SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) pada Jurusan Pendidikan Agama Islam
Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar
NUR IKHSAN 105 19 01263 10
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 1435 H / 2014
Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar
N a m a : Nur Ikhsan N I M : 105 19 01263
Fak./Jurusan : Agama Islam/Pendidikan Agama Islam
Setelah dengan seksama memeriksa dan meneliti, maka skripsi ini dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diajukan dan dipertahankan dihadapan tim penguji ujian skripsi Fakultas Agama Islam Unismuh Makassar
19 Dzulhijjah 1435 H Makassar, --- 15 Oktober 2014 M Pembimbing I
(Dra. Mustahidang Usman, M. Si) NBM: 623 184
Pembimbing II
(Dra. Hj. St. Rajiah Rusydi, M. Pd.I) NBM: 638 478
bawah ini menyatakan bahwa skripsi ini benar adalah hasil karya penulis sendiri. Jika dikemudian hari terbukti bahwa skripsi ini merupakan duplikat, tiruan, plagiat dibuat atau dibantu secara langsung atau keseluruhan, maka skripsi dan gelar yang diperoleh karenanya batal demi hukum.
19 Dzulhijjah 1435 H Makassar, --- 15 Oktober 2014 M
Penulis,
Nur Ikhsan
segala limpahan rahmat, taufik dan hidayah-Nya, serta salawat dan salam atas junjungan Nabiullah Muhammad Saw.
Dalam penyusunan skripsi yang berjudul “Pengaruh Pembelajaran Kontekstual Dalam Peningkatan Mutu Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar” penulis tidak dapat menyelesaikan tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, melalui kesempatan ini, penulis menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang sebesar- besarnya atas bantuan yang diberikan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.
Banyak kendala yang dihadapi oleh penulis dalam rangka penyusunan skripsi ini, tetapi berkat bantuan berbagai pihak maka skripsi dapat penulis selesaikan pada waktunya. Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih yang tulus dan ikhlas kepada yang terhormat:
1. Kedua orang tua penulis, yaitu ayahanda H. Hamid (Alm) dan Ibunda Hj.
Nurmaeda yang tercinta, telah membesarkan dan mendidik penulis dengan kasih sayang, dan tak kenal lelah serta pengorbanan apapun sehingga penulis sampai kejenjang Pendidikan S1 (Strata satu), kepada keduanya penulis senantiasa memanjatkan do’a semoga Allah Swt.
mengasihi dan mengampuni dosa-dosa keduanya dan menentramkan kehidupannya di dunia dan diakhirat.
2. Bapak Dr. H. Irwan Akib, M.Pd. Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar
3. Bapak Drs. H. Mawardi Pewangi, M. Pd. I., Dekan Fakultas Agama Islam
5. Ibu Dra. Mustahidang Usman, M. Si dan Ibu Dra. Hj. St. Rajiah Rusydi, M. Pd.I sebagai pembimbing dalam penyusunan skripsi ini.
6. Bapak/Ibu para dosen yang telah mendidik dan memberikan Ilmu Pengetahuan selama ini kepada penulis.
7. Bapak Saripuddin, S. Pd selaku Kepala Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 PasilambenaKepulauan Selayar beserta seluruh jajarannya yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian, serta seluruh responden yang telah memberikan informasinya yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.
8. Dan yang terakhir ucapan terima kasih juga disampaikan kepada mereka namanya tidak dapat penulis sebutkan satu persatu tetapi telah banyak membantu dalam menyelesaikan skripsi ini.
Akhirnya kepada Allah Swt kami memohon semoga semua pihak yang telah memberikan bantuan dan bimbingannya senantiasa memperoleh balasan disisi-Nya, Amin.
19 Dzulhijjah 1435 H Makassar, --- 15 Oktober 2014 M
Penulis
Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar (dibimbing oleh Marjani Alwi dan Mustahidang Usman)
Penelitian ini membahas tentang sistem pembelajaran kontekstual Pendidikan Agama Islam dalam peningkatan mutu pendidikan siswa, faktor yang menjadi kendala dan penunjang sistem pembelajaran kontekstual Pendidikan Agama Islam dalam peningkatan mutu pendidikan siswa dan usaha yang dilakukan dalam pelaksanaan sistem pembelajaran kontekstual Pendidikan Agama Islam dalam peningkatan mutu pendidikan siswa di Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar.
Dalam skripsi ini penulis menggunakan jenis penelitian lapangan (Field research), yakni peneliti langsung ke lokasi penelitian untuk memperoleh data yang konkrit yang ada hubungannya dengan masalah yang akan dibahas.
Metode digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif, yaitu sumber dari wawancara, observasi dan dokumentasi, guna memperoleh kesimpulan yang akurat yang dapat dipertanggung jawabkan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pembelajaran kontekstual Pendidikan Agama Islam dalam meningkatkan mutu pendidikan siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar sudah efektif dalam penerapannya dimana siswa memilih 71,37%
efektif dan 35,91% siswa yang menyatakan kurang atau tidak efektif.
Faktor-faktor pendukung sistem pembelajaran kontekstual pada peningkatan mutu pendidikan siswa terhadap mata pelajaran Pendidikan Agama Islam Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar adalah faktor keaktifan guru dan siswa dalam proses belajar mengajar, dan faktor ketersediaan media pembelajaran. Faktor-faktor penghambat dari sistem pembelajaran kontekstual pada peningkatan belajar siswa terhadap mata pelajaran Pendidikan Agama Islam Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar adalah kurangnya buku paket, adanya perbedaan tingkat intelektual siswa.
Upaya-upaya meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam melalui sistem pembelajaran kontekstual Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar adalah memadukan antara teori dan praktek dalam proses pembelajaran, mewujudkan kualitas Pendidikan yang Agamis, memberi motivasi kepada siswa, memberikan tugas, memberikan bimbingan, menambah sarana dan fasilitas belajar mengajar.
Tabel 3: Tabulasi jumlah sampel guru Pendidikan Agama Islam ... 41 Tabel 4: Keadaan Guru Sekolah Menengah Pertama Negeri 4
Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar Periode
2013/2014 ... 46 Tabel 5: Keadaan Siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 4
Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar ... 47 Tabel 6: Sarana Fasilitas Sekolah Menengah Pertama Negeri 4
Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar ... 48 Tabel 7: Pernyataan Siswa Terhadap Pelajaran Pendidikan Agama
Islam ... ... 50 Tabel 8: Pernyataan Siswa tentang sistem pembelajaran kontekstual
yang diterapkan guru dalam mengajar Pendidikan Agama
Islam ... ... 51 Tabel 9: Pendapat responden tentang sikap senang dengan
penerapan sistem pembelajaran kontekstual Pendidikan Agama Islam Sekolah Menengah Pertama Negeri 4
Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar: ... 54 Tabel 10: Pendapat responden tentang alasan mereka paham dengan
sistem pembelajaran kontekstual Sekolah Menengah
Pertama Negeri 4 Pasilambena ... 54 Tabel 11: Pendapat responden tentang keaktifan guru dan siswa
dengan sistem pembelajaran kontekstual dalam pengajaran
Pendidikan Agama Islam ... 57 Tabel 12: Pendapat responden tentang sifat kritis siswa dalam
menyikapi sistem pembelajaran kontekstual pendidikan
Agama Islam ... 58 Tabel 13: Pendapat responden tentang motivasi siswa untuk belajar
dengan sistem pembelajaran kontekstual Pendidikan Agama
Islam ... ... 59
PRAKATA ... ... iv
ABSTRAK ... ... v
DAFTAR TABEL ... ... vii
DAFTAR ISI ... viii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 6
C. Tujuan Penelitian ... 7
D. Manfaat Penelitian ... 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 9
A. Sistem Pembelajaran Kontekstual ... 9
1. Pengertian Pembelajaran Kontekstual ... 9
2. Hakikat Pendekatan dan Pembelajaran Kontekstual . 10 3. Karakteristik Pembelajaran Kontekstual ... 11
4. Perbedaan Pembelajaran Kontekstual dengan Pembelajaran Konvensional ... 11
5. Prinsip-Prinsip Pembelajaran Kontekstual. ... 15
6. Peran Guru dalam Pembelajaran Kontekstual ... 16
B. Pelaksanaan Pembelajaran Kontekstual ... 17
1. Perencanaan Pembelajaran Kontekstual... 17
2. Pelaksanaan Pembelajaran Kontekstual ... 18
3. Penilaian Pembelajaran Kontekstual ... 21
C. Pendidikan Agama Islam ... 24
1. Pengertian Pendidikan Agama Islam ... 24
2. Dasar dan Tujuan Pendidikan Agama Islam ... 27
3. Fungsi Pendidikan Agama Islam dalam Pembelajaran Kontekstual ... 30
4. Pendekatan Kontekstual dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam ... 31
D. Peningkatan Mutu Pendidikan ... 32
BAB III METODE PENELITIAN ... 36
A. Jenis Penelitian ... 36
B. Lokasi dan Objek Penelitian ... 36
C. Variabel Penelitian ... 36
D. Defenisi Operasional Variabel ... 37
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 45
A. Selayang pandang Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar ... 45
B. Pengaruh Sistem Pembelajaran Kontekstual Pendidikan Agama Islam Dalam Peningkatan Mutu Pendidikan Siswa Di Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar ... 49
C. Faktor-Faktor Yang Menjadi Kendala Dan Penunjang Sistem Pembelajaran Kontekstual Pendidikan Agama Islam Dalam Peningkatan Mutu Pendidikan Siswa Di Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar ... 57
D. Usaha Yang Dilakukan Dalam Pelaksanaan Sistem Pembelajaran Kontekstual Pendidikan Agama Islam Dalam Peningkatan Mutu Pendidikan Siswa Di Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar ... 62
BAB V PENUTUP ... 66
A. Kesimpulan ... 66
B. Saran-saran ... 67
DAFTAR PUSTAKA ... 68
1
Otonomi daerah membawa pengaruh bagi manajemen pembelajaran di Indonesia. Salah satu pengaruh tersebut adalah diberlakukannya otonomi sekolah, di mana tiap-tiap sekolah memiliki wewenang untuk mengelola dan meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pembelajaran nasional.
Dalam lingkup kelas, guru mempunyai peran yang strategis untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Guru merupakan personil sekolah yang memiliki kesempatan bertatap muka lebih banyak dengan siswanya. Dengan demikian, peran dan tanggung jawab guru sesuai dengan kebijakan otonomi sekolah antara lain adalah menguasai dan mengembangkan materi pembelajaran, merencanakan dan mempersiapkan pembelajaran, serta mengontrol dan mengevaluasi kegiatan siswa.
Kemampuan guru dalam menciptakan pembelajaran yang berkualitas sangat menentukan keberhasilan pembelajaran secara keseluruhan. Kualitas pembelajaran sangat bergantung pada kemampuan guru, terutama dalam memberikan kemudahan belajar kepada peserta didik secara efektif dan efisien.
Berdasarkan pengamatan, pembelajaran dewasa ini masih didominasi oleh pandangan, bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal. Kelas masih terfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan, ceramah menjadi pilihan utama strategi belajar. Sering dijumpai
guru terbiasa melaksanakan kegiatan pembelajarannya dengan metode konvensional di mana siswa kurang dilibatkan secara aktif dalam kegiatan pembelajaran. Siswa cenderung pasif dan hanya sebagai pendengar ceramah guru tanpa diberi kesempatan untuk mengeluarkan pendapatnya. Proses belajar mengajar terkesan kaku, kurang fleksibel dan guru cenderung kurang demokratis. Siswa ibarat kertas putih bersih yang siap diisi dengan ilmu pengetahuan. Pencapaian dan keberhasilan pembelajaran berdasarkan hasil akhir pembelajaran dengan mengabaikan proses.
Dengan adanya konsep pembelajaran di atas, maka diperlukan suatu inovasi strategi belajar yang diharapkan lebih efektif dan efisien sebagai alternatif yaitu pembelajaran kontekstual.
Menurut Wina Sanjana (2009 : 152) bahwa:
Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) yang sering disingkat dengan CTL merupakan salah satu model pembelajaran yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil.
Dalam konteks tersebut, siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka, dan bagaimana mencapainya. Mereka sadar bahwa yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya nanti. Dengan begitu mereka memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal untuk hidupnya nanti. Mereka mempelajari apa yang bermanfaat bagi dirinya dan berupaya menggapainya. Dalam upaya itu, mereka memerlukan guru sebagai pengarah dan pembimbing.
Menghadapi hal tersebut perlu dilaksanakan penataan secara menyeluruh, terutama berkaitan dengan kualitas pembelajaran serta relevansinya dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja. Dalam hal ini, perlu adanya perubahan sosial yang memberi arah bahwa pembelajaran adalah kehidupan, untuk itu kegiatan belajar mengajar harus dapat membekali siswa dengan kecakapan hidup yang sesuai dengan lingkungan kehidupan dan kebutuhan peserta didik.
E. Mulyasa (2007: 4) mengungkapkan bahwa:
Dua prinsip pembelajaran yang sangat relevan dengan Pancasila: Pertama;
pembelajaran harus diletakkan pada empat pilar, yaitu belajar, mengetahui (learning to know), belajar melakukan (learning to do), belajar hidup dalam kebersamaan (learning to live together), dan belajar menjadi diri sendiri (learning to be); kedua belajar seumur hidup (life long learning).
Dengan pendekatan kontekstual maka pembelajaran akan berfokus pada siswa dan apa yang akan dikerjakan oleh siswa. Hal ini karena kecenderungan dewasa ini untuk kembali kepada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya bukan mengetahuinya.
Pendekatan pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Nurhadi dkk (2003: 4) mengemukakan bahwa:
Dalam pendekatan pembelajaran kontekstual ini, proses pembelajaran akan berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan dalam pembelajaran ini agar hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi anak untuk memecahkan persoalan, berfikir kritis serta menarik suatu generalisasi.
Teori pendekatan pembelajaran kontekstual berfokus pada multi aspek lingkungan belajar diantaranya ruang kelas, laboratorium sains, laboratorium komputer, tempat bekerja, maupun tempat-tempat lainnya. Pembelajaran kontekstual mendorong para guru untuk memilih dan mendesain lingkungan belajar yang memungkinkan untuk mengaitkan berbagai bentuk pengalaman
sosial, budaya, fisik, dan psikolog dalam mencapai hasil belajar. Dalam proses pembelajaran dengan pendekatan kontekstual tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya, guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk menemukan suatu pengetahuan dan ketrampilan bagi siswa yang diperoleh dari proses menemukan sendiri bukan dari apa kata guru.
Pembelajaran Agama Islam merupakan salah satu bahan kajian dalam semua kurikulum pada semua jenjang pembelajaran, mulai dari taman kanak- kanak sampai perguruan tinggi. Dalam kurikulum yang terbaru bahwa pembelajaran dasar dan menengah, Pembelajaran Agama Islam merupakan salah satu mata pelajaran yang wajib diikuti oleh siswa.
Tantangan yang dihadapi dalam Pembelajaran Agama Islam khususnya Pembelajaran Agama Islam sebagai sebuah mata pelajaran adalah bagaimana mengimplementasikan Pembelajaran Agama Islam bukan hanya mengajarkan pengetahuan tentang agama akan tetapi bagaimana mengarahkan siswa agar memiliki kualitas iman, taqwa dan akhlak mulia.
Dengan demikian materi pembelajaran agama bukan hanya mengajarkan pengetahuan tentang agama akan tetapi bagaimana membentuk kepribadian siswa agar memiliki keimanan dan ketakwaan yang kuat dan kehidupannya senantiasa dihiasi dengan akhlak yang mulia dimanapun mereka berada, dan dalam posisi apapun mereka bekerja.
Maka saat ini yang mendesak adalah bagaimana usaha-usaha yang harus dilakukan oleh para guru Pembelajaran Agama Islam untuk
mengembangkan metode-metode pembelajaran yang dapat memperluas pemahaman siswa mengenai ajaran-ajaran agamanya, mendorong mereka untuk mengamalkannya dan sekaligus dapat membentuk akhlak dan kepribadiannya.
Seperti halnya metode pembelajaran agama Islam yang selama ini lebih ditekankan pada hafalan (padahal Islam penuh dengan nilai-nilai yang harus dipraktekkan dalam perilaku keseharian), akibatnya siswa kurang memahami kegunaan dan manfaat dari apa yang telah dipelajari dalam materi Pembelajaran Agama Islam yang menyebabkan tidak adanya motivasi siswa untuk belajar materi Pembelajaran Agama Islam.
Saeful Hamdani (2003: 1) mengemukakan bahwa:
Dalam upaya untuk merealisasikan pelaksanaan pembelajaran agama Islam, guru dituntut untuk menguasai pengetahuan yang memadai dan teknik-teknik mengajar yang baik agar ia mampu menciptakan suasana pengajaran yang efektif dan efisien atau dapat mencapai hasil yang sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
Untuk menjawab persoalan-persoalan tersebut perlu diterapkan suatu cara alternatif guna mempelajari Pembelajaran Agama Islam yang kondusif dengan suasana yang cenderung rekreatif sehingga memotivasi siswa untuk mengembangkan potensi kreativitasnya. Salah satu alternatif yang bisa digunakan adalah dengan penerapan suatu paradigma baru dalam
pembelajaran di kelas yaitu dengan metode pembelajaran kontekstual, dikarenakan ada kecenderungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan lebih baik jika lingkungannya diciptakan alamiah.
Salah satu metode pembelajaran yang dianjurkan dalam pembelajaran Pembelajaran Agama Islam adalah pendekatan Kontekstual. Sehubungan dengan hal tersebut maka dalam penelitian ini akan disajikan, mengapa pembelajaran Pembelajaran Agama Islam menggunakan pendekatan kontekstual dan bagaimana sistem pendekatan kontekstual dalam pembelajaran Pembelajaran Agama Islam di sekolah.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengaruh sistem pembelajaran kontekstual dalam peningkatan mutu Pembelajaran Agama Islam siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar?
2. Faktor-faktor apa yang menjadi kendala dan penunjang sistem pembelajaran kontekstual dalam peningkatan mutu Pembelajaran Agama Islam siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar?
3. Usaha apa yang dilakukan dalam pelaksanaan sistem pembelajaran kontekstual dalam peningkatan mutu Pembelajaran Agama Islam siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui pengaruh sistem pembelajaran kontekstual dalam peningkatan mutu Pembelajaran Agama Islam siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar.
2. Untuk mengetahui faktor yang menjadi kendala dan penunjang sistem pembelajaran kontekstual dalam peningkatan mutu Pembelajaran Agama Islam siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar.
3. Untuk mengetahui usaha yang dilakukan dalam pelaksanaan sistem pembelajaran kontekstual dalam peningkatan mutu Pembelajaran Agama Islam siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar.
D. Manfaat Penelitian
1. Kegunaan teoritis, yaitu penelitian yang dilakukan sebagai sarana untuk menyampaikan ide atau gagasan dalam bentuk karya ilmiah, dan diharapkan dapat bermanfaat untuk memahami pembelajaran kontekstual pada bidang studi Pembelajaran Agama Islam Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar.
2. Kegunaan praktis, yaitu penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran kepada kepala sekolah, guru, dan siswa terhadap pembelajaran kontekstual pada bidang studi Pembelajaran Agama Islam
dalam meningkatkan mutu Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Hakekat Pembelajaran Kontekstual 1. Pengertian Pembelajaran Kontekstual
Departemen Pembelajaran Nasional (2003 : 5) bahwa:
Pembelajaran kontekstual adalah suatu pendekatan pembelajaran dan pengajaran yang mengaitkan materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa sehingga mendorong siswa untuk menerapkan pengetahuan yang dimilikinya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Sedangkan Sugandi (2004: 41) bahwa:
Pembelajaran Kontekstual dirancang dan dilaksanakan berdasarkan landasan filosofis Kontruktivisme yaitu filosofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal. Siswa harus mengontruksi pengetahuan dibenak pikiran mereka, karena pada dasarnya pengetahuan tidak dapat di pisah-pisahkan menjadi fakta atau proporsi yang terpisah, tetapi mencerminkan ketrampilan yang dapat diterapkan.
Bertolak dari pengertian tersebut jelas memberikan gambaran bahwa dalam pembelajaran kontekstual ini Proses Belajar Mengajar (PBM) akan lebih konkrit, realistis, lebih actual, lebih menyenangkan dan lebih bermakna. Dalam Pembelajaran Kontekstual siswa juga lebih diberdayakan agar mampu menumbuhkan daya kreasi, daya nalar, rasa keingintahuannya, hasrat menemukan hal-hal baru, menumbuhkan demokrasi dan kreatifitas berpikir.
Sedangkan tugas guru dalam Pembelajaran Kontekstual hanya membantu siswa mencapai tujuannya, bukan menerangkan dengan menggunakan metode ceramah sehingga siswa hanya sebagai pendengar saja. Pembelajaran
Kontekstual ini sebenarnya merupakan upaya perbaikan dari pembelajaran model lama (konvensional).
Dalam Pembelajaran Konvensional siswa hanya sebagai penerima informasi yang pasif dan guru adalah penentu jalannya proses pembelajaran sehingga pembelajaran sangat abstrak, verbal, dan teoritis. Dalam Pembelajaran Kontekstual hal tersebut akan berbalik sehingga siswa dapat secara aktif terlibat dalam kegiatan pembelajaran, sebagai pembangun gagasan atau ide dan guru hanya menyediakan kondisi sehingga pembelajaran tidak abstrak, tidak verbal dan tidak teoritis karena dikaitkan dengan kehidupan nyata.
2. Hakikat Pendekatan dan Pembelajaran Kontekstual
Pendekatan kontekstual merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang menekankan pentingnya lingkungan alamiah diciptakan dalam proses belajar, agar kelas lebih hidup dan lebih bermakna karena siswa mengalami sendiri apa yang dipelajarinya. Pendekatan kontekstual merupakan pendekatan yang memungkinkan siswa untuk menguatkan, memperluas, dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan akademik dalam berbagai macam tatanan kehidupan, baik di sekolah maupun di luar sekolah.
Pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan
melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: kontruktivisme, bertanya, menemukan, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian sebenarnya.
3. Karakteristik Pembelajaran Kontekstual
Menurut Nurhadi (2003: 20) ada beberapa karakter pembelajaran berbasis kontekstual, yaitu:
a. Adanya kerjasama, sharing dengan teman dan saling menunjang;
b. Siswa aktif dan kritis, belajar dengan bergairah, menyenangkan dan tidak membosankan, serta guru kreatif;
c. Pembelajaran terintegrasi, menggunakan berbagai sumber;
d. Dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa;
e. Laporan kepada orang tua bukan sekedar rapor tetapi hasil karya siswa, laporan praktikum, dan karangan siswa.
Belajar kontekstual adalah proses pengalaman sendiri yang berkembang secara
bertahap dari yang sederhana menuju yang kompleks.
Oleh karena itu, belajar tidak dapat sekaligus, akan tetapi sesuai dengan irama kemampuan siswa. Belajar pada hakikatnya adalah menangkap pengetahuan dari kenyataan. Oleh karena itu, pengetahuan yang diperoleh adalah pengetahuan yang memiliki makna untuk kehidupan anak.
4. Perbedaan Pembelajaran Kontekstual dengan Pembelajaran Konvensional
Wina Sanjaya (2009: 260) mengemukakan perbedaan pokok antara pembelajaran kontekstual dan pembelajaran konvensional. Dibawah ini dijelaskan perbedaan kedua model tersebut dilihat dari konteks tertentu.
a. kontekstual menempatkan siswa sebagai subjek belajar, artinya siswa berperan aktif dalam setiap proses pembelajaran dengan cara menemukan dan menggali sendiri materi pelajaran. Sedangkan dalam pembelajaran
konvensional siswa ditempatkan sebagai objek belajar yang berperan sebagai penerima informasi secara pasif.
b. Dalam pembelajaran kontekstual, siswa belajar melalui kegiatan kelompok seperti kerja kelompok, berdiskusi, saling menerima dan memberi.
Sedangkan dalam pembelajaran konvensional siswa lebih banyak belajar secara individual dengan menerima, mencatat, dan menghafal materi pelajaran.
c. Dalam kontekstual, kemampuan didasarkan atas pengalaman; sedangkan dalam pembelajaran konvensional kemampuan diperoleh melalui latihan- latihan.
d. Tujuan akhir dari proses pembelajaran melalui kontekstual adalah kepuasan diri, misalnya individu tidak melakukan perilaku tertentu karena ia menyadari bahwa perilaku itu merugikan dan tidak bermanfaat; sedangkan dalam pembelajaran konvensional, tindakan atau perilaku individu didasarkan oleh faktor dari luar dirinya, misalnya individu tidak melakukan sesuatu disebabkan takut hukuman atau sekedar untuk memperoleh angka atau nilai dari guru.
e. Dalam kontekstual, pengetahuan yang dimiliki setiap individu selalu berkembang sesuai dengan pengalaman yang dialaminya, oleh sebab itu setiap siswa bisa terjadi perbedaan dalam memaknai hakikat pengetahuan yang dimilikinya. Dalam pembelajaran konvensional hal ini tidak mungkin
terjadi. Kebenaran yang dimiliki bersifat absolut dan final, oleh karena pengetahuan dikonstruksi oleh orang lain.
f. Dalam pembelajaran kontekstual, siswa bertanggung jawab dalam memonitor dan mengembangkan pembelajaran mereka masing-masing;
sedangkan dalam pembelajaran konvensional guru adalah penentu jalannya proses pembelajaran.
g. Dalam pembelajaran kontekstual, pembelajaran bisa terjadi di mana saja dalam konteks dan setting yang berbeda sesuai dengan kebutuhan;
sedangkan dalam pembelajaran konvensional pembelajaran hanya terjadi di dalam kelas.
h. Oleh karena tujuan yang ingin dicapai adalah seluruh aspek perkembangan siswa, maka dalam kontekstual keberhasilan pembelajaran diukur dengan berbagai cara, misalnya dengan evaluasi proses, hasil karya siswa, penampilan, rekaman, observasi, wawancara, dan lain sebagainya;
sedangkan dalam pembelajaran konvensional keberhasilan pembelajaran biasanya hanya diukur dari tes.
Beberapa perbedaan pokok diatas, menggambarkan bahwa kontekstual memang memiliki karakteristik tersendiri baik dilihat dari asumsi maupun proses pelaksanaan dan pengelolaannya. untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 1
Perbedaan Pendekatan Kontekstual dengan Pendekatan Tradisional No Pendekatan Kontekstual Pendekatan Tradisional
1. Menyandarkan pada memori spasial (pemahaman makna)
Menyandarkan pada hafalan 2. Pemilihan informasi berdasarkan
kebutuhan siswa
Pemilihan informasi ditentukan oleh guru
3. Siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran
Siswa secara pasif menerima informasi
4. Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata/masalah yang disimulasikan
Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis
5. Selalu mengkaitkan informasi dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa
Memberikan tumpukan informasi kepada siswa sampai saatnya diperlukan
6. Cenderung mengingtegrasikan beberapa bidang
Cenderung terfokus pada satu bidang (disiplin) tertentu.
7. Siswa menggunakan waktu belajaranya untuk menemukan, menggali, berdiskusi, berpikir kritis, atau mengerjakan proyek dan pemecahan masalah (melalui kerja kelompok)
Waktu belajar siswa sebagian besar dipergunakan untuk mengerjakan buku tugas, mendengar, ceramah, dan mengisi latihan yang membosankan (melalui kerja inidividual
8. Perilaku dibangun atas kesadaran diri
Perilaku dibangun atas kebiasaan
9. Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman
Keterampilan dikembangkan atas dasar latihan
10. Hadiah dari perilaku baik adalah kepuasan diri
Hadiah dari perilaku baik adalah pujian atau nilai (angka) rapor 11. Siswa tidak melakukan hal yang
buruk karena sadar hal tersebut keliru dan merugikan
Siswa tidak melakukan sesuatu yang buruk karena takut akan hukuman
12. Perilaku baik berdasarkan motivasi intrinsik
Perilaku baik berdasarkan motivasi entrinsik
13. Pembelajaran terjadi diberbagai tempat, konteks, dan setting.
Pembelajaran hanya terjadi dalam kelas
14. Hasil belajar diukur melalui penerapan penilaian autentik
Hasil belajar diukur melalui kegiatan akademik dalam bentuk teks/ujian/ulangan.
Sumber: Departemen Pembelajaran Nasional (2006 : 24)
5. Prinsip-Prinsip Pembelajaran Kontekstual.
Wina Sanjaya (2009 : 192) mengemukakan bahwa dalam penerapan pendekatan pembelajaran kontekstual guru harus memegang beberapa prinsip pembelajaran berikut ini.
a. Merencanakan pembelajaran sesuai dengan perkembangan mental.
b. Membentuk kelomok belajar yang saling bergantung
c. Menyediakan lingkungan yang mendukung pembelajaran mandiri.
d. Mempertimbangkan keragaman siswa (diversity of student).
e. Memperhatihan multi-intelegensi (multiple inteligences) siswa.
f. Melakukan teknik-teknik bertanya (questioning).
g. Menerapkan penilaian authentic (authentic assessment).
Sedangkan Nurhadi dkk (2003 : 55-56) mengemukakan strategi pembelajaran yang berasosiasi dengan Pembelajaran Kontekstual
a. Pengajaran Berbasis Masalah.
Pengajaran berbasis masalah (Problem-based learning) adalah suatu pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berfikir kritis dan ketrampilan memecahkan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran.
b. Pengajaran Kooperatif.
Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sengaja mengembangkan interaksi yang saling mengasihi antar sesama siswa.
c. Pengajaran berbasis inkuiri.
Merupakan pembelajaran yang mendorong siswa untuk belajar melalui keterlibatan aktif mereka sendiri dengan konsep-konsep atau prinsip-prinsip, dan guru mendorong siswa untuk melakukan percobaan yang memungkinkan siswa untuk menemukan sendiri prinsip-psinsip atau konsep-konsep.
d. Pengajaran Berbasis Proyek/tugas.
Merupakan strategi pembelajaran komperhensif dimana lingkungan belajar siswa didesain agar siswa dapat melakukan penyelidikan terhadap masalah-masalah authentik
Dengan diterapkannya pembelajaran kontekstual diharapkan terjadi pembelajaran yang menyenangkan, tidak membosankan, siswa bisa kerja sama, belajar secara aktif, berbagai sumber disekitar siswa bisa digunakan sehingga siswa akan lebih kritis, dan guru lebih kreatif.
6. Peran Guru dalam Pembelajaran Kontekstual
Dalam pembelajaran kontekstual tugas guru adalah memberikan kemudahan belajar kepada peserta didik, dengan menyediakan berbagai sarana dan sumber belajar yang memadai. Guru bukan hanya menyampaikan materi pembelajaran yang berupa hafalan, tetapi mengatur lingkungan dan strategi pembelajaran yang memungkinkan peserta didik belajar. Lingkungan belajar yang kondusif sangat penting dan sangat menunjang pembelajaran kontekstual, dan keberhasilan pembelajaran secara keseluruhan.
Nurhadi (2003 : 20-21) mengemukakan bahwa agar pelaksanaan pembelajaran kontekstual lebih efektif, maka guru perlu melaksanakan hal-hal sebagai berikut.
a) Merencanakan pembelajaran sesuai dengan kewajaran perkembangan mental siswa.
b) Membentuk kelompok belajar yang saling tergantung.
c) Menyediakan lingkungan yang mendukung pembelajaran mandiri.
d) Mempertimbangkan keragaman siswa.
e) Memperhatikan multi-intelegensia siswa.
f) Menggunakan teknik-teknik bertanya yang meningkatkan pembelajaran siswa, perkembangan pemecahan masalah, dan keterampilan berpikir tinggi.
g) Menerapkan penilaian autentik yang akan mengevaluasi pengetahuan dan berpikir kompleks seorang siswa, daripada hanya sekedar hafalan informasi faktual.
Dari pendapat di atas bahwa pembelajaran kontekstual merupakan perubahan tingkah laku adanya suatu pengalaman. Perubahan tingkah laku tersebut dapat berupa perubahan keterampilan, kebiasaan sikap, pengetahuan, pemahaman, dan apresiasi.
B. Pelaksanaan Pembelajaran Kontekstual
1. Perencanaan Pembelajaran Kontekstual
Rencana pembelajaran adalah keseluruhan proses analisis kebutuhan dan tujuan belajar serta pengembangan sistem penyampaiannya untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan belajar, termasuk didalamnya pengembangan paket pembelajaran, kegiatan pembelajaran, uji coba dan revisi paket pembelajaran, dan terakhir mengevaluasi program dan hasil belajar.
Abdul Gafur (2003: 22) menjelaskan bahwa:
Dalam menyusun desain pembelajaran atau merencanakan kegiatan pembelajaran, perlu menjawab tiga pertanyaan pokok: (1) kompetensi apakah yang akan diajarkan; (2) bagaimana cara memberikan pengalaman belajar untuk mencapai kompetensi tersebut; dan (3) bagaimana mengetahui bahwa kompetensi yang diajarkan telah dikuasai oleh siswa.
Pertanyaan pertama “kompetensi apakah yang akan diajarkan”
menyangkut tujuan dan materi pelajaran; pertanyaan kedua menyangkut strategi, metode, media, dan lingkungan pembelajaran; sedangkan pertanyaan ketiga menyangkut masalah evaluasi atau penilaian.
Guru profesional harus mampu mengembangkan persiapan mengajar yang baik, logis dan sistematis. Disamping melaksanakan pembelajaran, persiapan tersebut mengemban “profesional accountability” sehingga guru dapat mempertanggungjawabkan apa yang dilakukannya. Persiapan mengajar yang dikembangkan guru memiliki makna yang cukup mendalam bukan hanya kegiatan untuk memenuhi kelengkapan administratif, tetapi merupakan cerminan dari pandangan, sikap dan keyakinan profesional guru mengenai apa yang terbaik untuk peserta didiknya. Oleh karena itu, setiap guru harus memiliki persiapan mengajar yang matang sebelum melaksanakan pembelajaran, baik persiapan tertulis maupun tidak tertulis.
2. Pelaksanaan Pembelajaran Kontekstual
Trianto (2008 : 72) mengemukakan tujuh komponen utama pembelajaran yang mendasari penerapan pembelajaran kontekstual di kelas. Ketujuh komponen utama itu adalah sebagai berikut :
a. Konstruktivisme (constructivism)
Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman.
Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Dalam hal ini anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
b. Menemukan (inquiry)
Komponen kedua dalam kontekstual adalah inkuiri. Artinya, proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan. Pengetahuan bukanlah sejumlah fakta dari mengingat, akan tetapi hasil dari proses menemukan sendiri. Dengan demikian dalam proses perencanaan, guru bukanlah mempersiapkan sejumlah materi yang harus dihafal, akan tetapi merancang pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat menemukan sendiri materi yang harus dipahaminya.
Adapun langkah-langkah kegiatan inquiry yaitu: merumuskan masalah, mengumpulkan data melalui observasi, menganalisis dan menyajikan hasil
dalam tulisan, gambar, bagan, tabel dan karya lainnya dan mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, atau audiens yang lain.
c. Bertanya (questioning)
Belajar pada hakikatnya adalah bertanya dan menjawab pertanyaan.
Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dan keingintahuan setiap individu;
sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir. Dalam pembelajaran melalui kontekstual, guru tidak menyampaikan informasi begitu saja, akan tetapi memancing agar siswa dapat menemukan sendiri. Karena itu peran bertanya sangat penting, sebab melalui pertanyaan-pertanyaan guru dapat membimbing dan mengarahkan siswa untuk menemukan setiap materi yang dipelajarinya.
d. Masyarakat Belajar (Learning Community)
Konsep masyarakat belajar dalam kontekstual menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh melalui kerjasama dengan orang lain. Kerjasama itu dapat dilakukan dalam berbagai bentuk baik dalam kelompok belajar secara formal maupun dalam lingkungan yang terjadi secara alamiah. Hasil belajar dapat diperoleh dari hasil sharing dengan orang lain, antar teman, antar kelompok; yang sudah tahu memberi tahu pada yang belum tahu, yang pernah memiliki pengalaman membagi pengalamannya pada orang lain.
e. Pemodelan (modeling)
Pemodelan pada dasarnya membahasakan gagasan yang dipikirkan, mendemonstrasikan bagaimana guru menginginkan para siswanya untuk belajar, dan melakukan apa yang guru inginkan agar siswanya melakukan.
Pemodelan dapat berbentuk demonstrasi, pemberian contoh tentang konsep atau aktivitas belajar. Guru memberi model tentang “bagaimana cara belajar”.
Dalam pembelajaran kontekstual, guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa atau juga dapat didatangkan dari luar.
f. Refleksi (reflection)
Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir kebelakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan dimasa yang lalu.
Dalam pembelajaran kontekstual, guru perlu melaksanakan refleksi pada akhir program pengajaran. Adapun realisasinya didalam kelas dapat berupa: (1).
pertanyaan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya pada hari itu; (2).
catatan atau jurnal di buku siswa; (3). kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran hari itu; (4). diskusi; (5). hasil karya; (6). cara-cara lain yang ditempuh guru untuk mengarahkan siswa kepada pemahaman mereka tentang materi yang dipelajari.
g. Penilaian yang Sebenarnya (Authentic Assesment)
Authentic assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran
perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran yang benar. Apabila data yang dikumpulkan guru mengidentifikasikan bahwa siswa mengalami kemacetan dalam belajar, maka guru segera bisa melakukan tindakan yang tepat agar siswa terbebas dari kemacetan belajar. Adapun prinsip yang dipakai dalam penilaian autentik yaitu: (a) harus mengukur semua aspek pembelajaran (proses, kinerja, dan produk); (b) dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung; (c) menggunakan berbagai cara dan sumber; (d) tes hanya salah satu alat pengumpul data penilaian; (e) tugas-tugas yang diberikan kepada siswa harus mencerminkan kehidupan siswa yang nyata setiap hari; serta (f) penilaian harus menekankan kedalaman pengetahuan dan keahlian siswa, bukan keluasannya (Nurhadi, 2003).
Pembelajaran kontekstual menyajikan suatu konsep yang mengaitkan materi pelajaran yang dipelajari siswa dengan konteks dimana materi tersebut digunakan, serta berhubungan dengan bagaimana seorang belajar atau gaya atau cara siswa belajar.
3. Penilaian Pembelajaran Kontekstual
Penilaian adalah unsur yang penting untuk mengetahui tingkat keberhasilan proses belajar mengajar sekaligus sebagai umpan balik proses pembelajaran selanjutnya (Dirjen Dikdasmen, 2003: 16). Penilaian dalam pembelajaran tidak semata-mata dilakukan terhadap hasil belajar, tetapi juga harus dilakukan terhadap proses pembelajaran itu sendiri.
a. Penilaian proses pembelajaran
Dirjen Dikdasmen (2003 : 17) mengemukakan bahwa:
Penilaian terhadap proses pembelajaran dilakukan oleh guru sebagai bagian integral dari pembelajaran itu sendiri. Artinya penilaian harus tidak terpisahkan dalam penyusunan dan pelaksanaan pengajaran. Penilaian proses bertujuan untuk menilai efektivitas dan efisiensi pembelajaran sebagai bahan untuk perbaikan dan penyempurnaan program dan pelaksanaannya. Adapun penilaian proses pembelajaran meliputi:
1) Penilaian kemampuan peserta didik
Penilaian terhadap kemampuan peserta didik idealnya menggunakan pengukuran intelegensi atau potensi yang dimilikinya. Namun, mengingat sulitnya alat ukur tersebut diperoleh guru, maka guru dapat melakukan penilaian ini dengan mempelajari dan menganalisis kemajuan-kemajuan belajar yang ditunjukkannya, misalnya analisis hasil belajar, raport dan hasil
ulangan.
2) Minat, perhatian dan motivasi belajar peserta didik
Penilaian ini dapat dilakukan dengan menggunakan pengamatan terhadap kegiatan belajar peserta didik, kunjungan rumah, dialog dengan orang tuanya, dan sebagainya.
3) Kebiasaan belajar
Untuk memperoleh informasi mengenai kebiasaan belajar peserta didik, guru dapat menggunakan teknik pengamatan terhadap cara belajar, misalnya
cara mengerjakan tugas, cara menjawab pertanyaan, cara memecahkan masalah, dan cara diskusi.
4) Pengetahuan awal dan prasarat
Penilaian terhadap pengetahuan awal dan prasarat dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan yang relevan dengan bahan ajar yang akan diberikan kepada peserta didik.
5) Karakteristik peserta didik
Untuk mengetahui informasi mengenai karakteristik peserta didik, guru perlu mengamati tingkah laku peserta didik dalam berbagai situasi, melakukan analisis, data pribadi, melakukan wawancara, dan memberikan kuesioner atau daftar isian mengenai sifat dan karakter peserta didik.
b. Penilaian hasil pembelajaran
Wina Sanjaya (2009 : 192) mengemukakan bahwa penilaian hasil belajar bertujuan untuk melihat kemajuan belajar peserta didik dalam hal penguasaan materi pengajaran yang telah dipelajarinya sesuai dengan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Adapun penilaian hasil pembelajaran perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut.
1) Sasaran penilaian
Sasaran atau objek evaluasi hasil belajar adalah perubahan tingkah laku yang mencakup bidang kognitif, afektif dan psikomotorik secara seimbang.
2) Alat penilaian
Penggunaan alat penilaian hendaknya komprehensif yang meliputi tes dan bukan tes sehingga diperoleh gambaran hasil belajar yang objektif.
3) Prosedur pelaksanaan tes
Penilaian hasil belajar dapat dilaksanakan dalam bentuk tes formatif yakni pada akhir pengajaran, dan tes sumatif yakni pada akhir suatu program atau pertengahan program.
Dengan diterapkannya pembelajaran kontekstual diharapkan terjadi pembelajaran yang menyenangkan, tidak membosankan, siswa bisa kerja sama, belajar secara aktif, berbagai sumber disekitar siswa bisa digunakan sehingga siswa akan lebih kritis, dan guru lebih kreatif.
C. Pembelajaran Agama Islam
1. Pengertian Pembelajaran Agama Islam
Adapun pengertian Pembelajaran Agama Islam dari segi etimologi dan terminology yaitu sebagai berikut:
W.J.S. Poerwadarminto, (2007 : 250) mengemukakan bahwa:
Dari segi etimologi atau bahasa, kata pembelajaran berasal kata "didik"
yang mendapat awalan pe- dan akhiran -an sehingga pengertian pembelajaran adalah sistem cara mendidik atau memberikan pengajaran dan peranan yang baik dalam akhlak dan kecerdasan berpikir.
Kemudian ditinjau dari segi terminology, banyak batasan dan pandangan yang dikemukakan para ahli untuk merumuskan pengertian pembelajaran, namun belum juga menemukan formulasi yang tepat dan mencakup semua
aspek, walaupun begitu pembelajaran berjalan terus tanpa menantikan keseragaman dalam arti pembelajaran itu sendiri.
Diantaranya ada yang mengemukakan pengertian pembelajaran sebagai berikut: Sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia No 20 Tahun 2003 tentang sistem pembelajaran nasional pasal 1
Pembelajaran adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Kata pembelajaran berasal dari kata didik yang berarti menjaga, dan meningkatkan. Departemen Agama RI (2004: 1) mengemukakan bahwa
a. Mengembangkan dan memberikan bantuan untuk berbagai tingkat pertumbuhan atau mengembangkan pengetahuan, kebijaksanaan, kualitas jiwa, kesehatan fisik dan kompetensi.
b. Memberikan pelatihan formal dan praktek yang di supervisi.
c. Menyediakan informasi.
d. Meningkatkan dan memperbaiki.
Zakiah Daradjad (2007 : 172) mengemukakan bahwa:
Pembelajaran Agama Islam berkenaan dengan tanggung jawab bersama.
Oleh sebab itu usaha yang secara sadar dilakukan oleh guru mempengaruhi siswa dalam rangka pembentukan manusia beragama yang diperlukan dalam pengembangan kehidupan beragama dan sebagai salah satu sarana pembelajaran nasional dalam rangka meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Selanjutnya Haidar Putra Daulay (2004 : 143), mengemukakan bahwa:
Pembelajaran Agama Islam pada dasarnya adalah pembelajaran yang bertujuan untuk membentuk pribadi Muslim seutuhnya, mengembangkan seluruh potensi manusia baik yang berbentuk jasmani maupun rohani.
Dari beberapa definisi di atas, maka dapat diambil pengertian bahwa yang dimaksud Pembelajaran Agama Islam adalah suatu aktivitas atau usaha- usaha tindakan dan bimbingan yang dilakukan secara sadar dan sengaja serta terencana yang mengarah pada terbentuknya kepribadian anak didik yang sesuai dengan norma-norma yang ditentukan oleh ajaran agama.
Pembelajaran Agama Islam juga merupakan upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani, bertaqwa, dan berakhlak mulia dalam mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utamanya yaitu kitab suci Al-Quran dan Al-Hadits, melalui kegiatan bimbingan pengajaran, latihan, serta penggunaan pengalaman.
Dari pengertian di atas terbentuknya kepribadian yakni pembelajaran yang diarahkan pada terbentuknya kepribadian Muslim. kepribadian Muslim adalah pribadi yang ajaran Islam nya menjadi sebuah pandangan hidup, sehingga cara berpikir, merasa, dan bersikap sesuai dengan ajaran Islam.
Dengan demikian Pembelajaran Agama Islam itu adalah usaha berupa bimbingan, baik jasmani maupun rohani kepada anak didik menurut ajaran Islam, agar kelak dapat berguna menjadi pedoman hidupnya untuk mencapai kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.
2. Dasar dan Tujuan Pembelajaran Agama Islam.
a. Dasar Pembelajaran Agama Islam
Dasar adalah landasan tempat berpijak atau tempat tegaknya sesuatu.
Dalam hubungannya dengan Pembelajaran Agama Islam, dasar-dasar itu merupakan pegangan untuk memperkokoh nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Adapun yang menjadi dasar dari Pembelajaran Agama Islam adalah Al- Qur'an yang merupakan kitab suci bagi kita umat Islam yang tentunya terpelihara keaslian nya dari tangan-tangan yang tak bertanggung jawab dan tidak ada keraguan di dalamnya, sebagaimana Firman Allah Swt dalam Al- Qur'an yaitu Q.S Al-Baqarah (2) : 2 sebagai berikut:
Terjemahnya :
Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa
Al-Qur'an sebagai kitab suci telah dipelihara dan dijaga kemurniannya oleh Allah Swt dari segala sesuatu yang dapat merusaknya sepanjang masa dari sejak diturunkannya sampai hari kiamat kelak, hal ini di terangkan dalam Q.S (Al-Hujr (15) : 9 sebagai berikut:
Terjemahnya :
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.
Al-Hadits merupakan perkataan ataupun perbuatan Nabi Muhammad SAW yang memberikan gambaran tentang segala sesuatu hal, yang juga dijadikan dasar dan pedoman dalam Islam, dan sebagai umat Islam kita harus mentaati apa yang telah di sunnahkan Rasulullah Saw, hal ini di jelaskan dalam Al-Qur'an surat An-Nisa (4) ayat 80.
Terjemahnya:
Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah. dan Barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), Maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. (Departemen Agama RI, 2002 : 132)
Seperti halnya Alquran, Hadis juga berisi ajaran tentang akidah, syariat dan petunjuk-petunjuk untuk kemaslahatan manusia dalam segala aspek kehidupannya untuk membina umat menjadi manusia yang paripurna. Dengan demikian, maka sangat absah bila dikatakan bahwa Rasulullah saw. adalah sebagai guru atau pendidik utama dan pertama, dan segala amalan atau perbuatan yang dikerjakan Nabi saw. Dalam proses perubahan sikap hidup sehari-hari menjadi sumber atau dasar pembelajaran Islam. Sebab Allah Swt.
telah menjadikan Muhammad sebagai teladan bagi umatnya.
b. Tujuan Pembelajaran Agama Islam
Tujuan Pembelajaran Agama Islam identik dengan tujuan agama Islam, karena tujuan agama adalah agar manusia memiliki keyakinan yang kuat dan
dapat dijadikan sebagai pedoman hidupnya yaitu untuk menumbuhkan pola kepribadian yang bulat dan melalui berbagai proses usaha yang dilakukan.
Dengan demikian tujuan Pembelajaran Agama Islam adalah suatu harapan yang diinginkan oleh pendidik Islam itu sendiri.
Zakiah Daradjad (2007 : 174) dalam Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam mendefinisikan tujuan Pembelajaran Agama Islam sebagai berikut:
Tujuan Pembelajaran Agama Islam yaitu membina manusia beragama berarti manusia yang mampu melaksanakan ajaran-ajaran agama Islam dengan baik dan sempurna, sehingga tercermin pada sikap dan tindakan dalam seluruh kehidupannya, dalam rangka mencapai kebahagiaan dan kejayaan dunia dan akhirat. Yang dapat dibina melalui pengajaran agama yang intensif dan efektif.
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan Pembelajaran Agama Islam adalah sebagai usaha untuk mengarahkan dan membimbing manusia dalam hal ini peserta didik agar mereka mampu menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt, serta meningkatkan pemahaman, penghayatan, dan pengamalan mengenai Agama Islam, sehingga menjadi manusia Muslim, berakhlak mulia dalam kehidupan baik secara pribadi, bermasyarakat dan berbangsa dan menjadi insan yang beriman hingga mati dalam keadaan Islam.
3. Fungsi Pembelajaran Agama Islam dalam Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran Agama Islam mempunyai fungsi sebagai media untuk meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah Swt, serta sebagai wahana pengembangan sikap keagamaan dengan mengamalkan apa yang telah didapat dari proses pembelajaran Pembelajaran Agama Islam.
Zakiah Daradjad (2007 : 175) berpendapat dalam bukunya Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam bahwa :
Sebagai sebuah bidang studi di sekolah, pengajaran agama Islam mempunyai tiga fungsi, yaitu: pertama, menanamtumbuhkan rasa keimanan yang kuat, kedua, menanamkembangkan kebiasaan (habit forming) dalam melakukan amal ibadah, amal saleh dan akhlak yang mulia, dan ketiga, menumbuh kembangkan semangat untuk mengolah alam sekitar sebagai anugerah Allah Swt kepada manusia.
Dari pendapat diatas dapat diambil beberapa hal tentang fungsi dari Pembelajaran Agama Islam yang dapat dirumuskan sebagai berikut:
a. Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan siswa kepada Allah Swt yang ditanamkan dalam lingkup pembelajaran keluarga.
b. Pengajaran, yaitu untuk menyampaikan pengetahuan keagamaan yang fungsional
c. Penyesuaian, yaitu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial dan dapat ber sosialisasi dengan lingkungannya sesuai dengan ajaran Islam.
d. Pembiasaan, yaitu melatih siswa untuk selalu mengamalkan ajaran Islam, menjalankan ibadah dan berbuat baik.
Disamping fungsi-fungsi yang tersebut diatas, hal yang sangat perlu di ingatkan bahwa Pembelajaran Agama Islam merupakan sumber nilai, yaitu
memberikan pedoman hidup bagi peserta didik untuk mencapai kehidupan yang bahagia di dunia dan di akhirat.
4. Pendekatan Kontekstual dalam Pembelajaran Pembelajaran Agama Islam
Dalam pembelajaran Pembelajaran Agama Islam, penguasaan guru akan materi dan pemahaman mereka dalam memilih metode yang tepat untuk materi tersebut akan sangat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran. Salah satu metode yang saat ini dianggap tepat dalam pembelajaran Pembelajaran Agama Islam adalah melalui pendekatan kontekstual.
Salah satu unsur terpenting dalam penerapan pendekatan kontekstual adalah pemahaman guru untuk menerapkan strategi pembelajaran kontekstual di dalam kelas. Akan tetapi, fenomena yang ada menunjukkan sedikitnya pemahaman guru-guru Pembelajaran Agama Islam mengenai strategi ini. Oleh karena itu diperlukan suatu model pengajaran dengan menggunakan pembelajaran kontekstual yang mudah dipahami dan diterapkan oleh para guru Pembelajaran Agama Islam di dalam kelas secara sederhana.
Menurut Badruzaman (2006 : 91) mengemukakan bahwa:
Pembelajaran kontekstual bahwa siswa akan belajar dengan baik jika apa yang dipelajari terkait dengan apa yang telah diketahui dan dengan kegiatan atau peristiwa yang akan terjadi di sekelilingnya. Pembelajaran ini menekankan pada daya pikir yang tinggi, transfer ilmu pengetahuan, mengumpulkan dan menganalisis data, memecahkan masalah-masalah tertentu baik secara individu maupun kelompok.
Sedangkan Mochammad Jawahir (2005 : 11) mengemukakan bahwa : Guru Pembelajaran Agama Islam dapat menggunakan strategi pembelajaran kontekstual dengan memperhatikan beberapa hal sebagai berikut, yaitu: a) memberikan kegiatan yang bervariasi sehingga dapat melayani perbedaan individual siswa; b) lebih mengaktifkan siswa dan guru; c) mendorong berkembangnya kemampuan baru; d) menimbulkan jalinan kegiatan belajar di sekolah, rumah dan lingkungan masyarakat.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kontekstual siswa lebih responsif dalam menggunakan pengetahuan dan ketrampilan di kehidupan nyata sehingga memiliki motivasi tinggi untuk belajar.
Beberapa hal yang harus diperhatikan para guru Pembelajaran Agama Islam dalam mengimplementasikan pendekatan kontekstual.
C. Peningkatan Mutu Pembelajaran
Menurut Oemar Hamalik (2006 : 33) bahwa:
Mutu adalah suatu terminologi subjektif dan relatif yang dapat diartikan dengan berbagai cara dimana setiap definisi bisa didukung oleh argumentasi yang sama baiknya. Secara luas mutu dapat diartikan sebagai agregat karakteristik dari produk atau jasa yang memuaskan kebutuhan konsumen/pelanggan. Karakteristik mutu dapat diukur secara kuantitatif dan kualitatif. Dalam pembelajaran, mutu adalah suatu keberhasilan proses belajar yang menyenangkan dan memberikan kenikmatan. Pelanggan bisa berupa mereka yang langsung menjadi penerima produk dan jasa tersebut atau mereka yang nantinya akan merasakan manfaat produk dan jasa tersebut.
Korelasi mutu dengan pembelajaran, sebagaimana pengertian yang dikemukakan oleh Dzaujak Ahmad (2004 : 2007)
“Mutu pembelajaran adalah kemampuan sekolah dalam pengelolaan secara operasional an efisien terhadap komponen-komponen yang berkaitan dengan sekolah sehingga menghasilkan nilai tambah terhadap komponen tersebut menurut norma/ standar yang berlaku.
Dari beberapa pendapat diatas dapat diketahui bahwa bicara pembelajaran bukanlah upaya sederhana, melainkan suatu kegiatan dinamis dan penuh tantangan. Pembelajaran selalu berubah seiring dengan perubahan jaman. Oleh karena itu pembelajaran senantiasa memerlukan upaya perbaikan dan peningkatan mutu sejalan dengan semakin tingginya kebutuhan dan tuntunan kehidupan masyarakat
E. Mulyasa (2007 : 79) mengemukakan bahwa
Mutu adalah suatu terminologi subjektif dan relatif yang dapat diartikan dengan berbagai cara dimana setiap definisi bisa didukung oleh argumentasi yang sama baiknya. Secara luas mutu dapat diartikan sebagai agregat karakteristik dari produk atau jasa yang memuaskan kebutuhan konsumen/pelanggan. Karakteristik mutu dapat diukur secara kuantitatif dan kualitatif. Dalam pembelajaran, mutu adalah suatu keberhasilan proses dan hasil belajar yang menyenangkan dan memberikan kenikmatan.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa peningkatan mutu pembelajaran ditentukan oleh kesiapan sumber daya manusia yang terlibat dalam proses pembelajaran. Guru merupakan salah satu faktor penentu tinggi rendahnya mutu hasil pembelajaran mempunyai posisi strategis maka setiap usaha peningkatan mutu pembelajaran perlu memberikan perhatian besar kepada peningkatan guru baik dalam segi jumlah maupun mutunya.
Upaya yang dilakukan pemerintah dalam rangka peningkatan mutu pembelajaran bagi Bangsa Indonesia adalah dengan diterbitkannya Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pembelajaran Nasional. Dalam Pasal 3 Undang-undang No. 20 Tahun 2003 itu dijelaskan bahwa :
Pembelajaran Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warganegara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Berdasar pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, tujuan pembelajaran tidak hanya mengembangkan potensi siswa menjadi manusia berilmu, cakap, dan kreatif saja tetapi juga sehat, mandiri, demokratis, bertanggung jawab, serta berakhlak mulia. Untuk mewujudkan tujuan ini Pemerintah menetapkan standar nasional pembelajaran yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pembelajaran.
Dalam peraturan pemerintah ini dijelaskan bahwa Standar Nasional Pembelajaran meliputi: (1) standar isi, (2) standar proses, (3) standar kompetensi lulusan, (4) standar pendidik dan tenaga kepembelajaran, (5) standar sarana dan prasarana, (6) standar pengelolaan, (7) standar pembiayaan, dan (8) standar penilaian pembelajaran.
Dengan standar yang telah ditetapkan itu diharapkan penjaminan mutu pada lembaga pembelajaran, dalam hal ini sekolah menjadi sebuah parameter untuk mengukur mutu pembelajaran, baik yang menyangkut aspek manajemen sekolah maupun aspek penyelenggaraan dan pengembangan akademik dan non akademik.
Untuk bisa menghasilkan mutu, menurut Subagio (2009 : 27) terdapat empat usaha mendasar yang harus dilakukan dalam suatu lembaga pembelajaran, yaitu :
1. Menciptakan situasi “menang-menang” (win-win solution) dan bukan situasi “kalah menang” diantara pihak yang berkepentingan dengan lembaga pembelajaran (stakeholders). Dalam hal ini terutama antara pimpinan lembaga dengan staf lembaga harus terjadi kondisi yang saling menguntungkan satu sama lain dalam meraih mutu produk/jasa yang dihasilkan oleh lembaga pembelajaran tersebut.
2. Perlunya ditumbuhkembangkan adanya motivasi instrinsik pada setiap orang yang terlibat dalam proses meraih mutu. Setiap orang dalam lembaga pembelajaran harus tumbuh motivasi bahwa hasil kegiatannya mencapai mutu tertentu yang meningkat terus menerus, terutama sesuai dengan kebutuhan dan harapan pengguna/langganan.
3. Setiap pimpinan harus berorientasi pada proses dan hasil jangka panjang. Penerapan manajemen mutu terpadu dalam pembelajaran bukanlah suatu proses perubahan jangka pendek, tetapi usaha jangka panjang yang konsisten dan terus menerus.
4. Dalam menggerakkan segala kemampuan lembaga pembelajaran untuk mencapai mutu yang ditetapkan, harus dikembangkan adanya kerjasama antar unsur-unsur pelaku proses mencapai hasil mutu.
Janganlah diantara mereka terjadi persaingan yang mengganggu proses mencapai hasil mutu tersebut. Mereka adalah satu kesatuan yang harus bekerjasama dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain untuk menghasilkan mutu sesuai yang diharapkan.
Dalam kerangka manajemen pengembangan mutu terpadu, usaha pembelajaran tidak lain adalah merupakan usaha “jasa” yang memberikan pelayanan kepada pelanggannya, yaitu mereka yang belajar dalam suatu lembaga.
Seperti tersebut diatas bahwa program peningkatan mutu harus berorientasi kepada kebutuhan pelanggan, maka layanan pembelajaran suatu lembaga haruslah memperhatikan masing-masing pelanggan diatas. Kepuasan dan kebanggaan dari mereka sebagai penerima manfaat pembelajaran harus menjadi acuan bagi program peningkatan mutu layanan pembelajaran. Potensi perkembangan, dan keaktifan murid tentu saja merupakan yang paling utama dalam peningkatan mutu pembelajaran. Perkembangan fisik yang baik, baik
jasmani maupun otak, menentukan kemajuannya. Demikian pula dengan lainnya, misalnya bakat, perkembangan mental, emosional, pribadi, sosial, sikap mental, nilai-nilai, minat, pengertian, umur, dan kesehatan; kesemuanya akan mempengaruhi hasil belajar dan mutu seseorang.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah Field research (penelitian lapangan), yakni peneliti turun langsung ke lokasi penelitian untuk memperoleh data yang konkrit yang ada hubungannya dengan masalah yang akan dibahas. Jenis Penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah analisis kualitatif deskriptif. Serta melakukan penelusuran melalui literatur-literatur pembelajaran, yang mempunyai kaitan yang sangat erat dengan pokok bahasan yang sedang diteliti.
B. Lokasi dan Objek Penelitian
Adapun Lokasi penelitian ini adalah di Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar. Sedangkan objek penelitian yaitu guru dan siswa sebagai informan dalam penulisan skripsi ini.
C. Variabel Penelitian
Menurut Suharsimi Arikunto (2005: 19), variabel adalah obyek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian, sedangkan Sutrisno Hadi (2003: 22), variabel didefinisikan sebagai gejala-gejala yang menunjukkan variasi baik dalam jenis maupun tingkatannya. Selanjutnya pendapat Sutrisno Hadi yang dikutip Suharsimi Arikunto (2005: 9), variabel adalah obyek penelitian. Menurut Suharsimi Arikunto