• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kesimpulan dan Rekomendasi

Dalam dokumen LAMPIRAN STUDI KELOMPOK MASYARAKAT PNPM (Halaman 38-43)

Kelembagaan PNPM di Ringinan relatif memiliki kinerja baik dalam melaksanakan aturan (PTO) proyek. Pandangan bahwa PNPM merupakan program favorit karena besarnya dana, tingginya kepastian dan keleluasaan pengelolaan oleh masyarakat membuat kelembagaan di tingkat kecamatan dan desa memberikan perhatian penuh untuk melaksanakan PNPM secara benar (high level of compliance). Tingginya tingkat pengembalian dan rapinya pelaporan menjadi prestasi yang dibanggakan, tanpa melihat apakah proses tersebut transparan, akuntabel dan partisipatif. Mekanisme kontrol berjalan

secara artifisial, melapor pada diri sendiri karena para pelaku di BKAD adalah para kepala desa yang

melapor kepada MAD yang juga dihadiri oleh mereka sendiri sebagai perwakilan desa.

Sisi positif dari kelembagaan PNPM di Ringinan, baik itu di tingkat kecamatan maupun desa, adalah kekompakan dan relasi yang baik antara pelaku PNPM dengan perangkat pemerintahan, dan antara pemerintahan kecamatan dan desa. Sejak awal PPK, program ini hampir tidak menimbulkan resistansi dengan kepala desa, karena memang telah melibatkan elit dan perangkat desa dalam proses perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. Jika di tingkat BKAD kepala desa dilibatkan sebagai pengurus dan anggota, maka di tingkat TPK keterlibatan perangkat desa juga cukup besar.

UPK di Ringinan merupakan lembaga yang cukup dominan, terutama Ketua UPK yang sudah terlibat sejak PPK pertama tahun 2001. Walaupun pada awalnya UPK resisten terhadap pembentukan BKAD, namun dalam perjalanannya secara personal UPK mampu menguasai BKAD. Dominasi UPK diperkuat dengan besarnya aset yang dikelola, mencapai Rp5 miliar, menjadi sesuatu hal yang tidak biasa di Ringinan. Bandingkan dengan ADD yang jumlahnya Rp25–Rp30 juta per tahun, dan dana pembangunan kecamatan yang besarnya sekitar Rp200–Rp400 juta per tahun. UPK kemudian merasa sebagai mesin uang bagi BKAD, namun UPK juga menjadi kebanggaan pelaku PNPM dan aparat pemerintah di tingkat kecamatan dan desa sebagai BCA-nya Ringinan.

Melihat tingginya dominasi UPK dan kuatnya pengaruh elit di Ringinan, potensi keberlanjutan kelembagaan BKAD dan UPK cukup tinggi. Namun jika sudah tidak terikat pada PTO proyek, kemungkinan besar UPK akan mengambil peran faktual sebagai pengambil keputusan, walaupun secara formal keberadaan BKAD dan MAD akan tetap dipertahankan. Fungsi BPUPK sendiri saat ini pun kurang terlihat karena orang-orang yang dipilih relatif dekat dengan elit dan memiliki kepentingan dengan para elit dan perangkat pemerintahan.

Potensi keberlanjutan kelembagaan PNPM di Ringinan perlu difokuskan di tingkat kecamatan untuk memastikan agar mekanisme kontrol bisa berjalan. Kalaupun mekanisme kontrol secara internal di dalam BKAD, BPUPK dan UPK tidak berjalan efektif, tetapi masih ada MAD yang melibatkan kepentingan antardesa serta ada perangkat kecamatan yang bisa memetakan perbedaan kepentingan dalam lingkup yang lebih luas. Upaya untuk menguatkan kelembagaan PNPM di tingkat desa saja bisa berbahaya karena mekanisme kontrol di tingkat desa tidak berjalan. Tidak ada penerapan nilai dan prinsip PNPM di tingkat desa, baik dalam ADD (kecil kemungkinan karena sisa dana untuk pembangunan Rp9 juta) maupun program lain yang dijalankan sebagai business as usual.

Camat Ringinan cukup progresif dalam upaya menerapkan beberapa prinsip PNPM dalam pengelolaan dana kecamatan. Tahun 2012, bantuan bupati untuk kecamatan dihentikan karena dianggap tidak efektif. Lalu ada gagasan dari camat ini untuk menerapkan prinsip kompetisi dan MAD seperti dalam PNPM

dalam pengelolaan dana bantuan bupati tersebut. Bupati Klaten merespon baik gagasan tersebut, walaupun camat-camat lain masih enggan mengikuti cara yang sama untuk mengelola dana ini. Tahun 2013 mekanisme musyawarah antar desa dan kompetisi tersebut mulai diuji coba secara bertahap. “Sementara belum ada namanya, tapi kira-kira mekanisme seperti MAD,” camat menjelaskan. Di tahun pertama (2013) turun dana Rp1,6 miliar ke kecamatan yang harus dikompetisikan oleh desa—tidak lagi dibagi rata. Mekanisme “MAD” dipergunakan untuk sosialisasi mekanisme baru dan musyawarah kesepakatan. Indikator utama dalam memutuskan kegiatan yang didanai adalah persentase capaian pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan per desa dan usulan kegiatan yang mengadopsi format proposal dan RAB dari PNPM.

Tahun ini persentase capaian pembayaran PBB tahun 2011 dijadikan indikator utama membagi pagu dana per desa. Perhitungan PBB bukan tanpa alasan. Selama ini ada keengganan membayar PBB disebabkan dua alasan, yaitu ketidakjelasan manfaat PBB yang dibayarkan dan banyaknya tanah/bangunan yang dimiliki orang luar sehingga sulit ditagih. Dalam MAD diumumkan oleh camat capaian masing-masing desa dan disepakati pagu dana per desa berdasarkan persentase PBB yang dikumpulkan. Ini memacu desa untuk mengumpulkan PBB. Setelah pagu dana diketahui, setiap desa diminta membuat proposal

kegiatan dan RAB sesuai pagu dana tersebut. Proposal tersebut diverifikasi oleh tim yang dibentuk oleh camat—sementara ini terdiri atas sekretaris camat, para kepala seksi dan staf kecamatan. Verifikasi tersebut antara lain menilai sasaran dan manfaat kegiatan yang diajukan. Jika ada indikasi kegiatan fiktif

atau tidak memenuhi syarat, camat berhak mencoret usulan. Namun, karena ini dana pemerintah daerah sendiri, camat mengambil kebijakan untuk tidak mencoret desa, tetapi meminta desa untuk mengalihkan kegiatan yang dinilai kurang bermanfaat ke kegiatan lain. Keputusan tersebut dibahas dalam MAD. Setelah ada keputusan, setiap desa diminta membuat kelengkapan administrasi pencairan dan surat pernyataan kesanggupan melaksanakan kegiatan, seperti dalam PNPM. Pelaporan kegiatan pun harus dilengkapi dengan kuitansi dan laporan seperti dalam PNPM.

“Penerapan mekanisme PNPM secara total perlu dilakukan bertahap karena SDM kecamatan dan desa masih belum secanggih BKAD, UPK dan TPK. Akan tetapi upaya ini juga dimaksudkan untuk meningkatkan kapasitas perangkat dan staf kecamatan dan desa. Ke depan ingin juga diupayakan agar dana-dana aspirasi dari DPRD juga dapat dimasukkan dalam pagu dana kecamatan tersebut.”

Camat melihat fasilitator atau pendamping masih sangat dibutuhkan untuk memperkuat kapasitas SDM perangkat kecamatan dan desa. Ia berencana akan memberdayakan setrawan untuk menjadi fasilitator. “Masalahnya terletak di SDM. Harusnya ada pendampingan untuk perangkat desa seperti halnya di PNPM. Kalau tidak ada yang mengawal, perangkat desa akan kacau,” kata camat. Saat ini masih sulit meminta perangkat desa membuat APBDes. Dengan adanya mekanisme yang baru, desa akan terdorong untuk membuat perencanaan pembangunan yang benar.

SITE REPORT 2

KECAMATAN PANTAI ELOK

KABUPATEN DONGGALA

PROVINSI SULAWESI UTARA

KASUS: PNPM PERDESAAN

Dalam dokumen LAMPIRAN STUDI KELOMPOK MASYARAKAT PNPM (Halaman 38-43)