BAB II. KAJIAN TEOR
FAKTOR-FAKTOR PENDUKUNG EFEKTIVITAS PROGRAM SAMARA RADIO DAKTA 107 FM BEKAS
B. Faktor Pendukung Pesan Program Samara
4. Faktor-Faktor Abstraksi Pesan
bahwa cinta tidak dibatasi oleh apapun dan kepada siapapun. Cinta itu hadir disetiap langkah. Inilah emosi yang didominankan, sehingga pendengar memahami hakikat cinta.
Kecemburuan-kecemburuan yang sifatnya sangat berlebihan yang kemudian kita sebut dengan cemburu buta. Misalnya seorang istri yang masih berhubungan dengan seorang mantan pacarnya yang dulu….105 Membawa masa lalu dalam perbincangan akan membawa emosi seseorang. Narasumber menggunakan pengalaman masa lalu seseorang untuk mengexpresikan emosinya sehingga dipahami oleh pendengar.
Alasan narasumber tidak menggunakan imbauan takut dan hanya sedikit memberikan imbauan ganjaran karena apabila menggunakan imbauan takut itu hanya membuat pendengar untuk takut dalam melakukan sesuatu, tidak mau mencoba sesuatu atau bahkan tidak mau melangkah kedepan. Sedangkan setiap orang saat mendapat masalah, yang dibutuhkannya adalah solusi dan motivasi untuk melangkah. Misalnya saja, seseorang yang mau menikah dengan orang Batak, katakanlah. Kemudian diberikan imbauan takut, yang terjadi orang tersebut takut untuk melangkah (dalam hal ini menikah). Berbeda jika diberikan motivasi untuk memaklumi karakter dari calon pendampingnya kelak, maka orang tersebut berani melangkah dan memiliki semangat untuk menikah. Maka, imbauan yang digunakan hanya imbauan rasional, imbauan motivasi, dan imbauan emosional.106
4. Faktor-Faktor Abstraksi Pesan
105
Rekaman prolog 1 Program Samara On air, Meredam Api Cemburu. 17 Januari 2011, segmen ke-1.
106
Wawancara dengan Ustad Anwar Anshari Mahdum, Selaku narasumber Program Samara. 25 Februari 2011
Abstraksi pesan yang digunakan narasumber dalam menyampaikan informasi atau pesan adalah sebagai berikut:
Dead level abstracting ( abstraksi kaku), digunakan narasumber untuk memberikan gambaran intelektual dan penguasaan bahasa-bahasa yang diplomatis. Seperti misalnya literature Islam seperti “Nah, pernikahan sekufu inikan dalam literature Islam, terkait adanya kesamaan.”107, literature rumah
tangga seperti “Nah kenapa cinta ini begitu penting dalam literature rumah tangga, karena berawal dari konsep cinta itulah kemudian kita memahami calon pendamping kita, kemudian nanti ketika mempunyai anak kita juga harus melahirkan perasaan ini.”, kamuflase belaka seperti “Ini sebenarnya bahasa yang keluar karena ketidak yakinan atau bahkan cinta yang terbangun bahagia karena perbedaan akidah sangat tidak mungkin terjadi, yang ada hanyalah kamuflase belaka.”, imprealisasi seperti “Bahkan terkadang orang menikah untuk mengimperealisasikan keinginan seksualnya.”, stabil seperti “Mengawali proses rumah tangga memang cinta harus dipertahankan pada posisi yang stabil, walaupun sering kita akui bahwa orang mengatakan cinta selalu terlihat dalam bentuk lahiriyah.”, orientasi seperti “Nah inilah oreintasinya dunia, orientasinya syahwati”., perspektif Islam seperti “Cuma
ta’aruf dalam perspektif Islami berbeda dengan ta’aruf yang sudah tersebar atau pacaran.”, tolelir seperti “Mengenai pembatasan-pembatasan perbedaan dalam fikroh itu terkait dengan sesuatu yang bisa ditolelir.”, embargo seperti “Dan itu terjadi pada Rasulullah SAW, bagaimana ketika Rasulullah SAW itu mendapatkan cobaan yang berat dari umatnya, yak an,
107
dia diembargo secara ekonomi, dijauhi” 108, realitas seperti “Di surat al-Isra
wala takrobidzinnah… tetapi realitas dilapangan juga tidak semuanya orang paham tentang hakikat ini.”, akses seperti “Jadi cemburu adalah akses dari rasa takut seseorang sehingga dia tidak mengharapkan orang yang dicintainya beralih ke orang lain atau diperhatikan oleh orang lain.”109, dan lainnya.
Intensional, yakni menggunakan makna yang dimaksud oleh seseorang pemakai lambang. Seperti ambu, ibu, dan ukhti. Pemanggilan tersebut sebenarnya hanya menuju kepada satu orang saja, akan tetapi kata-kata tersebut memiliki makna yang luas. Bukan hanya yang dengan yang berhubungan darah akan tetapi secara menyeluruh.
Selanjutnya, abstraksi yang digunakan isomorfisme, yakni pengelompokkan makna sesuai dengan kesamaan budaya, status sosial, pendidikan dan ideologi. Misalnya kalangan tarbiyah, kalangan harakah,110 dan kepergok111.
Jadi, faktor-faktor abstraksi pesan yang dipergunakan pada program Samara adalah faktor abstraksi dead level abstracting, intensional, dan isomorfisme.
5. Nonverbal
Pesan nonverbal yang tampak dalam diri narasumber pada program Samara adalah pesan fasial, pesan gestural, pesan artifaktual, dan pesan paralinguistik.
108
Rekaman Siaran Program Samara on air. Mahligai Cinta Rumah Tangga. 10 Januari 2011
109
Rekaman Siaran Program Samara on air. Meredam Api Cemburu. 17 Januari 2011
110
Rekaman Siaran Program Samara on air. Nikah Beda Fikroh. 24 Januari 2011
111
a. Pesan fasial, air muka sangat mendukung dalam mengexpresikan pesan- pesan verbal. Air muka narasumber dalam menyampaikan pesan-pesan dakwah dengan dua tipe, yaitu senyum dan mengkerutkan dahi. Senyum menandakan keakraban dan kesejukkan pada pendengar. Juga saat menyapa pendengar atau dengan memberikan pesan-pesan yang mengandung motivasi. Sedangkan pesan-pesan yang mengandung ketegasan didukung dengan expresi mengkerutkan dahi dan suara yang tinggi.112
b. Pesan gestural. Menurut Galloway, pesan gestural digunakan untuk mengungkapkan: (1) mendorong/membatasi, (2) menyesuaikan/mempertentangkan, (3) responsif/tidak responsif, (4) perasaan positif/negatif, (5) memperhatikan/ tidak memperhatikan, (6) melancarkan/tidak reseptif, dan (7) menyetujui/menolak.
Sedangkan pesan gestural yang digunakan atau yang tampak pada narasumber adalah (1) mendorong/membatasi, (2) responsif/tidak responsif, (3) perasaan positif/negatif, (4) memperhatikan/tidak memperhatikan, dan (5) menyetujui/menolak. Narasumber menggunakan bagian tangannya untuk memaknai pesan gesturalnya.
112
Penelitian Lapangan Ustad Anwar Anshari Mahdum pada Samara off air. Selaku
Gerakkan tangannya seringkali menampakkan, membatasi jika ada hal-hal yang negatif atau memberikan pengarahan, melambai-lambai jika menolak sesuatu atau melarang dan gerakan tangan lainnya.113
c. Pesan artifaktual. Pesan artikfaktual menjelaskan tentang penampilan narasumber. Penampilan narasumber dapat dilihat dari cara berpakaiannya
yang mencirikan sebagai seorang da’i atau narasumber. Narasumber pada
program Samara selalu memakai pakaian serba putih. Baju koko putih, celana bahan berwarna putih dan kopiah putih bercorak. Ini pakaian yang selalu digunakan narasumber saat mengisi kajian Samara off air. Tujuannya adalah untum menarik pusat perhatian pendengar yang datang atau hadir dalam kajian Samara off air dan menandakan karakternya yang tenang dan bersih.114 d. Pesan paralinguistic. Pesan paralinguistik adalah pesan nonverbal yang
berhubungan dengan cara pengucapan pesan verbal. Pesan paralinguistik
113
Penelitian Lapangan Ustad Anwar Anshari Mahdum pada Samara off air. Selaku Narasumber Program Samara. 13 & 20 Januari 2011.
114
merupakan pesan utama dalam program on air, karena seseorang dapat mengenal dan mendapatkan semangat narasumber dari suaranya. Narasumber pada program on air dapat mengexpresikan dirinya melalui suaranya. Suaranya mampu membentuk karakteristik dirinya sebagai orang yang bijak dalam menyampaikan sesuatu, orang yang sabar dengan kelemah lembutannya, dan nada tingginya mengexpresikan ketegasannya pada pesan tertentu. Jadi, suara mampu menyejukkan pendengarnya dan menenangkan hati pendengarnya.115