BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Faktor-Faktor Yang Menjadi Kendala Dan Penunjang
Peningkatan Mutu Pendidikan Siswa Di Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar
Sistem pembelajaran kontekstual sebagai satu cara atau metode yang memberikan dorongan kepada siswa untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan belajar guna menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri, membutuhkan sebuah proses berpikir kritis, analitis, kreatif, dinamis dan fleksibilitas agar dirinya lebih percaya diri kepada kemampuannya.
Namun demikian, prinsip-prinsip penggunaan strategi pembelajaran inquiry serta langkah-langkah penerapannya di lapangan terkadang mengalami kendala-kendala, disamping faktor-faktor pendukung, sebagaimana dalam penerapan metode Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar.
1. Faktor-faktor pendukung
Pengaruh sistem pembelajaran kontekstual Pendidikan Agama Islam dalam meningkatkan mutu pendidikan siswa di Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar, didukung oleh beberapa faktor berikut ini:
a. Keaktifan guru dan siswa
Dalam penerapan sistem pembelajaran kontekstual Pendidikan Agama Islam, selalu mengharuskan adanya keaktifan guru dan siswa. Keaktifan guru
dan siswa adalah faktor terpenting dalam penerapan sistem pembelajaran kontekstual ini.
Akhmad Basran, S. Pd.I guru Pendidikan Agama Islam mengemukakan bahwa
Salah satu faktor pendukung sistem pembelajaran kontekstual pada peningkatan mutu belajar siswa terhadap mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar adalah keaktifan guru dan siswa.
(wawancara tanggal 23 September 2014)
Pernyataan ini menunjukkan bahwa komponen guru dan siswa dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam khususnya disekolah ini membutuhkan keaktifan seorang guru dalam mengajar disatu pihak, tetapi dipihak lain siswa juga hendaknya lebih aktif belajar, sehingga dengan demikian pembelajaran kontekstual dapat lebih efektif dan inovatif. Tingkat keaktifan guru dan siswa yang mendukung pengaruh sistem pembelajaran kontekstual di sekolah ini dapat dilihat dalam tabel berikut ini:
Tabel 11
Pendapat responden tentang keaktifan guru dan siswa dengan sistem pembelajaran kontekstual dalam pengajaran Pendidikan Agama Islam
No Pilihan jawaban Frekuensi Persentase
1
Sumber data: Hasil olah data angket item 5
Uraian hasil olah data angket diatas menunjukkan bahwa 37 responden atau 58,74% memilih aktif, 16 responden atau 25,39% memilih kurang aktif dan 10 responden atau 15,87% memilih tidak aktif.
Dari data ini dapat diketahui bahwa pada umumnya guru dan siswa sebagai dua komponen terpenting dalam upaya peningkatan nilai hasil belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam terlihat aktif. Dengan keaktifan guru dan siswa diharapkan nilai hasil belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam mengalami peningkatan.
Selain keaktifan guru dan siswa, faktor lain yang menjadi ciri dari sistem pembelajaran kontekstual ini adalah sifat kritis yang dimiliki oleh siswa dalam menyikapi pembelajaran Pendidikan Agama Islam itu sendiri. Dalam konteks peningkatan mutu belajar dengan pembelajaran kontekstual pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar dapat dilihat dalam tabel berikut ini:
Tabel 12
Pendapat responden tentang sifat kritik siswa dalam menyikapi sistem pembelajaran kontekstual pendidikan Agama Islam
No Pilihan jawaban Frekuensi Persentase
1
Sumber data: hasil olah data angket item 6
Pemaparan hasil penelitian angket tersebut di atas menunjukkan bahwa 33 responden atau 52,38% memilih kritik dalam menyikapi sistem pembelajaran kontekstual Pendidikan Agama Islam, 17 responden atau 26,98% memilih kurang kritik dalam menyikapi sistem pembelajaran kontekstual Pendidikan Agama Islam dan 13 responden atau 20,63% memilih tidak kritik dalam menyikapi sistem pembelajaran kontekstual Pendidikan Agama Islam.
Secara umum jika dilihat dari data hasil olah angket yang telah dipaparkan di atas dapat diketahui bahwa pada umumnya siswa sudah kritik dalam menyikapi sistem pembelajaran kontekstual Pendidikan Agama Islam. Ini artinya bahwa sifat kritis yang seharusnya telah dimiliki oleh siswa itu belum sepenuhnya terlaksana, hendaknya masih harus ada upaya-upaya lain guna meningkatkan daya kritik siswa dalam menyikapi metode pengajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar.
Sekalipun daya kritik dalam meningkatkan hasil belajar siswa dengan sistem pembelajaran kontekstual pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam belum sepenuhnya terlaksana dengan baik namun siswa tetap terdorong untuk belajar dengan sistem pembelajaran kontekstual Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar. Sebagaimana terlihat dalam tabel berikut ini;
Tabel 13
Pendapat responden tentang motivasi siswa untuk belajar dengan sistem pembelajaran kontekstual Pendidikan Agama Islam
No Pilihan jawaban Frekuensi Persentase
Sumber data: hasil olah data angket item 7
Uraian hasil olah data angket di atas menunjukkan bahwa 34 responden atau 53,96% memilih termotivasi, 16 responden atau 25,39% memilih kurang termotivasi, dan 13 responden atau 20,63% memilih tidak termotivasi belajar dengan sistem pembelajaran kontekstual.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa keaktifan guru dan siswa serta ciri-ciri lain dari sistem pembelajaran kontekstual yang mendukung penerapannya di sekolah ini. Sebahagian telah terlaksana dengan baik tetapi sebahagian yang lain belum terlaksana misalnya daya kritis siswa.
b. Faktor tersedianya media pembelajaran
Selain dari pada keaktifan guru dan siswa faktor lain yang mendukung sistem pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada peningkatan mutu pendidikan siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar adalah tersedianya media pendidikan.
Akhmad Basran, S. Pd.I guru Pendidikan Agama Islam mengemukakan bahwa :
Faktor pendukung sistem pembelajaran kontekstual Pendidikan Agama Islam dalam peningkatan mutu pendidikan siswa di sekolah ini adalah tersedianya media pendidikan. (wawancara, 23 September 2014)
Kutipan wawancara tersebut di atas menunjukkan bahwa faktor media pembelajaran sangat membantu dalam proses belajar mengajar. Kesan yang ditimbulkan oleh adanya media bagi siswa tentu akan berbeda, dengan tidak menggunakan media dalam proses belajar mengajar utamanya dengan sistem pembelajaran kontekstual pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.
Tanpa media pembelajaran agaknya memang sulit untuk menerapkan metode ini bagi siswa, apalagi mengharapkan peningkatan hasil belajar dari mereka.
2. Faktor penghambat
Disamping faktor pendukung terdapat pula faktor penghambat sistem pembelajaran kontekstual pada peningkatan mutu pendidikan siswa terhadap mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Diantara faktor-faktor penghambat tersebut adalah
a. Kurangnya buku paket
Salah satu faktor pendukung sistem pembelajaran kontekstual adalah ketersediaan media pembelajaran. Namun secara spesifik sebenarnya diantara media itu masih ada yang belum terpenuhi secara maksimal untuk ukuran sistem pembelajaran kontekstual yang berpusat pada kreatifitas siswa.
Akhmad Basran, S. Pd.I guru Pendidikan Agama Islam Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar bahwa:
Kurangnya buku paket menjadi faktor penghambat sistem pembelajaran kontekstual pada peningkatan mutu pendidikan siswa terhadap mata
pelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar”. (wawancara tanggal 23 September 2014)
Buku paket dalam proses belajar mengajar khususnya dengan pendekatan sistem pembelajaran kontekstual harus dilengkapi. Apalagi buku paket siswa kurang tentu hal ini akan menyulitkan bagi siswa dalam proses belajar mengajar, dan akan berakibat pada kegagalan dalam memperoleh nilai yang memuaskan.
b. Perbedaan tingkat intelektual siswa
Faktor tingkat intelektual yang berbeda dalam satu kelas, terkadang menyulitkan seorang guru di dalam mengajar dan karenanya faktor ini menjadi penghambat dalam sistem pembelajaran kontekstual. Hal ini dikemukakan oleh Akhmad Basran, S. Pd.I guru Pendidikan Agama Islam bahwa:
Perbedaan tingkat intelektual siswa dapat menjadi penghambat dalam sistem pembelajaran kontekstual, khususnya dalam peningkatan belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar.
(wawancara tanggal 23 September 2014)
Uraian ini menjelaskan bahwa tingkat perbedaan intelektual siswa, apabila tidak didekati dengan metode-metode yang bervariasi tentu akan sangat menyulitkan bagi guru dan juga bagi siswa dalam memahami dan meningkatkan pelajarannya, khususnya pelajaran Pendidikan Agama Islam.
Oleh karena itu seorang guru hendaknya kreatif dalam menerapkan metode agar kesulitan dalam perbedaan tingkat intelektual itu dapat teratasi dengan semestinya.
D. Usaha Apa Yang Dilakukan Dalam Pelaksanaan Sistem Pembelajaran Kontekstual Pendidikan Agama Islam Dalam Peningkatan Mutu Pendidikan Siswa Di Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar
Adapun usaha yang dilakukan dalam mengatasi kendala pelaksanaan pembelajaran kontekstual pada bidang studi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar dalam proses pembelajaran, seperti apa yang dilakukan oleh Akhmad Basran, S. Pd.I bahwa :
Dalam pelaksanaan pembelajaran kontekstual Pendidikan Agama Islam guru dituntut untuk berusaha bagaimana supaya siswa dapat memahami dan mengetahui apa yang telah diajarkan oleh guru sehingga guru untuk mengefektifkan siswa belajar, maka dalam pelaksanaannya guru harus membenahi perangkat proses belajar mengajar dan penggunaan media.
(wawancara tanggal 23 September 2014)
Berdasarkan keterangan di atas, dapat dipahami bahwa guru Pendidikan Agama Islam Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar memiliki prinsip yang sangat mendukung proses pembelajaran kontekstual dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Untuk mencapai tujuan dalam proses belajar mengajar yang efektif, guru Pendidikan Agama Islam menerapkan pembelajaran kontekstual agar siswa dapat lebih berpikir dan cepat memahami materi yang diajarkan, seperti memobilisasi tujuan, memberi bentuk dan keseragaman pada belajar mengorganisasi belajar sebagai suatu proses eksplorasi. Jadi untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam pelaksanaan pengajaran harus dapat membangkitkan motivasi dan kemauan siswa untuk belajar.
Upaya untuk pelaksanaan pembelajaran kontekstual bidang studi pendidikan agama Islam, guru dituntut untuk menguasai beberapa pengetahuan yang memadai dan teknik-teknik mengajar yang baik agar ia mampu menciptakan suasana pengajaran yang efektif dan efisien atau dapat mencapai hasil yang sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
Hal tersebut tentunya banyak dipengaruhi oleh tingkat kemampuan masing-masing siswa dalam menyerap materi pelajaran yang diberikan oleh guru, sehingga sebagian dari siswa dapat menarik manfaat dari pelajaran yang didapatkan dan sebagian lagi kurang menarik manfaat dari materi pelajaran yang diajarkan.
Salah satu kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh guru adalah kemampuan dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan proses belajar mengajar, karena itu kemampuan ini untuk membekali guru dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya sebagai pendidik dan pengajar profesional. Namun demikian, guru sebagai tenaga pengajar atau pendidik tentu sangat berperan dalam melaksanakan tugas serta mengelola terhadap program yang hendak diterapkan pada siswa, maka dari itu sebagai guru sangat penting artinya dalam mendidik siswanya dan dapat memberi suatu motivasi belajar yang baik demi tercapainya tujuan pengajaran tersebut.
Dalam pelaksanaan pembelajaran kontekstual pada bidang studi Pendidikan Agama Islam terhadap meningkatkan mutu pendidikan siswa perlu mengambil suatu langkah yang baik demi tercapainya tujuan tersebut. Oleh
karena itu, guru harus menguasai metode dan materi yang akan di ajarkan serta mengikuti pelatihan-pelatihan tentang metode pembelajaran kontekstual.
Agar pelaksanaannya dapat berjalan dengan baik dan sesuai yang diharapkan dengan kurikulum yang berlaku. Olehnya itu guru dituntut profesional dalam mengajar sehingga siswa dalam menyimak pelajaran dapat memahami materi yang diajarkan sehingga prestasi belajar dapat meningkat.
Oleh karena itu, Belajar dan mengajar terjadi pada saat berlangsung interaksi antara guru dan siswa untuk mencapai tujuan pengajaran sebagai proses belajar mengajar memerlukan perencanaan yang mantap, yakni mengkoordinasikan unsur-unsur tujuan pengajaran, bahan pengajaran, kegiatan belajar mengajar, metode dan alat bantu mengajar serta penilaian atau evaluasi.
Adapun usaha-usaha yang dilakukan oleh guru dalam meningkatkan mutu pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar dalam menyelesaikan masalah pengajaran Pendidikan Agama Islam, sebagaimana hasil wawancara penulis dengan Akhmad Basran, S. Pd.I guru agama Islam sebagai berikut :
Bahwa usaha-usaha yang dilakukan dalam menyelesaikan masalah pengajaran pendidikan agama Islam adalah dengan memberikan motivasi atau dorongan kepada siswa, agar dapat menumbuhkan minat siswa bahwa betapa pentingnya mempelajari pendidikan agama Islam, serta memberikan bimbingan, memberikan tugas, memberikan apresepsi untuk mengingat kembali pelajaran yang telah dipelajari, menyediakan buku-buku pendidikan agama dan buku-buku lainnya. (wawancara tanggal 23 September2014).
Hasil pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa usaha-usaha yang dilakukan guru dalam meningkatkan mutu Pendidikan Agama Islam, yaitu memberikan pelajaran kepada siswa dengan metode kontekstual maupun konvensional, memotivasi siswa, memberikan tugas, memberikan bimbingan, menambah sarana dan fasilitas belajar mengajar.
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Pengaruh sistem pembelajaran kontekstual Pendidikan Agama Islam di dalam meningkatkan mutu pendidikan siswa di Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar sudah efektif dalam penerapannya dimana siswa memilih 79,37% efektif dan 20,63 % siswa yang menyatakan kurang atau tidak efektif.
2. Faktor-faktor pendukung sistem pembelajaran kontekstual pada peningkatan mutu pendidikan siswa terhadap mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar adalah faktor keaktifan guru dan siswa dalam proses belajar mengajar, dan faktor ketersediaan media pembelajaran. Faktor-faktor penghambat dari sistem pembelajaran kontekstual pada peningkatan belajar siswa terhadap mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar adalah kurangnya buku paket, adanya perbedaan tingkat intelektual siswa.
3. Upaya-upaya meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam melalui sistem pembelajaran kontekstual Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten
Kepulauan Selayar adalah memadukan antara teori dan praktek dalam proses pembelajaran, mewujudkan kualitas Pendidikan yang Agamis, memberi motivasi kepada siswa, memberikan tugas, memberikan bimbingan, menambah sarana dan fasilitas belajar mengajar.
B. Saran-Saran
1. Untuk mencapai kualitas Pendidikan Agama Islam yang mampu bersaing dalam berbagai kompetisi, hendaknya sistem pembelajaran kontekstual bidang studi ini dimaksimalkan dalam proses belajar mengajar.
2. Untuk itu sangat perlu dilakukan penyempurnaan-penyempurnaan metode sarana dan prasarana serta semua aspek yang dapat menunjang penerapan metode inquiry dengan lebih baik.
3. Faktor-faktor pendukung yang telah terjalin selama ini hendaknya selalu ditambah, diperbaharui dan dievaluasi secara menyeluruh, guna memperoleh peningkatan hasil belajar yang lebih baik khususnya pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 PasilambenaKabupaten Kepulauan Selayar.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur'an
Arikunto, Suharsimi. 2005. Prosedur Penelitian (Suatu Pendekatan Praktek).
Cet. VI; Jakarta: Rineka Cipta.
Azwar, Saifuddin, 2003, Metode Penelitian, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Badruzaman, Ahmad. 2006. Strategi dan Pendekatan dalam Pembelajaran. Ar Ruuz, Yogyakarta.
Daradjad, Zakiah 2007, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, Jakarta : Bumi Aksara.
Daulay, Haidar Putra, 2004, Pendidikan Islam, Jakarta : Kencana.
Departemen Agama RI, 2002, Al-Quran dan Terjemahnya, Semarang: Toha Putra.
Departemen Agama Republik Indonesia, 2004, Basic Kompetensi Guru, Jakarta
Departemen Pendidikan Nasional. 2001. Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah, Jakarta : Depdiknas.
Departemen Pendidikan Nasional, 2003. Pendekatan Kontekstual (Contekstual Theacing and Learning: Jakarta: Depdiknas
Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta.
Dimiyati, dan Mudjiono, 2002.Belajar dan Pembelajaran. Cet. II; Jakarta: PT.
Rineka Cipta,
Dirjen Dikdasmen. 2003. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Jakarta: Depdiknas.
Gafur, Abdul. 2003. Modul Perencanaan Pembelajaran PPKn Berbasis Kompetensi. Jakarta: Depdiknas.
Hadi. Sutrisno, 2003. Statistik, Cet. IX; Jakarta: Andi Offset
Hamalik, Omar. 2004, Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Hamdani, Saiful, 2003, Pemikiran Pendidikan Islam, Bandung Trigendo Karya Hasbullah, 2009, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan, Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada
Jawahir, Mochamad. 2005. Teknik dan Strategi Pembelajaran. Cendekia Press, Bandung.
Moleong, Lexy. 2004. Metodologi Penelitian Suatu Pendekatan. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Mulyasa, E. 2004. Kurikulum Berbasis Kompetensi: Konsep, Karakteristik, Implementasi, dan Inovasi. Cetakan ketujuh. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Nurhadi, dkk. 2003. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK, Malang: UM Press
Nurhadi, 2004, Kemampuan Dasar Guru dalam Proses Belajar Mengajar. Cet.
I; Bandung: PT. Remaja Rosda.
Sanjaya, Wina, 2009, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Cet. VI; Jakarta : Kencana Prenada Media Group.
Subagio, 2009, Kompetensi Guru dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta.
Sudjana, Nana, 2001, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Cet. VIII;
Bandung: Sinar Baru.
Sudijono, Anas. Pengantar Statistik Pendidikan. Cet. X; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2000.
Sugiyono. Metode Penelitian Administrasi. Cet. VIII; Bandung: Alfabeta, 2005.
Trianto, 2008, Mendesain Pembelajaran Kontekstual di Kelas, Jakarta: Cerdas Pustaka
Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, 2007, Jakarta: Sinar Grafika.
Usman. Moh. Uzer, 2006. Menjadi Guru profesional, Cet; XVI; Bandung:
Remaja Rosdakarya.
W.J.S. Poerwadarminto, 2007, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta : PN Balai Pustaka,
RIWAYAT HIDUP
Nur Ihsan, lahir pada tanggal 1 Januari 1991 di onesatonda, anak kelima dari tujuh bersaudara dari pasangan H. Hamid (alm) dan Hj. Nurmaida duduk di bangku Sekolah Dasar (SDN No.4 Pulo Madu) Kecamatan Pasilambena Kabupaten
Selayar pada tahun 1998 dan tamat pada tahun 2004. Kemudian melanjutkan pendidikan di SMPN 2 Takabonerate dan tamat pada tahun 2007, kemudian lanjut SMA Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar dan tamat pada tahun 2010, kemudian melanjutkan studi Strata Satu di Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar dan selesai pada tahun 2014.