• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV: PERANAN ODITUR MILITER DALAM MENANGANI KASUS

2. Polisi Militer dan Oditur

Penyidik (Pasal 71) mempunyai wewenang : a. Menerima Laporan atau Pengaduan

Laporan (Pasal 1 angka 14) adalah pemberitahuan yang disampaikan oleh seseorang karena hak atau kewajibannya berdasarkan undang-undang kepada pejabat yang berwenang tentang telah atau sedang atau diduga akan terjadinya peristiwa pidana.

Sedangkan pengaduan (Pasal 1 angka 15)adalah pemberitahuan disertai permintaan oleh pihak yang berkepentingan kepada pejabat yang berwenang

untuk menindak menurut hukum seseorang yang telah melakukan tindakan pidana aduan yang merugikan. 90

b. Melakukan tindakan pertama pada saat dan ditempat kejadian.

Adapun yang dimaksud dengan tindakan pertama pada saat kejadian atau ditempat kejadian adalah melakukan tindakan-tindakan yang dapat dilakukan pada saat itu atau ditempat kejadian. Misalnya :

1. Menangkap pelaku;

2. Mengamankan alat-alat bukti dan barang-barang bukti;

3. Mengamankan lokasi kejadian.

c. Mencari keterangan dan barang bukti91.

Maksudnya mencari informasi yang dapat membuat terang suatu kejahatan yang telah terjadi. Sedangkan barang bukti adalah alat-alat yang dipergunakan melakukan tindak pidana itu atau barang-barang yang diperoleh dari kejahatan itu.

d. Menyuruh berhenti seseorang

Maksudnya menyuruh berhenti seseorang yang diduga sebagai Tersangka dan memeriksa tanda pengenalnya.

e. Melakukan upaya paksa92 1. Penangkapan;

2. Penggeledahan;

3. Penahanan;

4. Penyitaan; dan

5. Pemeriksaan surat-surat.

f. Mengambil sidik jari dan memotret seseorang

g. Memanggil seseorang untuk didengar dan didengar sebagai Tersangka atau saksi. Dalam perkara desersi yang Tersangkanya tidak ditemukan cukup memeriksa saksi yang ada dan pemberkasan perkaranya tidak terhalang dengan tidak adanya pemeriksaan Tersangka.

90 Ibid,

91 Undang – Undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, Pasal 183.

92 Nikolas Simanjuntak, Acara Pidana Indonesia Dalam Sirkus Hukum, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2009), Hal. 77.

h. Meminta bantuan ahli

Penyidik dapat meminta bantuan seseorang ahli yang diperlukan dalam hubungan dengan pemeriksaan perkara; dan

i. Mengadakan tindakan lain93

Tindakan lain disini haruslah menurut hukum yang bertanggung jawab.

Misalnya tindakan yang dilakukan Penyidik untuk kepentingan penyidikan, dengan syarat :

1. Tidak bertentangan dengan suatu aturan hukum ;

2. Selaras dengan kewajiban hukum yang mengharuskan dilakukannya tindakan jabatan;

3. Tindakan itu harus patut dan masuk akal dan temasuk dilingkungan jabatannya;

4. Atas pertimbangan yang layak berdasarkan keadaan memaksa; dan 5. Menghormati hak asasi manusia dan dalam pelaksanaan kewenangan

tersebut, diantaranya Penyidik wajib menjunjung tinggi hukum yang berlaku.

j. Melaksanakan perintah atasan yang bersifat menghukum untuk melakukan penahanan Tersangka, dan

k. Melaporkan hasil pelaksanaan penyidikan kepada Atasan yang berhak menghukum.94

Dalam pelaksanaan tugasnya Penyidik dibantu oleh Penyidik Pembantu (Pasal 69ayat (2) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1997), terdiri dari :

1. Provost Tentara Nasional Indonesia – Angkatan Darat 2. Provost Tentara Nasional Indonesia – Angkatan Laut 3. Provost Tentara Nasional Indonesia – Angkatan Udara 4. Provost Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Pasal 69 Undang-Undang No. 31 Tahun 1997 menyatakan bahwa yang dimaksud dengan penyidik adalah :95

93 Darwan Prinst, Op.cit.Hal.36

94Ibid, Hal 37

1) a. Atasan yang Berhak Menghukum b. Polisi Militer

c. Oditur Militer.

Kemudian pada ayat (2) menyatakan tentang penyidik pembantu yaitu:

2) a. Provost TNI Angkatan Darat b. Provost TNI Angkatan Laut c. Provost TNI Angkatan Udara

Bunyi Pasal 69 ayat (1) yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan Penyidik itu adalah Atasan yang berhak menghukum. Akan tetapi karena Atasan yang Berhak Menghukum adalah Komandan suatu Kesatuan, maka tidak mungkin ia melakukan penyidikan terhadap suatu peristiwa pidana Oleh karena itu demi efektifnya pelaksanaan kewenanganpenyidikan dari Atasan yang Berhak Menghukum tersebut dan untuk membantu supaya Atasan yang berhak menghukum dapat lebih memusatkan perhatian, tenaga, dan penyidikan tersebut dilakukan oleh Penyidik Polisi Militer atau Oditur Militer sebagaimana dimaksud dalam Pasal 74 butir a.

Wewenang penyidik pembantu apabila ia melakukan penyidikan di bawah bimbingan Polisi Militer atau Oditur Militer. Penyidik dalam melakukan penyidikan suatu peristiwa yang diduha merupakan tindak pidana yang dilakukan oleh seorang atau diduga sebagai Tersangka, mempunyai wewenang :

a. menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang terjadinya suatu peristiwa yang diduga merupakan tidak pidana;

b. melakukan tindakan pertama pada saat dan di tempat kejadian;

c. mencari keterangan dan barang bukti;

d. menyuruh berhenti seseorang yang diduga sebagai Tersangka dan memeriksa tanda pengenalnya;

e. melakukan penangkapan, penggeledahan, penyitaan dan pemeriksaan surat-surat;

95 Moch. Faisal Salam, Op.Cit,Hal 35

f. mengambil sidik jari dan memotret seseorang;

g. memanggil seseorang untuk didengar dan di periksa sebagai Tersangka atau Saksi;

h. meminta bantuan pemeriksaan seorang ahli atau mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara; dan

i. mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab.96

Tindak pidana yang dilakukan oleh seorang dapat digolong-golongkan sebagai berikut :

1. Proses Penyidikan Tindak Pidana Biasa 2. Proses Penyidikan Tindak Pidana Ekonomi 3. Proses Penyidikan Tindak Pidana Korupsi 3.Proses Penyidikan

a. Pemeriksaan Tersangka dan Saksi

Pasal 99 Undang-Undang No. 31 Tahun 1997 menentukan bahwa :

1) Penyidik yang mengetahui, menerima laporan atau pengaduan tentang terjadinya suatu peristiwa yang patut diduga merupakan tindak pidana wajib segera melakukan tindakan penyidikan yang diperlukan97.

2) Dalam hal yang menerima laporan atau pengaduan adalah Atasan yang Berhak menghukum segera menyerahkan pelaksanaan penyidikan kepada Penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 ayat (1) huruf b atau c, maka mereka wajib melakukan penyidikan dan segera melaporkannya kepada Atasan yang Berhak Menghukum Tersangka.

Untuk mengetahui tentang telah terjadinya suatu tindak pidana, maka Pasal 100 menentukan sebagai berikut :98

96 Ibid, Hal.36

97 Adami Chazawi, Hukum Pidana Materiil dan Formil Korupsi di Indonesia, (Malang:Bayumedia Publishing,2005), Hal.380-381

98 Moch. Faisal Salam, Op.Cit, Hal.36

1) Setiap orang yang menjadi korban atau yang mengalami atau menyaksikan atau melihat dan/atau mendengar secara langsung tentang terjadinya tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang sebagaimana dimaksud Pasal 9 angka 1 berhak mengajukan laporan atau pengaduan kepada Penyidik baik lisan maupun tertulis.

2) Setiap orang yang mengetahui permukatan jahat yang dilakukan oleh seseorang sebagaimana dimaksud dalam Pasal angka 1 untuk melakukan tindak pidana terhadap ketentraman umum atau terhadap jiwa atau terhadap hak milik, wajib seketika itu juga melaporkan hal tersebut kepada Penyidik atau atasan yang berwenang.

3) Sesudah menerima laporan, Penyidik harus membuat syrat tanda terima laporan atau pengaduan diberikan kepada yang bersangkutan dengan ditanda tangani oleh pelopor dan penerima laporan.

Bunyi pasal ini memberikan kewajiban bagi setiap orang untuk melaporkan atau mengadukan setiap tindak pidana yang diketahuinya. Bagi mereka yang mengetahui telah terjadinya suatu tindak pidana tetapi ia tidak melaporkan atau tidak megadukan kepada Penyidik maka baginya diancam hukum pidana. Selain itu laporan atau pengaduan yangdilakukan secara tertulis harus ditandatangani oleh Pelaporan atau pengaduan yang diajukan secara lisan harus dicatat olehPenyidik dan ditanda tangani oleh Pelapor dan penyidik. Sesudah menerima laporan atau pengaduan Penyidik atau Atasan yang Berhak Menghukum harus memberikan tanda penerimaan laporan atau pengaduan kepada yang bersangkutan.

Adapun perbedaan antara Pengaduan dan Laporan adalah kalau pengaduan hanya dapat dilakukan oleh orang yangberhak menurut ketentuan delik aduan,sedangkan laporandapat dilakukan oleh siapa saja. Dalam Pasal 102 juga memberi kewajiban kepada setiaporang untuk melakukan penangkapan sebagaimana dimaksudpada:

1) Dalam hal tertangkap tangan setiap orang berhakmenangkap sedangkan setiap orang yang mempunyaiwewenang dalam tugas ketertiban ketenteraman

dankeamanan umum wajib menangkap tersangka guna diserahkan langsung kepada Penyidik.

2) Sesudah menerima penyerahan Tersangka sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Penyidik wajib segera melakukan pemeriksaan dan tindakan lain yang diperlukan dalam rangka Penyidikan.

3) Sesudah menerima laporan tersebut' Penyidik segeradatang ke tempatkejadian dan dapat melarang setiaporang meninggalkan tempat itu sela pemeriksaan belum selesai.

4) Pelanggar larangan sebagaimana dimaksud pada ayatdapat dipaksa tinggal ditempat itu sampai pemeriksaan dimaksud diatas selesai.

Penangkapan terhadap Tersangka yang sedang melakukan kejahatan tersebut, maka segera setelah tersangka ditangkap diserahkan kepada penyidik.99 Penyidik yang menerima penyerahan tersangka segerapula datang ketempat kejadian untuk mencari buki-bukti dan mencari saksi-saksi mengetahui tentang kejadian tersebut.Selain itu penyidik dapat menutup daerah tempat kejadiandan melarang orang-orang yang dicurigai meninggalkan tempat tersebut sampai pemeriksaan sementara dianggap cukup.Tersangka yang diserahkan karena tertangkap tangan,Penyidik wajib segera melakukan pemeriksaan.

Hal ini berbeda apabila penyidik melakukan penyidikandimana Tersangkanya dipanggil untuk menghadap, makaPenyidik harus menyebutkan alasan pemanggilan secara jelas, dengan surat panggilan yang sah;dengan memperhatikan tenggang waktu yang wajar antara diterimanya suratpanggilan dan tanggal seseorang diharuskan memenuhi panggilan tersebut.

Bagi mereka yang dipanggil wajib datang kepada penyidikdan apabila orang yang dipanggil tidak datang, maka orangtersebut dipanggil sekali lagi. Bilamana setelah dua kali dipanggil orang yang dipanggil tetap juga tidak dapat datangtanpa memberikan alasan yang sah, maka penyidik dapatmemerintah petugas Polisi Militer membawa Tersangka atauSaksi yang dipanggil secara paksa (Pasal 103).

99 M. Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHAP, Penyidikan dan Penuntutan, cet VII, (Jakarta:Sinar Grafika,2000), Hal. 110

Pemanggilan Tersangka atau Saksi dilakukan melalui komandan/kepala kesatuan. para komandan/kepara kesatuanyang membawahi tersangka atau saksi yang dipanggir tersebut wajib memerintahkan anak buahnya yang dipanggil untukdatang memenuhi panggilan tersebut.

Bagi Tersangka yang diduga melakukan tindak pidana,penyidik wajib memberi tahu kepada tersangka akan haknya untuk didampingi oleh seorang penasihat hukum atau lebihuntuk mengikuti jalannya pemeriksaan. Apabila Tersangka diduga melakukan kejahatan terhadap keamanan negara, Penasihat hukum dapat hadir dengan cara melihat tetapi tidak dapat mendengar pemeriksaan terhadap tersangka.

Pada dasarnya pemeriksaan terhadap Tersangka danSaksi prosedurnya adalah sama, yang membedakannya adalah dalam hal pemeriksaan terhadap saksi, seorang saksi tidak perlu didampingi oleh penasihat hukum dan apabila diduga bahwa Saksi tidak dapat hadir dalam pemeriksaanPengadilan, maka pemeriksaan terhadap saksi tersebut disumpah terlebih dahulu. Hal ini dilakukan karena saksi yangdimaksud sudah dalam keadaan uzur, Sehingga tidak mungkin dihadirkan disidang Pengadilan.

Penyidik dalam melakukan pemeriksaan baik terhadapTersangka maupun terhadap Saksi, dilakukan tanpa tekanandalam bentuk apapun. (Pasal 108).Hasil pemeriksaan baik terhadap Tersangka maupun terhadap Saksi dicatat dalam suatu berita acara dengan lengkapdan rapi. Setelah selesai pemeriksaan, maka hasil pemeriksaan yang dicatat dalam berita acara tersebut agar dibacaoleh Tersangka atau Saksi yang diperiksa. Setelah Tersangkaatau Saksi membaca berita acara tersebut penyidik harusmenanyakan apakah berita acara tersebut sesuai dengan keterangan yang telah diberikan oleh Tersangka atau Saksi.100

Kalau hal itu sudah sesuai, maka berita acara tersebutharus ditanda oleh Penyidik dan Tersangka atau Saksi yangdiperiksa. Dalam hal Tersangka dan Saksi

100 Darwan Prinst, Hukum Acara Pidana Suatu Pengantar, (Jakarta:Djambatan,1989), Hal.

92-93

tidak mau membubuhkan tandatangannya, Penyidik mencatat hal itu dalam berita acara dengan menyebut alasannya (Pasal 108 ayat (4)).

Dalam hal Tersangka atau Saksi yang harus didengar keterangannya berdiam atau bertempat tinggal di luar daerahhukum Penyidik yang melaksanakan penyidikan, pemeriksaanterhadap Tersangka atau Saksi dapat dibebankan kepadaPenyidik di tempat kediaman atau tempat tinggal Tersangka atau Saksi tersebut (pasal 109).Dalam rangka pemeriksaan terhadap tersangka, makaTersangka berhak untuk mendapat bantuan hukum pada semua tingkat pemeriksaan sebagaimana diatur dalam pasal 215 s/d 218 Hukum Acara Pidana Militer dan hak-hak Tersangka sebagaimana diatur daram pasar 51 s/d Pasal 69 KUHP.

b. Penangkapan dan penahanan 1. Penangkapan

Di dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 melindungi kebebasan dan kemerdekaan segala bangsa sebagai mana tercantum pada alenea pertama yang selengkapnya berbunyi;101

“Bahwa kebebasan dan kemerdekaan adarah hak segalabangsa, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan,karena tidak sesuai dengan pri kemanusiaan dan prikeadilan”.

Pada hakikatnya kebebasan dan kemerdekaan itu bukan hanya hak segala bangsa, akan tetapi hak dari setiap insani. Kemerdekaan dan kebebasan nilainya sangat tinggi dan melupakan milik dari setiap insani, berbagai undang-undang memberikan perlindungan secara khusus terhadap kebebasan dan kemerdekaan terutama kepada manusia.

Pada bagian di muka telah diuraikan bahwa tujuan dari pada pembaharuan hukum acara pidana di lndonesia, adalah untuk merubah sistem hukum acara pidana peninggalan zaman kolonial Belanda (HlR) dimana dalam undang-undang tersebut kebebasan dan kemerdekaan manusia tdak banyak dilindungi. Oleh karena itu dalam rangka pembaruan hukum sebagaimana di amanatkan oleh TAP MPR NO IV Tahun

101 Moch. Faisal Salam, Op.Cit .Hal.41

1978, maka kita telah mengadakan perubahan secara mendasar dibidang hukum, dengan membentuk hukum baru yang mencabut hukum peninggalan zaman kolonial tesebut di atas. Dalam bidang hukum pidana telah dirintis oleh Undang-undangNo.l4Tahun 1970 Tentang Undang – Undang pokok kekuasaan Kehakiman yang memuat suatu asas bahwa tiada seorangjuapun dapat dikenakan penangkapan, penahanan, penggeledahan dan penyitaan, selain atas perintah tertulis oleh kekuasaan yang sah dalam hal menurut cara-cara yang diaturdalam undang-undang".102

Undang-undang Hukum Acara Pidana Militer yaituUndang-undang No. 31 Tahun 1997 mengenai Penangkapandan penahanan yang diatur dalam Pasal 75 s/d Pasal 81.

Pasal 75

1) Untuk kepentingan penyidikan, Penyidik berwenangmelakukan Penangkapan.

2) Penangkapan terhadap Tersangka di luar tempat kedudukan Atasan yang Berhak Menghukum yang langsung membawahkannya dapat dilakukan oleh penyidiksetempat di tempat Tersangka ditemukan, berdasarkan permintaan dari Penyidik yang menangani perkaranya.

3) Pelaksanaan penangkapan sebagaimana dimaksud padaayat (1) dan ayat (2) dilakukan dengan surat perintah.

Pasal 76

1) Perintah penangkapan dilakukan terhadap seseorangyang diduga keras melakukan tindak pidana berdasarkan bukti Permulaan yang cukup.

2) Terhadap tersangka pelaku pelanggaran tidak dapatdilakukan penangkapan, kecuali dalam hal Tersangkasudahdipanggilsecarasah2(dua)kali berturut-turuttidak memenuhi panggilan tersebut tanpa alasan yangsah.

3) Penangkapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)dan ayat (2) dapat dilakukan untuk palino lama 1 (satu) hari.

102 Achmad Ali, Menguak Tabir Hukum, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2011), Hal. 8

Pasal 77

1) Pelaksanaan tugas penangkapan dilakukan oleh penyidik atau anggota polisi Militer atau anggota bawahanAtasan yang Berhak Menghukum yang bersangkutandengan memperlihatkan surat perintuh penangkapan yang mencantumkan identitas Tersangka, menyebutkan alasan penangkapan, uraian singkat perkara kejahatan yang dipersalahkan, dan tempat ia diperiksa.

2) Dalam hal tertangkap tangan penangkapan dilakukantanpa surat perintah, dengan ketentuan bahwapenangkap harus segera menyerahkan 'rersangka beserta barang bukti yang ada padanya kepada penyidikyang terdekat.

3) Tembusan surat perintah penangkapan sebagaimanadimaksud pada ayat (1) diberikan kepada keluarganyasegera sesudah penangkapan dilakukan.

4) Sesudah penangkapan dilakukan, penyidik wajib segera melaporkan kepada Atasan yang Berhak Menghukum yang bersangkutan.

Menyimak bunyi pasar-pasar tersebut di atas maka wewenangpenangkapan berada pada Atasan yang berhak menghukum.103 Atasan yang berhak menghukumlah yang berwenang untuk mengadakan penangkapan terhadap anak buahnya. Kecuali dalam hal tertangkap tangan sebgaimana dimaksud oleh Pasal 77 ayat (2) maka dapat dilakukan pihak lain tanpa memerlukan surat perintah penangkapan dengan syarat bahwa setelah Tersangka ditangkap segera menyerahkan kepada Penyidik terdekat beserta barang buktinya. Selanjutnya penyidik yang menerima penyerahan Tersangka segera pula memberi laporan kepada Atasan langsung tersangka untuk diperoses lebih lanjut.

Pelaksanaan penangkapan berdasarkan surat perintah dapat dilakukan oleh Atasan yang Berhak Menghukum (AYBM) sendiri,atau bawahannya Seksi I (Intel) atau Penyidik Polisi Militer atas perintah (AYBM) bersangkutan. Untuk menangkap seseorang Tersangka,maka pelaksanapenangkapan harus membawa Surat Perintah Penangkapandimana dalam Surat Perintah Penangkapan itu mencantumkan indentitas Tersangka, alasan penangkapan uraian singkat perkara kejahatan yang

103 Moch. Faisal Salam, Op.Cit.Hal 43

dilakukan Tersangka dan tempatia diperiksa.104 Apabila syarat-syarat tersebut tidak dipenuhimaka Tersangka harus menolak petugas yang akan menangkapnya. Suatu kejahatan baru dapat diadakan penangkapandimana kejahatan yang dilakukan Tersangka itu mempunyaiterdapat bukti-bukti permulaan yang cukup. Adapun yang dimaksud dengan bukti permulaan yang cukup tersebut.

Pasal 76 menyatakan sebagai berikut:

"Yang dimaksud dengan bukti permulaan yang cukup adalah bukti permulaan yang sekurang-kurangnya terdiri darilaporan polisi ditambah salah satu bukti lainnya yangberupa berrta acara pemeriksaan saksi, berita acara pemeriksaan ditempat kejadian perkara, laporan hasil penyidikan sebagai alasan atau syarat untuk dapat menangkapseseorang yang diduga sudah melakukan tindak pidana".

Pasal 76 UUNo.31tahun 1997 ini lebih tegas memperinci tentang alat bukti permulaan yang cukup sehingga petugas mempunyai keyakinan apakah si Tersangka perlu ditangkap atau tidak. Hal ini berbeda dengan Pasal 17 KUHAPyang tidak memperinci apa yang dimaksud dengan bukti permulaan yang cukup, dimana hal tersebut diserahkan kepadakeyakinan Penyidik, apa suatu perkara sudah mempunyaibukti permulaan yang cukup atau tidak. Oleh karena kesamaran itu, maka dalam praktek banyak terjadi penyalahgunaan wewenang dalam bidang penangkapan oleh aparat yangterkait.

Mengenai apayang dimaksud dengan bukti permulaan yang cukup itudalam praktek sering terjadi perselisihan, disatu pihak Penyidik menganggap tindakannya dianggap sudah memenuhibukti permulaan yang cukup, tetapi oleh hakim pra-peradilan yang memeriksa sah tidaknya penangkapan, sesuatu hal itu bukan/belum dikatagorikan sebagai permulaan yang cukup untuk menduga seseorang bahwa ia pelakunya.

Perincian mengenai apa yang dimaksud dengan bukti permulaan yang cukup sebagaiman diatur dalam Pasal 76 UU No. 31 Tahun 1997, maka kemungkinan salah melakukan penangkapan sangat kecil sekali kemungkinannya. Apalagi yang

104 Sitompul, Polisi dan Penangkapan, (Bandung : Tarsito, 1985), Hal.10

memerintahkan penangkapan itu adalah penyidik yang nota benenya adalah Atasan Tersangka sendiri yaitu Atasan yang berhak menghukum.105

Seorang Atasan mempunyai tanggung jawab moral terhadap anak buahnya baik keluar maupun ke dalam. Seorang Guru yang harus dicontoh suri tauladannya dan seorang Komandan yang harus dituruti perintahnya. Dengan telah terperincinya pengaturan tentang penangkapan dalam HAPMIL yang diatur dalam Pasal 76 tersebut ditambah pula pertanggung jawab moral Atasan terhadap bawahannya, kemungkinan untuk menyalah gunakan kekuasaan dibidang penangkapan, kemungkinannya sangat kecil bahkan tidak mungkin dilakukan. Berdasar pertimbangan tersebut maka HAPMIL tidak mengatur tentang Pra-peradilan, dan apabila hal itu diberlakukan dikalangan militer, maka akan mengganggu asas unity of command.

2. Penahanan

Sebagaimana diutarakan terdahulu, bahwa dalam Undang-Undang No. 14 Tahun 1970 telah meletakkan asas bahwa “tiada seorang jua pun dapat dikenakan penangkapan, penahanan, penggeledahan dan penyitaan, selain atas perintah tertulis oleh kekuasaan yang sah dalam hal menurut cara-cara yang diatur dalam undang-undang”.

Agar penahanan terhadap seseorang yang disangkakan melakukan tindak pidana dianggap sah menurut hukum, haruslah dipenuhi syarat-syarat yang diatur dalam undang-undang. Tidak dipenuhinya syarat-syarat pokok sebagaimana diatur dalam undang-undang, tindakan penahanan terhadap seseorang dapat dikwalifisir ke dalam tindak pidana perampasan kemerdekaan dan kebebasan sebagaimana tersebut dalam Pasal 332 KUHP.106

Syarat-syarat pokok tersebut,yaitu :

a. Dalam hal-hal yang diatur oleh undang-undang.

105 Moch. Faisal Salam, Op.Cit.Hal.45

106 Mufti Makariim, wendy andika prajuli dan fitri bintang timur, Almanak Hak Asasi Manusia di sektor Keamanan Indonesia,(Lembaga Hak Asasi Manusia,Jakarta,2009),Hal. 213

1) Dasar-dasar sahnya untuk melakukan penahanan harus mengikuti ketentuan pasal-pasal dalam HAPMIL yaitu pasal 78, 79, 80 dan Pasal 81.

Secara mutlak harus dipenuhi dua jenis syarat :

a) Ada cukup petunjuk tentang kesalahan tersangka.

b) Kepada tersangka harus dapat didakwaan tindak pidana dengan ancaman hukuman 3 bulan atau lebih (Pasal 79 ayat (2) HAPMIL

Adapun kejahatan-kejahatan yang dapat dilakukan penahanan antara lain yaitu diatur dalam pasal-pasal dalam KUHP yaitu :

Pasal 282 KUHP : Kejahatan kesusilaan yang dijadikan kebiasaan Pasal 372 KUHP : Penggelapan

Pasal 378 KUHP : Penipuan

Pasal 455,454,455 : Kejahatan pelayaran Pasal 480 KUHP : Penadahan

Undang-Undang tentang Senjata Api dan Narkotik, kejahatan dengan ancaman hukuman 2 (dua) tahun atau lebih yang diatur dalam KUHPT.

2) Dasar-dasar keharusan Penahanan

Secara minimal harus dipenuhi salah satu syarat berikut ini yaitu : a) Bila kepentingan pemeriksaan menghendaki.

b) Bila dikhawatirkan Tersangka akan melarikan diri,

c) Bila dikhawatirkan Tersangka akan menghilangkan atau merusak barang bukti.

d) Bila dikhawatirkan Tersangka akan mengulangi melakukan tindak pidana.107

b. Atas Perintah Kekuasaan yang sah

107 Moch. Faisal Salam, Op.Cit.Hal.47

Tidak semua orang dapat/berwenang melakukan penahanan, tetapi oleh undang-undang ditunjuk beberapa orang pejabat tertentu.

Dalam taraf pemeriksaan pendahuluan, yang berwenang melakukan penahanan adalah :

1. Setiap orang dalam hal tertangkap tangan, sekedar untuk menyerahkan Tersangka kepada yang berwenang.

2. Setiap Perwira yang lebih tinggi pangkatnya dari pada Tersangka, sekedar untuk segera menyerahkan kepada ANKUM-nya.

3. ANKUM terhadap anggota bawahannya.

4. PAPERA (Perwira Penyerah Perkara) terhadap anggota bawahannya.

5. POM ABRI dan Oditur Militer dalam hal-hal : 1) Tertangkap tangan, wajib melakukan penahanan.

2) Ada delegasi kekuasaan dari PAPERA atau ANKUM.

3) Tersangka berada di luar daerah hukum PAPERA/ANKUM

4) Tersangka adalah Cs anggota Militer yang melakukan tindak pidana sewaktu masih di dalam dinas aktip tapi kemudian tidak diketahui lagi dengan jelas siapa ANKUM/PAPERA-nya.108

6. ODITUR jenderal ABRI

Yang berwenang melakukan perpanjangan penahanan adalah PAPERA, dalam tarap pemeriksaan sidang, maka yang berwenang mengadakan penahan, pelepasan dan perpanjangan adalah Hukum.

c. Dengan Cara Yang Ditentukan Oleh Undang-Undang.

Formalitas-formalitas yang harus dipenuhi adalah : 1. Adanya identitas Tersangka

2. Adanya alasan penahanan

3. Tempat penahanan, kecuali dalam hal tertangkap tangan.

d. Jangka Waku Penahanan

108 Anwar Saadi, Profesionalisme dan Kesadaran Hukum Prajurit TNI, (Tabloid Patriot Edisi Maret,Jakarta,2006).

1. Dalam hal tertangkap tangan penyidik terdekat dalam waktu 2 x 24 jam harus segera melaporkan kepada ANKUM tersangka.

2. Untuk kepentingan penyidikan Atasan yang berhak menghukum dengan surat keputusannya, berwenang melakukan penahanan Tersangka paling lama 20 (dua puluh) hari ( Pasal 78 ayat (1) ).

3. Tenggang waktu sebagaimana dimaksud tersebut di atas apabila diperlukan guna kepentingan pemeriksaan, dapat diperpanjang oleh Perwira Penyerah Perkara yang berwenang dengan keputusannya untuk setiap kali 30 (tiga

3. Tenggang waktu sebagaimana dimaksud tersebut di atas apabila diperlukan guna kepentingan pemeriksaan, dapat diperpanjang oleh Perwira Penyerah Perkara yang berwenang dengan keputusannya untuk setiap kali 30 (tiga

Dokumen terkait