• Tidak ada hasil yang ditemukan

Interaksi atau Kegiatan dengan Luar PNPM

Dalam dokumen LAMPIRAN STUDI KELOMPOK MASYARAKAT PNPM (Halaman 54-57)

Interaksi dengan pihak pemerintah

Interaksi di tingkat kecamatan

Program-program pembangunan lainnya di luar PNPM Mandiri Perdesaan yang diterima Kecamatan Pantai Elok antara lain PNPM Integrasi (P2SPP), PNPM Pariwisata, Pamsimas, PUAP dan PPIP (Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan). Hanya PNPM Mandiri Perdesaan dan P2SPP yang menggunakan fasilitator yang sama, sedangkan program lainnya seperti PPIP, Pamsimas dan PNPM Pariwisata memiliki fasilitator dan menggunakan mekanisme program tersendiri di luar PNPM. Selain itu tim-tim yang di bentuk di PNPM tidak dilibatkan dalam proses perencanaan dan pelaksanaannya, tidak ada mekanisme dalam program-program pembangunan lainnya yang melibatkan BKAD maupun tim-tim di PNPM.

“Saya tidak pernah melihat mereka jalan bersama, cuma di rapat TKPKD saja mereka koar-koar koordinasi, namun keluar dari ruang rapat mereka beraksi sendiri karena rambu-rambu tiap program berbeda. LKM-nya PPIP lain, LKM-nya Pamsimas juga lain padahal di satu desa,” terang Bappeda Kabupaten Donggala.

Menurut para informan, kelebihan dari program PNPM dibanding program pembangunan lainnya adalah karena para pelaku sering mendapat pelatihan sehingga hasilnya lebih bagus dan juga masyarakat dilibatkan dalam pengerjaan kegiatan baik dalam proses perencanaan, pelaksanaan maupun pengawasannya.

Di Kecamatan Pantai Elok, keterlibatan camat, sekretaris camat dan PjoK lebih banyak berinteraksi dengan BKAD dan UPK terkait koordinasi dalam upaya mensosialisasikan program-program PNPM ke masyarakat dan pelaporan administrasi UPK. Selain itu pemerintah kecamatan juga terlibat dalam monitoring kegiatan di desa. Keterlibatan BKAD dan tim-tim di PNPM Mandiri Perdesaan baik di tingkat kecamatan dan desa dengan pemerintah kecamatan dan desa adalah dalam proses musrenbang di tingkat desa dan kecamatan dikarenakan adanya program PNPM Integrasi di Kecamatan Pantai Elok. Dalam tataran kelembagaan hanya BKAD dan UPK yang telah memiliki forum atau asosiasi. BKAD dengan forum BKAD tingkat kabupaten dan UPK dengan forum atau asosiasi UPK namun belum terdapat asosiasi untuk BP UPK. Namun demikian BKAD Kecamatan Pantai Elok dinilai oleh fasilitator di tingkat kabupaten tidak terlalu aktif dalam kegiatan forum BKAD, hal ini juga dibuktikan dengan tidak diketahuinya tentang draf rancangan Perda BKAD di tingkat kabupaten oleh BKAD Kecamatan Pantai Elok yang diusulkan oleh Forum BKAD.

Interaksi di tingkat desa

Di tingkatan desa, khususnya di Desa Berbakti, hubungan antara program-program pembangunan di luar PNPM Mandiri Perdesaan hanya terjalin dengan P2SPP yang melibatkan fasilitator yang sama. Mulai tahun 2013 pelaksana program P2SPP adalah LPMD, sedangkan TPK di Desa Berbakti sudah dibentuk.

Untuk itu dalam prosesnya terjadi alih kelola dari ketua TPK kepada ketua LPMD dengan dilakukan kompromi akibat pengalihan tersebut yaitu ketua TPK yang digantikan oleh Ketua LPMD ditunjuk sebagai KPMD teknik yang pada awalnya dipegang oleh ketua LPMD, namun tetap mempertahankan bendahara dan sekretaris TPK untuk membantuk ketua LPMD.

Kepengurusan LPM yang dipilih melalui proses pengajuan calon dari tiap dusun sebanyak tiga calon telah menghasilkan tujuh orang sebagai pengurus inti LPM (ketua, bendahara, sekretaris dan seksi- seksi) lainnya sebagai anggota LPM. Tugas dari LPMD antara lain merancang Perdes, ikut ‘ngopyak- opyak’ (mengingatkan) Pemdes untuk pembuatan Perdes, meneruskan program-program pemerintah ke masyarakat dan membantu Pemdes untuk hal tersebut, pengawasan pembangunan yang dilakukan oleh kontraktor dari dinas. Dengan diterapkannya LPM sebagai pelaksanan kegiatan P2SPP maka tugas LPMD menjadi lebih tampak nyata selain hanya mengawasi pekerjaan dari kontraktor dan dinas saja. Desa Berbakti menolak untuk mendapatkan program Pamsimas karena desa dituntut harus menyediakan swadaya di awal sebelum program masuk sebesar Rp11 juta. Pada tahun 2010, Desa Berbakti pernah mendapatkan bantuan PPIP untuk pembangunan jembatan dan jalan. PPIP ini dikelola oleh Organisasi Masyarakat Salam (OMS) dan tidak melibatkan TPK maupun KPMD yang dibentuk pada tahun tersebut. Sinergi yang dilakukan oleh pemerintah desa agar tidak terjadi tumpang tindih dalam pembangunan di desanya maka dibahas dalam musrenbangdes dan dituangkan dalam RPJMDes. Para pelaku yang terlibat dalam PPIP dipilih orang-orang yang dulu juga pernah terlibat dalam PNPM antara lain mantan KPMD dan kepala dusun. Ia dipilih dengan pertimbangan sebagai mantan pelaku PNPM dan sudah pengalaman dalam mengelola kegiatan serta dapat membagikan ilmu dan pengalamannya kepada para pelaku lain di desa sehingga terjadi proses yang berkelanjutan.

Dalam kaitannya dengan pelaksanaan program PNPM Mandiri Perdesaan dan PNPM Integrasi (P2SPP) di Desa Berbakti maka peran serta pemerintah desa adalah kunci utamanya karena kepala desa melakukan koordinasi di tingkat desa. Pemerintah desa bertanggung jawab untuk mengundang warga dalam setiap musyawarah serta memimpin rapat, dan melibatkan warga dalam kegiatan PNPM. Kepala desa juga berfungsi dalam mengontrol dan mengawasi pelaksanaan PNPM di desanya. Keterlibatan pemerintah desa dalam pelaksanaan PNPM tampak nyata dibanding dengan program pemerintah regular lainnya yaitu dalam hal pengawasan dan penanganannya. PNPM memiliki pengawasan ketat baik dari sisi administrasi maupun dalam hal pelaksana yang dilakukan oleh TPK, sedangkan program pembangunan dari pemda sering kali tidak diketahui oleh pemerintah desa kapan dan dimana program tersebut akan dilaksanakan. “Masuk gak bilang, pulang gak pamitan,” ungkap Kepala Desa Berbakti. Meskipun dimungkinkan bahwa program yang masuk di desa adalah hasil dari usulan di musrenbangdes namun pemerintah desa tidak mengetahui mana dari usulan yang diajukan melalui musrenbang yang akhirnya terealisasi dilaksanakan di tingkat desa.

Desa Berbakti juga menerima dana PUAP dengan keharusan untuk membentuk Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani), seperti halnya pembentukan OMS maka kepala desa memilih mantan pelaku di PNPM untuk terlibat sebagai sekretaris gapoktan tingkat desa. Pemilihan ini dilakukan atas dasar pengalaman dari orang tersebut yang telah terlibat dalam program PNPM yang memberikan banyak pengalaman dan ilmu dalam bidang administrasi dan pengelolaan kegiatan.

Desa Berbakti sendiri memiliki Alokasi Dana Desa (ADD) yang pada tahun 2013 sebesar Rp101 juta sedangkan pada tahun-tahun sebelumnya berkisar antara Rp70 juta hingga Rp80 juta. Dengan perbandingan penggunaan dana 30 persen untuk belanja aparatur dan operasional pemerintah desa dan 70

persen untuk pemberdayaan masyarakat maka besarnya pembiayaan untuk pembangunan fisik perbaikan

prasarana dan sarana publik hanya berkisar antara Rp4–Rp5 juta per tahunnya. Biaya tersebut umumnya

hanya untuk perbaikan gedung kantor desa dan pembanguan fisik yang kecil saja. Belum ada alokasi

yang dapat menyentuh langsung rumah tangga miskin.

Perbedaan antara ADD dengan PNPM antara lain bahwa penggunaan dana PNPM harus melalui

pembentukan kepengurusan yaitu TPK untuk pembangunan fisik dengan melibatkan tender, sedangkan

untuk penanggung jawab ADD adalah kepala desa yang diberi wewenang untuk mengolah anggaran sesuai dengan yang diusulkan pada anggaran desa. Penetapan ADD melalui musyawarah desa yang melibatkan aparat desa namun terbatas hanya pada BPD, LPM dan wakil dari dusun yaitu RT, RW dan warga yang diwakili oleh BPD.

“ADD yang melengkapi kebutuhan kecil-kecil dan bukan sebaliknya PNPM yang melengkapi ADD,” kata Kepala Desa Berbakti.

Meskipun PNPM diakui sebagai program yang jelas kelihatan wujudnya dan melibatkan langsung masyarakat serta pelaksanaannya teratur, sayangnya insetif yang diberikan kepada tim-tim yang ada di PNPM dianggap masih kecil yaitu untuk KPMD sebesar Rp100 ribu per bulan. Untuk itu ADD membantu memberi tambahan insentif sebesar Rp35.000 per bulan.

Dengan minimnya ADD untuk program pemberdayaan masyarakat maka desa tidak memiliki anggaran untuk ‘meniru’ proses PNPM melalui beberapa tahapan musyawarah desa yang membutuhkan anggaran untuk menghadirkan warga. Dengan ADD untuk pembangunan tugu desa yang memakan biaya sebesar Rp6 juta, kepala desa cukup mengumpulkan tokoh masyarakat, termasuk kepala dusun dan RT, kemudian menyampaikan ide pembangunan tugu, selanjutnya mendapat persetujuan dan kemudian tugu bisa dibangun, lalu dilaporkan kembali dalam musyawarah ketika pekerjaan telah selesai.

Interaksi dengan pihak non-pemerintah

Baik Kecamatan Pantai Elok maupun Desa Berbakti tidak memiliki kemitraan dengan pihak di luar pemerintah, baik dengan pihak swasta maupun pihak perbankan. Hubungan dengan bank (yaitu Bank BRI) hanya sebatas dalam pengelolaan dana BLM dan DOK program.

Dalam dokumen LAMPIRAN STUDI KELOMPOK MASYARAKAT PNPM (Halaman 54-57)