BAB II: ATURAN HUKUM ODITUR MILITER DALAM MENANGANI
C. Prosedur Penyerahan Kasus Kekerasan Dalam Rumah
Undang-undang No. 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer, maka tugas Oditur Militer pada dasarnya sama dengan tugas-tugas yang dilakukan oleh Jaksa pada Pengadilan Negeri. Akan tetapi walaupun banyak persamaannya, masih pula terdapat perbedaannya sebagaimana diuraikan di bawah ini.57
Ketentuan KUHAP wewenang Jaksa untuk mengadakan pemeriksaan permulaan/penyidikan pindah seluruhnya ke tangan Kepolisian Negara, sedangkan menurut ketentuan Hukum Acara Pidana Militer hal itu dimungkinkan sesuai dengan bunyi pasal-pasal berikut ini:58
Pasal 69
Penyidik adalah
a. Atasan yang berhak menghukum b. Polisi Militer; dan
c. Oditur
Pasal 124 ayat (3)
Apabila hasil penyidikan ternyata belum cukup, Oditur melakukan penyidikan tambahan untuk melengkapi atau mengembalikan berkas perkara kepada Penyidik disertai petunjuk tentang hal-hal yang harus dilengkapi.
Akan tetapi tidak demikian halnya di bidang penahanan, maka Oditur tidak mempunyai wewenang sebagaimana Jaksa Pada Pengadilan Negeri, hal ini dapat dilihat bunyi pasal 78 yaitu:59
56 Ibid, Hal.156
57 Beni Ahmad Saebani, Metode Penelitian Hukum, (Bandung: CV. Pustaka Setia,2009),Hal.
57
58 Moch.Faisal Salam,Op. cit,Hal.140
59 UU No.31 Tahun 1997 Tentang Peradilan Militer, Pasal 23.
“Untuk kepentingan penyidik Atasan yang berhak menghukum dengan surat keputusannya, berwenang melakukan penahanan tersangka untuk paling lama dua puluh hari”.
Sedangkan Jaksa di lingkungan peradilan umum, masih mempunyai wewenang seperti diatur dalam Pasal 25 KUHAP yaitu:
(1) Perintahpenahanan yang diberikan oleh penuntut umum sebagaimana dimaksud Pasal 20, hanya berlaku paling lama dua puluh hari.
(2) Jangka waktu sebagaimana tersebut pada ayat (1) apabila diperlukan guna diperpanjang oleh ketua pengadilan negeri yang berwenang untuk paling lama tiga puluh hari.
(3) Setelah waktu lima puluh hari tersebut, penuntut umum harus sudah mengeluarkan tersangka dari tahanan demi hukum.
Dalam hukum acara pidana militer, Oditur atau Polisi Militer, hanya dapat mengusulkan kepada Atasan yang berhak menghukum agar tersangka ditahan.
Perbedaan selanjutnya adalah dalam hal penyerahan perkara ke Pengadilan, dimana di dalam KUHAP Jaksa di lingkungan peradilan umum mempunyai wewenang untuk menyerahkan perkara ke pengadilan, serta menutup perkara demi hukum. Sedangkan Oditur pada Pengadilan Militer tidak mempunyai wewenang untuk menyerahkan secara langsung suatu pidana ke Pengadilan Militer tanpa melalui Oditurat Militer.
Oditurat Militer hanya mengusulkan kepada Atasan Yang Berhak Menghukum bahwa suatu perkara pidana harus diserahkan ke Pengadilan Militer atau ditutup demi hukum, dan mempersiapkan Surat Penyampingan Perkara, kalau perkara itu harus dikesampingkan.
Setelah surat-surat tersebut diatas disetujui oleh Atasan Yang Berhak Menghukum, Oditur segera melaksanakan. Kalau suatu perkara pidana disetujui untuk diserahkan ke Pengadilan Militer, maka seterima Surat Keputusan Penyerahan perkara, maka Oditurat Militer segera melimpahkan perkara tersebut ke Pengadilan Militer yang berwenang.
Pengadilan Militer setelah menerima surat pelimpahan perkara dari Atasan Yang Berhak Menghukum melalui Oditurat Militer, maka Kepala Pengadilan Militer memperlajarinya seperlunya, kemudian menetapkan Hari Sidang (TAPSID),
kemudian TAPSID tersebut dikirimkan kepada Oditurat Militer yang berwenang.
Kemudian kepala Oditurat Militer menujuk Ormil yang akan menangani perkara tersebut berikut berkas perkaranya.
Ormil yang diserahkan tuga suntuk menangani perkara yang bersangkutan guna keperluan penyidangan mempersiapkan dan melakukan kegiatan-kegiatan:
a. Pemanggilan terdakwa untuk pemberitahuan Penetapan Hari Sidang dan Pembacaan Surat Dakwaan, serta mengadakan pemanggilan kepada saksi-saksi.
b. Selain Surat Dakwaan yang dibacakan kepada terdakwa, dibacakan pula surat Keputusan Penyerahan Perkara (Skepperaa) Surat Penetapan Hari Sidang (TASPID), setelah dibacakan kepada Terdakwa dibuat berita acaranya, kemudian ditandatangani oleh terdakwa.
c. Mempersiapkan barang bukti/surat-surat bukti guna diperlihatkan dalam sidang.
Oditur Militer yang menangani suatu perkara pidana, duduk dipersidangan selaku penuntut umum, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64. Yaitu :
“Oditurat Militer mempunyai tugas dan wewenang melakukan penuntutan suatu perkara pidana”60
1. Proses Pelimpahan Perkara
Tindakan menyerahkan suatu perkara pidana ke sidang Pengadilan adalah suatu hal yang penitng dalam hukum acara-acara pidana, karena dalam peristiwa ini terjadi beralihnya pimpinan dan pejabat yang berwenang mengadakan pemeriksaan, dimana di dalam proses peradilan ini nasib seorang Tersangka ditentukan, apakah ia bersalah atau tidak.
Penyerahan perkara kepada pengadilan militer dilakukan oleh Perwira Penyerah Perkara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 122 yaitu:
(1) Perwira Penyerah Perkara adalah:
a. Panglima;
b. Kepala Staf Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat.
Kepala Staf Tentara Nasional Angkatan Laut.
Kepala Staf Tentara Nasional Angkatan Udara.
60Moch.Faisal Salam ,Op. cit,Hal.142
(2) Perwira Penyerah Perkara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat menunjuk komandan/kepala kesatuan bawahan masing-masing paling rendah setingkat dengan Komandan Resort Militer, untuk bertindak selaku Perwira Penyerah Perkara.
Telah diuraikan di atas bahwa Oditur sesudah menerima hasil penyidikan dari Penyidik segera mempelajari dan meneliti apakah hasil penyidik sudah lengkap atau belum. Apabila dalam hal persyaratan formal kurang lengkap, Oditur meminta supaya Penyidik segera melengkapinya. Jikalau hasil penyidik ternyata belum cukup, Oditur melakukan penyidikan tambahan untuk melengkapi atau mengembalikan berkas perkara kepada Penyidik disertai petunjuk tentang hal-hal yang dilengkapi.61
Setelah diadakan penelitian tersebut di atas, Oditur dapat mengambil kesimpulan apakah suatu perkara diselesaikan melalui Pengadilan Militer atau diluar Pengadilan Militer.Kesimpulan Oditur tersebut diuraikan dalam pendapat hukum yang diajukan kepada Perwira Penyerah Perkara. Apabila Perwira Penyerah Perkara menentukan bahwa perkara akan diselesaikan di luar Pengadilan dalam lingkungan peradilan militer atau pengadilan dalam lingkungan Pengadilan Umum, sedangkan Oditur berpendapat bahwa untuk kepentingan peradilan perkara perlu diajukan ke Pengadilan dalam lingkungan peradilan militer atau Pengadilan dalam lingkungan peradilan umum, dan apabila Oditur tetap pada pendiriannya, Oditur mengajukan permohonan dengan disertai alasan-alasannya kepada Perwira Penyerah Perkara tersebut, supaya perbedaan pendapat diputus oleh Pengadilan Militer Utama dalam sidang (Pasal 127)
Perwira Penyerah Perkara setelah menerima permohonan dari Oditur tersebut wajib mengirimkan permohonan tersebut dan berkas perkara yang disertai dengan pendapatnya kepada Pengadilan Militer Utama dan sesudah mendengar pendapat Oditur Jenderal di persidangan Pengadilan Militer Utama, dengan putusannya Hakim menyatakan Perkara tersebut diajukan atau tidak diajukan ke Pengadilan dalam lingkungan peradilan militer atau Pengadilan dalam lingkungan peradilan umum.
Apabila Pengadilan Militer Utama memutuskan perkara tersebut harus diajukan ke Pengadilan dalam lingkungan peradilan militer atau Pengadilan dalam lingkungan
61Moch.Faisal Salam ,Op. cit,Hal.143
peradilan umum, Perwira Penyerah perkara segera melaksanakan penyerahan perkara tersebut sesudah menerima berkas perkara yang bersangkutan dari Pengadilan Militer Utama. Penyerahan perkara oleh Perwira Penyerah Perkara kepada Pengadilan dilaksanakan oleh Oditur dengan melimpahkan berkas perkara kepada Pengadilan yang berwenang dengan disertai surat dakwaan.62
Penentuan terakhir mengenai perkara pidana dari seorang anggota prajurit, apakah akan diserahkan ke pengadilan atau tidak, hal itu tidaklah terletak pada tangan Oditur, walaupun pada hakekatrnya Oditur yang mempersiapkan segala sesuatu perkara hingga selesai. Hal tersebut tegas ditentukan dalam Pasal 123 yaitu:
(1) Perwira Penyerah Perkara berwenang:
1. Menyerahkan perkara kepada Pengadilan yangwenang untuk memeriksa dan mengadili;
2. Menentukan perkara untuk diselesaikan menurut Hukum Disiplin Prajurit; dan
3. Menutup perkara demi kepentingan hukum atau demi kepentingan umum/militer.63
Walaupun sebelumnya Komandan menentukan suatu perkara pidana meminta pendapat dari Oditur terlebih dahulu, tetapi karena sifatnya suatu pendapat/nasihat, maka hal tersebut tidak mengikat para Komandan, akhirnya Komandan sendiri yang menentukan, karena sebagai komandan ia bertanggung jawab memelihara ketertiban dan terlaksananya tujuan – tujuan operasional Angkatan/kesatuannya.Bila ditinjau dari azas komando tunggal atau Unity of command maka Pasal 127 tersebut adalah pasal tidak konsekwen terhadap azas tersebut diatas.
Pasal itu memberikan kesempatan adanya pertentangan (konflik) antara putusan Komandan dengan pendapat Oditur yang akhirnya setelah melalui prosedur yang berlaku. Ketepatan untuk menyerahkan perkara Pidana seorang Anggota Prajurit adalah Pengadilan Militer Utama yaitu instansi yang tidak termasuk rantai Komando (chain of comand) dan berada diluar pertanggung jawab Komandan
“Comand reposibility” dari organisasi militer.
62 M. Yahya Harahap, Pembahasan permasalahan dan penerapan KUHAP jilid 1, (Jakarta:Sinar Grafika,1997), Hal. 414.
63 UU No.31 Tahun 1997 Tentang Peradilan Militer, Pasal 123.
Prakteknya, kesempatan untuk mengajukan permohonan itu jarang/tidak pernah sama sekali dipergunakan oleh Jaksa Tentara atau Oditur Militer yang bersangkutan. Hal tersebut didasarkan pada pertimbangan, bahwa mungkin yang bersangkutan, karena kebijaksanaannya ditentang oleh bawahannya, sehingga unsur subyektif dari komandan akan membawa akibat kurang/tidak menguntungkan bagi Oditur Militer dalam karirnya di Kesatuan itu selanjutnya. Ataupun dengan kata lain,bahwa untuk keamanan pribadi Oditur Militer sendiri dalam Angkatan/Kesatuan itu, menerima saja putusan-putusan komandan, walaupun diketahuinya/disadarinya bahwa untuk kepentingan justisi suatu perkara harus mendapat penyelesaian sebagaimana mestinya.
Akibat dari pada sistem PAPERA ini sering mengakibatkan kesulitan atau kemacetan didalam penyelesaian atau membawa atau mengajukan perkara tersebut ke sidang Pengadilan. Banyak perkara tidak diselesaikan karena menunggu putusan dari PAPERA, dan bertumpuk-tumpuknya perkara pidana dimeja/ditangan PAPERA, yang kadang-kadang melebihi atau sama banyaknya perkara-perkara yang berada pada Pengadilan Militer.
Banyak perkara ini selain disebabkan asas unity of command juga disebabkan pula banyaknya pekerjaan PAPERA yang perlu diselesaikan, sehingga tidak sempat untuk mengurus perkara yang diajukan kepadanya. Oleh karena itu banyak perkara-perkara yang perlu segera diselesaikan, berada bertahun-tahun di meja PAPERA sehingga Perkara tersebut dikembalikan Kepada Oditur Militer yang bersangkutan, pada umumnya perkara tersebut sudah kaderluwarsa, karena terlalu lama menunggu persetujuan PAPERA/Komandan Kesatuan.64
Hal ini seharusnya perkaranya dapat diselesaikan dengan cepat, tapi sekarang rantai penyelesaian menjadi panjang, dengan mengerjakan cukup banyak orang sampai-sampai seorang PANGLIMA Angkatan harus ikut campur untuk mengeluarkan KEPPERYA, oleh karena itu kadang-kadang karena kesibukannya perkara-perkara tersebut jadi terlantar. Di dalam angkatan perang kita yang modern, dan selalu berkembang, hukumnya pun harus berkembang pula.
64 Moch.Faisal Salam,Op. cit,Hal. 146
D. Aturan Hukum Oditur Militer Dalam Menangani Kekerasan Dalam