ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN
B. Deskripsi Data II
II. c. Wawancara III
Wawancara III dilakukan di ruangan register. Ruangan ini berada di sebelah ruangan KaSi BinaDik, tempat yang dilalui peneliti sebelumnya. Ruangan ini berukuran lebih besar dibandingkan ruangan dilakukannya wawancara I dan II. Ketika peneliti memasuki ruangan register, peneliti diberitahu bahwa wawancara untuk kali ini tidak dapat dilakukan di ruangan Kasi BinaDik. Hal ini disebabkan adanya teguran dari pihak atasan yang keberatan bahwa ruangan Kasi BinaDik dijadikan tempat wawancara, di samping Pak Sinar sedang berada di luar kota. Peneliti pun memaklumi alasan tersebut dan bersedia melakukan wawancara di ruangan register.
Berhubung saat itu adalah jam kerja, ruangan register pun terlihat sibuk. Seorang petugas wanita sedang menelopen menggunakan handphone sedangkan 2 orang narapidana pria terlihat sedang duduk di meja kerjanya. Peneliti pun duduk di kursi yang terdapat di depan petugas wanita ini. Selang beberapa saat, Na’O muncul dan tersenyum melihat peneliti. Ia kemudian duduk di depan peneliti dan
menanyakan bagaimana kabar peneliti. Ia mengenakan kemeja cerah berwarna orange dengan dalaman kaus, hanya kancing pertama dan kedua yang tertutup dengan baik. Kaus yang dikenakannya terlihat basah di bagian depan. Celana jeans biru yang dikenakannya juga terlihat basah pada bagian kaki.
Setelah bercakap-cakap sebentar, peneliti pun memutuskan untuk melakukan wawancara. Petugas wanita yang berada di depan peneliti seperti memahami perasaan peneliti dan mengatakan bahwa ia akan segera pergi untuk sarapan ke kantin. Ia pun segera beranjak dari tempat duduknya dan seraya tersenyum, mempersilahkan peneliti untuk melakukan wawancara. Peneliti pun mengucapkan berterima kasih. Kemudian, mengajak Na’O untuk berpindah dan mengambil tempat di sudut ruangan. ia bertanya mengapa wawancara tidak dilakukan di ruangan biasanya. Setelah menjelaskan alasannya, Na’O pun mengerti dan mengikuti peneliti.
Ketika wawancara dilakukan, Na’O lebih sering menatap ke arah ruangan dan menghindari tatapan peneliti. Ia juga melepaskan kedua sandalnya dan menaikkan kakinya ke kursi. Sesekali, ia tersenyum dan tertawa ketika melihat beberapa pegawai yang memasuki ruangan register.
Hal yang mengganggu selama wawancara yaitu, banyaknya pegawai yang mondar-mandir di ruangan register. Selain itu, lagu dengan volume cukup keras yang diputar melalui komputer terdengar sepanjang wawancara dilakukan.
III. Rangkuman Hasil Wawancara
III. a. Latar Belakang Kehidupan Responden
Na’O dan keluarganya berasal dari Lahewa, Kepulauan Nias. Untuk mendapatkan penghidupan yang lebih layak, ia dan keluarganya membuat keputusan untuk pindah ke Sibolga. Namun, ternyata, kehidupan baru di Sibolga tidak jauh berbeda dengan apa yang telah dilalui keluarganya di tempat sebelumnya.
Di Sibolga, Na’O dan keluarganya tinggal di daerah pinggiran pantai yang jauh dari keramaian. Kedua orangtuanya tidak bekerja karena usia yang sudah tua. Kondisi ekonomi keluarga hanya ditopang oleh anak. Untuk menyambung hidup keluarga, anak tertua bekerja sebagai seorang supir boat (kapal) di sebuah pelabuhan. Dan anak kedua, bekerja serabutan untuk sekedar mendapatkan uang. Namun, upah yang diperoleh dari pekerjaan tersebut, menurut Na’O, hanya mampu digunakan untuk “kerja pagi, belanja sore”.
Na’O adalah anak ke empat dari tujuh orang bersaudara, empat lelaki dan tiga perempuan. Walaupun telah memiliki rumah tangga sendiri, abang tertua mengambil peran sebagai pencari nafkah dalam keluarga. Hal yang sama juga dilakukan oleh abang kedua yang hanya bekerja serabutan. Kakak yang ketiga telah berkeluarga, ia memiliki keluarga sendiri yang harus ditanggung sehingga tidak dapat membantu kondisi ekonomi orangtua. Anak kelima, perempuan, telah meninggal di tangan Na’O sendiri. Sedangkan anak keenam dan yang paling bungsu masih duduk di kelas SD.
Semasa kecil, ketika Na’O masih tinggal di Lahewa, ia pernah mencoba kabur dari rumah. Kejadian itu terjadi pada waktu ia duduk di Keas V SD. Ia tidak begitu menyukai sekolah, sehingga ia jarang pergi dan mengikuti pelajaran di sekolah. Apalagi dengan keharusan yang mewajibkannya untuk bangun pagi-pagi sekali untuk berangkat ke sekolah.
Pada hari itu, orangtuanya sedang berada di kota lain. Kemudian, Na’O kecil mengambil kesempatan untuk lari dari rumah. Di usia yang masih sekecil itu, Nao memutuskan untuk merantau ke kota lain. Ketika orangtua nya mengetahui hal ini, orangtua dan seluruh keluarga akhirnya mencarinya hingga kemana-mana. Hingga akhirnya mereka menemukan Na’O. Kemudian, Ibunya bertanya, apa yang diinginkan olehnya. Ia akhirnya menjelaskan bahwa ia tidak mau melajutkan sekolah karena tidak mau menyusahkan Ibunya untuk biaya sekolah.
Namun, Nao’O akhirnya tetap bersekolah hingga akhirnya menuntaskan pendidikannya di kelas V SD. Menjelang kenaikan kelasnya, keluarganya memutuskan untuk pindah ke kota lain, yaitu Sibolga. Ia melanjutkan pendidikannya hingga kelas VI SD di Sibolga. Setelah tamat SD, ia tidak ingin melanjutkan pendidikannya lagi di jenjang yang lebih tinggi. Kepada Ibunya, ia mengatakan hendak membantu Ibunya bekerja.
Namun sebaliknya, setelah ia putus sekolah, Na’O malah menghabiskan waktu sepanjang hari hanya bermain-main dengan kawan-kawannya mulai dari pagi hingga sore. Mulai dari ia kecil hingga dewasa, ia tidak berusaha mencari
pekerjaan seperti yang dilakukan oleh kedua saudaranya. Ia menikmati kesehariannya dengan bermain setiap hari dengan kawan-kawan dan pergi kemana pun sesukanya.
III. b. Latar Belakang Penangkapan Responden
Pada hari itu, sekitar jam sembilan pagi, Na’O baru saja pulang ke rumah dan memasuki kamar untuk tidur. Di ruang tamu, ia melihat kedua adiknya, yang nomor lima dan paling bungsu sedang bertengkar. Sambil lalu, ia menyuruh mereka untuk berbaikan kemudian masuk ke kamar untuk tidur. Pada siang harinya, ketika ia terbangun dari tidurnya, ia mendengar teriakan dan tangisan yang berasal dari ruang tamu. Ia pun segera keluar dan melihat kedua adiknya sedang bertengkar dengan hebatnya, salah satu adiknya bahkan menangis histeris. Ia segera menyuruh mereka berdua berhenti, namun tidak dihiraukan. Ia berusaha untuk menyadarkan adiknya yang nomor lima dengan berbicara baik-baik, namun tetap tidak dihiraukan oleh adiknya tersebut.
Na’O akhirnya merasa geram dan menampar adiknya tersebut. Tidak menerima perlakuan abangnya, adiknya kemudian mengambil hanger dan melemparkannya kepada abangnya. Na’O mengelak dan kembali menampar adiknya. Hal ini membuat adiknya merasa marah dan nekat mengambil parang yang terletak di dapur. Ia berusaha untuk membacok dan mengarahkan parang tersebut ke arah Na’O. Na’O mengelak dan kemudian mencengkeram bahu adiknya, dan menolaknya hingga ke luar pintu rumah. Namun, tanpa sengaja, ketika ia mencengkeram bahu adiknya dan berusaha mengambil parang yg
digenggam oleh adiknya, ujung parang mengenai leher adiknya. Adiknya terjatuh dan lehernya pun terluka. Ia pun terkejut melihat hal tersebut, panik dan berusaha untuk meminta pertolongan.
Ketika kejadian ini terjadi, orangtuanya sedang pergi berkebun, dan rumah dalam keadaan kosong. Na’O yang panik memanggil para tetangga untuk membawa adiknya yang terluka ke rumah sakit. Di tengah perjalanan ke rumah sakit, adiknya meminta maaf karena telah berkelahi dengan adik mereka, serta berpesan untuk menyampaikan maaf kepada orangtua. Akhirnya, ia menghembuskan nafas terakhirnya sebelum sampai ke rumah sakit.
Na’O masih belum percaya bahwa adiknya telah tiada. Sesampainya di rumah sakit, ia tetap meminta dokter untuk melakukan pemeriksaan terhadap adiknya. Hingga akhirnya, dokter memvonis bahwa adiknya tidak ada lagi di dunia ini. Belum habis rasa terkejutnya, ia kembali dikejutkan dengan kehadiran oknum polisi di rumah sakit. Ia tidak tahu bagaimana orangtuanya, maupun polisi, dapat tiba di rumah sakit secepat itu. Oleh polisi, ia ditanya apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana hal ini dapat terjadi. Setelah itu, ia langsung dibawa ke kantor polisi.
Tanggal persidangan telah ditentukan. Ia akhirnya duduk di kursi terdakwa. Keluarga dan saudara-saudara datang menghadiri persidangan, namun banyak kerabat dan rekan-rekan yang berada di Nias tidak dapat menghadiri persidangan. Setelah beberapa kali persidangan, akhirnya Na’O dijatuhi hukuman
selama 11 tahun masa tahanan di dalam Lembaga Permasyarakatan. Hingga saat ini, Na’O telah menjalani dua tahun sembilan bulan masa tahanan di dalam LP.