• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4. HASIL PENELITIAN

4.3 Hubungan VEP1 dengan kadar hs-CRP

Untuk menunjukkan hubungan antara nilai VEP1 responden penelitian dengan kadar hs-CRP dilakukan uji korelasi Spearman Rank. Hubungan antara nilai VEP1 responden penelitian menunjukkan korelasi negatif yang bermakna dengan kadar hs-CRP dengan nilai r= -0,260 dan nilai p=0,032. Nilai ini menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai VEP1 maka semakin rendah hs-CRP dan begitu pula sebaliknya.

Tabel 4.3. Uji Korelasi VEP1 dengan kadar hs-CRP

Variabel hs-CRP

VEP1 r= -0,260 p=0,032*

*Uji Spearman Rank

*Signifikan Nilai p<0.05

4.4. Klasifikasi pasien berdasarkan nilai VEP1 sesuai kriteria GOLD

Pasien PPOK pada penelitian ini diklasifikasikan menurut derajat obstruksi saluran nafas yang dideritanya berdasarkan nilai VEP1 yang diperoleh dari pemeriksaan spirometri. Klasifikasi ini didasarkan kepada kriteria GOLD yaitu GOLD-1 dengan obstruksi ringan (VEP1 ≥ 80%prediksi), GOLD-2 dengan obstruksi sedang (50% ≤ VEP1 <80% prediksi), GOLD-3 dengan obstruksi berat

(30% ≤ VEP1 <50% prediksi) dan GOLD-4 dengan obstruksi sangat berat (VEP1

<30% prediksi).

Dari 51 pasien PPOK yang diperiksa didapati 7 orang termasuk GOLD-2, 20 orang termasuk GOLD-3, dan 24 orang adalah termasuk GOLD-4. Tidak ada yang termasuk ke dalam GOLD-1 (Gambar 4.1).

Gambar 4.1. Klasifikasi pasien PPOK berdasarkan kriteria GOLD

4.5. Uji beda kadar 25(OH) vitamin D, jumlah Leukosit dan kadar hs-CRP berdasarkan kriteria GOLD.

Untuk menunjukkan hubungan antara kadar 25(OH) vitamin D, jumlah Leukosit dan kadar hs-CRP berdasarkan kriteria GOLD dilakukan uji Anova dan uji Kruskal Wallis.

0 5 10 15 20 25 30

GOLD 2 GOLD 3 GOLD 4

Tabel 4.4. Hasil uji beda kadar 25(OH) vitamin D, jumlah Leukosit dan kadar didapatkan nilai mean 24,01 ± 3,81 pada kelompok obstruksi sedang (GOLD-2), mean 27,35 ± 6,56 kelompok obstruksi berat (GOLD-3) dan nilai mean 28,79 ± 7,33 pada kelompok obstruksi sangat berat (GOLD-4). Didapati nilai p=0,603 untuk jumlah Leukosit dan nilai p=0,256 untuk kadar 25(OH) vitamin D dimana nilai ini menyatakan bahwa tidak dijumpai perbedaan yang signifikan dari jumlah leukosit dan kadar 25(OH) vitamin D antara kelompok obstruksi sedang (GOLD-2), berat (GOLD-3) dan sangat berat (GOLD-4).

Dengan menggunakan uji Kruskal Wallis dilakukan uji beda kadar hs-CRP pada pasien PPOK yang telah diklasifikasikan berdasarkan GOLD. Didapati nilai mean 0,21 ± 0,13 pada kelompok obstruksi sedang (GOLD-2), mean 0,37 ± 0,46 pada kelompok obstruksi berat (GOLD-3) dan nilai mean 0,633 ± 0,632 pada kelompok obstruksi sangat berat (GOLD-4). Dengan p=0,122 untuk kadar hs-CRP dimana nilai ini menyatakan bahwa tidak dijumpai adanya perbedaan yang signifikan dari kadar hs-CRP diantara kelompok obstruksi sedang (GOLD-2), berat (GOLD-3) dan sangat berat (GOLD-4).

BAB 5 PEMBAHASAN

5.1. Karakteristik Penelitian

Penelitian ini melibatkan 51 orang pasien laki-laki yang telah didiagnosa sebagai penderita PPOK yang berobat di Poli Penyakit Paru RSUP Haji Adam Malik Medan. Subjek penelitian merupakan pasien yang berobat sejak bulan Januari 2018 sampai dengan Juni 2018. Pada tabel 4.1 terlihat bahwa rerata usia pasien PPOK adalah 64,05 ± 8,05 tahun dengan usia terbanyak berkisar antara 60–69 tahun. Hal ini sesuai dengan hasil yang dikemukakan dalam beberapa penelitian sebelumnya bahwa prevalensi PPOK adalah lebih tinggi pada mereka yang berusia >40 tahun dan lebih banyak pada pria dibanding wanita, walaupun pada penelitian ini seluruh subjek penelitian yang diambil adalah pria. (GOLD, 2017; PDPI, 2010). Tingginya usia pasien ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah peningkatan usia harapan hidup dan semakin lamanya waktu pajanan terhadapat faktor risiko. Faktor pejamu sendiri yang diduga sangat berhubungan dengan kejadian PPOK yakni semakin banyaknya jumlah perokok, serta meningkatnya pencemaran udara di dalam maupun di luar ruangan terutama di tempat kerja (Matherrs CD; Loncar D, 2006, GOLD, 2017).

Pada tabel 4.1 juga terlihat nilai VEP1 <30% adalah yang terbanyak yaitu sebesar 47,1% dengan rerata nilai VEP1 adalah 33,65 ± 15,78%. Hal ini menunjukkan menurunnya nilai VEP1 pada subjek PPOK yang diperiksa. VEP1 adalah jumlah udara yang dapat dihembuskan paksa pada detik pertama pada

pemeriksaan spirometri. Pada populasi normal nilai VEP1 adalah 3,2 liter, kurang lebih 80% dari nilai Kapasitas Vital Paru (KVP) yang pada populasi normal adalah 4 liter. Patofisiologi yang terjadi pada penderita PPOK adalah terjadinya gangguan pengeluaran udara (unable to get air out) dimana jalan nafas yang menyempit akan mengurangi volume udara yang dapat dihembuskan pada satu detik pertama ekspirasi. Semakin rendah nilai VEP1 menunjukkan semakin parah obstruksinya (Ikawati, 2007).

Pada tabel 4.1 menunjukkan sebagian besar responden sudah tidak bekerja lagi atau sudah pensiun sebanyak 54,9%

Pada penelitian ini didapati bahwa indeks Brinkman (IB) terbanyak adalah dalam kelompok berat (≥600). Berdasarkan penelitian Ohno dkk pada 61 penderita PPOK tahun 2007 didapati seluruh penderita PPOK derajat berat dan sangat berat memiliki IB : 990±427 (Ohno Y et al., 2008). Nugraha dalam studinya tahun 2010 pada 40 penderita PPOK menunjukkan bahwa menurut IB pasien PPOK derajat ringan dengan IB 30%, derajat sedang dengan IB 50% dan derajat berat dengan IB 20%. Sedangkan pasien PPOK berat atau sangan berat mempunuai IB ringan 5%, IB sedang 25%, IB berat 70% (Nugraha I, 2010).

Berdasarkan penelitian Syamsul Bihar tahun 2012 IB terbanyak adalah nilai ≥600 (berat) sebanyak 13 orang (59,1%) (Bihar S, 2012).

Kadar 25(OH) vitamin D paling banyak dijumpai berkisar antara 20-29,9 ng/mL yaitu sebanyak 45,1%, dengan rerata kadar 25(OH) vitamin D subjek penelitian adalah 27,57 ± 6,74 ng/mL. Jumlah ini menggambarkan adanya penurunan kadar 25(OH) vitamin D dalam serum pasien PPOK yang diteliti.

Menurut pedoman Endocrine Society, status vitamin D didefinisikan sebagai sufisiensi bila kadar calcifediol 31-60 ng/mL, insufisiensi bila kadar calcifediol 21-30 ng/mL dan defisiensi bila kadar calcifediol ≤ 20 ng/mL (Lee, 2013).

Pedoman ini menggolongkan pasien PPOK pada penelitian ini termasuk dalam kelompok insufisiensi vitamin D.

Hasil ini sesuai dengan data epidemiologis dari National Health and Nutritional Examination Survey III (NHANES III) yang menunjukkan tingkat serum vitamin D yang rendah pada pasien PPOK. Forli et al., (2004) juga menemukan defisiensi vitamin D (<20 ng/ml) pada lebih dari 50% pasien transplantasi paru-paru akibat PPOK. Demikian juga dalam sebuah studi pada pasien rawat jalan PPOK di Denmark, sekitar 68% responden memiliki osteoporosis atau osteopenia yang berkaitan dengan kurangnya kadar serum vitamin D (Forli et al., 2004). Boyan et al., 2007 juga menyatakan bahwa vitamin D berfungsi menekan aktivitas matriks metalloproteinase (MMP-9) yang terbukti meningkatkan degardasi jaringan paru pada pasien PPOK (Boyan et al., 2007).

Kadar hs-CRP pasien PPOK yang diteliti masih berada dalam rentang kadar normal (0,00-<10,00 mg/L) dengan median 0,34 mg/L dan minimum-maksimum adalah 0,02-2,16 mg/L. Kadar hs-CRP yang berada dalam rentang normal ini dimungkinkan karena sampel adalah pasien PPOK yang berada dalam kondisi stabil sehingga hs-CRP yang merupakan protein fase akut dimana pada paru memiliki kemampuan proteksi sebagai respon imun alami untuk melawan bakteri dan memfasilitasi pengikat komplemen yang diperlukan untuk memfagositosis bakteri. hs-CRP yang juga merupakan penanda sistemik yang sangat peka

terhadap reaksi inflamasi dan kerusakan jaringan tidak meningkat pada kondisi PPOK yang stabil (Pepys et al., 2003).

Hasil ini berbeda dengan Gan et al., 2004 yang menyatakan pasien PPOK secara signifikan mengalami peningkatan kadar CRP, fibrinogen, leukosit dan TNF-α dibandingkan dengan kontrol sehat, yang mengindikasikan bahwa inflamasi sistemik persisten terjadi pada PPOK bahkan saat setelah berhenti merokok (Gan et al., 2004). Hal lain yang mungkin mempengaruhi adalah pemberian terapi steroid dimana Pinto et al., 2006 menemukan dalam studi yang mengikutsertakan 88 pasien PPOK dan 33 kontrol merokok dan 38 kontrol tidak merokok, kadar CRP sekitar 20% lebih rendah pada pasien yang menggunakan dosis tinggi kortikosteroid inhalasi budesonid 800 - 1200 µg/hari (Pinto et al., 2006).

5.2. Korelasi nilai VEP1 dengan kadar 25(OH) vitamin D dan jumlah leukosit

Nilai VEP1 pasien PPOK yang diperiksa tidak menunjukkan korelasi yang signifikan dengan kadar 25(OH) vitamin D maupun jumlah leukosit pasien.

Antara VEP1 dengan kadar 25(OH) vitamin D diperoleh nilai r= -0,131 dan nilai p=0,180 sedangkan antara VEP1 dan jumlah leukosit diperoleh nilai r= -0,112 dan nilai p=0,217 (Tabel 4.2). Pada penelitian ini, kadar 25(OH) vitamin D pasien PPOK yang diperiksa menunjukkan kecenderungan yang lebih rendah dibandingkan dengan orang normal (insufisiensi berdasarkan NHANES III) walaupun, secara statistik tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dengan

nilai VEP1. Ini berarti bahwa kadar 25(OH) vitamin D dalam serum pasien tidak berhubungan dengan derajat obstruksi atau tingkat keparahan penyakit PPOK yang diderita pasien.

Hasil ini berbeda dengan penelitian Menon et al., 2016 yang mendapatkan bahwa kadar vitamin D berhubungan dengan nilai VEP1 (p=0.0016) bahkan dengan tingkat keparahan penyakit PPOK yang diderita. Pada pasien dengan frekuensi eksaserbasi yang lebih sering didapati kadar vitamin D yang lebih rendah dibandingkan dengan yang lebih jarang mengalami eksaserbasi (p=0.00001) (Menon et al., 2016).

Jumlah leukosit pada penelitian ini tidak berhubungan secara bermakna dengan VEP1 ini dimungkinkan karena pemilihan sampel yang merupakan PPOK stabil. Hal ini sejalan dengan penelitian Moberg et al., 2014 yang menemukan bahwa jumlah leukosit pada pasien PPOK berhubungan dengan kejadian rawat inap yang biasanya terjadi pada pasien PPOK yang mengalami eksaserbasi dengan hazard ratio 1.06 (95% CI:1.01–1.11, 𝑃 = 0.018) (Moberg et al., 2014).

5.3. Korelasi nilai VEP1 dengan kadar hs-CRP

Nilai VEP1 berkorelasi negatif secara signifikan dengan kadar hs-CRP pasien PPOK yang diperiksa dengan nilai r= -0,260 dan nilai p=0,032 (Tabel 4.3).

Nilai ini menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai VEP1 maka semakin rendah kadar hs-CRP dan begitu pula sebaliknya ini bermakna semakin tinggi derajat obstruksi saluran nafas dengan menurunnya nilai VEP1 maka kadar hs-CRP akan semakin tinggi. Hal ini sejalan dengan hasil studi pada 130 penderita PPOK stabil

dan 65 orang kontrol sehat yang melaporkan bahwa kadar hs-CRP meningkat pada penderita PPOK stabil (4.1 mg/L) dibandingkan kontrol (1.8 mg/L) (Torress et al., 2006; Hurst et al., 2006). Hasil penelitian yang dilakukan di Iran oleh Alavi et al., 2014 juga menunjukkan hubungan yang signifikan antara kadar hs-CRP dengan VEP1 (p=0.0001) dimana dilaporkan juga bahwa kadar hs-CRP berkorelasi positif dengan tingkat keparahan penyakit berdasarkan kriteria GOLD (Alavi et al., 2014).

5.4. Kadar 25(OH) vitamin D, jumlah Leukosit, dan kadar hs-CRP pasien berdasarkan kriteria GOLD.

Setelah dilakukan klasifikasi pasien berdasarkan kriteria GOLD didapati rerata kadar 25(OH) vitamin D yang terendah adalah pada kelompok GOLD-2 (24,01 ± 3,82) dan yang tertinggi adalah pada kelompok GOLD-4 (28,79 ± 7,33).

Pada penelitian ini juga tidak dijumpai adanya perbedaan yang bermakna dari kadar 25(OH) vitamin D dari masing-masing kelompok pasien berdasarkan kriteria GOLD (p = 0.256).

Hal ini menunjukkan bahwa kadar 25(OH) vitamin D bukanlah satu-satunya faktor yang berperan dalam tingkat keparahan penyakit PPOK walaupun diketahui bahwa 25(OH) vitamin D berperan dalam regulasi sistem imun tubuh dan dapat diasumsikan bahwa ada banyak faktor yang berperan menentukan kadar vitamin D dalam tubuh manusia. Hasil penelitian ini berbeda dengan yang dikemukakan oleh Jansen et al., 2010 bahwa defisiensi vitamin D pada PPOK dengan kadar 25(OH) Vitamin D < 20 ng/ml berhubungan dengan derajat keparahan PPOK

berdasarkan hasil spirometri dengan penilaian fungsi paru VEP1 (Janssens W et al., 2010). Menon et al., 2016 juga mendapatkan dalam penelitiannya bahwa defisiensi vitamin D dijumpai pada 37,5%, 41,27%, 74,29%, and 81,82% dari pasien GOLD-1 sampai dengan GOLD-4 secara berurutan dengan nilai rerata lebih rendah pada GOLD-3 dan GOLD-4. Perbedaan yang diperoleh juga menunjukkan hasil yang cukup signifikan (Menon et al., 2016).

Jumlah leukosit pasien PPOK yang diteliti tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan antara masing-masing kelompok berdasarkan kriteria GOLD (p=0.603) walaupun terdapat kecenderungan rerata jumlah leukosit yang lebih tinggi pada kelompok GOLD-4 dibandingkan GOLD-3 (8.253 ± 1.847,99 vs 8.053 ± 1.922,71) dan GOLD-3 terhadap GOLD-2 (8.053 ± 1.922,71 vs 7.458 ± 1.436,83). Peningkatan jumlah leukosit ini diduga berkaitan dengan inflamasi neutrofil dan stres oksidatif yang berperan dalam patofisiologi PPOK. Sel inflamasi terutama makrofag, neutrofil, dan limfosit T berperan dalam saluran napas, diaktivasi dan menyebabkan inflamasi dan terjadi peradangan (Rahman et al., 1999; Holme, 2011).

Moberg et al., 2014 dalam penelitiannyan melaporkan bahwa jumlah leukosit secara tunggal dapat menjadi prediktor mortalitas pada pasien PPOK dimana dalam penelitian itu didapatkan dari 208 pasien yang diteliti ada 197 (46,6%) pasien dengan peningkatan jumlah leukosit (>8.8 × 10 9/L) (Moberg et al., 2014).

Kadar hs-CRP pasien PPOK yang diteliti tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan antara masing-masing kelompok berdasarkan kriteria GOLD (p =

0.122) walaupun terdapat kecenderungan kadar hs-CRP yang lebih tinggi pada kelompok GOLD-4 dibandingkan GOLD-3 (0,63 ± 0,63 vs 0,37 ± 0,46) dan GOLD-3 terhadap GOLD-2 (0,37 ± 0,46 vs 0,211 ± 0,13). Kecenderungan ini mendukung teori yang menyatakan CRP sebagai marker inflamasi sistemik dapat digunakan sebagai penanda tingkat keparahan penyakit PPOK disamping pemeriksaan faal paru, dan juga dapat digunakan sebagai alat monitoring terapi (Alavi et al., 2011). Menon et al., 2016 juga melaporkan kecenderungan peningkatan rerata kadar hs-CRP pada kelompok pasien berdasarkan kriteria GOLD yaitu 2.51 + 1.62, 3.48 + 2.03, 4.84 + 3.15, dan 4.96 + 3.24 secara berurutan dari GOLD-1 sampai GOLD-4 (Menon et al., 2016).

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. KESIMPULAN

- Tidak terdapat hubungan antara nilai VEP1 dan kadar 25(OH) vitamin D dengan derajat keparahan pada pasien PPOK (Klasifikasi GOLD).

- Terdapat hubungan berkorelasi negatif yang signifikan (p=0,032) antara nilai VEP1 dan kadar hs-CRP dengan derajat keparahan pada pasien PPOK (Klasifikasi GOLD).

- Tidak terdapat hubungan antara nilai VEP1 dan jumlah Leukosit dengan derajat keparahan pada pasien PPOK (Klasifikasi GOLD).

6.2. SARAN

6.2.1. Untuk penelitian selanjutnya

- Perlu dilakukan penelitian dengan desain longitudinal study untuk melihat perubahan dari kadar 25(OH) vitamin D dan kadar hs-CRP dalam hubungannya dengan progresifitas terjadinya obstruksi saluran nafas pada pasien PPOK.

- Perlu dilakukan penelitian yang membandingkan ke tiga parameter tersebut pada pasien PPOK stabil, eksaserbasi akut.

6.2.2. Untuk para klinisi

- Pemeriksaan kadar 25(OH) vitamin D dan hs-CRP penting dilakukan pada pasien PPOK, sehingga dapat dipertimbangkan apakah perlu pemberian suplemen Vitamin D pada pasien PPOK.

DAFTAR PUSTAKA

1. Ahmad A, Permatasari A. 2015. Karakteristik Penderita Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK) yang berobat jalan di RSUP.H. Adam Malik Medan pada 2015. Tesis penelitian. Repository USU.

2. Alavi SA, Soati F, Forghanparast K. 2011. Hs-CRP in patients with acute exacerbation of COPD. Iran Red Crescent Medical Journal.

3. Agarwal R, Gupta D, Aggarwal AN, Dhooria S, Sehgal IS et al. 2013.

Guidelines for diagnosis and management of chronic obstructive pulmonary disease: Joint ICS/NCCP. Lung India Journal. 228-267.

4. Ballou SP, Cleveland RP. Binding of human C-reactive protein to monocytes: analysis by flowcytometry. Clin exp. Immunol. 1999;84:329-35.

5. Bihar S. Korelasi derajat obstruksi dengan transpor mukosiliar hidung penderita penyakit paru obstruktif kronik stabil di rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan dan BP4 Medan. 2012. Tesis. Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Medan.

6. Boyan BD, Wong KL, Fang M, Schwartz Z. 2007. 1alpha, 25(OH)2D3 is an autocrine regulator of extracellular matrix turnover and growth factor release via ERp60 activated matrix vesicle metalloproteinases. J Steroid Biochem Mol Biol,103:467-472.

7. Gan WQ, Man SF, Senthilselvan A, Sin DD. 2004. Association between chronic obstructive pulmonary disease and systemic inflammation: a systematic review and a meta-analysis. Thorax 59: 574-580.

8. Ganji V, Zhang X, Tangpricha V. 2012. Serum 25-hydroxyvitamin D concentrations and prevalence estimates of hypovitaminosis D in the U.S.

population based on assay-adjusted data. J Nutr, 142:498-507.

9. Global Strategy for the Diagnosis, Management, and Prevention of Chronic Obstructive Lung Disease. Global Strategy for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD); 2013.

10. [GOLD] Global Initiative FOR Chronic Obstructive Lung Disease. 2017.

11. Pocket guide to COPD diagnosis, management, and prevention. GOLD, Medical Communication Resources, Inc.

12. Grey A, Lucas J, Horne A, Gamble G, Davidson JS, Reid IR. 2005.

Vitamin D repletion in patients with primary hyperparathyroidism and coexistent vitamin D insufficiency. J Clin Endocrinol Metab, 90:2122-6.

13. Gultom Y E. 2014. Perbandingan kadar crp penderita PPOK stabil dengan eksaserbasi di RSUP H. Adam Malik Medan. Tesis. Repositori USU.

14. Halvani A, Nadooshan HH, Shoraki F.K, Nasiriani K. 2007. Serum C-reactive protein level in COPD patients anf normal population. Tanaffos

;6:51-5.

15. Herr et al. 2011. The role of vitamin D in pulmonary disease:

COPD, asthma, infection, and cancer. Respiratory Research. 12:31.

16. Holme J. 2011. Clinical studies in alpha-1 antitrypsin deficiency.

Departement of Medical Sciences The Medical School The University of Birmingham. 1-223.

17. Holick MF. 2007. Vitamin D deficiency. N Engl J Med, 357:266-81.

18. Holick M.F, Binkley N.C, Bischoff-Ferrari H. A, Gordon C.M, Hanley D.A, and Heaney R.P. 2011. Evaluation, treatment, and prevention of vitamin D deficiency: an endocrine society clinical practice guideline. J Clin Endocrinol Metab. 96: 1911-1930.

19. Hurst JR, Donaldson GC, Perera WR, Wilkinson TM, Bilello JA, Hagan GW, et al. 2006. Use of plasma biomarkers at exacerbation of chronic obstructive pulmonary disease. Am J Respir Crit Care Med; 174: 867-74.

20. Ikawati Z. 2007. Farmakoterapi Penyakit Sistem Pernapasam. Pustaka Adipura, Yogyakarta.

21. Janssens W, Bouillon R, Claes B, Carremans C, Lehouck A, Buysschaert I, et al. 2010. Vitamin D Deficiency is Highly Prevalent in COPD and Correlates with Variants in the Vitamin D Binding Gene. Thorax 2010, 65:215-220.

22. Karadag F, Kirdar S, Karul AB, Ceylan E. 2008. The value of C-reactive protein as a marker of systemic inflammatio in stable chronic obstructive pulmonary disease. European Journal of Internal Medicine; 19: 104-8.

23. Lee JY, So TY, Thackray J. 2013.A review on vitamin D deficiency treatment in pediatric patients. J Pediatr Pharmacol Ther. 18:277-91.

24. Matherrs CD, Loncar D. 2006. Projection of global mortality and burden of disease from 2002 to 2030. PLoS Med 3: e4442.

25. Menon B, Kaur C, Vardhan H, Gopi A, Dar MY. 2016. Evaluation of vitamin D, IL-6 and hs-CRP in different stages of COPD and their correlation with severity of disease and frequency of exacerbations.

International Journal of Allergy Medications. Vol. 2.

26. Moberg M, Vestbo J, Martinez G, Lange P, Ringbeak T. 2014. Prognostic value c-reactive protein, leucocytes, and vitamin D in severe COPD. The Scientific World Journal.

27. Nair R, Maseeh A.2012. Vitamin D: The “sunshine” vitamin. J Pharmacol Pharmacother; 3:118-26.

28. Nakou ES, Liberopoulos E.N, Milionis H.J, Elisaf M,S. 2008. The role of C-reactive protein in atherosclerotic cardiovascular disease: an overview.

Current vascular pharmacology;6:258-70.

29. Nugraha I. 2010. Hubungan derajat berat merokok berdasarkan indeks Brinkman dengan derajat berat PPOK tahun 2010. Penelitian Akper Patria Husada Surakarta. Surakarta.

30. Ohno Y, Koyama H, Nogami M, Takenaka D, Matsumoto S, Obara M et al. 2008. Dynamic oxygen-enchanced MRI versus quantitative CT:

pulmonary functional loss assessment and clinical stage classification of smoking-relate COPD.AJR; 190:93-9.

31. Olafsdottir I.S. 2011. Inflammatory markers, respiratory disease, lung function and associated gender differences. Dissertation Faculty of medicine Uppsala University. Swedish.

32. PDPI. 2010. Pedoman diagnosis dan penatalaksanaan penyakit paru di Indonesia.

33. Pepys MB, Hirschfield GM. 2003. C-Reactive Protein: A Critical Update.

The Journal Of Clinical Investigation, Vol. 111, p. 1805-1811.

34. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2011. Penyakit paru obstruksi kronik, pedoman praktis diagnosis dan penatalaksanaan di Indonesia.

Jakarta: Indah offiset grafika; 1-86.

35. Pinto-Plata VM, Mullerova H, Toso JF, Feudjo-Tepei M, Soriano JB, Vessey RS, et al. 2006. C-reactive protein in patients with COPD, control smokers and non smokers. Thorax; 61:23-8.

36. Prestegard E. 2006. The future of point of care testing using C-reactive protein an ideal tool for diagnosis, prognosis dan therapy management.

Eropean endocrine review.

37. Purba M.Y. 2010. Profil penderita yang didiagnosa sebagai penyakit paru obstruksi kronik di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan, Rumah Sakit Umum Tembakau Deli Medan dan Rumah Sakit Pringadi Medan tahun 2010. Tesis. Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Medan.

38. Rahman I. & Macnee W. 1999. Lung glutathion and oxidative stress:

implications in cigarette smoke-induce airway disease. AJPL. 277:L1067-L1088.

39. Rebe K. F., Hurd s., Anzueto A., Bernest P. J., Buist S. A., Calvery P., Fukuchi Y., Jenkins C., Roisin R. R., Weel C. V. & Ziellinski J. 2007.

Global strategy for the diagnosis, management, and prevention of chronic obstructive pulmonary disease. Am J Respir Crit Care Med. 176: 532-555.

40. Rothkrantz-Kos S, Schmitz MPJ, Bekers O, Menheere PPCA, Dieijen-Visser.2002. High-sensitive c-reaktive protein methods examined. Clinical chemistry;48:359-62.

41. Saccone D, Asani F, Bornman L. Regulation of the vitamin D receptor gene by environment, genetics, and epigenetics. Gene 40273(2015)02,024:

1 -10.

42. Suradi.2007. Pengaruh rokok pada penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) tinjauan patogenesis, klinis dan sosial. Pidato pengukuhan guru besar.

Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Sebelas Maret. Surakarta.

43. Soeroto AY, Suryadinata, Hendarsyah. Penyakit paru obstruksi kronik. Ina J Chest Crit and Emerg Med Vol.1. 2014.

44. Tabrani R. 2010. Ilmu Penyakit Paru. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta; 3-8.

45. Thompson D, Pepys M.B, Wood S. P. 1999. The physiological structure of human C-reactive protein and its complex with phosphocholine.

Structure;7:169-77.

46. Toraldo D. M., Nuccio F.D. & Scoditti E. 2013. Systemic Inflammatory makers inpatients with obstructive airways disease. Prim Care Respir J;

20(x): xx-xx.

47. Torress JP, Cordoba-Lanus E, Lopez-Aguilar C, de Fuentes MM, de Gracini AM, Aguirre-Jaime A. 2006. C-reaktive protein levels and clinical important predictive outcomes in stable COPD patients. Eur Respir J; 27:

902-7.

48. Tsiligianni I., van der Molen. 2010. A systematic review of the role of vitamin insufficiencies and supplementation in COPD. Respiratory Research, 11:171.

49. Vestbo J, Hurd S, Agusti A, Jones P, Vogelmeier C, Anzueto A, et al.

2014. Global strategy for the diagnosis, management, and prevention of chronic obctructive pulmonary disease: GOLD executive summary. Am J Respir Crit Care Med.;187(4):347 - 65.2.

50. Vigushin D.M, Pepys M.B, Hawkins P.N. 2003. Metabolic and Scintigraphic Studies of Radioiodinated Human C-reactive Protein in Health and Disease. J. Clin. Invest.; 91:1351-7.

51. Wang Z, Hoy W. 2005. Population distribution of high sensitivity c-reactive protein values in aboriginal Ausralians: a comparison with other populations. J. Clinbiochem.; 11:1-7.

52. Yannick M. T. A., Dume V., Verhamme K. M. C., Aarnoudse L. H. J., Pottelberge G. R. V., Hofman A., Witteman C. M., Joos G. F., Brusselle G. G & Stricker H. C. 2009. C-Reactive Protein Levels, Haplotypes, and the Risk of Incident Chronic Obstructive Pulmonary Disease. Am J Respir Crit Care Med 179:375-382.

53. Young R.P, Hopkins R, Eaton T.E. 2009. Pharmacologic actions of statins.

Eur Respir Rev; 18: 114, 222-32.

54. Zitterman A, Pilz S, Hoffmann H, Marz W. 2016. Vitamin D and airway infection: a European perspective. Eur J Med Res. 21:14.

55. Zhou C, Assem M, Tay JC, Watkins PB, Blumberg B, Schuetz EG, et al.

2006. Steroid and xenobiotic receptor and vitamin D receptor crosstalk mediates CYP24 expression and drug-induced osteomalacia. J Clin Invest, 116:1703-12.

Lampiran 1

LEMBARAN PENJELASAN KEPADA CALON SUBJEK PENELITIAN AssalamualaikumWrWb

Selamat pagi Bapak/ Ibu/ Saudara/ SaudariYth

Saya dr. Katarina Julike saat ini sedang menjalani pendidikan Strata (S) 2 di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara dan saat ini sedang melakukan penelitian yang berjudul:

HUBUNGAN NILAI VOLUME EKSPIRASI PAKSA 1 (VEP 1) DENGAN KADAR 25(OH)VITAMIN D DAN hs-CRP PADA PPOK STABIL DI RSUP. H. ADAM MALIK MEDAN

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat hubungan kadar vitamin D dan hs-CRP dengan derajat obstruksi penyakit pada pasien PPOK.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat hubungan kadar vitamin D dan hs-CRP dengan derajat obstruksi penyakit pada pasien PPOK.