• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENUTUP

B. Saran

Berdasarkan putusan yang telah peneliti analisis dan berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh penulis skripsi ini, maka peneliti ingin menyampaikan beberapa hal untuk dijadikan saran:

1) Bagi para mahasiswa lulusan program studi mengenai hukum, terutama yang berkaitan dengan hukum keluarga, diharapkan untuk membantu masyarakat dalam memahami Undang-Undang perkawinan yang berlaku, prosedur perceraian, dan penyuluhan tentang keharmonisan dalam rumah tangga.

Dengan melakukan sosialisasi terhadap masyarakat, diharapkan masyarakat bisa lebih memahami standar kesiapan lahir batin seseorang sebelum melangkah ke jenjang pernikahan, dengan begitu akan meminimalisir angka perceraian. Tidak lupa mengenai prosedur perceraian, ternyata masih banyak masyarakat yang tidak memahami apa saja syarat mengajukan perceraian, tata caranya, dan apa saja yang perlu dipersiapkan. Tujuan masyarakat memahami prosedur perceraian adalah supaya masyarakat tidak lagi bingung bagaimana mengajukan perceraian dan apa saja yang perlu dipersiapkan seperti berkas- berkas yang diperlukan.

2) Disarankan kepada seluruh masyarakat yang beragama Islam atau biasa disebut muslim, jika ingin melakukan poligami sekiranya dapat menjalankan peraturan yang berlaku seperti dalam KHI (Kompilasi Hukum Islam) tentang poligami atau tentang beristri lebih satu orang. Di antaranya meminta izin ke Pengadilan Agama agar perkawinan tersebut tercatat di Kantor Urusan Agama (KUA) dan telah dipastikan pihak suami mendapat izin dari istri pertamanya untuk berpoligami.

3) Diharapkan dengan adanya penelitian yang menjadi skripsi ini, dapat menjadi inspirasi untuk membuat karya-karya tulis lainnya yang berkaitan dengan kekeluargaan seperti pernikahan, perceraian, dan persidangan.

Daftar Pustaka

Asimah, Dewi. Menjawab Kendala Pembuktian Dalam Penerapan Alat Bukti Elektronik. Vol .3. No. 2. 2020.

Az-Zabidi, Imam. Ringkasan hadits shahih Al-Bukhari. Jakarta: Pustaka Amani. 2002.

Az-Zuhaili, Wahbah. Fiqih Islam Wa Adillatuhu. Jakarta: Gema Insani.

Jilid 9. 2011.

Cahyono, Anang Sugeng. Pengaruh Media Sosial Terhadap Perubahan Sosial Masyarakat Di Indonesia. Jurnal PUBLICIANA, Vol. 9, Nomor 1, 2016.

Darmalaksana, Wahyudin. Penggunaan WhatsApp Dalam Kuliah Online. . Bandung: UIN Sunan Gunung Djati. 2020.

Desidah, Nurul. ”Hubungan Antara Kecenderungan Narsisme Dengan Motif Memposting Foto Selfie Di Instagram Pada Remaja Di SMA Negeri 1 Sidayu Gresik”. undergraduate thesis. Universitas Muhammadiyah Gresik. 2018.

Doni, Fahlepi Roma. Perilaku Penggunaan Media Sosial Pada Kalangan Remaja. Indonesian Journal on Software Engineering (IJSE), Vol. 3, Nomor 2, 2017.

Fahryza Putri, Penggunaan Video, Audio, dan Pengaruhnya Bagi Pengguna HandPhone, WordPress, Jakarta, 2008.

Fakhriah, Efa Laela. Bukti Elektronik Dalam Sistem Pembuktian Perdata.

Cet.1. Jakarta: Refika Aditama. 2017.

Hidayat, Syarif. Alat Bukti Elektronik Dalam Perkara Perdata. Bandung:

wordpress, 2010.

Juanda, Enju. Kekuatan Alat Bukti Dalam Perkara Perdata Menurut Hukum Positif Indonesia. Jurnal Ilmiah Galuh Justisi, Vol. 4, Nomor 1, 2016.

Kusumaatmadja, Mochtar. Pembinaan Hukum Dalam Rangka Pembangunan Nasional. Bandung: Binacipta, 1986.

Lestari, Anis Dewi. Cakupan Alat Bukti sebagai Upaya Pemberantasan Kejahatan Siber (Cyber Crime., Jurnal Syariah dan Hukum, Vol. 3, no. 1, 201, 2018.

Mahmud, Abdul Majid. Panduan Hukum Keluarga Sakinah. Solo:

Eraintermedia. 2005.

Manan, Abdul. Penerapan Hukum Acara Perdata di Lingkungan Peradilan Agama. Jakarta: Kencana. 2016.

Momuat, Octavianus M. Alat Bukti Tulisan Dalam Pemeriksaan Perkara Perdata Di Pengadilan, Lex Privatum, Vol.II No. 1 Tahun 2014.

Rasaid, M. Nur. Hukum Acara Perdata. Jakarta: Sinar Grafika, 2000.

Rofiah, Nur. Kekerasan Dalam Rumah Tangga Dalam Perspektif Islam.

Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Agama, Vol. 2, Nomor 1, 2017

Samudera, Teguh. Hukum Pembuktian dalam Acara Perdata. Bandung:

Alumni. 1992.

Setiana. ”Pengaruh Penggunaan Media Audio Terhadap Hasil Belajar KompetensiI Mendengarkan Pada Peserta Didik Kelas 5 Sekolah Dasar Se- Gugus Darma Wiyata”. Skripsi S-1 Fakultas Ilmu Pendidikan.

Universitas Negeri Yogyakarta. 2012.

Soekanto S., Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta: UI Perss, 2014 Subekti dan Tjitrosudibio. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Jakarta:

Balai Pustaka. 2017.

Sugiarto, Enan. Implikasi Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 20/PUU- XIV/2016 Terhadap Informasi Elektronik Dan/Atau Dokumen

Elektronik Dan/Atau Hasil Cetaknya Sebagai Alat Bukti Dalam Perkara Perdata, Rechtidee, Vol. 11. No. 2, Tahun 2016.

Sutantio, Retnowulan dan Iskandar Oeripkartawinata. Hukum Acara Perdata Dalam Teori dan Praktek. Bandung: Mandar Maju. 1997.

Triwahyuni, Terra, dkk. Pengenalan Teknologi Informasi. Yogyakarta:

Penerbit Andi, 2003.

Wafa, Moh. Ali. Hukum Perkawinan di Indonesia. Tangerang: YASMI.

2018.

Wahyud, Johan. Dokumen elektronik Sebagai Alat Bukti pada Pembuktian di Pengadilan. Universitas Airlangga Surabaya, Vol. XVII, no. 2. 2012.

Wilga, Nunung, dkk, Pengaruh Media Sosial Terhadap Perilaku Remaja, Prosiding KS, Vol.3, Nomor 1, 2016.

Website:

http://www.pn-ngabang.go.id/id/hubungi-kami/artikel-hukum/hukum- perdata/item/saksi-dalam-perkara-perdata.html diakses pada tanggal 25 November 2021, pukul 02.05 WIB.

https://m.merdeka.com/trending/penjelasan-lengkap-alasan-ustaz-abdul- somad-ceraikan-istrinya-mellya-juniarti.html?page=9 diakses pada tanggal 22 Juni 2021, pukul 14.38 WIB

https://m.merdeka.com/trending/penjelasan-lengkap-alasan-ustaz-abdul- somad-ceraikan-istrinya-mellya-juniarti.html?page=9 diakses pada tanggal 22 Juni 2021, pukul 14.50 WIB

https://manplawyers.co/2019/10/07/mengenal-alat-alat-bukti-dalam- hukum-acara-perdata-i/ diakses pada tanggal 25 November 2021, pukul 00.34 WIB.

https://pa-tutuyan.go.id/main/images/file_download/Formulir/PATty- Panduan-Mengajukan-Gugatan-Cerai.pdf diakses pada tanggal 15 Agustus 2021, pukul 14.03 WIB.

https://www.dpr.go.id/dokjdih/document/uu/24.pdf diakses pada tanggal 13 Desember 2021, pukul 16.59 WIB.

https://www.pa-raha.go.id/peraturan-dan-kebijakan/berita/377-alat-bukti- elektronik-dan-implikasinya-terhadap-pembuktian-perdata-di-

pengadilan diakses pada tanggal 17 Agustus 2021, pukul 15.30 WIB.

Macam-Macam Media Sosial Yang Sering Digunakan https://www.merdeka.com/jatim/10-macam-media-sosial-yang-paling- sering-digunakan-oleh-orang-indonesia-kln.html diakses pada tanggal 03 Januari 2022, pukul 23.10 WIB.

Mahkamah Agung, Meeting Zoom Alat Bukti elektronik dalam Hukum Perkara Pidana dan Perkara Perdata, 2020 http://pa- kangean.go.id/berita-seputar-peradilan/362-meeting-zoom-alat-bukti- elektronik-dalam-hukum-perkara-pidana-dan-perkara-perdata

LAMPIRAN

TRANSKIP WAWANCARA

Wawancara ini penulis lakukan pada hari Rabu tanggal 17 November 2021 pukul 10.05 WIB di ruang rapat Pengadilan Agama Depok dengan salah satu hakim yang menjadi humas di antara para hakim, yakni bapak Drs. M. Rusli, S.H., M.H. Berikut pertanyaan dari penulis dan juga jawaban dari hakim saat wawancara tersebut:

1. Pertanyaan: Selama bapak menjadi hakim, apakah bapak pernah menangani kasus cerai gugat yang di dalamnya terdapat alat bukti elektronik? Jika ada, bagaimana bapak menilai keabsahan dan keaslian alat bukti tersebut sehingga alat bukti tersebut boleh dan sah untuk dijadikan alat bukti dalam bentuk elektronik di persidangan perceraian?

Jawaban: Selama saya menjadi hakim pernah menangani kasus tersebut, justru banyak. Nah, alat bukti itu kan banyak. Bisa berupa surat (sertifikat, akta otentik, buku nikah), saksi, dan persangkaan hakim. Terkait alat bukti elektronik berarti bukan ahli para hakim, yang ahli itu orang IT. Harus ada ahli yang membenarkan keaslian bukti tersebut. Alat bukti elektronik boleh menjadi alat bukti, namun bukan yang utama, alat bukti tersebut menjadi alat bukti tambahan di persidangan gugat cerai yakni hanya untuk mendukung pada saat pemeriksaan, seperti saat terjadi pertengkaran via chat WhatsApp, ketika ditanyakan kebenaran pertengkaran tersebut kemudian penggugat memberi bukti berupa screenshot WhatsApp, hakim pun akan menanyakan kembali

‘apakah benar hasil screenshot itu dari handphone milik dia?’. Maka, dibuktikan dahulu di persidangan seperti hakim memeriksa handphone penggugat kemudian disamakan apakah benar jenis handpone-nya, penempatan layarnnya, dan nomornya sama? Terkadang hakim tidak selalu memakai itu, tetapi hakim mengutamakan tentang keterangan saksi. Jadi, bisa dibilang kekuatan seperti alat bukti screenshot itu tidak terlalu kuat kedudukannya di

persidangan, namun tetap bisa dijadikan alat bukti tambahan di samping keterangan para saksi. Kalau di persidangan perceraian, saksi itu biasanya keluarga yang diutamakan seperti ayah, ibu, kakak, adik, paman, bibi, atau yang lainnya. Setelah adanya keterangan para saksi maka boleh ditumpang lagi dengan alat bukti elektronik seperti screenhot WhatsApp atau alat bukti elektronik lainnya.

2. Pertanyaan: Apa saja yang menjadi alasan sahnya alat bukti elektronik dalam persidangan perceraian?

Jawaban: Yang pasti alasan bolehnya itu karena sudah diatur dalam Undang- Undang ya, hakim itu kan pergerakan utamanya sesuai ketentuan Undang- Undang. Lalu, zaman sekarang juga banyak permasalahan yang timbul akibat adanya alat-alat canggih seperti alat elektronik yang di dalamnya terdapat media sosial. Tidak hanya kasus perceraian, mungkin kasus-kasus kejahatan lainnya yang melanggar aturan hukum pun banyak terjadi di media sosial yang berasal dari kecanggihan alat elektronik. Jadi, diperbolehkannya juga karena kemajuan zaman. Banyak yang mengajukan bukti berupa alat bukti elektronik itu seperti foto, percakapan WhatsApp, dan lainnya untuk menguatkan gugatan yang diajukan. Alasan lainnya, mungkin karena dalam rumah tangga kurangnya rasa harmonis yang disebabkan kesibukan dengan alat elektronik yang simpel dan canggih seperti handphone yang di dalamnya terdapat games, media sosial, dan lain-lain. Misalnya, ketika kumpul keluarga biasanya lebih banyak fokus bermain handphone daripada berbincang satu sama lain.

3. Pertanyaan: Apa saja yang menjadi dampak dari diperbolehkannya alat elektronik dan segala yang ada di dalamnya seperti media sosial, dll menjadi alat bukti di persidangan bagi para pihak berperkara?

Jawaban: Ada dampaknya, seperti bisa menghindari pihak-pihak yang mengarang saat ditanya hakim dalam persidangan. Majelis hakim bisa meneliti lebih jauh untuk melihat perkara dan semua pembuktiannya sehingga kami bisa

memutuskan dengan seadil-adilnya melalui pertimbangan terbaik menurut para hakim sesuai dengan bukti yang diajukan penggugat.

LAMPIRAN

Data Perkara Cerai Talak dan Cerai Gugat Di Pengadilan Agam Depok

Data jumlah perkara perceraian dari panitera Pengadilan Agama Depok, Nani Nur’aini, S.H., pada tanggal 5 Januari 2022, pukul 13.05 WIB.

Bukti Elektronik Yang Diajukan Penggugat Dalam Putusan Nomor 1636/Pdt.G/2021/PA.Dpk.

Arsip data Pengadilan Agama Depok, didapatkan pada tanggal 4 Januari 2022, pukul 11.05 WIB.

Bukti peneliti telah melakukan wawancara dengan salah satu Hakim Pengadilan Agama Depok

Foto peneliti saat wawancara dengan bapak Drs. M. Rusli, S.H., M.H., Hakim Pengadilan Agama Depok, di ruang rapat Pengadilan Agama Depok, tanggal 17 November 2021, pukul 10.05 WIB.

Dokumen terkait