• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II: ATURAN HUKUM ODITUR MILITER DALAM MENANGANI

D. Aturan Hukum Oditur Militer Dalam Menangani

2. Faktor Internal

a. Labelisasi perempuan dengan kondisi fisik yang lemah cenderung menjadi anggapan objek pelaku kekerasan sehingga pengkondisian lemah ini dianggap sebagai pihak yang kalah dan dikalahkan. Hal ini sering kali dimanfaati laki laki untuk mendiskriminasikan perempuan sehingga perempuan tidak dilibatkan dalam berbagai peran strategis. Akibat labeling ini, sering kali laki laki memanfaatkan kekuatannya untuk melakukan kekerasan terhadap perempuan baik secara fisik, psikis, maupun seksual.

b. Sistem ekonomi kapitalis juga menjadin sebab terjadinya kekerasan terhadap perempuan. Dalam sistem ekonomi kapitalis dengan prinsip ekonomi cara mengeluarkan modal sedikit untuk mencapai keuntungan sebanyak banyaknya, maka memanfaatkan perempuan sebagai alat dan tujuan ekonomi akan menciptakan pola eksploitasi terhadap perempuan dan berbagai perangkat tubuh nya. Oleh karena itu perempuan menjadi komoditas yang dapat diberi gaji rendah atau murah.78

c. Tidak ada lembaga yang memberi layanan langsung (crisis center) yang memberi pendampingan psikologis dan hukum untuk korban kekerasan dalam rumah tangga.

d. Adanya Trauma di dalam jiwa seorang prajurit yang baru selesai melaksanakan tugas dinas di lapangan/perang, sehingga prajurit tersebut tidak dapat mengontrol emosi dari hati maupun fisik sehingga terlampiaskan amarah dan emosi kepada isterinya.

Model yang memiliki hubungan dengan kekerasan adalah :

a. Psychodinamyc model, terjadinya kekerasan disebabkan karena kurangnya

“mothering/ jejak ibu.” Seseorang yang tidak pernah dirawat atau diasuh

77 Ibid, Hal. 28

78Saifudien, Sekilas tentang KDRT, http://saifudiendjsh.blogspot.com/2012/02/sekilas-tentang-kdrt-perspektif-hukum.html,Diakses pada tanggal 10 September 2018,Pukul 23.25 Wib

oleh seorang ibu secara baik, maka dia tidak bisa menjadi ibu dan merawat anaknya sendiri;

b. Personality or chraracter trait model, hampir sama dengan psychodynamic, namun dalam hal ini tidak terlalu diperhatikan apa yang pernah dialami oleh orang tua sebagai pelaku kekerasan, tetapi menganggap bahwa ini akibat orang tua si anak yang belum cukup dewasa, terlalu agresif, frustasi/berkarakter buruk;

c. Social learning model, kurangnya kemampuan sosial yang ditunjukkan dengan perasaan tidak puas karena menjadi orang tua, merasa sangat terganggu dengan kehadiran anak, menuntut anak untuk selalu bersikap seperti orang dewasa.

d. Family structure model, yang menunjuk pada dinamikan antar keluarga yang memiliki hubungan kausal dengan kekerasan.

e. Enviromental stress model, yang melihat anak dan perempuan sebagai sebuah masalah multidimensional dan menempatkan “kehidupan yang menekan” sebagai penyebab utamanya. Jika ada berbahan faktor-faktor yang membentuk lingkungan manusia, seperti kesejahteraan, pendidikan yang rendah, tidak adanya pekerjaan, maka akan menimbulkan kekerasan pada anak;

f. Social-Psyhological model, dalam hal ini “frustasi” dan “stress” menjadi faktor utama dalam menyebabkan terjadinya kekerasan pada anak. Stres bisa terjadi karena berbagai sebab, seperti ; konflik rumah tangga, isolasi secara sosial, dan lain-lain;

g. Mental illness modela, kekerasan terjadi karena kelainan saraf, penyakit kejiwaan. 79

Kekerasan dalam rumah tangga merupakan suatu siklus atau lingkaran yang tidak terputus kecuali salah satu pihak mengakhirinya. Kebanyakan, orang beranggapan bahwa kekerasan yang dilakukan suami adalah, suatu kekhilafan sesaat.

Apalagi setelahnya suami meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi dan bersikap kembali mesra terhadap pasangannya. Hal inilah yang menyebabkan

79Ibid,

perempuan yang dianiaya mencoba untuk tetap bertahan. Namun ini terus saja dilakukan berulang-ualang, oleh karena itu perempuan harus dapat memahami dengan benar bagaimana siklus kekerasan dalam rumah tangga ini.

Kekerasan dalam rumah tangga dapat dipicu oleh adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Kekerasan dalam rumah tangga ini yang lazimnya laki-laki adalah sebagai pelaku, menganggap bahwa laki-laki memiliki superioritas terhadap perempuan didasarkan pada perbedaan pendapat pribadi, dan perbedaan pendapat ini sementara dan tidak dapat diandalkan.

B. Dampak Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Setiap tindakan pidana sudah pasti memiliki akibat atau dampak. Secara umum dampak kekerasan dalam rumah tangga yang menimpa isteri itu ada 2 yaitu:80

1. Dampak jangka pendek kekerasan dalam rumah tangga terhadap isteri.

Umumnya yang dimaksud dengan jangka pendek kekerasan adalah cidera fisik yang diderita oleh korban (luka-luka, patah tulang, kehilangan fungsi organ tubuh dan indera, keguguran kandungan, dan lain-lain), gejala sisa dibidang kesehatan dan psikologis (anxiestas, depresi, battered woman trauma syndroms, rape syndrome, alcohol and drugs, dan resiko melakukan bunuh diri, serta dampak terhadap pendidikan dan pertumbuhan anak, terutama bila dalam kasuskekerasan dalam rumah tangga). Kekerasan terhadap isteri juga dapat menimbulkan dampak kekerasan jangka panjang, terutama yang terjadiberulang-ulang dan berlangsung lama seperti pada kekerasan dalam rurnahtangga. Dampak kekerasan bisa ketidak harmonisan keluarga yang berakibatkepada terganggunya pertumbuhan dan perkembangan anak, Child abuse :cycle of violence”, gangguan perkembangan mental dan perilaku seksual dan lain-lain.

2. Dampak kekerasan jangka panjang.

Banyak penelitian yang telah membuktikan bahwa anak-anak yangtumbuh dari keluaga yang biasa dengan kekerasan terhadap isteri atau jugaterhadap

80 Ciciek Farha, Ikhtiar Mengatasi Kekerasan Dalam Rumah Tangga,(Jakarta: Lembaga Kajian Agama dan gender,1999), Hal. 34

anak-anak, akan merakukan perbuatan yang sama saat mereka menjadidewasa dan berumah tangga sendiri. Anak raki-laki belajar dari ayahnya dalam melakukan kekerasan terhadap isterinya, sedangkan anak perempuan berajar dariibunya untuk menjadi korban kekerasan. Masyarakat luas telah menerima teoribahwa kekerasan adalah perilaku yang diperoleh dari belajar dan bersifat siklik.Laki-laki yang tumbuh dari keluarga dengan kekerasan akan lebih mengalamikesulian penyesuaian dan manifes menjadi masalah perilaku.

Adanyapertengkaran dan kekerasan yang dilakukan orang tuanya selama ia kanak-kanakmerupakan prediksi yang bermakna untuk timbulnya suatu kejahatan orang padasaat dewasa kelak, seperti penyerangan, percobaan perkosaan, perkosaan,percobaan pembunuhan, penculikan dan pembunuhan, tetapi tidak prediktif untuk ke atasan terhadap barang/properti.

Selanjutnya menurut Rika Saraswati, dampak lain yang dialami oleh korbankekerasan dalam rumah rumah tangga antara lain :81

a. Dampak psikologi yaitu adanya rasa takut yang dialami oreh korban.

Rasa takut tersebut mengendalikan perilaku nya dan mengenai segala tindak tanduknya,bahkan ketakutan dapat menganggu pola tidurnya memunculkan insomnia danmirnpi-mimpi buruk. Gangguan tidur dapat menimbulkan ketergantungan kepadaobat tidur dan dan obat penenang.

pasanganya dapat mengancam keselamatandirinya bahkan akan mengancam jiwanya, karau sampai ia berusaha membukamulut atau bila ia berusaha meninggalakan ielaki itu. Dengan dasar dominasiperasaan rasa takut, respon dan pengaraman psikologis yang sering muncur dari korban adalah kekerasan domestik adalah :

1. Ketakutan bahwa membicarakan kekerasan akan membuatnya dalam situasiyang lebih buruk.

2. Kurangnya informasi akurat mengenai apa yang sesungguhnya terjadipadanya siapa yang sesungguhnya bermasalah dan menjadi korban.

81 Rika Saraswati, Perempuan dan Penyelesaian Kekerasan Dalam Rumah Tangga, (Bandung:PT.Citra Aditya Bakti, 2006), Hal.24-26

3. Kebutuhan untuk meyakini itu tidak seberat apa yangdibayang:kan adalah cara beradaptasi terhadap kekerasan yang dialami sampai ia siap menghadapirealitas dan mampu mengambil tindakan-tindakan pengaman.

4. Perasaan maru dan kebingungan daram menghadapi kekerasan.

5. Keyakinan bahwa ia bertanggung jawab atas kejadian tersebut.

b. Terisolasi.

Isteri korban kekerasan memiliki akses sangat sedikit akan jaringan dan dukungan persoalan kekerasan tersebut. Ketakutannya bahwa orang-orang yang disayanginya akan menjadi sasaran dan berada dalam bahaya, membuatnya menutup murutnya.Rasa malu dan kebingungan menghadapi pemukulan-pemukulan membuatnya menjaga jarak dari orang lain. sedikitnya kenalan dan teman-teman yang mengenalinya mebuat jarang berhubungan dengan orang lain dan adanya anggapan tabu memberitahukan teror yang dihadapinya dirumahnya sendiri. Jika ia berupaya berhubungan dengan orang lain, pasangan (suami) akan berusaha mematahkan usahanya dengan mengendalikan aktivitasnya dan membatasi kontaknya dengan orang lain diluar perkawinan. Ia mungkin secara sengaja bersikap kasar pada keluarga dan teman-teman isteri tersebut. Isteri korban jarang punya hubungan positif dengan tempat-tempat yang dapat menyediakan pekekerjaan yang baik tempat-tempat penitipan anak, ataupun aktivitas-aktivitas terapetik, rekreasi dan pendidikan yang dapat meningkatkan harga dirinya. Isolasi juga menyebabkan sangat sedikit memperoleh umpan balik mengenai kondisinya, sesuatu hal yang sesungguhnya dapat mengubah persepsinya.

c. Perasaan tidak berdaya.

Isteri korban kekerasan sering kali berada daram situasi learned helpnessness, yaitu mereka berajar bahwa upaya-upaya untuk mengendalikan, menghindariatau melarikan diri dari situasinya ternyata tidak berhasil,. Akhirnya yang munculadalah perasaan yang tidak berdaya (Powerlessness) dan keyakinan bahwa tiadasatupun yang

dilakukannya untuk dapat mengilustrasikan gejala di atas. Semakinlama si isteri berada dalam situasi kekerasan, semakin lama waktu dibutuhkanuntuk mengatasi perasaim tidak berdaya.

d. Menyajahkan diri.

Isteri korban kekerasan daram rumah tangga sama seperti kita dan orang-oranglain, sering mempercayai mitos-mitos tentang kekerasan dalam hubungan intimdalam nrmah tangga.

e. Terhadap kesehatan isteri.

Isteri ditanya dengan serangkaian pertanyaan tentang kesehatan fisik dan mental.Pertama adalah pertanyaan ulnurn, dimana isteri diminta untuk menilai kesehatan mereka apakah sempurna, bagus, sedang, atau buruk.

umumnya isteri yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga itu akan mengeruh sakit, dibagianperut, wajah, tangan dan lebih fatal lagi dapat memperngaruhi kesehatan alat-alatreproduksi dan lain-lain. Sebaliknya bagi isteri yang tidak mengalami kekerasandalam rumah tangga akan merasa kesehatannya baik-baik saja.82

Kekerasan Dalam Rumah Tangga di wilayah Peradilan Militer Medan dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:

Tabel Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Tentara Nasional Indonesia Tahun 2013-2018 Di Oditurat Militer I-02 Medan :

TAHUN KASUS NAMA LAMA DITAHAN

2013 2 Kasus - Praka Asep Riyanto - Letda Bottor Josua

Lumban

- Penjara 6 Bulan - Penjara 4 Bulan

2014 4 Kasus - Lettu Akhmad Yani - Serma Anju S - Serma Sukresno

- Penjara 4 Bulan - Penjara 2 Bulan - Putus NO

82Ibid, Hal.28

- Pratu Herbin S - Tidak Ditahan,

2018 2 Kasus - Koptu Yayan Supriatna - Serma Suparno

- Penjara 8 Bulan

- Bebas dari dakwaan oditur

# 1.1 Sumber Data dari Kantor Oditurat Militer I-02 Medan

Kesimpulan tabel diatas menunjukkan data kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga yang terjadi pada Tahun 2013-2018 mengalami kenaikan dan penurunan dari setiap tahunnya.Penulis menganalisa bahwa adanya Kekerasan dalam rumah tangga yang dialami oleh anggota militer dikarenakan kurangnya pembinaan/perhatian yang baik dari atasan langsung terhadap keluarga anggotanya, serta minimnya sosialisasi mengenai dampak dari Kekerasan Dalam Rumah Tangga di wilayah Lingkungan Militer. Sehingga, banyak Prajurit yang belum secara lahir bathin untuk membentuk keluarga yang bahagia,rukun, sejahtera di dalam kehidupan berumah tangga. Dalam Pasal 1 Undang-undang No.1 Tahun 1974 menyatakan perkawinan adalah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluara (Rumah Tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

BAB IV

PERANAN ODITUR MILITER DALAM MENANGANI KASUS TINDAK PIDANAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA YANG DILAKUKAN OLEH ANGGOTA TENTARA NASIONAL INDONESIA

A.Penyidik Militer/ Oditur Militer

Penyidik Militer (ABRI) adalah atasan yang berhak menghukum, Polisi Militer tertentu, dan Oditur yang diberi wewenang khusus oleh Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1997 untuk melakukan penyidikan. Sedangkan penyidikan berarti serangkaian tindakan penyidik militer (ABRI) dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1997 untuk mencari serta mengumpulkan bukti-bukti yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana yang terjadi guna menemukan tersangkanya (Pasal 1 angka 16).

Penyidik Militer (Pasal 69) terdiri dari :83 1. Atasan Yang Berhak Menghukum

Atasan langsung yang mempunyai wewenang untuk menjatuhkan hukuman disiplin menurut ketentuan peaturan perundang-undangan yang berlaku dan berwenang melakukan penyidikan (angka 9). Sedangkan yang dimaksud dengan Atasan Langsung adalah atasan yang mempunyai wewenang komando langsung terhadap bawahan yang bersangkutan (Pasal 1 angka 8 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 1997). Pasal 10 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 1997, adapun Atasan yang berhak menghukum itu secara berjenjang adalah sebagai berikut :

a. Ankum84 yang berwenang penuh

Berwenang untuk menjatuhkan semua jenis hukuman disiplin kepada semua prajurit yang berada dibawah wewenang komandonya, seperti :

1. Teguran;

83 Darwan Prinst, Op.cit Hal 39

84 UndangUndang Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer yang dimaksud Ankum adalah atasan langsung yang mempunyai wewenang untuk menjatuhkan hukuman disiplin menurut ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan berwenang melakukan penyidikan berdasarkan Undang-undang ini, Berdasarkan Pasal 1 angka 9.

2. Penahanan Ringan (paling lama 14 (empat belas)hari ); dan 3. Penahanan Berat (paling lama 21 (dua puluh satu) hari.

b. Ankum yang berwenang terbatas

Berwenang menjatuhkan semua jenis hukuman disiplin kepada setiap Prajurit yang berada dibawah wewenang Komandonya kecuali terhadap Perwira seperti :

1. Teguran;

2. Penahanan Ringan (paling lama 14 (empat belas)hari ); dan 3. Penahanan Berat (paling lama 21 (dua puluh satu) hari.

c. Ankum Berwenang Sangat Terbatas

Berwenang untuk menjatuhkan hukuman disiplin kepada setiap Bintara dan Tamtama yang berada dibawah wewenang komandonya, seperti :

1. Teguran; dan

2. Penahanan Ringan (paling lama 14 (empat belas)hari ); dan

Menurut Pasal 12 ayat (1) Undang-Undang Nomor 26 Tahun 1997 atasan yang berhak menghulum itu berwenang untuk :

1) Melakukan atau memerintahkan melakukan pemeriksaan terhadap Prajurit yang berada dibawah wewenang komandonya;

2) Menjatuhkan hukuman disiplin terhadap Prajurit yang berada dibawah wewenang komandonya;

3) Menunda pelaksanaan hukuman disiplin yang telah dijatuhkan.

d. Ankum Atasan

Adalah atasan langsung dari Ankum yang menjatuhkan hukuman disiplin (Pasal 1 angka 11 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 1997) yang berwenang :85

1) Menunda pelaksanaan hukuman;

2) Memeriksa dan memutus pengajuan keberatan; dan 3) Mengawasi dan megendalikan Ankum bawahannya.

85 Darwan Prinst, Op.cit, Hal 41

Tujuan kewenang-wenangan yang diberikan oleh undang-undang dilaksanakan secara adil, bijaksana dan tepat.

Sistem peradilan pidana86 yang terdapat pada Undang-Undang Peradilan Militer bekerja dalam komponen dan sub-sub sistem yang terdiri dari Atasan Yang Berhak Menghukum (ANKUM), Perwira Penyera Perkara (PAPERA), Polisi Militer (PM), Oditur Militer (OTMIL), Hakim Militer (KIMIL), dan Petugas Lembaga Pemasyarakatan Militer (Masmil).Penyelesaian pelanggaran hukuman disiplin Prajurit sesuai Pasal 13 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 1997 dilakasanakan melalui pemeriksaan, penjatuhan hukuman disiplin dan pencatat dalam buku hukuman. Pemeriksaan dilakukan oleh Ankum, Perwira, atau Bintara (Pasal 14) yang mendapat perintah dari Ankum, atau Pejabat lain yang berwenang. Untuk itu pemeriksa berwenang memanggil secara resmi seorang Prajurit yang di duga melakukan pelanggaran disiplin Prajurit. Selain itu pemeriksa juga berwenang meminta keterangan para saksi dan mengumpulkan alat-alat bukti lainnya.

Pemeriksaan dilakukan secara langung tanpa paksaan (Pasal 16 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 1997), dan hasilnya dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan itu dan alat-alat bukti lainnya disatukan dalam berkas Perkara Disiplin dan dilaporkan kepada Ankum.

Setelah menerima berkas Perkara Disiplin, Ankum wajib segera mengambil keputusan untuk menjatuhkan atau tidak menjatuhkan hukuman disiplin. Putusan itu diambil setelah mendengar pertimbangan staf dan/atau Atasan langsung pelanggar yang bersangkutan. Untuk itu Ankum tidak boleh menjatuhkan hukuman, apabila tidak sepenuhnya yakin tentang dapat dihukumnya pelanggarnya. Atau apabila Ankum mengambil keputusan untuk tidak menjatuhkan hukuman.

Ankum wajib membuat catatan dalam berkas perkara disiplin yang menyatakan, bahwa yang bersangkutan tidak dijatuhi hukuman (Pasal 17 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 1997). Sementara apabila Ankum mengambil keputusan untuk menjatuhkan hukuman disiplin, maka penjatuhan hukuman disiplin

86 Koerniatmanto Soetoprawiro, Sistem Peradilan Pidana Indonesia, (Malang:Setara Press,2015), Hal.18

dilaksanakan dalam sidang disiplin. Untuk menentukan jenis dan lamanya hukuman disiplin, Ankum mengusahakan terwujudnya keadilan di samping efek jera serta memperhatikan keadaan pada waktu pelanggaran dilakukan, kepribadian, serta tingkah laku pelanggar sehari-hari. Keputusan hukuman disiplin dituangkan dalam surat keputusan hukuman disiplin.87

Pasal 20 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 1997 hukuman disiplin dilaksanakan segera setelah dijatuhkan oleh Ankum. Hari penjatuhan hukuman berlaku berlaku sebagai hari pertama dari waktu hukuman yang ditentukan, kecuali jika pelaksanaan hukumannya hari itu di tunda, dan waktu hukuman berakhir pada waktu apel pagi hari berikutnya dari terakhir hukuman yang dijatuhkan. Hukuman disiplin berupa penahanan untuk Perwira dilaksanakan ditempat kediamaan, kapal, mes, markas, kemah atau tempat lain yang ditunjuk oelh Ankum. Sedangkan hukuman disiplin berupa penahanan untuk Bintara dan Tamtama dilaksanakan dibilik atau tempat lain yang ditunjuk oleh Ankum (Pasal 21 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 1997).

Bagi terhukum Disiplin yang sakit dan dirawat diluar tempat penahanan pelaksanaan hukukmnya ditunda (Pasal 22). Sementara dalam hal pelaksanaan hukuman disiplin berupa penahanan ringan, maka terhukum disiplin dapat dipekerjakan diluar tempat menjalani hukuman. Sedangkan dalam hal pelaksanaan hukuman disiplin berupa penahanan berat Terhukum hukuman disiplin tidak dapat dipekerjakan di luar tempat menjalani hukuman (Pasal 23). Hukuman disiplin dicatat dalam buku hukuman dan buku data personil yang bersangkutan.

Keberatan atas hukuman disiplin dapat diajukan, baik sebagian atau seluruh perumusan alasan hukuman, jenis, dan/atau berat rigannya hukuman disiplin yang dijatuhkan. Pengajuan keberatan dilakukan secara tertulis, sopan, pantas dan diajukan secara hierarkis. Dalam pengajuan keberatan tersebut Terhukum dapat mengajukan 1 (satu) atau 2 (dua) orang Perwira dalam kesatuannya untuk memberikan nasihat dengan persetujuan Ankum. Keberatan diajukan kepada Ankum

87 Darwan Prinst, Op.cit, Hal.42

Atasan melalui atasan langsung dalam tenggang waktu 4 (empat) hari setelah hukuman dijatuhkan.

Atasan dari Ankum wajib menerima dan meneruskan pengajuan keberatan itu kepada Ankum Atasan. Keberatan itu tidak dapat dicabut kembali, kecuali atas persetujuan Ankum Atasan. Ankum Atasan setelah menerima keberatan wajib segera mengambil keputusan, berupa menolak atau mengabulkan seluruh atau sebagian keberatan yang diajukan. Apabila keberatan ditolak seluruhnnya, maka Ankum Atasan menguatkan putusan Ankum. Sedangkan bila keberatan diterima seluruhnya, maka Ankum Atasan membatalkan putusuan Ankum. Atau dalam hal keberatan ditolak atau diterima sebagian, maka Ankum Atasan mengubah keputusan Ankum (Pasal 27 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 1997). Apabila terhukum Disiplin tidak menerima keputusan Atasan tersebut, maka ia dapat mengajukan keberatan kepada Ankum Atasan dari Ankum yang memutuskan keberatan. Keberatan harus diajukan dalam tenggang waktu 2 (dua) hari terhitung setelah keputusan terhadap keberatan yang diajukan tersebut diberitahukan. Sementara keputusan hukuman disiplin yang dijatuhkan oleh Penglima (Pasal 30) merupakan keputusan terakhir. Artinya tidak dapat diajukan keberatan atasnya.

Pengajuan keberatan tidak mengakibatkan penundaan pelaksanaan hukum disiplin yang akan atau sedang dijalankan, kecuali atas perintah Ankum atau Ankum Atasan (Pasal 30). Tindak pidana yang dilakukan oleh Prajurit menjadi Kewenangan Peradilan Militer untuk memeriksanya. Oleh karena itu, tidak boleh dijatuhkan hukuman disiplin88 bersama dengan pidana yang akan atau sudah dijatuhkan (Pasal 32). Demikian juga terhadap pelanggaran yang diancam dengan pidana, denda, gugur karena pembayaran maksimum denda secara sukarela. Dengan demikian, terhadap pelaku tidak boleh dijatuhi hukuman disiplin (Pasal 32). Penjatuhan hukuman disiplin tidak menghapuskan tuntutan pidana atau gugatan perkara-perkara lainnya (ayat (3)).89

88 Ahmad Ali, Menguak Tabir Hukum, (Jakarta:Chandra Pratama,1996), Hal.259

89 Darwan Prinst, Op.cit.44

Hak menjatuhkan hukuman disiplin (ayat (40) gugur karena kedaluarsa setelah 6 (enam) bulan terhitung sejak hari Ankum :

a. Menerima laporan pelanggaran disiplin atau menerima Berkas Berita Acara Pemeriksaan;

b. Menerima Surat Keputusan Penyelesaian menurut Hukum Disiplin Prajurit dan Perwira Penyerah Perkara (Pepera);

c. Menerima penyerahan berkas perkara dari Hakim pada pengadilan di lingkungan Peradilan Militer.

Menjalani hukaman disiplin berupa penahanan (Pasal 33) dianggap sebagai tugas. Setiap Perwira mendapt cukup petunjuk untuk menerangkan bahwa seorang bawahan telah bersalah melakukan pelanggaran hukum disiplin Prajurit yang berat berwenang melakukan atau memerintahkan penahanan. Sementara apabila dipandang perlu dan wajib segera melaporkan kepada Ankum yang membawahkan langsung pelanggar penahanan itu paling lama 2 x 24 jam, dan bawahan tersebut wajib mematuhi penahanan itu (Psal 34). Sementara bagi seorang Prajurit yang berulang-ulang melakukan pelanggaran hukum disiplin Prajurit dan/atau nyata-nyata tidak mempedulikan segala hukuman disiplin yang dijatuhkan, sehingga dipandang tidak patut lagi dipertahankan sebagai Prajurit (Pasal 35) maka Prajurit demikian diberhentikan dengan hormat dari dinas keprajuritan.

2. Polisi Militer dan Oditur

Penyidik (Pasal 71) mempunyai wewenang : a. Menerima Laporan atau Pengaduan

Laporan (Pasal 1 angka 14) adalah pemberitahuan yang disampaikan oleh seseorang karena hak atau kewajibannya berdasarkan undang-undang kepada pejabat yang berwenang tentang telah atau sedang atau diduga akan terjadinya peristiwa pidana.

Sedangkan pengaduan (Pasal 1 angka 15)adalah pemberitahuan disertai permintaan oleh pihak yang berkepentingan kepada pejabat yang berwenang

untuk menindak menurut hukum seseorang yang telah melakukan tindakan pidana aduan yang merugikan. 90

b. Melakukan tindakan pertama pada saat dan ditempat kejadian.

Adapun yang dimaksud dengan tindakan pertama pada saat kejadian atau ditempat kejadian adalah melakukan tindakan-tindakan yang dapat dilakukan pada saat itu atau ditempat kejadian. Misalnya :

1. Menangkap pelaku;

2. Mengamankan alat-alat bukti dan barang-barang bukti;

3. Mengamankan lokasi kejadian.

c. Mencari keterangan dan barang bukti91.

Maksudnya mencari informasi yang dapat membuat terang suatu kejahatan yang telah terjadi. Sedangkan barang bukti adalah alat-alat yang dipergunakan melakukan tindak pidana itu atau barang-barang yang diperoleh dari kejahatan itu.

d. Menyuruh berhenti seseorang

Maksudnya menyuruh berhenti seseorang yang diduga sebagai Tersangka dan memeriksa tanda pengenalnya.

e. Melakukan upaya paksa92 1. Penangkapan;

2. Penggeledahan;

3. Penahanan;

4. Penyitaan; dan

5. Pemeriksaan surat-surat.

f. Mengambil sidik jari dan memotret seseorang

g. Memanggil seseorang untuk didengar dan didengar sebagai Tersangka atau saksi. Dalam perkara desersi yang Tersangkanya tidak ditemukan cukup memeriksa saksi yang ada dan pemberkasan perkaranya tidak terhalang dengan tidak adanya pemeriksaan Tersangka.

90 Ibid,

91 Undang – Undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, Pasal 183.

92 Nikolas Simanjuntak, Acara Pidana Indonesia Dalam Sirkus Hukum, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2009), Hal. 77.

h. Meminta bantuan ahli

Penyidik dapat meminta bantuan seseorang ahli yang diperlukan dalam

Penyidik dapat meminta bantuan seseorang ahli yang diperlukan dalam

Dokumen terkait