1. Kurangnya Kesadaran Hukum
Dari segi pengetahuan terkait adanya Peraturan Perundang-undangan yang mengharuskan perceraian hanya dilakukan di depan sidang Pengadilan Agama, masyarakat Desa Gelam Jaya sudah paham dan mengetahui adanya peraturan tersebut. Namun, kesadaran untuk mematuhi peraturan tersebut sering kali mereka mengabaikan nya, dan merasa cukup dilakukan secara kekeluargaan dan sah dalam pandangan Agama. Terlebih lagi jika yang melakukan perceraian tersebut pasangan yang sudah sepuh. Dan memang ada beberapa faktor lain yang membuat mereka melakukan perceraian di luar Pengadilan Agama.
Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Pak Aproni yaitu " Masyarakat Desa Gelam Jaya sudah sangat begitu paham akan hukum positif yang ada di Indonesia ini, apalagi dalam hal perceraian yang harus dilakukan di depan sidang pengadilan itu mereka sudah sadar sekali dan paham betul". Tetapi masih ada saja masyarakat yang belum mengindahkan peraturan tersebut. 88 Menurut Soraya Devy dan Ayu Maulina Rizqi dalam penelitiannya menjelaskan, sebenarnya fenomena pernikahan di bawah tangan atau nikah sirri bagi umat Islam di Indonesia secara umum masih terbilang banyak. Praktek nikah di bawah tangan biasanya bukan saja dilakukan oleh kalangan
88َWawancara Dengan Bapak Aproni, Operator Desa Gelam Jaya, di Kantor Kepala Desa Gelam Jaya. Senin, 15 Oktober 2020. Pukul 14:00 WIB.
90
masyarakat dengan kondisi ekonomi menengahb kebawah, tetapi juga oleh masyarakat dengan kondisi ekonomi menengah keatas. Sebut saja misalnya kasus nikah Aceng Fikri, mantan Bupati Garut dan kasus nikah Syekh Puji beberapa tahun silam, termasuk pula beberapa orang artis lainnya seperti yang dipublikasikan di media. Kondisi demikian terjadi karena beberapa faktor yang melatar belakanginya.89 Diantaranya karena kurang kesadaran hukum dan ada niat untuk tidak mematuhi hukum yang berlaku.
Kurangnya kesadaran dalam diri masyarakat terkait pentingnya mentaati Hukum Positif yang ada, terutama dalam masalah perceraian ini. Karena akan banyak sekali hak-hak yang tidak terpenuhi ketika terjadi perceraian di luar Pengadilan Agama.
2. Faktor Ekonomi
Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama bahwa, untuk berperkara di Pengadilan Agama harus membutuhkan biaya yang terbilang cukup besar. Hal ini telah diatur dalam Undang-Undang No. 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama yang meliputi biaya kepaniteraan dan biaya materai yang diperlukan untuk perkara itu, biaya untuk para saksi, saksi ahli, penerjemah dan biaya pengambilan sumpah yang diperlukan dalam perkara itu.90 Serta biaya-biaya lainnya seperti biaya advokat.
Kendatipun demikian, masyarakat tidak mampu yang ingin melakukan persidangan bisa mengajukan prodeo apabila tidak memiliki biaya yang cukup. Sesuai dengan Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia No. 1 Tahun 2014. Prodeo sendiri adalah proses berperkara di pengadilan secara cuma-Cuma dengan dibiayai Negara melalui anggaran Mahkamah Agung.91 Akan tetapi, biaya yang dikeluarkan untuk menyelesaikan perceraian di
89
Soraya Devy dan Ayu Maulina Rizqi, Perceraian Nikah di Bawah Tangan dan
Pengaruhnya terhadap Pengasuhan Anak (Studi Kasus di Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireun), Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam, Volume 2 No. 2. Juli-Desember 2018, h. 300.
90َUndang-Undang No.7 Tahun 1989.
91
Pengadilan tidak hanya meliputi biaya persidangan saja, tetapi dibutuhkan juga biaya lainnya seperti untuk ongkos ke Pengadilan dan lain-lain.
Biaya persidangan dan biaya lain-lain yang terasa cukup besar tersebut yang kemudian menurut masyarakat Desa Gelam Jaya memicu banyaknya terjadi kasus perceraian di luar Pengadilan Agama. Hal ini pun yang di rasakan oleh ibu Ismiyat Tarkimi yang enggan melakukan perceraian di luar Pengadilan Agama karena terbebani dengan biaya yang cukup besar menurutnya. Ibu Ismiyat Tarkimi mengatakan " saya tidak ke pengadilan karena harus bayar biaya untuk sidang nya."92
Hal ini pun sama seperti yang ditegaskan bapak oleh Pak Aproni sebagai Operator Desa Gelam Jaya yang mengatakan " Pertamanya karena tidak ada dana, dan mereka ingin simple melakukan perceraian hanya di depan tokoh agama saja"93 ketika diwawancarai terkait faktor apa saja yang membuat masyarakat Desa Gelam Jaya melakukan perceraian di luar Pengadilan Agama.
Pada dasarnya, masyarakat yang tidak sanggup atau kurang mampu melakukan perceraian di Pengadilan Agama karena terbebani dengan faktor ekonomi, bisa mengajukan Prodeo. Namun masyarakat Desa Gelam Jaya tetap melakukan perceraian di luar Pengadilan Agama karena biaya yang harus dikeluarkan bukan hanya biaya untuk persidangan, tetapi juga untuk biaya akomodasi dan lain-lain.
3. Proses yang Lama
Pada Pengadilan Agama ada dua jenis perkara perceraian, yaitu perceraian cerai gugat dan dan cerai talak. Yang mana cerai gugat adalah cerai yang dilakukan oleh pihak istri sedangkan secara talak adalah cerai yang dilakukan oleh pihak laki-laki, dan tentunya proses perceraian pada
92َWawancara Dengan Ibu Ismiyat Tarkimi, Pelaku Perceraian, di Kediaman Ibu Ismiyat Tarkimi. Selasa, 16 Oktober 2020. Pukul 14:00 WIB.
93َ Wawancara Dengan Bapak Aproni, Operator Desa Gelam Jaya, di Kantor Kepala َ Desa Gelam Jaya. Senin, 15 Oktober 2020. Pukul 14:00 WIB.
92
cerai talak akan memakan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan cerai gugat, hal tersebut dikarenakan akan adanya proses pengucapan ikrar talak oleh pihak suami di hadapan persidangan setelah putusnya berkekuatan hukum tetap.
Mekanisme dari mulai pendaftaran hingga persidangan yang berbelit-belit dan proses sidang yang cukup panjang sehingga membuat proses penyelesaiannya menjadi lama, terlebih jika salah satu (suami atau istri) berada di luar kota, maka hal ini akan mempengaruhi lamanya proses persidangan, Karna pada saat mengirimkan panggilan sidang akan meminta bantuan pengadilan setempat di tempat tinggal suami atau istri tersebut. Panggilan sidang dari pengadilan yang meminta bantuan dan yang membantu pengadilan, terkadang menggunakan jasa pengiriman surat. Sehingga tentu akan bergantung pada jarak antara kedua pengadilan tersebut. Dan biasanya minimal membutuhkan waktu dua minggu untuk mengantisipasi agar panggilan bisa disampaikan secara patut.94
Jika semua pihak hadir maka, perjalanan sidang akan bertambah lama karena para pihak mengikuti jalannya persidangan dengan baik. Misalnya ketika agenda sidang adalah jawaban dari pihak tergugat, tetapi pada hari sidang yang telah ditentukan tergugat tidak membawa jawabannya maka majelis hakim akan menunda persidangan dan dilanjutkan minggu depannya. Dan hal inilah yang menjadi salah satu penyebab masyarakat Desa Gelam Jaya enggan untuk menyelesaikan perceraian nya di hadapan sidang Pengadilan Agama. Hal ini pun yang dikatakan oleh Pak Aproni " Mereka ingin simple melakukan perceraian hanya di depan tokoh agama saja.‟‟95
Ketika diwawancarai faktor apa saja yang membuat masyarakat Desa Gelam Jaya melakukan perceraian di luar Pengadilan.
94َWWW.HUKUMONLINE.COM diakses 10 Januari 2021 pkl 11.18 WIB
95َWawancara Dengan Bapak Aproni, Operator Desa Gelam Jaya, di Kantor Kepala Desa Gelam Jaya. Senin, 15 Oktober 2020. Pukul 14:00 WIB.
93