BAB 2 KAJIAN PUSTAKA
2.1.8 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Orientasi Masa
Ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi orientasi masa depan. Menurut Nurmi (1989) terdapat dua faktor yang mempengaruhi orientasi masa depan. Faktor-faktor tersebut adalah :
a. Faktor Internal Individu
Beberapa faktor ini adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu (internal). Faktor-faktor tersebut adalah :
Konsep diri
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Nurmi (1989) menemukan bahwa konsep diri memberikan pengaruh terhadap orientasi masa depan. Individu dengan konsep diri yang positif dan percaya dengan kemampuan mereka cenderung untuk lebih internal dalam pemikiran mereka mengenai masa depan dibandingkan individu dengan konsep diri yang rendah.
Konsep diri juga dapat mempengruhi penetapan tujuan. Salah satu bentuk dari konsep diri yang dapat mempengaruhi orientasi masa depan adalah diri ideal. Diri ideal –terdiri atas konsep individu mengenai diri ideal mereka yang berhubungan dengan lingkungannya dapat berfungsi sebagai motivator untuk dapat mencapai tujuan jangka panjang (Rauste-von Wright dalam Nurmi, 1989).
Bagian dari konsep diri yang cukup sering diteliti adalah self esteem. Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa remaja dengan self esteem yang tinggi
memiliki belief mengenai masa depannya yang lebih internal dan memiliki perencanaan yang lebih panjang dibandingkan individu dengan self esteem yang rendah (Nurmi, 1989).
Sense of Coherence
Sense of coherence adalah derajat dimana individu melihat dunianya sebagai sesuatu yang bisa dipahami, dapat diatur dan bermakna (Antonovsky; Lanz & Rosnati, 2002 dalam Amenike, 2008). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sense of coherence terbukti secara signifikan berkorelasi secara linear dan positif dengan orientasi masa depan.
Strategi Bertahan
Hasil penelitian Seginer (2000) adalah individu dengan strategi bertahan optimis memiliki orientasi masa depan dibidang sosial dan akdemis yang lebih tinggi dibandingkan individu dengan strategi bertahan pesimis. Individu yang memiliki strategi bertahan optimis, memiliki ekspektansi keberhasilan yang tinggi dan menghindari skenario yang membahas tentang kemungkinan kegagalan. Sementara individu dengan strategi bertahan pesimis memiliki ekspektansi keberhasilan yang rendah dan mempersiapkan diri dengan cara memikirkan dan merencanakan kejadian-kejadian yang mungkin muncul di masa mendatang.
Trait Kecemasan
Penelitian yang dilakukan oleh Zelenski dan Larsen (2002, dalam Palupi, 2007) menunjukkan hubungan antara nilai skor trait neuroticism dengan skor judgement terhadap kejadian yang akan terjadi di masa depan. Berdasarkan penelitian, individu
yang memiliki trait neuroticism (berkorelasi tinggi dengan trait kecemasan)
cenderung untuk mempersepsikan bahwa akan terjadi kejadian yang buruk di masa yang akan datang. Penelitian ini diperkuat oleh Palupi (2007), yaitu ada hubungan yang signifikan antara trait kecemasan dengan orientasi masa depan bidang karir. Hubungan antara dua variabel ini bersifat linear dan memiliki arah negatif. Artinya, semakin tinggi skor trait kecemasan individu maka semakin rendah nilai orientasi masa depan dibidang karir dan demikian sebaliknya.
b. Faktor Kontekstual
Berikut ini adalah faktor-faktor kontekstual yang dapat mempengaruhi orientasi masa depan :
Gender
Nurmi (1991, dalam McCabe & Barnett, 2000) berdasarkan tinjauan literatur ditemukan adanya perbedaan gender yang signifikan antara domain-domain pada orientasi masa depan, tetapi pola perbedaan yang muncul akan berubah seiring berjalannya waktu. Pada penelitian yang dilakukan oleh Nurmi (1991) ditemukan bahwa perempuan lebih berorientasi ke arah masa depan keluarga sedangkan laki-laki lebih berorientasi ke arah masa depan karir (McCabe & Barnet, 2000). Hal ini
sependapat dengan yang diungkapkan oleh Hurlock (1991), bahwa anak laki-laki biasanya lebih bersungguh-sungguh dalam hal pekerjaan dibandingkan dengan anak perempuan yang kebanyakan memandang pekerjaan sebagai pengisi waktu sebelum menikah. Anak laki-laki lebih menginginkan pekerjaan yang bermartabat tinggi dan bergengsi, sedangkan anak perempuan akan memilih pekerjaan yang memberikan rasa aman dan yang tidak banyak menuntut waktu (Hurlock, 1991).
Status Sosioekonomi
Kemiskinan dan status sosial ekonomi yang rendah berkaitan dengan perkembangan orientasi masa depan yang menyebabkannya menjadi terbatas (Friere, Gorman, & Wessman, 1980 ; Nurmi, 1991 dalam McCabe & Barnet, 2000) dan pesimistis (Voydenoff & Donnelly, 1990 dalam McCabe & Barnet, 2000). Sejalan dengan hal tersebut, penelitian yang dilakukan oleh Nurmi (1987, dalam Nurmi, 1991) menunjukkan bahwa individu yang memiliki latar belakang status sosial ekonomi yang tinggi cenderung untuk memiliki pemikiran mengenai masa depan karir yang lebih jauh dibandingkan individu dengan latar belakang sosial ekonomi rendah. Remaja dengan status ekonomi menengah lebih tertarik pada pendidikan, karir dan aktivitas waktu luang (Poole dan Cooney; Trommsdorff, dkk dalam Nurmi, 1991).
Teman SebayaDalam konteks ini, teman sebaya dapat mempengaruhi orientasi masa depan dengan cara yang bervariasi. Teman sebaya berarti teman sepermainan dengan jenjang usia yang sama dan berada pada tingkat perkembangan yang sama, dimana teman sebaya dapat saling bertukar informasi pada pemikiran mengenai tugas perkembangannya. Kelompok teman sebaya (peer group) juga memberikan individu kesempatan untuk membandingkan tingkah lakunya dengan temannya yang lain (Nurmi, 1991). Jadi, baik secara langsung maupun tidak langsung, teman sebaya memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap terbentuknya orientasi masa depan pada remaja.
Sejalan dengan hal tersebut, salah satu hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Malmberg (2001) mengenai Future Orientation in Educational and Interpersonal Context menunjukkan bahwa teman sebaya memiliki pengaruh yang signifikan terhadap orientasi masa depan pada bidang pendidikan.
Konteks Keadaan Lingkungan Tempat TinggalHasil dari beberapa penelitian menyatakan konteks atau keadaan lingkungan tempat tinggal individu mempengaruhi orientasi masa depan individu. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan selama 12 tahun oleh Liberska (2002, dalam Palupi, 2007) menyatakan bahwa perubahan keadaan sosial ekonomi di Polandia terbukti mengubah isi dan hierarki tujuan dan ketakutan remaja dari 3 generasi pada
tahun1987, 1991 dan 1999. Penelitian ini didukung oleh Artar (2002, dalam Palupi, 2007) yang menemukan perbedaan antara remaja Turki yang mengalami musibah gempa bumi dengan remaja yang tidak mengalami musibah.
Selain itu Moeliono dkk. (2002) dalam hasil penelitiannya mengenai gambaran mengenai orientasi masa depan pada remaja kota dan desa menyatakan bahwa ada perbedaan orientasi masa depan yang signifikan antara remaja kota dengan remaja desa.
Usia
Penelitian yang dilakukan oleh Seginer (2000) pada remaja wanita yang duduk di bangku sekolah menengah pertama, menengah atas dan kuliah menemukan terdapat perbedaan orientasi masa depan partisipan berdasarkan kelompok usia pada semua domain kehidupan prospektif (karir, keluarga dan pendidikan).
Jalur Pendidikan
Trommsdorff, 1979; Hurrelmann, 1987; Klaezinsky & Reese, 1991 (dalam Malmberg & Trempala, 1997) mengatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi orientasi masa depan adalah jalur pendidikan. Pendidikan ini dapat diterima individu melalui pengalaman di sekolah. Penelitian terakhir mengenai hal tersebut dilakukan oleh Amenike (2008) bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara iklim sekolah dengan orientasi masa depan dalam bidang karir pada siswa boarding school.
Budaya
Budaya merupakan salah satu faktor eksternal yang mempengaruhi orientasi
masa depan (Sundberg, 1983; Nurmi, in press dalam Malmberg & Trempala, 1997). Perbedaan budaya dari masing-masing individu membuat orientasi masa depan menjadi berbeda satu sama lainnya. Namun dikarenakan budaya terlalu luasnya cakupan dari budaya dan sulit untuk didefinisikan, maka dalam penelitian ini budaya yang dimaksud adalah suku bangsa.
Keterlibatan dalam Organisasi
Penelitian terakhir yang dilakukan oleh Palupi (2007) menunjukkan hubungan antara variabel keterlibatan dalam organisasi kemahasiswaan dengan orientasi masa depan dalam bidang karir. Hubungan antara keterlibatan organisasi kemahasiswaan dengan orientasi masa depan bidang karir dapat terjadi karena kesempatan yang dimiliki oleh individu yang terlibat aktif dalam organisasi kemahasiswaan memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk bertemu dengan orang lain dibandingkan dengan individu yang tidak terlibat dalam organisasi kemahasiswaan (Magolda dalam Montelongo, 2002 dalam Palupi, 2007).
Konteks Keluarga
Nurmi (1991) menjelaskan bahwa interaksi antara orang tua dan anak memegang peranan penting dalam orientasi masa depan anak. Interaksi ini memberikan pengaruh dengan cara: (1) Penetapan standar normatif, orang tua
mempengaruhi perkembangan minat, nilai dan tujuan hidup anak, (2) orang tua berperan sebagai contoh bagi anak dalam menyelesaikan masalah-masalah yang timbul dalam tugas perkembangan anak, (3) dukungan orang tua membantu anak mengembangkan sikap optimis terhadap masa depan anak. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Nurmi (1987, dalam McCabe & Barnett, 2000) menunjukkan bahwa iklim dalam keluarga merupakan salah satu faktor dan prediktor yang penting dalam orientasi masa depan pada anak. Berikut ini adalah beberapa hal di dalam keluarga yang dapat mempengaruhi orientasi masa depan pada remaja (Mc Cabe & Barnet, 2000) :
Hubungan Antara Remaja dengan Orang Tua
Hubungan antara remaja dengan orang tua memiliki pengaruh yang besar terhadap orientasi masa depan remaja, hal ini dikarenakan adanya pengaruh yang signifikan terhadap penyesuaian diri remaja (Phares & Compas, 1992 dalam McCabe & Barnet, 2000). Trommsdorff (1983, dalam McCabe & Barnet, 2000) melihat adanya keterlibatan orang tua dan menemukan bahwa remaja yang memandang adanya dukungan dan keterbukaan dari orang tua mereka akan mendapatkan orientasi masa depan yang lebih positif dari pada remaja yang kurang mendapatkan dukungan dari orang tua.
Seringnya penyelesaian konflik yang buruk antara figur dewasa berhubungan dengan peningkatan gejala internalisasi dan eksternalisasi (Grych, Seid & Fincham, 1992 dalam McCabe & Barnet, 2000), dan mungkin juga menyebabkan pandangan yang pesimis terhadap masa depan.
Gaya Pengasuhan.
Gaya pengasuhan mungkin juga memberikan pengaruh atas orientasi masa depan remaja. Baumrind & Black (1976, dalam McCabe & Barnet, 2000) menjelaskan tentang dua dimensi utama dari gaya pengasuhan, yang pertama adalah warmth (kehangatan) yaitu sejauhmana orang tua dapat menerima dan merespon segala sesuatu yang berhubungan dengan anak dan memusatkan segala sesuatunya pada anak, yang kedua adalah demandingness, yaitu sejauhmana orang tua mengatur anak-anak mereka dengan keras, penuh batasan dan berusaha mengontrol perilaku
anak-anak mereka. Sedangkan kombinasi antara warmth dan demandingness adalah
gaya pengasuhan authoritative (Maccoby & Martin, 1983 dalam McCabe & Barnet, 2000).
Aspek yang terdapat dalam konteks keluarga cukup banyak. Oleh karena itu, pada penelitian ini peneliti menggabungkannya kedalam suatu konteks yaitu iklim sosial keluarga dimana beberapa aspek di dalam keluarga masuk kedalamnya. Adapun definisi dan teori mengenai iklim sosial keluarga tersebut adalah sebagai berikut.