Kepemimpinan
Elitisme yang mendominasi kelembagaan PNPM di tingkat kecamatan dan desa memiliki dua sisi. Kelembagaan PNPM di Ringinan sendiri memang tidak demokratis, dan cenderung didominasi oleh sekelompok elit. Pelaku-pelaku utama pengambil keputusan di tingkat kecamatan dan desa semaksimal mungkin diupayakan berasal dari unsur perangkat desa atau tokoh masyarakat yang dekat dengan perangkat. Di satu sisi, sistem kepemimpinan elitis dalam BKAD, UPK dan TPK memang menjadi faktor utama Ringinan berprestasi dalam mematuhi aturan main PNPM. Disisi lain sistem kepemimpinan elitis yang ada justru sama sekali tidak mendorong terjadinya proses demokratisasi dan partisipasi dari warga,
kecuali yang bersifat artifisial seperti swadaya. Masalahnya, swadaya masyarakat sudah dan selalu
ada di tingkat komunitas tanpa perlu ada PNPM. Uang kas dan sumbangan yang dikumpulkan warga di tingkat kampung sudah sejak dulu dipergunakan untuk keperluan membangun dan merehabilitasi sarana prasarana publik di lingkungan komunitas. Warga cukup paham untuk tidak menggantungkan diri pada pemerintah.
Dengan model kepemimpinan elit seperti saat ini, cukup besar potensi keberlanjutan kelembagaan PNPM ke depan, tetapi jangan berharap bahwa lembaga tersebut demokratis dan merepresentasikan kepentingan warga. PNPM dianggap sebagai mainan yang lebih menarik dibandingkan ADD yang kecil. Kepentingan elit sangat kuat mendominasi program PNPM, namun di tingkat warga pun tidak ada penolakan atau sikap kritis untuk menuntut partisipasi dan transparansi. Bisa jadi karena pemahaman yang tidak utuh, atau juga karena manfaat langsung dari kegiatan PNPM dapat dinikmati oleh warga. Sejauh ini, tampaknya hal itu sudah cukup memenuhi harapan warga.
Gambar A1.5 Gotong-royong Warga dalam Kegiatan Infrastruktur PNPM di Desa Kradenan
Sumber daya lokal
SDM pelaku kelembagaan di tingkat kecamatan dan desa cukup bagus sehingga tidak sulit bagi setiap lembaga tersebut untuk menjalankan peran dan fungsinya dalam program. Beberapa peran fasilitator kecamatan bahkan sudah dapat digantikan oleh pelaku lokal.
Mekanisme kontrol
Mekanisme kontrol yang terjadi di kelembagaan PNPM di tingkat kecamatan maupun desa bersifat
artifisial, sebatas memenuhi ketentuan proyek. Terkait dengan keberlanjutan, jika model kelembagaan
yang ada sekarang tetap dipertahankan, mekanisme kontrol tidak akan berjalan karena yang terjadi adalah “melapor pada diri sendiri”. Kelembagaan BKAD dan UPK akan menjadi eksklusif dan kuat
karena memegang sumber daya finansial yang besar. Sebagai sebuah lembaga, potensi untuk berlanjut
sangat tinggi, tapi lagi-lagi tidak akan bersifat transparan dan demokratis. Warga masyarakat akan tetap menjadi objek pembangunan, tanpa punya suara untuk mengontrol keputusan dan tindakan yang dilakukan BKAD dan UPK. BPUPK sebagai lembaga pengawas dapat dikatakan tidak berfungsi, bahkan secara internal, karena isinya orang-orang yang punya kedekatan relasi dan kepentingan dengan para elit di BKAD dan UPK.
Peran pemerintahan desa dan kecamatan
Dukungan dari pemerintahan kecamatan dan desa di Ringinan menunjukkan sisi positif bahwa PNPM tidak menjadi program yang tidak disukai perangkat pemerintahan. Sebaliknya, program ini malah menjadi favorit perangkat karena besarnya dana (dibanding ADD) dan tingginya kepastian untuk merealisasikan kegiatan sesuai rencana (dibanding proses musrenbang). Sisi negatifnya, program dan kelembagaan PNPM menjadi eksklusif dan elitis. Aparat kecamatan dan desa merasa perlu untuk “menguasai” kelembagaan PNPM melalui BKAD. Forum MAD saja dinilai tidak cukup, namun perlu ditegaskan dalam kepemimpinan formal dalam BKAD.
Peran pemerintah kabupaten
Pemerintah kabupaten cukup suportif terhadap program ini, terutama Badan Pemberdayaan Masyarakat dan juga Bupati Klaten. Terbitnya Peraturan Bupati tahun 2012 mengenai Pelestarian Aset dan Kelembagaan PPK dan PNPM merupakan bentuk kepedulian pemerintah kabupaten agar aset dan kelembagaan PNPM terus berkelanjutan. Namun, visi mengenai kelembagaan BKAD, UPK dan BPUPK ke depan memang masih belum jelas. Perbup memang masih dinilai sebagai PTO yang mendapatkan status legal yang lebih permanen, lebih daripada sekadar proyek.
Peran fasilitator
Hal menarik dari temuan di Klaten, peran fasilitator masih sangat signifikan namun perlu ada pergeseran.
Dalam banyak hal, peran fasilitator sebagai pembuat laporan dan pendamping dalam penyelenggaraan MAD dan Musdes sudah dapat digantikan oleh pelaku lokal (terutama Ketua UPK). Setelah para pelaku PNPM memahami betul isi PTO dan cukup terhubung jalur komunikasi dengan pelaku PNPM di tingkat kabupaten dan pusat, para pelaku ini sudah bisa memainkan peran dan fungsinya dalam pelaksanaan program tanpa fasilitator.
Akan tetapi, keberadaan fasilitator di Ringinan masih merupakan hal mutlak. Karakter kelembagaan yang terbangun selama ini kuat karena diisi oleh para elit desa yang punya posisi dan pengaruh besar. Kuatnya pengaruh elit dan karakter kelembagaan yang bersifat eksklusif tanpa mekanisme kontrol yang transparan dan akuntabel, maka kemungkinan bahwa kelembagaan ini akan digunakan untuk kepentingan sekelompok orang menjadi besar. Selama ada fasilitator, masih ada pihak yang disegani ataupun ditakuti. Walaupun keberadaan FK di Ringinan tampak tidak dianggap, namun keberadaannya saja sudah cukup sebagai bentuk kontrol terhadap kelembagaan yang bersifat eksklusif tadi. Oleh karena itu, untuk model-model kelembagaan PNPM yang mirip seperti Ringinan ini, fungsi dan peran FK masih sangat dibutuhkan sebagai pengawas yang memastikan masih ada mekanisme kontrol yang berfungsi.
Keberadaan fasilitator tingkat kabupaten sangat penting sebagai penghubung dengan pihak Pemda dan non pemerintah. Ruang Belajar Masyarakat (RBM) hanya berjalan saat ada dana, sehingga peran
Faskab cukup signifikan dalam membagi pengetahuan untuk pelaku yang lebih luas. Pelaku-pelaku
PNPM di Ringinan sebenarnya masih kurang inisiatif dan kreatif di luar batas-batas aturan proyek, sehingga gagasan dari Faskab masih dibutuhkan. Misalnya ide-ide untuk memperkenalkan produk- produk kelompok dalam kegiatan pameran dan brosur yang disebarluaskan, gagasan untuk melakukan advokasi ke pihak pemerintah, dan mediasi agar BKAD sebagai lembaga dapat diakui. Selain itu, sama
halnya dengan FK, keberadaan Faskab menjadi sangat signifikan sebagai pengawas bagi model-model