BAB VI HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Beban Kerja Tenaga Honorer
1. Faktor Eksternal
Faktor eksternal yang dimaksud dalam mempengaruhi beban kerja adalah beban yang berasal dari luar tubuh pekerja, diantaranya :
1) Tugas- Tugas Yang Bersifat Fisik
Tugas- tugas yang bersifat fisik merupakan semua tugas yang dikerjakan oleh seorang pegawai yang dapat dilihat secara kasat mata dan hal-hal yang mendukung pegawai dalam menyelesaikan tugasnya, diantaranya :
a. Alat dan Sarana Kerja
Alat dan sarana kerja merupakan segala jenis peralatan, perlengkapan kerja dan fasilitas lain yang berfungsi sebagai alat utama/pembantu dalam pelaksanaan pekerjaan, dan juga berfungsi sosial dalam rangka kepentingan orang-orang yang sedang berhubungan dengan organisasi kerja itu.Berikut hasil wawancara dengan
bapak N.F.I selaku kepala kasi pemerintahanpada hari selasa 18 Februari 2014 sebagai berikut:
“Kalau alat dan sarana kerja yang di kantor ini termasuk 1 unit komputer, 1 unit laptop, 1 unit mesin ketik,sama 1 unit printer. kalo sarana pendukungnya yaitu1 buah TV. Alat dan sarana yang ada di kantor ini masih kurang jadi itu dapat memperlambat dalam penyelesaian pekerjaan.”(Wawancara dengan bapak N.F.I pada tanggal 18 Februari 2014).
Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa alat dan sarana kerja yang ada di kantor Kelurahan Tamarunang Kecamatan Somba Opu terdiri dari 1 unit komputer, 1 unit laptop, 1 unit mesin ketik dengan 1 unit printer. Alat dan sarana yang ada di kantor ini masih sangat kurang sehingga dapat berpengaruh pada keefektifan dalam penyelesaian suatu pekerjaan. Hal tersebut sesuai dengan hasil observasi peneliti yang menemukan bahwa, alat dan sarana kerja yang ada di kantor Kelurahan Tamarunang yakni 1 buah komputer, 1 buah laptop, 1 buah mesin ketik dan 1 buah printer sedangkan sarana pendukungnya hanya ada 1 yaitu 1 buah televisi. Di samping itu, peneliti juga melihat banyaknya pekerjaan yang menumpuk karena pegawai harus antri untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut karena hanya ada 1 buah komputer yang harus digunakan semua pegawai secara bergantian.
Hal tersebut ditambahkan olehBapak H.S selaku Kepala Lurah Tamarunang sebagai berikut:
“Alat dan sarana kerja yang ada di kantor ini yakni meja staf, kursi, alat tulis menulis, komputer, mesin ketik.alat dan sarana yang ada di kantor ini belum terlalu lengkap.”(Wawancara dengan bapak H.S pada tanggal 18 Februari 2014).
Berdasarkan uraian dari kedua informan di atas dapat disimpulkan bahwa alat dan prasarana yang ada di kantor ini di antaranya 1 unit komputer, 1 unit
laptop, 1 unit mesin ketik, 1 unit printer, meja staf, kursi, dan alat tulis menulis.
Alat dan sarana yang ada di kantor tersebut belum lengkap dan masih diperlukan penambahan alat elektronik khusunya komputer. Hal ini sesuai dengan hasil observasi peneliti selama dilapangan menemukan bahwa kurangnya alat elektronik yang ada di kantor ini sehingga menyebabkan bertumpuknya pekerjaan.
b. Sikap Kerja
Sikap kerja merupakan keadaan diri dalam manusia yang menggerakkan untuk bertindak atau berbuat dalam melakukan suatu pekerjaan dengan perasaan tertentu di dalam menanggapi obyek situasi atau kondisi di lingkungan sekitarnya.
Sikap kerja yang baik oleh aparatur pemerintah sangatlah diharapkan demi tercapainya tujuan yang diinginkan serta dapat memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat. Untuk mengetahui sikap kerja aparatur pemerintah di Kelurahan Tamarunang berikut hasil wawancara dengan Bapak N.F.I selaku kepala kasi pemerintahan Kelurahan Tamarunang pada hari selasa 18 Februari 2014 sebagai berikut:
“Saya kira berbicara masalah sikap kerja pegawai negeri maupun tenaga honorer yang ada di kantor ini secara garis besar sudah baik namun ada biasanya oknum yang memliki sikap kerja yang tidak baik, karena setiap orang pasti memiliki sifat yang berbeda-beda, ada yang tekun bekerja, gesit, ulet, selalu bekerja dengan tepat waktu, namun ada pula yang selalu menunda-nunda pekerjaan yang diberikan kepadanya sehingga inilah yang menyebabkan bertumpuknya pekerjaan sehingga memperlambat pelayanan kepada masyarakat.”(Wawancara dengan Bapak N.F.I pada tanggal 18 Februari 2014).
Berdasarkan hasil wawancara informan di atas dapat diketahui bahwa sikap kerja pegawai negeri dan tenaga honorer yang ada di kantor Kelurahan Tamarunang secara garis besar sudah baik, namun ada segelintir oknum yang memiliki sikap kerja yang tidak baik sehingga menghambat pelayanan kepada
masyarakat. Hal tersebut sesuai dengan hasi observasi peneliti di lapangan yang menemukan bahwa memang ada sebagian kecil aparatur pemerintah yang ada di Kelurahan Tamarunang memiliki sikap kerja yang kurang baik karena selalu menunda-nunda pekerjaan yang diberikan kepadanya. Dilihat dari bertumpuknya beberapa pekerjaan. Sehingga masyarakat harus berjam-jam menunggu surat keterangan yang dibuat oleh aparatur pemerintah.
Hal tersebut juga ditambahkan oleh Ibu S selaku tenaga honorer di Seksi Trantib pada hari selasa 18 Februari 2014 sebagai berikut:
“menurut saya sikap kerja pegawai maupun tenaga honorer di kantor ini kurang baik, karena hanya saya sendiri yang mengerjakan pengetikan walaupun bukan dari tugas tempat saya di tempatkan, tenaga honorer dan pegawai memang memiliki tugas dan tanggungjawab masing-masing tetapi kenyataannya semua pekerjaan diserahkan ke saya.”(Wawancara dengan Ibu S pada tanggal 18 Februari 2014)
Menurut hasil wawancara dengan informan di atas dapat diketahui bahwa sikap kerja yang dimiliki oleh pegawai dan tenaga honorer yang ada di kantor Kelurahan Tamarunang kurang baik karena pegawai dan tenaga honorer lainnya kadangkala melalaikan tugas dan tanggungjwabnya. Hal ini sesuai dengan hasil observasi peneliti di lapangan yang menemukan bahwa pekerjaan yang bersifat pengetikan hanya dikerjakan oleh 1 sampai 2 orang tenaga honorer saja sementara setiap tenaga honorer memiliki tugas masing-masing.
Berdasarkan hasil dari wawancara kedua informan di atas dapat buat kesimpulan bahwa sikap kerja pegawai dan tenaga honorer di kantor Kelurahan Tamarunang kurang baik karena masih ada oknum yang memiliki sikap yang tidak baik dalam bekerja seperti menunda-nunda pekerjaan dan kadangkala melalaikan tugas yang diberikan kepadanya sesuai di seksi mana mereka ditempatkan.
c. Komplekitas Pekerjaan
Kompleksitas pekerjaan yang dimaksud adalah banyaknya jumlah pekerjaan yang diberikan kepada setiap aparatur pemerintah yang ada di kantor Kelurahan Tamarunang.berikut hasil wawancara dengan Bapak N.F.I selaku kepala kasi pemerintahan Kelurahan Tamarunang pada hari selasa 19 Februari 2014 sebagai berikut:
“Secara garis besar pekerjaan yang ada dikantor ini dikerjakan oleh tenaga honorer seperti pengetikan pembuatan surat tetapi tetap pegawai negeri yang membuat konsep dan mengawasinya ,dan administrasi pembukuan seperti mencatat surat masuk dan surat keluar dan surat lain-lainya.”(Wawancara dengan bapak N.F.I pada tanggal 18 Februari 2014).
Berdasarkan hasi wawancara dapat diketahui bahwa secara garis pekerjaan dikerjakan oleh tenaga honorer, dalam hal proses penyelesaiannya namun yang membuat konsep atau rancangan dikerjakan oleh pegawai negeri. Jenis pekerjaan yang dilakukan seperti pengetikan, administrasi pembukuan dalam hal ini mencatat surat masuk dan surat keluar. Hal ini sesuai dengan hasil observasi di lapangan bahwa hampir secara garis besar tenaga honorerlah yang banyak mendapatkan tugas di kantor tersebut. Hal tesebut sesuai dengan yang disampaikan oleh ibu HJ selaku tenaga honorer K2 pada hari selasa 18 February 2014.
“Hampir secara garis besar pekerjaan yang ada di kantor ini dikerjakan oleh tenaga honorer dalam hal proses dalam menyelesaikan tugas tersebut dan pegawai negeri hanya tinggal menunggu pekerjaan itu diselesaikan oleh kami kemudian mereka hanya tinggal tandatangan.”(Wawancara dengan bapak HJ pada tanggal 18 Februari 2014).
Berdasarkan hasil wawancara dapat diketahui bahwa hampir secara garis besar pekerjaan dikerjakan oleh tenaga honorer dan tugas dari pegawai negeri
hanya menandatangani. Hal tersebut sesuai dengan hasil observasi di lapangan yang menemukan bahwa tenaga honorer yang mengerjakan seluruh tugas-tugas pengetikan di kantor baik itu membuat surat keterangan maupun membuat IMB (Izin mendirikan bangunan).
Namun berbeda dengan yang disampaikan oleh bapak H.S selaku bapak lurah Tamarunang sebagai berikut:
“Saya kira pekerjaan yang ada di kantor ini dikerjakan oleh semua tenaga organik yang ada di kantor ini boleh dikatakan PNS,tetapi untuk lebih efektifnya suatu pekerjaan maka dibebankan juga kepada tenaga honorer untuk memberikan pembelajaran kepada tenaga honorer untuk itu diberikan kesempatan untuk melaksanakn suatu pekerjaan demi meningkatkan SDM dan menguasai pekerjaan disetiap bidang-bidangnya.”(Wawancara dengan bapak H.S pada tanggal 18 Februari 2014).
Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat diketahui bahwa pekerjaan yang ada di kantor tersebut dikerjakan semua oleh tenaga organik atau pegawai negeri, dan dibantu oleh tenaga honorer. Hal tersebut tidak sesuai dengan observasi di lapangan yang menemukan bahwa kebanyakan pekerjaan diselesaikan oleh tenaga honorer.
Dari ketiga informan diatas dapat disimpulkan bahwa kompleksitas pekerjaan dalam artian banyaknya pekerjaan yang dikerjakan seseorang yaitu diselesaikan oleh tenaga honorer. Hal tersebut sesuai dengan hasil observasi peneliti selama di lapangan menemukan bahwa hampir secara garis besar pekerjaan diselesaikan oleh tenaga honorer, semua pekerjaan yang berhubungan dengan pembuatan surat baik surat ketengan domisili, KTP dan surat-surat lainnya dan pembuatan IMB diserahkan semua kepada tenaga honorer dan tugas dari pegawai negeri hanya tingal menandatangani.
d. Tingkat Kesulitan
Tingkat kesulitan yang dimaksud adalah seberapa sulitnya masing-masing jenis pekerjaan yang dikerjakan oleh pegawai yang ada di kantor Kelurahan Tamarunang. Untuk mengetahui tingkat kesulitan pekerjaan yang ada di kantor tersebut berikut hasil wawancara dengan bapak H.S selaku kepala Kelurahan Tamarunang pada hari selasa tanggal 18 Februari 2014.
“Tingkat kesulitan mengenai pekerjaan yang dikerjakan oleh pegawai di kantor ini sejauh ini tidak mengalami kesulitan karena tingkat kesulitan pekerjaan tidak begitu sulit kecuali pegawai yang tidak lancar mengoperasikan computer Lancar saja,biasanya terkait surat menyurat ,adminstrasi kependudukan, surat lainnya yang brsifat keterangan-keterangan.”(Wawancara dengan bapak H.S pada tangga 18 Februari 2014).
Berdasarkan uraian dari informan di atas dapat diketahui bahwa tingkat kesulitan pekerjaan yang ada di kantor Kelurahan Tamarunang tidak sulit hanya saja yang menyebabkan bertumpuknya pekerjaan karena lebih banyaknya pegawai yang tidak mahir menggunakan komputer dibanding yang tahu mengoperasikan komputer. Hal tersebut sesuai dengan hasi obervasi penelitidi lapangan yang menemukan bahwa pekerjaan yang dikerjakan oleh pegawai maupun tenaga honorer tidak sulit karena hanya menyangkut pengetikan, namun bertumpuknya pekerjaan karena semua pekerjaan dipusatkan kepada 1 (satu) sampai 2 (dua) orang tenaga honorer saja untuk menyelesaikan tugas tersebut sementara setiap seksi mempunyai masing-masing pekerjaan.
Hal tersebut ditambahkan oleh Bapak N.F.I selaku kasi Pemerintahan di Kelurahan Tamarunangpada hari selasa tanggal 18 Februari 2014 sebagai berikut:
“Kalau berbicara masalah tingkat kesulitan dalam sebuah pekerjaan tidak begitu sulit,namun yang menghambat penyelesaian suatu pekerjaan
tersebut dikarenakan SDM yang ada dikantor ini belum mahir dalam mengoperasikan komputer khususnya tenaga honorer yang berjumlah 8 orang hanya dua orang saja yang mahir dalam mengoperasikan computer, begitupun dengan kepala kasi ada sebagian yang tidak mahir mengoperasikan komputer.”(Wawancara dengan bapak N.F.I pada tanggal 18 Februari 2014 ).
Berdasarkan uraian kedua dari kedua informan di atas dapat diketahui bahwa tingkat kesulitan mengenai pekerjaan yang ada di kantor Kelurahan Tamarunang tidak begitu sulit hanya saja yang membuat bertumpuknya pekerjaan yakni disamping pegawai dan tenaga honorer yang masih banyak belum mahir komputer juga dipengaruhi karena kurangnya alat elektronik seperti komputer yang ada di kantor Kelurahan Tamarunang. Hal tesebut sudah sesuai dengan hasil observasi peneliti di lapangan yang menemukan bahwa banyaknya pekerjaan yang menumpuk dikarenakan bukan karena sulitnya pekerjaan tersebut tetapi karena semua pekerjaan mengenai pengetikan dipusatkan kepada 1 sampai 2 tenaga honorer saja sementara banyak yang ingin diselesaikan dan harus bergantian untuk mengetik dikarenakan hanya ada satu komputer.
e. Tanggung Jawab Pekerjaan
Tanggung Jawab pekerjaan merupakan keharusan seseorang untuk menanggung suatu pekerjaan mulai dari awal hingga akhir. Setiap pegawai maupun tenaga honorer harus bertanggungjawab penuh terhadap tugas yang diberikan untuk memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat. Berikut hasil wawancara yang dilakukan dengan bapak N.F.I selaku kasi pemerintahan di Kelurahan Tamarunang pada hari rabu 19 Februari 2014 sebagai berikut:
“Setiap pegawai yang ada di kantor ini masing-masing diberikan tugas dan tanggung jawab sesuai dengan jabatan dan fungsinya. Sesuai dengan apa yang saya lihat di kantor ini apabila jika ada pegawai negeri maupun
tenaga honorer jika diberikan sebuah pekerjaan mereka menyelesaikan dengan baik dan bertanggungjawab penuh dalam pekerjaan tersebut.”(Wawancara dengan bapak N.F.I pada tanggal 19 Februari 2014).
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan di atas dapat diketahui bahwa setiap pegawai negeri maupun tenaga honorer di berikan tanggungjawab dalam menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya dengan baik. Namun hal tesebut tidak sesuai dengan hasil observasi peneliti di lapangan yang menemukan bahwa ada sebagian oknum yang tidak bertanggungjawab penuh dengan tugas yang diberikan malah membebankan kepada tenaga honorer, hal ini dikarenakan oknum tersebut tidak mahir dalam mengoperasikan komputmer. Dan ada beberapa pekerjaan yang dikerjakan oleh tenaga honorer yang bukan merupakan tugas dan fungsi sesuai dimana ia ditempatkan.
Hal tersebut juga ditambahkan oleh bapak H.S selaku kepala Lurah Tamarunang sebagai berikut:
“Setiap pegawai yang ada di kantor ini harus bertanggungjawab penuh dengan tugas yang diberikan sebagai pelayan masyarakat. Namun, Jika seorang tenaga honorer yang belum mahir menggunakan komputer begitupun pegawai negeri lantas diberikan tugas sesuai dengan fungsinya, maka biasanya untuk mengefektifkan suatu pekerjaan, pekerjaan tersebut diberikan kepada tenaga honorer yang mahir menggunakan komputer.”(Wawancara dengan bapak H.S pada tanggal 19 Februari 2014).
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan di atas dapat diketahui bahwa memang seharusnya setiap pegawai yang ada di kantor ini jika diberikan tugas harus bertanggungjawab penuh terhadap penyelesaian tugas tersebut tetapi di kantor Kelurahan Tamarunang SDM (sumber daya manusia) yang ada lebih banyak yang tidak tahu mengoperasikan komputer dibanding yang tahu, jadi biasanya ada pegawai yang tidak bertanggungjawab dengan tugas yang diberikan,
namun untuk tetap memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat maka tugas tersebut diserahkan kepada tenaga honorer yang mahir mengoperasikan komputer. Hal tersebut sesuai dengan hasil observasi peneliti di lapangan yang menemukan bahwa sebagian besar aparatur pemerintah yang ada di kantor kelurahan Tamarunang tidak bisa mengoperasikan komputer sehingga jika diberikan tugas maka tugas tersebut dibebankan lagi kepada aparat yang mahir menggunakan komputer.
Berdasarkan hasil wawancara dari kedua informan di atas dapat disimpulkan bahwa ada sebagian oknum yang tidak bertanggungjawab penuh terhadap tugas yang diberikan dikarenakan oknum tersebut tidak bisa mengoperasikan komputer sehingga membebankan kepada tenaga honorer yang memang mahir mengoperasikan komputer.
2) Organisasi Kerja
Organisasi kerja adalah struktur pembagian kerja dan struktur tata hubungan kerja antara sekelompok orang pemegang posisi yang bekerjasama secara tertentu untuk bersama-sama mencapai tujuan tertentu.
a. Lamanya Waktu Bekerja
Lamanya waktu bekerja merupakan lamanya seseorang dalam menyelesaikan sebuah pekerjaan yang diberikan kepadanya. Lamanya waktu bekerja seseorang dapat dipengaruhi oleh 2 (dua) faktor yakni kemampuan yang dimiliki seseorang dan tingkat kesulitan pekerjaan yang dikerjakan. Untuk mengetahui lamanya waktu bekerja pegawai dan tenaga honorer dalam menyelesaikan tugas yang diberikan, berikut hasil wawancara dengan bapak N.F.I
selaku kepala kasi pemerintahan di Kelurahan Tamarunang pada hari rabu tanggal 19 Februari 2014.
“Berbicara masalah lamanya waktu bekerja, waktu yang normal dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dalam hal pengetikan surat-surat keterangan adalah ±10 menit, namun itu semua juga tergantung dari kemampuan dan keinginan pegawai yang ada di sini untuk karena biasanya ada pegawai yang menunda-nunda suatu pekerjaan, kurangnya komputer karena hanya ada 1 unit, serta kebanyakan juga dikarenakan oleh faktor SDM yang belum terlalu mahir dalam mengoperasikan komputer. Inilah yang menyebabkan lamanya pekerjaan tersebut terselesaikan.”(Wawancara dengan Bapak N.F.I pada tanggal 19 Februari 2014).
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan di atas dapat diketahui bahwa lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan yang bersifat pengetikan biasanya waktu yang dibutuhkan yakni ±10 menit. Namun ada beberapa faktor yang menghambat pekerjaan tersebut lama diselesaikan, diantaranya adanya pegawai yang sering menunda-nunda pekerjaan, masih ada pegawai yang belum mahir menggunakan komputer, dan kurangnya alat elektronik.. Hal tersebut sesuai dengan hasil observasi peneliti di lapangan yang menemukan bahwa lamanya waktu yang dibutuhkan seseorang dalam menyelesaikan pekerjaan tidak berpengaruh besar pada tingkat kesulitan pekerjaan karena yang dikerjakan kebanyakan bersifat pengetikan, namun yang jadi kendala karena banyaknya pegawai yang ada di kantor tersebut tidak mahir dalam mengoperasikan komputer. Sehingga pekerjaan dipusatkan kepada satu orang saja berhubung komputer yang ada di kantor Kelurahan Tamarunang hanya berjumlah satu unit.
Hal tersebut juga ditambahkan oleh Ibu S selaku tenaga honorer di seksi Trantib sebagai berikut:
“ saya kira waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan yang ada di kantor ini tidak begitu lama, cuman yang biasanya menjadi kendala yaitu kalau komputernya lagi rusak atau printnya yang bermasalah.”(Wawancara dengan Ibu S pada tanggal 19 Februari 2014) Menurut hasil wawancara dengan informan di atas dapat diketahui bahwa waktu yang dibutuhkan dalam menyelesaikan pekerjaan yang ada di kantor kelurahan Tamarunang tidak membutuhkan waktu yang lama, hanya saja yang menjadi penghambat terselesaikannya dengan cepat suatu pekerjaan yaitu jika terjadi kerusakan pada komputer ataupun printer. Hal tersebut sesuai dengan hasil observasi di lapangan yang menemukan bahwa pekerjaanya hanya bersifat pengetikan yang tidak membutuhkan waktu lama karena filenya sudah ada dalam komputer, namun yang menghambat yaitu jika terjadi kerusakan pada printer dan komputer.
Berdasarkan hasil wawancara dengan kedua informan di atas dapat disimpulkan bahwa lamanya waktu yang dibutuhkan seseorang dalam menyelesaikan sebuah pekerjaan tidak begitu lama hanya sekitar kurang lebih 10 menit, namun yang biasanya yang menjadi hambatan dalam penyelesaian sebuah pekerja di karenakan karena faktor kemampuan dan keinginan pegawai untuk mengerjakan tugas tersebut, SDM (sumber daya manusia) yang belum mahir mengoperasikan komputer, serta kurangnya alat elektronik seperti komputer yang menunjang penyelesian suatu pekerjaan
b. Sistem Pengupahan
Sistem pengupahan merupakan merupakan kerangka bagaimana upah diatur dan ditetapkan. Dengan kata lain sumber dana yang digunakan untuk gaji seorang tenaga honorer. Untuk mengetahui sistem pengupahan kepada tenaga
honorer di Kelurahan Tamarunang berikut hasil wawancara dengan Bapak N.F.I selaku kepala kasi pemerintahan di Kelurahan Tamarunang pada hari rabu 19 Februari 2014 sebagai berikut:
“Mengenai sistem pengupahan untuk tenaga honorer yaitu tenaga honorer tidak mendapatkan gaji bulanan, namun hal tersebut tergantung dari kebijakan dari pak lurah misalnya ada pendapatan lain yang didapat di kantor seperti uang makan dan honor-honor lainnya dari pegawai negeri kemudian dibagikan kepada tenaga honorer dalam bentukinsentifbukan gaji, Tapi tidak tetap jumlahnya dan kadang diberikan dalam 3 bulan sekali.”(Wawancara dengan bapak N.F.I pada tanggal 19 Februari 2014).
Berdasarkan hasil wawancara dari informan di atas dapat diketahui bahwa tenaga honorer tidak mendapatkan gaji dan tidak tercatat dalam APBN dan APBD. Namun jika ada insentif diberikan kepada tenaga honorer itu merupakan kebijakan dari pak lurah. Adapun sumber dana yang diperoleh untuk memberikan insentif kepada tenaga honorer berasal dari uang makan dan honor-honor lainnya dari pegawai negeri yang dikumpulkan kemudian diberikan kepada tenaga honorer dalam tiga bulan sekali namun jumlahnya tidak menentu. Hal tersebut sesuai dengan hasil observasi di lapangan yang menemukan bahwa memang tenaga honorer hanya mendapatkan insentif tiga bulan sekali dan jumlahnya tidak menentu sesuai dengan keterangan yang diberikan oleh salah satu tenaga honorer.
Hal tersebut juga ditambahkan oleh Bapak H.S selaku kepala Lurah Tamarunang sebagai berikut:
“Kalau masalah gaji untuk tenaga honorer tidak ada. Hanya kalo ada rejeki sedikit-sedikit. Dan memang dari awal sudah diberikan pengertian sebelumnya kepada tiap tenaga honorer bahwa mereka masuk bekerja hanya sukarela tidak mendapatkan anggaran dana. Adapun hanya diberikan insentif yang bersumber dari adanya pengurusan-pengurusan dari masyarakat.”(Wawancara dengan Bapak H.S pada tanggal 19 Februari 2014).
Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat diketahui bahwa gaji untuk tenaga honorer tidak ada dalam sebuah aturan dan tidak mendapatkan anggaran dana dari APBN dan APBD. Dan hanya berupa insentif yang bersumber dari adanya pengurusan-pengurusan masyarakat. Hal tersebut sudah sesuai dengan hasil observasi peneliti di lapangan bahwa tenaga honorer hanya mendapatkan uang insentif yang dikumpulkan dari pengurusan-pengurusan masyarakat karena biasanya ada masyarakat yang memberikan sedikit uang berupa uang terimakasih.
Uang itulah yang dikumpulkan kemudian setelah 3 bulan dibagikan kepada setiap tenaga honorer dengan jumlah yang tidak menetap antara Rp. 100.000 sampai dengan Rp.200.000.
Berdasarkan hasil wawancara dari kedua informan di atas dapat disimpulkan bahwa sistem pengupahan untuk tenaga honorer tidak tercatat dalam APBN dan APBD tetapi bersumber dari uang makan dan honor-honor lainnya dari pegawai negeri, dan dari pengurusan-pengurusan masyarakat yang dikumpulkan kemudian diberikan kepada tenaga honorer dalam tiga bulan sekali namun
Berdasarkan hasil wawancara dari kedua informan di atas dapat disimpulkan bahwa sistem pengupahan untuk tenaga honorer tidak tercatat dalam APBN dan APBD tetapi bersumber dari uang makan dan honor-honor lainnya dari pegawai negeri, dan dari pengurusan-pengurusan masyarakat yang dikumpulkan kemudian diberikan kepada tenaga honorer dalam tiga bulan sekali namun