• Tidak ada hasil yang ditemukan

TERAPAN STRUKTURALISME GENETIK PADA PUTRI CINA

A. Fakta Kemanusiaan

Telah disampaikan pada bab sebelumnya, fakta kemanusiaan merupakan segala aktivitas atau perilaku manusia baik verbal maupun fisik. Fakta kemanusiaanpun terbagi menjadi dua yakni fakta individual dan fakta sosial. Dalam fakta kemanusiaan hanya fakta sosial yang dikatakan berperan, karena fakta itu mempunyai dampak sosial, ekonomi, maupun politis.

Putri Cina sendiri merupakan karya sastra yang hidup dan menjadi bagian dari proses asimilasi dan akomodasi yang terus-menerus. Novel tersebut memiki struktur dan tentu saja bukan sekadar struktur. Struktur itu memiliki arti dan tujuan tertentu. Struktur dalam Putri Cina merupakan unsur instrinsik antara lain cerita, tokoh, dan latar yang terdapat pada bab III.

Fakta kemanusiaan di dalam Putri Cina merupakan aktivitas manusia di dalam novel tersebut. Aktivitas itu dikatakan berperan jika bersifat kolektif karena memiliki dampak pada hubungan sosial manusia. Aktivitas manusia yang bersifat individual tidak diperhitungkan dalam fakta kemanusiaan karena tidak memiliki dampak pada hubungan sosial. Aktivitas yang bersifat individual itu seperti peristiwa diceraikannya Putri Cina oleh Prabu Brawijaya. Dalam aktivitas ini, Putri Cina tidak mewakili orang-orang Cina. Peristiwa ini murni aktivitas tokoh individual. Begitu juga peristiwa Raden Patah melarikan diri dari istana, peristiwa itu merupakan aktivitas individual karena tidak mewakili kelompok sosial tertentu.

Fakta kemanusiaan di dalam Putri Cina diwujudkan melalui aktivitas- aktivitas yang dilakukan oleh Putri Cina dan kaumnya. Aktivitas Putri Cina dan kaumnya tidak terbatas hanya pada ruang lingkup fisik, namun juga berupa dialog-dialog yang dilakukan oleh Putri Cina.

Di cerita bagian pertama, fakta kemanusiaan Putri Cina berupa persoalan identitas tokoh Putri Cina dan kaumnya itu sendiri. Persoalan identitas berupa

aktivitas Putri Cina sebagai wakil kelompoknya mengidentifikasi diri dalam kelompok masyarakat yang lebih besar yaitu Jawa.

Tidakkah hidupnya memang tidak punya akar, yang mengikat dia pada suatu tanah, tempat ia bisa berpijak? Katanya, ia berasal dari Cina. Tapi ia tidak tahu sama sekali, apakah dan bagaimanakah keadaan di tanah leluhurnya itu. Dan ke sana; sekalipun tidak pernah.

Dan tidakkah ia dan kaumnya terbang seperti debu, yang berhamburan kemana-mana? Kaumnya tidak bisa bicara satu sama lain. Bahasa mereka berupa-rupa, tergantung di mana mereka tinggal. Sementara ia dan kebanyakan kaumnya pun tidak bisa sama sekali bicara dengan bahasa leluhur.

Apa artinya merasa menjadi saudara serumpun dan seleluhur, jika mereka tidak mempunyai bahasa yang menjalin mereka untuk saling bicara? Ia berpikir, andaikan ia dan kaumnya tidak terikat dengan daging dan darah, tidak akan pernah mereka saling bersaudara. Betapa daging dan darah sama sekali tak cukup untuk menjadikan dirinya sebagai manusia sepenuh- penuhnya. Malahan daging dan darah itu membatasi dia untuk manusia di tempat ia berada. Ya, setiap kali ia mengeluh tentang dirinya, ia pun bertanya:

Kita datang ke dunia ini sebagai saudara;

Tapi mengapa kita mesti diikat pada daging dan darah? (Sindhunata, 2007:9-10)

Kutipan di atas menunjukkan bahwa Putri Cina dan kaumnya merupakan bagian dari kelompok sosial yang terpisah dari tanah leluhurnya yaitu Tanah Cina. Kelompok sosial ini menyebar ke berbagai wilayah sehingga mereka tidak mampu berkomunikasi satu sama lain karena menempati wilayah-wilayah yang baru. Mereka beradaptasi dengan wilayah yang baru dan tidak bisa berbicara dengan bahasa Cina. Maka, sudah sepantasnya jika Putri Cina lantas mempertanyakan apakah jika ia dan kaumnya tidak terikat oleh daging dan darah masih tetap dianggap sebagai saudara. Padahal, daging dan darah yang menunjuk sebagai

keturunan Cina berdasarkan fisik pada dasarnya hanya membatasi diri mereka untuk menjadi bagian di tanah baru yang mereka tempati.

Proses identifikasi sosial sebagai fakta kemanusiaan Putri Cina dan kaumnya tidak berhenti di situ. Identifikasi sosial Putri Cina dan kaumnya sebagai sebuah kelompok masyarakat meliputi kebiasaan hidup mereka. Kebiasaan hidup seperti yang dikisahkan dalam Putri Cina merupakan kelompok sosial yang meterialis. Mereka tergoda mencari harta dan kekayaan.

Ia sendiri terheran-heran, mengapa ia dan kaumnya selalu tergoda untuk mencari harta dan kekayaan yang berlebih-lebihan. Padahal leluhurnya mengajarkan berulang-ulang untuk menemukan tao, jalan kebahagiaan itu, manusia tidak boleh terikat akan benda atau harta apapun jua. Di hadapan tao, segala usaha manusia tidak akan berarti apa-apa. Apa pun usahamu, kau harus menerima, bahwa akhirnya gunung-gunung akan tetap hijau dan sungai-sungai akan terus mengalir, seperti adanya. Dan tidakkah Chuang Tzu berkata, ―Jika saat berpulang telah tiba, aku hanya membutuhkan beberapa lembar daun pisang saja.‖ Untuk apakah semuanya, bila akhirnya manusia cukup dibaringkan di atas daun ketika ia selamanya tidur? (2007:14).

Kelompok ini tidak hanya tergoda untuk mencari harta. Bahkan, kelompok tersebut benar-benar mempraktikan usaha mengejar kekayaan tersebut. Praktik tersebut diwujudkan dengan berbagai cara, khususnya berdagang yang diwujudkan pada kutipan berikut:

Mereka memang bekerja keras. Berdagang dan mengolah ladang. Semuanya dikerjakan dengan memeras keringat. Mereka seakan-akan tak kenal lelah, seolah-olah mempunyai tenaga yang berlipat ganda. Kesungguhan, ketekunan dan kerja keras, tak pantang menyerah, itu semua datang dengan sendirinya pada mereka seolah memperoleh anugerah. Tak mengherakan, di Tanah Jawa ini, banyaklah mereka yang menjadi kaya dengan harta melimpah (2007:75).

Di cerita bagian ke dua, fakta kemanusiaan masih berhubungan dengan cerita bagian pertama. Keterkaitan ini ditunjukan dengan menampilkan konflik- konflik yang terjadi sebagai akibat cerita bagian pertama. Fakta kemanusiaan di cerita bagian ke dua dikisahkan bahwa Putri Cina dan kaumnya tidak belajar dari sejarah kaumnya sendiri. Konflik itu sendiri dilatarbelakangi oleh identitas dan kebiasaan hidup mereka yang gemar mencari harta.

Putri Cina merasa dirinya sungguh berubah, meski kelihatannya tak pernah berubah. Ia sungguh tenang. Dan ia ingin, agar kaumnya juga menemukan kebenaran tao ini. Hanya dengan demikian, mereka bisa sekurang- kurangnya menahan, agar sejarah kekejaman tidak berulang lagi menimpa mereka. Sebab ia tahu, betapa sejarah di Tanah Jawa sering mengulangi kekejaman itu. Tak bisalah ia menyebutkan satu-persatu kekejaman yang pernah terjadi itu. Tetapi kekejaman itu membayang di hadapan matanya. Ketika di tahun 1740, kurang lebih 10.000 orang Cina di Batavia dibantai Kompeni. Ketika di Kudus, tahun 1916 orang-orang Cina mati dalam kekerasan yang dilancarkan terhadap mereka. Ketika tahun 1946, di sebelah barat Sungai Tangerang, terjadi pembunuhan besar-besaran, di mana ratusan orang Cina yang dituduh dengan kejam, mayatnya ditumpuk dan hartanya dijarah, rumahnya dibakar. Ketika di tahun itu pula, di Bandung Selatan Tangerang, Mauk dan sekitarnya, ribuan orang Cina dikorbankan. Ketika di Malang, tahun 1947 tentara Belanda melancarkan politioneel actie, di mana dilakukan penjarahan, perampokan, perkosaan, dan pembunuhan terhadap orang Cina. Ketika di tahun yang sama, di Lawang, rumah orang-orang Cina dijarah dan dibakar. Ketika di tahun yang sama pula, di Singasari dilakukan pembakaran terhadap rumah- rumah orang Cina, ketika hari masih pagi. Ketika 1949, tahanan Kalisosok di Surabaya dilepaskan untuk mendukung gerakan bumi hangus, banyak orang Cina dibunuh tanpa alasan. Ketika di tahun yang sama, di kota-kota Kertosono, Nganjuk, Caruban, Madiun, Blitar, Tulungagung, Kediri, Wlingi, orang-orang Cina terus dijarah, dirampok, dan dibunuh (2007:84- 85).

Orang-orang Cina terlambat menyadari bahwa sejarah di Tanah Jawa teruslah berulang. Hingga akhirnya mereka sadar saat konflik itu benar-benar terjadi bahwa identitas dan sikap mereka yang hanya peduli harta adalah bagian utama dari penyebab konflik tersebut. Mulanya, Kerajaan Medang Kamulan

dijalankan dengan sangat represif, rakyat sangat ditekan, termasuk orang-orang Cina. Tidak ada keadilan di Medang Kamulan, hanya raja dan orang terdekatnya yang dibenarkan. Di Medang Kamulan, raja dan kerabatnya sibuk memperkaya diri tanpa mementingkan kehidupan rakyat.

Orang-orang Cina di Medang Kamulan sangat tertekan. Mereka dilarang menjalankan kebudayaan, adat istiadat, dan tata acara agamanya. Nama asli mereka pun dihapus dan diganti dengan nama pribumi asli. Di Medang Kamulan, raja dan kerabatnya memperkaya diri dengan memeras orang-orang Cina karena mereka terkenal kaya.

Hingga akhirnya konflik pun pecah. Rakyat tidak percaya lagi dengan raja dan meminta untuk segera turun dari tahtanya. Namun, raja menolak dan dengan dengan segala tipu dayanya gerakan rakyat mudah dibelokan kepada orang-orang Cina karena mereka kaya dan dianggap pusat kesengsaraan rakyat itu sendiri. Rakyat pun mengamuk, mereka melampiaskan kekesalan pada orang-orang Cina. Harta orang-orang Cina dijarah, rumah-rumah mereka dibakar, tempat mereka berdagang pun dihanguskan. Wanita-wanita Cina tidak luput dari kekejam itu, banyak dari mereka yang diperkosa. Orang-orang Cina dianggap sebagai bagian yang terpisah dari orang-orang di Tanah Jawa karena mereka dianggap simbol kekayaan. Meskipun sebenarnya, orang-orang Cina itu sendiri seperti yang telah dijelaskan di cerita bagian pertama, sama sekali tidak tahu tentang tanah leluhurnya itu sendiri. Bahkan menggunakan bahasa leluhurnya sendiri tak mampu. Mereka telah menyatu dengan wilayah-wilayah yang mereka tempati.

Sesungguhnya itulah yang diinginkan oleh Prabu Amurco Sabdo. Biar rakyatnya berbeda entah dalam perasaaan salah entah dalam perasaan benar, pokoknya mereka menjadi satu dan seragam. Maka selama berkuasa, Prabu Amurco Sabdo selalu mengusahakan kesatuan dan keseragaman itu. Ia lalai, bahwa dengan demikian ia seperti menyimpan api dalam sekam. Sebab apa pun halnya, keseragam dan kesatuan itu sesungguhnya gudang yang menyimpan pertikaian, permusuhan dan kekerasan di antara rakyat sendiri. Dan suatu saat nanti, api dalam sekam itu pasti menyala.

Sekaranglah saatnya api itu menyala: rakyat pun bersatu melawan dia. Satu-satunya lawan adalah dia! Ya, rakyat tak peduli lagi, sesungguhnya mereka juga bertikai sendiri. Tapi karena semua merasa benar, sehingga tak ada yang salah, maka kesalahan harus ditimpakan ke satu orang saja. Dan dia itulah Prabu Amurco Sabdo, yang memang banyak bersalah dalam membuat mereka sengsara. Tapi bukanlah Prabu Amurco Sabdo, jika ia tidak dapat keluar dari jepitan dan dakwaan ini. Adakah jalan keluar itu adalah jalan kematian bagi diri dan kaumnya, orang-orang Cina? (2007:123).

Dokumen terkait