BAB II TINJAUAN PUSTAKA
C. Pendidikan Agama Islam
4. Pendekatan Kontekstual dalam Pembelajaran
Dalam pembelajaran Pembelajaran Agama Islam, penguasaan guru akan materi dan pemahaman mereka dalam memilih metode yang tepat untuk materi tersebut akan sangat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran. Salah satu metode yang saat ini dianggap tepat dalam pembelajaran Pembelajaran Agama Islam adalah melalui pendekatan kontekstual.
Salah satu unsur terpenting dalam penerapan pendekatan kontekstual adalah pemahaman guru untuk menerapkan strategi pembelajaran kontekstual di dalam kelas. Akan tetapi, fenomena yang ada menunjukkan sedikitnya pemahaman guru-guru Pembelajaran Agama Islam mengenai strategi ini. Oleh karena itu diperlukan suatu model pengajaran dengan menggunakan pembelajaran kontekstual yang mudah dipahami dan diterapkan oleh para guru Pembelajaran Agama Islam di dalam kelas secara sederhana.
Menurut Badruzaman (2006 : 91) mengemukakan bahwa:
Pembelajaran kontekstual bahwa siswa akan belajar dengan baik jika apa yang dipelajari terkait dengan apa yang telah diketahui dan dengan kegiatan atau peristiwa yang akan terjadi di sekelilingnya. Pembelajaran ini menekankan pada daya pikir yang tinggi, transfer ilmu pengetahuan, mengumpulkan dan menganalisis data, memecahkan masalah-masalah tertentu baik secara individu maupun kelompok.
Sedangkan Mochammad Jawahir (2005 : 11) mengemukakan bahwa : Guru Pembelajaran Agama Islam dapat menggunakan strategi pembelajaran kontekstual dengan memperhatikan beberapa hal sebagai berikut, yaitu: a) memberikan kegiatan yang bervariasi sehingga dapat melayani perbedaan individual siswa; b) lebih mengaktifkan siswa dan guru; c) mendorong berkembangnya kemampuan baru; d) menimbulkan jalinan kegiatan belajar di sekolah, rumah dan lingkungan masyarakat.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kontekstual siswa lebih responsif dalam menggunakan pengetahuan dan ketrampilan di kehidupan nyata sehingga memiliki motivasi tinggi untuk belajar.
Beberapa hal yang harus diperhatikan para guru Pembelajaran Agama Islam dalam mengimplementasikan pendekatan kontekstual.
C. Peningkatan Mutu Pembelajaran
Menurut Oemar Hamalik (2006 : 33) bahwa:
Mutu adalah suatu terminologi subjektif dan relatif yang dapat diartikan dengan berbagai cara dimana setiap definisi bisa didukung oleh argumentasi yang sama baiknya. Secara luas mutu dapat diartikan sebagai agregat karakteristik dari produk atau jasa yang memuaskan kebutuhan konsumen/pelanggan. Karakteristik mutu dapat diukur secara kuantitatif dan kualitatif. Dalam pembelajaran, mutu adalah suatu keberhasilan proses belajar yang menyenangkan dan memberikan kenikmatan. Pelanggan bisa berupa mereka yang langsung menjadi penerima produk dan jasa tersebut atau mereka yang nantinya akan merasakan manfaat produk dan jasa tersebut.
Korelasi mutu dengan pembelajaran, sebagaimana pengertian yang dikemukakan oleh Dzaujak Ahmad (2004 : 2007)
“Mutu pembelajaran adalah kemampuan sekolah dalam pengelolaan secara operasional an efisien terhadap komponen-komponen yang berkaitan dengan sekolah sehingga menghasilkan nilai tambah terhadap komponen tersebut menurut norma/ standar yang berlaku.
Dari beberapa pendapat diatas dapat diketahui bahwa bicara pembelajaran bukanlah upaya sederhana, melainkan suatu kegiatan dinamis dan penuh tantangan. Pembelajaran selalu berubah seiring dengan perubahan jaman. Oleh karena itu pembelajaran senantiasa memerlukan upaya perbaikan dan peningkatan mutu sejalan dengan semakin tingginya kebutuhan dan tuntunan kehidupan masyarakat
E. Mulyasa (2007 : 79) mengemukakan bahwa
Mutu adalah suatu terminologi subjektif dan relatif yang dapat diartikan dengan berbagai cara dimana setiap definisi bisa didukung oleh argumentasi yang sama baiknya. Secara luas mutu dapat diartikan sebagai agregat karakteristik dari produk atau jasa yang memuaskan kebutuhan konsumen/pelanggan. Karakteristik mutu dapat diukur secara kuantitatif dan kualitatif. Dalam pembelajaran, mutu adalah suatu keberhasilan proses dan hasil belajar yang menyenangkan dan memberikan kenikmatan.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa peningkatan mutu pembelajaran ditentukan oleh kesiapan sumber daya manusia yang terlibat dalam proses pembelajaran. Guru merupakan salah satu faktor penentu tinggi rendahnya mutu hasil pembelajaran mempunyai posisi strategis maka setiap usaha peningkatan mutu pembelajaran perlu memberikan perhatian besar kepada peningkatan guru baik dalam segi jumlah maupun mutunya.
Upaya yang dilakukan pemerintah dalam rangka peningkatan mutu pembelajaran bagi Bangsa Indonesia adalah dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pembelajaran Nasional. Dalam Pasal 3 Undang-undang No. 20 Tahun 2003 itu dijelaskan bahwa :
Pembelajaran Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warganegara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Berdasar pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, tujuan pembelajaran tidak hanya mengembangkan potensi siswa menjadi manusia berilmu, cakap, dan kreatif saja tetapi juga sehat, mandiri, demokratis, bertanggung jawab, serta berakhlak mulia. Untuk mewujudkan tujuan ini Pemerintah menetapkan standar nasional pembelajaran yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pembelajaran.
Dalam peraturan pemerintah ini dijelaskan bahwa Standar Nasional Pembelajaran meliputi: (1) standar isi, (2) standar proses, (3) standar kompetensi lulusan, (4) standar pendidik dan tenaga kepembelajaran, (5) standar sarana dan prasarana, (6) standar pengelolaan, (7) standar pembiayaan, dan (8) standar penilaian pembelajaran.
Dengan standar yang telah ditetapkan itu diharapkan penjaminan mutu pada lembaga pembelajaran, dalam hal ini sekolah menjadi sebuah parameter untuk mengukur mutu pembelajaran, baik yang menyangkut aspek manajemen sekolah maupun aspek penyelenggaraan dan pengembangan akademik dan non akademik.
Untuk bisa menghasilkan mutu, menurut Subagio (2009 : 27) terdapat empat usaha mendasar yang harus dilakukan dalam suatu lembaga pembelajaran, yaitu :
1. Menciptakan situasi “menang-menang” (win-win solution) dan bukan situasi “kalah menang” diantara pihak yang berkepentingan dengan lembaga pembelajaran (stakeholders). Dalam hal ini terutama antara pimpinan lembaga dengan staf lembaga harus terjadi kondisi yang saling menguntungkan satu sama lain dalam meraih mutu produk/jasa yang dihasilkan oleh lembaga pembelajaran tersebut.
2. Perlunya ditumbuhkembangkan adanya motivasi instrinsik pada setiap orang yang terlibat dalam proses meraih mutu. Setiap orang dalam lembaga pembelajaran harus tumbuh motivasi bahwa hasil kegiatannya mencapai mutu tertentu yang meningkat terus menerus, terutama sesuai dengan kebutuhan dan harapan pengguna/langganan.
3. Setiap pimpinan harus berorientasi pada proses dan hasil jangka panjang. Penerapan manajemen mutu terpadu dalam pembelajaran bukanlah suatu proses perubahan jangka pendek, tetapi usaha jangka panjang yang konsisten dan terus menerus.
4. Dalam menggerakkan segala kemampuan lembaga pembelajaran untuk mencapai mutu yang ditetapkan, harus dikembangkan adanya kerjasama antar unsur-unsur pelaku proses mencapai hasil mutu.
Janganlah diantara mereka terjadi persaingan yang mengganggu proses mencapai hasil mutu tersebut. Mereka adalah satu kesatuan yang harus bekerjasama dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain untuk menghasilkan mutu sesuai yang diharapkan.
Dalam kerangka manajemen pengembangan mutu terpadu, usaha pembelajaran tidak lain adalah merupakan usaha “jasa” yang memberikan pelayanan kepada pelanggannya, yaitu mereka yang belajar dalam suatu lembaga.
Seperti tersebut diatas bahwa program peningkatan mutu harus berorientasi kepada kebutuhan pelanggan, maka layanan pembelajaran suatu lembaga haruslah memperhatikan masing-masing pelanggan diatas. Kepuasan dan kebanggaan dari mereka sebagai penerima manfaat pembelajaran harus menjadi acuan bagi program peningkatan mutu layanan pembelajaran. Potensi perkembangan, dan keaktifan murid tentu saja merupakan yang paling utama dalam peningkatan mutu pembelajaran. Perkembangan fisik yang baik, baik
jasmani maupun otak, menentukan kemajuannya. Demikian pula dengan lainnya, misalnya bakat, perkembangan mental, emosional, pribadi, sosial, sikap mental, nilai-nilai, minat, pengertian, umur, dan kesehatan; kesemuanya akan mempengaruhi hasil belajar dan mutu seseorang.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah Field research (penelitian lapangan), yakni peneliti turun langsung ke lokasi penelitian untuk memperoleh data yang konkrit yang ada hubungannya dengan masalah yang akan dibahas. Jenis Penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah analisis kualitatif deskriptif. Serta melakukan penelusuran melalui literatur-literatur pembelajaran, yang mempunyai kaitan yang sangat erat dengan pokok bahasan yang sedang diteliti.
B. Lokasi dan Objek Penelitian
Adapun Lokasi penelitian ini adalah di Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar. Sedangkan objek penelitian yaitu guru dan siswa sebagai informan dalam penulisan skripsi ini.
C. Variabel Penelitian
Menurut Suharsimi Arikunto (2005: 19), variabel adalah obyek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian, sedangkan Sutrisno Hadi (2003: 22), variabel didefinisikan sebagai gejala-gejala yang menunjukkan variasi baik dalam jenis maupun tingkatannya. Selanjutnya pendapat Sutrisno Hadi yang dikutip Suharsimi Arikunto (2005: 9), variabel adalah obyek penelitian. Menurut Suharsimi Arikunto
sendiri (2005: 91), variabel adalah obyek penelitian, atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian.
Manurut Suharsimi Arikunto (2005: 39) menjelaskan bahwa ada variabel yang mempengaruhi, dan variabel yang dipengaruhi. Variabel yang mempengaruhi disebut variabel penyebab disebut variabel bebas atau variabel yang independent. Sedangkan variabel yang dipengaruhi disebut variabel akibat, dan disebut variabel tidak bebas atau variabel dependen. Adapun varibelnya adalah sistem pembelajaran kontekstual Pembelajaran Agama Islam sebagai variabel bebas, dan peningkatan mutu pembelajaran sebagai variabel terikat
D. Defenisi Operasional Variabel
1. Sistem pembelajaran kontekstual merupakan suatu proses pembelajaran yang bertujuan membantu siswa melihat makna dalam bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan cara menghubungkannya dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari, yaitu, dengan konteks lingkungan pribadinya, sosialnya, dan budayanya.
2. Pembelajaran Agama Islam adalah pembelajaran individual dan masyarakat, karena di dalam ajaran Islam berisi tentang sikap dan tingkah laku pribadi masyarakat, menuju kesejahteraan hidup perorangan dan bersama serta lebih banyak menekankan kepada perbaikan sikap mental yang akan terwujud dalam amal perbuatan, baik bagi keperluan sendiri maupun orang lain
3. Peningkatan mutu pembelajaran adalah suatu evaluasi atas proses mendidik yang dapat meningkatkan kebutuhan untuk mengembangkan dan membina bakat dari peserta didik, proses pembelajaran itu sendiri, dan bersamaan dengan itu memenuhi standar akuntabilitas yang ditetapkan oleh mereka yang bertanggung jawab membiayai dan menerima lulusan pembelajaran.
Berdasarkan pengertian di atas maka definisi operasionalnya adalah pembelajaran kontekstual sebagai salah satu alternatif strategi pembelajaran yang efektif dan efisien dalam menumbuh kembangkan atau meningkatkan proses belajar mengajar di kelas dan meningkatkan mutu pembelajaran Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar.
E. Populasi dan Sampel 1. Populasi
Menurut Lexi Moleong (2004: 103) menyatakan bahwa : "populasi adalah semua individu yang dijadikan sumber pengambilan sampel".
Populasi merupakan objek atau subjek yang mempunyai karakteristik tertentu yang merupakan sumber informasi untuk mendapatkan data yang jelas yang ada hubungannya dengan penelitian, dari hal tersebut di atas Suharsini Arikunto (2005 : 183) memberikan pengertian populasi yaitu “keseluruhan obyek penelitian"
Sedangkan menurut Sutrisno Hadi (2003 : 220) batasan Populasi adalah sebagai berikut :
Populasi adalah sekumpulan penduduk yang dimaksudkan untuk diteliti atau diselidiki disebut populasi. Populasi dibatasi sebagai jumlah penduduk yang paling sedikit mempunyai suatu sifat yang sama.
Berdasarkan defenisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa populasi adalah keseluruhan objek yang akan diteliti yang dapat memberikan informasi baik itu mencakup benda, manusia, kejadian, atau hal-hal yang ada kaitannya dengan masalah yang diteliti.
Jadi populasi yang penulis maksudkan dalam penelitian ini adalah keseluruhan guru dan siswa yang terdapat pada Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar dimana guru berjumlah 54 orang dan siswa berjumlah 681 orang. Untuk lebih jelasnya keadaan siswa dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 1
Keadaan Siswa dan Guru Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar 2014
No Siswa dan Guru Jumlah
Jumlah Laki-laki Perempuan
1 Kelas VII 22 24 46
2 Kelas VIII 28 34 62
3 Kelas IX 20 22 42
4 Guru 9 3 12
Jumlah 79 83 162
Sumber Data : Kantor Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar 2014
Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa jumlah populasi siswa dan guru Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar adalah 162 orang.
2. Sampel
Sampel adalah sebagian objek atau wakil populasi yang diteliti. Menurut Sutrisno Hadi sampel adalah perwakilan atau wakil yang lebih kecil dan keseluruhan.
Dinamakan penelitian sampel apabila kita bermaksud menggeneralisasikan hasil penelitian sampel. Menggenaralisasikan adalah mengangkat kesimpulan penelitian sebagai suatu yang berlaku bagi populasi. (Sutrisno Hadi, 2001 : 104)
Dari beberapa pengertian tersebut, maka jelaslah bahwa sampel adalah wakil dari populasi, maka sampel yang diambil haruslah refresentatif atau mencerminkan populasi. Jadi dalam meneliti sebagian individu obyek, situasi atau peristiwa tidak diteliti secara keseluruhan melainkan hanya sebagian dari populasi saja. Teknik random sampling representatif yang pada dasarnya menyangkut sampai di mana
ciri-ciri yang terdapat pada sampel yang terbatas itu benar-benar dapat menggambarkan keadaan yang sebenarnya.
Adapun pengambilan sampel tersebut berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Suharsimi Arikunto 2003: 117)
"Apabila subjeknya kurang dari 100 lebih baik diambil semuanya, sehingga penelitiannya merupakan penelitian: seluruh populasi. jika subjeknya besar atau banyak dapat diambil antara 10 - 15% atau 20 - 25 atau lebih.
Salah satu pertimbangan peneliti memilih purposive sampling sebagai teknik penelitian adalah sebab teknik ini sangat sederhana dan penyimpangan dapat dihindari. Untuk lebih jelasnya siswa dan guru yang menjadi sampel penelitian dapat dilihat tabel berikut :
Tabel 2
Tabulasi Jumlah Siswa dan Sampel Tiap Kelas
No Siswa Laki-laki Perempuan Jumlah
1 Kelas VII 10 11 21
2 Kelas VIII 10 11 21
3 Kelas IX 10 11 21
Jumlah 30 33 63
Jadi sampel dalam penelitian ini adalah sebahagian siswa yakni 63 orang.
Tabel 3
Tabulasi jumlah sampel guru Pembelajaran Agama Islam
No Guru PAI Laki-laki Perempuan Jumlah
1 Guru PAI 1 - 1
Jumlah 1 - 1
Jumlah guru Pembelajaran Agama Islam di Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar adalah 1 orang.
F. Instrumen Penelitian
Menurut Suharsimi Arikunto (2005: 115) instrumen penelitian adalah alat yang digunakan pada waktu melaksanakan penelitian.
Dalam hal ini penulis menggunakan beberapa teknik sebagai berikut:
1. Pedoman Observasi diartikan sebagai usaha mengamati fenomena-fenomena yang akan diselidiki baik itu secara langsung maupun secara tidak langsung dengan memfungsikan secara alat indera dari pengamat untuk mendapatkan informasi dan data yang akan diperlukan tanpa bantuan dan alat lain.
2. Pedoman wawancara
Yaitu penulis mengumpulkan data dengan cara mengadakan wawancara atau tanya jawab langsung dengan guru-gurunya.
3. Pedoman Angket
Yaitu alat pengumpul informasi dengan cara menyampaikan sejumlah pertanyaan tertulis untuk dijawab secara tertulis pula oleh responden. Berpijak dari pengertian itu, penulis mengedarkan angket dengan berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis kepada informan untuk memperoleh keterangan-keterangan mengenai hasil yang diperoleh siswa setelah guru mengajar yang efektif.
G. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara: Riset lapangan, yaitu cara penghitungan data dengan jalan penulis langsung turun ke lapangan. Dalam hal ini Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar guna mengumpulkan data yang diperlukan dalam penyusunan skripsi ini. Oleh karena itu data yang dikumpulkan ini bersifat empiris. Kemudian dalam penelitian lapangan ini penulis menggunakan teknik-teknik pengumpulan data, sebagai berikut:
1) Observasi adalah pengamatan dan pencatatan dengan sistematik penomena-penomena yang diselidiki.
2) Dokumentasi adalah teknik pengumpulan data yang diperoleh melalui dokumen-dokumen.
3) Wawancara adalah suatu bentuk komunikasi verbal yaitu semacam percakapan yang bertujuan memperoleh informasi.
4) Angket adalah daftar pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh data/
keterangan tertentu dari responden.
H. Teknik Analisis Data
Setelah penulis mengumpulkan data, selanjutnya penulis mengolah data tersebut dengan menggunakan teknik sebagai berikut:
1. Analisis kualitatif yaitu analisis data yang dijabarkan melalui pengamatan yang tidak berupa angka-angka. Maksudnya adalah dilakukan dengan cara menguraikan dalam bentuk kalimat kemudian direlevansikan dengan rujukan teori yang mendukung.
2. Analisis kuantitatif yaitu analisis terhadap data yang berupa angka-angka dengan cara menggunakan statistik yang relevan dalam bentuk persentase
% 100 N x P F
Keterangan :
P = Angka Persentase
F = Frekuensi yang sedang dicari persentasenya N = Jumlah siswa.
Dengan demikian, metode analisis data yang dipergunakan dalam skripsi ini adalah analisis kualitatif deskriptif, yaitu sumber dari hasil angket, interview, observasi
dan dokumentasi, guna memperoleh sesuatu kesimpulan yang betul-betul akurat dan dapat dipertanggung jawabkan.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Selayang pandang Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar
1. Sejarah berdiri, dan perkembangannya
Pada permulaan tahun 2006 sampai sekarang di desa Karumpa didirikan sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena yang menempati lokasi tidak jauh dari perkampungan pendidikan sekitar 300 meter dari perkampungan penduduk setempat dengan lama pendidikannya 3 tahun. Saat ini SMPN 4 Pasilambena sudah mempunyai gedung sendiri sehingga proses pembelajaran sangat efektif. Baru pada tahun 2006 pihak sekolah diberi sebidang tanah di dekat jalan raya menuju kampung sebelah dengan keadaan yang darurat didirkan gedung. Pada awal tahun ajaran 2006 sampai sekarang dalam bidang pendidikan khususnya Pendidikan Agama Islam mengalami perubahan yang cukup signifiakan.
Adapun kepala sekolah yang pernah memimpin SMP Negeri 4 Pasilambena adalah Dg. Siratang, S. Pd., M.M, Meliadi, S.Pd, dan Saripuddin, S. Pd. Dalam rangka ikut mencerdaskan kehidupan bangsa khusunya di kota Benteng dan menyongsong era perdagangan bebas, SMP Negeri 4 Pasilambena telah berpacu dengan waktu dengan mengerahkan segala daya dan upaya demi memenuhi tuntutan jalan dan kemjuan teknologi yang begitu pesat. Oleh karena itu dibutuhkan pengelolaan yang profesional dalam
mengelola SMP Negeri 4 Pasilambena Benteng. Untuk mewujudkan maksud dan tujuan tersebut SMP Negeri 4 pasilambena telah mengadakan analisis pengelolaan dengan menggunakan metode konstekstual
2. Keadaan Guru
Guru adalah salah satu faktor pendukung dalam meningkatkan kualitas para peserta didik, oleh karena itu professional guru sangatlah diperlukan oleh setiap sekolah terutama Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar. Adapun keadaan Guru di Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar sebanyak 48 orang. Untuk lebih jelasnya keadaan Guru Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena dapat dilihat dalam tabel berikut:
Tabel 4
Keadaan Guru Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar Periode 2013/2014
N
o Nama Pangkat/gol Bidang Studi Yang
Diajarkan
Adhi Chandra, S. Pd PNS Bahasa Inggris
6 .
Ansyar Leo, S. Pd PNS Penjaskes
7 .
Jubaedah, S. Pd Honorer Seni budaya
8 .
Jufriadi, S. Or, Sp Honorer IPA/TIK
9 .
Herlinawati, S. Pd Honorer Bahasa Indonesia 1
0.
Bahtiar Honorer Matematika
1
Sumber Data: Kantor Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Tahun Ajaran 2013/2014
b. Keadaan Siswa
Keadaan siswa yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah mengenai banyaknya siswa sebagai populasi. Untuk lebih jelasnya keadaan siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Tahun Ajaran 2011 dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 5
Keadaan Siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar
Sumber Data: Kantor Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Tahun Ajaran 2013/2014
Tabel diatas menunjukkan bahwa jumlah siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Tahun 2013/2014 sebanyak 150 orang.
3. Keadaan sarana dan fasilitas belajar
Kelangsungan pendidikan formal tidak hanya didukung oleh tenaga pendidikan tetapi harus didukung pula oleh sarana dan prasarana misalnya fasilitas gedung sekolah dan alat-alat pengajaran yang digunakan dalam kegiatan proses belajar mengajar serta lingkungan yang dapat memberi suasana edukatif. Karena itu, masalah sarana dan fasilitas ini, tetap menjadi bagian dari objek penelitian dalam setiap kegiatan meneliti.
Keadaan sarana pendidikan dan fasilitas belajar Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 6
Sarana Fasilitas Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar
N o.
Sarana /Fasilitas Belajar Jumlah 1
.
Ruang Kepala Sekolah 1 Buah
2. Ruang Tata usaha 1 Buah
Ruang Kelas Belajar 22 Buah
5 .
Ruang BP/BK 1 Buah
6 .
Laboratorium Fisika 1 Buah
7 .
Laboratorium Sains 1 Buah
8 Laboratorium Komputer 1 Buah
.
Sekretariat Osis 1 Buah
1 1.
UKS 1 Buah
1 2.
Sanggar Pramuka 1 Buah
1 3.
Koperasi Siswa 1 Buah
1
Filing Cabinet/ Lemari 4 Buah
Sumber Data: Kantor Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Tahun Ajaran 2013/2014
Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa sarana dan prasarana pendidikan yang ada di Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar sudah dapat menunjang proses pembelajaran,
namun masih dirasakan berbagai kekurangan seperti alat dan media yang masih terbatas. Dengan keterbatasan media pembelajaran maka guru diharapkan dapat lebih kreatif serta terus berusaha meningkatkan kualitas kinerjanya sehingga mutu pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar tetap meningkat pada setiap tahunnya.
B. Pengaruh Sistem Pembelajaran Kontekstual Pendidikan Agama Islam Dalam Peningkatan Mutu Pendidikan Siswa Di Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar
Sistem pembelajaran kontekstual Pendidikan Agama Islam menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, artinya proses belajar dilaksanakan pada proses pengalaman secara langsung. Proses pembelajaran dalam kontekstual tidak mengharapkan agar siswa hanya menerima pelajaran, akan tetapi proses mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran.
Pembelajaran kontekstual yaitu mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupannya, artinya pembelajaran kontekstual bukan hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi yang dipelajarinya, akan tetapi bagaimana materi pelajaran itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Materi pelajaran dalam kontekstual bukan untuk di-tumpuk di otak dan kemudian dilupakan, akan tetapi sebagai bekal mereka dalam mengarungi kehidupan nyata.
Belajar kontekstual adalah proses pengalaman sendiri yang berkembang secara bertahap dari yang sederhana menuju yang kompleks.
Oleh karena itu, belajar tidak dapat sekaligus, akan tetapi sesuai
Oleh karena itu, belajar tidak dapat sekaligus, akan tetapi sesuai