• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor-Faktor yang Mempenga- cara hidup yang benar: bekerja,

JASMANI DAN PERILAKU HIDUP SEHAT PADA CALON PERWIRA POLISI

4. Faktor-Faktor yang Mempenga- cara hidup yang benar: bekerja,

ruhi Kesehatan beristirahat, berekreasi, dan

menik-Ada tiga faktor yang mempenga- mati hiburan pada waktunya, (5) ruhi kesehatan seseorang, yaitu: menambah pengetahuan: sekolah, 1) Penyebab penyakit, dapat digo- membaca buku, dan pengalaman longkan menjadi dua yaitu h id up d i m as ya ra kat, dan (6) patuh (1) Golongan endogen (datang dari pada ajaran agama.

dalam tubuh), misalnya: habitus 3) Lingkungan hidup

asthenicus (perawakan), penyakit tu- Tidak dapat dibantah lagi jika runan, dan faktor usia dan (2) go- lingkungan hidup juga berengaruh longan eksogen (datang dari luar terhadap kesehatan manusia, adapun tubuh), misalnya: Yang nyata dan faktor tersebut antara lain adalah: 1) hidup: bibit penyakit (jamur, virus, Lingkungan biologik, 2) Lingkungan bakteri, protozoa, cacing dan sebag- fisik, 3) Lingkungan ekonomi, 4) ainya); Yang nyata tak hidup: zat Lingkungan mental sosial.

kimia, trauma, makanan; Yang

ab-strak: bidang ekonomi (kemiskinan), 5. Identifikasi Kesehatan dalam

sosial (sifat sosial dan anti sosial), Perspektif Sehat Pribadi

dan mental (rasa cemas, takut, dan 1) Tanda-tanda badan yang sehat,

lain-lain). antara lain:

2) Manusia sebagai tuan rumah a) Badan tegap.

Bila seseorang dikenai suatu b) Sikap yang baik (sikap duduk, penyebab penyakit atau ditulari bibit sikap berdiri, sikap berjalan, si-penyakit, belum tentu jatuh sakit, kap dalam pergaulan).

aspek lainnya. 1) Kesehatan mental adalah terhin-Selera hidupnya manusia harus darnya orang dari gejala-gejala melatih jasmani/fisik dan rokhaninya gangguan jiwa (neurose) dan gejala-untuk mendapat kemajuan. Seseo- gejala penyakit jiwa (psychose). rang harus mengetahui batas tena- 2) Kesehatan mental adalah ke-ganya, baik di dalam melatih diri mampuan seseorang untuk me-maupun dalam bekerja sehari-hari. nyesuaikan diri dengan diri sendiri, Faktor-faktor yang dipengaruhi oleh dengan orang lain dan masyarakat kebiasaan harus mendapat perhatian, serta lingkungan di mana ia hidup. karena kebiasaan sangat memegang 3) Kesehatan mental adalah penge-peranan dalam kehidupan manusia. tahuan dan perbuatan yang ber-Kebiasaan sangat mempengaruhi tujuan untuk mengembangkan dan fisik dan mental seseorang. memanfaatkan segala potensi, bakat Misalnya kebiasaan makan dan dan pembawaan yang ada semak-minum yang tidak memenuhi syarat- simal mungkin, sehingga membawa syarat kesehatan, kebiasaan mandi di kebahagiaan kepada dirinya dan sungai yang airnya kotor, kebiasaan orang lain, serta terhindar dari membuang kotoran. di sembarang gangguan-gangguan dan penyakit tempat, kebiasaan berpakaian dua jiwa.

tiga hari baru berganti pakaian, 4) Terwujudnya keharmornisan kebiasaan tidur sampai larut malam yang sungguh-sungguh antara dan lain-lain kebiasaan yang tidak fungsi jiwa, serta mempunyai ke-sesuai dengan syarat-syarat ilmu sanggupan untuk menghadapi pro-kesehatan akan sangat berpengaruh blema-problema biasa yang terjadi, negatif terhadap kehidupan manusia. dan merasakan secara positif

keba-hagiaan dan kemampuan dirinya.

3. Kesehatan Rohani (Mental 5) Mempunyai pandangan sehat.

Health) terhadap kenyataan hidup (diri-Kesehatan rohani termasuk salah nya dan sekitarnya), mempunyai satu faktor yang sangat penting kecakapan menyesuaikan diri pada dalam kesehatan pribadi, Bahkan segala kemungkinan dan mampu merupakan unsur yang sangat me- mengatasi persoalan-persoalan yang nentukan dari faktor-faktor yang lain. dihadapi. Mencapai kepuasan prib-Para ahli dalam kesehatan mental adi, ketenangan hidup tanpa meru-rohani memberikan kriteria tentang gikan kepada orang lain.

keadaan mental yang sehat kepada Dari batasan-batasaan tersebut di seseorang sebagai berikut: atas kita dapat menngambil

kesim-pulan bahwa kebahagiaan hidup itu karena masih ada beberapa hal yang tidak hanya milik orang-orang yang memungkinkan seseorang jatuh tertentu saja melainkan milik setiap sakit. Salah satunya adalah daya orang yang bisa menyesuaikan diri tahan tubuh. Daya tahan tubuh yang dengan keadaan yang nyata, tergan- tinggi dapat menghindarkan manusia tung bagaimana cara menghadapi dari berbagai jenis penyakit. Daya masalah-masalah dan cara peme- tahan tubuh dapat dipertinggi dengan cahannya, Sebaliknya keadaan yang (1) makanan yang sehat, cukup tidak menyenangkan itu tidak terba- kualitas maupun kuantitasnya, (2) tas kepada orang tertentu saja tetapi vaksinasi untuk mencegah penyakit juga tergantung bagaimana cara infeksi tertentu, (3) pemeliharaan menghadapi suatu persoalan. pembinaan kesempatan jasmani dengan olahraga secara teratur, (4)

4. Faktor-Faktor yang Mempenga- cara hidup yang benar: bekerja,

ruhi Kesehatan beristirahat, berekreasi, dan

menik-Ada tiga faktor yang mempenga- mati hiburan pada waktunya, (5) ruhi kesehatan seseorang, yaitu: menambah pengetahuan: sekolah, 1) Penyebab penyakit, dapat digo- membaca buku, dan pengalaman longkan menjadi dua yaitu h id up d i m as ya ra kat, dan (6) patuh (1) Golongan endogen (datang dari pada ajaran agama.

dalam tubuh), misalnya: habitus 3) Lingkungan hidup

asthenicus (perawakan), penyakit tu- Tidak dapat dibantah lagi jika runan, dan faktor usia dan (2) go- lingkungan hidup juga berengaruh longan eksogen (datang dari luar terhadap kesehatan manusia, adapun tubuh), misalnya: Yang nyata dan faktor tersebut antara lain adalah: 1) hidup: bibit penyakit (jamur, virus, Lingkungan biologik, 2) Lingkungan bakteri, protozoa, cacing dan sebag- fisik, 3) Lingkungan ekonomi, 4) ainya); Yang nyata tak hidup: zat Lingkungan mental sosial.

kimia, trauma, makanan; Yang

ab-strak: bidang ekonomi (kemiskinan), 5. Identifikasi Kesehatan dalam

sosial (sifat sosial dan anti sosial), Perspektif Sehat Pribadi

dan mental (rasa cemas, takut, dan 1) Tanda-tanda badan yang sehat,

lain-lain). antara lain:

2) Manusia sebagai tuan rumah a) Badan tegap.

Bila seseorang dikenai suatu b) Sikap yang baik (sikap duduk, penyebab penyakit atau ditulari bibit sikap berdiri, sikap berjalan, si-penyakit, belum tentu jatuh sakit, kap dalam pergaulan).

c) Dapat tidur nyenyak. bagi kesehatan. Permukaan tubuh d) Dapat menjalankan pekerjaan yang kotor, lembab, sehingga

meru-dengan baik. pakan yang cocok bagi kehidupan e) Dalam lingkungan keluarga: berbagai bibit penyakit. Bagian

tu-tenang, gembira, muka berseri buh yang terserang penyakit, misal-(terdapat keharmonisan). nya:

f) Dapat mengendalikan emosi. a) Kulit: (1) Bau badan yang tidak 2) Usaha yang dapat dilakukan agar sedap, dan (2) Timbulnya

penya-badan tetap sehat kit kulit (kadas, kurap, kudis, panu, Agar dapat diperoleh badan yang bisul, kusta, patek, borok dan lain-sehat, maka perlu dilakukan usaha- lain).

usaha, antara lain: b) Kuku: (1) Menjadi tempat bibit a) Pemeriksaan badan lengkap. penyakit, terutama penyakit alat b) Pemeriksaan badan secara perio- pencernaan seperti: cholera, disentri,

dik. thypus, dan diare. (2) Menjadi tempat

c) Makanan sehat dan cukup, baik telur-telur cacing.

kualitas maupun kuantitas. c) Mata: (1) Conjunctivitis, (2) d) Perumahan dan perlindungan Trachoom.

yang baik. d) Gigi dan mulut: (1) Gigi ber-e) Olahraga yang teratur. lubang, (2) Penyakit gusi.

f) Cukup rekreasi.

g) Berusaha mendapatkan sikap dan E. PENUTUP

kebiasaan hidup sehat. 1. Simpulan

h) Cukup santapan rohani. Dari hasil kajian analisis kon-3) Dampak dari ketidak bersihan septual yang dilakukan oleh penulis,

diri maka dapat diberikan beberapa

Ketidak bersihan diri seseorang kesimpulan sebagai berikut:

dapat disebabkan oleh beberapa hal: 1) Aktivitas belajar gerak yakni ke-tubuh jarang dibersihkan, atau giatan fisik yang memiliki tujuan bahkan tidak pernah dibersihkan, spesifik, menghasilkan perubahan tubuh dibersihkan, tetapi tidak sesuai dan kemampuan keterampilan se-dengan cara-cara yang benar, dan seorang sebagai akibat dari kom-tubuh dibersihkan dengan cara yang binasi anggota badan atau tubuh. benar, tetapi mempergunakan air/alat 2) Cakupan kemampuan gerak

yang kotor. meliputi: respon gerak (motor

Adapun akibat dari ketidak ber- response), pola gerak (motor

pat-sihan tubuh, akan berakibat buruk tern), dan keterampilan gerak (motor

skill). uraian dan kajian mendalam terkait

3) Kebugaran jasmani adalah kua- dengan kemampuan gerak, kebu-litas seseorang untuk melakukan garan jasmani, dan perlaku hidup aktivitas sesuai pekerjaannya secara sehat, seorang taruna sebagai calon optimal tanpa menimbulkan problem perwira polisi hendaknya:

kesehatan dan kelelahan berlebihan. 1) Aktivitas fisik dapat dilakukan 4) Dalam kebugaran jasmani ter- dimana saja, dengan

memperha-dapat komponen yang dibagi tikan lingkungan yang mana dan nya-dalam dua kelompok yaitu: (1) man, bebas polusi, tidak

menimbul-Health related fitness (kebugaran kan cedera, misalnya: dirumah, tem-jasmani yang berhubungan dengan pat kerja, dan dilapangan.

kesehatan); diartikan sebagai ke- 2) Pilih olahraga yang digemari, mampuan jantung, paru, otot, dan aman, mudah, dan murah. Se-persendian untuk bekerja dengan baiknya gunakan pakaian dan sepatu optimal. (2) Skill related fitness olahraga yang sesuai dan nyaman. (kebugaran jasmani yang berhu- Olahraga hendaknya dilakukan seca-bungan dengan keterampilan); dia- ra bervariasi, berganti-ganti jenisnya rtikan sebagai keahlian-keahlian supaya tidak monoton. Dilakukan yang menunjang performance sese- secara bertahap dimulai dari pema-orang dalam olah raga dan aktivitas nasan 5 - 10 menit, diikuti dengan fisik lain. latihan inti minimal 20 menit dan 5) Faktor penting yang mempenga- diakhiri dengan pendinginan selama

ruhi kebugaran jasmani antara 5 - 10 menit.

lain: hereditas, latihan, jenis kela- 3) Jangan lakukan olahraga setelah min, usia, lemak tubuh, dan aktivitas makan kenyang, sebaiknya

tung-fisik. gu sampai 2 jam, dan minum

mi-6) Kesehatan adalah keadaan yang numan yang sejuk dan sedikit manis meliputi kesehatan fisik, mental (manis jambu).

dan sosial, dan bukan hanya keadaan 4) Tiap-tiap kerja jasmani maupun yang bebas dari penyakit, cacat dan kerja rohani harus diimbangi de-kelemahan. ngan istirahat yang cukup dan rek-7) Kesehatan rohani adalah terhin- reasi.

darnya orang dari gejala-gejala 5) Makanlah makanan yang cukup gangguan jiwa (neurose) dan gejala- mengandung gizi.

gejala penyakit jiwa (psychose). 6) Selekas mungkin mendapatkan

2. Saran penyelesaian bila ada persoalan

c) Dapat tidur nyenyak. bagi kesehatan. Permukaan tubuh d) Dapat menjalankan pekerjaan yang kotor, lembab, sehingga

meru-dengan baik. pakan yang cocok bagi kehidupan e) Dalam lingkungan keluarga: berbagai bibit penyakit. Bagian

tu-tenang, gembira, muka berseri buh yang terserang penyakit, misal-(terdapat keharmonisan). nya:

f) Dapat mengendalikan emosi. a) Kulit: (1) Bau badan yang tidak 2) Usaha yang dapat dilakukan agar sedap, dan (2) Timbulnya

penya-badan tetap sehat kit kulit (kadas, kurap, kudis, panu, Agar dapat diperoleh badan yang bisul, kusta, patek, borok dan lain-sehat, maka perlu dilakukan usaha- lain).

usaha, antara lain: b) Kuku: (1) Menjadi tempat bibit a) Pemeriksaan badan lengkap. penyakit, terutama penyakit alat b) Pemeriksaan badan secara perio- pencernaan seperti: cholera, disentri,

dik. thypus, dan diare. (2) Menjadi tempat

c) Makanan sehat dan cukup, baik telur-telur cacing.

kualitas maupun kuantitas. c) Mata: (1) Conjunctivitis, (2) d) Perumahan dan perlindungan Trachoom.

yang baik. d) Gigi dan mulut: (1) Gigi ber-e) Olahraga yang teratur. lubang, (2) Penyakit gusi.

f) Cukup rekreasi.

g) Berusaha mendapatkan sikap dan E. PENUTUP

kebiasaan hidup sehat. 1. Simpulan

h) Cukup santapan rohani. Dari hasil kajian analisis kon-3) Dampak dari ketidak bersihan septual yang dilakukan oleh penulis,

diri maka dapat diberikan beberapa

Ketidak bersihan diri seseorang kesimpulan sebagai berikut:

dapat disebabkan oleh beberapa hal: 1) Aktivitas belajar gerak yakni ke-tubuh jarang dibersihkan, atau giatan fisik yang memiliki tujuan bahkan tidak pernah dibersihkan, spesifik, menghasilkan perubahan tubuh dibersihkan, tetapi tidak sesuai dan kemampuan keterampilan se-dengan cara-cara yang benar, dan seorang sebagai akibat dari kom-tubuh dibersihkan dengan cara yang binasi anggota badan atau tubuh. benar, tetapi mempergunakan air/alat 2) Cakupan kemampuan gerak

yang kotor. meliputi: respon gerak (motor

Adapun akibat dari ketidak ber- response), pola gerak (motor

pat-sihan tubuh, akan berakibat buruk tern), dan keterampilan gerak (motor

skill). uraian dan kajian mendalam terkait

3) Kebugaran jasmani adalah kua- dengan kemampuan gerak, kebu-litas seseorang untuk melakukan garan jasmani, dan perlaku hidup aktivitas sesuai pekerjaannya secara sehat, seorang taruna sebagai calon optimal tanpa menimbulkan problem perwira polisi hendaknya:

kesehatan dan kelelahan berlebihan. 1) Aktivitas fisik dapat dilakukan 4) Dalam kebugaran jasmani ter- dimana saja, dengan

memperha-dapat komponen yang dibagi tikan lingkungan yang mana dan nya-dalam dua kelompok yaitu: (1) man, bebas polusi, tidak

menimbul-Health related fitness (kebugaran kan cedera, misalnya: dirumah, tem-jasmani yang berhubungan dengan pat kerja, dan dilapangan.

kesehatan); diartikan sebagai ke- 2) Pilih olahraga yang digemari, mampuan jantung, paru, otot, dan aman, mudah, dan murah. Se-persendian untuk bekerja dengan baiknya gunakan pakaian dan sepatu optimal. (2) Skill related fitness olahraga yang sesuai dan nyaman. (kebugaran jasmani yang berhu- Olahraga hendaknya dilakukan seca-bungan dengan keterampilan); dia- ra bervariasi, berganti-ganti jenisnya rtikan sebagai keahlian-keahlian supaya tidak monoton. Dilakukan yang menunjang performance sese- secara bertahap dimulai dari pema-orang dalam olah raga dan aktivitas nasan 5 - 10 menit, diikuti dengan fisik lain. latihan inti minimal 20 menit dan 5) Faktor penting yang mempenga- diakhiri dengan pendinginan selama

ruhi kebugaran jasmani antara 5 - 10 menit.

lain: hereditas, latihan, jenis kela- 3) Jangan lakukan olahraga setelah min, usia, lemak tubuh, dan aktivitas makan kenyang, sebaiknya

tung-fisik. gu sampai 2 jam, dan minum

mi-6) Kesehatan adalah keadaan yang numan yang sejuk dan sedikit manis meliputi kesehatan fisik, mental (manis jambu).

dan sosial, dan bukan hanya keadaan 4) Tiap-tiap kerja jasmani maupun yang bebas dari penyakit, cacat dan kerja rohani harus diimbangi de-kelemahan. ngan istirahat yang cukup dan rek-7) Kesehatan rohani adalah terhin- reasi.

darnya orang dari gejala-gejala 5) Makanlah makanan yang cukup gangguan jiwa (neurose) dan gejala- mengandung gizi.

gejala penyakit jiwa (psychose). 6) Selekas mungkin mendapatkan

2. Saran penyelesaian bila ada persoalan

DAFTAR PUSTAKA

Adisapoetra, Iskandar Z. dkk. 1999. Kesegaran Jasmani untuk Karyawan, Tenaga Kerja dan Masyarakat. Seminar dan Widiakarya Nasional Olahraga dan Kesegaran Jasmani. Jakarta: Hotel Sahid Jaya.

Corbin, C.B., et al. 1997. Physical Fitness With Laboratories. USA: Times Minor Higher Education Group Inc.

Biro Humas dan Hukum Kemenegpora. 2007. Undang-undang Republik

Indonesia No. 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional.

Jakarta: Kemenegpora.

Cooper, Keeneth H.1983. The Aerobic Ways. New York: M Evans and Compa-ny Inc.

Dikeskom Depkes RI. 2002. Panduan Kesehatan Olahraga bagi Petugas

Kesehatan. Jakarta: Depkes RI.

Drowatzky, John N. 1981. Motor Learning: Principles and Practices. Minnea-polis: Burges Publishing Company.

Gabbard, C. LeBlanc, E. Lowy, S. 1987. Physical Education for Children. New Jersey : Prentice-Hall Inc.

Johnson, B. Nelson J. 1986. Practical Measurements for Evaluation in

Physi-cal Education. 4th ed. New York : Macmillan Publishing Company.

Karhiwikarta W. 1991. Melengkapi Fasilitas Perusahaan Untuk Memper-temukan Kebutuhan Karyawan. Dalam Seminar Bisnis dalam Fitness Indonesia, Jakarta PKO Menpora: 1-7.

Khatleen, L.K. Jonatan, K. (1992). Olahraga Sumber Kesehatan. Bandung: Advent.

Kusuma, Dede. 2002. Olahraga Bagi Kesehatan Jantung. Jakarta: FK UI. Leon, A. S. 1977. Physical Activity & Cardiovascular Health. Champaign:

Human Kinetic Publishing.

Magill, Richard A. 1984. Motor Learning: Concepts and Application. Madi-son Wisconsin: Brown and Benchmark Publishers.

Magill, Richard A. 1998. Motor Learning (Concept and Applications) Eight

Edition. Singapore: McGraw-Hill International Editions.

Manners, Hazel Kathleen. Carroll, Margaret E. 1995. A Framework for

Physical Education in the Early Years. London: The Falmer Press.

Meredith, C. Exercise and fitness. 1996. In: Rickert V, editor. Adolescent

Nutrition Assesment and Management. New York: Chapman & Hall.

Mutohir, Toho Cholik. Maksum, Ali. 2007. Sport Development Index (Konsep,

Metodologi, dan Aplikasi). Jakarta: PT. Indeks.

Nieman D. 2001. The exercise test as a component of the total fitness evalua-tion. Primary Care Clinics in Office Practice: 28 :1-13.

Pate, R. Mc. Clenaghan B. Rotella, R. 1984. Scientific Foundation of

Coa-ching. Philadelphia: Saunders College Publishing.

Sharkey, B.J. 2003. Fitness And Health. Alih bahasa Kebugaran dan Kesehatan oleh: Eri Desmarini Nasution. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Sherrill. 1998. Adapted Physical Activity, Recreation and Sport. 5th Ed. Bos-ton: WBC McGraw-Hill.

Simon, Rochdi. 2006. Perbandingan Tingkat Kebugaran Jasmani

Berdasar-kan VO2mak antara Anak Tunagarahita Ringan dengan Anak Normal Tingkat Pendidikan SLTP. Bandung: Prodi PGSD FIP UPI.

Sujiono, Bambang. dkk. 2008. Metode Pengembangan Fisik. Jakarta: Univer-sitas Terbuka.

Sugiyanto. 2012. Handout Matakuliah Belajar Gerak. Surakarta: PPs IOR UNS.

Sumintarsih. 2005. Kebugaran Jasmani Untuk Lanjut Usia. Jurnal Olahraga Edisi Agustus, Volume II.

Susetyo, Budi. 2011. Kesehatan Pribadi (Personal Hygiene) (Online), (http:// smagasmagetan.blogspot.com/2010/11/kesehatan-pribadi-personal hy-giene.html, diakses 28 Maret 2011).

DAFTAR PUSTAKA

Adisapoetra, Iskandar Z. dkk. 1999. Kesegaran Jasmani untuk Karyawan, Tenaga Kerja dan Masyarakat. Seminar dan Widiakarya Nasional Olahraga dan Kesegaran Jasmani. Jakarta: Hotel Sahid Jaya.

Corbin, C.B., et al. 1997. Physical Fitness With Laboratories. USA: Times Minor Higher Education Group Inc.

Biro Humas dan Hukum Kemenegpora. 2007. Undang-undang Republik

Indonesia No. 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional.

Jakarta: Kemenegpora.

Cooper, Keeneth H.1983. The Aerobic Ways. New York: M Evans and Compa-ny Inc.

Dikeskom Depkes RI. 2002. Panduan Kesehatan Olahraga bagi Petugas

Kesehatan. Jakarta: Depkes RI.

Drowatzky, John N. 1981. Motor Learning: Principles and Practices. Minnea-polis: Burges Publishing Company.

Gabbard, C. LeBlanc, E. Lowy, S. 1987. Physical Education for Children. New Jersey : Prentice-Hall Inc.

Johnson, B. Nelson J. 1986. Practical Measurements for Evaluation in

Physi-cal Education. 4th ed. New York : Macmillan Publishing Company.

Karhiwikarta W. 1991. Melengkapi Fasilitas Perusahaan Untuk Memper-temukan Kebutuhan Karyawan. Dalam Seminar Bisnis dalam Fitness Indonesia, Jakarta PKO Menpora: 1-7.

Khatleen, L.K. Jonatan, K. (1992). Olahraga Sumber Kesehatan. Bandung: Advent.

Kusuma, Dede. 2002. Olahraga Bagi Kesehatan Jantung. Jakarta: FK UI. Leon, A. S. 1977. Physical Activity & Cardiovascular Health. Champaign:

Human Kinetic Publishing.

Magill, Richard A. 1984. Motor Learning: Concepts and Application. Madi-son Wisconsin: Brown and Benchmark Publishers.

Magill, Richard A. 1998. Motor Learning (Concept and Applications) Eight

Edition. Singapore: McGraw-Hill International Editions.

Manners, Hazel Kathleen. Carroll, Margaret E. 1995. A Framework for

Physical Education in the Early Years. London: The Falmer Press.

Meredith, C. Exercise and fitness. 1996. In: Rickert V, editor. Adolescent

Nutrition Assesment and Management. New York: Chapman & Hall.

Mutohir, Toho Cholik. Maksum, Ali. 2007. Sport Development Index (Konsep,

Metodologi, dan Aplikasi). Jakarta: PT. Indeks.

Nieman D. 2001. The exercise test as a component of the total fitness evalua-tion. Primary Care Clinics in Office Practice: 28 :1-13.

Pate, R. Mc. Clenaghan B. Rotella, R. 1984. Scientific Foundation of

Coa-ching. Philadelphia: Saunders College Publishing.

Sharkey, B.J. 2003. Fitness And Health. Alih bahasa Kebugaran dan Kesehatan oleh: Eri Desmarini Nasution. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Sherrill. 1998. Adapted Physical Activity, Recreation and Sport. 5th Ed. Bos-ton: WBC McGraw-Hill.

Simon, Rochdi. 2006. Perbandingan Tingkat Kebugaran Jasmani

Berdasar-kan VO2mak antara Anak Tunagarahita Ringan dengan Anak Normal Tingkat Pendidikan SLTP. Bandung: Prodi PGSD FIP UPI.

Sujiono, Bambang. dkk. 2008. Metode Pengembangan Fisik. Jakarta: Univer-sitas Terbuka.

Sugiyanto. 2012. Handout Matakuliah Belajar Gerak. Surakarta: PPs IOR UNS.

Sumintarsih. 2005. Kebugaran Jasmani Untuk Lanjut Usia. Jurnal Olahraga Edisi Agustus, Volume II.

Susetyo, Budi. 2011. Kesehatan Pribadi (Personal Hygiene) (Online), (http:// smagasmagetan.blogspot.com/2010/11/kesehatan-pribadi-personal hy-giene.html, diakses 28 Maret 2011).

1. Artikel dikembangkan berdasarkan hasil kajian teoretis (artikel konseptual) dan/atau hasil penelitian (artikel penelitan) bidang ilmu yang relevan dengan kepolisian.

2. Artikel harus asli (bukan plagiat) dan belum pernah diterbitkan pada media lain yang dibuktikan dengan surat pernyataan yang ditandatangani oleh penulis.

3. Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar, diketik menggunakan program MS Word dengan ukuran huruf 12 Times New Roman, sepanjang 15-20 halaman kuarto (A4) 1, 5 spasi kecuai abstrak.

4. Artikel dikirimkan kepada redaksi dalam bentuk print out dan CD atau melalui Pos-el: [email protected].

5. Sistematika penulisan artikel penelitian mengacu pada ketentuan sebagai berikut: Judul artikel: singkat, jelas, dan menarik serta diketik menggunakan huruf kapital

Nama: ditulis tanpa menggunakan gelar akademik. Nama lengkap beserta gelar akademik dan alamat lembaga dituliskan pada foot note.

· Abstrak: menggambarkan isi artikel, disajikan dalam satu paragraf (antara 100-150 kata), diketik 1 spasi, menggunakan bahasa Indonsia dan bahasa Inggris.

· Kata kunci: kata yang menggambarkan pokok-pokok isi artikel, antara 3-7 kata, menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

· Pendahuluan: berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, dan tujuan penelitian. · Landasan Teoritis: berisi uraian singkat teori yang digunakan sesuai kata kunci.

· Metode Penelitian: berisi uraian singkat tentang metode penelitian, fokus/variabel, data dan sumber data, istrumen penelitian, tenik pengumpulan dan analisis data.

· Hasil Penelitian dan Pembahasan: berisi uraian hasil penelitian serta pembahasanya selaras dengan tujuan penelitian.

· Penutup: berisi simpulan hasil penelitian dan saran atau rekomendasi. · Daftar Pustaka: hanya berisi pustaka yang dikutip, ditulis secara alpabetis. 6. Sistematika artikel konseptual mengacu pada ketentuan sebagai berikut:

· Judul, nama penulis, abstrak, dan kata kunci mengacu pada ketentuan penulisan artikel penelitian.

· Pendahuluan: berisi latar belakang masalah dan topik yang dikaji.

· Bagian Isi: berisi uraian hasil kajian yang dikelompokkan dalam beberapa subjudul sesuai dengan kebutuhan.

· Penutup: berisi simpulan hasil kajian dan rekomendasi.

· Daftar Pustaka: hanya berisi pustaka yang dikutip, ditulis secara alpabetis.

7. Kutipan dipadukan dalam kalimat penulis kecuali bila panjangnya lebih dari 3 baris. Kutipan lebih dari tiga baris diketik1 spasi, diberi indensi 10 huruf, centered, dan tanpa tanda petik. Nama penulis yang dikutip ditulis dengan uturan: nama akhir, tahun penerbitan, dan halaman (bila perlu). Misalnya, (Supratman 2009), Radford 2005:213). Tidak ada koma (, ) antara penulis dan tahun penerbitan.

8. Daftar Pustaka ditulis berdasarkan abjad dengan urutan sebagai berikut: (1) nama akhir penulis, (2) koma, (3) nama depan penulis, (4) titik, (5) tahun penerbitan, (6) titik, (7) judul buku dicetak miring, (8) titik, (9) kota penerbitan, (10) titik dua/kolon, (11) nama penerbit,