• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.4. Analisis Data

5.1.3. Faktor Dominan Penentu Penggunaan Habitat

Luas total habitat yang tersedia dalam pengamatan dilapangan adalah 3.751,85 ha yang terbagi menjadi habitat kerusakan ringan dan habitat kerusakan sedang. Habitat yang digunakan monyet ekor panjang ditentukan dengan perjumpaan langsung dan tidak langsung (bekas pakan). Hasil analisis menunjukan bahwa monyet ekor panjang dalam melakukan aktivitas hariannya tidak melakukan pemilihan habitat (Tabel 14 ).

Tabel 14. Chi square test untuk menentukan adanya pemilihan habitat

Habitat Luas Propor si Area Plot Sample Used Plot Sample (U) Proporsi Used Plot (O)

Plot Harapan (E) Chi square test Ringan 2.543,94 0,68 26,00 5,00 1,00 3,39 1,69 Sedang 1.207,91 0,32 12,00 0,00 0,00 1,61 1,61 3.751,85 38,00 5,00 3,29* * ² hitung = 3,29; , =3,84

Hubungan antara keberadaan monyet ekor panjang dengan faktor dominan penentu penggunaan habitat diuji dengan menggunakan Chi square. Sebelum diuji menggunakan Chi square, faktor-faktor dominan penentu penggunaan habitat dibagi dalam tiga kelas; yakni: 1) rendah, 2) sedang, dan 3) tinggi. Selang kelas untuk setiap faktor dominan penentu penggunaan habitat disajikan pada Tabel 15. Hasil analisis Chi square test menunjukan bahwa faktor kerapatan vegetasi tingkat tiang tidak berhubungan dengan keberadaan monyet ekor panjang seperti disajikan pada Tabel 16.

Tabel 15. Selang kelas untuk setiap faktor dominan penentu penggunaan habitat

Faktor dominan Selang Kelas

Rendah Sedang Tinggi

Ketinggian (m dpl) 650-803 804-957 958-1111

Suhu ºC 22-24 25-27 28-30

Kelembaban (%) 60-66 67-73 74-80

Jarak ke sumber air (m) 17-132 133-248 249-364

Jarak ke pertanian (m) 0-69 70-139 140-209

Jumlah jenis vegetasi 2-6 7-11 12-16

Jumlah tumbuhan pakan 1-1 2-2 3-3

N_Semai 500-3833 3834-7167 7168-10501

N_Pancang 1200-1680 1681-2161 2162-2642

N_Tiang 7-111 112-216 217-321

N_Pohon 0-71 72-143 144-215

Tabel 16. Chi square test hubungan keberadaan monyet ekor panjang dengan faktor dominan penentu penggunaan habitat

Faktor dominan Nilai Observed tiap Kelas Total ² hitung Rendah Sedang Tinggi

Ketinggian tempat 12,00 22,00 46,00 80,00 22,90

Jarak ke sumber air 12,00 26,00 42,00 80,00 16,90

Jarak ke pertanian 27,00 5,00 48,00 80,00 34,68

Suhu 26,00 42,00 12,00 80,00 16,90

Kelembaban 7,00 47,00 26,00 80,00 30,03

Jumlah jenis vegetasi 51,00 7,00 22,00 80,00 37,53 Jenis tumbuhan pakan 53,00 27,00 0,00 80,00 52,68

Kerapatan Semai 26,00 7,00 47,00 80,00 30,03

Kerapatan Pancang 42,00 5,00 33,00 80,00 27,93

Kerapatan Tiang 27,00 22,00 31,00 80,00 1,53 ns

Kerapatan Pohon 38,00 0,00 42,00 80,00 40,30

5.2. Pembahasan

5.2.1. Sebaran Monyet Ekor Panjang

Monyet ekor panjang yang dijumpai secara langsung selama penelitian sebanyak 7 kali dan perjumpaan tidak langsung sebanyak 3 kali yang tersebar ke dalam 5 resort yaitu Resort Turi-Cangkringan-Pakem, Resort Dukun, Resort Kemalang, Resort Musuk-Cepogo, dan Resort Selo. Jumlah monyet ekor panjang selama penelitian di TNGM sangat sedikit yaitu 5 kelompok dibandingkan dengan hasil perjumpaan hasil pengamatan sebelum terjadi letusan Gunung Merapi pada tahun 2010 yaitu sejumlah 23 kelompok (Helida 2010, TNGM 2010).

Jumlah individu monyet ekor panjang yang terdapat di Resort Kemalang sebanyak 46 ekor merupakan jumlah dari 2 kelompok monyet ekor panjang yang masing-masing kelompok terdiri dari 20 dan 26 individu, sedangkan jumlah individu monyet ekor panjang yang terdapat dalam Resort Dukun sebanyak 12 ekor diduga merupakan individu yang terpisah dari kelompok utamanya dikarenakan menurut informasi masyarakat monyet ekor panjang tersebut merupakan kelompok yang sering berkeliaran di daerah tersebut dan lokasi perjumpaan antar lokasi juga tidak berjauhan. Monyet ekor panjang yang dijumpai di resort yang lain merupakan perjumpaan 1 kelompok.

Penelitian di Zona Wisata Alam Plawangan Turgo oleh Helida (2010) menyebutkan bahwa sebaran monyet ekor panjang di Resort Turi-Cangkringan-Pakem sebelum letusan Gunung Merapi tahun 2010 terdapat di Telogo Putri sebanyak 1 kelompok dan Telogo Muncar sebanyak 2 kelompok dan berdasarkan peta kerusakan vegetasi pasca letusan Gunung Merapi Tahun 2010 merupakan daerah yang terkena dampak kerusakan ringan. Berdasarkan hasil pengamatan perjumpaan monyet ekor panjang pada resort tersebut adalah di Telogo Muncar sebanyak satu kelompok dan di Turgo terdapat1 kali perjumpaan tidak langsung. Hal ini membuktikan bahwa monyet ekor panjang masih terdapat di resort tersebut, dan resort tersebut masih mampu untuk memenuhi kebutuhan hidup monyet ekor panjang. Hal ini sesuai dengan pernyataan Caugley & Sinclair (1994) yang menyebutkan bahwa iklim, ketersediaan pakan, habitat, predator, dan

patogen merupakan faktor-faktor yang mungkin mempengaruhi distribusi satwaliar.

Perjumpaan monyet ekor panjang di habitat kerusakan sedang hanya sebanyak satu kali yaitu di Resort Dukun sedangkan di resort lainnya tidak terdapat perjumpaan baik secara langsung maupun tidak langsung. Jumlah perjumpaan yang sangat sedikit dibandingkan dengan perjumpaan di habitat kerusakan ringan tersebut kemungkinan dikarenakan habitat kerusakan sedang sudah tidak dapat menyediakan kebutuhan hidup dari monyet ekor panjang terutama pakannya.

Ukuran kelompok monyet ekor panjang yang dijumpai di habitat kerusakan ringan lebih besar daripada ukuran kelompok monyet ekor panjang yang dijumpai di habitat kerusakan sedang. Clutton-Brock & Harvey (1978) menyatakan bahwa perbedaan ukuran kelompok juga dapat digunakan sebagai prediksi variasi merugikan dari kelompok dimana ukuran kelompok cenderung mengarah pada gangguan makan dan penurunan tingkat asupan makanan. Selain itu Clutton-Brock & Harvey (1977) juga menyebutkan bahwa ukuran kelompok primata berkaitan erat dengan kelimpahan pakan, dimana pada saat jumlah pakan berlimpah maka jumlah kelompok primata akan meningkat dan berkurang jika jumlah pakan langka.

Monyet ekor panjang yang dijumpai di luar kawasan seperti di Resort Dukun dan Resort Selo merupakan populasi monyet ekor panjang dari kawasan TN Gunung Merapi. Hal ini berdasarkan dari informasi masyarakat dan disebutkan dalam laporan monitoring habitat dan populasi primata yang dilakukan oleh TN Gunung Merapi pada tahun 2010. Laporan tersebut menyatakan bahwa populasi monyet ekor panjang yang berada di Resort Cepogo-Musuk dan Resort Selo pada siang hari sering berkeliaran di lahan masyarakat dan pada sore hari kembali ke kawasan TN Gunung Merapi.

5.2.2. Karakteristik Habitat

Kerusakan habitat yang terjadi akibat erupsi Gunung Merapi tahun 2010 telah menyebabkan kerusakan yang cukup besar yaitu ± 39% dari total luas kawasan TN Gunung Merapi (6.410 ha). Kerusakan habitat dibedakan menjadi

kerusakan ringan, sedang, dan berat. Penelitian yang dilakukan hanya meliputi kawasan habitat kerusakan ringan dan sedang.

Jenis tumbuhan di habitat kerusakan ringan yang dijumpai selama pengamatan adalah sebanyak 82 jenis dengan nilai indeks keanekaragamannya (H’) antara 2,20-2,59 sedangkan jumlah jenis tumbuhan di habitat kerusakan sedang adalah 29 jenis dengan nilai indeks keanekaragaman (H’) antara 0,74-1,85. Nilai indeks keanekaragaman jenis untuk habitat kerusakan ringan termasuk dalam kategori sedang, sedangkan untuk habitat kerusakan sedang termasuk kategori rendah dan sedang. Indeks kesamaan komunitas Jaccard (Cj) antara habitat kerusakan ringan dan habitat kerusakan sedang untuk setiap tingkatan vegetasi sangat rendah berkisar antara 0,12–0,28. Perbedaan jumlah jenis, nilai keanekaragaman dan rendahnya indeks kesamaan komunitas ini dikarenakan adanya dampak dari letusan Gunung Merapi dimana tumbuhan yang berada di habitat kerusakan sedang terkena awan panas sehingga banyak yang mati. Hal ini sesuai dengan pernyataan Odum (1983) bahwa keanekaragaman akan menjadi tinggi pada komunitas yang lebih tua dan rendah pada komunitas yang baru terbentuk.

Hasil analisis menunjukan bahwa pada habitat kerusakan ringan pada tingkat semai dan tiang didominasi oleh kaliandra (C.calothyrsus), tingkat tiang oleh bambu petung (D.asper), dan pada tingkat pohon oleh puspa (S.wallichii). Untuk habitat kerusakan sedang pada tingkat semai dan pancang didominasi oleh akasia dekuren (A.decurens), tingkat tiang oleh puspa (S.wallichii), dan tingkat pohon oleh pinus (P. merkusii).

Dominansi kaliandra pada tingkat semai dan pancang pada habitat kerusakan ringan dikarenakan tumbuhan ini mampu menekan pertumbuhan tanaman lain (Supartono 2010). Bambu petung mendominasi pada tingkat tiang dikarenakan merupakan tanaman budidaya masyarakat terutama di daerah Tritis Resort Turi-Cangkringan-Pakem. Puspa mendominasi pada tingkat pohon karena di Pulau Jawa tanaman tersebut banyak terdapat pada ketinggian 1300-1600 m dpl yang merupakan hutan pegunungan (Heyne 1987).

Akasia dekuren mendominasi pada tingkat semai dan pancang di habitat kerusakan sedang dikarenakan akasia dekuren dikenal sebagai tumbuhan dengan

pertumbuhan yang sangat cepat, bahkan dalam waktu 5 tahun akasia dekuren dapat mencapai tinggi ± 20 m dengan dbh ± 30 cm (Heyne 1987). Akasia dekuren juga dilaporkan setelah terjadi kebakaran akan tumbuh dengan rapat sehingga jenis-jenis asli menurun tajam (Purwaningsih 2010). Puspa merupakan tumbuhan yang tahan terhadap awan panas, hal ini terlihat di lapangan bahwa tumbuhan ini masih bisa hidup dan bertunas kembali walaupun terkena dampak langsung dari awan panas. Pinus pada tingkat pohon mendominasasi dikarenakan merupakan jenis tumbuhan yang ditanam di hutan tanaman milik perhutani dan sekarang menjadi kawasan TN Gunung Merapi.

Jumlah jenis tumbuhan pakan di habitat kerusakan ringan adalah 21 jenis sedangkan tumbuhan pakan di habitat kerusakan sedang adalah 11 jenis. Jumlah jenis pakan yang lebih banyak pada habitat kerusakan ringan ini mungkin yang menyebabkan lebih banyak monyet ekor panjang yang dijumpai di habitat tersebut dibandingkan pada habitat kerusakan sedang. Menurut Santoso (1996) bagian tumbuhan yang paling banyak dimakan adalah bagian buah sehingga faktor musim berbuah sangat berpengaruh terhadap ketersedian pakan monyet ekor panjang. Bagian tumbuhan yang disukai monyet ekor panjang di habitat hutan jati sebagai pakan berturu-turut adalah buah, daun, umbi, dan bunga, sedangkan jenis tumbuhan yang penting sebagai pakan adalah jenis Ficus dan Syzygium (Hasanbasri et al. 1996). Bagian tumbuhan pakan monyet ekor panjang di TNGM habitat kerusakan ringan lebih banyak dimakan pada bagian buah begitu juga dengan bagian tumbuhan pakan monyet ekor panjang untuk jenis pakan kerusakan sedang.

Santoso (1996) menyatakan bahwa monyet ekor panjang di Pulau Tinjil biasa beraktivitas pada tumbuhan tingkat tiang dan pohon sehingga potensi jenis pakan pada tingkat tersebut perlu diperhatikan. Komposisi jumlah jenis pakan untuk tingkat tiang dan pohon habitat kerusakan ringan lebih besar daripada jumlah jenis pakan habitat kerusakan sedang. Jumlah jenis pakan pada tingkat tiang dan pohon dengan dengan INP > 10% baik untuk habitat kerusakan ringan maupun sedang tidak terlalu banyak, sehingga menurut informasi dari masyarakat monyet ekor panjang sering memakan tanaman pertanian di lahan mereka.

Masyarakat juga menggunakan jaring untuk memagari lahan pertanian mereka agar tidak diserang oleh monyet ekor panjang.

5.2.3. Faktor Dominan Penentu Penggunaan Habitat

Hasil analisis menunjukan bahwa monyet ekor panjang dalam melakukan aktivitas hariannya tidak melakukan pemilihan habitat. Monyet ekor panjang menggunakan habitat kerusakan ringan maupun kerusakan sedang. Erupsi Gunung Merapi pada tahun 2010 tidak berpengaruh terhadap pemilihan habitat yang digunakan oleh monyet ekor panjang. Hal ini mungkin dikarenakan monyet ekor panjang merupakan satwa yang mudah beradaptasi dengan perubahan habitat. Hal ini sesuai dengan pernyataan Whitten et al. (2000) bahwa monyet ekor panjang merupakan satwa liar yang memiliki sebaran yang sangat luas karena monyet ekor panjang dapat hidup di pepohonan maupun di atas tanah, mempunyai variasi makanan yang sangat banyak mulai dari kepiting, rayap bahkan makanan manusia seperti roti dan kacang, mempunyai laju reproduksi yang tinggi, dan tidak takut akan kehadiran manusia.

Monyet ekor panjang dapat dijumpai di hutan mangrove, hutan sekunder sampai ketinggian 2000 mdpl, sungai, rawa-rawa yang langsung berbatasan dengan sungai serta hutan-hutan tanah kering, dan hutan yang berbatasan dengan pemukiman (Lekagul & McNeely 1977, Galdikas 1978, Soutwick & Cadigan 1972). Banyaknya variasi jenis makanan dan habitat yang digunakan dapat diduga bahwa hal tersebut yang menyebabkan monyet ekor panjang di TN Gunung Merapi tidak terpengaruh dengan adanya letusan Gunung Merapi pada tahun 2010 dalam pemilihan habitat untuk melakukan aktivitas hariannya.

Hasil analisis menunjukan bahwa keberadaan monyet ekor panjang di TNGM mempunyai hubungan dengan ketinggian tempat, jarak ke pertanian, jarak ke sumber air, suhu, dan kelembaban, jumlah jenis vegetasi, jumlah jenis pakan, kerapatan vegetasi tingkat semai, tingkat pancang, dan tingkat pohon. Faktor dominan penentu penggunaan habitat yang tidak mempunyai hubungan dengan keberadaaan monyet ekor panjang adalah kerapatan vegetasi pada tingkat tiang.

Hasil pengamatan menunjukan bahwa monyet ekor panjang dapat dijumpai pada ketinggian antara 650-1.110 m dpl yang merupakan hutan dataran rendah dan hutan pegunungan. Ketinggian tempat kelas tinggi lebih dipilih oleh monyet

ekor panjang yaitu pada kisaran 958-1.110 m dpl yang merupakan kawasan antara hutan dataran rendah dan hutan sub pegunungan. Hasil analis terhadap peta elevasi yang dilakukan oleh TNGM, proporsi luas lahan di TNGM yang termasuk hutan dataran rendah sebesar 4,28%, hutan sub pegunungan 57,47%, hutan pegunungan 33,59%, dan hutan sub alpin 4,65%. Hasil tersebut menunjukan bahwa kawasan TNGM sebagian besar termasuk hutan sub pegunungan dan pegunungan. Gunawan (2007) mengatakan bahwa monyet ekor panjang yang terdapat di Gunung Ciremai berada pada ketinggian antara 530–1.619 m dpl (hutan dataran rendah & pegunungan) dengan paling banyak perjumpaannya di hutan dataran rendah. Ketinggian tempat perjumpaan monyet ekor panjang di Gunung Merapi dan Gunung Ciremai tidak berbeda karena di kedua tempat tersebut berada pada hutan dataran rendah dan pegunungan.

Keberadaan monyet ekor panjang di TNGM berada dalam kisaran 0-208,74 m dari pertanian. Jarak yang lebih dipilih adalah kelas tinggi yaitu pada kisaran 140-209 m. Hal ini menunjukan bahwa monyet ekor panjang lebih menyukai berada didalam hutan. Secara umum kawasan hutan di Gunung Merapi merupakan hutan sekunder yang merupakan hutan yang dulunya terkena dampak erupsi. Soutwick & Cadigan (1972) menyatakan bahwa dibeberapa hutan monyet ekor panjang lebih banyak ditemukan di hutan-hutan sekunder. Selain itu penyebab monyet ekor panjang lebih menyukai berada di dalam hutan dimungkinkan karena saat penelitian lahan pertanian milik masyarakat kebanyakan ditanami oleh tanaman tembakau sehingga tidak tersedia pakan bagi monyet ekor panjang.

Pengamatan di lapangan menunjukan bahwa keberadaan monyet ekor panjang berada dalam kisaran 17,48-361,18 m dari sumber air. Berdasarkan hasil analisis monyet ekor panjang lebih menyukai jarak ke sumber air pada kelas tinggi yaitu pada kisaran 249-364 m. Bailey (1984) menyatakan bahwa kebanyakan satwa mencukupi kebutuhan air dengan minum air permukaan. Selain minum air permukaan primata juga memanfaatkan embun yang menempel di daun serta air yang menggenang di batang-batang pohon (Alikodra 2002).

Hasil pengamatan menunjukan bahwa monyet ekor panjang di TNGM di jumpai pada kisaran suhu 22-30 ºC. Monyet ekor panjang lebih memilih untuk

beraktivitas pada kisaran suhu kelas sedang yaitu antara 25–27 ºC. Hilda (2008) menyatakan bahwa aktivitas monyet ekor panjang di Bumi Perkemahan Cibubur adalah antara 24–36 ºC. Aktivitas dimulai pada pagi hari kemudian pada siang hari ketika suhu mencapai 36 ºC monyet ekor panjang akan beristirahat, baru kemudian pada sore hari ketika suhu turun monyet ekor panjang akan beraktivitas kembali. Nasution (2012) menyatakan bahwa kondisi mikroklimat ruangan pada suhu 25,79 ± 1,16°C dapat diperkirakan sebagai kondisi yang nyaman bagi monyet ekor panjang, terlihat dari nilai kecernaan pakan dan perilaku yang relatif masih normal.

Kelembaban udara pada saat terjadi perjumpaan monyet ekor panjang adalah pada kisaran 60-78 %. Kelembaban udara pada kelas sedang yang berkisar antara 67-73% lebih dipilih oleh monyet ekor panjang. Council of Europe (2006) menyatakan bahwa kelembaban udara antara 40-70% cukup nyaman bagi primata karena merupakan kisaran kelembaban udara yang cukup aman dari masalah pernafasan. Peningkatan kelembaban udara menyebabkan peningkatan frekuensi menggaruk pada monyet Jepang (Macaca fuscata yakui). Peningkatan frekuensi ini berkaitan dengan masalah kesehatan (Ventura et al. 2005).

Jumlah jenis vegetasi yang dijumpai di tempat perjumpaan monyet berkisar antara 2-16 jenis tumbuhan. Keberadaaan monyet ekor panjang jika dilihat dari jumlah jenis vegetasi lebih memilih untuk berada pada kelas rendah yaitu pada kisaran 2-6 jenis vegetasi. Jumlah jenis vegetasi yang rendah dikarenakan keberadaan monyet ekor panjang banyak dijumpai pada kawasan hutan pinus yang mengakibatkan keanekaragaman jenisnya sangat rendah. Jumlah jenis vegetasi berkaitan dengan potensi dari tumbuhan yang dapat menjadi pakan monyet ekor panjang karena pada umumnya primata jenis pakannya adalah buah, daun, dan serangga, sedangkan bagian tumbuhan yang paling banyak dimakan berturut-turut adalah buah, daun dan bunga (Cluton-Brock & Harvey 1977, Yeager 1976). Hasanbasri et al. (1996) menyebutkan bahwa potensi pakan monyet ekor panjang ada dalam setiap tingkatan vegetasi baik pohon, tiang, pancang, dan semai. Total jumlah jenis tumbuhan yang ditemukan di titik perjumpaan monyet ekor panjang adalah 27 jenis dengan 11 jenis diantaranya diidentifikasi merupakan tumbuhan pakan monyet ekor panjang.

Hasil analisis menunjukan bahwa jenis tumbuhan pakan mempunyai hubungan dengan keberadaan monyet ekor panjang. Monyet ekor panjang lebih memilih jumlah jenis tumbuhan pakan pada kelas rendah, Jumlah jenis pakan yang dijumpai pada setiap titik perjumpaan monyet ekor panjang sangat sedikit yaitu 1-2 jenis tumbuhan saja. Jenis tumbuhan pakan yang dimakan pada saat monyet ekor panjang dijumpai adalah kaliandra (C.calothyrsus), akasia dekuren (A.decurens), kalanjana (Pennisetum purpureum). Kaliandra dimakan pada bagian daun, buah, dan bunga, akasia dekuren dimakan pada bagian buah, sedangkan kalanjana dimakan pada bagian daun. Kaliandra dan akasia dekuren pada saat penelitian sedang berbuah sehingga hal ini diduga sebagai penyebab monyet ekor panjang banyak dijumpai pada lokasi tersebut karena monyet ekor panjang lebih menyukai buah sebagai sumber pakannya (Yeager 1996).

Kerapatan vegetasi di lokasi perjumpaan monyet ekor panjang pada tingkat semai berada dalam kisaran 500-10.500 ind/ha, tingkat pancang berada dalam kisaran 1.200-2.640 ind/ha, tingkat tiang berkisar antara 7-320 ind/ha, tingkat pohon berkisar antara 0-215 ind/ha. Hasil analisis menunjukan bahwa keberadaan monyet ekor panjang mempunyai hubungan dengan kerapatan vegetasi tingkat semai, tingkat pancang dan tingkat pohon. Untuk kerapatan vegetasi tingkat semai monyet ekor panjang lebih memilih pada kelas tinggi yaitu berkisar antara 7.168-10.500 ind/ha, untuk tingkat pancang pada kelas rendah yang berkisar antara 1.200-1.689 ind/ha, dan untuk tingkat pohon pada kelas tinggi yang berkisar antara 144-215 ind/ha. Hasil tersebut menunjukan bahwa monyet ekor panjang memerlukan cover di tingkat pohon dan sumber pakan pada tingkat vegetasi dibawahnya. Alikodra (2002) menyebutkan bahwa struktur vegetasi hutan merupakan salah satu bentuk pelindung baik sebagai tempat persembunyian atau penyesuaian terhadap temperatur.

Dokumen terkait