• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Beban Kerja Tenaga Honorer

2. Faktor Internal

Faktor internal yang dimaksud dalam mempengaruhi faktor yang mempengaruhi beban kerja adalah faktor yang berasal dari tubuh itu sendiri akibat dari reaksi beban kerja eksternal. Faktor internal meliputi faktor somatis dan psikis.

1) Faktor somatis

Faktor somatis merupakan faktor yang mempengaruhi beban kerja yang dilihat dari fisik seseorang .

a. Jenis kelamin

Jenis kelamin seseorang mempengaruhi dalam mengerjakan suatu hal karena tenaga yang dimiliki oleh laki-laki sangat berbeda dengan perempuan.

Berikut hasil wawancara dengan bapak N.F.I selaku kepala seksi pemerintahan di Kantor Kelurahan Tamarunang pada hari rabu 19 Februari 2014 sebagai berikut:

“Kalau masalah pemberian beban kerja dengan melihat jenis kelamin tentu tidak sama beban kerja yang diberikan kepada pegawai ataupun tenaga honorer, karena nda mungkin kami memerintah kepada pegawai dan tenaga honorer yang perempuan untuk terjun ke lapangan, pastinya laki-laki yang kami suruh.”(Wawancara dengan Bapak N.F.I pada tanggal 19 Februari 2014).

Menurut hasil wawancara dengan informan di atas dapat diketahui bahwa jenis kelamin mempengaruhi pemberian beban kerja dalam artian beban kerja yang dikerjakan di lapangan. Hal tersebut sesuai dengan hasil observasi peneliti di lapangan yang menemukan bahwa memang pekerjaan yang bersifat turun ke lapangan diserahkan kepada laki-laki.

Hal tersebut juga ditambahkan oleh Bapak SS selaku staf di seksi Trantib sebagai berikut:

“Mengenai masalah pekerjaan yang biasa diberikan kepada saya yaitu biasanya pekerjaan yang turun ke lokasi seperti pemungutan pajak, mengikuti eksekusi rumah, dan jual beli tanah.”(Wawancara dengan bapak SS pada tanggal 19 Februari 2014).

Berdasarkan hasil wawancara dengan kedua informan di atas dapat diketahui dalam pemberian beban kerja juga melihat dari jenis kelamin seseorang

karena kemampuan laki-laki dan perempuan berbeda, pekerjaan yang bersifat penyelesaiannya di lapangan dikerjakan oleh laki-laki dan pekerjaan yang bersifat pengetikan atau pekerjaan yang tidak menggunakan otot dikerjakan oleh pegawai dan tenaga honorer perempuan. Hal tersebut sesuai dengan hasil observasi peneliti di lapangan yang menemukan bahwa memang pekerjaan yang menggunakan otot atau pekerjaan yang langsung turun ke lapangan seperti jual beli tanah, pemungutan pajak, dan eksekusi rumah di kerjakan oleh pegawai dan tenaga honorer laki-laki sedangkan perempuan hanya mengerjakan pekerjaan yang ada di kantor seperti pengetikan yang menyangkut surat keterangan dan surat-surat lainnya.

b. Umur

Umur mempengaruhi pemberian beban kerja terhadap seseorang karena kemampuan untuk bekerja antara orang yang memiliki umur yang lebih tua dibanding yang muda tentu berbeda. Untuk melihat apakah faktor umur mempengaruhi pemberian beban kerja di kantor Kelurahan Tamarunang, berikut hasil wawancara dengan Bapak N.F.I selaku kepala seksi pemerintanhan di Kantor Kelurahan Tamarunang pada hari rabu 19 Februari 2014 sebagai berikut:

“Berbicara masalah apakah umur mempengaruhi pemberian beban kerja saya rasa tidak karena rata-rata pegawai ataupun tenaga honorer yang ada di kantor ini memiliki umur yang tidak muda lagi, tetapi mereka bekerja sesuai dimana mereka ditempatkan kecuali jika ada pekerjaan yang menggunakan tenaga yang besar pastinya kami tidak menyuruh pegawai dan tenaga honorer yang sudah tua.”(Wawancara dengan Bapak N.F.I pada tanggal 19 Februari 2014).

Menurut hasil wawancara dengan informan di atas dapat diketahui bahwa umur tidak mempengaruhi dalam pemberian beban kerja dalam artian pemberian

pekerjaan yang hanya bersifat pengetikan. Hal tersebut sesuai dengan hasil observasi bahwa pemberian beban kerja dalam artian pengetikan, tidak melihat dari umur seseorang pegawai ataupun tenaga honorer yang sudah tua dan muda masing-masing bekerja dengan tugas yang diberikan.

Hal tersebut juga ditambahkan oleh ibu SM selaku tenaga honorer K2 staf seksi Pemerintahan sebagai berikut:

“Kalau apakah umur mempengaruhi pemberian beban kerja, saya rasa tidak. Karena saya sendiri sudah berumur 43 Tahun tetapi saya bekerja sesuai dengan tugas dan tanggungjawab saya khususnya pekerjaan yang merupakan tugas di seksi pemerintahan.”(Wawancara dengan Ibu SM pada tanggal 19 Februari 2014).

Berdasarkan hasil wawancara dengan kedua informan di atas dapat diketahui bahwa umur tidak mempengaruhi pemberian beban kerja hal tersebut disebabkan pekerjaan yang ada di kantor semua dikerjakan oleh pegawai dan tenaga honorer sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing kecuali pekerjaan yang menggunakan otot dikerjakan oleh pegawai yang muda.Hal tersebut sesuai dengan hasil observasi peneliti di lapangan yang menemukan bahwa semua pegawai dan tenaga honorer semuanya mengerjakan tugas jika diberikan kepadanya dalam artian tugas yang menyangkut pengetikan, tetapi jika ada pekerjaan yang menggunakan otot biasanya dikerjakan oleh pegawai yang masih memiliki tenaga yang kuat.

2) Faktor psikis

Faktor psikis merupakan faktor yang berasal dari dalam individu seseorang, atau faktor yang mempengaruhi seseorang dalam mengerjakan suatu

tugas yang diberikan. Faktor ini sangat dibutuhkan untuk mempengaruhi kinerja pegawai dan tenaga honorer dalam menyelesaikan tugas yang diberikan.

a. Motivasi

Motivasi merupakan sebagai proses mempengaruhi atau mendorong dari luar terhadap seseorang atau kelompok kerja agar mereka mau melaksanakan sesuatu yang telah ditetapkan. Motivasi sangat dibutuhkan oleh para tenaga honorer untuk bekerja khususya motivasi dari pak lurah ataupun setiap kepala seksi. Berikut hasil wawancara dengan Bapak H.S selaku kepala lurah di Kantor Kelurahan Tamarunang pada hari rabu 19 Februari 2014 sebagai berikut:

“Selama ini saya selaku pak lurah selalu memberikan motivasi khususnya kepada tenaga honorer agar bekerja dengan giat tidak memikirkan dulu uangnya tetapi bagaimana mereka mampu menguasai suatu pekerjaan yang bermanfaat juga bagi mereka untuk kedepannya.Dan saya memberikan masing-masing wewenang kepada setiap kepala seksi unutk memberikan kesempatan kepada tenaga honorer untuk belajar.”(Wawancara dengan Bapak H.S pada tanggal 26 Februari 2014).

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan di atas dapat diketahui bahwa tenaga honorer selalu diberi motivasi dari pak lurah untuk lebih giat bekerja dan belajar demi masa depannya, karena pengalaman itu sangat dibutuhkan. Tetapi hal tersebut tidak sesuai dengan hasil obervasi peneliti di lapangan yang menemukan bahwa sebagian besar tenaga honorer termotivasi untuk bekerja karena adanya bonus-bonus yang ingin didapatkan karena semakin banyak pekerjaan yang diselesaikan oleh tenaga honorer maka akan mendapatkan insentif yang banyak pula dibanding tenaga honorer lainnya.

b. Keinginan Dan Kepuasan

Keinginan merupakan sejauh mana kemauan seseorang untuk menyelesaikan suatu tugas yang diberikan kepadanya sedangkan kepuasan merupakan tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja atau hasil yang dirasakannya dengan harapannya. Berikut hasil wawancara dengan Bapak N.F.I selaku kepala seksi pemerintahan di kantor Kelurahan Tamarunang pada hari rabu 19 Februari 2014 sebagai berikut:

“Berbicara masalah keinginan tenaga honorer untuk menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya sudah ada, namun hanya sebagian kecil. Hal ini disebabkan karena kemampuan dari tenaga honorer tersebut masih kurang.

Adapun hasil dari kerjanya ada yang memuaskan ada pula yang tidak, kecuali tenaga honorer yang pintar menggunakan komputer pasti hasilnya baik serta waktu yang digunakan tidak lama.”(Wawancara dengan Bapak N.F.I pada tanggal 19 Februari 2014).

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan diatas dapat diketahui bahwa hanya sebagian kecil tenaga honorer yang memiliki keinginan untuk menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya dan hasil kerjanya pun sesuai dengan kemampuan yang dimiliki tenaga honorer tersebut. Hal tersebut sesuai dengan hasil observasi peneliti di lapangan yang menemukan bahwa hanya sebagian tenaga yang memiliki keinginan dalam menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya, hal ini disebabkan karena secara garis besar tenaga honorer yang ada belum mahir menggunakan komputer. Dan hasilnya pun belum maksimal kerena waktu yang dibutuhkan cukup lama karena melihat lagi dari kemampuan SDM yang ada di kantor Kelurahan Tamarunang.

C. Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Pemberian Beban Kerja

Beban kerja merupakan sejauh mana kapasitas individu pekerja yang dibutuhkan dalam menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya, yang dapat diindikasikan dari jumlah pekerjaan yang harus dilakukan, waktu/batasan waktu yang dimiliki oleh pekerja dalam menyelesaikan tugasnya, serta pandangan sukjektif individu tersebut sendiri mengenai pekerjaan yang diberikan kepadanya.

Setiap kemampuan individu berbeda-beda baik dalam hal persepsi mengenai kecepatan dan akurasi yang dibutuhkan saat menyelesaikan tugas. Khususya kepada setiap pegawai yang ada di kantor Kelurahan Tamarunang pastinya memiliki keahlian yang berbeda dan tingkat kecerdasan yang berbeda pula. Untuk mengoptimalkan penyelesaian setiap pekerjaan yang ada di kantor Kelurahan Tamarunang dalam hal pemberian beban kerja kepada setiap pegawai harus memperhatikan dari faktor Sumber Daya Manusianya, jabatan yang dipegang oleh setiap pegawai bagaimana jenis pekerjaannya.

1. Manajemen Sumber Daya Manusia

Manajemen Sumber daya manusia merupakan cara untuk mengatur sumber daya manusia dalam hal penempatan pekerjaan yang diberikan sesuai dengan keahlian yang dimiliki SDM (Sumber Daya Manusia) tersebut, sedangkan sumber daya manusia itu sendiri merupakan potensi yang terkandung dalam diri manusia untuk mewujudkan perannya sebagai makhluk sosial yang adaptif dan transformatif yang mampu mengelola dirinya sendiri. Sumber daya manusia yang berkhualitas adalah sumber daya manusia memenuhi kriteria fisik (kesehatan) dan kualitas intelektual (pengetahuan dan keterampilan). Dalam hal pemberian beban

kerja harus memperhatikan dari khualitas SDM (Sumber Daya Manusia) karena tercapainya suatu tujuan bergantung kepada orang yang mengerjakannya. Untuk mengetahui apakah pemberian beban kerja berpengaruh terhadap khualitas sumber daya manusia yang ada di kantor Kelurahan Tamarunang, berikut hasil wawancara dengan Bapak H.S selaku kepala Lurah di Kantor Kelurahan Tamarunang pada hari kamis 20 Februari 2104 sebagai berikut:

”Mengenai pengaruh khualitas sumber daya manusia terhadap pemberian beban kerja tentu sangat berpengaruh demi terselesaikannya dengan baik suatu pekerjaan, berbicara masalah sumber daya manusia, di kantor ini tidak semua pegawai ataupun tenaga honorer memiliki kemampuan dalam hal menggunakan teknologi seperti komputer, agar pekerjaan tersebut dapat terselesaikan, maka biasanya yang mendapatkan beban kerja yang banyak di kantor ini pegawai dan tenaga honorer yang mahir menggunakan komputer”. (Wawancara dengan Bapak H.S pada tanggal 20 Februari 2014).

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan di atas dapat diketahui bahwa pemberian beban kerja terhadap pegawai negeri dan tenaga honorer di kantor Kelurahan Tamarunang dilihat dari khualitas sumber daya manusia yang dimiliki pegawai dan tenaga honorer. Hal tersebut juga ditambahkan oleh Bapak N.F.I selaku kepala seksi Pemerintahan di kantor Kelurahan Tamarunang sebagai berikut :

“Menyangkut sumber daya manusia yang ada di kantor ini jika dikaitkan dengan kemampuan pegawai negeri dan tenaga honorer yang saya lihat bukan hanya sebagian tenaga honorer yang tidak dapat mengoperasikan komputer tetapi ada juga sebagian pegawai negeri sipil yang tidak mahir menjalankan komputer.”(Wawancara dengan Bapak N.F.I pada tanggal 20 Februari 2014).

Berdasarkan hasil wawancara dengan kedua informan di atas dapat disimpulkan bahwa sumber daya manusia yang ada di kantor Kelurahan Tamarunang jika dilihat dari khualitas sumber daya manusianya yang menyangkut

tentang kemampuan dalam hal mengoperasikan komputer masih sangat kurang.

Hal tersebut sesuai dengan hasil observasi peneliti di lapangan yang menemukan bahwa memang pemberian beban kerja terhadap pegawai negeri dan tenaga honorer melihat dari khualitas sumber daya manusia yang ia miliki, contohnya saja di Kantor Kelurahan Tamarunang memiliki pegawai dan tenaga honorer yang secara garis besar hanya sebagian yang mahir mengoperasikan komputer, jadi tenaga honorer dan pegawai negeri yang mahir mengoperasikan komputer merekalah yang diberikan beban kerja yang lebih banyak seperti pengetikan surat-surat keterangan.

2. Analisis Jabatan

Analisis jabatan yang dimaksud adalah jumlah posisi/jabatan yang seharusnya ada dalam suatu organisasi dan kemampuan apa yang dibutuhkan oleh pemegang jabatan. Artinya dalam pemberian beban kerja harus melihat dari jabatan yang dimiliki oleh pegawai tersebut apakah sudah sesuai antara beban kerja yang diberikan dengan kemampuan dalam jabatan yang ia pegang. Sesuai dengan PERDA Kabupaten Gowa Nomor 9: Tahun 2008 tentang penempatan pegawai pada masing-masing jabatan yang ada di Kantor Kelurahan Tamarunang, serta Surat Tugas Lurah Tamarunang, Nomor. 800/004/Pem/KTM/II/2013, yang menyangkut penempatan tenaga honorer dan honorer K2 sebagai staf di tiap-tiap seksi. Berikut hasil wawancara dengan Bapak N.F.I selaku kepala seksi Pemerintahan di Kantor Kelurahan Tamarunang pada hari kamis 20 Februari 2014 sebagai berikut:

“Kalau masalah apakah pemberian beban kerja berpengaruh terhadap analisis jabatan, boleh dikatakan berpengaruh karena setiap pegawai dan tenaga honorer yang ada di kantor ini ditempatkan dalam suatu jabatan dan diberikan pekerjaan sudah sesuai dengan kemampuan yang ia miliki dalam artian setiap pegawai maupun tenaga honorer sudah bekerja sesuai dengan tugas dan tanggungjawabnya dalam sebuah jabatan yang ia pegang.”(Wawancara dengan Bapak N.F.I pada tanggal 20 Februari 2014).

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan di atas dapat diketahui bahwa analisis jabatan mempengaruhi dalam pemberian beban kerja, dimana analisis jabatan berbicara masalah kemampuan apa yang dibutuhkan oleh pemegang jabatan apakah kemampuan yang dimiliki sudah sesuai dengan jabatan yang ia pegang sehingga berpengaruh terhadap banyaknya beban kerja yang diberikan kepadanya. Tetapi berbeda dengan hasil observasi peneliti di lapangan yang menemukan bahwa pekerjaan yang dikerjakan oleh tenaga honorer baik honorer K2 tidak lagi melihat dimana ia ditempatkan tetapi melihat dari kemampuannya menggunakan komputer.

Hal tersebut juga di tambahkan oleh Ibu S Staf seksi Trantib sebagai berikut:

“Saya sebagai staf di seksi Trantib, namun pekerjaan yang saya kerjakan tidak hanya pekerjaan yang menjadi tugas di seksi Trantib, tetapi saya juga biasa mengerjakan pekerjaan yang menjadi tugas dari seksi-seksi lain, sebenarnya tugas saya hanya membuat surat izin keramaian dengan surat keamanan pedagang kaki lima tapi saya juga biasa mengerjakan seperti membuat keterangan domisili, KK, KTP, surat keterangan tidak mampu dan surat keterangan lainnya.”(Wawancara dengan Ibu S pada tanggal 20 Februari 2014).

Berdasarkan hasil wawancara dengan kedua informan di atas dapat disimpulkan bahwa pemberian beban kerja kepada pegawai negeri dan tenaga honorer tidak berdasarkan pada dimana mereka ditempatkan tetapi pemberian beban kerja lebih melihat pada kemampuan yang dimiliki oleh setiap pegawai

negeri dan tenaga honorer. Tenaga honorer yang mahir mengoperasikan komputer maka merekalah yang banyak diberikan beban kerja lebih banyak. Karena melihat daripada kemampuan Sumber Daya Manusia yang ada di kantor Kelurahan Tamarunang masih sangat minim.

3. Analisis Pekerjaan

Analisis pekerjaan yang dimaksud adalah ketepatan pekerjaan-pekerjaan yang harus diisi oleh orang-orang yang akan melaksanakannya. Untuk menghasilkan produktifitas kerja yang baik maka diperlukan pembagian kerja yang jelas dengan melihat jenis pekerjaannya dan siapa yang tepat mengerjakannnya. Inilah yang perlu diperhatikan dalam pemberian beban kerja kepada seseorang. Berikut hasil wawancara dengan Bapak H.S selaku kepala Lurah di kantor Kelurahan Tamarunang pada hari kamis 20 Februari 2014 sebagai berikut:

“Berbicara masalah pemberian beban kerja kepada tenaga honorer dan pegawai negeri di Kantor ini saya kira kami memberikan beban kerja sudah sesuai dengan tugasnya masing-masing di seksi mana ia ditempatkan.Masalah jenis pekerjaannya saya kira tenaga honorer dan pegawai bisa mengerjakannya karena pekerjaannya tidak begitu sulit.”

(Wawancara dengan Bapak H.S pada tanggal 20 Februari 2014).

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan di atas dapat diketahui bahwa pemberian beban kerja kepada pegawai negeri dan tenaga honorer jika dilihat dari analisis pekerjaan sudah sesuai, dimana pegawai negeri dan tenaga honorer sudah bekerja sesuai dengan tugasnya masing-masing dimana mereka ditempatkan. Namun hal tersebut tidak sesuai dengan hasil observasi peneliti di lapangan yang menemukan bahwa memang setiap seksi atau bidang yang ada di kantor Kelurahan Tamarunang sudah ditempatkan tenaga honorer untuk

membantu pegawai negeri dalam menyelesaikan sebuah pekerjaan. Tetapi ada sebagian oknum yang mempunyai sebuah pekerjaan, tetapi ia tidak dapat menyelesaikannya disebabkan oleh ketidakmampuan dalam hal menggunakan alat elektronik seperti komputer, jadi pekerjaan tersebut ia serahkan kepada aparat yang lain.

79 BAB V PENUTUP

Setelah memahami BAB I pendahuluan, BAB II pembahasan, BAB III metode penelitian, dan BAB IV hasil dan pembahasan, maka tahap terakhir adalah BAB V penutup. Pada tahap ini akan dibahas tentang kesimpulan mengenai apa yang menjadi hasil penelitian dan saran yang akan diberikan penulis untuk para subjek dan objek kegiatan.

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang di lakukan di kantor Kelurahan Tamarunang Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa mengenai beban kerja tenaga honorer di kantor tersebut. Maka dari itu, penulis menyimpulkan dari hasil penelitian yaitu:

1. Beban kerja yang diberikan kepada tenaga honorer di Kantor Kelurahan Tamarunang yaitu lebih banyak dibandingkan dengan pegawai negeri karena hampir secara garis besar tenaga honorer yang menyelesaikan pekerjaan yang ada di kantor tersebut, hal tersebut dapat dilihat dari keseharian aktifitas dari seluruh aparatur pemerintah baik pegawai negeri dan tenaga honorer yang ada di Kantor Kelurahan Tamarunang yang memiliki kesibukan paling banyak adalah tenaga honorer, pekerjaan yang dikerjakan oleh tenaga honorer tidak lagi melihat dari tugas dan fungsinya di seksi mana ia ditempatkan. Hal ini disebabkan salah satunya karena secara garis besar aparatur pemerintah yang ada di kantor tersebut tidak mahir dalam menggunakan alat elektronik seperti komputer, jadi

dibebankan kepada tenaga honorer yang mahir mengoperasikan komputer.

Inilah yang menghambat pelayanan yang cepat kepada masyarakat karena pemusatan pekerjaan kepada 2 (dua) tenaga honorer saja, serta alat dan prasarana yang sangat kurang sehingga juga mempengaruhi dalam penyelesaian sebuah pekerjaan.

2. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pemberian beban kerja kepada tenaga honorer, namun yang paling mempengaruhi yakni manajemen sumber daya manusia yang menyangkut khualitas sumber daya manusia itu sendiri yakni mengenai kualitas intelektual (pengetahuan dan keterampilan). Pemberian beban kerja yang lebih banyak kepada tenaga honorer disebabkan karena secara garis besar aparatur pemerintah yang ada di kantor Kelurahan Tamarunang tidak mahir dalam mengoperasikan komputer.

B. Saran- Saran

Berdasarkan hasil penelitian di Kantor Kelurahan Tamarunang Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa mengenai beban kerja tenaga honorer di kantor tersebut dan melihat permasalahan yang terjadi dalam lingkup KelurahanTamarunang, maka dari itu peneliti menyarankan:

1. Bagi Pimpinan Kelurahan Tamarunang agar kiranya lebih memperhatikan pengembangan sumber daya manusia khususnya pegawai negeri di dalam meningkatkan keahlian di dalam bidang tehknologi.

2. Bagi pimpinan Kelurahan Tamarunang harus tegas dalam pembagian tugas antara pegawai negeri sipil dan tenaga honorer.

3. Diharapkan kepada para pegawai negeri sipil di Kelurahan Tamarunang agar betul- betul mengaplikasikan daripada tugas dan tanggungjawabnya tanpa melimpahkan seluruhnya kepada tenaga honorer. Baik dalam hal pelaksanaan sampai kepada proses penyelesaian tugas agar tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.

4. Diharapkan bagi para tenaga honorer agar kompleksitas tugas yang diberikan jangan dianggap sebuah beban tetapi lebih kepada pembelajaran sehingga kedepannya menjadi lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2011. Beban Kerja. Sumber: http//amedia.unpad.ac.id, diakses pada tanggal 15 Februari 2014 pada pukul 16.55 Wita

………., 2005. Pengukuran Kerja Fisiologis. Master Modul APK2 Unversitas Gunadarma.

Arianti dan Dewantari, 2011. Pengaruh Beban Kerja Terhadap Produktivitas Karyawan Sentra Kredit Konsumen (SKK). Pustaka Setia, Bandung.

Cardoso, Gomes Faustino, 2003. Manajemen Sumber Daya Manusia. Andi, Yogyakarta.

Manuaba, adyana, 2000. Ergonomi-Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Adis, Surabaya.

Moekijat, 1991. Administrasi Kepegawaian Negara. Mandar Maju, Bandung.

Novera, Windry, 2010. Skripsi Analisis Beban Kerja dan Kebutuhan Karyawan Bagian Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan (Studi Kasus Unit Tata Usaha Departemen Pada Institut Pertanian Bogor). Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Universitas Pertanian Bogor.

Purwaningsih dan Sugianto, 2007. Psikologis Pelayanan dalam Industri Jasa.

Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Samsudin, Sadili, 2009. Manajemen Sumber Daya Manusia . CV Pustaka Setia, Bandung.

Simanjuntak, Payaman J, 2010. Manajemen dan Evaluasi Kerja. FEUI, Jakarta.

Simamora, Henry, 1995. Manajemen Sumber Daya Manusia. STIE-YPKN, Yogyakarta.

Sugiyono, 2011. Metode Penelitian Administratif. Alfabeta, Bandung.

………..., 2012. Memahami Penelitian Kualitatif. Alfabeta, Bandung.

………..., 2013. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Alfabeta, Bandung.

Sulistiyani, Ambar Teguh, Rosidah, 2009. Manajemen Sumber Daya Manusia.

Graha Ilmu, Yogyakarta.

Suwatno, 2011. Manajemen SDM dalam Organisasi Publik dab Bisnis. Alfabeta, Bandung.

Tarsono, Tono, 2011. Pusat Tunggu Data Honorer II dari BKD.

http://pimpuskti.blogspot.com. Diakses hari Rabu, 25 September 2013, pukul 20.30 Wita.

Utomo, Mulyono Satyo, 2008. Manajemen Kota dan Wilayah. Bumi Aksara, Jakarta.

Widiyanti, dkk, 2010. Psikologis dalam Perusahaan. PT. Rineka Cipta, Jakarta.

Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2005 tentang Pengangkatan Tenaga Honorer Menjadi CPNS

Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Tentang Pengangkatan Tenaga Honorer Menjadi CPNS

Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2002 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 98 Tahun 2000 Tentang Pengadaan Pegawai Negeri Sipil

Pedoman Penulisan Proposal Penelitian Dan Skripsi, 2013. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Makassar.

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : MULYAWATI MALIK

Nim : 105610360710

Tempat/Tanggal Lahir : Luwu, 27 Februari 1992

Alamat : Jln. Toddopuli XIV No 2

Alamat : Jln. Toddopuli XIV No 2

Dokumen terkait