• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor-faktor Keabsahan Alat Bukti Elektonik

BAB IV KEABSAHAN ALAT BUKTI ELEKTRONIK

B. Faktor-faktor Keabsahan Alat Bukti Elektonik

Hasil penelitian yang telah peneliti lakukan, diketahui bahwa ada beberapa faktor yang menjadi keabsahan alat bukti elektronik di persidangan cerai gugat di Pengadilan Agama Depok. Wawancara yang penulis lakukan mendapat respon yang cukup baik dari hakim, adapun jawaban hakim saat diwawancarai oleh peneliti terkait alasan apa yang menjadikan alat bukti elektronik sah digunakan dalam persidangan adalah sebagai berikut:

”Yang pasti alasan bolehnya itu karena sudah diatur dalam Undang- Undang ya, hakim itu kan pergerakan utamanya sesuai ketentuan Undang- Undang. Lalu, zaman sekarang juga banyak permasalahan yang timbul akibat adanya alat-alat canggih seperti alat elektronik yang di dalamnya terdapat media sosial. Tidak hanya kasus perceraian, mungkin kasus-kasus kejahatan lainnya yang melanggar aturan hukum pun banyak terjadi di media sosial yang berasal dari kecanggihan alat elektronik. Jadi, diperbolehkannya juga karena kemajuan zaman. Banyak yang mengajukan alat bukti elektronik itu seperti foto, percakapan WhatsApp, dan yang lainnya untuk menguatkan gugatan yang diajukan.”46

Undang-Undang yang dimaksud adalah Undang-Undang yang membolehkan alat bukti elektronik menjadi bukti di persidangan, yakni UU ITE. Dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 telah dijelaskan mengenai keabsahan alat bukti elektronik.

Perlu adanya Undang-Undang yang dapat digunakan untuk menyelesaikan sengketa di dunia maya, karena hukum positif saat ini hanya pada tataran hukum substantif dan tidak dapat dijangkau pada tataran hukum formil. Munculnya bukti elektronik juga mempengaruhi sistem bukti sipil.

Menurut sistem HIR (hukum acara perdata yang berlaku), hakim terikat oleh

46 Wawancara dengan bapak Drs. M. Rusli, S.H., M.H., Hakim Pengadilan Agama Depok, di ruang rapat Pengadilan Agama Depok, tanggal 17 November 2021, pukul 10.05 WIB.

alat bukti yang sah yang ditentukan oleh Undang-Undang. Artinya hakim hanya dapat mengambil keputusan berdasarkan alat bukti yang ditentukan oleh Undang-Undang (HIR Pasal 164). 47 Maka dari itu, faktor-faktor yang mempengaruhi keabsahan alat bukti elektronik adalah sebagai berikut:

1. Untuk Memperkuat Bukti-Bukti

Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa alat bukti di persidangan tidak hanya satu. Ada beberapa alat bukti yang kedudukannya lebih kuat daripada alat bukti elektronik. Seperti bukti tertulis berupa akta nikah, dll serta ada pula saksi-saksi yang diminta oleh hakim untuk hadir dan memberikan keterangan di pengadilan dalam persidangan kepada masing-masing pihak yang berperkara. Setelah bukti-bukti utama selesai diajukan dalam persidangan dan diterima oleh hakim sebagai alat bukti, maka diperbolehkan untuk mengajukan bukti lainnya seperti alat bukti elektronik yang berupa foto, video, atau screenshot WhatsApp dan lain sebagainya untuk menjadi penguat bagi penggugat maupun tergugat dalam membuktikan gugatan dan jawaban gugatan dalam persidangan.

Dalam Putusan Nomor 1636/Pdt.G/2021/PA.Dpk, diketahui bahwa penggugat mengajukan bukti berupa fotokopi chat via WhatsApp antara tergugat dengan kakak penggugat, antara penggugat dengan kakak tergugat, dan antara penggugat dan tergugat. Bukti-bukti tersebut diterima oleh hakim dan menjadi bukti penguat dari gugatan penggugat. Dengan pemeriksaan dalam pembuktian tersebut maka dinyatakan bahwa bukti-bukti tersebut telah dianalisis dan bermaterai cukup. Bukti-bukti tersebut diterima oleh hakim setelah adanya bukti tertulis berupa akta nikah dan saksi-saksi dari pihak keluarga dan kerabat terdekat penggugat.

47 Efa Laela Fakhriah, Bukti Elektronik Dalam Sistem Pembuktian Perdata, Refika Aditama, Jakarta, 2017. Hlm. 23.

Dengan adanya fotokopi chat via WhatsApp yang diajukan penggugat, maka gugatan yang diajukan semakin kuat kebenarannya dan berpeluang besar meyakinkan hakim terkait gugatan yang diajukan benar adanya perselisihan dan sudah tidak adanya keharmonisan. Selain itu keterangan para saksi di persidangan terkait pertengkaran antara penggugat dengan tergugat yang disandingkan dengan alat bukti elektronik yang diajukan ternyata berkesinambungan. Yakni, adanya kekuatan atas kebenaran perselingkuhan dan kemantapan kedua pihak berperkara untuk bercerai.

2. Untuk Mensinkronisasikan Bukti-Bukti Sebelumnya

Alat bukti elektronik merupakan alat bukti yang sah digunakan dalam persidangan, namun bukan menjadi alat bukti utama yang akan diminta oleh hakim maupun diajukan oleh penggugat, maka alat bukti elektronik ini biasanya bukan bukti yang didahulukan. Dalam artian bukti elektronik ini akan diajukan oleh penggugat kepada majelis hakim setelah adanya pernyataan dari para saksi. Oleh karena itu, telah disebutkan alat bukti elektronik hanya penyempurna bukti-bukti sebelumnya. Majelis hakim pun menyamakan atau menyinkronkan antar bukti dengan tuduhan utama pada surat gugatan. Apakah bukti tersebut yang telah diajukan sesuai dengan tuduhan yang disebutkan pada surat gugatan? Sesuai dengan peraturan yang ada setiap bukti yang diajukan ke pengadilan harus bermaterai cukup yang artinya telah dianalisis oleh hakim bahwa bukti tersebut bisa dijadikan alat bukti di persidangan.

Dalam Putusan Nomor 1636/Pdt.G/2021/PA.Dpk, bukti-bukti yang penggugat ajukan telah bermaterai cukup. Adapun alat bukti elektronik yang diberi kode P.2, P.3, P.4, dan P.5 yang berupa screenshot percakapan WhatsApp tentang kesepakatan bercerai dan bukti foto adanya pernikahan siri antara tergugat dengan wanita lain diterima oleh majelis hakim setelah adanya bukti tertulis yang diberi kode P.1 yakni akta nikah. Serta setelah majelis hakim mendapat keterangan dari 2 saksi dari pihak penggugat. Sebagaimana tertera

dalam KUH Perdata pasal 1902 tentang permulaan pembuktian dengan akta tertulis, kemudian pembuktian dengan saksi-saksi. 48 Hal ini menjadi bukti kesesuaian antara tuduhan di awal gugatan yakni adanya perselingkuhan tergugat dengan wanita lain dan adanya pertengkaran yang sering kali terjadi dalam 1 tahun terakhir dengan bukti-bukti yang diajukan. Dengan begitu jelas bahwa alat bukti elektronik di persidangan dapat menyesuaikan kebenaran antara gugatan yang diajukan dan bukti utama yang berupa pernyataan saksi.

3. Media Sosial Mempunyai Posisi Penting Untuk Melakukan Aktivitas Sehari-hari.

Pada zaman yang sudah sangat berkembang maju ini, alat elektronik seperti handphone, laptop, iPad, dan alat komunikasi elektronik lainnya telah menjadi kebutuhan pokok dalam kehidupan sehari-hari. Di era globalisasi, teknologi semakin maju, tidak dapat disangkal bahwa internet semakin banyak dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam kegiatan sosial, pendidikan, bisnis, dan kegiatan sehari-hari lainnya.49 Media sosial sangat pesat perkembangannya terlebih sejak adanya pandemi Covid-19 selama 2 tahun terakhir. Semua kegiatan yang biasa dilakukan dengan fisik dan secara langsung di luar rumah, kini dapat dikerjakan atau dilakukan dari rumah dengan alat elektronik dan media sosial. Tidak menutup kemungkinan bahwa banyak kecurangan, kejahatan, bahkan pengkhianatan yang dapat dilakukan dengan jarak jauh dan tersembunyi dalam alat elektronik dan media sosial. Seperti pada kasus-kasus cerai gugat sebagian besar dikarenakan adanya orang ketiga dalam rumah tangga. Hal ini di awali dengan adanya alat komunikasi yang canggih.

Pada saat peneliti wawancara dengan hakim, beliau menyebutkan bahwa

48 Subekti dan Tjitrosudibio, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Balai Pustaka, Jakarta, 2017, hlm 528.

49 Wilga, Nunung, dkk, Pengaruh Media Sosial Terhadap Perilaku Remaja, Prosiding KS, Vol.3, Nomor 1, 2016.

keretakan rumah tangga sebenarnya terjadi karena kerusakan komunikasi antar keluarga yang disebabkan adanya alat elektronik yang semakin canggih dan media sosial yang semakin meluas penggunaannya.50

Setelah diketahui bersama bahwa faktor-faktor keabsahan alat bukti elektronik disebabkan oleh kebutuhan yang sangat erat dengan alat elektronik dan tidak lepas dari media sosial, maka dengan keabsahan alat elektronik yang telah diatur dalam UU ITE bahwa alat bukti elektronik dapat digunakan dalam persidangan dengan layak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

C. Implikasi Keabsahan Alat Bukti Elektronik Terhadap Pencari Keadilan

Dokumen terkait