• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.3 hs-CRP

2.3.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi kadar CRP

Telah banyak laporan bahwa pada beberapa populasi kadar CRP pada wanita lebih tinggi dibandingkan pada pria. Data dari Ausburg juga menunjukkan demikian bahwa kadar CRP pada wanita (2,9 mg/L) secara signifikan lebih tinggi dibandingkan pria (1,5 mg/L) dan kebalikannya ditemukan pada populasi di Jepang (Wang Z et al., 2005).

Dalam studi yang mengikutsertakan 88 pasien PPOK dan 33 kontrol merokok dan 38 kontrol tidak merokok, dengan hasil bahwa kadar CRP sekitar 20% lebih rendah pada pasien yang menggunakan dosis tinggi kortikosteroid inhalasi budesonid 800-1200 µg/hari, kadar CRP lebih tinggi pada pasien PPOK (rata-rata 1,51 mg/L) dibanding orang sehat baik merokok (1,04 mg/L) maupun tidak merokok (1,04 mg/L) (Pinto et al., 2006).

Tidak ada perbedaan kadar serum CRP, TNF-α atau IL-6 pada pasien PPOK yang sedang ataupun yang sudah berhenti menggunakan steroid inhalasi dengan dosis medium budesonide 400-800 µg/hari. Kadar CRP juga diketahui secara signifikan lebih tinggi pada pasien PPOK dengan IMT yang rendah (Karadag et al., 2008).

Di paru hs-CRP mempunyai fungsi proteksi sebagai respon imun alami melawan bakteri dan sel apoptosis. Peningkatan hs-CRP didapatkan juga pada perokok aktif, penurunan fungsi paru, dan PPOK stabil. Satu dari pertanda inflamasi sistemik yang secara konsisten terbukti sedikit meningkat pada pasien PPOK dibandingkan orang sehat adalah hs-CRP. Peningkatan kadar CRP merupakan prediktor kuat mortalitas PPOK (Halvani et al., 2007; Dahl et al., 2009).

Kadar CRP sirkulasi pada orang dewasa yang sehat sekitar 0,8 mg/l.

Konsentrasi CRP mulai meningkat sekitar 6 jam dan mencapai puncak sekitar 48 jam setelah stimulus awal dengan waktu paruh sekitar 19 jam. Kadar CRP sirkulasi lebih tinggi pada usia tua dan wanita. Kadar CRP menurun 1-2 minggu setelah infeksi atau inflamasi. Kenaikan sedikit pada CRP telah dilaporkan dalam berbagai kondisi dan menyatakan penyakit yang dianggap terkait dengan peradangan. Tapi ini dapat dicapai dengan meningkatkan sensitivitas untuk mendeteksi peningkatan sedikit karena disebabkan peradangan kecil.

High sensitive-C Reaktive Protein (hs-CRP) merupakan kadar CRP lebih rendah yang dapat di deteksi dengan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) atau chemiluminescent dan dapat mendeteksi kadar CRP sampai 0,1-0,4 mg/L (Pepys et al., 2003). Peningkatan kadar CRP spesifik, dan harus dilihat dengan evaluasi klinis lengkap.

2.3.5. Pemeriksaan Kadar hs-CRP dengan alat Architect a. Prinsip dan Metode Pemeriksaan

Imunoturbidimetri : Merupakan cara penentuan kuantitatif. CRP dalam serum akan mengikat antibodi spesifik terhadap CRP membentuk suatu kompleks imun. Kekeruhan (turbidity) yang terjadi sebagai akibat ikatan tersebut diukur secara fotometris. Konsentrasi dari CRP ditentukan secara kuantitatif dengan pengukuran turbidimetrik.

Gambar 2.8. Prinsip pemeriksaan hs-CRP dengan metode Immunoturbidimetri

b. Cara Pemeriksaan Imunoturbidimetri

Konsentrasi dari CRP ditentukan secara kuantitatif dimana dapat mengukur kadar sampai <0,2 mg/L sehingga disebut dengan high sensitivity C-Reaktive Protein (hs-CRP). Metode berdasarkan reaksi antara antigen dan antibodi dalam larutan buffer dan diikuti dengan pengukuran intensitas sinar dari suatu sumber cahaya yang diteruskan melalui proses imuno presipitasi yang terbentuk dalam fase cair.

Dalam penelitian ini memakai metode imunoturbidimetri menggunakan reagen anti-CRP polyclonal antibodies (rabbit) adsorbed on latex particles.

c. Prosedur Pemeriksaan hs-CRP

Sampel ditambah dengan R1 (buffer) kemudian ditambah R2 (latex antibodi anti CRP) dan dimulai reaksi dimana antibodi anti CRP yang berikatan dengan mikropartikel latex akan bereaksi dengan antigen dalam sampel untuk membentuk kompleks antigen antibodi (Ag-Ab).

Presipitasi dari kompleks Ag-Ab ini diukur secara turbidimetrik.

2.4. Kerangka Teori

Gambar 2.9. Kerangka Teori PPOK

PPOK

hs-CRP 25(OH) Vitamin D

Stres Oksidatif TNF-α, IL-6

Ketidakseimbangan protease-antiprotease

Non Infeksi Polusi udara/rokok Infeksi Bakteri,

Virus, Jamur, Parasit

Inflamasi Saluran Napas

ROS

Analisis

2.5. Kerangka Konsep

Nilai Faal Paru

25(OH)Vitamin D

hs-CRP

Variabel dependen

Variabel independen

Gambar 2.10. Kerangka Konsep

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1. Desain Penelitian

Penelitian ini bersifat analitik observasional, dengan rancangan penelitian potong lintang (cross-sectional).

3.2. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Departemen Patologi Klinik FK-USU/RSUP Haji Adam Malik Medan bekerja sama dengan Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FK USU/RSUP H. Adam Malik Medan (Poliklinik Rawat Jalan). Penelitian ini dimulai pada bulan Januari 2018 sampai dengan Juni 2018.

Penelitian akan dihentikan apabila jumlah sampel sudah terpenuhi atau sudah memenuhi batas waktu yang ditentukan.

3.3. Populasi dan Subjek Penelitian 3.3.1. Populasi Penelitian:

1. Populasi target : Penderita PPOK.

2. Populasi terjangkau : Penderita PPOK stabil yang berobat yang berobat ke poliklinik SMF Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FK USU/RSUP. H. Adam Malik Medan pada bulan Januari 2018 sampai dengan Maret 2018.

3.3.2. Subjek Penelitian :

Penderita PPOK yang berobat ke poliklinik SMF Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FK USU/RSUP. H. Adam Malik Medan bulan Januari 2018 sampai dengan Maret 2018 yang memenuhi kriteria inklusi.

3.4. Kriteria Inklusi dan Eksklusi 3.4.1. Kriteria Inklusi :

1. Penderita PPOK yang berobat ke poliklinik SMF Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FK USU/RSUP. H. Adam Malik Medan

2. Berusia >40 tahun

3. Bersedia ikut dalam penelitian dan menandatangani lembar persetujuan 3.4.2. Kriteria Eksklusi :

1. Penderita PPOK sedang dalam kondisi eksaserbasi akut

2. Penderita Asma, Sindroma Obstruksi Post TB, Tumor paru, Osteoartritis, Penyakit hati

3. Penderita PPOK dengan jumlah leukosit abnormal (<4.000/µL dan

>11.000//µL)

4. Penderita PPOK yang mengkonsumsi obat-obatan yang mempengaruhi kadar 25(OH) vitamin D total (obat-obatan antikonvulsan, obat-obatan anti HIV/AIDS)

5. Penderita yang sudah mendapat suplemen vitamin D

6. Penderita PPOK yang mengkonsumsi obat yang menurunkan kadar hs-CRP (statin, aspirin, Vit. C, Vit. E, antibiotik, steroid sistemik)

3.5. Ethical Clearance dan Informed Consent

Ethical Clearance diperoleh dari Komite Penelitian Bidang Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Informed Consent diminta secara tertulis dari subjek penelitian atau diwakili oleh keluarganya yang ikut bersedia dalam penelitian setelah mendapat penjelasan mengenai maksud dan tujuan penelitian.

3.6. Perkiraan Besar Sampel

Digunakan rumus besar sampel untuk uji korelasi . Besar sampel ditentukan dengan rumus:

dimana :

) 2 / 5 . 0 (

Z = deviat baku alpa. utk= 0,05 maka nilai baku normalnya 1,96 Z(0.5-β)= deviat baku beta. utk= 0,10 maka nilai baku normalnya 1,282 r = koef. korelasi = 0.83

Menurut rumus di atas maka diperlukan sampel minimal sebanyak 51 orang.

3.7. Definisi Operasional

eksaserbasi selama 2 bulan, tidak dalam

4. Kadar

1. Penelitian dilakukan di RSUP Haji Adam Malik Medan. Subjek penelitian dipilih secara sampling dan memenuhi kriteria inklusi.

2. Subjek penelitian diberikan penjelasan mengenai tujuan dan mamfaat mengenai penelitian ini serta subjek penelitian, mengisi surat persetujuan mengikuti penelitian atau inform consent.

3. Dilakukan pemeriksaan 25(OH) Vitamin D dan hs-CRP.

4. Sampel yang dibutuhkan untuk pemeriksaan tersebut adalah serum darah pasien yang digunakan untuk pemeriksaan 25(OH) Vitamin D dan hs-CRP.

5. Pengambilan sampel darah untuk mendapatkan serum dilakukan sebagai berikut:

 Pasanglah torniquet/pengebat pada lengan bagian atas pasien dan mintalah pasien untuk mengepal tangannya.

 Bersihkan vena yang hendak diambil dengan kapas yang telah di beri alkohol 70%, biarkan kering.

 Tusuklah vena secara perlahan-lahan dengan spuit.

 Tariklah spuit dengan volume darah 5 cc, lalu suruh pasien melepas kepalan tangannya dan diikuti dengan melepas pengebat.

 Cabut jarum spuit dari vena diiringi dengan letakkan kapas alkohol pada bekas tusukan dan diberi plester.

 Masukkan darah kedalam tabung vakutainer.

 Biarkan darah membeku terlebih dahulu pada suhu kamar selama 20-30 menit, kemudian dicentrifuge 3000 rpm selama 15 menit.

 Pemisahan serum dilakukan 2 jam setelah pengambilan sampel.

 Serum yg memenuhi syarat harus tidak kelihatan merah/keruh (lipemik).

 Cairan yang paling atas berwarna kuning bening disebut serum.

Penyimpanan serum dapat dibekukan dengan suhu -20◦C dan dapat bertahan selama 2 bulan di dalam freezer.

3.8.2. Pengolahan dan pemeriksaan sampel A. Pemeriksaan Kadar 25(OH) Vitamin D

Pemeriksaan kadar 25(OH) vitamin D Total dilakukan dengan menggunakan alat MINI VIDAS BRAHMS. Prinsip pemeriksaan 25(OH) vitamin D Total dengan metode Enzyme-Linked Fluourescent Assay (ELFA) sesuai rekomendasi The Clinical and Laboratory Standards Institute (CLSI).

Solid Phase Respectacle (SPR®) berfungsi sebagai fase padat serta perangkat pipetting untuk pengujian tersebut. Reagen untuk pengujian telah tersedia siap digunakan dan telah terbagi di setiap strip reagen yang tersegel.

Semua langkah-langkah uji yang dilakukan secara otomatis oleh instrumen. Media reaksi dengan siklus masuk dan keluar dari SPR beberapa kali.

Wells Reagents

1 Sample Well.

2 Conjugate: TRIS, NaCl + anti-vitamin D antibody conjugated with alkaline

phosphatase + stabilizer of human origin* + preservative (300 μL).

3 Pre-treatment solution: TRIS, NaCl + dissociation agent + surfactant + methanol**

(600 μL).

4,5,6 Empty well

7,8,9 Wash buffer: TRIS, NaCl + preservative + surfactant (600 μL).

10 Reading cuvette with substrate: 4-Methyl-umbelliferyl phosphate (0.6 mmol/l) +

diethanolamine*** (DEA) (0.62 mol/L or 6.6%, pH 9.2) + 1 g/L sodium azide

(300 ).

Sampel dicampur dengan reagen preparasi untuk memisahkan vitamin D dari protein pengikat. Sampel preparasi kemudian dikumpulkan dan dipindahkan ke dalam sumur yang berisi alkaline phosphatase (ALP) -labeled anti-vitamin D antibody (konjugat). Vitamin D antigen berada dalam sampel dan vitamin D antigen melapisi bagian interior SPR dan bersaing untuk berikatan dengan anti-vitamin D antibodi-ALP konjugat.

Selama langkah deteksi akhir, substrat (4-Methylumbelliferyl fosfat) dengan siklus masuk dan keluar dari SPR. Enzim konjugat mengkatalisis proses hidrolisis substrat ini menjadi produk fluoresensi (4-Methylumbelliferone), fluoresensi akan diukur pada gelombang 450 nm. Intensitas fluoresensi adalah berbanding terbalik dengan konsentrasi vitamin D antigen yang terdapat dalam sampel.

Pada akhir tes ini, hasil secara otomatis dihitung oleh instrumen dengan kurva kalibrasi yang disimpan dalam memori, dan kemudian dicetak.

Jenis Sampel dan Stabilitas Sampel

Jenis sampel yang digunakan adalah serum atau plasma (Lithium Heparin). Serum atau plasma dapat disimpan pada tabung biasa pada suhu 18-25 C dan stabil hingga 8 jam sebelum pemeriksaan. Dan dapat juga disimpan juga pada tabung aliquot dengan suhu 2-8C stabil untuk lima hari, dan pada suhu -25 ±6 C sampel satabil untu 3 bulan seblum dilakukan pemeriksaan.

Tabel 3.2. Nilai rujukan kadar 25-(OH) Vitamin D. (Holick MF et al.,2011)

Status 25-(OH) Vitamin D

Defisiensi < 20 ng/ml

Insufisiensi 20 – 29 ng/ml

Sufisiensi 30 – 100 ng/ml

Toksik >100 ng/ml

Cara Kerja :

1. Keluarkan reagen yang hanya diperlukan dari kulkas. Reagen dapat digunakan segera.

2. Gunakan satu "VITD" strip dan satu "VITD" SPR® dari kit untuk setiap sampel, kontrol atau kalibrator yang akan diuji. Pastikan kantong penyimpanan telah disegel kembali setelah SPRs yang diperlukan telah diambil.

3. Tes diidentifikasi dengan kode "VITD" pada instrumen. Kalibrator diidentifikasi dengankode "S1", dan diuji dalam rangkap dua. Jika yang di test adalah kontrol adala, diidentifikasi dengan kode "C1".

4. Jika perlu, jernihkan sampel dengan sentrifugasi.

5. Campur kalibrator, kontrol dan sampel menggunakan pusaran mixer (untuk memisahkan serum atau plasma dari bekuan sel).

6. Sebelum pipetting pastikan bahwa sampel, kalibrator, kontrol dan pengencer bebas gelembung.

7. Untuk tes ini, kalibrator itu, kontrol, dan bagian uji sampel adalah 100 mL.

8. Masukkan "VITD" SPRs dan "VITD" strip ke dalam instrumen. Periksa untuk memastikan label warna dengan kode assay pada SPRs dan Strips Reagen sama.

9. Lakukan uji sebagaimana diarahkan dalam Buku Manual. Semua langkah-langkah uji yang dilakukan secara otomatis oleh instrumen.

10. Tutup kembali botol dan kembalikan ke penyimpanan suhu 2-8 ° C setelah pipetting.

11. Tes uji akan selesai dalam waktu kurang lebih 40 menit. Setelah uji selesai, keluarkan SPRs dan strip dari instrumen.

B. Pemeriksaan hs-CRP

Pemeriksaan ini dilakukan dengan metode immunoturbidimetrik tes, dengan alat Automatic Architect plus.

Prinsipnya: Human CRP berinteraksi dengan antibodi monoklonal anti-CRP yang dilekatkan pada partikel latex. Presipitat ditentukan secara turbidimetrik di panjang gelombang 572 nm.

Reagen:

R1 : Glycine buffer (pH 7.0) dengan konsentrasi 1,28% dalam serum bovine albumin

(≤ 1%) dan sodium azide (< 0,1%).

R2 : Partikel latex yang dilapisi dengan anti-CRP polyclonal antibodies (kelinci) dengan

konsentrasi 0,2% dalam serum bovine albumin (≤ 0,1%) dan sodium azide (< 0,1%).

Cara Kerja :

Kerja hs-CRP diukur secara otomatik pada panjang gelombang 572 nm.

Hasil pemeriksaan dilaporkan dalam mg/dL. Sampel stabil : 15 hari 20-25°C, 2 bulan 2-8°C, 3 tahun pada -20°C.

Bahan yang beku dicairkan pada suhu ruang, kemudian disamaratakan dengan vortex. Larutan kalibrator dan kontrol juga disamakan dengan suhu ruang (20-25°C).

Prinsip pemeriksaan adalah bahan ditambah Reagen R1 (buffer) kemudian ditambah R2 (latex Antibodi Anti CRP) dan dimulai reaksi dimana antibodi anti CRP yang berikatan dengan micropartikel latex akan bereaksi dengan antigen dalam sampel untuk membentuk kompleks Ab. Aglutinasi dari kompleks Ag-Ab ini diukur secara turbidimetrik.

3.9. Pemantapan Kualitas

Pemantapan kualitas dilakukan setiap kali pada saat awal dilakukan pemeriksaan untuk menjamin ketepatan hasil pemeriksaan yang dikerjakan.

Sebelum dilakukan pemeriksaan harus dilakukan kalibrasi dan kontrol terhadap alat-alat yang digunakan, agar penentuan konsentrasi zat yang belum diketahui dapat dipercaya (valid).

a. Pemantapan Kualitas kadar 25 (OH) vitamin D

Kalibrasi dan Kontrol 25 (OH) vitamin D, menggunakan kalibrator dan kontrol yang disediakan dalam kit, kalibrasi dan kontrol harus dilakukan setiap reagen baru dibuka dengan memasukkan nomor LOT baru. Setelah data LOT telah dimasukkan, kalibrasi kemudian harus dilakukan setiap 28 hari.

Kalibrator, diidentifikasi dengan S1. Nilai kalibrasi harus berada dalam set RFV (Relative Fluorescence Value). Jika nilai kalibrasi tidak sesuai, kalibrasi ulang S1. Nilai kontrol harus berada dalam rentang nila kontrol yang tertera dalam LOT.

Gambar 3.1. Kalibrasi 25(OH) vitamin D b. Pemantapan Kualitas jumlah Leukosit

Gambar 3.2. Kalibrasi Leukosit

c. Pemantapan Kualitas kadar hs-CRP

Kalibrasi untuk pemeriksaan hs-CRP menggunakan parameter assay.

Mengacu kepada parameter untuk sensitivitas tinggi, standart dan metode wide range. Kalibrasi dilakukan setiap pemakaian reagen baru.

Kontrol kualitas untuk hs-CRP menggunakan 2 level kontrol yaitu normal dan abnormal. Bila nilai kontrol kualitas sudah masuk dalam range dan masuk dalam batas normal, maka dilakukan pemeriksaan terhadap sampel penelitian.

Gambar 3.3. Kalibrasi hs-CRP

3.10. Rencana Pengolahan dan Analisis Data

Analisa data dilakukan menggunakan software SPSS (Statistical Package for Social Sciences, Chicago, IL, USA) untuk Windows. Gambaran karakteristik pada subjek penelitian disajikan dalam bentuk tabulasi dan dideskripsikan.

Korelasi kadar 25 (OH) Vitamin D dan hs-CRP digunakan uji korelasi Pearson bila data berdistribusi normal. Bila data tidak berdistribusi normal, digunakan Spearman rank test. Semua uji statistik dengan nilai p < 0,05 dianggap bermakna.

3.11. Alur Penelitian

Gambar 3.4. Alur Penelitian Penderita PPOK

Kriteria Inklusi

Kadar Vitamin D dan hs-CRP K

Analisa Data Klasifikasi 1, 2, 3 dan 4

Pemeriksaan Spirometri dan Klasifikasi GOLD

BAB 4

HASIL PENELITIAN

4.1. Karakteristik Subjek Penelitian

Penelitian ini melibatkan 51 orang pasien laki-laki yang telah didiagnosa sebagai penderita PPOK. Subjek penelitian diambil dari pasien poli penyakit Paru RSUP Haji Adam Malik Medan. Subjek penelitian merupakan pasien yang berobat sejak Januari 2018 sampai dengan Juni 2018.

Tabel 4.1. Karakteristik Subjek Penelitian

Variabel n(%) Mean±SD/

Pada tabel 4.1. Terlihat bahwa karakteristik subjek penelitian berdasarkan jenis kelamin menunjukkan data bahwa semua responden penelitian adalah laki-laki (100%).

Adapun karakteristik sampel berdasarkan usia dijumpai bahwa usia termuda pasien yang menderita PPOK stabil adalah 46 tahun dan usia tertua adalah 82 tahun. Tidak satupun sampel yang berdasa dalam kisaran usia <40 tahun. Sampel yang berada dalam rentang usia 40-49 tahun adalah sebanyak 2 orang (3,9%).

Responden yang berada dalam rentang usia 50-59 tahun adalah sebanyak 11 orang (21,6%). Sampel yang berada dalam rentang usia 60-69 tahun adalah sebanyak 26 orang (51%). Dan sampel yang berada dalam rentang usia ≥70 tahun adalah sebanyak 12 orang (23,5%). Rata-rata usia responden dalam penelitian ini adalah 64,05 ± 8,05 tahun.

Sementara itu, karakteristik sampel berdasarkan pekerjaan didapati bahwa mayoritas responden yaitu sebanyak 28 orang (54,9%) adalah pensiunan/tidak bekerja, sebanyak 7 orang (13,8%) bekerja sebagai pedagang.

Karakteristik sampel penelitian berdasarkan indeks Brinkman didapati sebanyak 4 orang (4,7%) dalam kategori sedang (200-599) dan 47 orang (92,2%) dalam kategori berat (≥600).

Karakteristik sampel penelitian berdasarkan VEP1 sebanyak 24 orang (47,1%) memiliki nilai VEP1<30%, sebanyak 20 orang (39,2%) memiliki nilai 30%≤VEP1<50%, sebanyak 7 orang (13,7%) memiliki nilai 50%≤VEP1<80%,

dan tidak ada sampel penelitian yang memiliki nilai VEP1 >80%. Rata-rata nilai VEP1 responden dalam penelitian ini adalah 33,65 ± 15,78%.

Karakteristik sampel penelitian berdasarkan kadar 25(OH) vitamin D didapati sebanyak 8 orang (15,7%) memiliki kadar 25(OH) vitamin D <20 ng/mL, sebanyak 23 orang (45,1%) memiliki kadar 25(OH) vitamin D berkisar antara 20-29,9 ng/mL, sebanyak 20 orang (39,2%) memiliki kadar 25(OH) vitamin D berkisar antara 30-100 ng/mL dan tidak ada satupun sampel penelitian yang memiliki kadar 25(OH) vitamin D >100 ng/mL. Rata-rata kadar 25(OH) vitamin D responden dalam penelitian ini adalah 27,57 ± 6,74 ng/mL.

Sementara itu seluruh responden memiliki kadar hs-CRP yang <10 mg/L.

Nilai median kadar hs-CRP responden dalam penelitian ini adalah 0,34 mg/L, dengan nilai minimum 0,02 mg/L dan nilai maksimum 2,16 mg/dL.

4.2. Hubungan VEP1 dengan kadar 25(OH) vitamin D dan Jumlah Leukosit Untuk menunjukkan hubungan antara nilai VEP1 responden penelitian dengan kadar 25(OH) vitamin D dan jumlah Leukosit digunakan uji korelasi Pearson. Hubungan antara nilai VEP1 responden penelitian menunjukkan korelasi negatif yang tidak bermakna dengan kadar 25(OH) vitamin D maupun jumlah Leukosit. Antara VEP1 dengan kadar 25(OH) vitamin D diperoleh nilai r= -0,131 dan nilai p=0,180 sedangkan antara VEP1 dan jumlah leukosit diperoleh nilai r= -0,112 dan nilai p=0,217.

Tabel 4.2. Uji Korelasi VEP1 dengan 25(OH) vitamin D dan Jumlah Leukosit Variabel 25(OH) vitamin D Jumlah Leukosit

VEP1 r= -0,131 p=0,180* r= -0,112 p=0,217*

*Uji Pearson

*Signifikan Nilai p<0.05

4.3. Hubungan VEP1 dengan kadar hs-CRP

Untuk menunjukkan hubungan antara nilai VEP1 responden penelitian dengan kadar hs-CRP dilakukan uji korelasi Spearman Rank. Hubungan antara nilai VEP1 responden penelitian menunjukkan korelasi negatif yang bermakna dengan kadar hs-CRP dengan nilai r= -0,260 dan nilai p=0,032. Nilai ini menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai VEP1 maka semakin rendah hs-CRP dan begitu pula sebaliknya.

Tabel 4.3. Uji Korelasi VEP1 dengan kadar hs-CRP

Variabel hs-CRP

VEP1 r= -0,260 p=0,032*

*Uji Spearman Rank

*Signifikan Nilai p<0.05

4.4. Klasifikasi pasien berdasarkan nilai VEP1 sesuai kriteria GOLD

Pasien PPOK pada penelitian ini diklasifikasikan menurut derajat obstruksi saluran nafas yang dideritanya berdasarkan nilai VEP1 yang diperoleh dari pemeriksaan spirometri. Klasifikasi ini didasarkan kepada kriteria GOLD yaitu GOLD-1 dengan obstruksi ringan (VEP1 ≥ 80%prediksi), GOLD-2 dengan obstruksi sedang (50% ≤ VEP1 <80% prediksi), GOLD-3 dengan obstruksi berat

(30% ≤ VEP1 <50% prediksi) dan GOLD-4 dengan obstruksi sangat berat (VEP1

<30% prediksi).

Dari 51 pasien PPOK yang diperiksa didapati 7 orang termasuk GOLD-2, 20 orang termasuk GOLD-3, dan 24 orang adalah termasuk GOLD-4. Tidak ada yang termasuk ke dalam GOLD-1 (Gambar 4.1).

Gambar 4.1. Klasifikasi pasien PPOK berdasarkan kriteria GOLD

4.5. Uji beda kadar 25(OH) vitamin D, jumlah Leukosit dan kadar hs-CRP berdasarkan kriteria GOLD.

Untuk menunjukkan hubungan antara kadar 25(OH) vitamin D, jumlah Leukosit dan kadar hs-CRP berdasarkan kriteria GOLD dilakukan uji Anova dan uji Kruskal Wallis.

0 5 10 15 20 25 30

GOLD 2 GOLD 3 GOLD 4

Tabel 4.4. Hasil uji beda kadar 25(OH) vitamin D, jumlah Leukosit dan kadar didapatkan nilai mean 24,01 ± 3,81 pada kelompok obstruksi sedang (GOLD-2), mean 27,35 ± 6,56 kelompok obstruksi berat (GOLD-3) dan nilai mean 28,79 ± 7,33 pada kelompok obstruksi sangat berat (GOLD-4). Didapati nilai p=0,603 untuk jumlah Leukosit dan nilai p=0,256 untuk kadar 25(OH) vitamin D dimana nilai ini menyatakan bahwa tidak dijumpai perbedaan yang signifikan dari jumlah leukosit dan kadar 25(OH) vitamin D antara kelompok obstruksi sedang (GOLD-2), berat (GOLD-3) dan sangat berat (GOLD-4).

Dengan menggunakan uji Kruskal Wallis dilakukan uji beda kadar hs-CRP pada pasien PPOK yang telah diklasifikasikan berdasarkan GOLD. Didapati nilai mean 0,21 ± 0,13 pada kelompok obstruksi sedang (GOLD-2), mean 0,37 ± 0,46 pada kelompok obstruksi berat (GOLD-3) dan nilai mean 0,633 ± 0,632 pada kelompok obstruksi sangat berat (GOLD-4). Dengan p=0,122 untuk kadar hs-CRP dimana nilai ini menyatakan bahwa tidak dijumpai adanya perbedaan yang signifikan dari kadar hs-CRP diantara kelompok obstruksi sedang (GOLD-2), berat (GOLD-3) dan sangat berat (GOLD-4).

BAB 5 PEMBAHASAN

5.1. Karakteristik Penelitian

Penelitian ini melibatkan 51 orang pasien laki-laki yang telah didiagnosa sebagai penderita PPOK yang berobat di Poli Penyakit Paru RSUP Haji Adam Malik Medan. Subjek penelitian merupakan pasien yang berobat sejak bulan Januari 2018 sampai dengan Juni 2018. Pada tabel 4.1 terlihat bahwa rerata usia pasien PPOK adalah 64,05 ± 8,05 tahun dengan usia terbanyak berkisar antara 60–69 tahun. Hal ini sesuai dengan hasil yang dikemukakan dalam beberapa penelitian sebelumnya bahwa prevalensi PPOK adalah lebih tinggi pada mereka yang berusia >40 tahun dan lebih banyak pada pria dibanding wanita, walaupun pada penelitian ini seluruh subjek penelitian yang diambil adalah pria. (GOLD, 2017; PDPI, 2010). Tingginya usia pasien ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah peningkatan usia harapan hidup dan semakin lamanya waktu pajanan terhadapat faktor risiko. Faktor pejamu sendiri yang diduga sangat berhubungan dengan kejadian PPOK yakni semakin banyaknya jumlah perokok, serta meningkatnya pencemaran udara di dalam maupun di luar ruangan terutama di tempat kerja (Matherrs CD; Loncar D, 2006, GOLD, 2017).

Pada tabel 4.1 juga terlihat nilai VEP1 <30% adalah yang terbanyak yaitu sebesar 47,1% dengan rerata nilai VEP1 adalah 33,65 ± 15,78%. Hal ini menunjukkan menurunnya nilai VEP1 pada subjek PPOK yang diperiksa. VEP1 adalah jumlah udara yang dapat dihembuskan paksa pada detik pertama pada

pemeriksaan spirometri. Pada populasi normal nilai VEP1 adalah 3,2 liter, kurang lebih 80% dari nilai Kapasitas Vital Paru (KVP) yang pada populasi normal adalah 4 liter. Patofisiologi yang terjadi pada penderita PPOK adalah terjadinya gangguan pengeluaran udara (unable to get air out) dimana jalan nafas yang menyempit akan mengurangi volume udara yang dapat dihembuskan pada satu detik pertama ekspirasi. Semakin rendah nilai VEP1 menunjukkan semakin parah obstruksinya (Ikawati, 2007).

Pada tabel 4.1 menunjukkan sebagian besar responden sudah tidak bekerja lagi atau sudah pensiun sebanyak 54,9%

Pada penelitian ini didapati bahwa indeks Brinkman (IB) terbanyak adalah dalam kelompok berat (≥600). Berdasarkan penelitian Ohno dkk pada 61 penderita PPOK tahun 2007 didapati seluruh penderita PPOK derajat berat dan sangat berat memiliki IB : 990±427 (Ohno Y et al., 2008). Nugraha dalam studinya tahun 2010 pada 40 penderita PPOK menunjukkan bahwa menurut IB pasien PPOK derajat ringan dengan IB 30%, derajat sedang dengan IB 50% dan derajat berat dengan IB 20%. Sedangkan pasien PPOK berat atau sangan berat mempunuai IB ringan 5%, IB sedang 25%, IB berat 70% (Nugraha I, 2010).

Pada penelitian ini didapati bahwa indeks Brinkman (IB) terbanyak adalah dalam kelompok berat (≥600). Berdasarkan penelitian Ohno dkk pada 61 penderita PPOK tahun 2007 didapati seluruh penderita PPOK derajat berat dan sangat berat memiliki IB : 990±427 (Ohno Y et al., 2008). Nugraha dalam studinya tahun 2010 pada 40 penderita PPOK menunjukkan bahwa menurut IB pasien PPOK derajat ringan dengan IB 30%, derajat sedang dengan IB 50% dan derajat berat dengan IB 20%. Sedangkan pasien PPOK berat atau sangan berat mempunuai IB ringan 5%, IB sedang 25%, IB berat 70% (Nugraha I, 2010).