BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
1 Faktor Yang Berasal Dari Dalam Diri Individu
Sesuai dalam rencana penelitian telah ditetapkan bahwa fokus penelitian yang pertama yaitu faktor yang berasal dari dalam diri individu. Melalui pendekatan ini diketahui bahwa penyebab terjadinya perilaku adalah hal-hal yang ada dalam diri individu. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku individu adalah Persepsi Individu, Kebutuhan, Harapan, Harga Diri dan Prestasi.
Dalam fokus pertama ditetapkan sasaran kajian yang akan di bahas sebagai berikut :
a. Persepsi Individu
Secara konseptual Persepsi Individu adalah faktor yang berupa persepsi terhadap dirinya sebagai penduduk musiman, persepsi tentang aturan kependudukan, tentang kartu identitas penduduk musiman. Hasil temuan dilapangan dapat diuraikan berdasarkan uraian wawancara dan dokumen berikut ini :
Uraian wawancara dengan key person Ibu Safira selaku Sekretaris Camat di Kecamatan Wonokromo mengenai Persepsi masyarakat tentang tertib Administrasi Kependudukan, beliau menjelaskan bahwa:
“...Kesadaran masyarakat untuk tertib administrasi kependudukan seperti KIPEM memang terbilang susah mas, karena banyak masyarakat yang tidak tau tentang KIPEM. Masyarakat mengetahui tentang administrasi kependudukan ya seperti pengurusan KTP, KK dan Akta Kelahiran saja mas. Itupun masyarakat banyak yang masih tidak tertib, seperti KTP yang sudah tidak berlaku saja tidak diurus untuk di perpanjang. Di Kecamatan Wonokromo ini pernah diadakan sosialisasi tentang tertib kependudukan, termasuk ya KIPEM itu mas. dalam program penertiban administrasi kependudukan khususnya KIPEM itu pihak Kecamatan bekerjasama dengan Satpol PP dan pihak yang terkait, untuk mengadakan operasi yustisi di tiap-tiap Kelurahan di Kecamatan Wonokromo. Terutama di Kelurahan Wonokromo karena disitu paling banyak penduduk musiman yang tinggal disitu mas. Dalam kegiatan yustisi itu saya juga ikut serta langsung mas, dan ternyata saya menemui penduduk musiman yang tidak memiliki KIPEM. dan langsung kita jaring mas, KTP nya kita sita dan ditahan di Kecamatan, dan pengambilan nya juga di Kecamatan dengan dikenakan denda seratus ribu mas. tapi setelah terjaring itu penduduk musiman tersebut hanya membayar denda saja mas, tidak langsung mengurus KIPEM dikarenakan tidak membawa syarat berupa surat keterangan dari tempat tinggal asal mereka mas..” (wawancara 2 juni 2014)
Untuk mendukung pernyataan diatas peneliti juga mewawancarai key person pendukung yaitu bapak Djuli selaku Sekretaris Lurah di
Kelurahan Wonokromo mengenai tentang persepsi masyarakat dalam tertib Administrasi Kependudukan, beliau menjelaskan bahwa :
“...Tertib administrasi kependudukan itu kan hukumnya wajib mas, akan tetapi banyak masyarakat yang tidak mau tertib itu dikarenakan kesadaran masyarakat itu kurang. Masyarakat mengetahui administrasi kependudukan itu ya seperti ngurus KTP, ngurus Akta Kelahiran. Untuk administrasi kependudukan seperti KIPEM ini memang belum banyak masyarakat yang mengetahui mas. Oleh karena itu kami dari pihak Kelurahan, dan pihak Kecamatan serta bantuan dari Satpol PP melakukan operasi yustisi dalam rangka penertiban kependudukan seperti KIPEM itu mas. alhasil ya banyak yang terjaring dengan alasan masyarakat tersebut tidak mengetahui tentang KIPEM itu mas.. ” (wawancara 12 Juni 2014)
Pernyataan diatas didukung oleh informan yaitu Egi 26 tahun penduduk musiman di Kelurahan Wonokromo mengenai persepsi tentang Administasi Kependudukan, dengan mengatakan :
“...saya belum pernah denger mas tentang KIPEM, selama saya tinggal disini hampir 2 tahun. Yang saya tau tentang administrasi kependudukan ya seperti KTP, KK, dan Akta Kelahiran saja mas. KIPEM saya belum pernah tau mas, kalau saya disuruh ngurus kipem dengan syarat pembuatan yang mas sebutkan, kayaknya kok ribet ya mas. rumah saya jauh soalnya mas di Bogor dan saya jarang pulang. ditempat saya kos belum pernah tuh mas ada operasi yustisi KIPEM. Kalaupun saya kena operasi yustisi, ya saya mending bayar denda saja mas. daripada saya harus ngurus surat keterangan dari rumah saya lebih males dan ngeluarin banyak uang..”. (wawancara 14 Juni 2014)
Pernyataan diatas didukung oleh informan lain yaitu: Doni 25 tahun bekerja di Royal Plaza yang kos di Kelurahan Wonokromo, dengan mengatakan:
“...KIPEM itu apa ya mas, kok saya baru denger. Oh saya belum tau, boleh tolong jelasin tentang KIPEM itu mas. Kalau disuruh ngurus sih saya gak ada waktu mas, kerja saya saja dari pagi sampe malem. Apalagi persyaratan nya rumit, jadi males ngurus mas. yang saya tau administrasi kepndudukan itu ya e-TKP mas. kalau saya sudah punya e-TKP ya ngapain ngurus KIPEM mas, kan sama-sama kartu identitasnya mas..” (wawancara 14 Juni 2014)
Pernyataan diatas juga didukung oleh informan lain yaitu Regi 21 tahun yang kos di Kelurahan Wonokromo, dengan mengatakan :
“...saya belum pernah tau sama sekali tentang KIPEM mas, ibu kos saya juga gak pernah ngasih tau tentang KIPEM, soalnya ditempat kos saya gak diwajibkan punya KIPEM mas. lagian saya juga jarang dikos mas, banyak kegiatan kampus diluar. Jadi ya males mas ngurus begituan yang menurut saya gak terlalu penting. belum pernah itu mas ada operasi yustisi tentang KIPEM dikos saya, ya mungkin saya jarang dikos mas. jadi saya gak pernah kena yustisi..” (wawancara 15 Juni 2014)
Temuan lain untuk sasaran kajian ini ditemui oleh informan yaitu Rino 20 tahun Mahasiswa Unesa yang kos di Kelurahan Wonokromo mengenai Persepsi tentang Administrasi Kependudukan, dengan mengatakan :
“...Saya pernah denger KIPEM itu dari ibu kos saya mas, tapi saya gak terlalu menghiraukan mas. Karena saya rasa gak penting mas ngurus KIPEM itu. Teman kos saya juga gak ada yang mau ngurus mas. administrasi kependudukan yang saya tau ya e-KTP itu mas. kalau disuruh ngurus KIPEM sih males mas, syaratnya rumit mas. dikosan saya belum pernah kena operasi yustisi tentang KIPEM, dan sampai saat ini aman-aman saja mas..”(wawancara 13 Juni 2014)
Pernyataan diatas juga didukung oleh informan lain yaitu: Andhika 21th teman satu kos dengan Rino, dengan mengatakan :
“...iya mas saya pernah disuruh ibu kos buat ngurus KIPEM, tapi persyaratan nya itu loh mas ribet. Disuruh minta keterangan dari tempat tinggal saya, rumah saya jauh e mas di purworejo. saya juga jarang pulang kerumah. Lagian kulia saya banyak tugas mas, jadi males ngurus begituan. Ya kalau saya kena yustisi, ya mau gimana lagi mas ya bayar denda saja. Daripada saya harus pulang untuk ngurus surat keterangan dari tempat tinggal saya yang jauh lebih mahal biayanya dan bikin males mas..” (wawancara 13 Juni 2014)
Pernyataan diatas juga di dukung oleh informan lain yaitu : Budianto 39th bekerja entertainment distasiun televisi swasta yang bertempat tinggal di Kelurahan Wonokromo, dengan mengatakan:
“...Saya warga Banyuwangi mas, saya tinggal di Surabaya ini sudah 12 tahun dan saya belum punya KIPEM. meskipun saya sudah tau tentang KIPEM serta operasi yustisi KIPEM, saya tetap tidak mau mengurus KIPEM mas. Karna menurut saya fungsi dari KIPEM tersebut itu apa? Dan saya tidak punya waktu untuk mengurus KIPEM mas kerjaan saya sibuk. Tertib administrasi yang saya tau ya e-KTP mas, kalau saya sudah punya e-KTP ya sudah mas. Terus fungsinya e- TKP apa mas, kalau saya diharuskan punya KIPEM. saya rasa KIPEM hanya berfungsi sebagai identitas saja mas, itu yang menyebabkan saya males ngurus KIPEM mas..”.(wawancara 14 Juni 2014)
Untuk mendukung pernyataan diatas, peneliti juga wawancarai kepada informan lain yaitu : Fakhrur 25th bekerja di salah satu instansi di Wonokromo, dengan mengatakan:
“...saya dulu pernah kena yustisi KIPEM saat saya kos di belakang royal situ mas. saat itu saya belum tau tentang KIPEM sama sekali, tiba-tiba ada operasi ya saya kaget mas. ibu kos saya juga gak pernah ngasih tau saya agar mengurus KIPEM. akhirnya KTP saya ditahan di Kecamatan mas. dan saya ambil di Kecamatan dengan bayar denda seratus ribu, saya disuruh langsung ngurus KIPEM pada saat itu mas. tapi saya belum membawa persyaratan nya. Ya mending bayar seratus ribu mas, daripada saya di suruh pulang ketempat asal saya dan ngurus surat keterangan dari tempat asal saya, malah ngeluarin banyak biaya mas. rumah saya saja di Balikpapan...” (wawancara 15 Juni 2014)
Berdasarkan hasil penelitian terhadap fokus internal tentang Persepsi yang ada didalam diri individu, bahwa persepsi penduduk musiman yang mereka ketahui tentang administrasi kependudukan yaitu e-KTP dan pengurusan lain seperti Akta Kelahiran dan KK. Penduduk musiman yang sudah mengetahui tentang KIPEM serta yang belum mengetahui sama sekali tentang KIPEM tidak mau mengurus KIPEM dikarenakan tidak peduli terhadap tertib administrasi kependudukan berupa KIPEM. Persepsi lain penduduk musiman yang tidak mau mengurus KIPEM dikarenakan tidak adanya waktu untuk mengurus KIPEM, Syarat pembuatan KIPEM yang terbilang ribet, dan faktor
belum pernah terjaring razia yustisi tentang KIPEM. Bahkan ada juga persepsi dari penduduk musiman yang mengatakan mending membayar denda seratus ribu daripada harus mengurus surat keterangan dari tempat tinggal asal mereka yang dinilai lebih mengeluarkan biaya lebih besar daripada membayar denda seratus ribu. Dilihat dari faktor Persepsi tidak memotivasi atau tidak mendorong penduduk musiman untuk mengurus KIPEM, dan tertib Administrasi Kependudukan.
b. Kebutuhan
Secara konseptual Kebutuhan adalah faktor yang berupa dorongan dan mengarahkan penduduk musiman untuk mencari atau menghindari, mengarahkan dan memberi respon terhadap tekanan yang berhubungan dengan kartu identitas penduduk musiman. Hasil temuan dilapangan dapat diuraikan berdasarkan pengamatan, uraian wawancara dan dokumen berikut ini :
Uraian wawancara dengan key person Ibu Safira selaku Sekretaris Camat di Kecamatan Wonokromo mengenai Kebutuhan masyarakat tentang kepemilikan KIPEM, beliau menjelaskan bahwa :
“...Masyarakat mau ngurus KIPEM itu, kebanyakan karena butuh dan terdesak mas. seperti contoh masyarakat mengurus KIPEM itu untuk keperluan membuka rekening di Bank, atau kebutuhan lainnya yang harus memiliki KIPEM. jadi intinya gini mas, tidak ada masyarakat yang mengurus KIPEM itu karena sadar akan tertib administrasi kependudukan, tetapi mengurus untuk kebutuhan pribadinya. Dan masyarakat membuat KIPEM itu hanya sebagai alat untuk keperluan yang masyarakat butuhkan..” (wawancara 2 Juni 2014)
Mendukung pernyataan tersebut diatas didukung oleh key person pendukung bapak Djuli selaku Sekretaris Lurah di Kelurahan
Wonokromo mengenai Kebutuhan masyarakat dalam kepemilikan KIPEM, beliau menjelaskan bahwa :
“...Sebenarnya gini mas, KIPEM itu kan wajib dimiliki bagi penduduk musiman. selain sudah diterapkan dalam Perda, KIPEM itu juga sebagai kartu identitas penduduk musiman yang tinggal di Surabaya. Kelurahan Wonokromo ini membuka pelayanan malam mas, itu sudah diterapkan dalam Perwali. Tapi ya gitu mas, dari Januari sampe Juni hanya lima orang saja yang mengurus KIPEM. dari lima orang yang mengurus KIPEM itu beberapa mengurus dikarenakan keperluan membuka rekening dan untuk syarat subsidi kontrak rumah dari perusahan dia bekerja. Jadi masyarakat mau mengurus KIPEM itu untuk keperluan dan kebutuhan masyarakat tersebut bukan karena masyarakat sadar akan tertib administrasi kependudukan..” (wawancara 12 Juni 2014)
Gambar 11.
Pelayanan Malam Di Kelur ahan Wonokr omo
Pernyataan diatas didukung oleh informan Alex 24th pemilik KIPEM yang dapat diwawancarai oleh peniliti melalui telepon, mengenai Kebutuhan tentang kepemilikan KIPEM, dengan mengatakan :
“...iya mas, saya yang mengurus KIPEM di Kelurahan Wonokromo pada bulan maret kemarin. Saya dulu mengurus KIPEM, karena saya mau membuka rekening di Surabaya mas. tapi syaratnya harus mempunyai KIPEM, jadi saya membutuhkan KIPEM itu dan saya langsung mengurus, kalau saya gak punya KIPEM saya gak bisa membuka rekening mas. saya tidak membuka rekening ditempat asal saya tinggal karena ini mas, saya kan kerja jadi pulangnya itu pas waktu hari libur. Jadi Bank tutup semua mas, makanya saya ngurus surat keterangan dari tempat tinggal saya untuk membuat KIPEM di Kelurahan Wonokromo agar bisa membuka Rekening di Surabaya mas..” (wawancara 18 Juni 2014)
Pernyataan diatas juga didukung oleh informan lain yaitu Setevanus 22 tahun pemilik KIPEM yang dapat ditemui ditempat kerjanya dan peneliti mewawancarai mengenai Kebutuhan kepemilikan KIPEM, dengan mengatakan :
“...iya mas saya tau tentang KIPEM, dan saya juga sudah punya KIPEM mas. Saya membuat KIPEM itu karena ini lo mas, saya kan pekerja swasta. Nah saya itu mau membuka rekening disini mas, tapi gak bisa kalau saya tidak punya KIPEM. jadi saya membutuhkan KIPEM itu dan akhirnya saya ngurus KIPEM mas, biar saya bisa membuka rekening di Surabaya..” (wawancara 19 Juni 2014)
Pernyataan informan diatas didukung oleh dokumentasi foto, sebagai berikut:
Gambar 12.
Berdasarkan hasil penelitian terhadap fokus internal tentang Kebutuhan yang ada dalam diri individu, bahwa Penduduk Musiman yang mengurus KIPEM itu dikarenakan butuh untuk keperluan penduduk musiman tersebut seperti membuka rekening di Bank dan syarat subsidi kontrak rumah dari Perusahaan penduduk musiman itu berkerja. KIPEM dibutuhkan karena sebagai alat untuk syarat pengurusan yang diwajibkan atau harus memiliki KIPEM, bukan mengurus KIPEM karena sadar akan tertib Administrasi Kependudukan. Dari faktor Kebutuhan memotivasi atau mendorong penduduk musiman mengurus KIPEM, dikarenakan penduduk musiman membutuhkan KIPEM sebagai persyaratan lain yang harus memiliki KIPEM.
c. Harapan
Secara konseptual Harapan adalah faktor yang berupa akan masa depan bila tertib atau tidak tertib administrasi kartu identitas penduduk musiman. Hasil temuan dilapangan dapat diuraikan berdasarkan pengamatan, uraian wawancara dan dokumen berikut ini :
Uraian wawancara dengan key person Ibu Safira selaku Sekretaris Camat di Kecamatan Wonokromo mengenai Harapan masyarakat dengan kepemilikan KIPEM, beliau mengatakan bahwa :
“...Operasi yustisi yang dilakukan Kecamatan Wonokromo dengan bantuan Satpol PP dibeberapa Kelurahan, khususnya di Kelurahan Wonokromo seperti di belakang Royal itu telah terjaring penduduk musiman yang tidak memiliki KIPEM mas. mereka yang terjaring kita menyita KTP nya dan untuk diambil di Kecamatan dengan membayar denda seratus ribu. serta harus langsung mengurus KIPEM pada saat itu juga di Kecamatan. Tapi banyak juga yang tidak langsung mengurus, dikarenakan belum membawa persyaratan. Beberapa ada yang mau mengurus, setelah mereka mengurus surat keterangan dari
tempat tinggal asalnya. Masyarakat yang mau mengurus KIPEM setelah kena yustisi karena masyarakat berharap tidak akan terjaring yustisi lagi dan tidak akan membayar denda lagi ketika masyarakat itu sudah memiliki KIPEM mas..” (wawancara 2 Juni 2014)
Mendukung pernyataan diatas juga didukung oleh key person pendukung yaitu bapak Djuli selaku Sekretaris Lurah di Kelurahan Wonokromo mengenai Harapan masyarakat dengan kepemilikan KIPEM, beliau mengatakan bahwa :
“...jadi gini mas, pihak Kelurahan dan Kecamatan serta Satpol PP ini telah bekerjasama untuk melakukan yustisi KIPEM di kos-kosan. Dan yang pernah dilakukan yustisi di Kelurahan Wonokromo itu di belakang Royal mas. Disitu soalnya banyak kos-kosan, otomatis banyak juga penduduk musiman yang tinggal disitu. Ternyata banyak penduduk musiman disitu yang tidak memiliki KIPEM. maka bagi yang terjaring, KTP nya kami tahan di Kecamatan. Dapat diambil di Kecamatan, dengan dikenakan denda seratus ribu. Harapan kami setelah dilakukan operasi yustisi ini penduduk musiman akan tertib Administrasi Kependudukan (KIPEM) mas...” (wawancara 12 Juni 2014)
Pernyataan diatas juga didukung oleh informan yaitu Setevanus 22 tahun tentang Harapan setelah memiliki KIPEM, dengan mengatakan:
“...Saya ngurus KIPEM ini sebenarnya disamping wajib, saya juga membutuhkan KIPEM mas. Soalnya saya kan sering keluar malem mas, kadang balik dikos itu selalu pagi. Nah dengan saya ngurus KIPEM, dan saya sekarang memiliki KIPEM jadi tenang mas mau keluar malam. Harapan saya dengan mempunyai KIPEM ini ketika ada operasi yustisi, saya aman gak terjaring yustisi dan juga tidak kena denda mas..” (wawancara 19 Juni 2014)
Pernyataan diatas juga didukung oleh informan lain yaitu mba serly selaku pegawai administrasi di Kecamatan Wonokromo tentang Harapan masyarakat setelah mengurus KIPEM, dengan mengatakan:
“...Setelah terjaring operasi yustisi itu kan KTP nya kami sita dan kami tahan di Kecamatan mas, dan harus diambil di Kecamatan dengan dikenakan denda seratus ribu. Ada beberapa orang yang
mengambil KTP nya itu, dengan membawa persyaratan pengurusan KIPEM. dan setelah membayar denda, mereka langsung mengurus KIPEM mas, dengan harapan agar tidak terjaring operasi yustisi dan dikenakan denda seratus ribu lagi..”(wawancara 2 Juni 2014)
Berdasarkan hasil penelitian terhadap fokus internal tentang Harapan yang ada dalam diri individu. Bahwa faktor harapan memotivasi penduduk musiman untuk mengurus KIPEM, dengan harapan tidak terjaring yustisi dan masyarakat merasa aman. Serta dengan memiliki KIPEM penduduk musiman yang sudah pernah terjaring yustisi tidak membayar denda lagi.
d. Harga Diri dan Prestasi
Secara konseptual Harga Diri dan Prestasi adalah faktor yang berupa harga diri untuk mendorong penduduk musiman agar berusaha menjadi pribadi yang mandiri dengan mengurus kartu identitas penduduk musiman. Hasil temuan dilapangan dapat diuraikan berdasarkan pengamatan, uraian wawancara dan dokumen berikut ini :
Uraian wawancara dengan key person Ibu Safira selaku Sekretaris Camat di Kecamatan Wonokromo mengenai Harga Diri masyarakat dengan kepemilikan KIPEM, beliau mengatakan bahwa :
“...ya ini mas, masyarakat mengurus KIPEM itu kan karena masyarakat membutuhkan mas. Dengan memiliki KIPEM itu bukan suatu hal yang bisa menambah gengsi seseorang. Ya sebuah kartu identitas aja mas, beda lagi kalau memiliki Credit Card atau Debit Card mas. Masyarakat akan merasa harga diri nya tinggi, karena kartu tersebut bisa menambah gengsi seseorang mas...” ( wawancara 2 Juni 2014)
Pernyataan diatas didukung oleh informan yaitu Setevanus 22 tahun yang memiliki KIPEM di wawancarai tentang Harga Diri setelah memiliki KIPEM, dengan mengatakan:
“...saya punya KIPEM ini ya karena saya butuh mas, kalau dibilang gengsi untuk memiliki KIPEM sih gak mas. karena kan KIPEM cuma kartu identitas aja. Beda lagi kalau punya Debit Card mas, itu kan ada nominalnya, nah itu bisa menambah gengsi mas, dan bisa terlihat keren kalau punya itu..” (Wawancara 19 Juni 2014)
Pernyataan diatas juga didukung oleh informan lain yaitu Christian 21 tahun yang bertempat tinggal di Kelurahan Wonokromo mengenai Harga Diri dengan kepemilikan KIPEM, dengan mengatakan:
“...saya belum tau KIPEM mas, saya baru denger KIPEM ini ya baru dari mas. Teman-teman saya juga gak ada yang tau tentang KIPEM mas. menurut saya gak punya KIPEM itu biasa aja mas, karena gak begitu penting mas. oalah mas KIPEM itu kan hanya kartu identitas aja, jadi ya gak menambah gengsi apa-apa mas. Kalau kartu lain seperti Debit Card atau kartu Members itu baru menambah gengsi mas. dan harga diri saya akan lebih meningkat mas, kalau saya memiliki itu...” (Wawancara 20 Juni 2014)
Berdasarkan hasil penelitian terhadap fokus internal tentang Harga Diri dan Prestasi yang ada dalam diri individu. Bahwa masyarakat beranggapan KIPEM tidak menambah gengsi dan meningkatkan Harga Diri masyarakat. Karena KIPEM dianggap sebagai kartu identitas saja , maka setiap penduduk musiman yang tidak memiliki kartu identitas musiman seharusnya memiliki rasa malu terhadap masyarakat domisil Kota Surabaya. dikarenakan penduduk musiman tersebut tidak jelas asal usulnya bila tidak mematuhi tata tertib administrasi kependudukan berupa KIPEM. Dengan itu fokus Harga Diri dan Prestasi tidak memotivasi penduduk musiman untuk melakukan pengurusan KIPEM.