• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran Psychological Well-Being pada Responden III

ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

C. Deskripsi Data III

IV. Gambaran Psychological Well-Being pada Responden III

IV. a. Penerimaan Diri (Self-Acceptance)

Edo tidak memiliki masalah ketika pertama kali menginjakkan kaki ke dalam LP. Pertamanya, ia memang sedikit takut. Namun ternyata, teman sekamarnya memberikan motivasi-motivasi supaya ia tetap sabar dalam menjalani masa tahanan. Ia membutuhkan waktu sekitar enam bulan untuk dapat beradaptasi dengan kondisi LP.

“Perasaannya gundah gulana la kan.. sedih.. namanya awak di penjara, dikurung-kurung.. gak enak kali lah perasaannya pada saat itu.. selama ditangkap..”

(W1. R3/ b. 146-150/ h. 3)

“Perasaan takut iya lah.. karna awak kan masih pertama masuk sini kan.. takut kali pun.. ntah macam mana la awak, ntah ditumbuk atau kek mana kan.. dihajar.. rupanya, baik-baik nya semuanya bang napinya..”

(W1. R3/ b. 290-295/ h. 6)

“Istilahnya kan.. mereka gak mau numbuk-numbuki kita, kasih semangat sama kita.. sabar-sabar.. yah kek gitu lah.. nambah-nambah pengalaman la dibilang orang itu sama awak.. namanya masih muda..”

(W1. R3/ b. 297-302/ h. 6)

Pada awalnya, orangtua Edo, terutama Ibunya, tidak dapat menerima kenyataan yang terjadi. Ibunya merasa kecewa dan sedih melihat nasibnya. Namun, Ibunya tetap mendukung dan memberinya semangat, bahkan melihat sisi positif dari penangkapan Edo.

“Tanggapannya sedih la kan.. kecewa dia sama anaknya.. gak nyangka anaknya itu makek.. haha (tertawa)”

(W1. R3/ b. 112-114/ h. 3)

“Orangtua cewek la, yang frustasi, stress, yang susah la..”

(W2. R3/ b. 35-36 / h. 1)

“Gak pa-pa nya itu.. kan masih mudanya, katanya.”

(W1. R3/ b. 663-664/ h. 13)

“Haha (tertawa).. cuma ngasih semangat awak aja kan.. biar gak sedih

awak disini..”

(W1. R3/ b. 667-668/ h. 13)

Dengan masuknya Edo ke dalam LP, orangtuanya berharap agar Edo mendapat pembelajaran dan pengalaman yang berguna sehingga sekeluarnya Edo nanti, ia akan menjadi pribadi yang lebih baik dibandingkan sebelumnya. Jika dibandingkan dengan kehidupan ugal-ugalan Edo di luar, Ibunya menerima keadaannya yang sekarang.

“Kalau perasaan orang itu, otomatis senang la kan.. karna rohani kan, udah mantap la.. daripada diluar dulu kan, kurus kering awak..”

(W1. R3/ b. 182-185/ h. 4)

“Istilahnya kan.. dia pun bilang, biar aku dapat pengalaman juga kan.. mungkin karena kita masuk kesini..tau kita kehidupan.. banyaknya orang lepas dari penjara jadi sukses.. nanti..mudah-mudahan la sukses besok..”

(W2. R3/ b. 322-326/ h. 7)

Teman-teman Edo juga tidak mengira bahwa ia bekerja sebagai pengedar. Setelah mendengar kabar mengenai Edo, temannya hanya dapat memberikan nasehat-nasehat. Di pihak lain, teman-teman Edo yang dulunya bersama-sama dalam mengkonsumsi ganja terkesan menghindar sejak penangkapan Edo.

“Nasehat-nasehat kek gitu.. inilah kan, kalau udah ditangkap kan, kalau udah bebas dari sini, berubah la kan.. gak makek lagi.. hahaha (tertawa).. gak macam-macam.. tobat lah bilang.. ambil hikmahnya aja..”

“Masih.. masih.. cuman orang itu gak mau datang.. menghindar orang tu.. karna awak mungkin lagi disini kan.. takut orang itu mungkin disusahkan..”

(W1. R3/ b. 267-270/ h. 6)

Edo juga hanya bisa pasrah melihat kekasihnya pergi meninggalkan dirinya. Ia juga tidak berharap kekasihnya akan datang membesuknya selama ia berada di LP.

“Gak lah.. ngapain dihubungi lagi orang gitu kan.. kalau ada niat datang, ya datang aja..”

(W1. R3/ b. 232-234/ h. 5)

“Nggak lah.. paling teman-teman aja la suruh datang.. malu lah awak kan, kalau suruh dia datang..”

(W1. R3/ b. 237-239/ h. 5)

Seiring dengan berjalannya waktu, Edo telah mampu melihat dirinya sendiri dengan lebih baik. Ia juga tidak khawatir jika nantinya orang-orang akan melihatnya sebagai seorang mantan narapidana. Begitu juga dengan tanggapan-tanggapan yang muncul dari tetangga maupun orang lain. Ada sedikit perasaan was-was, tapi hal itu tidak membuatnya gentar. Ia yakin ia masih bisa menjalani hidupnya dengan baik sekeluarnya ia dari LP.

“Ya.. kadang-kadang kan gini.. haa.. kalau udah keluar dari sini kan, pandangan orang tu sama awak kan buruk.. cuma.. mental awak la.. kek mana bisa.. tingkah laku awak di masyarakat sama orang tu.. biar bisa percaya sama awak.. tingkah laku awak la berubah..”

(W1. R3/ b. 327-332/ h. 7)

“Haha (tertawa).. misalnya kan, kalau daerah tepi pantai kan, tepi pantai kota Sibolga la, udah biasanya itu.. kek gini.. kalau dengar-dengar kek gini kan udah biasa nya kek gitu.. udah lumrah.. jadi.. tinggal merubah perilaku awak aja lah.. biar orang percaya ama kita kan, kalau kita itu gak mau lagi makek narkoba itu.. itunya..”

“Gak lah.. santai saja.. kecuali kalau kita merugikan orang tu, baru kita khawatir kan.. ini kan gak ada kita merugikan orang itu.. yang kita rugikan diri kita sendiri.. sama itulah.. pasien-pasiennya la..””

(W2. R3/ b. 101-105/ h. 3)

“Gak ada masalah la ya kan.. paling.. kalau udah keluar kan.. menyandang status narapidana, istilahnya.. kita kan kecil hati juga kan.. beda la kita sama orang-orang.. istilahnya gimana la ya.. gak seperti dulu lagi la kan.. gak bisa main sana, main sini..”

(W2. R3/ b. 122-127/ h. 3)

“Iyalah.. gak bisa main-main sama tetangga.. gak enak sama orang tu.. payah tu.. mana tau orang tu kan ntah gimana pikirannya.. cuman itu aja nya..”

(W2. R3/ b. 129-132/ h. 3)

Kondisi di dalam LP tidaklah menakutkan seperti yang dipikirkan oleh Edo sebelumya. Dengan kasus yang tidak begitu berat, ia dapat berinteraksi dengan teman sesama kamarnya dengan cepat. Selain itu, orangtua yang senantiasa mendukungnya membuatnya merasa lebih baik. Ada sedikit perasaan was-was yang menyergapnya ketika ia memikirkan kehidupannya nantinya, namun ia yakin bahwa ia dapat menjalani semuanya dengan baik.

IV. b. Pertumbuhan Diri (Personal Growth)

Sejak berada di LP, Edo dapat hidup dengan lebih teratur dibandingkan dengan ketika ia masih berada di luar. Ketika menjalani masa tahanan, Edo telah terlepas dari belenggu Narkoba. Setelah setahun hidup dalam LP, diri Edo menjadi lebih baik dan bertambah sehat.

“Badan awak kan sehat, gak makek lagi.. hehe (tersenyum)”

(W1. R3/ b. 142-143/ h. 3 )

“Iyalah.. orang hidup tanpa narkoba, sehat la.. hehe (tersenyum).” (W1. R3/ b. 187-188/ h. 4)

“Sehat la.. tujuh kilo naik.. dulu masuk kesini kering, rambut kan panjang.. hehehe (tersenyum).”

(W1. R3/ b. 610-612 / h. 12)

Ketika Edo masih berada di luar, ia telah jauh meninggalkan agamanya. Ia tidak pernah pernah pergi ke rumah ibadah, apalagi untuk sembahyang setiap hari. Namun, sejak ia memasuki LP, ia semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Ia rutin mengunjungi tempat ibadah, sembahyang dan mengikuti sholat Jumat.

“Jarang lah.. sekali setahun pun jarang.. kalau disini, mudah-mudahan la.. hehehe (tersenyum)”

(W2. R3/ b. 286-288 / h. 6)

“Enaknya.. enak di luar la.. tapi kita kan, disini kan, ambil keuntungan la.. mempelajari la kan.. yang gak kita dapatkan di luar, kita pelajari disini.. mungkin.. disini kan tenang, gak ada godaan segala macam..”

(W1. R3/ b. 433-437/ h. 9)

“Agama lah.. dulu waktu di luar, sama sekali gak tau tentang agama, walaupun aku muslim kan, tapi gak terlalu.. terlalu.. tau la gimana Islam sebenarnya.. didalam kan, diajarkan, dipelajari Islam kek mana.. trus kalau mau sholat kita kan, harus baca ayat.. jadi tahu lah..”

(W1. R3/ b. 419-425/ h. 8)

Selama berada di dalam LP, Edo juga mengikuti program pembinaan, seperti pembinaan ketrampilan kerja dan olahraga. Untuk pembinaan ketrampilan kerja, ia telah ditempatkan di kantor bagian register dan bekerja membantu-bantu pegawai.

“Pembinaan.. iya lah.. namanya udah warga binaan.. hahaha (tertawa).. namanya udah warga binaan adalah pembinaannya.. banyaklah.. ntah olahraga, kerja, pokoknya kita di didiklah, kek mana baiknya..”

(W3. R3/ b. 161-165/ h. 4)

“Ada.. kan ada disini tahap-tahapnya.. ketrampilan gitu.. kerja, buat-buat cincin.. seperti-seperti yang ada bakatnya kan bisa la disini diapakan, di keluarkan bakatnya, ntah ngelukis ya kan.. jadi, dikerjakan dia.. pokoknya asal dibilangnya lah.. dimana dia yang ahli, disitulah dia dikerjakan..”

(W3. R3/ b. 172-178 / h. 4)

“Abang kan udah kerja disini.. inilah jadi apanya.. pembinaannya.. hehe (tersenyum).. kan tempat pembinaan juga ini..”

(W3. R3/ b. 180-182 / h. 4)

Pembinaan kerja yang dilakukan tidak diikuti dengan tersedianya sumber informasi yang memadai. Minimnya sumber informasi membuat Edo kesulitan mengetahui apa yang terjadi dengan dunia di luar LP. Sumber informasi hanya diakses melalui radio sedangkan buku yang tersedia, hanya beberapa buku rohani. Buku-buku ini disewakan oleh para petugas.

“Nggak la.. gak ada pun dengar informasi dari luar.. paling kalau apalah kadang.. dari radio.. dengar-dengar berita dari radio la..”

(W2. R3/ b. 164-166/ h. 4)

“Paling baca buku la.. kan disini kan, tiap sore ada rental-rental buku..”

(W2. R3/ b. 176-177 / h. 4)

“Buku-buku kek mana la ya.. novel.. buku-buku agama.. agama muslim, Kristen..”

(W2. R3/ b. 185-186/ h. 4)

Beberapa perubahan positif dialami Edo sejak ia menjadi penghuni LP. Dengan adanya peraturan yang ditetapkan oleh LP, mau tidak mau ia harus menurutinya juga. Karena pola hidup teratur yang dijalankan LP, kondisi fisiknya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Selain itu, ia yang telah jauh meninggalkan agamanya, kini kembali ke jalan yang benar. Namun, keinginan untuk benar-benar mengembangkan kemampuan yang dimilikinya belum terlihat.

IV. c. Tujuan Hidup (Purpose of Life)

Sebelumnya, ketika Edo masih berada di luar LP, ia berencana untuk menikah sebelum usia 25 tahun dan membangun sebuah keluarga yang harmonis. Kemudian, ia berencana untuk merintis usaha yang bergerak dalam bidang yang sama dengan orangtuanya seperti mengolah sumber daya laut. Namun ternyata, kenyataan berkata lain.

“Kalau dulu kan, sebelum masuk, umur dua puluh lima lah maksimal.. kalau sekarang, dua puluh tujuh la mungkin..

(W1. R3/ b. 570-571/ h. 11)

“Iya.. ternyata.. Tuhan berkehendak lain.. kalau di tepi ini kan, di tepi-tepi pinggir laut ini, banyak nya apa.. kalau pintar awak ngolah- ngolahnya kan.. jadi peluang.. pinggiran pantainya.. apalagi, disana ada lahan..”

(W1. R3/ b. 588-593/ h. 11)

“Iya.. tapi gara-gara itu la, narkoba tu, hancur semua..”

(W1. R3/ b. 583-584/ h. 11)

Sekeluarnya Edo dari LP, ia telah berfikir mengenai beberapa hal. Pertama sekali, ia akan berusaha untuk menggapai kepercayaan orangtuanya kembali dengan cara mengubah perilakunya, terutama di hadapan keluarganya. Ada beberapa langkah yang telah terpikirkan olehnya.

“Emang kita harus adaptasi juga la kan.. sama lingkungan baru.. namanya udah tiga tahun awak disini.. ya mesti adaptasi la awak sama keluarga lagi la kan.. paling di rumah la dulu, kira-kira satu minggu..”

(W1. R3/ b. 316-320/ h. 6)

“Merubah tingkah laku la.. yang kita apa kan.. bisa dibilang.. kreak la kan.. gak beres lah.. kalau udah bebas besok, mudah-mudahan la kan, bisa jadi yang terbaik buat keluarga..”

“Ada lah.. ada kali pun.. hahaha (tertawa).. umpamanya dulu kita kan, jarang pulang ke rumah, jarang di rumah, nah besok.. harus itulah.. harus di rumah.. malam jam sepuluh pulang.. gitu lah..”

(W1. R3/ b. 335-339/ h. 7)

“Kalau udah diluar, paling-paling kerja la.. bantu-bantu orangtua balik la.. kek mana orangtua, udah sakit hati awak buat.. kek mana cara buat senang orangtua la.. biar kembali lagi kepercayaan orangtua sama awak..”

(W1. R3/ b. 308-313/ h. 6)

Setelah memiliki penghidupan yang cukup layak, Edo akan mulai mencari pasangan hidupnya. Baginya sendiri, mencari pasangan bukanlah hal yang sulit.

“Cari pasangan lagi? Itu kerja dulu la kan.. kalau udah banyak nanti uang, udah berhasil sedikit, baru cari pasangan.. kan kalau kita punya uang kan, gampangnya mau cari cewek.. hahaha (tertawa).”

(W1. R3/ b. 346-351/ h. 7)

“Itu makanya.. cari duitnya.. kalau udah banyak, tinggal ngelamar aja.. kalau gak mau, gak apa-apa..”

(W1. R3/ b. 565-567 / h. 11)

Mengenai kemungkinan untuk menggunakan Narkoba kembali, Edo mengatakan tidak ingin mengkonsumsinya lagi. Sudah terlalu banyak waktu yang terbuang sia-sia akibat barang haram tersebut.

“Tapi udah mau berubah.. gak apa lagi.. gak makek lagi.. rencana.. hehe (tersenyum)..”

(W1. R3/ b. 678-679 / h. 13)

“Nggak lah.. paling di rumah aja la.. pakek baju.. hahaha (tertawa).. gak lagi lah.. udah berapa tahun awak disini kan, banyak kali kerugian..”

(W3. R3/ b. 552-555 / h. 11)

Ke depannya, Edo hanya ingin hidup sebagaimana masyarakat pada mumnya. Ia akan mengubah perilakunya yang buruk terlebih dahulu dan memulai kembali hidupnya. Ia ingin bekerja hingga akhirnya mampu secara ekonomi.

Setelah itu, ia akan mencari seorang pasangan hidup untuk kemudian membangun sebuah keluarga yang harmonis.

IV. d. Penguasaan Lingkungan (Environmental Mastery)

Edo menghuni salah satu kamar di blok F. Setelah lebih dari satu tahun menjadi narapidana, ia merasa nyaman tinggal di LP. Untuk menjaga kebersihan kamarnya, ia dan teman sekamarnya membayar salah seorang temannya, yang disebut “anak hilang” untuk bertanggung jawab terhadap kebersihan kamar.

“Kek ini.. model-model ini juga.. pesantren.. gaya nya.. hidup ini.. hidup sehat.. hahaha (tertawa).”

(W1. R3/ b. 200-202/ h. 4)

“Dibilang nyaman gak nyaman kali la kan, cuman yah.. lumayan lah.. lengkap la semua.. ada kamar mandi.. ada airnya, bersih la kamarnya kan.. tergantung orangnya juga.. kalau orangya bersih, bersih la kamarnya, kalau nggak, nggak lah..”

(W1. R3/ b. 278-284/ h. 6)

“Kalau dia kan, kalau misalnya, gak ada duit, dibilang disini kan anak hilang kan.. jadi dia.. kalau dia dikamar kan, dikamar tu.. dia kerja. Misalnya kan, mengangkat-angkat air ke kamar mandi, ngepel, nyapu.. pokoknya dia la.. bagian-bagian kebersihan kamar.. bersih-bersih.. jadi, dia dibayar, sama teman-teman dia dikasi rokok, dikasi teman-teman nasi.. jadi dia hidup juga..”

(W2. R3/ b. 205-213/ h. 4)

“Iya.. dia la yang nanggung.. Atau, kita satu sel tujuh orang kan.. yang kita, anak hilangnya satu orang, yang enam orang lah yang bayar.. tek-tek an uangnya, kadang satu bulan 40ribu.. gajinya kan..”

(W2. R3/ b. 218-222/ h. 5)

“Iya.. tapi pekerjanya anak-anak juga.. anak-anak, tapi badannya besar ya kan.. disitulah kerja.. nyuci piring, ngepel.. bersih-bersih..”

Salah satu kekurangan yang dirasakan Edo adalah adanya larangan untuk penambahan arus listrik di dalam kamar. Jika diperbolehkan, ia ingin memasukkan sebuah kipas angin ke dalam kamarnya karena pada jam-jam tertentu, udara terasa sangat panas.

“Kipas angin la.. gak boleh masuk kipas angin katanya.. gak boleh la listrik dalam kamar.. kecuali lampu kan.. kalau lampu udah ada kian.. gak bisa kita nambah-nambah arus.”

(W2. R3/ b. 375-378/ h. 7)

“Enggak la.. biasanya kalau malam dinginnya sini.. dia paling panas jam-jam sepuluh, jam sebelas.. kalau udah jam satu ke bawah sudah dinginnya itu.. pake selimut la tidur..”

(W2. R3/ b. 380-383/ h. 8)

Kamar Edo berbeda dengan kamar narapidana lainnya. Ia memilih untuk mengecat kamarnya berwarna hijau serta melukis gambar “bunga”di dinding kamarnya. Seain itu, ia juga memilih untuk membawa sendiri kelengkapan tidurnya. Hal ini dilakukannya agar kamarnya terasa lebih nyaman dan menghindarkan kejenuhan. Biaya yang dibutuhkan ditanggung bersama-sama dengan teman sekamar.

“Disini ada jual.. ada disini jual tilamnya, bantalnya, bantal gulingnya.. lengkap la.. kalau punya abang, dibawa dari rumah..”

(W2. R3/ b. 396-398/ h. 8)

“Iya.. tambah lagi.. kalo kamar kami kan kami cat.. jadi enak dikamar..”

(W2. R3/ b. 385-386/ h. 8)

“Boleh lah.. tapi kalau dananya, dana pribadi la..”

“Warna hijau pokat.. sama ada gambar-gambarnya lagi di lukis.. gambar bunga.. biar gak bosan awak di kamar tu kan..”

(W1. R3/ b. 391-393/ h. 8)

Untuk air minum, Edo dan teman sekamarnya memilih menggunakan air mineral. LP sendiri telah menyediakan air minum pada tiap-tiap kamar, namun menurutnya, air yang dimasak di dapur tidak begitu nikmat. Untuk membayar air mineral tersebut, ia dan teman-teman sekamarnya akan membayarnya secara bergantian.

“Masukin ke kamar la.. kan disini kan ada air jatah dari dapur.. air biasa kan, dari dapur.. tapi airnya gak enak..”

(W3. R3/ b. 267-269/ h. 6)

“Sepuluh ribu.. kita tujuh orang satu kamar kan, ganti-gantian la bayarnya..”

(W3. R3/ b. 275-276/ h. 6)

“Tapi biar sehat.. hahaha (tertawa)..”

(W3. R3/ b. 267-269/ h. 6)

Edo dapat memenuhi biaya hidupnya sehari-hari. Setiap minggu, orangtuanya mengirimkan sejumlah uang yang digunakan untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari, seperti membeli lauk di kantin atau membeli sebungkus rokok.

“Tapi, dari sini kan ada dapurnya.. lengkap semua..nasinya, mau apanya, lengkaplah semua..”

(W1. R3/ b. 191-193/ h. 4)

“Dari orangtua la, kiriman.. seminggu dikirim sekali.. satu minggu kirim, satu minggu kirim..”

“Kalau satu minggu, 70ribu lah..” (W1. R3/ b. 205/ h. 4)

“Tergantung kita juga.. kalau kita mau yang enak kan, kalau ada uang kan, beli yang enak.. kalau gak ada, yah gak apa-apa..”

(W1. R3/ b. 195-197/ h. 4)

Edo jarang merasa kesepian selama berada di dalam LP. Selain sibuk melakukan aktivitas sehari-hari, kamarnya juga dipenuhi teman-temannya sehingga terasa ramai.

“Kan kalau pagi kerja sini lah.. kerja bantu-bantu Ibu ini kan.. kalau siang nanti, di kamar la, paling baca-baca buku, novel, sampai malam..”

(W1. R3/ b. 171-174/ h. 4)

“Merasa kesepian enggak lah.. karna kita kan, satu kamar itu kan rame.. jadi jarang la kesepian..”

(W1. R3/ b. 195-197/ h. 4)

Salah satu kesulitan yang dihadapi Edo dalam LP yaitu kurangnya kebebasan dan minimnya kesempatan untuk dapat membina hubungan dengan wanita. Hal ini dirasakan cukup menyiksa bagi Edo.

“Kesulitannya.. gak bisa pacaran lah.. hahaha (tertawa).. Kebebasan awak pun, istilahnya gimana yah.. di luar kan kita bebas kesana- kemari kan, kalau disini gak bisa, paling keliling-keliling blok la.. liat-liat.. pemandangan-pemandangan disini.. pacaran gak bisa.. itu yang paling sulit..”

(W1. R3/ b. 215-222/ h. 5)

Untuk bertahan menghadapi situasi seperti itu, biasanya Edo akan melakukan onani di kamar. Biasanya, ia akan melakukannya sekali sebulan. Selain dengan cara itu, ia dan teman-teman sekamarnya akan patungan dalam menyewa handphone, biasanya milik petugas, yang didalamnya berisi film-film

biru. Film ini akan ditonton beramai-ramai dalam sel kamar. Biaya sewa mulai dari malam hingga pagi yaitu Rp. 20.000.

“Haha (tersenyum).. paling inilah.. mengharapkan ini.. mimpi basah.. hahaha (tertawa)..”

(W1. R3/ b. 502-504/ h. 10)

“Yah.. kek mana lah kak.. paling inilah.. dikeluarkan lah dia.. apa namanya itu.. ini.. onani.. hahaha (o).. \]t0m bulan satu kali la kan.. udah bisa lah.. hahaha (tertawa).”

(W1. R3/ b. 507-510/ h. 10)

“Makanya sebulan satu kali.. hahaha (tertawa).. kalau awak yang masih anak muda ni gak apa-apanya.. ini nya, yang udah punya istri ini.. hahaha (tertawa). Kalau yang masih muda, bisa nya ditahan-tahan..””

(W1. R3/ b. 534-539/ h. 10)

“Itu pasti la kan.. hehehe (tersenyum).. paling inilah.. kan pegawainya mau merental-rentalkan hape, direntalkannya hape nya.. paling nonton la..”

(W1. R3/ b. 519-522/ h. 10)

“Iya, kan ada kamera nya, ada film nya.. itulah disewa, nanti ditonton rame-rame di kamar kan.. gantian nanti di kamar mandi..”

(W1. R3/ b. 524-526/ h. 10)

Edo juga berusaha membuat kamarnya terasa lebih nyaman agar dapat menghindarkan kejenuhan ketika berada di dalamnya. Banyak usaha yang dilakukannya agar ia merasa nyaman tinggal di LP seperti mengecat dinding kamarnya. Salah satu kesulitan yang dirasakannya adalah kurangnya interaksi dengan lawan jenis. Untuk menyalurkan nafsunya, ia biasanya melakukan onani dan menonton film biru. Namun sejauh ini, ia telah mampu mengatur bahkan menciptakan lingkungan yang nyaman bagi dirinya sendiri.

IV. e. Otonomi (Autonomy)

Di dalam LP sendiri, Edo tidak memiliki ruang gerak yang cukup bebas. Ia berusaha menuruti semua peraturan yang diwajibkan dan menuruti perintah pegawai. Ia juga berusaha untuk membangun hubungan yang baik dengan para pegawai agar ia memiliki ruang gerak yang lebih luas.

“Yah.. gimana la yah.. kalau disini kan cuma ini, mengikuti peraturannya aja.. tingkah laku baik la awak sama ini, para pegawai.. kalau diluar kan, beda dia.. bebas awak mau kemana aja.. ini kan, ada aturannya, ada segala macam.. kan dibimbing kita sini.. ibadah la..”

(W1. R3/ b. 160-166/ h. 4)

“Tergantung apanya juga.. tergantung pegawainya juga.. kan disini, sistem ganti-gantian.. macam gini kan, siang sama pagi kan beda penjaganya.. yang ini baik-baik semua.. narapidana agak longgar.. kalau nanti siang kan udah beda penjaganya.. tergantung apanya juga, dekat sama pegawainya juga.. kita baik sama dia kan, dikasinya kita kesana-kemari mondar-mandir..”

(W3. R3/ b. 200-209/ h. 4)

Untuk mendapatkan penghidupan yang layak, Edo sadar bahwa ia belum mampu dalam hal finansial. Untuk itu, ia akan meminjam modal usaha dari orangtuanya terlebih dahulu, melakukan usaha sendiri dan akan membayarnya setelah ia memiliki uang yang cukup.

“Ngerintis balik la, dari nol.. pinjam-pinjam modal lah dari orangtua ya kan.. nanti kalau udah berhasil, ganti uangnya..”

(W1. R3/ b. 600-602 h. 12)

Edo berusaha mematuhi peraturan yang ada, terutama yang berasal dari para petugas. Selain itu, ia berusaha membina hubungan yang baik dengan para petugas agar mendapatkan kelonggaran maupun kemudahan selama berada di

dalam LP. Selain itu, setelah ia bebas, ia juga tidak memiliki kemampuan untuk bekerja sendiri, sehingga ia akan bergantung pada orangtuanya terlebih dahulu.

IV. f. Hubungan Positif dengan Orang Lain (Positive Relations With