BAB II.KECAKAPAN EMOSIONAL REMAJA DAN
A. Remaja dan perkembangannya
2. Masa Remaja sebagai Masa Peralihan
Seseorang digolongkan ke dalam masa remaja apabila sudah melewati
masa kanak-kanak namun ia belum cukup dewasa dalam berbagai hal. Status
remaja yang tidak jelas ini biasa disebut sebagai masa transisi, pancaroba atau
peralihan. Menurut Hurlock (2004:207):
Dalam setiap periode peralihan, status individu tidaklah jelas dan terdapat keraguan akan peran yang harus dilakukan. Pada masa ini remaja bukan lagi seorang anak dan juga bukan orang dewasa. Kalau remaja berperilaku seperti anak-anak, ia akan diajari untuk “bertindak sesuai umurnya.” Kalau remaja berusaha berperilaku seperti orang dewasa, ia seringkali dituduh “terlalu besar untuk celananya” dan dimarahi karena mencoba bertindak seperti orang dewasa.
Masa peralihan yang terjadi pada remaja ini tidak berarti terputus atau
berubah dari apa yang telah terjadi sebelumnya, melainkan sebuah peralihan dari
satu tahap perkembangan ke tahap berikutnya. Masa remaja merupakan suatu
masa di saat individu berkembang dari pertama kali menunjukkan tanda-tanda
seksual, mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari anak
menjadi dewasa serta terjadi peralihan dan ketergantungan sosial ekonomi yang
penuh pada keadaan yang mandiri. Masa remaja merupakan taraf perkembangan
dalam kehidupan manusia, di mana seseorang sudah tidak dapat disebut anak kecil
umumnya disebut masa pancaroba atau masa peralihan dari masa kanak-kanak
menuju ke arah kedewasaan.
Masa remaja sebagai masa peralihan di mana seseorang dapat dikatakan
bukan kanak-kanak lagi dan belum menjadi orang dewasa merupakan masa yang
penting. Seperti yang telah dikemukakan oleh Hurlock (1980:207), masa peralihan
yang terjadi pada remaja sangat penting karena status remaja yang tidak jelas
dalam masa peralihan, memberi waktu kepadanya untuk mencoba gaya hidup
yang berbeda dan menentukan pola perilaku, nilai dan sifat yang paling sesuai
bagi dirinya.
Hal tersebut dipertegas oleh Sukiat (1991:7) pada masa peralihan ini
banyak hal yang dapat menimbulkan terjadinya kejutan-kejutan pada diri remaja,
sehingga dapat menimbulkan masalah dan mengganggu keseimbangan jiwanya.
Biasanya kejutan-kejutan yang terjadi pada remaja ini terlihat jelas pada
perkembangan serta perubahan yang dialaminya seperti perubahan fisik, emosi,
sosial dan sebagainya. Oleh karena itu pada masa ini diperlukan suatu pendidikan
kepribadian yang antara lain berisikan manusia dan kehidupan manusia; makna
dan tujuan hidup manusia; tugas manusia untuk memberikan arti hidupnya; tugas
manusia dalam masyarakat; kepribadian yang utuh dan dewasa.
3. Perubahan dan Perkembangan yang Terjadi dalam Masa Remaja
Saat masa remaja, banyak terjadi perubahan dan perkembangan yang
dialami oleh masing-masing individu. Perubahan dan perkembangan yang dialami
oleh remaja antara lain dapat dilihat dari perubahan fisik, intelek, emosi, sosial,
a. Perkembangan Fisik
Pada masa remaja terjadi pertumbuhan fisik yang cepat dan proses
kematangan seksual. Beberapa kelenjar yang mengatur fungsi seksualitas pada
masa ini telah mulai matang dan berfungsi. Di samping itu, tanda-tanda
seksualitas sekunder juga mulai nampak pada diri remaja. Pada pria dan wanita,
hormon dan kelenjar seksnya sudah bekerja, mengalami perubahan suara (Riberu,
1984:44). Perubahan fisik yang terjadi secara cepat, baik perubahan internal
seperti sistem sirkulasi, pencernaan, dan sistem respirasi maupun perubahan
eksternal seperti tinggi badan, berat badan, dan proporsi tubuh sangat berpengaruh
terhadap konsep diri remaja. Terkadang perubahan ini membuat remaja merasa
tidak yakin akan diri dan kemampuan mereka sendiri. Seringkali remaja tidak siap
menghadapi perkembangan fisik yang dialaminya. Ketidaksiapan remaja dalam
menghadapi perkembangan fisiknya biasanya ditunjukkan dengan sikap malu,
minder/tidak percaya diri, takut.
b. Perkembangan Intelek
Menurut Piaget, seorang remaja telah beralih dari masa
konkrit-operasional ke masa formal-konkrit-operasional. Pada masa konkrit-konkrit-operasional,
seseorang mampu berpikir sistematis terhadap hal-hal atau obyek-obyek yang
bersifat konkrit, sedang pada masa formal operasional ia sudah mampu berpikir
secara sistematis terhadap hal-hal yang bersifat abstrak dan hipotetis (Suparno,
2007:88). Pada masa remaja, seseorang juga sudah dapat berpikir secara kritis
sehingga mereka dapat kita ajak untuk berdialog dan mereka tidak begitu saja
c. Perkembangan Emosi
Pada umumnya remaja bersifat emosional. Emosinya berubah menjadi
labil. Perubahan ini terutama disebabkan oleh perubahan yang terjadi pada
kelenjar-kelenjar hormonal. Namun penelitian-penelitian ilmiah selanjutnya
menolak pendapat ini. Sebagai contoh, pengaruh lingkungan sosial terhadap
perubahan emosi pada masa remaja lebih besar artinya bila dibandingkan dengan
pengaruh hormonal. Peningkatan emosi ini merupakan tanda bahwa remaja berada
dalam kondisi baru yang berbeda dari masa sebelumnya. Pada masa ini banyak
tuntutan dan tekanan yang ditujukan pada remaja, misalnya mereka diharapkan
untuk tidak lagi bertingkah seperti anak-anak, mereka harus lebih mandiri dan
bertanggung jawab. Kemandirian dan tanggung jawab ini akan terbentuk seiring
berjalannya waktu. Terbentuknya kemandirian dan tanggung jawab dalam diri
remaja senantiasa tidak stabil.
Rifai (1984:19) mengatakan bahwa peningkatan emosional yang terjadi
secara cepat pada masa remaja awal dikenal sebagai masa storm & stress yaitu masa kegoncangan dan kebimbangan. Akibatnya banyak remaja yang mengalami
penolakan terhadap kebiasaan di rumah, sekolah, mengasingkan diri dari
kehidupan umum, membentuk kelompok hanya untuk “gangnya”. Mereka bersifat
sentimental, mudah tergoncang dan bingung karena mereka menganggap dunia
sudah berubah dan mereka hidup dalam dunia yang lain.
d. Perkembangan Sosial
Pada masa remaja, seseorang memasuki status sosial yang baru. Ia
dan bertingkahlaku seperti orang dewasa karena pada masa remaja telah terjadi
perubahan fisik yang sangat cepat yang membuat remaja menyerupai orang
dewasa. Pada masa remaja, biasanya mereka menggabungkan diri dalam
“kelompok teman sebaya”. Kelompok sosial yang baru ini merupakan tempat
yang aman bagi remaja. Pengaruh kelompok ini bagi kehidupan mereka juga
sangat kuat, bahkan seringkali melebihi pengaruh keluarga. Menurut Gunarsa
(2008:209), kelompok remaja bersifat positif dalam hal memberikan kesempatan
yang luas bagi remaja untuk melatih cara mereka bersikap, bertingkahlaku dan
melakukan hubungan sosial. Namun, kelompok ini juga dapat bersifat negatif bila
ikatan antar mereka menjadi sangat kuat sehingga kelakuan mereka menjadi
"overacting” dan energi mereka disalurkan ke tujuan yang bersifat merusak. Selama masa remaja banyak hal-hal yang menarik bagi dirinya yang dibawa dari
masa kanak-kanak digantikan dengan hal menarik yang baru dan lebih matang.
e. Perkembangan Moral
Menurut Kohlberg perkembangan moral remaja terjadi pada tingkat
konvensional yaitu pada tahap ketiga dan tahap keempat. Pada tahap ketiga
seorang remaja mau menerima persetujuan atau ketidaksetujuan dari orang lain
kemudian merefleksikan persetujuan dari orang lain tersebut serta mengevaluasi
konsekuensinya. Sedangkan pada tahap keempat, seorang remaja sering
menentukan apa yang benar dan apa yang salah sehingga celaan menjadi faktor
yang signifikan dalam tahap ini karena memisahkan yang buruk dari yang baik
(Duska,1982:60). Ketika seorang remaja merasa bersalah, perasaannya lebih
1993:37). Pada masa remaja terjadi perubahan kontrol tingkah laku moral. Pada
masa ini seorang remaja sudah dapat diharapkan untuk mempunyai nilai-nilai
moral yang dapat melandasi tingkah laku moralnya. Walaupun demikian, pada
masa remaja, seseorang juga mengalami kegoyahan tingkah laku moral. Hal ini
dapat dikatakan wajar, sejauh kegoyahan ini tidak terlalu menyimpang dari
moralitas yang berlaku, tidak terlalu merugikan masyarakat, serta tidak
berkelanjutan setelah masa remaja berakhir. Namun sebaliknya, ketidakwajaran
perkembangan moral remaja akan terjadi jika kegoyahan yang dialami remaja
terlalu menyimpang dari moralitas yang berlaku, merugikan masyarakat bahkan
berkelanjutan samapai masa remaja akhir.
f. Perkembangan Iman
Fowler menyatakan bahwa remaja dalam keyakinan imannya mempunyai
perkembangan sebagai berikut: setelah mampu berpikir abstrak, remaja mulai
membentuk ideologi (sistem kepercayaan) dan komitmen terhadap ideal-ideal
tertentu. Di masa ini mereka mulai mencari identitas diri dan menjalin hubungan
pribadi dengan Tuhan. Namun, identitas mereka belum benar-benar terbentuk,
sehingga mereka juga masih melihat orang lain (biasanya teman sebaya) untuk
panduan moral. Biasanya perkembangan moral remaja sangat dipengaruhi oleh
keteladanan iman orang lain sebagai acuan moral mereka, misalnya orang tua.
Iman mereka tidak dapat dipertanyakan dan sesuai dengan standar masyarakat
(Cremers,1995:30). Perkembangan iman pada masa remaja ditandai oleh
kemampuan kognitif baru, yaitu operasi-operasi formal, maka remaja mulai
perspektif antarpribadi secara timbal balik. Di sini sudah ada kemampuan
menyusun gambaran percaya pada person tertentu, termasuk person yang Ilahi.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perubahan dan perkembangan
pada diri remaja yang meliputi perubahan fisik, intelek, emosi, sosial, nilai, moral,
serta iman bila disadari akan sangat besar peranannya dan penting dalam
menjalankan tugas perkembangannya. Perubahan dan perkembangan yang terjadi
pada diri remaja juga akan sangat mempengaruhi bagaimana masing-masing
individu menjalankan tanggung jawab yang diembannya. Jika remaja dapat
menerima perubahan/perkembangannya, maka remaja dapat melaksanakan tugas
dengan baik.