• Tidak ada hasil yang ditemukan

III. KERANGKA PEMIKIRAN

3.1. KerangkaPemikiran Teoritis

3.1.7. Faktor yang Mempengaruhi Efektifitas Kinerja

Kemitraan Usahatani Sayuran

Kinerja sebuah kelembagaan sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang juga merupakan refleksi kinerja peran pelaku yang terlibat dalam kelembagaan kemitraan tersebut. Secara umum faktor yang mempengaruhi efektifitas kelembagaan kemitraan dapat dikelompokkan menjadi empat faktor yaitu teknis, ekonomis, sosial kelembagaan dan kebijakan (Saptana, et al, 2006).

Faktor Teknis

Dalam hubungannya dengan efektifitas kelembagaan kemitraan usaha, faktor teknis lebih terkait dengan upaya penjaminan akan kuantitas, kualitas, dan kontinyuitas pasokan suatu komoditas. Aspek ini merupakan entry point bagi kelangsungan sebuah kerja diantara pelaku kemitraan. Beberapa butir penting yang harus mendapat perhatian adalah: (1) kemampuan petani atau kelompok tani untuk memproduksi bibit bermutu sendiri atau jika belum mampu maka bibit atau benih harus tersedia dengan harga terjangkau, (2) intensifikasi usahatani serta penerapan pola tanam yang optimal, (3) kemampuan penyediaan saprodi oleh kelompok, (4) dibangun sistem panen dan pascapanen yang baik, serta (5) pembinaan secara lebih intensif dan profesional dari PPL, peneliti dan akademisi (menyangkut budidaya sampai pemasaran).

Faktor Ekonomis

Dari aspek ekonomis, efektifitas kelembagaan kemitraan dipengaruhi oleh adanya sistem insentif yang menarik sehingga para pelaku yang terlibat dalam kemitraan mendapat keuntungan dan akhirnya tetap bertahan dalam sebuah ikatan kelembagaan kemitraan. Faktor ekonomi yang dianggap cukup penting diantaranya: (1) bantuan permodalan untuk simpan pinjam sehingga petani atau kelompok tani dapat memenuhi kebutuhan modal usahataninya. Bantuan modal juga diperlukan agar kelompok tani dapat bersaing dengan tengkulak. (2)

Pemasaran komoditas dilakukan secara bersama dengan harapan dapat memperkuat bargaining position petani atau kelompok tani. (3) Fasilitas sarana pemasaran ditingkat kelompok, dan (4) kepastian pasar dan harga.

Faktor Sosial Kelembagaan

Kelembagan yang tumbuh secara alamiah dapat dipandang efektif, karena kelembagaan ini tumbuh sesuai kebutuhan pelakunya, walaupun belum tentu efisien bagi para pelakunya dilihat dari sisi manfaat yang diperolehnya. Aturan main dibuat secara konsensus oleh para pelaku yang berinteraksi, sehingga ketaatan terhadap aturan main diantara pelakunya cukup kuat. Penyimpangan terhadap aturan main yang telah disepakati relatif jarang terjadi, walaupun ada pelaku yang merasa kurang diuntungkan dalam interaksi yang sedang berlangsung. Kelembagaan yang tumbuh secara alamiah tumbuh secara perlahan- lahan dalam waktu yang cukup lama, dan terjalin ikatan-ikatan dengan pola yang jelas antar pelaku. Proses sosial yang berlangsung dalam kelembagaan yang terbentuk secara alamiah berlangsung secara informal, sifatnya personal dan sederhana, sesuai dengan budaya masyarakat pendukungnya. Hubungan personal yang terjalin dalam kurun waktu yang lama menumbuhkan kepercayaan (trust) yang kuat antar pelaku yang berinteraksi.

Pelaku yang mendukung kelembagaan tersebut pada umumnya masuk menjadi bagian kelembagaan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Namun demikian ikatan yang terjalin antarpelaku tidak saja terjadi karena faktor ekonomi semata, tetapi juga diperkuat dengan ikatan-ikatan sosial seperti kekerabatan yang saling bantu di luar kegiatan ekonomi. Hal ini menunjukkan bahwa upaya untuk mencapai tujuan ekonomi didukung pula dengan modal sosial dari pelaku yang menjadi alat pengikat antarpelaku.

Kelompok tani, Gapoktan, dan asosiasi petani merupakan suatu bentuk organisasi baru yang diintroduksikan dalam masyarakat dengan kelembagaan yang sudah ada. Kehadiran pelaku baru harus jelas posisi dan peran yang akan dijalani. Apakah merupakan suatu posisi dan peran yang sama sekali baru atau menggantikan posisi dan peran dari pelaku yang sudah ada. Pada umumnya petani ditempatkan pada posisi yang baru dengan peran yang baru pula yaitu sebagai wadah untuk belajar bagi petani, sebagai media antara bagi petani dengan pihak luar (perusahaan, instansi pemerintah). Selain itu, khusus dalam pemasaran hasil pertanian, kelompok tani, Gapoktan, atau asosiasi petani sedang berupaya menggantikan (setidaknya mengambil sebagian) peran pedagang. Akan tetapi, dalam menjalankan peran ini, kelompok tani, Gapoktan, asosiasi petani masih menghadapi beberapa kendala. Modal dan sarana pendukung yang masih terbatas, menyebabkan kelompok tani, Gapoktan, atau asosiasi petani masih sulit bersaing dengan pedagang yang memiliki kekuatan (modal lebih besar untuk menjalankan peran baik dalam fungsi pemasaran dan terlebih lagi dalam berperan sebagai penyedia modal). Aspek sosial kelembagaan diperlukan untuk menciptakan suasana yang kondusif serta memperkuat ikatan pihak yang turut serta dalam kelembagaan tersebut.

Faktor Kebijakan

Kebijakan terkait dengan posisi dan peran pemerintah dalam kelembagaan yang sudah ada maupun dalam merancang kelembagaan baru. Sebuah kebijakan

baik yang diberlakukan oleh pemerintah pusat maupun daerah dapat mempengaruhi kondisi makro perekonomian suatu wilayah. Kebijakan yang tepat dapat menciptakan iklim yang kondusif bagi kinerja kelembagaan kemitraan usaha. Beberapa isu kebijakan yang diperlukan adalah: (1) kebijakan pengembangan bibit berkualitas, (2) kebijakan subsidi pupuk masih perlu dilanjutkan, (3) bantuan kredit bunga lunak, (4) kebijakan pembangunan irigasi di sentra hortikultura, dan (5) keberlanjutan program pengembangan agribisnis hortikultura.

Berdasarkan penjelasan mengenai keempat faktor yang mempengaruhi efektifitas kelembagaan kemitraan yaitu faktor teknis, ekonomis, sosial kelembagaan dan kebijakan, dapat ditarik suatu kesimpulan yang apabila keempat faktor tersebut diaplikasikan oleh sebuah kelembagaan pertanian dalam menjalankan kegiatannya bersama anggota ataupun kelompok mitra, menggambarkan sebuah kegiatan manajerial yang meliputi kegiatan perencanaan (planing), organisasi/pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating), dan pengontrolan/pengendalian (controlling).

Kegiatan perencanaan merupakan implementasi dari faktor teknis yang berkaitan dengan persiapan kegiatan usahatani sayuran, baik persiapan input-input produksi, pola tanam yang diaplikasikan, serta peralatan pertanian yang dibutuhkan. Kegiatan pengorganisasian dilihat dari dua sudut pandang yaitu sudut pandang petani sebagai pelaku usahatani, dan Gapoktan sebagai kelembagaan mitra. Dari sudut pandang petani, pengorganisasian lebih dimaksudkan bagaimana petani bertindak sebagai manajer bagi kegiatan usahataninya dengan melakukan pengelolaan yang baik terhadap proses budidaya atau produksi mulai dari perencanaan hingga pasca panen, serta penentuan dan pengambilan sikap terhadap proses-proses yang terjadi didalamnya. Sementara dari sudut pandang Gapoktan, pengorganisasian lebih dimaksudkan bagaimana Gapoktan mengambil sikap dan mengelola kegiatan kemitraan secara terorganisir dengan penerapan win-win principle dan saling menguntungkan, serta kegiatan administratif yang baik dan memudahkan bagi anggota mitra. Bagaimana peran Gapoktan dalam memberikan arahan dan pembinaan terhadap kegiatan usahatani yang dilakukan anggota dengan teratur, sistematis, dan menyeluruh terhadap keseluruhan proses usahatani, serta sikap Gapoktan dalam mengatasi masalah yang dihadapi anggota baik berkaitan dengan kegiatan usahatani maupun hubungan dengan lingkungan sekitar (lingkungan sosial kemasyarakatan). Kegiatan ini merupakan cerminan dari faktor sosial kelembagaan, faktor teknis, dan juga faktor kebijakan.

Pelaksanaan usahatani sepenuhnya dilaksanakan oleh masing-masing petani anggota dengan pilihan komoditi, teknis budidaya, penggunaan input-input pertanian, peralatan, pola tanam, dan proses budidaya yang semuanya diserahkan kepada masing-masing petani. Akan tetapi, Gapoktan memiliki kewajiban dalam menjamin kelancaran kegiatan usahatani serta hasil yang diharapkan jauh lebih maksimal dibandingkan dengan sebelum menjalankan kemitraan, sehingga menguntungkan bagi kedua belah pihak. Output atau hasil produksi petani anggota akan menjadi input bagi kegiatan yang dilakukan oleh Gapoktan yaitu penjualan sayuran ke lembaga pemasaran lebih lanjut. Apabila sayuran yang dihasilkan petani dari segi kuantitas dan kualitas rendah, maka Gapoktan juga akan menerima hasil yang sama. Oleh karena itu, Gapoktan harus mampu menjamin kelancaran usahatani agar Gapoktan juga mendapatkan keuntungan

maksimal dengan memenuhi kebutuhan petani terhadap input-input pertanian, modal usahatani, serta jaminan pasar dan harga bagi sayuran hasil panen petani.

Sedangkan dari segi pengendalian atau pengontrolan yang berkaitan dengan faktor teknis adalah fungsi Gapoktan dalam memantau dan memastikan berlangsungnnya kegiatan usahatani dan kemitraan agar sesuai dengan tujuan dan kesepakatan yang menjadi harapan bersama antara Gapoktan dengan petani. Dari segi teknis, kontrol atau kendali meliputi arahan-arahan teknis budidaya seperti penggunaan jenis faktor-faktor produksi dan anjuran penggunaannya termasuk penentuan jenis sayuran yang ditanam, pola tanam dan sistem budidaya yang diterapkan, penggunaan dan pemilihan teknologi terapan, arahan dalam penentuan waktu tanam dan waktu panen, kontrol kualitas tanaman selama proses budidaya seperti pencegahan dan penanggulangan terhadap serangan hama dan penyakit, serta kontrol pasca panen meliputi perlakuan pasca panen dan kontrol terhadap pasar dan harga sayuran. Apabila kondisi ini terpenuhi, dapat dipastikan kedua belah pihak baik petani maupun Gapoktan sama-sama menerima keuntungan dan tidak ada salah satu pihak yang dirugikan. Kontrol terhadap pasar dan harga ini merupakan faktor ekonomi yang harus diperhatikan Gapoktan dalam pelaksanaan kemitraan karena merupakan determinan yang cukup penting bagi suksesnya sebuah pelaksanaan kemitraan.