15. informan Kelima belas
4.6 Nikah Sir
4.7.2 Faktor Penyebab Terjadinya Perceraian
4.7.2.1 Faktor Campur Tangan Orang Tua
Faktor perceraian juga bisa datang dari orang tua. Banyak pula kasus perceraian saat ini yang diakibatkan oleh campur tangan kedua orang tua. Orang tua pun sebenarnya harus bijak dan tidak melihat sebuah masalah subyektif karena hal itulah yang menjadikan keikutcampuran orang tua atau mertua dirasa hanya menambah masalah saja.
Diantara beberapa masalah penyebab perceraian pada masyarakat Jorong Mawar, salah satunya campur orang tua. orang tua memberikan kebebasan kepada anaknya untuk mencari pasangan sesuai dengan keinginannya, namun sebagai orang tua, mereka menginginkan anaknya mendaptkan yang terbaik dan membuat anaknya bahagia. Jorong mawar memang terkenal dengan istilah “anak ciek manjadi duo” maksudnya “anak satu menjadi dua”, mereka menikahkan anak perempuannya dengan seorang laki-laki dan keduanya menjadi tanggungan orang tua, karena sang suami yang rata-rata belum mendapakan pekerjaan sehingga orang tua menanggung kehidupan mereka berdua dan masih tinggal dirumah orangtua mempelai perempuan. Namun orangtua tidak diam begitu saja, banyak yang member tenggang waktu supaya suami anaknya mencari pekerjaan, namun
dalam jangka waktu yang mereka berikan dan tidak juga mendapatkan pekerjaan, maka mereka juga akan turun tangan untuk mengurus bagaimana kehidupan anaknya kedepan jika suaminya belum juga bekerja, dank arena orang tua ikut dalam masalah rumah tangga anaknya maka timbullah pertengkaran dan akhirnya terjadi perpisahan.
Seperti yang terjadi pada informan peneliti, fitri derita,
“Pas awak bacarai samo suami partamo, sabananyo masih bisa untuak disalasaian antaro awak samo suami. Namun, urang tuo suami lah ndak mambulian batamu jo awak samo anak awak. Lah dipengaruhinyo suami awak bia ndak baliak ka awak. Malahan setelah nyo pai dari rumah, urang tuo awak lah manjampuik suami awak untuak baliak ka rumah. Namun urang tuo suami awak ndak mambuliahan dan manyuruah supayo kami bapisah jo. Dek lah bakareh urang tuo nyo, tu kami pasrah jo lai. Dan akhir nyo awak bapisah samo nyo. Sampai surek carai pun ndak diurusnyo do, anaknyo ndak pernah dicaliaknyo. Dan kini inyo lah menikah baliak”.
“Pada saat saya bercerai dengan suami pertama saya, sebenarnya masih bisa untuk diselesaikan antara saya dan suami saya. naumun, orang tua suami saya tidak membolehkan kami bertemu. Suami saya sudah dipengaruhinya supayo suami saya tidak kembali lagi ke saya. malahan, setelah dia pergi dari rumah, orang tua saya sudah menjemput suami saya untuk kembali ke rumah. Namun, mertua saya tidak membolehkan dan menyuruh supaya kami berpisah saja. Karena omertua saya sudah bersikeras seperti itu, kami pasrah saja. Dan akhirnya kami bebrpisah. Sampai surat cerai pun tidak diurusnya, anaknya pun tidak pernah dilihatnya. Dan sekarang dia sudah menikah kembali.
Berdasarkan hasil wawancara dengan fitri derita, ia mengatakan bahwa pada saat ia bercerai dengan suami pertamanya, orang tua juga menyebabkan masalah yang sebenarnya bisa mereka selesaikan berdua menjadi tambah rumit
dengan masuknya pihak orang tua. Mertuanya tidak mengizinkan ia untuk menyelesaikan masalah dengan suaminya. Malahan ketika orang tua fitri sudah datang untuk menjemput suaminya, mertuanya bersikeras untuk tidak mengizinkannya. Dan akhirnya mereka berpisah sehingga anaknya pun tidak pernah dilihatnya dan kini suami pertama fitri juga sudah menikah tanpa mengurus surat perceraian.
4.7.2.2 Pernikahan Dini
Pernikahan dini dinilai menjadi salah satu penyebab utama terus meningkatnya angka perceraian di Indonesia. salah satunya yang terdapat dijorong mawar. Pernikahan dini yang banyak terjadi didaerah ini berpengaruh pada tingkat perceraian, karena mengingat banyak hal yang dinilai belum disiapkan, baik dari segi ekonomis, psikis dan kesiapan mental. Banyak dari remaja di jorong ini yang menikah pada usia dini belum siap mental sehingga kata cerai kerap menjadi jalan keluar saat pertengkaran terjadi.
Seperti menurut kepala desa yang juga menilai bahwa tingkat perceraian yang terjadi juga karena pernikahan dini.
“Pernikahan dini cendrung dilakuan oleh pasangan yang sabananyo alum siap dari sisi kematangan mental dan labil. Banyak anak mudo kini yang ndak punyo sikap kemandirian. Kalaupun bisa menjalankan pernikahan dini, yo seadanya jo. Walaupun itu berjalan terus, tapi kan itu akan membosankan dan kato carai kerap menjadi jalan keluar. Banyak ambo liek remaja yang melakukan pernikahan dini setelah bara bulan menikah si istri ditinggalkan begitu saja. Karena si istri maraso setelah menikah nyo ndak harus merawat diri. Karena sudah mempunyai suami jadi untuak apo harus merawat diri
karna ndak gadis lagi. Namun, si suami merasa karano lah nikah istrinyo ndak pandai merawat diri, sehingga pas nyo kalua rumah dan Nampak yang labiah dibandiangkan istrinyo, si suami merasa bosan jo istrinyo dan memutuskan untuk pergi dari rumah. Iko penyebab dari pernikahan dini tadi. Karena persiapan mental dan arti pernikahan alum tatanam didirinyo, inyo ndak meraso terikat dengan kato pernikahan tadi sehingga jika ia maraso bosan dan ndak suko lai maliek istrinyo, nyo bisa pai maninggaan istrinyo mode tu jo. Apalai kalau istrinyo alah mampunyoi anak, si suami maraso istrinyo lah ndak pandai marawat diri karena hanya marawat anaknyo jadi ndak mementingkan penampilan. Itu saktek dari banyaknyo penyebab perceraian dikampuang ko”.
“ Pernikahan dini cendrung dilakukan oleh pasangan yang sebetulnya belum siap dari sisi kematangan mental dan masih labil. Banyak anak muda sekarang yang tidak memiliki sikap kemandirian. Kalaupun bisa menjalankan pernikahan dini, ya seadanya saja. Walaupun itu berjalan terus, tapi kan itu akan membosankan dan kata cerai kerap menjadi jalan keluar. Banyak saya lihat remaja yang melakukan pernikahan dini setelah beberapa bulan menikah, si istri ditinggalkan begitu saja. Karena si istri merasa setelah menikah dirinya tidak harus merawat diri karena sudah mempunyai suami jadi untuk apa harus merawat diri karena tidak gadis lagi. Namun si suami merasa karena setelah menikah istrinya tidak pandai merawat diri, sehingga ketika ia keluar rumah dan Nampak yang lebih dibandingkan istrinya , si suami merasa bosan dengan istrinya dan memutuskan untuk pergi dari rumah. Ini penyebab dari pernikahan dini tadi, karena kesiapn mental dan arti pernikahan belum tertanam di dirinya. Ia tidak merasa terikat dengan kata pernikahan tadi sehingga jika ia merasa bosan dan tidak suka lagi melihat istrinya, ia bisa pergi meninggalkan istrinya begitu saja, apalagi jika si istri sudah mempunyai anak. si suami merasa istri nya sudah tidak pandai merawat diri karena hanya merawat anaknya jadi tidak mementingkan penampilan. Itu sedikit dari banyak nya penyebab perceraian dikampung ini.
Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala desa ia mengatakan bahwa pernikahan dini yang dilakukan di jorong ini cendrung dilakukan oleh pasangan yang sebetulnya belum siap dari sisi kematangan mental dan masih labil. Bnayak
masyarakat yang memiliki sikap ketidakmandirian. Dan gampang bosan. Contonya saja banyak kasus perceraian yang terjadi akbiat suami yang bosan dan langsung pergi meninggalkan istrinya begitu saja. Karena menurutnya istrinya tak cantik lagi karena tidak bisa merawat dirinya. Sedangkan si istri merasa bahwa ketika ia telah memiliki suami, ia tidak perlu merawat dirinya lagi karena sudah mempunyai suami apalagi jika sudah punya nak,maka istrinya hanya mengurus anak dan lupa merawat dirinya. Dan pada saat suami merasa istrinya tidak bisa menyenangkan hatinya lalu ketika ia keluar melihat yang lebih dibandingkan istrinya, ia langsung saj pergi dan meninggalkan istri dan anaknya. Itu disebabkna karena ketidaksiapan mereka dalam menjalankan sebuah status pernikahan.
Seperti yang terjadi pada gina, yaitu :
“awak sadari memang usia menentukan lo untuak kesiapan dalam barumah tanggo kak, namun apo yang kadicekan lai, manyasa ndak ado gunonyo. Perceraian ndak lo bisa dihindari do kak, masalah ketek bisa jadi gadang dek lum siap mengatur rumah tanggo dengan elok, dek itu lah 2 kali awak gagal barumah tanggo, karena faktor keegoisan surang- surang, sabab nyo ndak tantu, tapi awak lah ditinggaan jo”
“saya sadari memang usia menentukan juga untuk kesiapan dalam berumah tangga kak, namun apa yang mau dibilang kak, menyesal tidak ada gunanya. Perceraian tidak bisa dihindari, masalah kecil bisa jadi besar karena belum siap mengatur rmah tangga dengan baik. Karena itu lah 2 kali saya gagal berumah tanggo, karena faktor keegoisan masing-masing, sebab tidak tau tapi saya suda ditinggalkan begitu saja”
Berdasarkan hasil wawancara dengan Gina, ia menyatakan bahwa ia menyadari bahwa usia menentukan dalam kesiapan berumah tangga. Ia juga tidak
bisa menyesali karena perceraian juga sudah terjadi. Ia mengaku sudah 2 kali gagal berumah tangga dan itu semua karena keegoisan masing-masing dan sebabnya yang tidak begitu rumit namun ia sudah ditinggalkan oleh suaminya.
4.7.2.3 Faktor Sosial Ekonomi
Salah satu alasan klasik perceraian adalah akibat keadaan ekonomi keluarga yang semakin berat sehingga memaksa pasangan untuk becerai. Hampir sebagian besar pembicaraan setiap hari di dalam rumah tangga adalah menyangkut masalah uang karena bagaimanapun, uang merupakan motor penggerak aktivitas rumah tangga yang paling berpengaruh. Jika rumah tangga terus menerus didera oleh masalah penghasilan yang tidak membaik, situasi ini dapat membawa pasangan suami sitri kepada keadaan frustasi sehingga memicu terjadinya perceraian. Memang penghasilan yang membaik juga bukan merupakan jaminan bahwa rumah tangga akan aman dan tentram sehingga terhindar dari ancaman perceraian. Meskipun presentasenya lebih kecil, namun penghasilan yang membaik juga bisa memicu perceraian (Surbakti,2008)
Salah satu alasan perceraian dijorong Mawar yaitu karena Pengangguran, atau suami yang tidak kunjung mendapakan pekerjaan. Pernikahan dini yang dilakukan masyarakat membuat banyak para suami yang belum mendapatkan pekerjaan namun mereka tetap saja melangsungkan pernikahan tanpa memikirkan akan seperti apa keluarga yang akan ia bangun nantinya. Pekerjaan merupakan hal yang sangat penting dalam menjalankan rumah tangga. Namun, karena belum kesiapan
keuangan untuk pernikahan dan yang menanggungnya adalah masih orang tua membuat banyak terjadi masalah yang berujung kepada perceraian.
Menurut kepala adat dt. Patiah yaitu,
“Pernikahan dini berpotensi jo perceraian emang sangaik tinggi. Dari sisi ekonomi misalnyo, hamper sebagian besar pasangan yang menikah usia dini alum memiliki tingkat ekonomi yang mapan. Dalam rumah tanggo, ekonomi memang sangat sensitive. Da bilo ndak ado kesiapan ekonomi mako ancaman memang sangat sensitif. Dan bila ndak ado kesiapan ekonomi maka ancaman perceraian memang cukup tinggi. Termasuk didalamnyo kedeewasaan dalam menghadapi suatu masalah rumah tanggo. Yang banyak terjadi dijorong ini, remaja yang menikah dini ndak mempunyai kesiapan ekonomi. Ini bisa diliat kebanyakan remaja yang menikah masih bergantung hidup kepada orang tuo. Karena mereka juga ndak mendapatkan desakan dari urang tuo untuak bakarajo sehinggo ndak mungkin selamanyo biaya hiduik mereka ditangguang oleh urang tuonyo. Sehingga akhirnyo jalan keluarnyo bacarai. “Pernikahan dini berpotensi terhadap perceraian memang sangat tinggi. Dari sisi ekonomi misalnya, hampir sebagian besar pasangan yang menikah usia dini belum memiliki tingkat ekonomi yang mapan. Dalam rumah tangga, ekonomi memang sangat sensitif. Dan bila tidak ada kesiapan ekonomi maka ancaman perceraian memang cukup tinggi. Termasuk didalamnya kedewasaan dalam menghadapi suatu masalah rumah tangga. Yang banyak terjadi di jorong ini, remaja yang menikah dini tidak mempunyai kesiapan dalam ekonomi. Ini bisa dilihat kebanyakan remaja yang menikah masih bergantung hidup kepada orang tua. Karena mereka juga tidak mendapatkan desakan dari orang tua untuk bekerja sehingga tidak mungkin selamanya biaya hidup mereka ditanggung oleh orang tua, sehingga akhirnya jalan keluarnya adalah bercerai”.
Kepala adat mengatakan bahwa pernikahan dini berpotensi terhadap perceraian cukup tinggi. Hamper sebagian besar pasangan yang menikah di usia dini tidak memiliki tingkat ekonomi yang mapan. Seperti yang banyak terjadi di
jorong mawar, remaja yang menikah dini tidak memiliki kesiapan. Masih banyak remaja yang menikah dan masih bergantung hidup kepada orangtuannya. Karena mereka juga tidak dapat desakan dari orang tua untuk bekerja maka lama- kelamaan orang tua juga tidak snaggup menanggung beban keduanya dan akhirnya jalan keluarnya bercerai.
Sama halnya dengan Yudi, ia bercerai dengan istri pertamanya karena faktor ekonomi, seperti yang ia katakana:
“Pado saat awak nikah jo istri partamo, karajo wak ndak jaleh do, bini manuntuik bali iko lah , ndak bisa awak memenuhinyo, inyo manyangko awak maleh untuak mancari karajo, padahal awak lah barusaho, namun karajo nyo yo serabutan, kadang ao kadang indak, jadi dek masalah itu makonyo awak memutuskan untuak bacarai karna nyo ndak bisa mangartian awak lai do “
“Pada saat saya nikah dengan istri pertama saya, kerja saya yang tidak jelas, namun istri menuntut untuk membeli ini atau itu, tapi saya tidak bisa memenuhinya. Dia menyangka saya malas untuk mencari kerja, padahal saya sudah berusaha, namun kerja yang tidak menentu kadang ada kadang tidak, jadi karena itu semua saya memutuskan untuk bercerai karena dia tidak bisa mengerti keadaan saya”
Berdasarkan hasil wawancara, Yudi mengatakan bahwa ia memutuskan untuk bercerai karena istrinya sudah tidak bisa mengerti keadaannya yang kerja serabutan, kadang ia mendapatkan pekerjaan kadang tidak. Istrinya juga menuntuk dibelikan apa yang diinginkan istrinya namun Yudi tidak bisa memenuhinya dan istrinya curiga jika Yudi tidak mau mencari pekerjaan dan bermalas-malasan, dank arena itu semua ia memutuskan untuk bercerai.
“ Waktu tu awak bacari dek ndak jo dapek karajo, selamao 2 tahun awak nikah, salamo itu pulo urang tuonyo menuntuik awak untuak karajo. Bini awak lah tahasuik lo, pada saat bacakak, keluarga nyo ikui lo, dek lah banyak nan ikuik campua akhirnyo ndak sanggup awak lai, tu wk tinggannyo”
“Pada saat itu saya bekerja karena tidak juga mendapatkan pekerjaan. Selama 2 tahun itu orang tua istri menuntut kepada Rus untuk mencari pekerjaan karena Rus juga tidak mendapatan pekerjaan dan kedua orang tua isrti Rus juga tetap menuntut Rus untuk mencari pekerjaan. isrti Rus juga menunntut Rus karna asutan dari orang tuanya akhirnya terjadi perselisiah dan Rus memutuskan untuk pergi dari rumah istrinya, semenjak itu Rus tidak pernah lagi mendatangi rumah istrinya untuk berkunjung”
Berdasarkan hasil wawancara dengan rus, ia mengatakan bahwa ia bercerai karena Rus tidak kunjung mendapatkan perkerjaa, istri dan orang tua istrinya sudah menyesak rus untuk cepat dapat pekerjaan, mereka yang sering bertengkar karena istrinya sudah terhasut oleh orangtuanya untuk cepat meninggalkan rus karena dirinya yang tidak punya pekerjaan menambah masalah rumah tangga mereka dan akhirnya rus yang tidak tahan lagi memutuskan untuk meninggalkan istrinya.
4.7.2.4 Faktor Sosial Budaya
Faktor selanjutnya yang menjadi penyebab perceraian adalah sosial budaya, masyrakat jorong Mawar sudah merupakan kebiasan mengucapkan kata cerai dengan mudah. Tidak ada keraguan dan berat untuk mengucapkannya. Kadang mereka pergi begitu saja meninggalkan istri dan anaknya, lalu setelah beberapa bulan suaminya menikah lagi. Hanya dengan sesederhana itu mereka sudah dikatakan bercerai. Kebiasaan yang telah ada dari dahulu membuat
masyarakat sampai kini mengikutinya dan telah menjadi budaya jika perceraian sudah biasa dan setelah perceraian baik kedua pasangan tadi dengan cepat sudah bisa membuka hatinya dan menikah lagi dengan yang lain.
Menurut kepala desa yang menyatakan bahwa :
“Memang disiko dari dulu kebiasaan nikah carai tu ado. Carai tu kato-kato yang mudah di ucapkan oleh warga disiko. Walaupun dengan alasan ekonomi, atau apapun itu. Namun, secaro umumnyo emang lah ado kebiasaan mangecek an carai tu mudah disiko. Sehingga kato carai ndak kato yang barek untuak dipikian dan diucapkan” “Memang disini dari dulu kebiasaan nikah cerai itu ada. Cerai itu kata-kata yang mudah diucapkan oleh warga disini. Walaupun dengan alasan ekonomi atau apapun itu. Namun, secara umumnya memang sudah ada kebiasaan mengucapkan cerai itu mudah disini. Sehingga kata cerai tidak kata yang berat untuk dipikirkan dan diucapkan”.
Berdasarkan hasil wawancara memang dari dulu kebiasaan nikah cerai itu ada. Menurut beliau kata-kata cerai sangat mudah diucapkan oleh warga disini. Walaupun dengan alsan yang beragam, nmaun secara umum memang sudah ada kebiasaan mengucapkan kata cerai yang sangat mudah, sehingga kata cerai tidak kata yang berat untuk dipikirkan dan diucapkan