• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II.KECAKAPAN EMOSIONAL REMAJA DAN

B. Kecakapan Emosional dalam Diri Remaja

5. Faktor Internal dan Faktor Eksternal Penyebab Terjadinya

Emosinya

Ketika usia seseorang bertambah, maka banyak permasalahan yang harus

dihadapinya. Begitu pula halnya dengan remaja yang sedang mengalami

pertumbuhan dan perkembangan (baik secara fisik, psikis, emosi dan sebagainya)

juga mengalami berbagai permasalahan. Remaja yang sedang mengalami masa

peralihan mempunyai permasalahan berkenaan dengan perkembangan emosinya.

Permasalahan yang terjadi pada remaja berkaitan dengan perkembangan emosinya

disebabkan oleh faktor internal dan faktor eksternal. Pada bagian ini akan

memaparkannya dengan faktor internal dan faktor eksternal penyebab terjadinya

permasalahan remaja berkaitan dengan perkembangan emosinya.

a. Faktor Internal

Faktor internal merupakan segala sesuatu yang ada dalam diri remaja

misalnya saja faktor jasmaniah. Permasalahan remaja yang berkaitan dengan

perkembangan emosinya berkaitan erat dengan faktor psikologis dan faktor

kematangan fisik, misalnya saja perubahan fisik yang terjadi pada dirinya

menimbulkan gejolak tersendiri dalam diri remaja. Gunarsa (1978:87)

menambahkan Faktor internal pada remaja adalah masalah emosionalitas.

Masalah emosionalitas ditunjukkan dengan kemarahan, ngadat, agresi

berlebih-lebihan dan kemampuan intelek.

Melalui kemarahan, seorang remaja meluapkan segala bentuk

Sedangkan ngadat merupakan cara yang dipakai remaja agar keinginannya

dipenuhi orang lain dengan cara melakukan perbuatan yang seolah-olah menyakiti

orang lain. Tak jarang remaja yang berhasil dengan cara ini, makin banyak

permintaannya yang harus dituruti.

Agresi berlebih-lebihan didapatkan pada remaja yang orang tuanya

bersikap terlalu memanjakan dan melindungi remaja, atau penolakan orang tua

dan terlalu bersikap berkuasa. Adapun tujuan utama dari agresi yang

berlebih-lebihan adalah penguasaan suatu situasi, mengatasi suatu rintangan atau halangan

yang dihadapinya atau merusak suatu benda.

Permasalahan internal yang terjadi pada remaja adalah masalah

emosionalitas remaja yang gelisah atau takut, dan cemas. Perasaan takut bagi

remaja dapat digolongkan ke dalam dua hal: benda-benda yang secara obyektif

menimbulkan rasa takut, serta hal-hal yang subyektif yaitu perasaan dan sikap

remaja terhadap sesuatu yang menyebabkan timbulnya ketakutan. Sedangkan

kecemasan adalah suatu respon emosionil yang tidak menyenangkan dan dalam

derajat yang tidak sesuai dengan keadaan yang tidak menimbulkan rasa takut.

Kemampuan intelek remaja juga dapat menimbulkan suatu masalah

internal pada remaja. Sebagai contoh konkritnya, seorang remaja yang berprestasi

tinggi mengalami kesulitan dalam bergaul. Remaja yang dituntut secara keras oleh

orang tuanya, membuat remaja tersebut cenderung untuk bekerja keras

mewujudkan prestasi yang tinggi sehingga kehilangan waktu bersosialisasi

dengan temannya sehingga tumbuh menjadi minder. Dari pernyataan di atas dapat

disimpulkan bahwa permasalahan remaja secara internal berkaitan erat dengan

b. Faktor Eksternal

Faktor eksternal adalah segala sesuatu yang berada di luar diri individu

yang keberadaannya mempengaruhi dinamika perkembangan misalnya saja:

faktor sosial, faktor budaya, faktor lingkungan fisik, dan faktor lingkungan non

fisik. Menurut Kartini (1985:116) permasalahan-permasalahan yang terjadi pada

remaja yang berkaitan dengan perkembangan emosinya biasanya disebabkan oleh

berbagai faktor eksternal yaitu faktor keluarga, linkungan dan sekolah.

1) Faktor Keluarga, Khususnya Orang Tua

Keluarga merupakan tempat pendidikan anak yang pertama. Orang tua

menjadi orang yang besar peranannya dalam mendidik remaja. Orang tua

seringkali kurang memahami arti mendidik remaja, begitu sibuk bekerja untuk

meningkatkan kehidupan sosial ekonomi. Hubungan orang tua yang kurang

harmonis juga menjadikan mereka “melupakan” anak-anak mereka yang sedang

tumbuh dalam masa remaja. Sebenarnya remaja dari keluarga tersebut

merindukan perhatian orang tuanya tetapi mereka tidak mendapatkannya. Untuk

menarik perhatian, mereka melakukan hal-hal yang negatif. Sikap negatif orang

tua dalam menanggapi remaja dapat menimbulkan rasa kecewa dalam diri remaja.

Apalagi jika perlakuan yang mengecewakan itu datang bertubi-tubi akan

menimbulkan luka batin yang menumpuk. Dalam perkembangan emosi remaja

yang sedang mengalami luka batin yang menumpuk tersebut maka remaja mulai

memendam rasa dongkol, kurang percaya, permusuhan, antipati terhadap orang

memahami kedaan dirinya. Namun seringkali remaja tidak menemukan figur

orang tua yang diharapkannya dirinya sehingga remaja mengalami kekecewaan

mendalam yang berakibat emosinya labil.

2) Faktor Lingkungan

Lingkungan merupakan tempat di mana remaja dibesarkan dan juga

dengan siapa remaja itu berteman. Sebuah lingkungan di mana bermacam

kejahatan terjadi akan menyebabkan remaja meniru perbuatan-perbutan itu,

walaupun kadang-kadang tidak disadarinya. Tidak jarang seorang remaja yang

“alim” berubah menjadi berandalan karena pergaulannya dengan remaja yang

berandalan lainnya. Dalam perkembangan emosinya, remaja mulai mencari orang

yang dianggapnya nyaman untuk berkomunikasi dengannya. Kenyamanan

tersebut didapatkan dalam diri teman-teman sebayanya sehingga apa pun yang

dikatakan atau yang dilakukan oleh teman sebayanya merupakan tindakan yang

menyenangkan meskipun sangat berbahaya.

3) Faktor Sekolah

Sekolah merupakan pendidikan formal bagi remaja. Yang termasuk di

dalam komponen sekolah adalah guru, pelajaran, tugas-tugas sekolah dan

lain-lainnya yang berhubungan dengan sekolah. Kondisi sekolah yang tidak memenuhi

konflik pada remaja sehingga menghambat perkembangan emosinya, misalnya

kurikulum sekolah yang pada umumnya ditujukan kepada siswa yang mempunyai

kepandaian rata-rata, dan kurang memperhatikan siswa genius dan yang lemah

mental (tidak cakap secara emosi). Tugas-tugas sekolah yang terlalu berat

membuat siswa tertekan. Jumlah siswa yang terlalu banyak di dalam sebuah kelas

menghambat terjadinya hubungan yang erat antara guru dan siswa. Dengan

demikian sulit bagi guru untuk mengontrol kegiatan siswa, baik di dalam maupun

di luar sekolah.