ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN
B. Deskripsi Data II
1. Identitas Diri Responden II
Nama : Na’O (bukan nama sebenarnya)
Usia : 21 tahun
Suku : Nias
Agama : Kristen Protestan
Pendidikan Terakhir : Sekolah Dasar
Tanggal Masuk LP : 30 Juli 2008
Lama Masa Hukuman : 11 tahun
Kasus : Pembunuhan
II. Rangkuman Hasil Observasi
II. a. Wawancara I
Responden kedua bernama Na’O. Na’O adalah pria berkulit putih dengan tinggi sekitar 170 cm dan berat 60 kg. Untuk pria seusianya, ia terlihat kurus dengan tulang rahang yang menonjol ke luar. Pertama sekali berjumpa dengan peneliti, Na’O diperkenalkan oleh Awan. Pertemuan dilakukan di ruangan KaSi BinaDik, dan didampingi oleh Pak Sinar. Namun, karena suatu urusan, Pak Sinar keluar dari ruangan. Peneliti menjelaskan dengan rinci maksud kedatangan peneliti, namun Na’O terlihat bingung dan tidak mengerti dengan apa yang
dikatakan oleh peneliti. Beberapa kali ia bertanya kepada peneliti, namun ia tetap tidak mengerti. Ia terlihat tegang dan mengernyitkan dahi. Namun setelah dijelaskan kembali oleh Awan, disertai kelakar-kelakar, akhirnya ia setuju untuk membantu peneliti.
Bertiga dengan Awan, peneliti bercakap-cakap terlebih dahulu. Hingga akhirnya, Awan meninggalkan peneliti dan Na’O dalam ruangan. Awan memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan di luar. Peneliti pun bertanya mengenai beberapa hal kepada Na’O. Namun, ia masih terlihat tegang dan enggan menjawab pertanyaan peneliti. Bahkan, jawaban yang diutarakannya cenderung tidak sesuai dengan pertanyaan peneliti. Setelah beberapa saat bercakap-cakap, ia mulai terlihat nyaman dan berani menanyakan beberapa hal kepada peneliti. Di ujung percakapan, peneliti mengajukan hari dan waktu dilakukannya wawancara. Ia pun menyepakatinya dan berkata akan membantu sebisanya.
Wawancara I dengan Na’O dilakukan pada saat ia sedang bermain-main di dalam LP. Ketika menemui peneliti, ia tampak kecapekan, namun raut wajahnya tetap terlihat semangat. Rambut hitam yang panjangnya tepat di belakang telinga tampak basah karena keringat. Keningnya dipenuhi dengan butir-butir keringat yang membasahi hampir seluruh wajah. Ia mengenakan baju orange berlengan pendek yang bertuliskan “LAPAS SIBOLGA”. Bagian depan baju terlihat kusut sedangkan bagian belakang basah oleh keringat. Ia juga mengenakan celana olahraga panjang berwarna biru dan sandal jepit.
Dengan suara yang terengah-engah, ia bertanya kepada peneliti dimana wawancara akan dilakukan. Ruangan KaSi BinaDik yang berada di bagian register merupakan tempat dimana wawancara akan dilakukan. Ketika melewati ruangan register, peneliti bertemu dengan Awan. Ketika melihat peneliti, Awan hanya tersenyum dan berkata agar berhati-hati kepada Na’O. Peneliti dan Na’O hanya tersenyum mendengar ucapan Awan.
Ketika wawancara dilakukan, Na’O mengambil posisi duduk di sebelah peneliti. Pada awalnya, ia terlihat tidak nyaman, dengan badan tegak, posisi kedua kaki dirapatkan serta kaki kanan digoyang-goyangkan. Ia bahkan memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya. Ketika berbicara, ia lebih sering memandang ke luar jendela. Melihat hal tersebut, peneliti tidak langsung memulai wawancara, melainkan mengajaknya untuk bercakap-cakap terlebih dahulu. Na’O terlihat lebih nyaman kemudian, ia mulai menatap peneliti dan menyandarkan badannya ke kursi. Setelah cukup lama berbincang-bincang, peneliti menanyakan apakah wawancara sudah boleh dilakukan. Dan dijawab iya olehnya.
Wawancara dilakukan dengan lancar. Sekali-kali, Na’O menyibakkan rambutnya dan tertawa ketika peneliti menanyakan hal yang lucu. Namun, ia juga sering tidak mengerti dengan pertanyaan peneliti, sehingga jawabannya tidak sesuai. Berkali-kali ia terdiam dan melihat ke bawah ketika tidak tahu apa yang harus dikatakan. Ketika berbicara tentang orangtua dan kejadian yang dilakukannya, matanya terlihat berkaca-kaca dan memilih untuk memandang keluar jendela. Ia berkali-kali menghindari tatapan peneliti ketika berbicara mengenai topik tersebut.
Ditengah wawancara, seorang pegawai sedang melintas di luar jendela. Melihat peneliti, ia menghentikan langkahnya, mendekati jendela dan bertanya kepada peneliti apa yang sedang dilakukan peneliti dan seorang narapidana di dalam ruangan KaSi BinaDik. Bapak tersebut mengenakan seragam hijau seperti pegawai lainnya. Badannya tidak begitu tegap, dengan kulit menghitam, dengan tinggi sekitar 165 cm dan berat 60 kg. Ia membawa map berwarna hijau di tangan kanannya. Peneliti pun menjelaskan siapa peneliti dan kepentingan peneliti di dalam. Namun, Bapak tersebut, dengan suara yang cukup keras dan bernada tinggi, sekali lagi menanyakan siapa yang bertanggung jawab di ruangan tersebut, apa tujuan wawancara serta siapa pihak yang mengawasi wawancara. Bahkan ia mengacungkan tangannya ke arah Na’O, menanyakan kepentingan Na’O didalam wawancara. Peneliti pun mencoba menjelaskan sekali lagi, sedangkan Na’O hanya terdiam dan terduduk kaku di kursinya.
Seorang narapidana yang turut bekerja di ruang register tiba-tiba memasuki ruangan wawancara. Bapak tersebut kemudian menanyakan perihal yang sama kepada narapidana tersebut. Peneliti sering berjumpa dengan narapidana ini, ia bekerja di bagian register, duduk di depan mesin tik nya. Sambil berdiri di pintu, narapidana tersebut menjawab siapa peneliti, maksud dan kepentingan peneliti, serta siapa yang bertanggung jawab terhadap pengawasan terhadap wawancara tersebut. Setelah dijelaskan dengan terperinci, Bapak tersebut akhirnya paham. Namun, masih dengan memicingkan matanya, ia melihat ke arah peneliti dan Na’O sebelum akhirnya meninggalkan peneliti.
Peneliti pun mengucapkan terima kasih kepada narapidana tersebut. Sambil menutup pintu yang berderit, narapidana tersebut meninggalkan ruangan. Na’O masih terduduk kaku di kursinya. Peneliti kemudian mengambil permen yang berada di dalam tas putih peneliti dan memberikannya kepada Na’O. Ia tersenyum dan mulai terlihat nyaman kembali. Ia kemudian menyandarkan badannya ke kursi dan membuang bungkus permen melalui jendela. Wawancara pun dilanjutkan kembali.
Proses wawancara berjalan lancar setelah itu. Hingga akhirnya, peneliti menyudahi proses wawancara karena waktu telah menunjukkan pukul 12.00. Peneliti pun mengucapkan terima kasih dan direspon dengan senyum. Peneliti berdiri dari kursi, diikuti dengan Na’O. Setelah mengucapkan terima kasih sekali lagi, peneliti pun saling bersalaman. Bersama-sama, peneliti meninggalkan ruangan wawancara.
Hal yang mengganggu selama wawancara I: adanya interferensi dari berbagai pihak sehingga memakan waktu wawancara. Hal ini menyebabkan peneliti kurang dapat memanfaatkan waktu dengan baik.
II. b. Wawancara II
Wawancara II dilakukan di lokasi yang sama dengan diadakannya wawancara I, yaitu ruangan KaSi BinaDik. Pada wawancara II, Na’O mengenakan baju berlengan pendek berwarna hijau bergaris-garis kuning, celana olahraga panjang berwarna biru, serta sepatu berwarna biru dengan satu tali yang
terurai. Ketika menemui peneliti, ia tersenyum cerah dan segera mengikuti jejak peneliti ke ruangan wawancara.
Wawancara berjalan dengan lancar. Berkali-kali, ia menghela nafas dan memegang besi yang ada di jendela tersebut, terutama ketika ia berbicara tentang kejadian di pengadilan. Ia juga sering tertawa. Hampir dalam keseluruhan wawancara, ia tersenyum dan tertawa. Tidak ada gangguan berarti yang dialami peneliti hingga wawancara berakhir.