• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. Macam-macam Perceraian Menurut Perspektif Hukum Islam a. Thalaq

Menurut etimologis, thalak diambil dari kata ”ithlaq” yang artinya “melepaskan atau meninggalkan”. Secara harfiyah Thalaq itu berarti lepas dan bebas. Dihubungkannya kata thalaq dalam arti kata ini

26 Muhammad Syaifuddin, Sri Turatmiyah, dan Annalisa Yahanan, Hukum Perceraian, h. 86.

27

Undang-Undang Peradilan Agama: UU Ri Nomor 50 Tahun 2009 Dan Kompilasi Hukum Islam (KHI), (Graha Pustaka Yogyakarta), h. 171.

28 UU No 1 Tahun 1974 Pasal 39.

29

dengan putusnya perkawinan karena antara suami dan isti sudah lepas hubungannya atau masing-masing sudah bebas.

Sedangkan menurut terminologis para ulama berbeda-beda dalam mengemukakan rumusannya, namun esensinya tetap sama. Al-Mahalli dalam kitabnya Syarh Minhaj al-Thalibin merumuskan :

َ ح َ م ََ ل َ يَ د َ َ ُنا َ ك َ حا ََ ب َ هَ ف َ ظ َ َ ط َ ل َ ق َ َ ٔ َ َ ح َ ٕ َ َِ 30

Artinya: "Melepaskan hubungan pernikahan dengan menggunakan

lafaz thalaq dan sejenisnya."

Dalam rumusan yang lebih sederhana dikatakan :

َ ُنا َ ك

َ حا َ عَ ة َ حَ دَ م َ م Artinya: " Melepaskan ikatan perkawinan."

Menurut Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibari al-Fannani mendefinisikan thalaq sebagai berikut :

َ طنا َ ل َ ق ََ ن َ غ ًَت َ َ ح َ م َ َ منا َ يَ د َ َ ٔ َ ش َ ر ًَع اَ َ ح َ م َ َ ع َ م َ د َ ةَ َ ُنا َ ك َ حا 31

Artinya: "Thalaq menurut istilah bahasa artinya melepaskan

ikatan, sedangkan menurut istilah syara’artinya melepaskan ikatan nikah."

Sayid Abu Bakar bin Muhammad ad-Dimyati memberikan penjelasan lebih lanjut terkait lafal yang digunakan dalam thalaq sebagai berikut : َ ي َ ت َ عَ ه َ ك ََ ب َ ح َ م َ َ ٔ َ ْ َ ٕ َ َ ي َ ش َ ت َ ك َ َ ط َ ل َ ق َ َ ٔ َ ف َ ر َ قا َ َ ٔ َ َ س َ ر َ حا َ َ ٔ َ غ َ ي َ ر َ َ ذ َ نا َ ك 32

Artinya: "Yang berhubungan dengan kata melepaskan yaitu yang

keluar dari lafadz thalaq, pisah, melepaskan, dan lain sebagainya."

Definisi yang agak luas disampaikan oleh Imam Taqiyuddin dalam kitabnya Kifayatul al-Akhyar sebagai berikut :

ْٕ َ عرشناَىفَقلطنا َ ََىسا َن َ،حاكُناَديلَمح ٔ يهْاجَظفنَْٕ َ ِريرمتبَعرشناَدرٔ 33

30 Zakaria Al-Anshori, Syarh Minhaj At-Thalibin, ( Indonesia: Al-Haramain), h., 95.

31

Zainuddin Al-Malibari, Fathul Mu’in, (Indonesia: Pustaka Islamiyah), h., 112

32 Utsman bin Muhammad Syatha Al-Dimyati, I’anah At-Tholibin, (Beirut: Dar Al-Fikr, 1997), Cet.1, Juz.4, h., 6.

30

Artinya: " Thalaq menurut ta’rif syara’, merupakan sebutan untuk

melepaskan ikatan nikah. Thalaq adalah lafadz jahiliyah yang kemudian dipakai oleh syara. "

Dari rumusan yang dikemukakan oleh Mahalli yang mewakili definisi yang diberikan kitab-kitab fiqih terdapat tiga kata kunci yang menunjukkan hakikat dari perceraian yang bernama thalaq.

Pertama : kata “melepaskan” atau membuka atau meninggalkan mengandung arti bahwa thalaq itu melepaskan sesuatu yang selama ini telah terikat, yaitu ikatan perkawinan.

Kedua : kata “ikatan perkawinan”, yang mengandung arti bahwa thalaq itu mengakhiri hubungan perkawinan yang terjadi selama ini. Bila ikatan perkawinan itu memperbolehkan hubungan antara suami dan istri, maka dengan telah dibuka ikatan itu status suami dan istri kembali kepada keadaan semula, yaitu haram.

Ketiga : kata “dengan lafadz tha-la-qa dan sama maksudnya dengan itu”mengandung arti bahwa putusnya perkawinan itu melalui suatu ucapan yang digunakan itu dalah kata-kata thalaq tidak sisebut dengan : putus perkawinan bila tidak dengan cara pengucapan ucapan tersebut, seperti putus karena kematian.

Dari beberapa definisi yang telah penulis kemukakan di atas, maka dapat penulis simpulkan bahwa yang dimaksud thalaq adalah lepasnya ikatan tali perkawinan antara suami istri dengan mengguakan lafadz khusus yaitu dengan lafadz thalaq atau semacam lafadz lainnya sehingga istri tidak halal lagi bagi suaminya setelah dithalaq.

Thalaq bisa diklarifikasikan menjadi beberapa jenis sesuai dengan aspek pandangannya. Dari segi dampak (pengaruh) yang ditimbulkan, maka thalaq ini terbagi menjadi dua macam, yaitu:

1) Thalaq raj‟i adalah pernyataan cerai suami paa istri yang telah digaulinya dengan lafadz-lafadz tertentu,34 thalaq

34 Nabiela Naily Holilur Rohman, Nurul Asiya Nadhifah dan Mahir Amin, Hukum

31

yang dijatuhkan satu kali oleh suami, dan membolehkan suami untuk kembali kepada istrinya selama masih dalam masa iddahnya tanpa akad baru.35 Apabila dia berkehendak untuk kembali dalam kehidupan dengan mantan suami atau istrinya, dalam bentuk thalaq ini cukup mengucapkan rujuk kepada mantan suami. 36

2) Thalaq ba’in adalah pernyataan cerai yang dilakukan suami pada istrinya engan tidak ada hak rujuk (kembali) terhadap mantan istrinya.37 thalaq yang tidak memberikan kesempatan lagi bagi suami untuk merujuk kembali istri yang telah dithalaqnya. Thalaq jenis ini ada dua macam, yaitu:

a) Thalaq ba’in sugra adalah cerai yang hilangkan hak rujuk bagi mantan suami, namun hak ikah baru tidak hilang. Thalaq bain sugra ini anara lain:

(1) Cerai yang dijatuhkan sebelum digauli (qabla dukhul).

Tidak ada iddah bagi perempuan yang dicerai sebelum terjadi hubungan intim (jima), dan aabila hendak rujuk, maka boleh dilakukan selama dalam masa iddah.

(2) Cerai satu atau dua yang teah habis masa iddahnya.

(3) Cerai satu atau dua yang dilakukan suami pada istriya, jika dalam masa iddah suami kembali pada istriya maka status cerainya menjadi thalaq raj‟i. akan tetapi, aabila masa

35 Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim, Shahih Fikih Sunnah, penerjemah, Khairul Amru Harahap dan Faisal Saleh, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2009), Cet.1, h., 413.

36

Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam Di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2007), h., 220.

37 Nabiela Naily Holilur Rohman, Nurul Asiya Nadhifah dan Mahir Amin, Hukum

32

iddah peremuan yang dcerai suda habs da suami tidak rujuk selama masa iddah tersebut, maka status cerainya menjadi thalaq ba‟in sugra.

(4) Thalaq Khulu

(5) Dalam Komplasi Hukum Islam (KHI) Pasal 1 huruf i “Khulu adalah perceraian yang terjadi atas permintaan istri dengan memberikan tebusan atau iwadh kepada dan atas ersetujuan suami”.

(6) Cerai yang ditetapkan oleh Hakim Pengadilan atas permintaan istri karena adanya sebab tertentu, misalnya suai iang atau tidak diketahui keberadaana (ghaib). Adapun ketentuan hokum thalaq ba’in sugra:

(1) Putus ikatan perkawinannya.

(2) Hilang hak bergaul sebagai suami istri, juga berkhalwat.

(3) Putus hubungan kewarisan, tidak berhak mejadi ahli waris bila salah satu pihak meninggal dunia.

(4) Istri yang dicerai masih boleh tinggal dirumah mantan suaminya dengan pisah ranjang serta ash berhak atas nafkah selama masa iddahnya

(5) Apabila hendak kembali atau rujuk, haus memperbarui akad dan ahar yang baru.

(6) Istri boleh menikah lagi dengan pria lain. 3) Thalaq ba’in kubra adalah cerai yang menyenbabkan hilangnya hak rujuk mantan suami kepada matan istri,

33

sekaiun keduanya ingin rujuk kembali, baik seama masih dalam masa iddah ataupun sesudahnya. Kecuali setelah mantan istri itu menikah dengan pria lain dan telah bercerai secara wajar dengan suami keduanya itu, serta telah seesai menjalankan masa iddahnya. Thalaq ba‟in kubro ini terjadi pada thalaq ketiga.

Untuk terjadinya thalaq ada beberapa unsur yang berperan padanya yang disebut dengan rukun, dan masing-masing rukun itu harus juga memenuhi persyraratan tertentu. Di antara persyaratn itu ada yang disepakati oleh ulama, sedangkan sebagiannya menjadi perbincangan di kalangan ulama.38 Ulama fiqih bebeda pendapat dalam persoalan rukun thalaq yang menyebabkan keabsahan suatu ucapan thalaq, namun beberapa hal yang disepakati sebagai rukun dalam thalaq, yaitu sebagai berikut:39

1) Rukun Pertama: adalah suami yang men-thalaq istrinya. Maka tidak sah thalaq yang dilakukan oleh bukan suami dari istri yang dithalaq karena perlu ditegaskan kembali bahwa thalaq itu dapat menghilangkan ikatan perkawinan antara suami-istri. Dengan demikian, tidak berlaku thalaq yang diucapkan sebelum adanya ikatan perkawinan.40

Syarat suami yang men-thalaq istrinya di antaranya adalah: a) Suami yang men-thalaq mestilah seseorang

yang telah dewasa. Hal ini mengandung arti bahwa anak-anak yang masih di bawah umur dewasa tidak sah thalaq yang dijatuhkannya.

38 Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia; Antara Fiqh Munakahat

dan Undang-undang Perkawinan, (Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2006), h., 201. 39

Saiful Millah, dan Asep Saepudin Jahar, Dualisme Hukum Perkawinan Islam di

Indonesia, ( Jakarta: AMZAH). h., 162. 40

Saiful Millah, dan Asep Saepudin Jahar, Dualisme Hukum Perkawinan Islam di

34

Persyaratan dewasa itu didasarkan pada beberapa hadis Nabi SAW dari Ali dan Umar menurut riwayat Ahmad dan Abu Daud yang bunyinya:

ٍَِع َٔ ،َكِْٛفَٚ َّٗرَد ٌِ ُُْْٕجًَْنا ٍَِع :ٍحَثَلََث ٍَْع ُىَهَمْنا َعِفُز

ٍَِع َٔ ،َظِمَْٛرْﺴَٚ َّٗرَد ِىِئاَُّنا

َىِهَرْذَٚ َّٗرَد ِِّٙثَّصنا

41

Artinya: "Diangkatkan hukum dari tiga golongan: orang tidur sampai ia bangun, anak kecil sampai ia dewasa, orang gila sampai ia sehat."

Sedangkan yang menjadi batas dewasa itu menurut fiqih adalah bermimpi melakukan hubungan kelamin dan mengeluarkan air mani. b) Sehat akalnya

Orang yang rusak akalnya tidak boleh menjatuhkan

thalaq. Bila thalaq dilakukan oleh orang yang tidak

waras akalnya, thalaq yang dijatuhkannya tidak sah. Termasuk dalam pengertian yang tidak waras akalnya itu adalah:

(1) Gila (2) Pingsan (3) Sawan (4) Tidur (5) Minum obat

(6) Terpaksa minum khamar atau meminum sesuatu yang merusak akalnya, sedangkan dia tidak tahu tentang itu.

Adapun dalil tidak sahnya thalaq orang yang tidak sehat akalnya itu adalah hadis Nabi yang berasal

35

dari Ali, dan Umar menurut riwayat Ahmad dan Abu Daud yang disebutkan diatas. Dan juga hadis Nabi dai Abu Hurairah menurut riwayat Al-Najad, bunyinya:

ِِّهْمَع َٗهَع ِبُٕهْغًَْنا ُِِٕرْعًَْنا َقَلََط َّلَِإ ٌصِئاَج ٍقَلََط ُّمُك

Artinya: "Setiap thalaq itu hukumnya boleh,

kecuali thalaq orang yang hilang akalnya."

c) Suami yang menjatuhkan thalaq berbuat sadar dan atas kehendak sendiri.

Dengan begitu thalaq yang dilakukan oleh orang yang tidak sadar atau dalam keadaan terpaksa tidak jatuh thalaqnya. Yang menjadi dasar dari tidak jatuh

thalaq orang yang terpaksa adalh hadis:

َّٗرَد ِىِئاَُّنا ٍَِع َٔ ،َكِْٛفَٚ َّٗرَد ٌِ ُُْْٕجًَْنا ٍَِع :ٍحَثَلََث ٍَْع ُىَهَمْنا َعِفُز

َىِهَرْذَٚ َّٗرَد ِِّٙثَّصنا ٍَِع َٔ ،َظِمَْٛرْﺴَٚ

Artinya: " Diangkatnya hukum dari umatku karena

kesalahan, kelupaan, dan karena terpaksa melakukannya."

Tidak jatuhnya thalaq orang yang dipaksa itu adalah pendapat yang dipegang oleh jumhur ulama. Alasannya ialah bahwa orang yang terpaksa itu meskipun dia mengucapkan kalimat thalaq, namun ia tidak bermaksud mengucapkannya.

d) Istri yang dithalaq

Maka tidak sah thalaq yang dilakukan oleh seorang lelaki kepada bukan istrinya karena tidak ada thalaq kecuali setelah adanya ikatan perkawinan yang sah

36

antara seorang laki-laki dan perempuan.42 Yang menjadi dalill tidak sahnya menjatuhkan thalaq terhadap yang bukan istrinya adalah hadis Nabi dari Amru bin Syueb dari ayahnya dan dari kakeknya, yang artinya: "Tidak sah thalaq kecuali terhadap perempuan yang sudah dinikahinya."

e) Shigat atau ucapan thalaq

Jumhur ulama berpendapat bahwa thalaq terjadi bila suami yng ingin menceraikan istrinya itu mengucapkan ucapan tertentu yang menyatakan bahwa istrinya itu telah lepas dari wilayahnya. f) Saksi

Kedudukan saksi dalam thalaq, memang terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama. Ada yang berpendapat bahwa saksi termasuk rukun yang wajib dipenuhi da nada pula yang berpendapat bahwa saksi itu termasuk kedalam hal yang sunnah. Penulis akan menjabarkan pendapat para ulama terkait kedudukan saksi dalam thalaq menurut Ulama Fiqih:

(1) Menurut Jumhur Ulama

Saksi dalam thalaq menurut jumhur ulama hukumnya sunnah, dan bukan merupakan legalitas thalaq. Dalil yang mereka pergunakan untuk pendapat itu adalah firman Allah dalam surah at-Thalaq ayat 2 yang berbunyi:

ٍَُُّْٕل ِزاَف َْٔأ ٍفُٔسْعًَِت ٍَُُّْٕكِﺴْيَأَف ٍََُّٓهَجَأ ٍَْغَهَت اَذِئَف

َجَدآََّشنا إًُِٛلَأ َٔ ْىُكُِْي ٍلْدَع ْ٘ ََٔذ أُدِْٓشَأ َٔ ٍفُٔسْعًَِت

42 Saiful Millah, dan Asep Saepudin Jahar, Dualisme Hukum Perkawinan Islam di

37

ۚ ِس ِخ ْٜا ِو َْْٕٛنا َٔ ِ َّلِلّاِت ٍُِيْؤُٚ ٌَاَك ٍَْي ِِّت ُظَعُٕٚ ْىُكِنََٰذ ۚ ِ َّ ِلِلّ

ََّاللّ ِكَّرَٚ ٍَْي َٔ

ا جَسْرَي َُّن ْمَعْجَٚ

Artinya: "Apabila mereka telah mendekati akhir

iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar."

Menurut jumhur ulama, amar lafadz (wa

asyhiduu) dalam ayat di atas adalah linnadab

(sunat), sebab amar tersebut ada sesudah penyebutan rujuk dan thalaq. Dengan demikian mempersaksikan thalaq dan rujuk itu hukumnya sunat saja. Alasan ini, tampaknya sulit diterima, sebab mereka sebelumnya tidak menerangkan demikian. Mereka juga tidak ada menegaskan sebelumnya jika amar yang didahului oleh kata-kata lain itu menjadi tidak wajib. Dalam pendekatan linguistik pun tidak ditemukan ketentuan yang sedemikian rupa.

Dalil-dalil Ijtihad

Ada beberapa dalil ijtihad yang dikemukakan untuk mendukung pendapat jumhur ulama tentang saksi dalam thalaq tidak wajib ada dua yaitu:

38

(a) Tidak ditemui riwayat Nabi dan sahabat yang menyatakan bahwa saksi dalam thalaq merupakan syarat legalitas, padahal thalaq banyak terjadi di masa itu. Menjadikan saksi sebagai syarat legalitas thalaq, berarti menambah suatu ketentuan tanpa dalil yang kuat.

(b) Thalaq adalah salah satu dari beberapa hak suami yang telah diberikan oleh Allah kepadanya, tidak kepada lainnya. Dengan demikian, jika suami ingin melepaskan haknya dengan cara yang dikehendakinya, tidak perlu adanya bukti atau saksi.

Dari uraian-uraian di atas, dapat dinyatakan bahwa jumhur ulama dalam menentukan hukum saksi adalah sunah dan bukan wajib, memakai dua bentuk penalaran yaitu bayani dan ta‟liliy.

Dengan demikian menurut penulis, apabila ditinjau dari aspek kemashlahatannya yang merupakan tujuan utuma daripada disyari'atkannya hukum, maka menetapkan amar lilwujub dalam lafadz wa asyhiduu untuk permasalahan thalaq, harus lebih diutamakan. Karena banyak hal negatif yang dapat diselesaikan jika ada saksi dalam perceraian disbanding dengan tidak adanya saksi.

39

(2) Menurut Ibn Hazmin

Menurut Ibn Hazmin, saksi dalam masalah thalaq statusnya sama dengan saksi dalam rujuk. Saksi tetap merupakan unsur fundamental atau merupakan syarat legalitas. Konsekuensinya, suami yang men- jatuhkan thalaq kepada istrinya tanpa mempersaksikannya dengan dua orang saksi dipandang telah melampaui batas-batas ketentuan Allah dan akan ditolak, sebagaimana hadis dari Rasulullah SAW dalam kaitan ini dengan tegas menyatakan:

ال دنال حشئاع ٍع

ز ل

ٕﺳ

ل

ّٛهع ﷲ ٗهﺻ ﷲ

ٔ

َي ىهﺳ

ٍْ

َأ

ْد

َد

َز

َأ

ْي

ِس

ََا

َْ

َر

ا

َي

َن ا

ْٛ

َﺲ

ِي

ُْ

ُّ

َف

ُٓ

َٕ

َّز

د

(

أز

ِ

أ

د

ٔ

هﺴي

ى )

Artinya: Dari Aisyah dia berkata; Rasulullah Saw bersabda: " Siapa saja yang mengadakan suatu urusan agama yang tidak sesuai dengan ketentuan, maka akan ditolak atau tidak akan diterima."(Hadis riwayat Ahmad dan Muslim)

(3) Menurut Sayyid Sabiq

Tentang saksi dalam thalaq, Sayyid Sabiq sependapat dengan Ibn Hazmin yaitu hukum saksi adalah wajib dan merupakan syarat legalitas dalam menjatuhkan thalaq. Dalil yang digunakan yaitu Firman Allah dalam surat al-Talaq ayat 2 sebagaimana juga ulama

40

lain menjadikannya sebagai dalil. Amar yang ada dalam lafadz (wa asyhiduu zawaa adlin

minkum) menurutnya tetap pada makna

asalnya yakni lilwujub bukan linnadab. Sebagai- mana ulama lainnya, Sayyid Sabiq dalam menentukan keputusan hukum juga memakai pola penalaran bayaniy yakni tetap memakai amar dengan makna aslinya, sesuai dengan kaedah kebahasaan.

b. Khulu

Secara etimologis khulu‟ berarti menghilangkan (al-izalah) dan mencerabut (an-naz‟u). Khala’a Fulan Tsaubah,bisa dikatakan apabila ia mencopot pakaiannya. Dan khala’a az-zauj zawjatahu bisa dikatakan apabila ia menghilangkan ikatan suami istri dengannya. Namun demikian, tradisi menggunakan kata khal’u ini untu meglankan sesuatu, selain ikatan suami isri. Sedangkan kata khul’u untuk menghilangkan ikatan suami istri.43 Khulu' ialah perceraian yang terjadi atas kemauan

istri dengan membayar iwadh (ganti) kepada suami, seperti perkataan suami kepada istrinya: “Kau kuthalaq dengan membayar seratus rupiah”. Kemudian istri membayar kepadanya seratus rupiah, maka jatuhlah thalaq tersebut.44

Dasar Hukum Khulu’

Apabila ada seorang yang istri membenci suaminya karena keburukan akhlaknya, ketaatannya terhadap agama, atau karena kesombongannya. dan dia sendiri khawatir tidak dapat menunaikan

43

Abdul Majid Mahmud Mathlubi, Panduan Hukum Keluarga Sakinah, penerjemah Haarist Fadly dan Ahmad Khotib, (Surakarta: Era Intermedia, 2002), h., 408.

44 Moh Rifai, Fiqih Islam Lengkap, (Semarang: PT. Karya Toha Putra Semarang, 2014), h., 464.

41

hak-hak Allah SWT maka diperbolehkan baginya meng-khulu‟ (dengan cara mengganti rugi berupa tebusan untuk menebus dirinya darinya).45

َد ُۡٔدُد اًَ ِۡٛمُٚ َّلَ َا ٓاَفاَرَّٚ ٌَۡا ۤ َّلَِا أًـــَۡٛش ٍَُّْ ًُُٕۡرَۡٛذَٰا ٓاًَِّي ا ُۡٔرُخۡاَذ ٌَۡا ۡىُکـَن ُّم ِذَٚ َلَ َٔ

ِٰاللّ

ؕ

َا ۡىُر ۡف ِخ ٌِۡاَف

ؕ ِّت ۡخَدَرۡفا اًَِۡٛف آًََِۡٛهَع َحاَُُج َلََف ِه ٰاللّ َد ُۡٔدُد اًَِۡٛمُٚ َّلَ

َلََف ِ ٰاللّ ُد ُۡٔدُد َكۡهِذ

اَْ ُۡٔدَر ۡعَذ

َ َ

ٌ ًُِٕۡهٰظنا ُىُْ َكِٕٮَٰٓنُٔاَف ِ ٰاللّ َد ُۡٔدُد َّدَعَرَّٚ ٍَۡي َٔ ۚ

Artinya: “Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu yang

telah kamu berikan kepada mereka (istri) kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang yang aniaya” ( Q.S.

Al-Baqarah : 229).

Demikian juga dengan hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radiyallahu „anhuma Bahwa istri Tsabit bin Qais mendatangi Rasulullah SAW dan berkata “Wahai Rasuullah, sesungguhnya aku tidak mencelanya dalam akhlaq dan agama, tetapi aku membenci kekufuran dalam Islam.” Rasulullah bersabda “Apakah kamu akan mengembalikan kebunnya kepadanya?” Ia menjawab, “Ya” Rasulullah kemudian berkata kepada Tsabit, “Terimalah kebun (itu) dan thalaqlah ia dengan thalaq yang sesunguhnya”46

Rukun dan Syarat Khulu’

Adapun rukun dan syarat khulu' adalah sebagai berikut:47 1) Suami yang menceraikan istrinya dengan tebusan.

45 Hasan Ayyub, Fiqhu al-Ushroti al-Muslimah, Terj. Fikih Keluarga, Jakarta: Pustaka al- Kausar, 2008, h., 355.

46

Abdul Majid Mahmud Mathlubi, Panduan Hukum Keluarga Sakinah, penerjemah Haarist Fadly dan Ahmad Khotib, h., 408-409.

47 Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia; Antara Fiqh Munakahat dan Undang-undang Perkawinan, (Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2006), h., 234.

42

Syarat suami yang menceraikan istrinya dalam khulu‟ adalah seperti yang berlaku dalam thalaq yakni berakal sehat, baligh, bertindak atas kehendaknya sendiri dan disengaja.

2) Istri yang meminta cerai dari suaminya dengan tebusan. Syaratnya: Istri tersebut masih berada di wilayah si suami, dalam arti, wanita tersebut masih berstatus istri sah nya. Dan apabila istri tersebut telah dicerai maka masih dalam masa iddah thalaq raj'i.

Kemudian syarat selanjutnya yautu istri yang telah dapat bertindak/bertanggung jawab atas hartanya, oleh karena itu ia harus sudah baligh, berakal sehat dan tidak berada dibawah pengampunan dan patut bertindak atas hartanya. Jika tidak memenuhi syarat tersebut, maka yang melakukan khulu' adalah walinya dengan menggunakan hartanya sendiri.

kepada istrinya. Hal ini sesuai dengan zhahir hadits tentang istri Tsabit.

3) Iwadh atau tebusan

Syarat tentang iwadh ini, para ulama berbeda pendapat. Kebanyakan ulama menemptkan iwadh ini sebagai rukun dari khulu' yang tidak boleh ditinggalkan dan harus ada. Pendapat yang mengatakan bahwa khulu' boleh tanpa adanya iwadh dari sang istri adalah salah satu pendapat dari Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Malik bin Annas, alasannya karena khulu' itu merupakan salah satu bentuk dari putusnya perkawinan, maka boleh tanpa adanya iwadh sebagaimana dalam talaq.

Mengenai bentuk iwadh para ulama telah sepakat bahwa iwadh adalah sesuatu yang berharga dan dapat dinilai sebagai mahar. Jika barang yang dijadikan iwadh itu barang

43

haram maka suami tidak sah menerimanya dan istrinya tetap terthalaq ba'in. Sedangkan mengenai nilai iwadh, para ulama berbeda pendapat, segolongan ulama ahli fiqih berpendapat bahwa suami tidak boleh mengambil iwadh lebih banyak dari mas kawin yang telah diberikan

4) Sighat

Syaratnya sighat, atau ucapan cerai yang disampaikan oleh suami tersebut harus menyatakan iwadh atau ganti rugi, bila tidak menyebutkan iwadh, maka menjadi thalaq bisaa. Para fuqaha telah berpendapat bahwa khulu‟ harus menggunakan lafadz khulu‟ atau dengan kata yang asalnya dari kata khulu‟ atau dengan lafadz yang membuktikan makna khulu‟ seperti kata mubara‟ah (melepas diri) atau fidyah (tebusan). Apabila tidak menggunakan lafadz khulu‟ atau lafadz yang tidak bermakna khulu‟ maka thalaqnya jatuh tetapi tebusannya bukan khulu‟, misalnya dengan ucapan “Engkau saya thalaq dengan uang satu juta”. Sayyid Sabiq menyebutnya thalaq dengan bayaran harta dan bukan khulu‟. Namun hal ini masih diperdebatkan oleh para ulama fiqih.

Adapun sighat khulu‟ ada dua macam :

a) Lafadz yang jelas ataupun sharih: lafadz yang diucapkan langsung memakai lafadz khulu‟, tebusan ataupun lafadz lain yang semakna dengan itu. Misalnya saya khulu‟ kamu dengan iwadh satu buah mobil, ataupun saya cerai kamu dengan tebusan sebuah mobil.

b) Lafadz kiasan ataupun kinayah: lafadz yang memakai sindiran ataupun kiasan semacam“ saya bebaskan kamu” dengan 10 juta.

44

Para ulama berbeda pendapat mengenai hal ini, sebagian ulama diantanya Zhahiriy dan Ibnu Munzir berpendapat bahwa khulu‟ sah, apabila terjadi kekhawatiran yang tidak dapat menegakkan hukum- hukum Allah. Dalil yang digunakan ulama ini adalah zhahir ayat yang menyatakan ada kekhawatiran tidak dapat menegakkan hukum-hukum Allah. Jika tidak demikian, maka tidak boleh mengambil kembali apa yang telah diberikannnya kepada istrinya sebagai mahar (khulu'). Alasan ini sesuai dengan hadits Nabi yang diriwayatkan Abu Daud dari Tsauban.

Artinya : " Telah mengabarkan kepada kami Sulaiman bin Harb, telah mengabarkan Hamad, dari Ayub, dari Abi Qilabah, dari Abi

Asma‟, dari Tsauban berkata: Rasulullah Saw bersabda “Istri mana saja yang meminta thalaq dari suaminya tanpa alasan, maka diharamkan atasnya bau surga”. (HR.Abu Daud.)

Sedangkan pendapat lain, yang mengatakan bahwa terjadinya khulu‟ tidak harus setelah terjadinya kekhawatiran tidak akan menegakkan hukum-hukum Allah, tanpa alasan tersebut khulu‟ tetap sah. Alasannya bahwa yang terdapat dalam al-Qur‟an maupu Hadits tentang terjadinya khulu‟ itu bukan merupakan syarat. Pendapat ini dipegang jumhur ulama, akan tetapi hukumnya adalah makruh, bahkan Imam Ahmad mengharamkan khulu‟ yang terjadi tanpa alasan kehawatiran tidak dapat menegakkan hukum Allah.48

Hikmah Khulu', sebagaimana yang telah dijelaskan diatas mempunyai tujuan yaitu untuk menghindarkan istri dari

48 Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia; Antara Fiqh Munakahat dan Undang-undang Perkawinan, (Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2006), h. 238.

45

kesulitan dan kemudaratan yang dirasakannya. Artinya apabila istri merasa sudah tidak kuat lagi bersama suaminya dan ingin berpisah karena dikhawatirkan apabila perkawinan dilanjutkan

Dokumen terkait