BAB III. PAK SMA DAN PENGEMBANGAN KOMPETENSI
C. Pembelajaran PAK SMA yang Berorientasi pada Pengembangan
1. Unsur-Unsur Pokok Pembelajaran PAK SMA yang
pembelajaran PAK SMA yang berorientasi pada pengembangan kompetensi
siswa.
1. Unsur-Unsur Pokok Pembelajaran PAK SMA yang Berorientasi pada Pengembangan Kompetensi Siswa
Proses Pembelajaran Pendidikan Agama Katolik berkaitan erat dengan
unsur-unsur yang ada di dalamnya.Unsur-unsur pokok pembelajaran PAK SMA
yang berorientasi pada pengembangan kompetensi siswa berkaitan erat dan
dikembangkan berdasarkan unsur-unsur pokok dalam pembinaan pembina
Agama Katolik terdiri dari penyadaran pengalaman hidup, pengalaman iman,
komunikasi iman serta penyadaran arah keterlibatan baru (KWI, 2005:9).
a. Pengalaman Hidup
Pendidikan Agama Katolik bertolak dari pengalaman konkrit siswa.
Pengalaman hidup merupakan apa yang terjadi pada hidup siswa, misalnya saja
berbagai permasalahan emosi yang dialami oleh siswa usia remaja ketika
mengalami masa-masa stress and strom. Termasuk dalam pengalaman hidup siswa adalah situasi hidup beriman aktual siswa. Jadi dalam Pendidikan Agama
Katolik di sekolah siswa dilatih untuk melihat dan mendalami pengalaman
hidupnya sendiri. Tanpa kemampuan untuk mendalami pengalaman hidup sendiri
akan sulit baginya untuk mendalami pengalaman itu.
Melalui pendalaman pengalaman hidup, siswa diajak untuk memahami
serta mengolah pengalaman hidup mereka sendiri-sendiri maupun masyarakat.
Tujuan pendalaman pengalaman hidup ini adalah memperdalam refleksi dan
kesadaran kritis akan keterlibatan mereka, kepentingan serta konsekuensi yang
disadari dan hendak diwujudkan. Melalui refleksi kritis pada pengalaman konkrit
siswa diharapkan sampai pada nilai dan visinya (Heryatno,1997:7).
Dengan adanya suatu pendalaman pengalaman hidupnya, siswa akan
terbiasa untuk menceritakan pengalaman hidup yang mereka alami. Dengan
terbiasa menceritakan pengalaman hidup yang mereka alami, siswa akan menjadi
lebih terbuka dengan orang lain serta tidak memendam pengalaman hidup (bahkan
permasalahan) itu sendirian. Dengan demikian pengolahan pengalaman hidup
b. Pengalaman Iman
Pendidikan Agama Katolik di sekolah tidak hanya cukup mengandalkan
pengalaman hidup konkrit siswa. Unsur lain yang diperlukan dalam Pendidikan
Agama Katolik di sekolah yaitu iman dalam terang Kitab Suci. Iman dalam terang
Kitab Suci artinya siswa melihat campur tangan Tuhan dalam pengalaman
manusiawinya. Dalam pengalaman manusiawinya terungkap keprihatinan maupun
kegembiraan iman siswa pada saat itu.
Pada unsur yang kedua ini diupayakan agar tradisi dan visi Kristiani
menjadi lebih terjangkau, lebih dekat dan relevan bagi siswa. Tradisi merupakan
iman Kristiani yang sungguh dihidupi dan diperkembangkan Gereja dalam
sejarahnya. Maka tradisi Gereja tidak terbatas pada pengajaran Gereja (dogma)
tetapi juga merangkum Kitab Suci, spiritualitas, devosi, kebiasaan hidup beriman,
aneka kesenian Gereja, liturgi, kepemimpinan dsb. Sedangkan Visi merefleksikan
harapan dan janji, mandat serta tanggung jawab yang muncul dari tradisi suci
yang bertujuan untuk mendorong dan meneguhkan iman siswa dalam
keterlibatannya dalam rangka mewujudkan kehadiran nilai-nilai kerajaan Allah.
Groome (2010:396) menyatakan bahwa visi yang harus kita hadirkan dalam hidup
sesuai dengan iman Kristiani bahkan ketika visi memberikan harapan yang pasti
tentang kerajaan Allah yang sempurna.
Melalui upaya ini, siswa diajak untuk senantiasa mensyukuri apa yang
telah dialaminya dalam terang Kitab Suci. Dengan demikian siswa senantiasa
melihat kasih Allah ketika mengalami pengalaman hidup yang luar biasa dan
menyerahkan pengalaman hidupnya dalam bimbingan Tuhan. Melalui penyerahan
bimbingan Tuhan, siswa menjadi terbiasa untuk mengatasi pengalaman hidupnya
dengan kecakapan emosinya.
c. Komunikasi Iman dengan Kitab Suci dan Tradisi Kristiani
Pendidikan Agama Katolik di sekolah bertitiktolak komunikasi iman
dengan Kitab Suci dan Tradisi Kristiani yang tidak bisa terlepas dari kesaksian
para rasul. Kesaksian para Rasul tersebut, pertama-tama terungkap dalam Kitab
Suci dan dihayati oleh Gereja sepanjang masa sampai saat ini. Maka komunikasi
iman itu menyangkut ajaran Gereja yang secara resmi diteruskan oleh hierarki.
Ajaran Gereja harus dimengerti secara luas yang meliputi Tradisi, spiritualitas,
liturgi, dan segala praktek hidup gereja yang menampakan Kristus. Dengan kata
lain, iman Kristiani diterapkan dalam situasi konkrit siswa.
Melalui unsur ini, siswa diharapkan dapat menemukan menemukan nilai
hidup yang hendak digarisbawahi, sikap-sikap pribadi yang picik yang hendak
dihilangkan serta nilai-nilai baru yang hendak dikembangkan berdasar nilai
Tradisi dan visi Kristiani. Melalui komunikasi iman dengan tradisi Kristiani,
siswa diajak untuk mendialogkan hasil pengolahan mereka melalui beberapa
pertanyaan yang mendukung: bagaimana nilai-nilai Tradisi dan Visi Kristiani
meneguhkan; mengkritik atau mempertanyakan; mengundang mereka untuk
melangkah pada kehidupan yang lebih baik dengan semangat, nilai, dan iman
yang baru demi terwujudnya kerajaan Allah. Nilai perwujudan kerajaan Allah
yang diharapkan adalah situasi kehidupan di mana ada perdamaian, kasih, suka
cita, pengharapan, pengampunan, keadilan, persaudaraan, solidaritas, kesetiaan,
d. Penyadaran Arah Keterlibatan Baru
Unsur terakhir dalam Pendidikan Agama Katolik di sekolah adalah arah
keterlibatan baru. Arah keterlibatan baru ini bertolak dari kelompok murid-murid
Kristus yang dipanggil dan diutus. Maka Pendidikan Agama Katolik sebagai
komunikasi iman harus menolong siswa untuk mengalami panggilan mereka itu
dan menjalankan perutusan mereka. Untuk itu komunikasi iman terarah kepada
pembaharuan hidup dan keterlibatan kelompok siswa. Hal ini perlu diungkapkan
dalam perencanaan konkrit. Kalau perencanaan itu dijalankan maka pengalaman
dan praktek baru dialami oleh siswa. Praktek baru dalam kehidupan nyata atau
aksi nyata diwujudkan sebagai bentuk pertobatan sebagai unsur puncak dalam
pembelajaran Pendidikan Agama Katolik Sekolah Menengah Atas (PAK SMA).
Demikian pula halnya dalam kehidupan sehari-hari, siswa juga diajak
untuk mewujudkan segala pertobatan dalam pengalaman hidupnya (baik
keprihatinan maupun kegembiraan) yang telah dikaitkan dengan Kitab Suci
maupun Tradisi Gereja secara nyata. Perwujudan bentuk pertobatan dalam
pengalaman nyata siswa dapat dimulai dari hal-hal yang kecil dan dari dirinya
masing-masing, misalnya saja berefleksi terlebih dahulu sebelum melakukan
tindakan tertentu atau mengambil keputusan tertentu. Dalam hal ini, siswa
memikirkan secara sungguh-sungguh apa akibat yang ia dapatkan ketika ia
mengambil suatu keputusan. Jangan sampai keputusan yang diambil salah
sehingga dapat merugikan orang lain bahkan mengakibatkan kekecewaan yang
mendalam bagi siswa. Jangan sampai pula akibat kekecewaannya yang mendalam
tersebut membuat siswa semakin melakukan hal-hal yang tidak diinginkan atau
2. Pendekatan Pembelajaran PAK SMA yang Berorientasi pada