungkannya. Meskipun teman sekolahnya dulu, ia tidak merasa malu.

“Kalau kita udah temanan sama dia.. paling.. loker handphone aja la sama dia.. kan disini kan, banyak pegawainya udah kenal di luar.. atau teman awak sekolah kian, gak mungkinlah dimintanya sama awak..”

(W2. R3/ b. 238-242/ h. 5)

“Macam mana mau dibilang ya.. awak tetapnya.. waktu sekolah pun, tetap juganya awak banditnya..”

(W3. R3/ b. 247-249/ h. 5)

Antara Edo dan teman-temannya tidak terdapat perbedaan-perbedaan ataupun kelompok yang didasarkan dengan suku atau agama tertentu. Hubungan dengan sesama narapidana juga dapat dikatakan kompak. Ketika ada sesuatu yang harus dikerjakan atau ada razia, mereka akan saling menginformasikan satu sama lain. Ia telah menganggap pegawai sebagai orangtuanya sendiri. Selan itu, ia juga mengenal beberapa petugas sebelumnya, salah satunya adalah teman sekolahnya.

D. PEMBAHASAN

Perubahan besar yang terjadi dalam kehidupan seseorang menyebabkan seseorang melakukan penyesuaian psikologis (Sarafino, 2006). Perubahan hidup yang paling jelas adalah masuknya ketiga responden ke dalam LP. Responden 1 membutuhkan waktu sekitar 6 bulan untuk dapat berinteraksi dengan teman sesama narapidana. Responden 2 membutuhkan waktu sekitar 1 tahun, hingga akhirnya mampu menyesuaikan diri dengan baik, dimana sebagian besar waktunya dihabiskan dengan menyesali perbuatannya. Responden 3 mampu beradaptasi tidak lama setelah ia masuk karena tindak pidana yang dilakukan terhitung tidak berat. Ia memiliki teman-teman sekamar yang senantiasa memotivasi dan memberi semangat.

Menurut James dan Glaze (2006), simtom-simtom yang paling banyak terjadi dalam 12 bulan pertama seseorang mendekam dalam penjara adalah hilangnya ketertarikan dan kesenangan dalam melakukan aktivitas sehari-hari, diikuti dengan rasa sedih yang berkepanjangan, kebingungan (numb) dan suasana hati yang kosong. Hal yang sama dirasakan oleh ketiga responden. Pertama kali menginjakkan kaki di dalam LP, ketiga respoden menghabiskan waktunya hanya berdiam di dalam sel kamar tanpa melakukan apa-apa, merenungi dan menyesali perbuatan mereka. Awalnya, baik Responden 1 maupun Responden 2 bahkan tidak memiliki teman.

Dalam Social Readjustment Rating Scale (SRRS) yang dikembangkan oleh Holmes dan Rahe, (dalam Sarafino, 2006), disebutkan bahwa hukuman penjara

menduduki peringkat keempat dalam skala urutan pengalaman hidup yang menimbulkan stress. Hal tersebut dialami oleh ketiga responden. Ketiga responden kehilangan kebebasan dan terkekang karena ruang gerak menjadi terbatas. Semua aktivitas narapidana telah diatur oleh pihak LP sehingga narapidana harus patuh dan taat terhadap aturan dan harus selalu mengikuti kegiatan yang sudah dijadwalkan. Selain itu, stressor yang dialami oleh ketiga responden muncul karena adanya penyesalan atas perbuatan yang telah dilakukan. Responden 1 dan Responden 2 sadar bahwa perbuatannya tidak hanya merugikan diri sendiri, namun juga orang lain. Penyesalan yang terdalam karena mereka telah membuat orangtua kecewa dan bersedih.

Selain hilangnya kebebasan, Responden 1 dan Responden 3 mengakui bahwa kesulitan terbesar selama berada dalam LP adalah tidak adanya komunikasi dengan lawan jenis. Kebutuhan biologis untuk bertemu dengan lawan jenis tidak dapat tersalurkan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Brehm (2002), bahwa pada kelompok orang yang belum menikah, laki-laki lebih sering mengalami kesepian daripada perempuan. Laki-laki cenderung mengalami kesepian ketika tidak memiliki pasangan yang intim.

Untuk mengatasinya, mereka cenderung melakukan onani dan menonton film-film biru dengan sesama teman sekamar. Hal ini sesuai dengan pendapat Harsono (1995), bahwa penempatan narapidana ke dalam blok-blok akan menyebabkan terampasnya hak narapidana untuk menyalurkan naluri seks, kasih sayang dan rasa aman bersama keluarga. Sebagai penyaluran nafsu seks yang terpendam, narapidana akan melakukan masturbasi.

Menurut Ryff (1989), individu yang memiliki tingkat penerimaan diri yang baik ditandai dengan sikap yang baik terhadap diri sendiri, mengetahui dan menerima segala aspek yang ada pada dirinya, baik kelebihan maupun kekurangan, serta memiliki sikap baik terhadap kehidupan di masa lalu.

Pada awalnya, ketiga responden membutuhkan usaha keras untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan LP yang berbeda dengan lingkungan pada umumnya. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, ketiga responden telah mampu menerima hukuman yang harus dijalani di LP sebagai konsekuensi atas tindakannya. Tidak ada usaha untuk lari dari tanggung jawab, mereka hanya berupaya meneruskan hidup dan menjalani masa hukuman yang telah ditetapkan.

Dukungan sosial merupakan faktor yang penting terkait dengan perasaan dicintai, berharga dan diterima sebagai bagian dari keluarga atau suatu kelompok. Dukungan sosial merupakan perhatian, rasa nyaman, harga diri atau bantuan yang diterima seseorang dari orang-orang di sekitarnya (Sarafino, 2006). Ketika menjalani persidangan, Responden 1 hanya memperoleh dukungan dari kerabat, bahkan orangtua tidak bersedia menghadiri persidangan. Responden 2 malah mendapatkan luapan kemarahan dan kekesalan dari kerabat dan keluarganya. Sedangkan Responden 3 memperoleh dukungan penuh dari keluarga, baik ketika persidangan maupun setelah berada di LP. Selain mengusahakan keringanan hukum, orangtua juga memberikan semangat kepada Responden 3 agar tidak mudah putus asa.

Begitu juga ketika ketiga responden telah berada di dalam LP. Orangtua Responden 3 sering membesuk dan memberikan uang. Terkadang, Ibunya akan

datang dengan adik-adiknya. Namun, karena kesibukan kedua adiknya, maka mereka hanya akan datang sebulan sekali. Responden 3 yang berasal dari keluarga menengah ke atas memperoleh instrumental support berupa uang dari orangtua sebanyak Rp.70.000 per minggu. Lain halnya dengan Responden 2 yang berasal dari keluarga kurang mampu. Ia hanya menerima uang ketika orangtuanya datang berkunjung sesekali. Ketiadaan biaya membuat orangtuanya tidak dapat rutin mengunjungi Responden 2. Sesuai dengan pendapat Torch dan Adams (dalam Constanzo, 2004), yang menyatakan bahwa keluarga yang salah satu anggota keluarganya menjadi narapidana, harus mempersiapkan banyak hal ketika datang mengunjungi narapidana yang berada di dalam LP. Sedangkan Responden 1 yang keluarganya berada di luar kota, sama sekali tidak mendapatkan kiriman dari orangtua. Ia mendapatkan sejumlah uang dari pekerjaannya sehari-hari atau memintanya dari teman.

Perubahan hidup yang berbeda dirasakan oleh ketiga responden sejak mereka menjalani hukuman di LP. Menurut Ryff (1989), pertumbuhan diri merupakan kemampuan potensial yang dimiliki seseorang, perkembangan diri, serta keterbukaan terhadap pengalaman-pengalaman baru. Ketiga responden semakin mendekatkan diri dengan Tuhan dan rajin sembahyang. Responden 3 juga merasakan bahwa kehidupannya menjadi lebih teratur dan kondisi dirinya semakin bertambah baik ketika ia berada di LP dibandingkan dengan di luar.

Dalam usaha meningkatkan perilakunya dari waktu ke waktu, Responden 1 dan Responden 3 bekerja di kantor yang sama. Dari sana, mereka mampu belajar dalam hal pengurusan surat dan izin, menguasai keahlian komputer dan

belajar berkoordinasi dengan orang-orang di sekitarnya. Sedangkan Responden 2 menghabiskan waktunya seharian dengan bermain, melakukan olahraga, mengikuti pembinaan seperti ketrampilan bengkel dan Program Paket B. Namun, baik Responden 2 dan Responden 3 mengikuti kegiatan semata-mata karena kewajiban yang diberlakukan oleh pihak LP dan hanya sekedar menghabiskan waktu luang. Mereka juga merasa bahwa kegiatan yang diikutinya tidak dapat dijadikan modal dalam mencari pekerjaan nantinya.

Walaupun ada peningkatan perilaku, ketiga responden tidak menunjukkan adanya aktualisasi diri. Menurut Roger (dalam Schultz, 1991), kepribadian sehat yang dimiliki individu dapat terlihat dari aktualisasi diri yang dilakukannya. Kepribadian yang sehat bukan merupakan suatu keadaan dari ada, melainkan suatu proses atau arah atau tujuan. Aktualisasi diri berlangsung terus, tidak pernah merupakan kondisi yang selesai atau statis.

Individu yang memiliki tujuan hidup yang baik, memiliki target dan cita-cita serta merasa bahwa kehidupan di masa lalu dan sekarang memiliki makna tertentu (Ryff, 1989). Responden 1 dan Responden 3 dapat memandang masa depannya secara lebih baik. Responden 1 berencana untuk pergi merantau ke luar daerah dan tidak akan kembali untuk bertemu dengan orangtua sebelum ia mampu secara financial. Ia akan mencari pekerjaan lain yang tidak berhubungan dengan ajar-mengajar lagi. Selain itu, ia juga berencana untuk melanjutkan sekolah. Sedangkan Responden 2 tidak memiliki keinginan apa-apa, ia hanya akan kembali ke rumah orangtuanya, menebus kesalahannya dan membantu kedua orangtuanya. Responden 3 telah memiliki gambaran akan masa depannya. Ia akan meminjam

modal usaha dari kedua orangtuanya. Setelah dirasa mampu, ia akan mencari pasangan hidup dan membina keluarga.

Ryff (1989), menyatakan bahwa penguasaan lingkungan ditandai dengan kemampuan individu untuk memilih atau menciptakan lingkungan yang cocok atau untuk mengatur lingkungan yang kompleks. LP merupakan salah satu lingkungan yang kompleks dengan ruang gerak yang terbatas. Meskipun begitu, Reponden 1 dan Responden 3 mampu mengatasi kesulitan dan kekurangan yang terdapat di LP. Dengan ikut bekerja, mereka memiliki kebebasan lebih dibandingkan dengan narapidana lainnya. Selain itu, dengan adanya uang pemberian orangtua, Responden 3 juga dapat mengubah kamar selnya menjadi tempat yang lebih nyaman, ia juga tidak bersusah payah membersihkan kamarnya karena adanya “anak hilang”. Berbeda dengan Responden 3 yang menghuni kamar besar. Ia kesulitan dalam mengatur diri dan melaksanakan tanggung jawab pribadinya sendiri, seperti mencuci baju dan dalam pembagian jatah makanan.

Pada aspek otonomi, ketiga responden hanya bisa diam dan mengikuti apa yang dikatakan oleh para petugas, tanpa bisa membantah apalagi melawan. Perasaan seperti ini dialami oleh ketiga responden. Jika ada masalah yang terjadi antar narapidana, maka mereka akan dimasukkan ke kamar isolasi, menghabiskan waktu sendirian, terpisah dari yang lainnya. Hal ini yang ditakuti oleh ketiga responden.

Selain otonomi yang kurang baik, narapidana juga tidak memiliki kemampuan dalam membuat keputusan mengenai aspek-aspek penting dalam kehidupan mereka (Torch dan Adams, dalam Constanzo, 2004). Hal ini dirasakan

oleh Responden 2 yang tidak bisa keluar dari LP untuk melihat makam adiknya yang telah meninggal, padahal ia sangat ingin berdoa di depan pusara adiknya. Semenjak Responden 2 dihukum, ia belum pernah sekalipun mengunjungi makam, walaupun masih berada di tempat yang tidak begitu jauh. Responden 3 juga merasakan hal yang sama, dimana ia harus merayakan hari Lebaran di LP, dan tidak diperbolehkan untuk merayakannya di rumah dengan keluarganya.

Menurut Bukstel dan Kilmann (dalam Bartol, 1994), reaksi stres akan kembali muncul karena adanya perasaan tidak nyaman dan tidak yakin akan penyesuaian kembali di dunia luar. Status mantan narapidana yang melekat memunculkan rasa khawatir pada Responden 1. Dengan statusnya tersebut, ia merasa akan kesulitan dalam memulai kehidupan yang baru. Responden 2 masih tidak tahu bagaimana cara menghadapi masyarakat setelah ia keluar nantinya. Karena masa hukuman yang masih lama, ia sama sekali belum memikirkannya. Lain halnya dengan Responden 3 yang merasa tidak ada masalah dengan status mantan narapidana yang akan disandangnya kelak. Kasus Narkoba merupakan hal yang lumrah di daerah tempat tinggalnya sehingga ia tidak terlalu mempedulikannya.

Dalam kehidupan sehari-hari, ketiga responden menyadari bahwa keseharian di LP hanya bersama teman-teman narapidana. Oleh sebab itu mereka berusaha menjalin hubungan yang baik dengan teman-teman LP agar mereka bisa saling membantu. Begitu juga hubungan yang dibangun dengan para petugas.

Karena bekerja di kantor yang sama, Responden 1 dan Responden 3 mengenal para petugas dengan baik. Sehari-hari, Responden 1 dan Responden 3

menceritakan kejadian-kejadian yang terjadi di LP, keluarga mereka dan kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan. Sedangkan Responden 2, yang menghabiskan sebagian besar waktunya dengan bermain-main dengan sesama narapidana dan mengikuti pembinaan, memiliki hubungan yang dekat dengan petugas penjaga LP. Ia menyayangi dan menganggap para petugas sebagai orangtua.

Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap psychological well-being adalah status sosial ekonomi. Menurut Adler, Marmot, Mc Ewen, & Stewart (dalam Snyder &Lopez, 2002.) menunjukkan bahwa status sosial ekonomi berhubungan dengan kualitas kesehatan baik mental dan fisik. Pada Responden 3, kondisi ekonomi orangtua termasuk dari golongan orang yang mampu sehingga bisa selalu membesuk dan mencukupi kebutuhan Responden 3 selama berada dalam LP. Sedangkan Responden 2 dan Responden 3 berasal dari keluarga yang kurang mampu sehingga kebutuhan yang ada tidak bisa tercukupi seperti halnya pada Responden 1.

Selain status sosial ekonomi, Ryff, Magee, Kling & Wling (dalam Synder & Lopez, 2002), menemukan bahwa tingkat pendidikan merupakan faktor yang berpengaruh terhadap psychological well being yang dimiliki. Individu yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih baik memiliki psychological well being yang lebih baik juga. Hal ini dibuktikan bahwa Responden1 yang bergelar D2 dan Responden 3 yang berstatus mahasiswa memiliki psychological well-being yang lebih baik dibandingkan dengan Responden 2 yang lulusan sekolah dasar.

Secara umum, gambaran kondisi di atas memperlihatkan kondisi psikologis yang berbeda antar responden. Responden 1 dan Responden 3 dapat

dinyatakan sehat secara psikologis, dimana mereka dapat mengatasi ketidaknyamanan dan menghadapi kondisi yang dialami serta berusaha mengembangkan kemampuan yang dimiliki untuk bisa mencapai kondisi yang lebih baik. Sedangkan pada responden 2, ia tidak berdaya menghadapi kondisi yang terjadi. Ia juga tidak mampu mengembangkan kemampuan untuk mencapai peningkatan dalam hidupnya.

Tabel. Rangkuman Analisa Antar Responden

No. Keterangan Responden 1 Responden 2 Responden 3

Identitas Diri Responden

Nama Awan Na’O Edo

Jenis kelamin Laki-laki Laki-laki Laki-laki

Usia 29 tahun 21 tahun 25 tahun

Suku Batak Nias Batak

Kasus Pelecehan Seksual Pembunuhan Narkotika

Tanggal masuk LP 19 November 2008 30 Juli 2008 10 Agustus 2009

Lama masa tahanan 12 tahun 11 tahun 5 tahun

Telah menjalani… masa hukuman

2 tahun 6 bulan 2 tahun 9 bulan 1 tahun 7 bulan Gambaran Psychological Well-Being pada Masing-Masing Responden

1. Penerimaan Diri (Self Acceptance)

Responden 1 merasa sangat tertekan dan menyesal dengan perbuatannya. Ia mengecewakan orangtuanya, bahkan ia kecewa dengan dirinya sendiri. Pikiran untuk melakukan bunuh diri bahkan pernah terlintas di benaknya. Namun, itu dulu. Sekarang, ia mencoba bangkit dan tidak mau berlarut dalam kesedihannya, ia tetap berusaha Responden 2 masih merasakan penyesalan yang mendalam. Ia belum bisa memaafkan dirinya sendiri sepenuhnya. Jika ia mengingat peristiwa itu kembali, ia akan merasa sedih, menyesal dan bersalah pada adik dan keluarganya. Ia berusaha untuk melupakan Responden 3 merasa bersalah atas tindakannya telah mengecewakan orangtua. Namun, karena orangtua tetap memberinya motivasi, ia merasa lebih baik. Ia tidak merasa bahwa ia telah melakukan suatu kesalahan besar. Tindakan yang dilakukannya hanya merugikan dirinya, bukannya

meneruskan hidupnya dengan lebih baik di LP.

kejadian itu agar ia dapat meneruskan hidupnya dengan lebih baik. orang lain. 2. Pertumbuhan Diri (Personal Growth) Responden 1 tetap berusaha menjalani hukuman dengan lapang dada dan semakin mendekatkan diri pada agama. Ia sadar, sekeluarnya ia dari LP, ia akan menghadapi

kehidupan yang tidak mudah. Namun, ia tidak gentar, LP telah mengajarinya bertahan dalam situasi dan kondisi yang sangat sulit, sehingga ia merasa mampu bertahan di kemudian hari. Responden 2 semakin mendekatkan diri pada Tuhan. Ia mencurahkan segala beban yang dialaminya dengan berdoa. Sedangkan program pembinaan yang diikuti hanya karena adanya peraturan dari LP. Ia juga tidak yakin bahwa apa yang dipelajarinya, dapat berguna untuk bekerja kelak. Responden 3 semakin mendekatkan diri pada Tuhan semenjak ia berada di LP. Namun, ia belum bertumbuh secara utuh. Keinginan untuk berubah bukan benar-benar berasal dari dalam dirinya, melainkan karena peraturan dari pihak LP. Ia melihat pengalaman ini sebagai media pembelajaran. 3. Tujuan Hidup (Purpose of Life)

Setelah keluar dari LP, Responden1 akan merantau dan mencari pekerjaan di tempat yang baru. Setelah ia mampu secara

ekonomi, ia baru akan kembali ke rumah orangtuanya. Namun, karena masa hukuman yang masih lama, ia belum memikirkan secara konkret apa yang akan

dilakukannya nanti. Bila ada kesampatan, ia juga berencana untuk melanjutkan sekolah dan mengambil jurusan ilmu agama. Responden 2 tidak memikirkn bagaimana ke depannya. Setelah ia bebas, ia hanya akan kembali ke rumah dan bekerja. Ia tidak

memikirkan hal-hal lainnya, yang paling penting baginya adalah bagaimana ia dapat menebus kesalahannya dan membahagiakan orangtuanya. Ke depannya, Responden 3 ingin mengubah perilakunya yang buruk dan memulai hidup baru. Ia akan mencari pekerjaan yang layak dan pasangan untuk kemudian

membangun sebuah keluarga dan hidup seperti keluarga lainnya. 4. Penguasaan Lingkungan (Environmental Mastery) Responden1 turut membantu di bagian Responden 2 menghuni kamar Responden 3 berusaha membuat

pegawai dan menjadi staf pengajar pada program pembinaan yang disediakan LP. Dari situ, ia mendapatkan

kebebasan lebih dan keringanan waktu. Responden1 juga kesulitan dalam memenuhi kebutuhan biologis dan kebutuhan ekonomi

selama berada dalam LP. Kebutuhan biologis diatasi Awan

dengan meminjam heandphone seorang teman dan menonton film biru. Sedangkan kebutuhan ekonomi, ia akan meminjam uang dari teman.

besar yang dihuni oleh 16 orang narapidana. Ia kesulitan dalam mengurus kebutuhan pribadinya sehingga ia dibantu oleh temannya. Ruangan yang besar membuatnya terasa kurang nyaman karena terlalu ribut. Pembagian lauk makanan juga berkurang. kamarnya terasa lebih nyaman agar dapat terhindar dari kejenuhan. Ia dan teman sekamar memiliki “anak hilang” yang bertanggung jawab dengan kebersihan kamar. Ia juga melukis dan mengecat dinding kamar sehingga lebih nyaman. Dibandingkan

dengan air biasa, Edo dan teman sekamarnya juga memilih untuk mengkonsumsi air mineral. Salah satu kesulitan selama berada di LP adalah kurangnya interaksi dengan kaum perempuan. Untuk mengatasinya, Edo biasanya melakukan onani dan menonton film biru.

5. Otonomi (Autonomy)

Responden 1 hanya dapat menuruti

peraturan yang ada. Ia tidak mampu untuk protes atau mengeluh mengenai kondisi yang dialaminya. Sedangkan

sekeluarnya ia dari LP, ia juga hanya dapat mengandalkan dirinya sendiri untuk

mencapai apa yang menjadi tujuannya. Responden 2 tidak memiliki keberanian untuk mengambil tindakan sendiri di dalam LP. Ia bersikap sangat patuh terhadap petugas. Hal ini disertai dengan ketakutan tersendiri. Yang ia yakini hanya bahwa ia harus Responden 3 berusaha mematuhi peraturan yang ada, terutama yang berasal dari para petugas. Ia juga mencoba membina hubungan yang baik. Setelah ia bebas, ia akan bergantung pada orangtuanya terlebih dahulu hingga akhirnya ia

menuruti setiap perintah petugas.

bisa mandiri. 6. Hubungan Positif dengan

Orang Lain

(Positive Relation with

Others)

Responden 1 akan bercerita mengenai banyak hal dengan narapidana lain. Mereka juga menghabiskan waktu bersama. Pertengkaran-pertengkaran kecil sering terjadi, namun hal itu lumrah. Responden 1 juga mengenal baik para petugas, terutama di bagian register. Ia percaya dan

menceritakan banyak hal dengan petugas yang dipanggilnya dengan sebutan “Ayah”. Responden 2 saling berbagi dengan teman sekamarnya. Jika ia memiliki makanan atau sedikit uang, ia akan membagikannya dengan teman yang lainnya. Hal yang sama juga dilakukan teman sekamarnya. Ia juga menganggap bahwa para petugas adalah orangtuanya. Ia menyayangi mereka karena kepedulian dan perhatian kepada responden. Responden 3 tidak memilih teman berdasarkan suku atau agama

tertentu. Tidak ada perbedaan siapa yang lebih kuat atu tidak bagi mereka. Ia juga telah menganggap pegawai sebagai orangtuanya sendiri.

Tabel. Dimensi Psychological Well-Being Antar Responden

No. Komponen Psychological Well Being Responden1 Responden2 Responden3 1. Penerimaan Diri (Self Acceptance) (+) (+) (+) 2. Pertumbuhan Diri (Personal Growth) (+) (-) (-) 3. Tujuan Hidup (Purpose of Life) (+) (-) (+) 4. Penguasaan Lingkungan (Environmental Mastery) (+) (-) (+) 5. Otonomi (Autonomy) (+) (-) (-)

6. Hubungan Positif dengan Orang Lain

(Positive Relation with Others)

BAB V